Date:

Share:

Pentingnya Literasi dalam Bingkai Pendidikan PMDG

Related Articles

GONTOR – Literasi bukan sekadar kemampuan dan kegiatan baca-tulis, ia adalah wujud daya hidup intelektual dan jiwa peradaban. Filosofi inilah yang dihidupkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) melalui Pekan Literasi Santri (Pelita) 2025. Agenda tersebut merupakan bentuk usaha PMDG dalam membentuk santri yang intelek, cendekia, komunikatif, dan kritis.

Sebagai lembaga pendidikan Islam yang fokus pada pembentukan akhlak, pengembangan akademik, dan pelatihan kepemimpinan, PMDG melihat literasi sebagai salah satu fasilitator yang tepat untuk hal tersebut. Para santri diajarkan untuk membaca dengan hati, menulis dengan nurani, dan menyuarakan kebenaran dengan berani. Pelita menjadi ruang pengembangan diri, eksplorasi bakat, dan aktualisasi gagasan.

Digelar sejak selama sepekan, Pelita 2025 dipenuhi berbagai kegiatan edukatif seperti workshop jurnalistik, debat, dan broadcasting yang diikuti lebih dari 300 santri kelas 1-6 KMI. Masing-masing workshop dibawakan oleh para guru yang merupakan ahli di bidangnya, disertai dengan praktik dan post test untuk mengukur capaian pemahaman peserta.

Kompetisi seperti cipta puisi, cerita pendek, dan debat turut meramaikan kegiatan. Salah satu peserta lomba puisi, Arqoenda, seorang siswa KMI menggambarkan Gontor sebagai tempat bagi seseorang menemukan makna kebahagiaan. “Dengan adanya Pelita ini, harapannya seluruh santri dapat menambah wawasan dan juga minatnya dalam literasi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, panitia pelaksana sukses mengundang Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara untuk mengisi seminar bedah buku karya beliau, sebuah novel fiksi-sejarah berjudul Buya Hamka. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa ulama dengan nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah tersebut merupakan pujangga, penulis, bahkan pelopor adanya profesi content creator di Indonesia.

“Beliau merekam ceramahnya lalu dijadikan kaset. Semua media yang kita kenal sekarang pernah digunakan Buya Hamka pada zamannya,” jelas Ustadz Fuadi.

Beliau mengungkapkan bahwa dirinya  telah melakukan riset mendalam sebelum menulis novel tersebut, salah satunya dengan mewawancarai Afif Hamka, salah satu putra Buya Hamka yang juga seorang alumnus PMDG. Ahmad Fuadi menggambarkan jika sosok Buya Hamka adalah taman bunga yang luas, maka tugasnya sebagai penulis adalah menyusun buket dengan bunga-bunga terbaik dari taman itu.

Pelita 2025 resmi ditutup bertepatan dengan peresmian Perpustakaan Santri PMDG yang baru di Gedung Darul Hijroh. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pimpinan PMDG, Direktur KMI, serta para guru. Dalam sambutannya, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. menyampaikan dukungan penuh PMDG atas diresmikannya perpustakan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas literasi para santri.

“Minat baca itu harus dilatih. Karena nantinya (para santri) akan dituntut untuk menulis. Harus banyak membaca sehingga wawasannya meluas. Karena orang Indonesia itu minat bacanya sangat rendah,” jelas beliau.

Perpustakaan Santri PMDG ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang yang lengkap, mulai dari koleksi buku yang beragam, computer untuk akses digital, ruang diskusi, hingga perpustakaan khusus kitab turats. Kehadiran perpustakaan tersebut diharapkan menjadi langkah strategis dalam membentuk santri yang gemar membaca dan kritis.

Pelita 2025 dan peresmian perpustakaan baru menjadi bukti bahwa pondok pesantren bukan hanya pusat pembelajaran agama, tetapi juga rumah besar bagia pendidikan, ilmu pengetahuan, sastra, dan kreativitas. Dari sinilah akan lahir para pemimpin umat yang berakhlak, tangguh, dan berpikiran tajam. 

(Berita : Mahendri, Abie, Majid, Haqi, Hilmi, Foto : Dejuan, Abhiraj, Reviewer : Winka, Alif)

Related Articles :

Tingkatkan Literasi Santri, PMDG Adakan Kegiatan PELITA

Pejuang Literasi dalam Membangun Generasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles