Sesi Ke-3 seminar PELITA (Pekan Literasi Santri) mengundang salah satu penulis top indonesia, Tere Liye. penulis buku Hafalan Shalat Delisa tersebut mengemukakan bahwa tulisan adalah salah satu alat manusia untuk mempertahankan ilmu pengetahuan menembus batas ruang dan waktu. ”manusia, ribuan tahun berlalu, begitu super kemajuan yang dihasilkan, mengapa? Karena manusia punya tulisan.” ujar beliau.
Perbedaan antara manusia dan hewan adalah pengetahuan yang diwariskan lewat tulisan. Beliau menjelaskannya dengan video seekor monyet yang sedang membuka kelapa menggunakan batu, “Monyet di brasil, setelah 3000 tahun hanya mampu memecahkan masalah ‘cara membuka kelapa’ begitu-begitu saja.” tambah beliau setelah video diputar.

Santri yang membaca harus bisa menyebarkan manfaat
Santri yang membaca harus bisa menyebarkan manfaat dari apa yang ia baca.”Esok lusa kalian jadi apa, jadikan apa yang kalian baca sebagai gagasan, hal yang bermanfaat“. Tere, sapaan akrab penulis tersebut, menilai santri pesantren sudah memiliki kemampuan membaca yang tinggi. Menurutnya, mayoritas santri di Gontor bahkan berada pada level 5 dan 6 dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Skor itu merupakan level tertinggi dalam penilaian kemampuan siswa yang dilakukan secara internasional tersebut.

Keterbatasan bukanlah penghambat bagi mereka yang gemar membaca. Hal itu tampak saat sesi tanya jawab, ketika seorang santri penyandang disleksia bertanya tentang cara mengatasi kekurangannya. Disleksia adalah gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja. Beliau menjawab,”Jadilah seperti pohon kelapa, tidak bisa apapun sekaligus bisa melakukan hal yang lebih besar. Pasti ada hikmah dibalik kekuranganmu, kalau orang lain bisa membaca 1 buku padahal kamu baru 1 halaman, bisa jadi tuhan menganugerahkan pemahaman yang lebih dalam, lebih bermakna,”
Literasi adalah pelita penerang manusia di setiap zaman dan waktu. Seseorang yang berada di amerika bisa mengetahui kabar yang terjadi di indonesia lewat berita, tulisan. Budaya membaca penting dilestarikan, terutama di pesantren. Karena santri tidak memiliki akses ke perangkat elektronik, mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk membaca buku.
Kontributor : Zulfahmi, Panitia PELITA 2026
Editor : Johansyah, Faza