Date:

Share:

Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

Related Articles

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A., di Masjid Jami’ PMDG pada Rabu, 15 Ramadhan 1447 H/4 Maret 2026 M.

  • Ketika kita sudah masuk masjid, dianjurkan untuk tenang dan berhenti bercanda. Karena, candaan dan percakapan kita satu sama lain akan merusak kekhusyukan orang yang sedang beribadah.
  • Dan ketika imam sudah takbir dan sudah membaca Al-Fatihah, maka kita harus berdiri dan mengikuti imam dengan segera, bukannya duduk diam dan menunggu waktu ruku’.
  • Al’abdu yudhrabu bi-l-’ashaa, wa-l-hurru yakfiihi bi-l’-isyaarati. seorang hamba itu dipukul dahulu baru melakukan apa yang diperintahkan, namun orang yang merdeka cukup hanya dengan isyarat dan tidak memerlukan kekerasan.
  • Pondok mengajarkan lembaga yang bersistem pesantren. Kiai sebagai sentral figurnya, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.
  • Masjid adalah baitullah (rumah Allah), maka kewajiban bagi kita untuk menghormati masjid dalam berbagai hal.
  • Kita berangkat ke masjid dari kamar-kamar kita, dengan membaca do’a; bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa hawla wa laa quwwata illa billah. Dan ketika memasuki masjid membaca:; allahumma ighfir lana dzunuubana wa iftah lanaa abwaaba rahmatik.
  • Kita diikatkan dan disatukan dengan cahaya. Semua kegiatan harus diupayakan, melakukan kebaikan harus diupayakan dan menjauhi keburukan juga harus diupayakan.
  • As-shaumu junnah, puasa adalah perisai, perisai adalah benda yangdigunakan dan dipeganng ketika perang untuk melindungi diri. Yang diartikan sebagai perisai yang akan kita gunakan untuk melindungi diri kita dari perbuatan buruk.
  • Kita mengupayakan segala hal yang terbaik.
  • Jadilah manusia yang beradab.
  • Pendidikan di Pondok ini bertujuan agar para santri terbiasa dengan kegiatan dan pakaian yang baik dan bersih.
  • Pakailah parfum dan pakaian bersih ketika beribadah kepada Allah SWT, jangan hanya ketika akan bertemu seseorang.
  • Membersihkan segala hal termasuk badan ketika ingin beribadah kepada Allah SWT.
  • Diriwayatkan dalam haditsnya, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk ber-shiwak, agar bau mulut kita tidak mengganggu orang lain di sekitar kita.
  • Dalam Riwayat hadist lain, Rasulullah bersabda, barangsiapa memakan makanan yang memiliki aroma yang kemungkinan mengganggu orang lain, agar sekiranya menjauhi masjid terlebih dahulu. Karena aroma tersebut akan mengganggu orang lain dan juga malaikat yang sedang beribadah juga.
  • Langkah-langkah kita ketika pergi ke masjid untuk meluruskan niat beribadah kepada Allah SWT.
  • Wudhu adalah hal terpenting dalam beribadah, bukan sekedar membasahi dan menggerakkan badan, tetapi memiliki makna di setiap gerakannya.
  • Sebaik-baik shaf dalam shalat bagi laki-laki adalah shaf terdepan. Karena yang memilih mshaf terbelakang adalah perempuan.
  • Jika kita sudah mendengar iqamah, disunnahkan untuk bersegera merapat kedalam shaf dan agar tidak tergesa-gesa dalam memasuki shaf.
  • Rashulullah tidak menganjurkan kita tergesa-gesa ketika mendengar iqamah, namun bersegera dan mempercepat tanpa tergesa-gesa, karena tergesa-gesa akan membuat kalian tidak khusyu’ dalam beribadah kepada Allah SWT.
  • Oleh karena itu, ketika imam sudah memulai takbir, maka kita harus bersegera dan tidak berleha-leha, bukannya diam dalam duduk dan mengakali shalat berupa “apakah Shalat ini akan lama atau tidak?”, cukup mengikuti apa yang dilakukan imam. Karena itu adalah ego dan godaan setan yang membuatmu tidak melakukan apa yang harus dilakukan sebagai seorang muslim.
  • Masjid adalah pusat kegiatan yang menjiwai, maka tidak patut bagi kita mengotori dan merusak lingkungan yang tenang untuk beribadah, karena itu termasuk perbuatan dosa dan mengganggu orang shalat.
  • Ketika seseorang ditanya apa itu Al-Qur’an, maka jawabannya yang paling cukup adalah kalaamullah (perkataan Allah).
  • Banyak yang mengatakan Al-Qur’an adalah kitaabullah, sehingga banyak orang yang merumpakan hanya sebagai tulisan saja dan mengaitkan dengan tulisan lain sehingga menjadi karangan.
  • Padahal, Al-Qur’an adalah kalaamullah yang di tulis didalam suatu kertas, dan mushaf sebagai lanjutan dari kalaamullah yang ditulis agar semua kaum muslimin dapat membacanya.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles