Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd., di Masjid Jami’ PMDG pada Kamis, 16 Ramadhan 1447 H/5 Maret 2026 M.
- Kita semua di dunia ini menginginkan kesuksesan, banyak perspektif orang dalam memaknai arti kesuksesan. Ada orang yang mengartikan kesuksesan sebagai orang yang kaya dan memiliki barang mahal.
- Kesuksesan itu bukan masalah harta, orang sakit yang sudah berbulan-bulan akan mengartikan kesuksesan sebagai kesembuhan. Bahkan ada orang yang merasa sukses itu dengan hal biasa, cukup dengan mengeluarkan zakat dari hartanya maka mereka akan merasa sukses.
- Kesukesan bukan hanya diukur dalam hal duniawi saja, namun dapat diukur dengan hal lain termasuk akhirat. Semua hal harus ada porsinya.
- Allah memerintahkan kita untuk mempersiapkan bekal di dunia untuk akhirat kelak, karena inti kesuksesan ada di akhirat.
- Kalau kita bisa berbuat banyak di dunia ini, maka itu semua untuk persiapan di akhirat kelak. Dalam perspektif Islam, kalau sesuatu tidak untuk ibadah, maka hal tersebut tidak ada gunanya.
- Dalam bukunya, seorang ulama meriwayatkan bahwasannya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menggapai sukses.
- Yang pertama adalah mu’ahadah, setiap dari kita pasti sudah melakukan perjanjian dengan Allah sebelum lahir, perjanjian untuk bertauhid.
- “Kullu mauludin yuuladu ‘ala-l-fitrah”, setiap anak yang lahir itu dalam keadaan fitrah, tetapi ibu-bapaknyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi atau Nasrani.
- Asy-Syahaadah di pondok ini adalah janji kita bahwasannya kita akan melakukan hal yang baik-baik di pondok ini.
- Kita disini untuk memperbaiki diri kita sendiri. Orang yang tidak mengingat janji akan merasa sembrono.
- Yang kedua adalah mujahadah, setelah kita melakukan perjanjian maka kita harus bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh itu harus setiap hari, karena belum tentu besok kita akan lebih baik.
- Dalam menuju kesucian diri, mujahadah akan sangat diperlukan. Contoh mujahadah di pondok kita ini adalah melawan kemalasan. Maka jangan sampai kita merasa bosan dalam beribadah dan belajar, karena itu semua adalah godaan dari setan.
- Jika kita belajar dengan sungguh-sungguh, maka akan muncul jalan keluar yang diberikan Allah SWT. Hanya orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan menggapai kesuksesan.
- Yang ketiga adalah muraqabah. Kesadaran diri bahwasannya dalam setiap kegiatan, kita diawasi oleh malaikat-malaikat Allah SWT.
- Kita harus takut bahwasannya perbuatan yang kita lakukan masih kurang. Oleh karena itu, kita harus merasa salalu bersama Allah dimanapun dan kapanpun.
- Ada negara yang maju seperti Singapura, karena mereka merasa diawasi dan terancam oleh negara sekitarnya.
- Ada orang yang berdisiplin karena merasa diawasi oleh Allah, merasalah kalau kita diawasi oleh Allah Swt, jikalau kita tidak merasa diawasi, maka patut diketahui bahwasannya Allah akan mengawasi kita.
- Semua ibadah yang kita lakukan harus selalu meningkat setiap harinya, jangan sampai kendur sedikitpun.
- Yang keempat adalah muhasabah. Harus ada perhitungan setelah melakukan perbuatan baik, jangan sampai kita sudah melakukan hal baik namun tidak terhitung di akhirat kelak hanya karena niat yang salah. Maka, perbaiki niat kita masing-masing dalam melakukan segala sesuatu.
- Rasulullah SAW selalu ber-muhasabah diri disaat sebelum tidur akan perbuatan yang telah ia lakukan sebelumnya.
- Niatkan segala sesuatu lillahi ta’ala, jika sesuatu dikerjakan karena Allah, maka akan membuahkan pahala. Segala sesuatu yang maju pasti akan ada evaluasi dalam setiap pekerjaannya, maka penting untuk ber-muhasabah diri.
- Orang yang tidak tahu posisi dirinya berarti tidak pernah ber-muhasabah, santri yang korupsi itu tidak merasa bahwa dirinya seorang muslim.
- Yang kelima adalah mu’aqqabah, banyak santri yang melakukan suatu pelanggaran karena belum dihukum. Maka, pentingnya mu’aqqabah sebagai koreksi diri atau pendisplinan diri sendiri sebelum dihukum oleh orang lain. Karena, segala sesuatu itu dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
- Mu’ahadah sebagai komitmen, mujahadah sebagai perjuangan, muraqabah sebagai pengawasan, dan mu’aqqabah sebagai evaluasi.
Notulen: Hilmi, Cheviq
Related Articles:
Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.
Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.
Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.