Date:

Share:

Napak Tilas Perjuangan Dakwah dalam Seni Jihad Pesantren

Related Articles

Pendidikan menjadi isu sentral yang perlu untuk diulas dan diperhatikan. Salah satu alasan utamanya adalah pengembangan demografi dan masa depan generasi perlu mendapat perhatian utama, terlebih era disrupsi media sosial dan modernisasi yang banyak menggerus cara berpikir dan berpandangan. Sebagai sebuah terobosan kontribusi lembaga pesantren di Indonesia merupakan sebuah aspek yang perlu untuk dicermati. Mulai dari sejarah pendiriannya hingga langkah kongkrit dalam pembangunan peradabannya.

Salah satu lembaga yang menarik untuk diamati adalah Pondok Pesantren Nurul Bayan, Lombok Utara. Kedatangan para mahasiswa Universitas Darussalam Gontor menjadi salah satu wujud konstribusi generasi muda terhadap perkembangan pondok pesantren di Indonesia. Silaturahmi bersama bapak pimpinan pondok pesantren nurul bayan yaitu Tuan Guru Abdul Karim, menjadi bukti estafet perjuangan para kyai kepada seluruh generasi muda. Demi memperkokoh nilai daripada pondok pesantren itu sendiri. Diadakannya kegiatan ini adalah sebagai wujud estafet nilai-nilai perjuangan dalam mendirikan sebuah pondok pesantren kepada generasi muda khususnya kami para mahasiswa.

Tuan Guru Abdul Karim

Pesantren ini didirikan pada tahun 1991 oleh Tuan Guru Abdul Karim. Lokasinya berada di atas tanah tandus seluas 4 hektar di Desa Bayan, Lombok Utara. Memulai pesantren di tengah masyarakat awam membutuhkan seni pendekatan yang berbeda. Dengan konsep kyai gentong, Tuan Guru tidak hanya menghadirkan bangunan sebagai sarana dan prasarana. Beliau juga menghadirkan program pendidikan yang relevan dengan keadaan masyarakat sekitar. Pendirian pondok ini memiliki tujuan yang jelas. Tuan Guru memindai permasalahan utama masyarakat, yaitu kurangnya kemampuan menerapkan nilai-nilai Islam dan rendahnya pendidikan mengaji Al-Qur’an. Istiqomah dan tawakal menjadi kunci utama dalam menghadapi setiap proses.

Setiap proses tidak luput dari tantangan. Namun, tantangan itulah yang justru mengoptimalkan kesabaran dan ketabahan Tuan Guru. Masyarakat Lombok dikenal mayoritas beragama Islam. Namun, hal itu tidak berarti seluruh masyarakatnya mendapat pendidikan yang setara. Di sinilah pondok hadir sebagai lembaga akademis yang memfasilitasi masyarakat yang ingin memperkaya ilmu agama. “Untung ada pesantren,” begitulah ungkapan K.H. Hasan Abdullah Sahal.

“ada 2 alat pandang manusia, yang pertama adalah bashar dan yang kedua adalah bashiroh.”

2 alat pandang manusia

Dikutip dari pidato tuan guru kala itu. Bermaknakan sebuah sudut pandang manusia melalui 2 hal. Pertama, sudut pandang yang hanya mengandalkan kedua mata sebagai suatu objek tanpa memperhatikan substansi yang terkandung di dalamnya. Kedua, keterlibatan hati dalam suatu sudut pandang yang kemudian menghasilkan substansi yang lebih dalam dan kaya akan nilai. Sehingga hadirnya segala tantangan bukanlah suatu hal yang menghambat, namun menjadi bagian dari proses itu sendiri.

Silaturrahmi bersama Tuan Guru Abdul Karim, mampu membangkitkan kembali jiwa-jiwa para santriah yang mungkin sudah mulai pudar. Bentuk refleksi atas pengalaman seorang pejuang pendiri pesantren yang saat ini sudah berdiri selama 35 tahun, menjadi sebuah pelajaran hidup bagi siapapun yang hadir kala itu.

Kegiatan Kuliah Pakar menjadi salah satu kesempatan bagi mahasiswi untuk memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperoleh pembelajaran dari pengalaman tokoh yang hadir sebagai pemateri. Dalam kegiatan kunjungan akademik di Pondok Pesantren Nurul Bayan, Lombok Utara, pada 18 Oktober 2026, sebanyak 47 mahasiswi semester 6 mengikuti Kuliah Pakar yang menghadirkan Tuan Guru Haji Abdul Karim sebagai pemateri.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi para mahasiswi untuk mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, serta kehidupan bermasyarakat. Materi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan perjalanan pendidikan, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami bahwa proses belajar merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Pemaparan Tuan Guru Haji Abdul Karim

Dalam pemaparannya, Tuan Guru Haji Abdul Karim menceritakan pengalaman perjalanan pendidikan dan kehidupannya. Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa proses menuntut ilmu tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Berbagai keadaan dan tantangan dapat memengaruhi perjalanan seseorang, tetapi pengalaman tersebut tetap dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga.

Beliau juga menekankan pentingnya mengambil nilai dan pelajaran dari ilmu yang dipelajari. Pengetahuan tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi perlu dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, proses belajar diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih bijaksana dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Selain membahas perjalanan pendidikan, materi Kuliah Pakar juga menyinggung dinamika kehidupan keluarga dan masyarakat. Kehidupan tidak selalu berjalan dalam keadaan yang mudah, sehingga seseorang perlu memiliki ketahanan diri, menjaga martabat, serta memahami bahwa nilai seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan atau kedudukan yang dimilikinya.

Bagi mahasiswi Program Studi Studi Agama-Agama, pembelajaran tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan kepekaan sosial. Pemahaman terhadap kehidupan masyarakat juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mempelajari keberagaman agama, membangun sikap saling menghargai, dan berinteraksi dengan lingkungan sosial yang beragam.

Melalui kegiatan Kuliah Pakar ini, para mahasiswi diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan wawasan akademik, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dari pengalaman dan pemikiran pemateri. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan di lingkungan akademik dengan realitas kehidupan bermasyarakat.

Kuliah Pakar bersama Tuan Guru Haji Abdul Karim menunjukkan bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan juga memahami nilai-nilai yang dapat membimbing seseorang dalam menjalani kehidupan. Pengalaman, keteguhan, dan sikap dalam menghadapi berbagai tantangan menjadi bagian penting dari proses pembentukan diri sebagai insan yang berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pondok Pesantren Nurul Bayan, Lombok Utara, 18 Oktober 2026

Kontributor : Rizka, Sabbita, Nafisah, Tim Media SPL

Editor : Johansyah, Faza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles