Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dikenal sebagai salah satu pusat tenun songket di Pulau Lombok. Berdasarkan wawancara dan obeservasi lapangan tim peneliti, menenun di desa ini bukan hanya mata pencaharian, melainkan tradisi turun-menurun yang terkait dengan adat pernikahan, identitas perempuan Sasak, dan perputaran ekonomi warga.
Warisan Turun-Temurun
Menurut narasumber, sejarah tenun di Sukarara belum diketahui secara pasti, termasuk tahun awal kemunculannya menenun itu sendiri. Yang diketahui, keterampilan ini diwariskan dari ibu kepada anak perempuannya. Biasanya anak perempuan mulai belajar menenun sekitar usia 10 tahun tanpa Pendidikan formal. Dan dengan seiring berjalannya waktu akan terbiasa dengan menenun sehingga bertambah pula pengetahuan akan tenun dan bisa membuat dengan berbagai macam motif dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Dan disana terdapat satu penenun senior yaitu Bu Uli, beliau menuturkan bahwa ia mulai belajar pada usia 15 tahun dan mahir pada usia 17 tahun. Warga juga menyebutnya bahwa tenun dibuat setiap hari sebagai aktivitas harian, tanpa hari khusus. Selain itu, narasumber juga menyampaikan bahwa untuk sampai menjadi sebuah kain songket biasanya warga disana menghabiskan waktu 4-6 jam untuk pengerjaan kain tersebut.

Perempuan dan Adat Menenun Sebelum Menikah
Di Sukarara berlaku adat bahwa perempuan harus bisa menenun sebelum menikah. Narasumber menjelaskan bahwa adat ini berawal dari keterbatasan sumber penghasilan pada masa lalu. Dimana para lelaki atau suami pergi Bertani atau mencari nafkah, sedangkan perempuan masih dapat membantu suami atau keluarga dalam mencari nafkah tanpa harus bekerja diluar rumah. Dalam tradisi merariq ( perkawinan adat sasak yang diawali dengan “penculikan” mempelai perempuan oleh calon suami), kemampuan menenun disebut sebagai syarat bagi mempelai perempuan.
Bagi perempuan dari luar Lombok, aturannya lebih longgar. Mereka boleh menikah terlebih dahulu tetapi setelahnya masih akan tetap diajari menenun oleh ibu mertua. Seiring perkembangan zaman, menenun tidak lagi menjadi syarat mutlak untuk menikah. Menurut narasumber, kewajiban ini semula berlaku di empat desa, yaitu Sukarara, Sade, Bayan, dan Pringgasea. Meski begitu, remaja putri masih terus didorong untuk bisa menenun.
Larangan Bagi Laki-laki menurut Kepercayaan Masyarakat Sasak
Narasumber menyampaikan bahwa laki-laki tidak diperbolehkan menenun. Menurut kepercayaan setempat, laki-laki yang menenun akan sulit memiliki keturunan. Sebagian narasumber mengaitkannya dengan posisi duduk yang lama, getaran alat tenun, dan pengaruhnya terhadap hormon kesuburan. Satu narasumber menyebut bahwa laki-laki hanya boleh menenun tenun ikat agar tidak duduk terlalu lama. Penjelasan medis ini belum diverifikasi dalam penelitian ini, sehingga lebih tepat dipahami sebagai kepercayaan yang hidup di masyarakat.

Motif Subahnale dan Ragam Motif Lainnya
Motif paling terkenal di Sukarara adalah Subahnale. Nama ini dipercaya berasal dari ucapan “Subhanallah” oleh orang yang pertama kali melihat keindahannya. Menurut narasumber, motif ini diciptakan oleh Papuq Rabi, yang juga memberi nama motifnya. Saudarinya, Papuq Jering, dikenal sebagai perempuan pertama yang menekuni tenun songket. Keduanya berasal dari Sukarara. Warga menyebut Subahnale sebagai motif pertama di Lombok. Menurut mereka, hanya Sukarara yang membuatnya karena keterampilan ini dijaga turun-temurun dan tidak diajarkan kepada orang luar.
Motif Subahnale tidak seragam. Ia identik dengan kurungan putih, tetapi memiliki beragam variasi. Motif lain yang dikenal antara lain lepang (kodok), keker, opa kerot, bintang empat, lumbung, bulan bekurut (motif rumah adat), dan kembang komak. Narasumber menyebut motif Sukarara lebih banyak dibanding desa tenun lain, yang cenderung bermotif garis. Motif dari Sade, Bayan, dan Pringgasela disebut juga ada di Sukarara, tetapi tidak sebaliknya.

Alat, Bahan, dan Proses pembuatan
Penenun memakai alat tradisional bernama gedogan. Penenun duduk dengan tubuh sebagai bagian dari alat, dan kayu yang diikat di belakang pinggang disebut lekot. Komponen utamanya:
- Suri: merapikan benang.
- Berire: merapatkan benang.
- Kayu bambu: menahan benang pembentuk motif. Menurut narasumber, semakin kuat hentakan alat, semakin bagus hasil motifnya.
Benang berasal dari sutra, kapas, dan benang emas. Pewarna alami diperoleh dari kunyit, daun indigo, pohon asam, dan daun suji. Pemasok bahan berasal dari daerah setempat sehingga ekonomi berputar di dalam desa. Pengerjaan memerlukan waktu lama. Menurut keterangan narasumber, menenun 4-6 jam menghasilkan sekitar 25 cm, dan kain sepanjang 4 meter membutuhkan sekitar 2-3 bulan. Narasumber lain menyebut kain biasa memerlukan 2 minggu hingga 1 bulan, tergantung motif pesanan.
Tenun Sukarara menunjukkan bagaimana tradisi, kepercayaan, dan ekonomi saling terkait. Para penenun menjaga warisan ini sambil menyesuaikan diri dengan zaman. Karena sejarah tertulisnya belum jelas, penelitian lanjutan dengan sumber sejarah dan kajian medis masih diperlukan.
Desa Tenun Sukarara – 16 Oktober 2026
Kontributor :Liyanti, Tim Media SPL
Editor : Johansyah, Faza