Home Blog Page 127

Upacara Pembukaan Tahun Ajaran Baru 1443-1444/2022-2023

0

DARUSSALAM – Seusai liburan panjang yang dilalui para santri sejak tanggal 23 Maret 2022 lalu, hari ini, seluruh santri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kembali memasuki masa-masa pebelajaran aktif di Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). Dimulainya Kembali masa aktif tersebut ditandai dengan upacara pembukaan tahun ajaran baru periode 1443-1444/2022-2023 yang diadakan pada Kamis, 12 Mei di depan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM).

 

Upacara dimulai tepat pada pukul 07.00 WIB, dan diawali dengan sambutan oleh Bapak Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwasanya Gontor itu unik, karena setiap tahun tetap berjalan dengan baik walaupun selalu mengalami sedikit perubahan dalam pembukaan tahun ajaran baru, baik dalam suasana maupun rentetan kegiatannya.

 

Lebih lanjut, KH. Hasan Abdullah Sahal juga menjelaskan di hadapan seluruh santri bahwasanya pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren sudah berdiri sejak zaman penjajahan. Pesantren lebih dari sekedar tempat menuntut ilmu, di pesantren santri dididik pilar-pilar kehidupan.

“Pesantren bukan hanya sekedar tempat menuntut ilmu, lebih dari itu pesantren merupakan lembaga pendidikan pilar-pilar kehidupan yang merupakan tripusat kehidupan agama Islam yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.Ungkap K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam Upacara Pembukaan Tahun Ajaran Baru 1443-1444/2022-2023

 

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Bapak Wakil Direktur KMI, Al-Ustadz Farid Sulistyo, Lc. Di awal sambutannya, beliau mengingatkan para santri agar memperbarui niatnya selama di pesantren ini serta menyambut dengan hangat para santri PMDG yang sudah tiba tepat waktu di PMDG.

“Masuklah ke pondok ini secara kaffah, tinggalkan semua memori selama liburan kemarin, sekarang saatnya fokus untuk stabilisasi kegiatan pondok.” Pesan Al-Ustadz Farid Sulistyo, Lc. dalam sambutannya kepada seluruh santri.

 

Di akhir upacara, bapak Pimpinan PMDG melepas keberangkatan 799 guru baru Extraordinary Generation, yang akan mengabdi di seluruh kampus putra PMDG. Alif/Abdurrahman

Baca juga:

Pembukaan Tahun Ajaran Baru dan Ujian Tulis Capel 1442/2021

Gontor Siap Adakan Kegiatan Akhir Tahun Dengan Pembukaan Tahun Ajaran Semester Kedua

Arahkan Ujian Tulis, Kiai Akrim Mariyat: “Ujian untuk Belajar, Jangan Belajar untuk Ujian”

0

RIMBO PANJANG – Pondok Modern (PM) Darussalam Gontor Putri Kampus 7 Riau mengikuti pengarahan dan pesan nasihat tentang pelaksanaan ujian tulis semester kedua secara daring atau zoom meeting bersama pondok-pondok cabang seluruh Indonesia, Ponorogo, Kamis (3/3/22), Pagi.

Kiai Akrim Mariyat, Pimpinan PMDG Pusat Ponorogo memberikan nasihat seputar ujian tulis, bahwa ujian diselenggarakan untuk belajar, dan tidak berorientasi belajar untuk ujian. Dengan ujian, belajar bisa menjadi lebih semangat. Setelah selesai ujian bukan berarti berhenti belajar. Justru setelah ujian selesai harus terus belajar, belajar, dan belajar.

“Ujian untuk belajar, jangan berorientasi belajar untuk ujian,” pesan Kiai Akrim dalam pesan dan nasehat ujian tulis via zooming. Tegar

Ujian Lisan Dimulai, Para Mujahidah Kembali Berjuang

0

RIMBO PANJANG – Pondok Modern (PM) Darussalam Gontor Putri Kampus 7 Riau mengadakan ujian lisan untuk siswi kelas 1-5 selama 10 hari, Ahad – Rabu (20/2/22 – 2/3/22). Pelaksanaan ujian ini sesuai dengan arahan, nasehat, dan intruksi Direktur Pusat Kulliyyatul Mu’alliminal Islamiyyah (KMI), tidak boleh bergeser sedikit pun, Kamis (17/2/22).

PM Gontor Putri Kampus 7 melaksanakan Ujian Lisan di 44 ruangan kelas yang bertempat di Gedung Baru 2, 3, 4, 5, 6 dan Gedung Palestina lantai 2. Dalam Ujian ini, para santriwati menghadapi tiga materi pelajaran yang diujikan seperti; Materi Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Al Qur’an.

Menghadapi Ujian Lisan, santriwati akan dituntut untuk segera menyiapkan diri semaksimal mungkin. Materi-materi pelajaran yang ada pun harus; dibaca, dipahami, dan dihapalkan. Kerena beberapa materi di Ujian Lisan, akan diujikan kembali dalam bentuk soal Ujian Tulis. Tegar

Maklumat Pimpinan PMDG Tentang Kedatangan Calon Pelajar, Santri/wati, dan Guru PMDG Setelah Liburan Semester Kedua

0

Dalam rangka kedatangan calon pelajar, santri/wati, dan guru PMDG pasca liburan semester kedua, serta memperhatikan situasi dan kondisi terkini, Pimpinan PMDG menyampaikan maklumat berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kultum Ramadhan: Ujian Menjadi Sosok Pemimpin

0

Kuliah Shubuh pada hari Rabu, 26 Ramadhan 1443 H/27 April 2022 M di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diisi oleh, Al-Ustadz M Kurnia Rahman Abadi, M. M.. Dalam kuliahnya, beliau menjelaskan materi yang berkenaan tentang ujian menjadi sosok seorang pemimpin.

Di awal kuliah, Al-Ustadz Kurnia Rahman Abadi menjelaskan bahwa di Gontor terdapat dua fase berdasarkan teori kepemimpinan.   Fase pertama, yaitu adalah member atau anggota yang selalu mengikuti peraturan dan ini dikaitkan dengan santri kelas satu sampai empat.  Dan fase kedua, yaitu manager atau pengurus dan berkaitan dengan santri kelas lima dan enam yang diharapkan setelah itu bisa menjadi leader atau pemimpin. Dalam penjelasannya, beliau juga memberikan perbedaan antara manager dan leader. Manager adalah seseorang yang menjalankan suatu pekerjaan dengan benar sedangkan leader adalah seseorang yang menjalankan suatu pekerjaan dengan baik. Dalam memimpin, kuncinya adalah memiliki inisiatif, ide, hati yang bersih sehingga menghasilkan fikiran dan perbuatan yang baik.

Seorang santri tidak cukup hanya menjadi anggota dan pengurus saja. Seorang santri juga harus menjadi penggerak dan pemimpin. Karena sejatinya, seorang santri sejak kelas satu sudah didominasi dengan tiga unsur. Unsur tersebut adalah keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan. Jika seorang pemimpin sudah memilik tiga unsur ini maka seluruh persoalan yang dihadapinya akan mudah untuk diselesaikan. Dan pemimpin yang baik itu adalah yang dimulai dari memimpin sesuatu yang kecil yaitu diri sendiri. Dengan tiga unsur tadi diharapkan akan menjadi diri yang baik untuk memimpin diri sendiri.

Seorang pemimpin juga harus siap untuk menghadapi ujian yang bermacam-macam dan juga bisa  menjadi pemimpin yang komplit. Jika seseorang sudah bisa menjadi pemimpin yang baik tidak cukup untuk berhenti disitu. Dia pun juga harus bisa menyampaikan kepada orang banyak dengan menjadi  to be a good teacher. Dan itu semua sudah tertata secara sistematis di Gontor.

Di dunia ini terdapat tiga tipe manusia dalam menghadapi sebuah masalah. Yang pertama adalah problem solver atau orang yang bisa menyelesaikan masalah dengan bijaksana, cepat dan tepat. Yang kedua adalah the part of problem atau bagian dari sebuah masalah. Dan yang ketiga adalah problem maker atau seorang yang selalu membuat masalah. Maka seorang leader yang baik harus bisa memetakan antara tiga tipe manusia tersebut.

Pendidikan kepemimpinan di Gontor juga selalu mengajarkan kepedulian dan saling menghargai antara satu sama lain. Sebagai santri senior di Gontor seorang kelas enam tidak cukup untuk bisa membedakan antar yang baik dan buruk tapi juga harus bisa membedakan antara yang baik dan lebih baik.

Di akhir  kuliah, beliau menggarisbawahi kembali bahwa manager hanyalah mengikuti pekerjaan yang baik saja tetapi leader melakukan sesuatu yang baik dan membuat inisiatif yang tepat.

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz M. Kurnia Rahman Abadi, M. M.. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor. Rizqon

 

 

Baca Juga:

Memaksimalkan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan

Meningkatkan Kualitas Ibadah di Bulan Ramadhan

Meningkatkan Iman di Bulan Suci Ramadhan

Keutamaan Puasa dan Malam Lailatu-l-Qadr

Bersyukur dan Memaksimalkan Diri di Akhir Ramadhan

0

Kuliah Shubuh pada hari Selasa, 25 Ramadhan 1443 H/26 April 2022 M di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diisi oleh, Al-Ustadz Sabar S, Ag.. Dalam kuliahnya, beliau menjelaskan materi yang berkenaan tentang pentingnya bersyukur dan memaksimalkan diri di penghujung bulan Ramadhan.

 

Di awal kuliah, Al-Ustadz Sabar mengingatkan bahwasanya bulan Ramadhan adalah madrasah kubro atau tempat pembelajaran yang besar, tempat untuk belajar bersabar, bersyukur dan tidak serakah. Tempat untuk belajar ketetapan dan ketabahan. Bulan suci ini juga mengajarkan seorang muslim untuk selalu tawadhu’ atau rendah hati dan juga pembelajaran bagi jiwa empati bukan hanya saja simpati. Rasa empati adalah di mana perasaan seseorang bisa mengikuti perasaan orang lain.

 

Momentum bulan suci ini juga harus kita jadikan sebagai waktu untuk bersyukur dan beristighfar. Terkadang seorang muslim sering terjebak kepada suatu keinginan padahal yang dibutuhkan hanya sebuah kebutuhan. Setelah bersyukur dan beristighfar, perlu juga amal sholih dan ibadah lain untuk menuju gelar ketakwaan. Tidak cukup dengan amalan-amalan saja tapi juga harus didasari dengan pondasi iman yang kuat. Dan orang yang beriman serta beramal sholih balasan baginya di sisi Allah adalah Surga Firdaus.

 

Mencapai hikmah-hikmah bulan suci ini juga sangatlah tidak mudah. Maka bulan ini adalah waktu yang tepat untuk memantaskan diri untuk beribadah semaksimal mungkin. Dalam sisa waktu bulan Ramadhan ini seorang muslim juga harus memperbanyak intropeksi dengan sebanyak-banyaknya.

 

Di  penghujung yang sudah tersisa lima hari ini, beliau juga menasehati para jama’ah agar memaksimalkan penuh untuk beribadah dengan beranggapan bisa jadi ini  bulan Ramadhan yang terakhir bagi setiap kepala dari seorang muslim. Bahkan Rasulullah juga pernah berharap agar setiap bulan dalam satu tahun disamakan dengan bulan Ramadhan. Karena hanya dalam bulan Ramadhan lah pahala dilipatgandakan, setan dibelenggu, pintu surga terbuka dan pintu neraka tertutup.

Di akhir  kuliah, beliau mengingatkan kembali bahwa letak dan posisi kesyukuran bukanlah diakhir dari perbuatan seorang muslim melainkan awal mula perbuatan seorang muslim haruslah dimulai dengan sebuah kesyukuran.

 

“ليس الشكر هو النهاية بل الشكر هو البداية”

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Sabar S, Ag. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor. Rizqon

 

Baca Juga:

Memaksimalkan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan

Meningkatkan Kualitas Ibadah di Bulan Ramadhan

Meningkatkan Iman di Bulan Suci Ramadhan

Keutamaan Puasa dan Malam Lailatu-l-Qadr

Memaksimalkan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan

0

Kuliah Shubuh pada hari Senin, 24 Ramadhan 1443 H/25 April 2022 M di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diisi oleh, Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., MLS.. Dalam kuliahnya, beliau menjelaskan materi yang berkenaan tentang memaksimalkan ibadah di bulan suci Ramdhan.

 

Di awal kuliah, Al-Ustadz Syamsul Hadi Untung menjelaskan tentang pentingnya dalam memanfaatkan bulan suci Ramdhan ini untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah subahanahu wa ta’ala. Beliau juga memberi penjelasan bahwa dulu para ulama’ ketika sudah memasuki bulan Sya’ban mereka menyibukkan diri dengan amalan sunnah. Terdapat satu kutipan yang beliau paparkan ketika kuliah tersebut.

 

“Singsingkanlah bajumu karena bulan Ramadhan ini datang sebagai tamu yang buru-buru”

 

Beribadah dalam bulan suci ini juga perlu pemaksaan untuk menyempurnakan ibadah bagi seorang muslim. Tak cukup dengan itu, seorang muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah, memperpanjang do’a dan sujud serta amalan ibadah lain yang bisa ditingkatkan lagi. Seorang muslim juga diwajibkan untuk selalu berdoa kepada Rabbnya tanpa henti. Karena seorang muslim tidak akan pernah tau do’a mana yang akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Bulan suci ini juga memberikan kita sebuah hikmah dengan mengajarkan kita untuk tidak memberitahu berapa banyak ayat Al-Qur’an yang sudah kita baca. Tetapi, Al-Qur’an itu akan memberi pancaran yang menyinari seorang muslim dengan sendirinya. Karena yang dilihat adalah bukan banyaknya  ayat yang dibaca tetapi dilihat dari bagaimana Al-Qur’an itu bisa menjadi pedoman bagi kehidupan seorang muslim.

 

Momentum sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan ini juga selayaknya bagi para jiwa muslim agar tidak meninggalkannya berlalu saja. Bahkan beliau berpesan kepada para jama’ah agar tidak mencari keutamaan Lailatu-l-Qadr diantara tiang-tiang masjid saja. Tapi beliau menyarankan agar mencari keutamaan malam tersebut dengan menggapai ridho orang tua, ridho para guru dan kyai. Bahkan beliau menasehati setiap anak muslim agar selalu mendo’akan orang tua, niscaya segala urusannya akan dipermudah dan diperlancar.

 

Di akhir, beliau berpesan agar menjadikan bulan Ramadhan ini momen untuk menyucikan fikiran. Karena dari sucinya fikiran akan menghasilkan perbuatan dan tutur kata yang baik. Dan orang-orang yang mengikuti kebenaran pasti akan diberi petunjuk dan merekalah yang mendapatkan petunjuk Allah.

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., MLS. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor. Rizqon

 

Baca Juga:

Alquran, Mutiara Termahal

Meningkatkan Iman di Bulan Suci Ramadhan

Keutamaan Puasa dan Malam Lailatu-l-Qadr

 

 

Meningkatkan Kualitas Ibadah di Bulan Ramadhan

0

Kuliah Shubuh pada hari Ahad, 23 Ramadhan 1443 H/24 April 2022 M di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diisi oleh, Al-Ustadz Husni Dzahabi, Lc.. Dalam kuliahnya, beliau menjelaskan materi yang berkenaan tentang meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci Ramadhan.

 

Di awal kuliah, Al-Ustadz Husni Dzahabi menjelaskan tentang naluri yang ada di dalam diri manusia. Menurut beliau, dalam menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan terdapat dua golongan manusia, golongan pertama adalah mereka yang merasakan kejenuhan dalam beribadah, sedangkan golongan kedua adalah mereka yang tidak mengalami rasa jenuh karena sudah terbiasa. Di sepertiga akhir bulan puasa ini, sudah banyak dari kaum muslim yang merasakan kejenuhan dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka bersemangat di awal bulan Ramadhan, tapi kemudian semangat itu meredup menjelang akhir bulan suci ini. Namun, masih banyak juga kaum muslim yang termasuk golongan kedua, mereka adalah golongan yang setiap hari selalu bersemangat dalam beribadah. Bahkan kaum muslim yang termasuk ke dalam golongan ini senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah tersebut, bukan sekedar menjadikannya sebuah rutinitas.

 

Dalam beribadah, rasanya belum cukup jika hanya sekedar berupa ucapan dan perbuatan saja, seharusnya hati kita juga harus turut berinteraksi dengan Allah subhaanahu wa ta’alaa ketika beribadah. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa, ibadah yang dilaksanakan seseorang juga butuh pembiasaan. Maka, bulan suci Ramadhan ini bisa menjadi momentum terbaik bagi seorang muslim untuk membiasakan dirinya beribadah dan taat kepada Tuhannya.

 

Momentum bulan suci ini juga dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk menahan diri dari perbuatan yang berlebihan. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam sudah memberi contoh bagi umatnya dalam menahan diri, salah satunya dengan tidak pernah makan sebelum merasa lapar, dan menyelesaikan makannya sebelum merasakan kenyang.

 

Di akhir, beliau berpesan kepada para jama’ah agar selalu meningkatkan kualitas ibadah walaupun nanti bulan Ramadhan sudah berlalu. Meningkatkan kualitas ibadah tidak hanya di bulan Ramadhan saja, akan tetapi di satu tahun penuh seorang muslim juga harus meningkatkan kualitas ibadahnya. Rizqon/Alif

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Husni Dzahabi, Lc. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

Baca Juga:

Alquran, Mutiara Termahal

Meningkatkan Iman di Bulan Suci Ramadhan

Keutamaan Puasa dan Malam Lailatu-l-Qadr

Keutamaan Puasa dan Malam Lailatu-l-Qadr

0

Kuliah Shubuh pada hari Sabtu, 22 Ramadhan 1443 H/23 April 2022 M di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diisi oleh, Al-Ustadz H. Agus Mulyana S. Ag.. Dalam kuliahnya, beliau memaparkan tentang keutamaan-keutamaan yang dapat kita temui di bulan suci Ramadhan, khususnya ibadah puasa dan malam lailatu-l-qadr.

 

Di awal kuliah, Al-Ustadz Agus Mulyana menjelaskan keutamaan bulan suci Ramadhan. Beliau mengatakan, jika seseorang mengetahui keutamaan dan pahala di bulan suci Ramadhan, niscaya seluruh manusia akan meminta agar 12 bulan dalam satu tahun dijadikan bulan suci Ramadhan.

 

Ibadah utama yang dilaksanakan seluruh umat muslim di bulan Ramadhan adalah berpuasa. Ibadah puasa memiliki banyak keutamaan, diantara keutamaan berpuasa adalah menjadikan tubuh kita sehat. Para ahli medis beranggapan bahwa, jika seseorang berpuasa, maka tubuh dan pencernaannya otomatis beristirahat. Beliau mengibaratkan tubuh kita seperti mesin, apabila sebuah mesin dipergunakan terus menerus dalam kurun waktu yang lama tanpa diistirahatkan, maka besar kemungkinan mesin tersebut akan cepat rusak. Berbeda dengan mesin yang hanya digunakan sesuai kebutuhan saja, mesin tersebut bisa lebih awet dan tidak mudah rusak.

 

Keutamaan lain yang bisa kita temukan di bulan suci Ramadhan adalah malam lailatu-l-qadr. Malam tersebut adalah malam yang tertulis dalam Alqur’an lebih baik dari seribu bulan. Artinya, dalam satu malam Allah subhanahu wa ta’ala istimewakan amal-amal kebajikan yang dilakukan di malam tersebut, dijanjikan Allah pahala berlipat ganda, bahkan lebih baik daripada seribu bulan.

 

Dengan begitu banyaknya kenikmatan yang kita dapati di bulan suci ini, selayaknya kita harus mensyukuri nikmat beribadah di bulan suci ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Dalam kuliahnya, Al-Ustadz Agus Mulyana berpesan kepada para jamaah untuk memaksimalkan momen bulan Ramadhan ini guna menyiapkan bekal terbaik menuju akhirat.

“Kita ini seperti musafir yang bersinggah untuk waktu yang sebentar. Maka, selayaknya seorang musafir, kita harus mempersiapkan bekal terbaik untuk pulang kembali. Dan bekal terbaik itu, saat ini ada di hadapan kita, yaitu bulan suci Ramadhan. Terlebih dengan adanya malam lailatu-l-qadr, ini adalah kesempatan besar kita untuk mengumpulkan amal-amal sholih sebagai bekal kita menuju akhirat kelak” Pesan beliau dalam kuliahnya. Rizqon/Alif

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Agus Mulyana, S. Ag. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Baca Juga:

Ad-Dhuha: Bukti Cinta Allah pada Hamba-Nya

Puasa dan Kepekaan Sosial

Alquran, Mutiara Termahal

Meningkatkan Iman di Bulan Suci Ramadhan

Alquran, Mutiara Termahal

0

Kuliah Shubuh pada hari Jumat, 14 Ramadhan 1443 H/15 April 2022 M diisi oleh Al-Ustadz Ahmad Suharto, M.Pd.I. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor. Beliau mengibaratkan Alquran, di depan para santri, layaknya sebuah mutiara yang paling mahal di dunia.

Di awal kuliah, beliau membuka dengan sebuah pertanyaan, “Mengapa ibadah wajib berpuasa harus jatuh pada bulan Ramadhan?” Hal ini dikarenakan, pada bulan Ramadhan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui perantara malaikat-Nya, yaitu Jibril. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ke-185 dalam QS. Al-Baqarah, yang artinya:

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)…” (QS. Al-Baqarah : 185)

Dengan diturunkannya Alquran di bulan Ramadhan, Allah Ta’ala menjadikan bulan tersebut mulia. Sama halnya dengan Nabi yang menerimanya, Allah Ta’ala menjadikannya sebagai Nabi yang paling mulia. Pun juga, malam diturunkannya Alquran menjadi malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sehingga dapat disimpulkan, segala sesuatu yang terikat dengan Alquran pasti akan mulia, berikut pemaparan beliau.

Dari pemaparan tersebut di atas, beliau mengibaratkan, Alquran ini layaknya mutiara yang terpendam di lautan yang terdalam. Semakin dalam mutiara itu, semakin mahal harganya. Semakin kita menyelam, semakin besar kesempatan kita untuk mendapatkan mutiara yang mahal tersebut. Pertanyaannya, “Akankah seorang muslim itu menyelami Alquran ini untuk mendapatkan mutiara yang mahal tadi?”

Bagaimana cara kita menyelami Alquran? Dengan mempelajarinya, ujar beliau. Terkait dengan cara mempelajari Alquran ini, beliau mencontohkan, para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak akan beranjak ke ayat yang lain sebelum mereka memahami ayat yang baru saja turun dari-Nya. Artinya, para sahabat tidak akan berhenti mempelajari ayat tersebut, sampai mereka mendapatkan ilmu yang terkandung di dalamnya agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menambahkan, walau sepanjang hidupnya nanti tidak sampai 10 ayat yang dipahaminya.

Di akhir kuliah, beliau berpesan bahwa keindahan Al quran ini sangatlah luar biasa, maka marilah hidup di bawah naungan Al quran dengan menyelaminya. Jika Allah Ta’ala berkehendak, umat islam dapat menemukan mutiara yang terkandung di dalamnya. Apalah arti seorang muslim, yang hanya diam di tepi pantai, ia hanya melihat dan mengagumi mutiara (Al quran) ini, tanpa mau untuk masuk dan menyelam. Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Ahmad Suharto, M.Pd.I di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Baca Juga:

Menyucikan Diri Dengan Berpuasa

Menanamkan Jiwa Kesabaran dan Keikhlasan

Ad-Dhuha: Bukti Cinta Allah pada Hamba-Nya

Puasa dan Kepekaan Sosial