Home Blog Page 128

Meningkatkan Iman di Bulan Suci Ramadhan

0

Kuliah Shubuh pada hari Jum’at, 21 Ramadhan 1443 H/21 April 2022 di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) disampaikan oleh Al-Ustadz H. Suwarno T.M, S. Ag.. Pada kuliah shubuh ini, beliau menyampaikan materi yang berkenaan tentang meningkatkan iman dan ketakwaan pada bulan Ramadhan.

 

Di awal kuliah, beliau menjelaskan mengenai pentingnya mengerjakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak dapat dipungkiri, bahwa iman manusia terkadang bisa naik dan bisa pula turun. Iman seseorang bisa naik karena ketaatan, dan seringkali turun karena kemaksiatan yang ia lakukan. Maka dari itu, agar iman seorang hamba bisa meningkat, selayaknya bagi dirinya untuk selalu bertakwa kepada Allah. Cara untuk bertakwa kepada Allah adalah dengan melaksanakan perintah-Nya, seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dan ibadah lain yang bisa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah.

 

Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwasanya, di bulan Ramadhan ini, kita memiliki niat yang suci untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ditambah lagi, kita melakukan ibadah bulan suci ini di lingkungan pondok pesantren, maka tidak ada niat lain kecuali menuntut ilmu.

 

Kemudian, Al-Ustadz Suwarno menjelaskan salah satu keutamaan puasa di bulan Ramadhan, yang diambil dari hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

عَنِ النَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ فِيْهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لَايَدْخُلُهُ إِلَّا الصَائِمُونَ (رواه البخاري)

Dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di surga ada delapan pintu, diantaranya ada yang dinamakan ar-Rayyan yang tidak akan memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa. (Shahih Bukhari 3017)

 

Selain mengingatkan tentang takwa, beliau juga memberi sebuah tips agar iman kita selalu meningkat, yaitu dengan mengoreksi diri sendiri atau islaahu-n-nafsi. Mengoreksi diri kita atas apa yang kita lakukan, mengoreksi diri atas dosa dan maksiat yang telah kita lakukan.

Selain memperbaiki hubungan dengan Allah, kita juga diwajibkan untuk memperbaiki hubungan dengan sesame manusia. Salah satu contohnya adalah, memperbaiki hubungan dengan keluarga, kerabat dan juga masyarakat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.

 

Dalam kuliahnya, beliau berpesan agar kita senantiasa memanfaatkan kesempatan di bulan Ramadhan ini dengan sebaik-bainya untuk meraih Surga.

“Dalam bulan Ramadhan ini kita gunakan waktu sebaik-baiknya karena disana ada surga yang dikhususkan hanya untuk orang berpuasa yaitu surga ar-Rayyan” pesan beliau kepada para jamaah. Rizqon Nabil

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Suwarno T.M, S. Ag. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

Baca Juga:

Menyucikan Diri Dengan Berpuasa

Menanamkan Jiwa Kesabaran dan Keikhlasan

Ad-Dhuha: Bukti Cinta Allah pada Hamba-Nya

Puasa dan Kepekaan Sosial

 

Puasa dan Kepekaan Sosial

0

Kuliah Shubuh pada hari Kamis, 20 Ramadhan 1443 H/21 April 2022 di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. H. Agus Budiman, M. Pd.. Pada kuliah shubuh ini, beliau menyampaikan materi yang berkenaan tentang ibadah puasa dan kepekaan sosial.

Di awal kuliah, beliau menjelaskan bahwa, ibadah puasa merupakan ibadah yang istimewa. Ibadah puasa dikatakan istimewa karena sifatnya sangat pribadi. Dalam suatu hadits qudsi, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa, ibadah puasa adalah untuk-Nya, dan Allah sendiri yang akan membalasnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي ‏”‏‏.‏

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendirilah yang mengganjarinya, orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku.’ ” Shahih Bukhari 6938

Keistimewaan ibadah puasa sangat jelas disebutkan dalam hadits qudsi tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala pun menyatakan bahwa, ibadah puasa seorang hamba adalah milik-Nya. Dengan ini, ibadah puasa merupakan puncak kedakatan hamba dengan Rabb-nya.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berpuasa supaya ber-taqwa. Makna taqwa yang dimaksud dalam ayat ini secara khusus artinya adalah ketakutan. Ketakutan disini maksudnya rasa takut yang timbul karena kecintaan hamba kepada Rabb-nya, sehingga takut kehilangan momentum ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini.

Walaupun dikatakan sebagai ibadah individu, ibadah puasa juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Pada hakikatnya, ibadah puasa tidak hanya tentang menahan diri dari lapar dan dahaga saja, dalam berpuasa kita juga harus menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. Menyakiti hati orang lain dengan lisan, maupun perbuatan akan mengurangi kualitas ibadah puasa kita.

Dimensi sosial dalam ibadah puasa, juga dibuktikan dengan hadits tentang keutamaan memberi makan orang yang berpuasa.

‏عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏  “‏ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ‏”‏ ‏.‏

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” Sunan Ibn Majah 1746

Berpuasa mengajarkan kita untuk saling tolong menolong, saling berbagi, dan saling menjaga hati. Dengan berpuasa secara kaffah, kita akan mendapatkan kemenangan berupa ganjaran dari Allah dan kebahagiaan sosial.

Dalam kuliahnya, Al-Ustadz Agus Budiman berpesan kepada jamaah kuliah shubuh untuk senantiasa bersyukur, karena hingga saat ini masih memiliki kesempatan menunaikan ibadah shoum di bulan Ramadhan ini. Alif

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Dr. H. Agus Budiman, M.Pd. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

Baca Juga:

Menyucikan Diri Dengan Berpuasa

Menanamkan Jiwa Kesabaran dan Keikhlasan

Ad-Dhuha: Bukti Cinta Allah pada Hamba-Nya

Muntada Lughoh ‘Arabiyyah: Wahana Peningkatan Bahasa Santri

0

Muntada lughah ‘arabiyyah adalah salah satu pendidikan bahasa di Pondok Modern Darussalam Gontor yang diadakan setiap bulan Ramadhan bagi santri-santri kelas 5 Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). Acara ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab santri kelas 5 KMI, sekaligus memberikan bekal bahasa Arab sebelum mereka menjadi siswa akhir KMI. Tahun ini acara tersebut diadakan pada tanggal 13 hingga 15 Ramadhan 1443 H.

Penyelenggaraan acara Muntada Lughoh ‘Arabiyyah ini sangatlah penting, mengingat kemampuan membaca dan menulis bahasa Arab yang baik dan benar adalah salah satu bekal bagi siswa kelas 5 sebelum naik ke jenjang siswa akhir KMI. Siswa akhir KMI diharapkan dapat menjadi teladan bagi santri lainnya dalam berbahasa Arab. Kemampuan berbahasa yang baik juga bermanfaat untuk mempelajari dan memahami materi-materi pelajaran siswa akhir KMI yang lebih sulit daripada kelas-kelas sebelumnya.

Acara ini menghadirkan beberapa pembicara yang berasal dari guru-guru senior Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Materi yang diberikan kepada siswa-siswa kelas 5 dalam acara ini antara lain cerita pendek berbahasa Arab, koran dan majalah, serta tatanan bahasa Arab yang benar dan biasa dipakai oleh orang Arab dalam percakapan mereka sehari-hari.

Dalam acara bahasa ini, siswa-siswa kelas 5 juga mendapatkan materi yang berasal dari buku pegangan materi muntada lughah ‘arabiyyah yang sebelumnya telah dibagikan kepada mereka. Materi-materi yang ada dalam buku tersebut adalah kata-kata dari unsur-unsur di sekitar Pondok, kosa kata bahasa Arab yang berasal dari dunia olahraga, serta kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi dalam percakapan, dan pidato-pidato.

Suasana pembacaan kesan-kesan dalam kegiatan Muntada Lughoh ‘Arabiyyah.

Di akhir acara Muntada Lughoh ‘Arabiyyah ini, diadakan acara penulisan kesan-kesan selama mengikuti acara ini dengan memakai bahasa Arab. Penulisan kesan-kesan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh peningkatan kemampuan bahasa Arab kelas 5. Kemudian, mereka juga dilatih untuk percaya diri dengan menyampaikan hasil tulisannya di depan banyak orang. Beberapa santri dipilih untuk membacakan hasil tulisannya, kemudian beberapa mendapat koreksi agar kedepannya dapat meningkatkan kualitasnya. Akmal Najemi

 

Artikel Terkait:

Tingkatkan Bahasa Guru dan Santri, LAC Adakan Seminar Bahasa Arab

Drama Contest, Media Pengembangan Bahasa Santri

Ad-Dhuha: Bukti Cinta Allah pada Hamba-Nya

0

Kuliah Shubuh pada hari Rabu, 19 Ramadhan 1443 H/20 April 2022 di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. H. Imam Kamaluddin, Lc., M. Hum.. Pada kuliah shubuh ini, beliau menyampaikan materi yang berkenaan tentang tafsir surat Ad-Dhuha.

“Ad-Dhuha adalah cerita tentang kegundahan, kegelisahan, juga obat yang Allah Subhanahu wa ta’ala turunkan,” ujar Al-Ustadz Imam Kamaluddin di awal kuliah sebagai pembuka materi yang akan disampaikan.

Lebih lanjut beliau mengatakan, jika sebelum surat ini turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dalam keadaan gelisah. Baginda gelisah lantaran sudah 6 bulan tidak didatangi oleh malaikat Jibril yang membawa wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sampai pada titik ini baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat berfikir, jangan-jangan Allah sudah benci dan tidak peduli lagi kepadanya. Beliau bertanya-tanya, mengapa Allah tidak merespon do’a yang ia panjatkan, padahal beliau juga telah berusaha memperbaiki kualitas ibadahnya.

Setelah penantian panjang penuh kegelisahan, akhirnya turunlah surat Ad-Dhuha sebagai penawar kegelisahan yang dirasakan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

“Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi.”

Ayat pertama menyebutkan demi waktu dhuha, waktu pagi saat matahari belum naik terlalu tinggi. Dari ayat pertama ini seakan Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan bahwa, waktu masih pagi, cahaya baru muncul, janganlah berputus asa terlebih dahulu. Sedangkan ayat kedua menyebutkan malam, waktu dimana banyak manusia yang sedang mengalami gundah atau depresi sulit beristirahat.

“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,”

Kemudian di ayat ketiga, di sini lah semua kegelisahan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam terobati, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak meninggalkan dan tidak pula membencinya. Keadaan seperti ini yang seringkali kita rasakan dalam berdo’a. Saat kita merasa telah memperbaiki kualitas ibadah kita, berusaha lebih khusyu’ dalam berdo’a, tetapi apa yang kita harapkan tidak kunjung tiba, sehingga timbul rasa gelisah dalam diri kita. Padahal, boleh jadi Allah tidak mengabulkan do’a kita karena apa yang kita inginkan dapat berdampak buruk suatu saat, atau sebenarnya kita telah mendapatkan pengganti yang lebih baik tanpa kita sadari.

“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan”

Pada ayat keempat ini mengatakan bahwa, kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan di dunia. Dunia tempat kita berproses untuk meraih kebahagiaan di akhirat kelak, dalam proses itu kadang kita menemui kegagalan, kesulitan, dan kegelisahan. Jika semua itu berhasil kita lewati dengan baik, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, hadiah besar berupa kenikmatan akhirat dapat kita raih.

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”

Ayat ini merupakan janji Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya. Ia akan memberikan karunia-Nya baik berupa do’a kita yang dikabulkan sesuai keinginan, atau diberi pengganti yang jauh lebih baik. Allah subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-Nya, dan hanya Ia yang tau cara terbaik untuk mengekspresikan rasa cinta itu.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”

Ayat keenam hingga delapan surat Ad-Dhuha merupakan bentuk kecintaan Allah pada hamba-Nya. Ia selalu jadi penolong dalam kesulitan,

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).”

3 ayat terakhir ini merupakan perintah-Nya. Setelah semua nikmat dan pertolongan yang kita dapat, hendaknya kita senantiasa bersyukur, tidak bertindak semena-mena, terlebih pada anak yatim dan kaum fakir miskin. Ungkapkanlah nikmat yang kita dapat, namun bukan untuk riya’ dan sombong, melainkan untuk mensyukuri nikmat tersebut.

Di akhir kuliah, Al-Ustadz Imam Kamaluddin berpesan bahwa walaupun harapan kita belum terwujud, Allah tidak akan meninggalkan kita.

“Ketika Allah sudah membuka hatimu tentang penolakan do’amu dan engkau paham apa yang terjadi, maka bisa jadi pemberian terbaik dari Allah. Maka Allah tidak akan meninggalkan kita bagaimanapun juga.” Pesan beliau di akhir kuliah. Alif/Rizqon

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Dr. H. Imam Kamaluddin, Lc. M.Hum. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

Baca Juga:

Menyucikan Diri Dengan Berpuasa

Mulia Dengan Alquran

Kemuliaan Bulan Ramadhan

Menanamkan Jiwa Kesabaran dan Keikhlasan

Menanamkan Jiwa Kesabaran dan Keikhlasan

0

Kuliah Shubuh pada hari Selasa, 18 Ramadhan 1443 H/19 April 2022 di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) disampaikan oleh Al-Ustadz H. Taufiqurrahman, S.Ag.. Pada kuliah shubuh ini, beliau menyampaikan materi yang berkenaan tentang kesabaran dan keikhlasan.

 

Pada awal kuliah, beliau membesarkan hati jamaah kuliah shubuh yang hampir seluruhnya merupakan siswa kelas 6 baru Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyyah,

“Ini adalah titik awal dan permulaan sebagai kelas 6. Kalau sudah sampai titik ini, berarti sudah ada kesabaran, dan keikhlasan dalam diri kalian.” Ungkap beliau dalam kuliahnya.

 

Al-Ustadz Taufiqurrahman kemudian menjelaskan bahwa, kesabaran dan keikhlasan merupakan dua hal yang saling terhubung, jika tidak ada keduanya dalam diri kita, maka akan timbul emosi, baik berupa emosi jiwa maupun emosi perilaku.

“Antara sabar dan ikhlas harus saling berkaitan dan berhubungan kapan pun dan di mana pun. Jika terlepas salah satu di antara keduanya dari diri kita, maka akan timbul emosi jiwa dan perilaku.”

 

Lebih lanjut mengenai kesabaran, beliau menyampaikan bahwa, Allah Subhanahu wa ta’ala akan memberi ganjaran kemuliaan kepada hamba-Nya yang sabar dalam menghadapi ujian-ujian kehidupan.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, kesabaran itu terbagi menjadi 3, yaitu;

  1. Sabar dalam menerima keadaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala
  2. Sabar dalam menghindari kemaksiatan
  3. Sabar dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

 

Adapun mengenai keikhlasan, menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali, ikhlas adalah prinsip yang didasari oleh niat. Niat yang dimaksud di sini adalah ketetapan hati dalam melaksanakan segala sesuatu hanya untuk mengharap ridho Allah Subhanahu wa ta’ala. Hakikat keikhlasan adalah kemurnian hati dari segala kotoran-kotoran dan penyakit hati. Maka, boleh jadi amal perbuatan kita di bulan suci Ramadhan ini akan sia-sia jika kita tidak ikhlas dalam menjalaninya. Naudzubillahi min dzalik.

“Mari kita menjalankan bulan suci Ramadhan ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menggapai ridho Allah Subhanahu wa ta’ala.” Pesan Al-Ustadz Taufiqurrahman di akhir kuliahnya. Alif/Rizqon

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Taufiqurrahman, S.Ag. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

Baca Juga:

Menyucikan Diri Dengan Berpuasa

Mulia Dengan Alquran

Kemuliaan Bulan Ramadhan

Gontor Mendidik Generasi Cerdas yang Bermanfaat

0

Kuliah Shubuh pada hari Senin, 17 Ramadhan 1443 H/18 April 2022 di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) disampaikan oleh Al-Ustadz H. Saepul Anwar, M.Pd. . Pada kuliah subuh ini, beliau menyampaikan materi yang berkenaan tentang Pendidikan di Gontor.

Di awal kuliah, beliau memotivasi seluruh hadirin yang di dominasi oleh santri kelas 5 Kuliyyatul Muallimin al-Islamiyyah (KMI), bahwasanya bermukim menuntut ilmu di pondok merupakan salah satu bentuk jihad fii sabilillah.

“Kita belajar di Pondok ini setara dengan jihad fii sabilihhah, walladziina jaahadu fiina lanahdiyannahum subulana. Jalan perkembangan, jalan peningkatan akan selalu ditunjukkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala selagi kita berjihad di jalan-Nya.” Ungkap Al-Ustadz Saepul Anwar di awal kuliah.

Kemudian, beliau menyatakan bahwa santri Gontor merupakan generasi cerdas yang memiliki landasan khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lainnya. Itulah dasar penetapan sistem pendidikan KMI, dahulu lulusan PMDG dinilai tidak terlalu mumpuni dalam mengajar, kemudian Gontor menerapkan sistem KMI dengan harapan, alumni PMDG dapat mengajar dengan baik sehingga bermanfaat untuk masyarakat luas.

Dalam mendidik santrinya, Gontor menitikberatkan pada proses, tidak berorientasi pada hasilnya saja. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang melalui proses, karena proses itulah yang menanamkan kekuatan dalam jiwa santri, semakin banyak dan berat proses yang dihadapi, maka semakin kuat dan besar jiwa santri tersebut.

Seluruh dinamika kegiatan yang ada di pondok ini merupakan proses kristalisasi untuk mengetahui siapa yang bersungguh-sungguh dan siapa yang bermalas-malasan. Siapapun yang bersungguh-sungguh tentu akan mendapat keutamaan. Seluruh lini kehidupan disini saling berlomba untuk meraih al-fadlu dari Allah Subhanahu wa ta’ala, fastabiqul khairaat.

Pada akhir kuliah, Al-Ustadz Saepul Anwar menyampaikan kepada para santri untuk senantiasa bersyukur memiliki kesempatan berada di lembaga pendidikan sebaik Gontor. Beliau menambahkan, alumni-alumni Gontor yang sukses berkiprah di masyarakat seperti Al-Ustadz Bachtiar Nasir, Al-Ustadz Lukman Hakim Saifuddin, hingga K.H. Hasyim Muzadi juga bersyukur mendapat pendidikan di Gontor. Alif/Rizqon

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Saepul Anwar, M.Pd. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

 

Baca Juga:

Menyucikan Diri Dengan Berpuasa

Mulia Dengan Alquran

Kemuliaan Bulan Ramadhan

Menyucikan Diri Dengan Berpuasa

0

Kuliah Shubuh pada hari Ahad, 16 Ramadhan 1443 H/17 April 2022 di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) disampaikan oleh Al-Ustadz H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd. Pada kuliah subuh ini, beliau menyampaikan materi yang berkenaan tentang menyucikan diri dengan berpuasa di bulan Ramadhan.

 

Di awal kuliah, beliau menyampaikan bahwa di bulan suci Ramadhan ini kita dapat menemukan berbagai macam ibadah untuk dikerjakan, dimana ibadah utama pada bulan ini adalah berpuasa.

 

Kemudian Al-Ustadz Umar Said Wijaya memaparkan makna puasa secara umum dan khusus.

“Berpuasa secara umum artinya menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Adapun puasa secara khusus artinya, menahan diri untuk tidak melakukan maksiat.” Jelas beliau dalam kuliahnya

 

Ibadah puasa sejatinya tidak hanya menahan fisik dari hawa nafsu saja. Dalam berpuasa kita juga harus menahan hati dari sifat iri, dengki, hasad, dan segala maksiat yang dapat merusak kesempurnaan ibadah puasa kita. Begitulah seyogyanya seorang muslim berpuasa, yaitu tidak hanya menahan diri dari lapar dan haus saja, namun otak, hati, dan jiwanya juga ikut berpuasa untuk tidak bermaksiat kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala.

 

Ibadah puasa memiliki kekuatan untuk menyucikan diri kita, sehingga selepas bulan suci Ramadhan ini kita bersih dari dosa seperti seorang bayi yang baru lahir. Dikutip dari kitab Shahih Bukhari, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa seorang muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan akan mendapat ampunan dari dosa-dosanya yang telah berlalu.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (Sahih Bukhari Vol.3 Kitab 32 No. 231)

 

Beliau berpesan kepada seluruh santri dan guru yang menghadiri jamaah Subuh di masjid Jami’ PMDG bahwasanya bulan Ramadhan ini merupakan momentum yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, semoga di bulan suci Ramadhan ini kita mendapat ampunan dari Allah Subhanallahu wa ta’ala, Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Alif dan Rizqon

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Umar Said Wijaya, M.Pd. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Baca Juga:

Mulia Dengan Alquran

Kemuliaan Bulan Ramadhan

Mudaarasatu-l-Quran; Bagian dari Ibadah

Mulia Dengan Alquran

0

Kuliah Shubuh di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor pada hari Kamis, 13 Ramadhan 1443 H/14 April 2022 M diisi oleh Al-Ustadz Dr. Sujiat Zubaidi, M.A. Pada kuliah pagi ini, beliau menjelaskan terkait sesuatu itu akan menjadi mulia dengan Alquran.

Di awal kuliah, beliau menjelaskan bahwa bulan Ramadhan ialah bulan yang mulia. Terhadapnya, umat Islam selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Dan juga terdapat banyak nama lain untuk menyebut bulan Ramadhan, salah satunya ialah Syahru-l-Quran.

Dikutip dari salah satu ayat dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 yang artinya:

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)…” (QS. Al-Baqarah : 185)

Berangkat dari ayat tersebut, kita mengetahui bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menerangkan  tanda-tanda kekuasaan-Nya dengan menurunkan Alquran  kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, melalui perantara malaikat Jibril, di dalam Gua Hira’, pada bulan Ramadhan.

Sehingga, hal-hal yang berkaitan dengan Alquran, pasti dijadikan mulia oleh Allah Ta’ala. Nabi yang menerima wahyu (Alquran) ini, menjadi nabi yang paling mulia. Malaikat yang menjadi perantaranya, menjadi malaikat yang memiliki posisi yang mulia. Bulan di mana diturunkannya Alquran, menjadi bulan yang paling mulia, dan lagi malam diturunkannya menjadi malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Alquran ini, terang beliau, adalah pedoman hidup dan ajaran dari segala macam ajaran, semuanya tertera di dalam Alquran. Sebagai contoh, dalam bidang sosial atau bermasyarakat, beliau mengambil salah satu ayat dalam QS Al-Fatihah yaitu ayat ke-5 yang berbunyi:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ

Artinya:

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah : 5)

Di dalam ayat tersebut, disebutkan kata-kata “kami” yang maknanya adalah jamak (orang banyak). Artinya, Islam lewat Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersosialisasi, mencari teman, dan terus mengajak dalam kebaikan. Sebaliknya, Islam tidak pernah mengajarkan seorang muslim untuk sendiri saja.

Oleh karena itu, di akhir kuliah beliau menyampaikan, umat Islam sebagai orang-orang yang diamanatkan dengan Alquran, perlu untuk mentadabburinya. Tidak hanya sekedar membacanya saja, namun juga mempelajarinya agar termasuk orang-orang yang mulia juga. Aamiin. Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Dr. Sujiat Zubaidi, M.A. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Kemuliaan Bulan Ramadhan

Ramadhan; Momentum Peningkatan Diri

Dimensi Ketakwaan dan Pemanfaatannya di Bulan Ramadhan

Kemuliaan Bulan Ramadhan

0

Kuliah Shubuh pada hari Senin, 10 Ramadhan 1443 H/11 April 2022 di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diisi oleh Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo. S.Ag. Pada kuliah pagi ini, beliau menyampaikan beberapa hadits yang berkenaan tentang kemuliaan bulan Ramadhan.

Di awal kuliah, sebelum memulai materinya, beliau mengajak para santri yang bermukim untuk selalu bersyukur, karena telah sampai pada hari kesepuluh dalam bulan Ramadhan ini. Jika dalam bulan puasa Ramadhan ini tujuannya adalah untuk mencapai tingkatan takwa, maka adanya kuliah shubuh ini adalah sebagai kesempatan yang langka untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan kuliah shubuh ini, ilmu dan pemahaman para santri akan meningkat setiap harinya.

Setiap kesempatan merupakan percepatan untuk sampai kepada tujuan…

Dikutip dari Kuliah Shubuh di Masjid Jami’ PMDG yang disampaikan oleh Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo.

Hadits yang pertama beliau sampaikan, dikutip dari HR Muslim no. 1079 dari kitab Shahih Muslim, yaitu:

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Jika datang bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR. Muslim no. 1079)

Kenapa pintu-pintu surga akan dibuka? Karena di bulan ini, umat islam meningkatkan ibadahnya; bertambah kualitasnya dan bertambah kuantitasnya. Beliau mencontohkan, yang biasanya seorang muslim mendirikan shalat sunnah dengan membaca ayat-ayat yang pendek, ia akan membaca ayat-ayat yang lebih panjang, yang biasanya ia shalat sunnah Dhuha 2 rakaat, ia akan menambahnya menjadi 4 atau 6 rakaat, dst. Sehingga hal ini juga yang menyebabkan ditutupnya pintu Neraka dan setan-setan seakan dibelenggu.

Kemudian, hadits yang kedua, diriwayatkan dari Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari hadits no. 1894, yaitu:

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Puasa itu adalah perisai” (HR. Bukhari no. 1894)

Perisai di sini, maksudnya adalah pelindung. Berangkat dari hadits tersebut, dapat diperoleh penjelasan bahwa puasa ini berfungsi untuk melindungi seseorang dari hawa nafsunya. Hal ini akan menjadikan orang tersebut mengurangi hingga menghindari dari segala perbuatan yang mengarah pada kemaksiatan terhadap Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh beliau.

Sebagai penutup, di akhir kuliah, beliau mengajak para santri untuk memanfaatkan bulan Ramadhan ini berikut kemuliaan-kemuliaannya, sebagai bekal nantinya dalam menghadapi masa yang akan datang. Dengan menyebut nama Allah Ta’ala (Bismillah) kita memulai segala perbuatan kita. Dan kata-kata “Bismillah” ini harus kita resapi, dengan apa? Dengan terus mengerjakan kebaikan dan menghindari keburukan terutama setelah mengetahui kemuliaan-kemuliaan yang ada di bulan suci Ramadhan ini. Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Mudaarasatu-l-Quran; Bagian dari Ibadah

Ramadhan; Momentum Peningkatan Diri

Dimensi Ketakwaan dan Pemanfaatannya di Bulan Ramadhan

Mudaarasatu-l-Quran; Bagian dari Ibadah

0

Kuliah Shubuh pada hari Sabtu, 8 Ramadhan 1443 H/9 April 2022 M di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor, pada kesempatan pagi ini diisi oleh Al-Ustadz H. Nazeeh M. Subari, Lc. Beliau memulai kuliahnya dengan ulasan ulang sedikit terkait apa yang telah disampaikan pada kuliah-kuliah sebelumnya tentang kemuliaan bulan Ramadhan ini. Apa yang akan beliau sampaikan pada kuliah kali ini bertemakan mudaarasatu-l-quran.

Bulan Ramadhan ini, terang beliau, selain dipenuhi oleh kemuliaan-kemuliaan yang tidak akan didapat di bulan lain, juga merupakan bulan diturunkannya Alquran, dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 Allah ta’ala berfirman yang artinya:

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)…” (QS. Al-Baqarah : 185)

Dari ayat inilah, umat islam selalu bergembira dalam menyambut bulan Ramadhan, mengapa? Karena di dalamnya diturunkan Alquran yang menjadikan bulan ini mulia. Bagaimana umat islam mengungkapkan kegembiraan mereka? Dengan banyak bersedekah, beribadah, berbuat baik kepada sesama, dan juga talabul-‘ilmi.

Mengingat bulan Ramadhan ini ialah bulan diturunkannya Alquran, maka beliau menyampaikan bahwa Ramadhan ini juga merupakan bulan mudaarasatu-l-quran. Apa itu mudaarasah? Ialah al-qiraa’ah (membaca) dan ad-diraasah (mempelajari). Sehingga jika kata mudaarasah ini dikaitkan dengan kata Alquran, maka maksudnya adalah qiraa’atu-l-quran wa diraasatuhu (Membaca alquran dan mempelajarinya).

Qiraa’atu-l-quran artinya adalah membacanya siang dan malam, yang mana ini termasuk ibadah bagi seorang muslim. Kemudian diraasatu-l-quran maksudnya adalah mempelajarinya dengan urutan; membacanya, menghafalnya, memahaminya, untuk setelahnya men-tadabbur-i dan mengamalkannya. Berangkat dari penjabaran yang beliau sampaikan seperti tersebut di atas, mudaarasatu-l-quran dapat dikategorikan sebagai talabu-l-‘ilmi (Menuntut ilmu).

Talabu-l-‘ilmi di sini juga merupakan bagian dari ibadah, kenapa demikian? Karena ibadah itu adalah segala amalan yang dapat mendekatkan diri seorang muslim kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Dan sebagaimana yang diketahui, di dalam talabu-l-‘ilmi, seseorang berusaha dan berjibaku dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Dan hal ini, beliau menambahkan, kembali kepada niat orang itu tadi.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah memuliakan bulan Ramadhan ini dengan diturunkannya Alquran. Maka, di akhir ceramah beliau menyampaikan, sudah sepatutnya bagi umat islam agar dapat memanfaatkan momen yang mulia ini sebagai mudaarasatu-l-quran sebagaimana yang telah beliau jelaskan tersebut di atas, agar kita sebagai umat islam tidak termasuk di dalam hamba-hambaNya yang kufur terhadap nikmatNya. Na’udzubillah.Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Nazeeh M. Subari, Lc. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Ramadhan; Momentum Peningkatan Diri

Dimensi Ketakwaan dan Pemanfaatannya di Bulan Ramadhan

Rukun Syukur; Bekal untuk Menyambut Hari Esok