Home Blog Page 129

Ramadhan; Momentum Peningkatan Diri

0

Kuliah Shubuh di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor pada hari Jumat, 7 Ramadhan 1443/8 April 2022 disampaikan oleh Al-Ustadz H. Muhammad Hanif Hafidz, S.Ag. Beliau mengajak para jama’ah untuk mensyukuri nikmat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berbentuk tiga macam; nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat kesehatan.

Dengan iman, jika sudah menempel pada diri seorang muslim maka segala amalan yang diperbuatnya akan lancar dan ringan. Karena keimanan inilah yang akan membimbing dan mengawal setiap muslim. Kemudian islam, ajaran islam berisikan syariat-syariat atau tuntunan dalam beribadah kepada Allah, dengannya jelaslah jalan yang kita tempuh. Yang terakhir, kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga, dengannya kita bisa melaksanakan ibadah dengan baik.

Melanjutkan pembahasan nikmat yang akan berefek pada ibadah tadi, beliau menjelaskan bahwa jika hidup ini diibaratkan dengan perjalanan dari Ponorogo ke Jakarta, mungkinkah kita berangkat tanpa berhenti? Pastinya kita akan berhenti di suatu tempat, anggaplah terminal, untuk sekedar menghela nafas sejenak. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah memberikan kepada kita terminal-terminal-Nya agar hamba-Nya dapat beristirahat, apanya yang beristirahat? Hatinya, bagaimana cara hati beristirahat? Dengan ibadah.

Terminal yang pertama, ialah “Terminal Harian” yaitu melalui shalat fardhu 5 waktu setiap harinya, sehingga adanya adzan di setiap waktunya ini sebagai pengingat harian dari Shubuh hingga Isya’. Yang kedua, ada “Terminal Mingguan” yaitu Shalat Jumat di setiap minggunya. Kemudian, yang ketiga “Terminal Bulanan” yang mana di setiap bulannya dalam tahun Hijriyah terdapat keutamaan tersendiri, contoh: Rajab, Syawwal, dll. Dan yang terakhir adalah “Terminal Tahunan” yaitu bulan suci Ramadhan.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberikan kepada kita bulan Ramadhan ini setiap tahunnya, agar dapat dijadikan sebagai momentum peningkatan diri seorang muslim. Bulan Ramadhan ini, ungkap beliau, dapat diibaratkan seperti halnya kepompong yang di dalamnya terdapat fase perubahan dari ulat menjadi kupu-kupu.

Tahukah ulat? Terhadap ulat, orang-orang biasanya merasa jijik dan tidak suka bahkan takut dan menjauhinya. Beda halnya dengan kupu-kupu, ia adalah serangga yang indah, beragam warnanya, dan banyak orang yang menyukainya. Mungkin di hari-hari sebelum Ramadhan ini, seseorang sering berbuat maksiat, sering lalai akan shalatnya, dll. ibarat ulat yang banyak orang tidak suka tadi. Setelah melalui fase kepompong di bulan Ramadhan ini, orang itu dapat berbenah diri sehingga yang semula diibaratkan seperti ulat tadi, dapat berubah menjadi kupu-kupu yang indah, yaitu pribadi yang lebih baik lagi.

Untuk itu, di akhir kuliah beliau menyampaikan, agar setiap muslim dapat memanfaatkan bulan suci ini sebaik-baiknya dengan memperhatikan empat hal; Fisik, Pikiran (Ilmu), Ruh, dan Maal (Harta). Jadikan Ramadhan ini sebagai peningkatan diri yaitu menjadikan fisik kuat, ilmu bertambah, ruh terjaga, dan harta dapat disedekahkan.Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Muhammad Hanif Hafidz, S.Ag. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Dimensi Ketakwaan dan Pemanfaatannya di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri dari Penyakit Hati

Dimensi Ketakwaan dan Pemanfaatannya di Bulan Ramadhan

0

Kamis, 6 Ramadhan 1443 H/7 April 2022 M dalam acara Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Dr. Mulyono Jamal, M.A. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor. Di dalam kuliahnya kali ini, beliau mengusung tema tentang tingkatan takwa atau dalam istilah beliau, Dimensi Ketakwaan.

Poin pertama yang disampaikan kepada jama’ah shalat shubuh Masjid Jami’, yang terdiri dari santri kelas 5 dan 6 serta beberapa asatidz PMDG ketika itu, ialah tentang rasa syukur. Syukur karena masih diberi kesempatan untuk merasakan bulan Ramadhan di tahun ini. Dan berdoa semoga masih diberi kesempatan untuk merasakan Ramadhan di tahun yang akan datang.

Rasa syukur ini dapat diwujudkan dengan pemanfaatan nikmat bulan Ramadhan tadi, melalui amalan-amalan sholeh yang dilakukan atas dasar ketakwaan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Dikutip dari ayat yang menjelaskan tentang puasa, yaitu QS. Al-Baqarah ayat 183, terdapat 3 kata kunci penting, antara lain: آمنوا (Iman), الصيام (Puasa), dan تتّقون (Takwa). Di surat yang sama yaitu pada ayat 21, kata beliau, ada 2 kata kunci: اعبدوا (Sembahlah) dan تتّقون (Takwa). Berangkat dari kata-kata kunci tersebut, yang dapat disimpulkan adalah bahwa puasa itu berlandaskan iman dan bertujuan untuk takwa, juga semua jenis persembahan kepada Allah (Ibadah) juga untuk takwa.

Berbicara mengenai takwa, yang menjadi tujuan dari seluruh ibadah ini, terdapat banyak sekali ayat yang menjelaskannya. Namun di dalam kuliah shubuh kali ini, beliau mengutip dua diantaranya, yaitu di dalam QS. Ali Imran ayat 102 disebutkan:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (QS. Ali Imran : 102)

Dan juga QS. Al-Hujurat : 13

“…Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa…” (QS. Al-Hujurat : 13)

Dari dua ayat di atas, dapat diketahui bahwasanya dalam ketakwaan, ada yang disebutkan di Al-Quran sebagai “sebenar-benar takwa” dan ada juga “yang paling bertakwa”. Oleh sebab itu, takwa di sini memiliki tingkatan atau dimensi; ada yang di posisi pertama (yang paling), posisi kedua (lebih dari), dan posisi ketiga (biasa). Lantas, seperti apakah pembagian takwa ini?

Di dalam hadits riwayat Imam Bukhari yang diambil dari kitabnya, Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah r.a., dia menceritakan ketika datang seseorang (yang ternyata ia adalah Jibril) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tentang 3 hal, “apa itu Iman?…apa itu Islam?…apa itu Iman?…” (HR. Bukhari no. 50).  3 hal yang disebutkan dalam hadits di atas inilah yang, kata beliau, merupakan dimensi ketakwaan.

Urutan yang paling bawah atau nomor tiga adalah “Islam”, kemudian di atasnya nomor dua “Iman” dan terakhir yang paling atas adalah “Ihsan”. Ketika seseorang mengerjakan suatu amalan dengan beralaskan tuntutan, maka tingkatannya dalam dimensi takwa baru sebatas “Islam” saja, artinya ia telah mengerjakan rukun islam, namun hanya di situ saja. Lain halnya dengan orang yang mengerjakan amalan dan yakin bahwasanya itu bukanlah tuntutan melainkan perintah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, maka ia sudah berada dalam tahap “Iman”, yaitu melaksanakan amalan dengan penuh keyakinan akan rukun iman. Kemudian, jika ia mengerjakan amalan seakan-akan ia melihat Allah, bagaikan pekerja yang dilihat oleh atasannya, ia akan totalitas dan sungguh-sungguh dalam amalannya, tingkatan inilah yang disebut sebagai “Ihsan”.

Di akhir kuliah, beliau menyampaikan tentang bagaimana kita dapat meningkatkan dimensi ketakwaan kita di bulan Ramadhan ini? Yaitu dengan cara selalu meningkatkan kualitas ibadah dan amalan-amalan shaleh lainnya, sehingga seorang muslim dapat memanfaatkan momen Ramadhan ini sebagai ajang peningkatan kualitas diri dan ibadahnya.Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Dr. Mulyono Jamal, M.A. di masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Rukun Syukur; Bekal untuk Menyambut Hari Esok

Santri; Pemuda Masa Kini, Tokoh Besar di Masa yang Akan Datang

Kuliah Shubuh: Takwa dan Hawa Nafsu

Rukun Syukur; Bekal untuk Menyambut Hari Esok

0

Kuliah Shubuh di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor pada hari Rabu, 5 Ramadhan 1443 H/6 April 2022 M disampaikan oleh Al-Ustadz Noor Syahid, M.Pd.I. Beliau mengutip ayat ke-21 dan 22 dalam Q.S. Al-Baqarah yang artinya:

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 21-22)

Dari ayat tersebut, makna tersirat yang terkandung di dalamnya adalah dalam mensyukuri nikmat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: pertama, mengetahui asal nikmat; kedua, jangan menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala; ketiga, tentang pemanfaatan rezeki; keempat, memikirkan kalau saja kita tidak diciptakan di dunia ini.

Keempat hal ini, beliau menyebutkan, adalah “Rukun Syukur” yang patut dilakukan oleh seorang hamba dalam mensyukuri nikmat-Nya. Keempat hal ini selaras dengan poin Ma’rifatu-l-Allah (Mengetahui atau Mengenali Allah). Dalam rangka mensyukuri nikmat Allah, pastinya kita harus mengenali, siapa Allah itu?

Salah satu cara untuk mengenali Allah selain dengan rukun syukur ini, kata beliau, adalah dengan melaksanakan shalat shubuh. Banyak hadits dan catatan yang menjelaskan tentang keutamaan dari waktu shubuh ini. Beliau menambahkan, ada sekitar 17 kemuliaan yang akan didapat hamba-Nya. Diantaranya: waktu shubuh merupakan waktu terkabulnya doa (HR. Bukhari no. 1145), kemudian shalat shubuh adalah salah satu penyebab hamba-Nya untuk masuk Syurga dan penghalang masuk Neraka (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635), pahala dari shalat shubuh ini seperti orang yang melaksanakan shalat sepanjang malamnya (HR. Muslim no. 656), dan masih banyak lagi.

Di akhir kuliah, beliau menambahkan, rasa syukur yang kita panjatkan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ini sebagai penyongsong untuk menyambut hari esok. Hari esok ini terbagi menjadi dua; yang dekat dan yang jauh. Yang dekat, adalah siang di hari ini. Yang jauh, adalah hari ketika di masyarakat kelak.

Sebagaimana dilansir dari pesan K.H. Ahmad Sahal yang berisi harapan, agar nantinya para alumni PMDG dapat menjadi imam (atau manusia yang bermanfaat) di masyarakat kelak. Maka, sebagai perwujudan dari harapan Trimurti pendiri PMDG ini, hendaklah kita selalu bersyukur akan segala nikmat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Noor Syahid, M.Pd.I di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Santri; Pemuda Masa Kini, Tokoh Besar di Masa yang Akan Datang

Bulan Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri dari Penyakit Hati

Bekali Santri Jiwa Qur’ani, PMDG Adakan Tahsinu-l Qira’ah.

Nasihat Ujian Lisan, Kiai Akrim: “Ujian Lisan Membentuk Mental Santri”

0

RIMBO PANJANG – Pondok Modern (PM) Darussalam Gontor Putri Kampus 7 mengikuti pengarahan dan pesan nasihat terkait pelakasanaan ujian lisan semester kedua melalui zoom meeting bersama Bapak Pimpinan PM Gontor beserta seluruh pondok cabang, Ponorogo, Kamis (17/2/22), Pagi.

Al Ustadz Akrim Mariyat, Pimpinan PMDG Pusat Ponorogo menyampaikan bahwa ujian lisan merupakan wadah untuk membentuk mental santri lebih berani; berani menghadapi para penguji dan membangun jiwa optimisme; optimis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. “Ujian lisan membentuk mental santri, mental lebih berani dan mental lebih optimis,” ucap kiai Akrim Mariat dalam pesan dan nasehat ujian lisan via zoom meeting. Tegar

Santri; Pemuda Masa Kini, Tokoh Besar di Masa yang Akan Datang

0

Kuliah Shubuh di Masjid Jami’ PMDG pada hari Selasa, 4 Ramadhan 1443/5 April 2022 disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. K.H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A.. Beliau mengungkapkan rasa cintanya yang sangat mendalam kepada para santri, bahwa meskipun mereka tertatih dalam menimba pendidikan di pondok ini, namun semua itu demi kebaikan mereka nanti ketika sudah berada di masyarakat dan akan membawa perubahan bagi lingkungan sekitarnya.

 

Di awal kuliah, beliau menerangkan bahwa para santri yang sekarang masih merupakan pemuda, ketika sudah dewasa nanti akan menjadi ‘singa jantan’ yang siap mengabdi kepada masyarakat. Julukan tersebut tidak semata-mata disebutkan tanpa alasan, melainkan datang dari beberapa tamu yang dahulu pernah berkunjung. Di antaranya adalah K.H. Wahid Hasyim, yang merupakan sahabat karib dari salah satu Trimurti pendiri pondok, K.H. Imam Zarkasyi.

 

Berangkat dari penjelasan tersebut, beliau melanjutkan bahwa sebagai seorang pemuda yang akan menjadi tokoh di masyarakat nantinya, maka harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dan memiliki bekal sebanyak-banyaknya. Apapun pekerjaan yang akan dilakukan, semua itu haruslah berorientasi kepada akhirat dan diniatkan ikhlas lillahi ta’ala. Ketika seorang hamba mampu mendasarkan setiap perbuatannya dengan keikhlasan, maka yang demikian akan dihitung sebagai ibadah dan mendapatkan pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Sebab ibadah itu tidak hanya terbatas pada amalan-amalan dan ritual tertentu saja, melainkan semua perbuatan kita yang didasari dengan niat yang ikhlas.

 

Poin tersebut senada dengan salah satu nilai pondok yang dikutip dari perkataan K.H. Imam Zarkasyi, yang kemudian dijelaskan oleh Ustadz Hidayatullah. “Kalau kamu menuju yang jauh, maka yang dekat akan terlampaui. Kalau menuju Jakarta, Madiun Ngawi akan terlewati. Maka kalau menuju akhirat, dunia juga akan kamu raih,” jelas beliau di depan para santri.

 

Namun, mempertahankan diri untuk istiqomah dalam niat lillah tentunya tidak mudah. Ketika orientasi kita tertuju kepada akhirat, selalu ada banyak godaan yang menghalangi. Dan godaan tersebut seringkali datang dari setan, karena itulah beliau juga menekankan tentang pentingnya berwaspada terhadap godaan apapun yang mampu merusak pahala dari amalan-amalan yang dikerjakan setiap hari. Memaksa diri untuk bersabar, tabah, serta menguatkan diri. Tidak lupa, beliau juga mencontohkan teladan dari para nabi dan rasul yang menghadapi berbagai masalah di dalam hidup dengan beberapa amalan, seperti berdzikir dan membaca doa-doa.zahrulmuhsinin

 

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Dr. K.H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Bulan Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri dari Penyakit Hati

Dengan Ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Sains, Santri Saintis Siap Membangun Peradaban Islam

Kembali Melanjutkan Belajar, Santri Luar Negeri Tiba di Tanah Air

Bulan Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri dari Penyakit Hati

0

Kuliah Shubuh di Masjid Jami’ PMDG pada Senin, 3 Ramadhan 1443/4 April 2022 disampaikan oleh Al-Ustadz H. Imam Shobari, S.Ag.. Beliau menyampaikan kuliah tentang penyakit-penyakit yang seringkali melanda hati manusia dan menekankan pentingnya pembersihan diri dari segala penyakit tersebut dalam momentum puasa di bulan Ramadhan.

 

Beliau membuka kuliah dengan sedikit penjelasan tentang bagaimana para Trimurti pendiri pondok menjadi contoh akan pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa. Bondho, Bahu, Pikir, bahkan sampai siap mengorbankan nyawa demi pondok ini. “Wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimun. Pasrah kepada Allah itu sampai darah penghabisan, dan ujiannya banyak. Jangan sampai iman kita kalah ketika dihadapkan dengan perkara dunia; contohnya seperti harta,” papar beliau.

 

Penjelasan tersebut diikuti dengan penekanan beliau bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah momentum untuk menguatkan hati, supaya hati kita tidak mati. Dan matinya hati ini disebabkan oleh banyak penyakit-penyakitnya.

 

Di antaranya, Riya’, yaitu ketika seseorang melakukan perbuatan baik karena ingin dilihat atau ingin dipuji. Ketika tidak mendapatkan pujian, maka ia tidak ikhlas.

 

Yang kedua, sum’ah, yaitu ketika seseorang ingin agar perbuatannya terdengar sampai ke telinga orang lain. Hal ini ditujukan supaya orang-orang tahu akan kelebihan yang ia miliki.

 

Ketiga, ‘Ujub, yaitu merasa bangga dengan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinya dan tidak mampu dimiliki oleh orang lain.

 

Lalu keempat, Fakhr, yaitu berbangga dengan apa yang ia miliki; baik itu harta, tahta, ataupun kelebihan lainnya.

 

Kelima, Ikhtiyal, yaitu keinginan agar tidak tersaingi oleh orang lain. Ada pula Tasahul (menganggap enteng orang lain), Ananiyah (egois), Syuhh (kikir), dan lain sebagainya.

 

Semua penyakit hati tersebut dapat merusak pahala amalan-amalan yang kita perbuat. Karena itu, beliau menganjurkan bagi siapapun yang merasakan indikasi penyakit-penyakit hati seperti dijelaskan di atas agar segera beristighfar. Bersikap mawas diri, tidak lengah dengan amalan yang diperbuat, tapi selalu waspada terhadap amalan tersebut serta memastikan bahwa semuanya sudah didasari atas keikhlasan. Terutama di bulan Ramadhan yang mulia, diharapkan bahwa dengan berpuasa mampu menjadi titik tolak untuk membersihkan diri dari penyakit hati tersebut, dan menjadikan diri ini sebagai pribadi yang selalu ikhlas dalam segala perbuatan dan amal saleh.zahrulmuhsinin

 

Disarikan dari Kajian Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz H. Imam Shobari, S.Ag. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Related Articles:

Kuliah Shubuh: Takwa dan Hawa Nafsu

Kuliah Shubuh: Bimbingan Jiwa, Santapan Otak, serta Tuntunan Akhlak dan Budi

MENGUAK SUMBER ENERJI KIAI SYUKRI SECARA KECERDASAN HATI

Kuliah Shubuh: Takwa dan Hawa Nafsu

0

Ahad, 2 Ramadhan 1443/3 April 2022, di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diadakan kuliah shubuh. Pemateri untuk kuliah shubuh kali ini adalah Al-Ustadz Farid Sulistyo, Lc. setelah sebelumnya diisi oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal.

Pada shubuh kali ini, beliau menyampaikan perihal takwa dan hawa nafsu. Seandainya kehidupan ini diibaratkan pertandingan futsal(كرة الصالات), maka kemungkinan yang akan terjadi adalah adanya pihak yang menang dan kalah atau bahkan seri(draw/التعادل). Di bulan puasa Ramadhan ini, pihak yang bertanding adalah takwa dan hawa nafsu.

Sebagaimana yang kita ketahui, puasa(الصوم) secara bahasa memiliki arti menahan(الإمساك), atau lebih jelasnya menahan diri dari makan dan minum serta segala hal yang dapat membatalkan puasa, singkatnya menahan hawa nafsu. Oleh sebab itu, di bulan Ramadhan ini seorang muslim dibiasakan untuk berpuasa atau menahan diri dari hawa nafsu selama sebulan penuh.

Jika bulan Ramadhan ini diibaratkan sebagai lembaga pendidikan, di dalamnya terdapat kurikulum(ibadah) wajib dan juga sunnah. Nantinya, lembaga pendidikan bulan Ramadhan atau Madrasah Ramadhan ini akan meluluskan siswa-siswanya dan mendapat gelar dari madrasah itu. Apa gelarnya? Gelarnya adalah MTQ, apa itu MTQ? Diambil dari kata “Muttaqiin” atau orang-orang yang bertakwa.

Di dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan puasa Ramadhan itu “لعلّكم تتّقون, tujuan akhirnya adalah mudah-mudahan dapat menjadi orang yang bertakwa. Masih dikatakan “mudah-mudahan” karena ia bukanlah jaminan. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang berpuasa itu pasti berbeda kualitasnya. Berbeda-beda dikarenakan ada unsur hawa nafsu yang dapat memprovokasinya agar berbuat yang enak. Sehingga jika ingin puasa ini menjadi berkualitas, maka seseorang yang berpuasa harus tahu tujuan(goal) dari puasa tersebut yaitu ketakwaan.

Takwa berasal dari kata وَقَى-يَقِي   yang artinya mencegah. Puasa tidak hanya sekedar mencegah dari makan dan minum, tapi lebih dari itu yaitu puasa mata, puasa telinga, bahkan puasa jiwa. Maksudnya adalah selama bulan suci Ramadhan ini, bukan hanya nafsu makan dan nafsu minum yang ditahan, melainkan hawa nafsu yang akan terwujud lewat mata dan telinga juga ditahan. Apa yang akan dilihat dan apa yang akan didengar tergantung pada diri masing-masing, apakah seseorang akan menuruti hawa nafsu atau menahannya sebagai perwujudan dari ketakwaan.

Terakhir, beliau mengajak kita semua agar menjadikan puasa di bulan Ramadhan ini sebagai wadah penggemblengan diri, sehingga dapat meraih ketakwaan. Dengan takwa, puasa dapat menjadi lebih berkualitas dan menjadikan kita kuat dalam menahan hawa nafsu. Sehingga, jika kembali pada pengibaratan tersebut di atas, bahwa kehidupan ini adalah pertandingan futsal, kemudian di bulan Ramadhan ini takwa dan hawa nafsu sebagai pihak yang bertanding, maka yang keluar sebagai pemenang adalah takwa. Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh Al-Ustadz Farid Sulistyo, Lc. di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor.

 

Related Articles:

Kuliah Shubuh: Bimbingan Jiwa, Santapan Otak, serta Tuntunan Akhlak dan Budi

Kuliah Shubuh: Maknailah Kehidupan Untuk Perubahan!

Kuliah Shubuh: Meraih Gelar Taqwa di Bulan Ramadhan

Kuliah Shubuh: Bimbingan Jiwa, Santapan Otak, serta Tuntunan Akhlak dan Budi

0

Sabtu, 1 Ramadhan 1443 H/2 April 2022 M, tepat seusai shalat shubuh di Masjid Jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor diadakan kuliah shubuh. Kuliah shubuh yang pertama kali di bulan Ramadhan tahun ini dibuka dan diisi oleh Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal.

Di awal mula pondok ini berdiri yaitu pada tahun 1926, kuliah shubuh telah dilaksanakan dan masih berjalan hingga saat ini. Bedanya, dahulu di masa Trimurti pendiri pondok masih aktif, kuliah ini diisi oleh K.H. Ahmad Sahal selama sebulan penuh. Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, penyampaian kuliah setelah shalat shubuh ini mulai dibagi atau disusun jadwalnya; sebagian diisi oleh K.H. Ahmad Sahal, sebagian lagi diisi oleh anak-anak muda atau santri yang telah dewasa ketika itu. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam kuliah shubuhnya di pagi awal ramadhan ini.

Beliau menambahkan juga, sejarah adanya kuliah shubuh dengan ditentukan jadwalnya adalah sebagai penekanan bahwa tidak ada hubungan antara imam masjid(pemateri kuliah) dengan pimpinan pondok. Maksudnya tidak dibenarkan orang yang berpikiran kalau pemateri dalam kuliah itu harus dari pimpinan pondok atau orang yang menjadi pemateri dalam kuliah shubuh pasti akan menjadi pimpinan pondok.

Adanya penentuan jadwal ini, dimaksudkan sebagai pemberian wadah atau kesempatan bagi santri-santri yang berpotensial atau yang telah menjadi sarjana, dsb. Sehingga mereka akan terbiasa dan siap untuk di kemudian hari dapat mengisi di manapun mereka berada. Sampai-sampai, dahulu ada orang yang berkata, “kalau ingin melihat PMDG, datanglah ketika bulan Ramadhan”. Kenapa seperti itu? Karena di sini tidak hanya otak yang diisi dengan ilmu, namun jiwa dan budi juga dibimbing dan dituntun sehingga menjadikan para santri Gontor siap untuk mengemban amanah sebagai mundzirul qoum.

Kuliah shubuh adalah bimbingan jiwa, santapan otak, serta tuntunan akhlak dan budi”

Dikutip dari perkataan K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam kuliah shubuh pada 1 Ramadhan 1443 di Masjid Jami’

Di akhir kata, beliau menguraikan sedikit mengenai Q.S. Al-Baqarah: 183 yang artinya:

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Yang dimaksud orang-orang sebelum kamu di sini adalah orang-orang sebelum islam, yaitu orang Yahudi, Nasrani, dll. Mungkin muncul pertanyaan, “berarti orang-orang selain islam juga berpuasa, lalu apa bedanya kita dengan mereka?”. Di akhir ayat dijelaskan “agar kamu bertakwa”, dari sini terjawablah bahwa yang membedakan puasa kita dengan mereka adalah ketakwaan. Kita berpuasa untuk meraih takwa dan juga meraih ridho-Nya. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menyeru kita di awal ayat dengan kalimat “Wahai orang-orang yang beriman!”. Iman di sini adalah amanah dan amanah itu adalah penghargaan dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Untuk itu semoga kita bisa mengemban amanah dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ini dengan baik dan diridhoi oleh-Nya. Aamiiin Abdurrahman

Disarikan dari Kuliah Shubuh yang diisi oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal di Masjid Jami’ PMDG

 

Related Articles:

Kuliah Shubuh: Mari Tingkatkan Ketaqwaan Di Bulan Ramadhan

Kuliah Shubuh: Hikmah Dari Kepongpong Ramadhan

Kuliah Shubuh: Perbarui Iman Kalian!

Gontor Voice Kolaborasi dengan Lima Vokalis Nasional Hadirkan Pesan Kemanusiaan

0

PONOROGO – Gontor melalui kanal YouTube Gontor TV merilis video klip kolaborasi Gontor Voice dengan 5 orang vokalis ternama Indonesia; Ifan Seventeen, Ifan Govinda, Umaru Takaeda, Natta Reza, dan Rizal Armada, sepekan menjelang bulan suci Ramadhan (23/3/2022) untuk menghadirkan kembali pesan dari lagu Kembalilah kepada masyarakat luas.

Video tersebut merupakan video klip ketiga lagu “Kembalilah”. Sebelumnya, Gontor Voice merilis video klip pertama pada April 2020, dan video klip kedua (berbahasa Arab) pada Mei 2020.

Lagu karya K.H. Hasan Abdullah Sahal ini membawa pesan kemanusiaan untuk mengajak para pendengar agar kembali kepada Sang Pencipta, kembali kepada jalan yang benar, sesuai dengan tuntunanNya, serta menjauhi perbuatan yang merusak diri, masyarakat, dan alam. Karena segala cobaan dan musibah yang terjadi di dunia tidak lain dan tidak bukan merupakan ujian dari Sang Pencipta.

Proses produksi video klip ini dimulai sejak pertengahan 2021. Syuting untuk Ifan Seventeen, Takaeda, dan Rizal Armada berlokasi di Gontor, adapun Ifan Govinda dan Natta Reza, berlokasi di Jakarta.

Sedikit cerita mengenai video klip ini, kolaborasi ini didasari oleh keinginan para vokalis tersebut untuk memperluas pesan kemanusiaan yang terdapat pada lagu Kembalilah. Hal ini lalu didukung oleh Al-Ustadz Luqmanulhakim, alumni Gontor yang kini mengasuh Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamin, Pontianak.

Mereka tiba di Gontor pada Ramadhan 2021 untuk bersilaturahim kepada Pimpinan Gontor, bertepatan dengan acara Pembekalan Intensif Siswa Akhir KMI. Saat itu, Al-Ustadz Luqmanulhakim mendapat amanah sebagai pembicara di pagi harinya. Sore harinya, proses syuting dimulai dengan lokasi tangga masjid Gontor.

Malamnya, ketiga vokalis sempat diminta untuk turut berbagi pengalaman menyampaikan pesan dengan seni dalam sesi pembekalan kelas 6 dengan tema berdakwah dengan multimedia yang disampaikan oleh Ust M. Taufiq Affandi. Setelah acara tersebut, syuting dilanjutkan di dalam BPPM, di depan Masjid, serta di Aula Rabithah.

“Syuting berlangsung hingga jam 3 pagi. Langsung disambung dengan sahur,” kenang Ustadz Riza Ashari, salah satu produser lagu ini.

Harapannya, Gontor dapat terus berdakwah melalui karya-karyanya, dan pesannya dapat sampai ke masyarakat. Sehingga doa Trimurti pendiri Gontor kepada santri-santrinya agar menjadi mundzirul qoum dapat terlaksana dengan penuh totalitas dan kualitas. Aamiiin.

 

 

Lirik lagu Kembalilah:

Berlimpah sungguh nikmat yang kita terima
Semua terhampar indah Tak satupun cela
Langit curahkan rahmatnya lautpun mutiara
Dunia teramat lezat seakan di surga…

Kembalilah wahai manusia… Tundukkan wajahmu pada yang Maha Kuasa

*
Namun sungguh malang, manusia merasa menang
Lupa akan kuasa Allah, kufuri nikmat-Nya
Semua kini penuh duri, terpasung nan perih
Itulah murkanya Allah, Sungguh keras azab-Nya…

Reff: Kembalilah wahai manusia…
Tundukkan wajahmu pada yang Maha Kuasa
Tengadahkan tanganmu dan mulailah berdoa
Niscaya nikmat-Nya selalu kan turun selamanya

Back to *
Brigde:
Malulah insan dengan dosa-dosa
Semua larangan yang tlah kau perbuat
Bila kita tak jua segera insaf
Bencana terbesar tiba….

Back to Reff

 

 

Related Articles:

Renungi Penyebab dan Solusi Corona, Kiai Gontor tulis lagu “Kembalilah”

Kiai Gontor Rilis Lagu Baru; ‘Akankah Dunia Rela’

Lagu dan Musik dari Kiai Gontor

Ujian Usai, Santriwati Sujud Syukur Bersama

0

KARANGBANYU – Sabtu (19/3), rentetan ujian semester telah usai. Hal ini tentunya memberikan suasana gembira kepada seluruh warga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putri Kampus 3. Untuk mengekspresikan suasana kegembiraan, Gontor mengajarkan cara terbaik kepada segenap santriwatinya, yaitu dengan sujud syukur.  

Setelah lonceng tanda berakhirnya ujian dibunyikan, para santriwati bergegas menuju rayon masing-masing. Dengan dikawal oleh para pengurus rayon, mereka melaksanakan sujud syukur bersama.

Sekitar pukul 09.15, para santriwati dan guru kemudian berkumpul di auditorium. Pagi itu, usai sujud syukur bersama, panitia ujian menggelar acara Haflah Tasyakur. Disana mereka menyimak nasihat dari Bapak Wakil Pengasuh PMDG Putri Kampus 3 tentang makna bersyukur, bagaimana bersyukur, fadhilah bersyukur, dan sebaginya.