Home Blog Page 145

Kemeriahan Expo OPPM dan KGP

0

KARANGBANYU – Jum’at (3/9), Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dan Koordinator Gerakan Pramuka (KGP) menggelar Expo OPPM & KGP. Kegiatan ini dilaksanakan di depan auditorium. Masing-masing bagian, baik di OPPM maupun KGP, mendapatkan jatah stand untuk memamerkan/memperkenalkan kondisi dan suasana di bagiannya.

Bapak Wakil Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 3, Al-Ustadz Dr. H. M. Badrun Syahir, M.A. membuka acara dengan memberi beberapa nasihat dan arahan. Acara dilanjutkan dengan penampilan-penampilan dari klub binaan OPPM dan KGP. Lalu, Bapak Wakil Pengasuh dengan ditemani beberapa asatidz senior dan staf pengasuhan melakukan inspeksi ke seluruh stand pameran.

Inspeksi stand OPPM dan KGP oleh Al-Ustadz Muhammad Badrun Syahir, M.A.

Tiap stand memiliki karakteristik tersendiri. Masing-masing bagian memamerkan barang-barang khasnya. Seperti halnya bagian fotografi, mereka menyiapkan beberapa spot foto, sehingga bagi yang berminat bisa meminta untuk diambil gambarnya. Stand yang paling ramai dikunjungi para santriwati adalah stand kantin, kopel, dan kesehatan. Karena mereka mengadakan bazar, tentunya dengan harga yang lebih miring. RizkiAp

Tingkatkan Kompetensi Mahasiswi Guru, DEMA Kawal Ujian Tahfidz

0

KARANGBANYU – Selain mengajar, para guru di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) juga mendapatkan tugas untuk belajar di bangku perkuliahan. Oleh karenanya, mereka dijuluki mahasiswa-i guru. Salah satu program Universitas Darusssalam (UNIDA) untuk peningkatan kualitas dan kompetensi mahasiswa-i guru adalah ujian tahfidz.

Jum’at sore (3/9), sebanyak 275 mahasiswi guru PMDG Putri Kampus 3 diuji kualitas hafalannya. Kegiatan yang dikoordinir oleh Dewan Mahasiswa (Dema) ini bertempat di gedung Al-Azhar. Sebanyak 34 orang wisudawati UNIDA ditugaskan untuk menguji hafalan mereka. Bagi peserta yang belum lulus ujian tahfidz, diwajibkan baginya untuk mengulang hafalan kepada pengujinya. Berikut adalah materi ujian tahfidz;

Semester 1     : Al-Mulk hingga Nuh

Semester 3     : Al-Fatihah hingga Al-Baqarah ayat 76

Semester 5     : Al-Baqarah 142-202

Semester 7     : Al-Baqarah 325 hingga Ali Imran 15

Farouq_DEMA

Scout Party Perkuat Ukhuwah Santriwati

0

KARANGBANYU – Jumlah santriwati yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putri Kampus 3 adalah sekitar 2900-an anak. Mereka datang dari berbagai suku, daerah, dan latar belakang kehidupan. Untuk mempererat ukhuwah di antara mereka, PMDG Putri Kampus 3 mengadakan banyak kegiatan. Scout Party salah satunya.


Scout Party adalah kegiatan perlombaan kepramukaan antargugus depan. Dengan dipanitiai oleh Koordinator Gerakan Pramuka (KGP)dan Majelis Pembimbing Koordinator Harian (Mabikori), acara ini digelar selama 3 hari. Terhitung sejak hari Selasa(31/8) hingga Kamis (2/9).


Kamis menjadi puncak perlombaan, yaitu lomba membuat pionering besar dan lomba membuat yel-yel kepramukaan. Acara ini berjalan dengan lancar tanpa ada kendala berarti. Tiap adika peserta lomba mengikuti perlombaan dengan sportif dan semangat. Pengumuman pemenang nantinya akan dibacakan saat acara penutupan kegiatan pramuka. L.Rafika.R

Ojo Adigang, Adigung, Adiguna

0

Di dalam bahasa Jawa terdapat istilah Adigang, Adigung, dan Adiguna. Menurut filosofi Jawa, orang tidak boleh memiliki ketiga sifat tersebut. Adigang dari segi bahasa berarti orang yang memiliki kelebihan kekuatan dan kekuasaan; memegang satu kendali yang ada di masyarakat. Orang tidak boleh membanggakan kekuatannya dan kekuasannya. Adapun Adigung adalah orang yang membanggakan harta, keturunan, dan keagungan lainnya. Sedangkan Adiguna adalah orang yang membanggakan kecerdasan, kemampuan, serta kepintarannya.

Memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain; baik dalam kekuasaan, harta, ataupun ilmu, tidak berarti bahwa kita boleh membanggakannya. Karena kelebihan yang kita miliki bukan untuk disombongkan ataupun dibangga-banggakan, karena kelebihan tersebut merupakan pinjaman dari Allah SWT dan akan diminta pertanggungjawabannya ketika di akhirat nanti.

Maka dari itu, di saat kita memiliki kekuasaan atau memegang salah satu kendali masyarakat, kita tidak boleh merasa lebih tinggi daripada orang lain sehingga kita menindas mereka. Sebaliknya, kita harus bersikap adil dan bijaksana. Begitupun ketika memiliki kelebihan harta, kemuliaan pada keturunan, atau bahkan kepintaran dan kemampuan; semua itu dapat dijadikan sarana bersyukur dan dimanfaatkan untuk membantu sesama makhluk.

Kelebihan-kelebihan tersebut juga dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk terus mawas diri. Jangan sampai kelebihan yang ada disalahgunakan dengan tidak bijak. Sebaliknya; dengan menjadikan semua itu sebagai ajang untuk introspeksi diri, maka kita tidak akan mudah-mudah menyalahkan orang lain dan dapat selalu ber-muhasabah.

 

Disarikan oleh Husain Zahrul Muhsinin dari pidato Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., dalam pertemuan kemisan pada tanggal 17 Muharram 1443 / 26 Agustus 2021.

 Editor: Tim Humas Gontor (Al-Ustadz Dr. M. Adib Fuadi Nuriz, M.A., M.Phil., Al-Ustadz Riza Ashari, M.Pd.I., dan Al-Ustadz M. Taufiq Affandi, M.Sc.)

 

Mengetahui,

Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Pimpinan PMDG

 

Related Articles :

Makan Untuk Hidup, Atau Hidup Untuk Makan?

Leuwih Becik Mikul Dawet Rengeng-rengeng Tinimbang Numpak Sedan Mbrebes Mili

 

Pembukaan Fathu-l-Kutub: Kemampuan Bahasa Santriwati Berperan Penting!

0

RIMBO PANJANG – Pembukaan Fathu-l-kutub dibuka secara resmi pada hari sabtu (28/08/21) melalui zoom meeting oleh Al-Ustadz K.H Masyhudi Subari, M.A di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) yang diikuti oleh PMDG Putra Kampus 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan juga PMDG Putri Kampus 1, 2, 3, 5, dan 7.

Fathu-l-Kutub adalah acara wajib tahunan santri dan santriwati kelas 6 KMI yang diadakan untuk menguji dan mengasah kemampuan berbahasa mereka dalam membaca, menulis, dan berdiskusi setiap materi di kutub turath (buku kuning), ujar Al-Ustadz K.H. Masyhudi Subari, M.A. dalam sambutannya ketika pembukaan acara fathu-l-kutub.

Selama 5 hari kedepan, dimulai dari hari sabtu (28/08/21) sampai hari rabu (01/09/21). Acara ini akan dilaksanakan dengan kegiatan membaca, menulis dan berdisikusi seputar materi tafsir, fiqh, tauhid, dan hadist. Kelas 6 secara langsung dibimbing oleh ustazah pembimbing sebelum dan ketika berdiskusi.

Santriwati kelas 6 PMDG Putri 7 berjumlah 138 orang diharuskan aktif dalam kegiatan tersebut untuk memperbanyak wawasan keislaman, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan ketertarikan untuk selalu membaca, menulis dan berdiskusi. Tegar

Jumlah Santri Bertumbuh, Fasilitas Asrama Bertambah

0

KARANGBANYU – Jumlah santriwati yang kian bertambah, membuat Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putri Kampus 3 harus menambah fasilitas gedung asrama. Tentunya, demi mendukung jalannya disiplin dan proses pendidikan, peningkatan sarana dan prasana pendidikan, baik kualitas maupun kuantitas sangat perlu dilakukan.

Difungsikan sebagai asrama sejak tahun 2009, Gedung Aligarh sudah mengalami beberapa kali tambal sulam. Tak ayal, Pimpinan PMDG memilih gedung ini untuk dipugar menjadi gedung asrama berlantai dua.

Suasana doa bersama sebelum peruntuhan bangunan

Senin (30/8), pembongkaran Gedung Aligarh dimulai. Diawali dengan doa bersama yang dihadiri oleh segenap guru senior, staf Pembangunan, dan karyawan. Sebelumnya, gedung ini sudah dikosongkan dan seluruh penghuninya telah disebar ke berbagai rayon pada Jum’at (27/8).

Dari anggaran yang disusun, pemugaran gedung ini menelan biaya sekitar 4,5 M. Dengan estimasi pengerjaan delapan bulan. Nantinya, gedung ini tetap difungsikan sebagai asrama dengan 10 ruang di setiap lantainya. dyah.wonggo

Tampak pelepasan atap Gedung Aligarh dari atas

Leuwih Becik Mikul Dawet Rengeng-rengeng Tinimbang Numpak Sedan Mbrebes Mili

0

Sejak sebelum kemerdekaan, orang-orang desa banyak yang berprofesi sebagai penjual dawet. Mereka membawanya dengan memikulnya di atas punggung, sembari berkeliling untuk mencari pelanggan yang ingin membeli. Profesi ini dikenal juga dengan mikul dawet. Mereka yang mikul dawet biasanya akan menghampiri tempat-tempat yang ramai oleh orang bekerja; contohnya seperti di sawah. Terutama ketika musim panen, para petani yang lelah kehausan setelah bekerja di bawah terik matahari akan sangat gembira ketika bisa menyantap dawet yang segar. Sebagai gantinya, para petani akan memberikan satu ikat padi kepada si penjual dawet.

Menjajakan dawet dengan memikulnya ke mana-mana tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Punggungnya harus menahan beban yang cukup berat sepanjang hari. Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagi para penjual dawet. Mereka tetap menjalaninya dengan riang; menyusuri pelosok desa untuk berjualan sambil rengeng-rengeng atau bernyanyi-nyanyi kecil. Senandung nyanyian tersebut menunjukkan bahwa mereka berbahagia, tidak sedih ataupun murung.

Di sisi lain, banyak orang lain yang kelihatannya bernasib lebih baik daripada mereka yang mikul dawet. Contohnya saja seperti mereka yang numpak sedan. Pada zaman itu, sedan bisa dibilang sebagai salah satu kendaraan terbaik. Yang menaikinya pun tidak sembarang orang; yaitu mereka yang notabenenya memiliki harta lebih.

Meski begitu, bisa menaiki sedan belum tentu berarti bahwa seseorang akan merasa bahagia. Karena nyatanya tidak sedikit mereka yang numpak sedan itu tampak mbrebes mili atau menangis; mungkin karena ditagih hutang, atau cicilan yang belum lunas, dan seterusnya. Hal-hal tersebut tentunya akan menghalangi seseorang dari merasakan kebahagiaan.

Pada akhirnya, tidak semua yang tampak menyenangkan itu mendatangkan kebahagiaan. Karena sejatinya, kebahagiaan dapat kita temukan dengan menikmati apapun keadaan hidup kita, sekalipun itu dinilai “sengsara”. Bisa jadi keadaan yang menurut kita menyenangkan, sejatinya mengakibatkan keadaan yang lebih sengsara daripada yang sedang kita alami. Filosofinya adalah supaya kita bisa menikmati hidup ini dengan berbagai macam cara, karena dengan menikmati tersebut akan mengantarkan kita kepada kesyukuran atas semua pemberian Allah SWT.

 

Disarikan oleh Husain Zahrul Muhsinin dari pidato Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., dalam pertemuan kemisan pada tanggal 10 Muharram 1443 / 19 Agustus 2021.

 Telah diperiksa oleh Humas Gontor (Al-Ustadz Dr. M. Adib Fuadi Nuriz, M.A., M.Phil., Al-Ustadz Riza Ashari, M.Pd.I., dan Al-Ustadz M. Taufiq Affandi, M.Sc.)

 

Mengetahui,

 Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Pimpinan PMDG

 

Related Articles :

Makan Untuk Hidup, Atau Hidup Untuk Makan?

Kesederhanaan Ala Gontor

Jiwa Kebebasan Pondok Pesantren

Tak Cukup Teori, KMI Adakan Praktik Manasik Haji

0

KARANGBANYU – Secara teknis, pelaksanaan ibadah haji terbilang sulit bila dibandingkan dengan rukun-rukun Islam lainnya. Pengajarannya yang hanya di kelas saja dianggap tidak cukup. Namun perlu praktik di lapangan. Menimbang hal tersebut, KMI mengadakan kegiatan manasik haji bagi santriwati kelas 1 intensif.

Di bawah arahan langsung Bapak Wakil Pengasuh dan Bapak Wakil Direktur KMI, sebanyak 6 orang pengampu materi Fiqh dikumpulkan di aula mini. Tak tanggung-tanggung, selama 3 hari (23-25/8) mereka diberi pelatihan dan orientasi pelaksanaan manasik haji.

Praktek wukuf di Padang Arafah

Praktik manasik haji dilaksanakan selama 4 hari. Terhitung sejak Sabtu (28/8) hingga Selasa (31/8). Oleh panitia, sebanyak 6 kelas di angkatan kelas 1 intensif terbagi dalam 2 kloter. Kloter pertama terdiri dari kelas 1 intensif B, E, dan G. Sedangkan kloter kedua, terdiri dari kelas 1 intensif C, D, dan F. Malam hari sebelum melaksanakan praktik haji, panitia memperlihatkan video praktik manasik haji. Sehingga para peserta mendapatkan gambaran teknis mengenai praktik manasik haji yang akan mereka laksanakan keesokan harinya. Farouq_KMI

I’DAADU-T-TADRIS : PUSAKA SEORANG PENDIDIK SEJATI

0

Mengajar itu belajar, belajar itu salah satunya dengan cara mengajar, belajar mengajar,

خير التعلّم التعليم

 

Dengan mengajar, seorang guru akan terdorong untuk bisa memahami materi yang akan diajarkannya kepada santri-santri. Tanpa disadari, guru pun juga ikut belajar karena ia akan berusaha terus sampai benar-benar menguasai materi tersebut, apabila seorang guru tidak menguasai materi yang diajarkannya maka bisa dikatakan pribadi guru tersebut tidak sempurna atau dalam konteks kasarnya cacat. Dengan mengajar pula, seorang guru belajar untuk bisa membuat santri-santrinya menjadi master dalam pelajaran yang akan diajarkannya itu.

 

Mengajar itu mencari, memperdalam, dan memperekat ilmu. Ilmu dicari, tidak datang sendiri

    هل يستوي الذين يعلّمون والذين لا يعلّمون ؟

 

Begitulah kata yang dikutip dari pidato Drs. K. H. Akrim Mariyat, Dipl. A. Ed. salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang menjelaskan tentang pentingnya mengajar.

Dalam konteks “belajar mengajar” ini, seorang guru harus memiliki banyak persiapan, jikalau seorang santri dalam kegiatan belajarnya memerlukan persiapan layaknya buku materi, buku tulis, alat tulis, dll. Maka seorang guru pun memiliki hal yang harus dipersiapkan dalam kegiatan mengajarnya, yaitu yang terpenting adalah Persiapan Mengajar atau I’daadu-T-Tadris.

 

I’daadu-T-Tadris ini adalah power bahkan nyawa antum dalam mengajar, karena tanpanya guru bagaikan jasad yang tidak ada ruhnya.”

 

Dikutip dari perkataan Al-Ustadz Saepul Anwar, Guru Senior PMDG.

 

Di dalam I’daadu-T-Tadris itu para guru menuangkan apa yang ada di pikirannya, apa yang akan diajarkannya, bahkan apa saja yang akan dilakukannya di dalam kelas selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung.

فاقد الشيء لايعطي

Yang tidak punya apa-apa, tidak akan bisa memberi”.

 

Dengan pertimbangan seorang guru sebagai pemegang peran yang penting dalam kehidupan seorang santri, yaitu sebagai pendidik nomor 2 setelah orang tua mereka dan juga segala sesuatu akan lebih baik dengan adanya persiapan khusus untuk menghadapinya, oleh karena itu kepada seluruh guru di bangsa ini, bahkan dunia ini marilah kita bersama-sama mendidik umat, menjadi mundzirul qoum dengan memiliki persiapan yang prima, memiliki pusaka yang baik sebagai bekal dalam mewujudkan generasi penerus bangsa yang lebih baik di masa yang akan datang nanti. Amiiin

 

Oleh : Abdurrahman

Editor : Al-Ustadz M. Taufiq Affandi, M. Sc.

 

Related Articles :

Keteladanan Seorang Guru

Kulliyatu-l-Muallimin Al-Islamiyah (KMI) Cetak Guru Gontor yang Unggul dan Berkualitas dengan Al-Tarbiyah Al-Amaliyah

Pendidikan Kemasyarakatan, Ajaran Khas Pesantren

Makan Untuk Hidup, Atau Hidup Untuk Makan?

0

Makan merupakan salah satu aktivitas yang penting dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia. Ketika melahap makanan, tubuh mendapatkan asupan gizi, nutrisi, dan zat-zat lainnya yang berguna untuk menjaganya tetap hidup serta mampu melakukan aktivitas. Tanpa asupan tersebut, tubuh bisa mengalami malnutrisi, kekurangan gizi, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Namun di balik pentingnya melahap makanan demi menyambung hidup, timbul pertanyaan yang menyoal perkara tersebut, “Hidup untuk makan, atau makan untuk hidup?”

Bila kita beranggapan bahwa “hidup untuk makan”, itu menandakan bahwa kita menganggap aktivitas makan adalah alasan paling utama bagi kita untuk hidup. Hidup kita tidak pernah tidak makan; yang dikerjakan dan diketahui hanyalah makan dan makan saja. Anggapan ini tentu tidak sepatutnya menjadi landasan kita dalam menjalani kehidupan.

Sebaliknya, anggapan yang seharusnya kita tanamkan adalah bahwa “makan untuk hidup”. Kita makan supaya kita bisa tetap hidup, karena tentunya tujuan kita diciptakan tidak untuk dibiarkan sia-sia. Hidup kita pastilah memiliki alasan dan tujuan, sehingga tidak dibenarkan bagi kita untuk menyia-nyiakannya.

Selain itu, makan tentu saja untuk dinikmati. Sekecil dan semurah apapun yang kita makan, makanan tersebut harus kita nikmati dengan sebaik-baiknya. Walaupun hanya tempe goreng. Karena dengan menikmati makanan tersebut, kita menghidupkan hubungan kita dengan Allah SWT. Kita ingat kepada-Nya; bahwa segala yang kita miliki di dunia ini merupakan pemberian Allah SWT kepada kita, termasuk makanan. Sehingga dengan demikian, menikmati makanan menjadi sarana bagi kita untuk bersyukur atas nikmat-Nya.

Walaupun pemberian yang kita dapatkan itu kecil dan tidak seberapa, tapi tetap harus kita nikmati dan syukuri. Jangan sampai kita menghina makanan; meskipun itu harganya rendah. Karena menghina makanan juga berarti menghina Sang Pemberi Makanan, yang mengatur bahkan menjamin rezeki bagi seluruh makhluk yang hidup di dunia ini; Allah SWT. Nikmatilah makanan, semurah dan sesederhana apapun, sehingga menjadi sarana kita untuk bersyukur.

 

Disarikan oleh Husain Zahrul Muhsinin dari pidato Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., dalam pertemuan kemisan pada tanggal 10 Muharram 1443 / 19 Agustus 2021.

 

Telah diperiksa oleh Humas Gontor (Al-Ustadz Dr. M. Adib Fuadi Nuriz, M.A., M.Phil., Al-Ustadz Riza Ashari, M.Pd.I., dan Al-Ustadz M. Taufiq Affandi, M.Sc.)

 

Mengetahui,

Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Pimpinan PMDG

 

Related Articles :

Fathul Kutub 1442. Kiai Hasan: “Kebutuhan Membaca Sama Seperti Kebutuhan Makan dan Minum”

KH. Hasan Abdullah Sahal: Rasul Saja Masih Diingatkan Untuk Mengkonsumsi Makanan Yang Halal

Samakan Langkah, Pengasuhan Santri Adakan Kumpul Koordinasi bagi Koordinator Sektor-sektor yang ada di PM. Gontor