GONTOR – Tim El-Qowwam resmi dilantik sebagai perwakilan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus Pusat untuk ajang Gontor Language Championship (GLC). Pelantikan berlangsung di Masjid Jami’, Rabu (1/10), dipimpin oleh Wakil Direktur Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.
Acara ini dihadiri pembimbing pengasuhan santri, Wakil Direktur KMI, serta seluruh santri PMDG. Dalam sambutannya, Ustadz Suharto menegaskan bahwa kehidupan di pondok merupakan pendidikan bagi para santri.
“Setiap pendidikan shalihah di pondok ini adalah pendidikan. Life is education, manhajuna manhaju hayyah. Mereka dilantik untuk pondok, bukan untuk diri sendiri, dan akan terdidik melalui pengalaman kehidupan yang mereka rasakan,” ujar beliau.
Tim El-Qowwam telah melalui proses seleksi ketat dengan mempertimbangkan kemampuan bahasa, kesiapan mental, serta pengalaman lomba. Anggotanya terdiri atas kombinasi santri junior dan senior yang siap mengharumkan nama pondok di ajang GLC.
Pelantikan ditutup dengan doa bersama sebagai simbol kesiapan dan tekad memberikan yang terbaik. Para anggota tim bertekad membawa nama baik PMDG Pusat dan mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional.
GONTOR – Senin (29/9) malam, Olimpiade 100 Tahun Gontor, kompetisi olahraga antarpesantren tingkat nasional resmi ditutup dalam sebuah seremoni khidmat di depan Gedung Laboratorium Sains PMDG Kampus Pusat, Ponorogo.
Setelah berlangsung selama sepekan, malam penutupan dipadati ribuan penonton, mulai dari peserta kontingen, santri, hingga dewan guru. Kehadiran jajaran Pimpinan PMDG dan Ketua Umum Panitia 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi M.A.Ed., M.Phil., bersama Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, M.Ec., semakin menambah istimewa acara tersebut.
Tepat pukul 20.00 WIB, seremoni dimulai. Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh kegiatan di pondok, termasuk olimpiade olahraga, merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan.
“Cognitive flexibility itu penting. Orang harus bisa fleksibel, di manapun dia berada, dia bisa,” ujar beliau. Ia menutup sambutan dengan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh kontingen yang telah memeriahkan rangkaian peringatan 100 Tahun Gontor.
Pimpinan PMDG, Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., melanjutkan sambutan dengan menekankan pentingnya menjaga kesehatan jasmani. “Kesehatan jiwa dan fisik saling memengaruhi. Orang yang sehat, jika suatu waktu jiwanya sakit, badannya pun ikut sakit,” katanya.
Suasana kian semarak saat aftermovie rangkaian acara selama sepekan diputar, disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.
Agenda penganugerahan juara menjadi puncak malam penutupan. Beberapa pemenang diumumkan: cabang voli diraih PP Riyadlul Ulum Wadda’awah Condong Tasikmalaya; basket dimenangkan PMDG Kampus 4 Darul Muttaqien. PP Riyadlul Ulum kembali berjaya dengan menjuarai Futsal Sighar, disusul PPM Al-Hassan Bekasi yang unggul di Futsal Kibar. Sementara gelar juara sepak bola dibawa pulang oleh PP Dar El-Qolam Banten.
Pembagian hadiah berlangsung meriah dan penuh kebanggaan. Perwakilan kontingen naik ke panggung utama untuk menerima penghargaan, mengukuhkan semangat sportivitas antarpesantren. Sebagai penutup, diputar video kompilasi wawancara yang menampilkan kesan para peserta selama mengikuti olimpiade.
GONTOR – Lapangan Windu menjadi saksi laga final futsal shigor Olimpiade 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang mempertemukan dua tim kuat, Pondok Pesantren Riyadul Ulum melawan Pondok Pesantren Nurul Huda. Dalam partai penentuan tersebut, Riyadul Ulum tampil superior dan merebut gelar juara usai menaklukkan Nurul Huda dengan skor 6-2.
Pertandingan berlangsung sengit sejak menit pertama. Kedua tim bermain cepat dan agresif, menunjukkan kualitas mereka sebagai finalis. Babak pertama berakhir dengan skor 3-2 untuk keunggulan Riyadul Ulum. Meski mendapat tekanan dari Nurul Huda, lini belakang Riyadul Ulum tetap solid menahan gempuran lawan.
Memasuki babak kedua, performa Riyadul Ulum semakin dominan. Dengan stamina terjaga dan koordinasi antarpemain yang baik, mereka menambah tiga gol tanpa balasan. Skor 6-2 menutup laga sekaligus menegaskan dominasi penuh pondok asal Tasikmalaya tersebut.
Kemenangan ini memastikan Riyadul Ulum menyabet gelar juara futsal 100 Tahun Gontor, sementara Nurul Huda harus puas sebagai runner-up.
“Ini buah kerja keras tim. Sejak awal kami menargetkan juara, dan alhamdulillah tercapai,” kata pelatih Riyadul Ulum. Pelatih Nurul Huda pun tetap memberi semangat anak asuhnya. “Kekalahan ini bukan akhir, justru awal pembelajaran untuk ke depan. Kami tetap bangga,” ujarnya.
GONTOR – Tim basket Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 4 menutup laga final basket Olimpiade Olahraga 100 Tahun Gontor dengan kemenangan meyakinkan atas Gontor Kampus 3. Bertanding di Lapangan Al Azhar pada Kamis (29/9), Gontor 4 Darul Muttaqien menang dengan skor 55-33.
Pertandingan berlangsung sengit sejak kuarter pertama. Gontor Kampus 4 tampil agresif dan memimpin jalannya laga. Meski sempat tertinggal, Gontor 3 berusaha mengejar dengan serangan cepat hingga skor mendekat 13-10 sebelum peluit kuarter pertama berbunyi.
Memasuki kuarter kedua, tim asal Kediri tersebut gagal menyamakan kedudukan. Gontor Kampus 4 terus menekan dengan serangan ke arah ring. Aksi dribel kapten tim Farros menjadi sorotan penonton setelah berhasil melewati beberapa pemain lawan. Lawan yang mewakili Banyuwangi itu pun memperlebar jarak menjadi 24-12.
Pada kuarter ketiga dan keempat, Gontor Kampus 3 sempat memangkas selisih skor menjadi kurang dari tujuh poin. Namun dominasi Gontor Kampus 4 kembali terlihat lewat kerja sama tim dan akurasi tembakan yang konsisten. Pertandingan berakhir dengan skor 55-33, mengantarkan mereka sebagai pemuncak podium cabang basket.
Pelatih Gontor Kampus 4 menyampaikan rasa bangga atas penampilan anak asuhnya. “Saya terkesan dengan effort para pemain selama tiga bulan ini,” ujarnya. Kemenangan itu kian mengharumkan nama pondok di ujung Pulau Jawa tersebut pada perhelatan olahraga akbar ini.
GONTOR – Semangat kompetisi futsal dalam rangka Olimpiade 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor kembali memanas pada Senin (29/9). Di babak semifinal kategori shigor, Pondok Pesantren (PP) Nurul Huda berhasil mengukir kemenangan meyakinkan atas PP La Tansa 1 di Lapangan Windu. Sejak menit pertama, pertandingan berlangsung intens dan penuh ketegangan. Nurul Huda langsung menekan pertahanan lawan melalui aksi cepat Afgan yang membuka peluang, disusul gol Zian yang mengguncang arena.
La Tansa 1 sempat memperkecil ketertinggalan lewat eksekusi tendangan bebas Kemal, namun Nurul Huda tampil solid dengan memperkuat lini serang melalui duet Albar dan Afgan. Babak kedua berjalan makin panas. Abi dan Zian membangun serangan lewat operan cepat, sementara La Tansa 1 terus berupaya mengepung pertahanan lawan.
Afgan kembali menjadi aktor penting dengan gol keduanya, memperlebar jarak menjadi 5-1. Meski Paw sempat mencetak gol dramatis bagi La Tansa 1, laga berakhir 6-2 untuk Nurul Huda. Kemenangan ini mengantar tim asuhan Ustadz Yusuf melaju ke final dengan percaya diri.
Sementara itu di laga final kategori kibar, PP. Al Hasan Bekasi tampil sebagai kampiun setelah menaklukkan Nurul Haramain di Lapangan Futsal Darussalam Gontor Stadium. Sejak kick-off pukul 07.00 WIB, kedua tim saling jual beli serangan. Al Hasan unggul melalui gol Mufid dan Syaf. Nurul Haramain memperkecil jarak lewat aksi Lukki di babak kedua, namun Okta memastikan kemenangan Al Hasan 3-1 lewat tendangan ke sudut kiri gawang.
Pelatih Al Hasan, Ustadz Adi, mengapresiasi perjuangan anak asuhnya sekaligus penyelenggaraan olimpiade ini. “Salut dengan Gontor yang mampu mengadakan olimpiade sebesar ini. Semoga 100 tahun berikutnya Gontor semakin maju,” ujarnya. Pertandingan berakhir dengan penyerahan piala dan piagam kepada para pemenang.
GONTOR — Setelah sukses digelar lima hari sebelumnya, Santri Century Show (SCS) kembali menghibur peserta kontingen lomba pada Ahad (28/9). Meski berlangsung di lokasi yang sama dengan gelaran perdana, yaitu di depan Gedung Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), acara kedua ini tetap memancarkan semangat yang tak surut. Sebanyak 16 penampilan kembali menyuguhkan kolaborasi apik antara kreativitas dan karya seni para santri kelas 1 hingga 6.
Di tengah dinamika pondok yang padat, panitia tetap bekerja serius dan maksimal. Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara yang berjalan lancar dan tertata rapi. Persiapan pun dilakukan dalam waktu singkat sejak gelaran pertama. Kreativitas para santri diuji untuk menghadirkan penampilan baru maupun daur ulang penampilan lama dengan kemasan segar.
Penonton tampak antusias menikmati jalannya acara yang dibuka dengan beragam tari daerah, seperti Reog Ponorogo, Kecak, dan Tari Jawara Banten. “Dengan penampilan ini, ada pesan tentang nilai kebersamaan di baliknya,” tutur Fakhir Nurussalam, santri kelas lima yang ikut membawakan Tari Kecak. Suasana turut dimeriahkan penampilan puisi dan aneka tari modern.
Digelarnya kembali Santri Century Show menegaskan bahwa kemeriahan Peringatan 100 Tahun Gontor merupakan buah kreativitas dan gagasan para santri sendiri. Acara ini sekaligus membuktikan bahwa santri bukan hanya pelajar agama semata, melainkan pribadi kreatif yang mampu berkarya di berbagai bidang.
“Kontingen bisa terhibur dan mendapat pengalaman baru dari acara ini. Santri Gontor punya masterpiece dalam bidang seni,” ujar Al-Ustadz Dimas Bagus yang turut menyaksikan jalannya acara malam itu.
GONTOR – Pendekar Banten, julukan tim sepak bola Pesantren Dar El Qolam, akhirnya keluar sebagai juara cabang sepak bola Olimpiade 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor setelah menundukkan PM Manahijussadat dengan skor 2–1 di Darussalam Gontor Stadium, Ahad (28/9).
Pertandingan berlangsung sengit dengan jual beli serangan sejak menit awal. Ustadz Aan Kurnia atau yang akrab disapa Apoy, gitaris grup musik Wali Band, turut hadir di bangku penonton bersama keluarga dan ikut berfoto bersama tim juara usai laga.
Tim Dar El Qolam langsung unggul cepat pada menit pertama melalui tendangan sudut Naufal, pemain bernomor punggung 10 yang dikenal sebagai ancaman serius bagi lawan. Bola sepakannya gagal dijangkau kiper Valenceno. PM Manahijussadat membalas pada menit ke-18 lewat aksi Adrian yang dengan tenang menuntaskan peluang di depan gawang. Skor 1–1 bertahan hingga babak pertama usai.
Paruh kedua tak kalah seru. Kedua tim terus saling melancarkan serangan. Kapten PM Manahijussadat sempat cedera namun tetap melanjutkan pertandingan. Gol penentu kemenangan lahir pada menit ke-66 melalui Dziban yang memanfaatkan miskomunikasi di lini belakang lawan dan menjebol gawang Valenceno. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 2–1 untuk Dar El Qolam tak berubah.
Pelatih PP Dar El Qolam, Islah, mengaku bersyukur atas prestasi anak asuhnya. “Selama kita tidak meremehkan lawan, berlatih keras, dan berdoa, kita tidak akan terkalahkan,” ujarnya.
Sementara itu, Apoy menyebut laga final ini berlangsung menarik. “Jual beli serangan yang intens membuat tempo pertandingan terasa hidup. Harapannya, Gontor menjadi nama yang menampung seluruh pesantren, rumah bagi santri di Indonesia,” tuturnya.
GONTOR – Laga final cabang tenis meja ganda Olimpiade 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) berlangsung penuh gengsi pada Ahad (28/9). Tim ganda PMDG Kampus Pusat berhadapan dengan tim ganda Pondok Pesantren (PP) La-Tansa Banten. Sejak awal, kedua pasangan menampilkan permainan ketat, saling mengejar angka dengan strategi terencana dan serangan balik rapat yang membuat tempo pertandingan naik-turun.
Set pertama dimenangkan tim PMDG Kampus 1 setelah menundukkan perlawanan sengit La-Tansa. Namun pada set kedua, tim La-Tansa bangkit dan memimpin berkat konsistensi di garis belakang dan pukulan andalan mereka. Dukungan sorak-suporter Gontor kemudian membangkitkan mental tuan rumah. Skor imbang 2–2 membuat suasana final makin menegangkan. Pukulan keras silih berganti memaksa penonton menahan napas, sementara sorak-sorai bergemuruh, menambah tensi pertandingan.
Pada gim penentuan, PMDG Kampus Pusat tampil lebih tenang dan mengunci kemenangan dengan skor tipis 3–2. Sorak yel-yel santri mengiringi keberhasilan ini, menegaskan persaudaraan dan sportivitas yang dijunjung tinggi di lingkungan pesantren.
“Untuk menghadapi pertandingan ini, saya mengedepankan ibadah kepada Sang Pencipta alam semesta dan latihan rutin setiap hari,” ujar Hafizh dan Zeva, pasangan pemenang ganda putra PMDG.
Dengan hasil ini, PMDG Kampus 1 resmi menyabet medali emas cabang tenis meja ganda dan menambah pundi prestasi di Olimpiade 100 Tahun Gontor. Momen ini kian berkesan dengan hadirnya Apoy, gitaris grup band Wali, yang ikut menonton dan mendukung jalannya pertandingan.
GONTOR – Pondok Pesantren Dar El Qolam memastikan satu tempat di partai final setelah menyingkirkan PMDG Kampus 4 lewat adu penalti dramatis pada babak semifinal Olimpiade 100 Tahun Gontor. Meski harus bermain dua kali dalam satu hari, tim asal Banten tersebut tetap tampil penuh determinasi. Pelatih mereka, Islah, mengaku optimistis anak asuhnya mampu meraih gelar juara pada ajang tahun ini.
Pertandingan berlangsung ketat sejak awal. Jual beli serangan tersaji apik di lapangan hijau. Gol pertama dicetak Marva yang membawa PMDG Kampus 4 unggul lebih dulu. Namun pada menit ke-42, Yalqa berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan sudut yang dieksekusinya dengan sempurna. Dziban sempat mengancam dari sisi kanan, tetapi sepakannya masih melambung di atas mistar.
PMDG Kampus 4 kembali menusuk. Sepakan Gagah Langit sempat ditepis Azzam, namun bola tetap bersarang di gawang, mengubah skor menjadi 2-1. Tak butuh waktu lama, umpan lambung Ricky kepada Dziban memantul ke arah gawang dan tak mampu diantisipasi kiper Sakti. Skor kembali imbang hingga babak kedua berakhir.
Di paruh kedua, kedua tim tidak mengendurkan serangan. Intensitas tinggi terus berlanjut, tetapi skor tetap bertahan 2-2 sampai peluit panjang. Adu penalti pun digelar. Lima penendang dari masing-masing tim menghasilkan skor sama: 4-4. Pada penentuan, Firas sukses mengeksekusi bola, sedangkan tendangan Fadhil melambung di atas mistar. Pendekar Banten pun melaju ke final.
Suasana haru menyelimuti lapangan. Para pemain Dar El Qolam menangis terharu, sementara PMDG Kampus 4 harus merelakan tiket ke final. Kedua tim tetap saling berjabat tangan dan menghargai perjuangan masing-masing. “Saya selalu menanamkan sportivitas dan kerendahan hati seperti ilmu padi. Kita hebat karena doa dan fokus pada tujuan. Sekali kita meremehkan lawan, kita akan hancur,” ujar Islah selepas laga.
GONTOR – Salah satu momen paling ditunggu dalam rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) adalah kehadiran grup musik ternama tanah air, Wali Band. Grup musik ini akan menggelar konser spesial pada 27 September 2025 di Lapangan Sepakbola PMDG, Ponorogo, Jawa Timur. Konser ini menjadi puncak dari Festival Musik Santri 100 Tahun Gontor, sebuah festival yang menjadi wadah ekspresi seni para santri dari berbagai pondok pesantren di Indonesia dan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM).
Selain penampilan Wali Band sebagai musisi tamu nasional, konser ini juga memberikan kesempatan bagi para pemenang lomba musik untuk tampil bersama mereka. Para pemenang dari kategori Festival Band Santri, dan Lomba Cipta Lagu 100 Tahun Gontor akan berbagi panggung dengan Wali Band, memberikan nuansa kolaboratif yang penuh makna dan semangat. Tidak hanya tampil, para pemenang juga mendapat akses VIP untuk menikmati seluruh rangkaian penampilan, sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan dedikasi mereka dalam seni musik Islami.
Selain menjadi hiburan, konser Wali Band diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi santri untuk terus berkarya, mengembangkan bakat, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui seni musik. Momen ini diharapkan dapat meningkatkan semangat dan motivasi santri untuk berprestasi, baik dalam seni maupun dalam kehidupan mereka sebagai generasi penerus umat dan bangsa.
Kehadiran Wali Band dalam peringatan 100 tahun Gontor memiliki makna yang mendalam. Wilman Mustoven, S.E., Ketua Festival Musik dan Hadrah Santri, menjelaskan bahwa undangan kepada Wali Band bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai bentuk tabarru’ atau saling mencari berkah. “Wali Band, yang juga alumni pesantren, menunjukkan bahwa menjadi santri bukan berarti tertinggal zaman. Mereka membuktikan bahwa santri bisa berprestasi di dunia musik modern tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman,” ujar Wilman. Ia berharap, kehadiran Wali Band dapat menginspirasi santri untuk melihat bahwa menjadi santri itu modern, relevan, dan tak ketinggalan zaman.
Tentang Festival Musik Santri 100 Tahun Gontor Festival Musik Santri 100 Tahun Gontor merupakan rangkaian acara besar yang melibatkan banyak santri dari berbagai pondok pesantren dan IKPM di seluruh Indonesia. Festival ini bertujuan untuk mengembangkan potensi seni dan kreativitas santri di bidang musik Islami yang sesuai dengan nilai-nilai kepesantrenan. Festival ini terdiri dari tiga kategori utama yang menunjukkan beragam ekspresi seni santri, yaitu Festival Hadrah Al-Habsyi, Festival Band Santri, dan Lomba Cipta Lagu 100 Tahun Gontor.
Pada Festival Hadrah, sebanyak 21 grup hadrah akan tampil dengan syair Islami dan yel-yel bertemakan 100 tahun Gontor, mengedepankan kekompakan dan adab khas pesantren. Di sisi lain, Festival Band Santri diikuti oleh 12 band santri yang membawakan lagu wajib dari Mahadasa Band atau Gontor Voice, serta satu lagu bebas yang tetap mengedepankan nilai-nilai pesantren. Lomba Cipta Lagu, yang diikuti oleh 4 IKPM dan 14 pondok pesantren, memberikan ruang bagi para santri untuk menciptakan lagu orisinil bertemakan perjuangan, persatuan, dan dakwah Islam, serta refleksi nilai-nilai yang terkandung dalam perjalanan 100 tahun Pondok Gontor.
Festival ini akan berlangsung dari 25 September hingga 27 September 2025 di Pondok Modern Darussalam Gontor, Kampus Pusat. Diharapkan sekitar 5.000 pengunjung akan hadir, termasuk santri, guru, alumni, dan masyarakat umum. Melalui festival ini, diharapkan santri dapat meningkatkan kepercayaan diri, semangat kompetisi yang sehat, dan mempererat tali silaturahmi antar pondok pesantren, alumni, dan keluarga besar Gontor.
Festival Musik Santri 100 Tahun Gontor menggambarkan semangat para santri untuk tetap menjaga nilai-nilai Islam, tanpa terhalang oleh perkembangan zaman. Kehadiran Wali Band, sebagai contoh nyata bahwa santri dapat berprestasi dalam dunia modern dengan tetap menjaga akar keislamannya, memberikan pesan kuat bahwa santri itu bukan hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga bisa menjadi pemimpin di masa depan. Perayaan ini mengingatkan kita bahwa dalam keberagaman dan semangat kebersamaan, setiap individu memiliki potensi untuk berkarya dan memberikan dampak positif bagi umat dan bangsa.
Berita : Tim Media Peringatan 100 Tahun Gontor Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor Reviewer : Time Media Peringatan 100 Tahun Gontor