Home Blog Page 28

Bedah Buku Api Tauhid, Gelorakan Semangat Literasi

0

GONTOR – Bedah buku bersama penulis Habiburrahman El Shirazy berlangsung pada Sabtu (4/10) di Aula Gedung Rabithah Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pukul 14.00 WIB. Ratusan santri beserta sejumlah peserta Gontor Language Championship (GLC) antusias mengikuti acara yang menghadirkan penulis dengan sapaan akrab Kang Abik itu. Habiburrahman dikenal sebagai pendiri komunitas Lingkar Pena di Kairo sekaligus penulis novel-novel best seller, seperti Api Tauhid, Ayat-Ayat Cinta, dan Bumi Cinta.

Acara ini digelar oleh Bagian Perpustakaan OPPM. Dalam paparannya, Habiburrahman menekankan pentingnya literasi bagi umat Islam. Ia menyinggung Surah Al-Alaq ayat 4–5 yang menunjukkan perintah Allah kepada manusia untuk membaca dan menulis. Menurutnya, penguasaan literasi akan membawa penguasaan dunia. Prinsip ini, kata dia, berlaku bagi siapa pun, baik muslim maupun non-muslim, sebagai bagian dari sunnatullah.

“Seorang muslim harus menulis. Menulis bisa menjadi fardhu kifayah ketika umat membutuhkan pendakwah yang mampu meluruskan pemikiran. Selama memiliki ilmu, wajib baginya untuk membagikannya, meski hanya satu ayat,” ujar beliau.

Namun, sebelum menulis, seorang muslim mesti memiliki minat baca tinggi. Minat baca, kata Habiburrahman, membantu penulis menggali ilmu pengetahuan dari berbagai sumber tepercaya dan memperkaya kosakata sehingga dapat merangkai kata-kata indah sarat makna.

Ia juga menjelaskan latar belakang penulisan novel Api Tauhid sebagai pemantik kesadaran umat untuk membaca sejarah. “Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mengetahui sejarahnya. Sejarah akan terus berulang. Tokoh-tokoh yang pernah muncul di masa lalu akan muncul kembali dalam wujud berbeda, namun esensinya sama,” jelas Kang Abik. Karena itu, mempelajari sejarah penting untuk membentuk masyarakat yang lebih baik.

Di akhir acara, Habiburrahman berpesan agar para santri terus menjaga semangat literasi. “Mulailah menulis dari mading sekolah. Ketika ada lomba, ikuti saja. Antum sudah menjadi pemenang ketika berani mencoba. Jadilah ambisius untuk mencoba berbagai hal. Dan ketika dikritik, terimalah dengan lapang dada, karena lewat kritik kita bisa memperbaiki diri,” kata beliau.

Acara ini bukan sekadar seminar, tetapi pengalaman berharga yang membuka wawasan santri untuk terus berjuang menggapai mimpi. Seusai seminar, Habiburrahman menyempatkan waktu melayani penggemarnya untuk menandatangani buku. Buku-buku karyanya langsung diborong para santri yang tak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Walau berlangsung singkat, acara ini meninggalkan pelajaran berharga bagi para santri.

(Berita : Keano, Foto : Abhiraj, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Final Arabic and English Singing, Ajang Adu Vokal dan Ekspresi Seni Multibahasa

Santri Adu Argumen di Babak Kedua Debat GLC 2025

Santri Berlomba Tulis Karangan di Final Composition Gontor Language Championship

Final Arabic and English Singing, Ajang Adu Vokal dan Ekspresi Seni Multibahasa

0

GONTOR – Lomba “Arabic and English Singing” kembali digelar pada Sabtu (4/10) pagi sebagai babak final setelah penyisihan dilaksanakan sehari sebelumnya. Bertempat di depan Gedung Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), sepuluh kontingen bersaing menampilkan kemampuan vokal di atas panggung.

Tak hanya teknik vokal dan improvisasi lagu, penghayatan serta ekspresi para penyanyi menjadi penentu penting dalam perebutan juara. Berbeda dengan babak sebelumnya, peserta kali ini mendapat kesempatan memilih lagu lebih awal sehingga bisa berlatih lebih intens.

Salah satu finalis, Muhammad Haikal Maulana dari Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, mengaku sudah berlatih tiga bulan sebelum perlombaan. “Persiapan yang saya lakukan dengan sering mendengarkan lagu, lalu belajar menyanyikannya agar terbiasa,” ujarnya usai membawakan lagu “Kun Anta” karya Humood Alkhudher.

Menurut Staf Pembimbing Bahasa PMDG, Al-Ustadz Habib Ahmad Fadhillah, ajang seni ini bertujuan memotivasi peserta sekaligus penonton untuk mengenal lebih dalam seni suara Arab dan Inggris beserta makna yang dikandungnya.

(Berita : Hilmi, Foto : Abhiraj, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Santri Adu Argumen di Babak Kedua Debat GLC 2025

Santri Berlomba Tulis Karangan di Final Composition Gontor Language Championship

Final Pidato Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Meriahkan Malam di Gontor

Santri Adu Argumen di Babak Kedua Debat GLC 2025

0

GONTOR – Lantai satu dan dua Gedung Rabithah Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) tampak dipadati peserta debat babak kedua Gontor Language Championship (GLC), Sabtu (4/10) pagi. Tepat pukul 10.30, moderator membuka jalannya debat dengan mosi serta lawan yang telah ditentukan sebelumnya.

Suasana ruang debat pun berubah riuh. Para pembicara dari kubu pro memaparkan argumen utama yang kemudian dibantah kubu kontra. Dalam ajang berbahasa memperingati 100 tahun usia PMDG ini, juri tidak hanya menilai isi dan logika argumen, tetapi juga ketepatan serta gaya bahasa yang digunakan peserta.

Dengan durasi hanya lima menit per pembicara, peserta dituntut mengatur waktu secara efektif untuk menyampaikan argumen mereka. Tiga juri yang memimpin penilaian berasal dari guru-guru PMDG dan jejaring komunitas Munadzorot Qatar, yang berpengalaman dalam dunia debat berbahasa.

Sekitar setengah jam kemudian, para peserta keluar dari ruangan masing-masing dengan harapan melaju ke babak berikutnya pada sore hari. “Tanpa internet kita tetap bisa membuktikan argumen yang konkret,” kata Ilham Alghani, kontingen PMDG Kampus Pusat yang turut berpartisipasi dalam lomba debat.

(Berita : Hilmi, Foto : Zhafir, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Santri Berlomba Tulis Karangan di Final Composition Gontor Language Championship

Final Pidato Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Meriahkan Malam di Gontor

Debat Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Sukses Digelar di Rabithah

Santri Berlomba Tulis Karangan di Final Composition Gontor Language Championship

0

GONTOR – Final lomba Composition atau karangan bahasa Inggris di Pondok Modern Darussalam Gontor berlangsung khidmat pada Sabtu (4/10). Para peserta dari seluruh kontingen berkumpul di lantai dua Gedung Perpustakaan OPPM untuk menumpahkan gagasan mereka di atas kertas folio.

Ustadz Yunan dan Ustadz Agung bertindak sebagai juri. Mereka memberikan waktu 45 menit bagi peserta untuk mengembangkan ide dengan tema “Perjalanan Menuju 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor”. Panitia juga menetapkan lima unsur wajib dalam setiap karangan. Peserta tidak diperkenankan membawa kamus maupun catatan sehingga kemampuan murni menulis benar-benar diuji.

Menurut juri, keterkaitan isi dengan tema menjadi penilaian utama. Tata bahasa yang baik, pemilihan kosakata yang segar, dan ketepatan gramatika bahasa Inggris juga menjadi bahan pertimbangan.

Meski akses informasi digital terbatas, para santri menunjukkan kemampuan mereka. Zayyan, peserta dari PMDG Kampus 7, mengaku inspirasi bisa datang dari mana saja. “Untuk menjadi pengarang yang handal, hal yang paling penting adalah berani menulis,” katanya. Ia menuturkan menulis menjadi wadah untuk menumpahkan perasaan yang ia alami.

Zayyan mengaku menyukai membaca dan bercita-cita menjadi novelis. Dalam lomba kali ini, ia menulis tentang ketangguhan Gontor menghadapi berbagai cobaan, termasuk masa-masa sulit saat menghadapi PKI. “Jangan pernah berhenti berusaha. Yakin dan tinggikan semangat juangmu,” ujarnya kepada tim media Peringatan 100 Tahun Gontor.

(Berita : Keano, Foto : Abhiraj, Khilmi, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Final Pidato Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Meriahkan Malam di Gontor

Debat Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Sukses Digelar di Rabithah

Alunan Suara Peserta Warnai Gontor Language Championship 2025

Final Pidato Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Meriahkan Malam di Gontor

0

GONTOR – Sepuluh kontingen tampil menggelegar dalam final lomba pidato bahasa Arab dan Inggris pada rangkaian Gontor Language Championship (GLC) 2025, Jumat (3/10) malam. Setelah melalui babak penyisihan secara daring, lima pondok lolos ke kategori pidato bahasa Inggris dan lima lainnya ke kategori bahasa Arab.

Pelaksanaan pidato secara bergantian antara bahasa Arab dan Inggris membuat penonton tidak bosan menyaksikan setiap penampilan. Pondok Al-Amien Prenduan menjadi sorotan karena tampil percaya diri di atas panggung dengan dua bahasa yang telah mereka kuasai sejak babak penyisihan.

Pidato berdurasi enam menit menjadi momentum menegangkan sekaligus sarana mengasah keterampilan berbicara di depan khalayak ramai. Peserta dituntut menggunakan bahasa asing dengan memperhatikan intonasi, artikulasi, pembawaan, dan ketepatan bahasa selama tampil di publik.

Kreativitas santri terlihat dari pemilihan tema pidato. Panitia tidak menentukan judul, sehingga peserta bebas menunjukkan kemampuan menguasai tema pilihan mereka. Beberapa guru senior Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menilai semangat para peserta, termasuk penggunaan kostum unik yang membuat suasana semakin meriah dan penonton antusias.

Salah satu peserta dari Pondok Pesantren Daar El Qolam menilai bahasa sebagai aspek terpenting dalam kehidupan, terutama dalam pergaulan sosial. “Laa hayata illa lughoh, tidak ada kehidupan kecuali ada bahasa di dalamnya,” ujarnya.

Acara ditutup oleh pembawa acara dan diakhiri dengan bubarnya para penonton yang terdiri dari santri PMDG maupun para kontingen.

(Berita : Hilmi, Foto : Abhiraj, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Debat Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Sukses Digelar di Rabithah

Alunan Suara Peserta Warnai Gontor Language Championship 2025

Puluhan Pesantren Adu Kecerdasan Bahasa di Gontor Language Championship 2025

Debat Bahasa Arab dan Inggris GLC 2025 Sukses Digelar di Rabithah

0

GONTOR – Dua babak penyisihan lomba debat bahasa Arab dan Inggris dalam ajang Gontor Language Championship (GLC) 2025 sukses digelar pada Jumat siang (3/10) di Gedung Rabithah lantai 4. Sebanyak 24 kontingen beradu argumen dalam dua giliran debat di setiap ronde.

Usai salat Jumat berjamaah, pukul 13.30 WIB para peserta diarahkan menuju Aula Rabithah untuk penentuan lawan debat dan tema yang akan dibahas. Materi argumen disiapkan berdasarkan logika dan pemikiran masing-masing peserta, tanpa mengandalkan sumber dari internet. Panitia menegaskan, pengambilan materi dari media massa modern dikhawatirkan mengganggu konsistensi pemikiran antar-peserta.

Menjelang sore, babak pertama rampung. Peserta kembali dikumpulkan untuk pengarahan tahap kedua sebelum melanjutkan ke babak selanjutnya. Seperti pada babak pertama, dua giliran kembali dibagi dengan lawan dan peran berbeda.

Terlihat banyak santri melakukan persiapan matang bersama pembimbing masing-masing kontingen. Beberapa memilih sudut ruangan untuk berlatih sebelum diarahkan panitia memasuki ruang debat. Sesi dibuka dengan paparan argumen kubu pro. Debat berlangsung sengit dan penuh antusiasme. Dewan juri menilai kemampuan peserta menyampaikan argumen tanpa menitikberatkan pada menang atau kalah tim, hingga terpilih peserta yang berhak melaju ke babak berikutnya pada Sabtu (4/10).

Salah satu peserta, Ardya Hamka, mengaku debat menggunakan bahasa asing menjadi tantangan tersendiri. “Selain harus memikirkan argumen yang logis dan konkret, kaidah bahasa juga perlu perhatian mendalam agar hasilnya baik,” ujarnya.

Sore itu, acara ditutup seiring tenggelamnya matahari yang menandai keseriusan setiap kontingen mengikuti rangkaian GLC 2025.

(Berita : Hilmi, Foto : Abhiraj, Zulfa, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Alunan Suara Peserta Warnai Gontor Language Championship 2025

Puluhan Pesantren Adu Kecerdasan Bahasa di Gontor Language Championship 2025

Kontingen Rampungkan Administrasi, Siap Hadapi Gontor Language Championship

Alunan Suara Peserta Warnai Gontor Language Championship 2025

0

GONTOR – Rangkaian lomba Gontor Language Championship (GLC) 2025 dimulai dengan meriah pada Jumat (3/10) pagi. Salah satu cabang yang digelar adalah “Arabic and English Singing”, kompetisi menyanyi lagu berbahasa Arab dan Inggris. Acara ini melatih kemampuan pengucapan (pronunciation) dan meningkatkan kepercayaan diri serta penghayatan peserta saat membawakan lagu.

Lomba yang dipusatkan di depan Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) ini berlangsung dari pukul 07.45 hingga 09.30 WIB. Tiga juri bertugas menilai penampilan peserta: Ustadz Shadra Maularosa, Ustadz Wilman Mustoven, dan Ustadz Rakha Putra. Ada empat aspek penilaian: teknik vokal, improvisasi suara, penghayatan lagu, dan ekspresi.

Sejak pagi, ratusan santri dan peserta GLC dari berbagai kontingen telah memenuhi kursi yang disediakan. Masing-masing kontingen mengirim satu wakil untuk menyanyikan lagu Arab atau Inggris. Beberapa peserta bahkan sudah mempersiapkan diri sejak sebulan sebelumnya.

Muhammad Dirham, perwakilan Pesantren Darul Ulum Lido, mengaku sempat gugup tampil di atas panggung. “Namun saya juga bangga bisa mewakili pondok di kompetisi ini,” ujarnya. Ia membawakan lagu “Gaza Tonight”, menyesuaikan intonasinya yang rendah agar mudah dinyanyikan.

Syazali, peserta dari PMDG Kampus 4, memilih lagu “Number One For Me” karya Maher Zain. Menurutnya, lagu tersebut asyik dan menyampaikan pesan penting agar selalu menyenangkan hati orang tua.

Ajang ini bukan hanya melatih keterampilan berbahasa. Peserta juga belajar bahwa bahasa dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan, misalnya melalui alunan musik.

(Berita : Keano, Foto : Zulfa, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Puluhan Pesantren Adu Kecerdasan Bahasa di Gontor Language Championship 2025

Kontingen Rampungkan Administrasi, Siap Hadapi Gontor Language Championship

Gontor Gelar Language Championship, Dorong Santri Kuasai Bahasa Internasional

Puluhan Pesantren Adu Kecerdasan Bahasa di Gontor Language Championship 2025

0

GONTOR – Suasana semarak mewarnai ajang Gontor Language Championship (GLC) 2025 yang diikuti puluhan pondok pesantren dari seluruh penjuru Indonesia pada cabang lomba “Language Quiz”, Jumat pagi, (3/10). Empat titik lokasi perlombaan dipadati masing-masing lima hingga enam kontingen.

Dalam cerdas cermat bahasa ini, para peserta tidak hanya diuji kemampuan menerjemahkan bahasa Arab dan Inggris, tetapi juga penguasaan kaidah bahasa. Mereka diwajibkan mempelajari berbagai referensi seperti kitab Nahwu dan Shorf, Grammar, serta buku-buku acuan lain yang digunakan di pesantren masing-masing.

Pertandingan dibagi menjadi dua ronde. Pada ronde pertama, setiap kontingen memilih satu paket soal berisi terjemahan bahasa Arab dan Inggris, kaidah Nahwu, Shorf, dan Grammar. Setiap jawaban benar bernilai 100 poin.

Pada ronde kedua, peserta bersiap menekan tombol merah untuk menjawab soal rebutan. Jawaban benar menambah poin, sedangkan jawaban salah mengurangi 50 poin. Para peserta pun berlomba mempertahankan nilai tertinggi untuk lolos ke babak selanjutnya.

Salah satu juri, Al-Ustadz Amrizal Arief, mengaku antusias menjadi penguji dalam ajang ini. “Tidak hanya menilai, tetapi juga menjadi guru, karena bisa membenarkan soal-soal yang salah atau tidak sempat terjawab oleh peserta,” ujarnya.

(Berita : Hilmi, Foto : Zulfa, Zhafir, Irsyadul, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Kontingen Rampungkan Administrasi, Siap Hadapi Gontor Language Championship

Gontor Gelar Language Championship, Dorong Santri Kuasai Bahasa Internasional

Kontingen El-Qowwam Resmi Dilantik, Wakili PMDG Kampus Pusat di GLC

Kontingen Rampungkan Administrasi, Siap Hadapi Gontor Language Championship

0

GONTOR – Menjelang dimulainya Gontor Language Championship (GLC), ratusan santri dari berbagai pondok pesantren mengikuti technical meeting di Aula Afghanistan, Kamis (2/10) sore. Pertemuan ini menjadi momentum awal persiapan kontingen menghadapi rangkaian kompetisi bahasa dalam rangka peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).

Dalam forum tersebut, panitia menyampaikan secara detail seluruh aturan, teknis, dan disiplin perlombaan. Ratusan peserta dan puluhan pembimbing memenuhi ruangan. Suasana berlangsung serius dan kondusif. Arahan panitia mencakup tata tertib lomba, jadwal pertandingan, hingga mekanisme penilaian yang wajib dipatuhi seluruh kontingen.

Usai sesi pengarahan, para peserta diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan agenda berikutnya. Malam harinya, tepat pukul 20.00 WIB, seluruh kontingen kembali berkumpul di Aula Gedung Rabithah untuk agenda pemberkasan. Proses ini dilakukan melalui tujuh kelompok besar dengan tahapan verifikasi data peserta dan pemeriksaan kelengkapan administrasi. Pemberkasan berlangsung tertib dan lancar, mengukuhkan keseriusan peserta dalam mengikuti ajang tahunan ini.

Kegiatan awal ini dianggap langkah penting untuk memastikan kelancaran GLC. Dengan administrasi yang rapi serta pemahaman teknis yang matang, mereka berharap setiap peserta bisa tampil maksimal saat kompetisi dimulai.

GLC sendiri merupakan ajang mengembangkan keterampilan bahasa Arab dan Inggris, sekaligus wadah pembentukan karakter santri. Nilai sportivitas, tanggung jawab, dan ukhuwah antarpesantren diuji sekaligus diperkokoh melalui berbagai cabang perlombaan.

Dengan rampungnya tahap awal ini, para kontingen kini memasuki fase persiapan akhir. GLC diharapkan bukan sekadar panggung kompetisi, melainkan juga perayaan semangat kebersamaan santri dari seluruh penjuru Nusantara.

(Berita : Faza, Hilmi, Keano, Foto : Naufal, Zulfa, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Gontor Gelar Language Championship, Dorong Santri Kuasai Bahasa Internasional

Kontingen El-Qowwam Resmi Dilantik, Wakili PMDG Kampus Pusat di GLC

Gontor Gelar Language Championship, Dorong Santri Kuasai Bahasa Internasional

0

GONTOR – Lapangan Gedung Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menjadi saksi pembukaan ajang bergengsi Gontor Language Championship (GLC) pada Kamis pagi (2/10). Kompetisi bahasa tingkat nasional ini merupakan bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor. Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Ponorogo, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, dan Pimpinan PMDG di hadapan ratusan peserta dan undangan.

Sebanyak 23 kontingen pondok pesantren dari seluruh Indonesia turut ambil bagian. Ratusan peserta dan pembimbing berkompetisi dalam berbagai cabang lomba, mulai dari pidato, debat, penulisan kreatif, pembacaan puisi, hingga pembawa acara berita. Rangkaian perlombaan berlangsung selama empat hari hingga Ahad (5/10) mendatang.

Pembukaan GLC turut dihadiri oleh Badan Wakaf PMDG, rektor UNIDA, dan ketua-ketua lembaga. Dalam sambutannya, Bupati Ponorogo, Bapak Sugiri Sancoko, menegaskan kebanggaan masyarakat Ponorogo terhadap Gontor.

“Semuanya bangga, semuanya kagum, semuanya merasa bahwa Gontor dari hari ke hari dan dari masa ke masa melahirkan generasi penerus yang luar biasa. Kami turut bangga dan seluruh rakyat Ponorogo sangat mencintai Gontor,” ujar beliau.

Sementara itu, Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl. A. Ed. menekankan pentingnya bahasa sebagai bagian dari kebudayaan. “Belajar adalah budaya. Kalau kamu tidak belajar budaya, maka kamu sulit mempelajari bahasa,” ungkap beliau dalam pidato pembukaan.

GLC hadir sebagai ajang pengembangan kemampuan berbahasa dan pembentukan karakter. Melalui kompetisi ini, santri didorong untuk berani tampil, mengasah retorika, sekaligus membiasakan penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya sebagai pencinta bahasa mengakui bahwa kompetisi ini ajang yang saya tunggu jauh-jauh hari, karena dengan ini saya bisa mengetahui kadar bahasa yang saya miliki sekarang,” tutur Daniel Taqi, peserta dari PMDG Kampus Pusat.

GLC merupakan sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah antar-kontingen. Dengan semangat itu, ajang ini diharapkan mempertegas posisi Gontor sebagai pelopor pendidikan bahasa di lingkungan pesantren, sekaligus menjadi tonggak penting dalam perjalanan 100 tahun Gontor sebagai pusat pembelajaran bahasa dan budaya dunia pesantren.

(Berita : Faza, Hilmi, Keano, Foto : Abhiraj, Zulfa, Hilmi, Fathan, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Kontingen El-Qowwam Resmi Dilantik, Wakili PMDG Kampus Pusat di GLC

Olimpiade 100 Tahun Gontor Resmi Selesai, Semarak Sportivitas Antarpesantren

Kalahkan Nurul Huda, Riyadul Ulum Juarai Futsal Shigor Olimpiade 100 Tahun Gontor