Home Blog Page 30

Wali Band di Malam Anugerah Festival Musik Santri: Gontor Adalah Hadiah untuk Indonesia

0

GONTOR – Malam Anugerah Festival Musik Santri semakin semarak dengan hadirnya band santri ternama tanah air, Wali Band. Di hadapan seluruh hadirin, mereka menyampaikan kebangaan atas sumbangsih Gontor kepada Indonesia.

“Selayaknya buah yang tumbuh dari pohon, maka Trimurti adalah bentuk keberkahan dari sajak itu sendiri,” lantun Apoy dalam puisi yang disampaikan untuk Gontor, menggambarkan pondok ini sebagai hasil karya yang dipersembahkan pendirinya untuk tanah air.

Penampilan band beranggotakan empat orang santri; Apoy, Faank, Ovie, dan Tomi tersebut meramaikan Lapangan Sepak Bola Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) dengan lagu-lagu hits mereka seperti “Tobat Maksiat”, “Nenekku Pahlawanku”, dan “Cari Berkah”. Ribuan penonton yang terdiri dari santri, guru, dan masyarakat antusias memadati lokasi acara.

Di awal acara, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Ed., dalam sambutannya menyampaikan perhelatan ini selaras dengan visi pendidikan pesantren. “Tujuan pendidikan utama di Gontor adalah mencetak ulama intelek. Musik merupakan bagian dari pendidikan di Gontor, maka jadilah musisi yang berjiwa santri dan menebarkan dakwah,” ujar beliau.

Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal menambahkan bahwa Gontor terus menegakkan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan para pendirinya. “Kita menegakkan Islam, hati, pikiran, fisik, akhlak, agama, adat istiadat, dan sosial dengan penuh kedamaian. Rapot kehidupan ini tidak akan berhenti sampai ajal yang terakhir,” tegas beliau.

Malam Anugerah Festival Musik Santri juga dimeriahkan dengan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba band dan hadroh. Keluar sebagai juara lomba band adalah PMDG Kampus Pusat, disusul dengan PMDG Kampus 2, kemudian PMDG Kampus 3. Sedangkan lomba hadroh dimenangkan oleh PP. Al-Amien Prenduan.

Selepas pengumuman dibacakan, Wali Band naik ke panggung dan mempersembahkan penampilan fenomenal mereka. Selain karya-karya band santri tersebut, mereka juga mengajak para santri menyanyikan lagu “Oh Pondokku” yang membuat suasana malam itu menjadi syahdu.

Festival Musik Santri membuktikan bahwa dakwah bisa disampaikan lewat alunan nada dan lagu. Kehadiran Wali Band diharapkan mampu memacu semangat para santri untuk terus berkarya dan menyebarkan syiar Islam ke seluruh dunia lewat seni.

Berita : Tim Media Peringatan 100 TAhun Gontor
Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor
Reviewer : Tim Media Peringatan 100 Tahun Gontor

Related Articles :

Vino G. Bastian: Festival Film Santri 2025 Luar Biasa, Film Buatan Santri Bisa Jadi Tuntunan bagi Masyarakat

Festival Musik Santri Gontor Gelar Lomba Band: Syiar Islami Lewat Alunan Nada

PMDG Kampus Pusat Sabet Juara Festival Musik Santri

Dua Gol Ahmad Faiz Antar Gontor Pusat ke Semifinal Futsal Olimpiade 100 Tahun

0

GONTOR – Dua gol Ahmad Faiz memastikan tim futsal Gontor Pusat melaju ke babak semifinal Olimpiade Olahraga 100 Tahun Gontor. Pertandingan yang digelar di Lapangan Futsal Darussalam Gontor Stadium (DGS), Sabtu (27/9), mempertemukan tuan rumah dengan PP. Al Amin Perenduan.

Laga berlangsung sengit sejak peluit awal dibunyikan. Tuan rumah tampak kesulitan menembus pertahanan rapat PP. Al Amin, sementara tim asal Madura itu beberapa kali melancarkan serangan berbahaya. Tembakan keras Ahmed Albatin pada menit kedua masih dapat ditepis kiper PP. Al Amin. Hingga babak pertama berakhir, skor tetap imbang 0-0.

Di luar lapangan, sorak-sorai suporter terus menggema mendukung tim Gontor Pusat. Para asatidz, tim sepak bola Gontor Pusat, dan beberapa kontingen pondok cabang turut memberi semangat kepada sang tuan rumah.

Memasuki babak kedua, pergantian pemain belum membuahkan hasil optimal. Pelatih Gontor Pusat, Ustadz Muhammad Wafa, kemudian melakukan perubahan komposisi. Hasilnya, Ahmad Faiz berhasil memecah kebuntuan lewat umpan Ahmed Albatin pada menit ke-22. Kerja sama tim yang solid kembali menciptakan peluang, dan Faiz mencetak gol keduanya pada menit ke-26.

Gol tersebut menjadi penutup kemenangan PMDG Kampus Pusat atas PP Al Amin dengan skor 2-0. Hasil ini mengantarkan tuan rumah ke babak semifinal divisi futsal Olimpiade Olahraga 100 Tahun Gontor.

Dalam wawancara singkat, salah satu penggawa PP. Al Amin, Muhammad Azam, mengakui keunggulan lawan. “Ternyata benar, Gontor adalah induk pondok. Para pemainnya sangat berkualitas,” ujarnya.

(Berita : Haqi, Foto : Zulfa, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

PM Manahijussadat Tundukkan PMDG Kampus 5, Amankan Tiket Final

Kalahkan Baitussalam, Dar El Qolam Tampil Gemilang

Gontor 3 Menang Sengit Atas Manahijussadat di Cabang Bulu Tangkis

PM Manahijussadat Tundukkan PMDG Kampus 5, Amankan Tiket Final

0

GONTOR – Pagi hari di Darussalam Gontor Stadium menjadi saksi duel sengit antara PM Manahijussadat melawan PMDG Kampus 5 dalam perebutan tiket menuju babak final cabang olahraga sepak bola Olimpiade 100 Tahun Gontor. Pertandingan yang berlangsung ketat itu berakhir dengan kemenangan PM Manahijussadat 2-1.

Sejak peluit pertama berbunyi, PM Manahijussadat langsung menekan. Pada menit kelima, Rezon berhasil menggocek dua bek lawan dan menuntaskan peluangnya menjadi gol, membuat skor imbang 1-1. Upaya PMDG Kampus 5 untuk kembali unggul dilakukan lewat El Roy yang melepaskan dua tendangan ke gawang milik kiper Valenceno, tetapi keduanya mampu dimentahkan.

Memasuki pertengahan babak pertama, Adrian hampir melakukan tembakan sebelum dijegal Hilmi Miftahul sehingga menghasilkan penalti. Eksekusi Gibran yang tenang menambah keunggulan PM Manahijussadat menjadi 2-1. Skor tersebut bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, PM Manahijussadat lebih fokus bertahan sementara PMDG Kampus 5 gencar menyerang. Namun, kondisi fisik kedua tim yang mulai menurun membuat peluang-peluang yang tercipta tak mampu dimanfaatkan dengan baik. Adit sempat diganjar kartu kuning setelah menghentikan pergerakan El Roy.

Meski laga berlangsung panas, suasana akhirnya mencair setelah peluit panjang dibunyikan. Kedua pelatih tampak bersalaman dan tertawa bersama usai pertandingan. Pelatih PM Manahijussadat, Jibril, mengapresiasi kerja keras anak asuhnya yang berhasil mengamankan tiket ke babak final.

(Berita : Keano, Foto : Rafly, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Kalahkan Baitussalam, Dar El Qolam Tampil Gemilang

Gontor 3 Menang Sengit Atas Manahijussadat di Cabang Bulu Tangkis

Kemenagan Beruntun Bawa Gontor Pusat Kuasai Klasemen

Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Raih Juara Pada Festival Hadroh Santri

0

GONTOR — Alunan hadroh mengiringi malam yang sejuk di Gedung Rabithah Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Jumat (26/9). Empat kontingen tampil memeriahkan Festival Hadroh Santri, yakni PMDG Kampus 4, Pondok Pesantren Baitul Hikmah Jember, Ar-Ridho Sentul, serta Darussalam Rajapolah Tasikmalaya.

Acara dibuka oleh Ahbaabul Musthofa Madiun. Kolaborasi vokal merdu dengan tabuhan rebana, bass, dan darbuka membuat suasana syahdu. “Semoga dengan datangnya kita ke sini bisa menambah wawasan tentang hadroh di kalangan santri dan juga saling berbagi ilmu,” ujar Yusuf, peserta asal Kediri.

Penampilan Pondok Pesantren Baitul Hikmah menjadi salah satu yang menyita perhatian. “Acara ini merupakan media untuk silaturahim dan agar santri memiliki mental berjuang,” kata Avit, salah satu personel. Kontingen ini sebelumnya pernah menjadi juara pertama pada peringatan 90 tahun Gontor.

Darussalam Rajapolah Tasikmalaya tampil berbeda dengan memadukan hadroh dan tarian. Mereka mengenakan pakaian adat Sumatera Barat lengkap dengan atribut kipas, memperlihatkan kreativitas yang memikat penonton. Dukungan dan sorakan penonton menambah semarak suasana.

Ahbaabul Musthofa kembali naik panggung sebelum sesi terakhir, yaitu pengumuman pemenang. Suara tinggi yang berpadu dengan dentuman rebana membuat seluruh penonton memberikan tepuk tangan panjang.

Momen yang ditunggu pun tiba. Dewan juri menetapkan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan sebagai juara pertama dengan nilai 96,5. Posisi kedua diraih Pondok Pesantren Baitul Hikmah Jember dengan nilai 95, disusul PMDG Kampus Pusat di peringkat ketiga dengan nilai 94,5.

Festival Hadroh Santri menjadi ruang silaturahmi sekaligus ajang unjuk bakat, membuktikan bahwa musik tradisi dapat hidup berdampingan dengan dakwah dan kreativitas santri.

Juara 1PP. Al-Amien Prenduan96,5
Juara 2PP. Baitul Hikmah95
Juara 3PMDG Kampus Pusat94,5

(Berita : Daniel, Haqi, Keano, Foto : Atalla, Bintang, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Hadroh Santri Meriahkan Peringatan 100 Tahun Gontor

PMDG Kampus Pusat Sabet Juara Festival Musik Santri

Festival Musik Santri Gontor Gelar Lomba Band: Syiar Islami Lewat Alunan Nada

Festival Film Santri Ditutup, PMDG Kampus Pusat Juarai Tiga Kategori

0

GONTOR – Festival Film Santri resmi ditutup dengan khidmat pada Jumat malam (26/9) di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Penutupan sekaligus pembagian hadiah ini menjadi puncak rangkaian acara dalam peringatan 100 tahun Gontor.

Ribuan santri dan kontingen dari berbagai pesantren berkumpul untuk menyaksikan pengumuman pemenang. Ketua Umum Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., menyampaikan pesan penting tentang kreativitas dakwah melalui media film.

“Banyak orang belum kenal pesantren dengan baik. Maka, kita tarik mereka dengan film. Bukan film biasa, tapi film yang mendidik dan sarat akan nilai agama,” ujarnya.

Turut hadir sineas nasional Archie Hekagery, sutradara Tarung Sarung. Ia mengapresiasi langkah pesantren membuka ruang kreasi perfilman. “Kita butuh banyak sinemator yang peduli pada film bernapaskan Islam, yang sekarang ini sangat langka,” katanya.

Pimpinan PMDG, Drs. KH. Akrim Mariyat Dipl.A.Ed., juga menegaskan potensi film sebagai sarana dakwah. “Film itu bagaikan kawat jemuran, bisa disampiri apa saja. Maka film bisa dimasuki visi dakwah yang bermanfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Momen yang ditunggu akhirnya tiba. Dewan juri mengumumkan para pemenang, hingga kategori yang berhasil dimenangkan oleh para peserta. Sorak santri menggema memenuhi gedung olahraga. Keluar sebagai juara kategori film, sutradara, dan sinematografi terbaik adalah PMDG Kampus Pusat.

Selama festival berlangsung, para santri mengikuti seminar dan lokakarya perfilman Islami bersama narasumber seperti Vino G. Bastian, Yudi Datau, dan Archie Hekagery. Kegiatan ini diharapkan memperkaya wawasan teknis sekaligus idealisme dalam produksi film bermuatan Islami.

Penutupan Festival Film Santri ini menandai babak baru peran pesantren. Bukan hanya sebagai pusat ilmu, tetapi juga bagian dari dunia seni yang menyampaikan pesan dakwah, kedamaian, dan persaudaraan.

Film TerbaikPMDG Kampus Pusat
Film TerfavoritPMDG Kampus 5
Pemeran Utama TerbaikPMDG Kampus 4
Sutradara TerbaikPMDG Kampus Pusat
Sinematografi TerbaikPMDG Kampus Pusat
Naskah TerbaikPMDG Kampus 5
Penata Artistik TerbaikPMDG Kampus 3
Penata Musik Latar BelakangPMDG Kampus 5

(Berita : Faza, Izvian, Shofwan, Foto : Abhiraj, Zhafir, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Vino G. Bastian: Festival Film Santri 2025 Luar Biasa, Film Buatan Santri Bisa Jadi Tuntunan bagi Masyarakat

Archie Hekagery Bangga Film Santri: “Keren Banget!”

Yudi Datau: Film Bukan Hanya Hiburan, Tapi Sarana Pendidikan

Archie Hekagery Bangga Film Santri: “Keren Banget!”

0

GONTOR – Ilmu penyutradaraan menjadi materi utama seminar penutup Festival Film Santri di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Jumat (26/9) pagi. Hadir sebagai pembicara, sutradara ternama Indonesia, Archie Hekagery, yang juga dikenal sebagai penulis naskah dan produser.

Karya Archie mencakup serial dan film layar lebar, di antaranya Tetangga Masa Gitu, Tarung Sarung, 172 Days, hingga animasi islami Ibra Berkisah. “Kami sedang mengusahakan film-film religi di Indonesia dengan sajian berbeda untuk menyebarkan kebaikan,” ujarnya.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Archie menuturkan perjalanan kariernya yang dimulai dari sekadar penikmat film hingga akhirnya membuat karya sendiri. Ia menekankan pentingnya bekerja sesuai hobi dan passion. “Kalau mau jadi sutradara itu gampang: ambil kamera, langsung gas shooting. Jangan terlalu banyak teori. Lakukan, jangan cuma dimimpikan,” katanya.

Ia mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal perfilman. Pengalaman kerja, menurutnya, justru menjadi guru terbaik. Kehadirannya di Gontor membuat para peserta semakin bersemangat untuk berkarya. “Film-filmnya keren banget. Saya sangat bangga dengan santri yang berpartisipasi di acara ini,” ujarnya.

Seminar ini menegaskan bahwa santri pun mampu berkiprah di dunia perfilman, baik nasional maupun internasional. Kuncinya, kata Archie, adalah berani mencoba dan menikmati setiap proses.

(Berita : Daniel, Foto : Zhafir, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Vino G. Bastian: Festival Film Santri 2025 Luar Biasa, Film Buatan Santri Bisa Jadi Tuntunan bagi Masyarakat

Yudi Datau: Film Bukan Hanya Hiburan, Tapi Sarana Pendidikan

Festival Musik dan Film Santri 100 Tahun Gontor: Menghidupkan Dakwah, Pendidikan, dan Perjuangan Lewat Seni

Hadroh Santri Meriahkan Peringatan 100 Tahun Gontor

0

GONTOR – Setelah lomba band pada Kamis (25/9), Festival Musik Santri berlanjut dengan lomba hadroh pada Jumat (26/9). Acara yang digelar di depan Gedung Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus Pusat, Ponorogo, ini diikuti 20 kontingen pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.

Lomba berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 11.00 WIB dan dilanjutkan kembali pada malam hari. Pembukaan diawali penampilan Darul Hikmah Tulungagung yang mengajak hadirin bershalawat kepada Nabi Muhammad. Setiap tim diberi waktu tampil maksimal 10 menit, dengan persiapan 5 menit di atas panggung.

Beragam qasidah dan lagu bernuansa islami ditampilkan. Beberapa kelompok membawakan adaptasi lagu modern yang diubah menjadi lirik religius, seperti Tim Hadroh As-Shodiq dari PMDG Kampus 5 dengan “Santri Ngapa, Ya?”. Karakter pertunjukan pun bervariasi, dari yang lembut seperti Tim Hadroh Al-Huda (Manahijul Huda Pati), hingga yang enerjik dengan irama cepat seperti Majelis Shalawat Al-Jauhar dari Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Menurut panitia, Al-Ustadz Sahl Al-Fakhry, peserta wajib membawakan dua lagu: satu lagu bebas dan satu lagu wajib berjudul Qasidah Burdah Gontoriyah. Qasidah ini merupakan gubahan Al-Ustadz Khairul Fata, Lc., M.Pd., yang bersumber dari qasidah burdah karya Imam Al-Bushiri. “Dalam Qasidah Burdah Gontoriyah terkandung nilai-nilai falsafah kepondokan dan ajaran trimurti,” ujarnya.

Bagi banyak peserta, tampil di Gontor menjadi pengalaman berharga. “Sangat bersyukur bisa ikut lomba hadroh di Gontor, apalagi setelah latihan hampir sebulan,” kata Taufan Rizki, peserta dari PP Al-Amanah Al-Gontory, usai membawakan lagu Ya Badrotim.

Festival ini kembali menegaskan bahwa seni, khususnya musik islami, dapat menjadi sarana dakwah yang menghubungkan tradisi, nilai, dan kreativitas santri.

(Berita :Izvian, Foto : Abhiraj, Naufal, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

PMDG Kampus Pusat Sabet Juara Festival Musik Santri

Festival Musik Santri Gontor Gelar Lomba Band: Syiar Islami Lewat Alunan Nada

Festival Musik dan Film Santri 100 Tahun Gontor: Menghidupkan Dakwah, Pendidikan, dan Perjuangan Lewat Seni

PMDG Kampus Pusat Sabet Juara Festival Musik Santri

0

GONTOR – Suasana semarak menyelimuti malam final Festival Musik 100 Santri yang digelar di pelataran Laboratorium Sains Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Kamis (25/9). Ribuan santri dari berbagai kontingen memadati arena sejak pukul 19.45 WIB. Sorak-sorai dan tepuk tangan mengiringi setiap penampilan, menandakan antusiasme tinggi dalam menyambut momentum bersejarah ini.

Kompetisi tersebut digelar sebagai wadah bagi santri untuk berekspresi lewat musik dengan tetap berada dalam bingkai syariat Islam. Lima kontingen terbaik tampil membawakan beragam genre, dari pop hingga dangdut. Meski berwarna, setiap lirik dan aransemen tetap mengedepankan pesan moral, spiritualitas, dan nilai keislaman yang menjadi ciri khas pendidikan Gontor.

“Beberapa kriteria yang selalu diperhatikan dewan juri antara lain aransemen, harmonisasi, dan performa,” kata salah satu juri, Al-Ustadz Awan Abdussalam, kepada tim media 100 Tahun Gontor.

Hasil penilaian ketat menempatkan PMDG Kampus Pusat sebagai juara pertama. Riuh sorak bahagia para santri dan guru pecah saat pengumuman dibacakan, menjadi ungkapan syukur atas perjuangan panjang para peserta.

Festival ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun usia PMDG, yang dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia. Momentum tersebut kembali menegaskan bahwa seni dan musik dapat menjadi sarana dakwah, selama dikemas dengan nilai dan akhlak.

Penampilan Pondok Pesantren Al-Mizan yang membawakan lagu bertema ayah menjadi penutup malam itu. Lagu tersebut menghadirkan suasana haru, seolah mengingatkan kembali pada jasa dan pengorbanan orang tua dalam membentuk pribadi santri yang tangguh dan berbakti.

Melalui festival ini, Gontor menunjukkan bahwa seni adalah bagian dari tarbiyah, dan santri mampu berkreasi tanpa meninggalkan jati diri serta nilai Islam yang luhur.

(Berita : Faza, Foto : Abhiraj, Kholish, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Festival Musik Santri Gontor Gelar Lomba Band: Syiar Islami Lewat Alunan Nada

Festival Musik dan Film Santri 100 Tahun Gontor: Menghidupkan Dakwah, Pendidikan, dan Perjuangan Lewat Seni

Kalahkan Baitussalam, Dar El Qolam Tampil Gemilang

0

GONTOR – Pondok Pesantren Dar El Qolam tampil gemilang dengan menundukkan PM Baitussalam lewat kemenangan telak 7-0. Pertandingan di Lapangan Hijau UNIDA ini memperlihatkan permainan rapi dan dominan dari tim asal Banten tersebut. Dua bintang laga, Dziban dan Ajel, sama-sama mencetak hattrick.

Sejak menit awal, Dar El Qolam langsung menekan. Baru dua menit laga berjalan, Ajel sukses membobol gawang lawan. Kesempatan emas sempat dimiliki PM Baitussalam setelah mendapat hadiah penalti, namun tendangan pemain mereka terlalu pelan sehingga mudah diamankan oleh kiper Azzam.

Tekanan demi tekanan terus dilancarkan Pendekar Banten-julukan tim PP. Dar El Qolam-. Pada menit ke-30, kerja sama Ricky dan Dziban menghasilkan gol kedua. Beberapa menit berselang, Dziban kembali memanfaatkan bola liar hasil tepisan kiper lawan untuk mencetak gol keduanya. Tendangan keras dari sudut sempit membuat skor berubah menjadi 3-0 hingga babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, Dar El Qolam semakin mendominasi. Pertahanan rapat membuat striker Baitussalam kesulitan menembus gawang Azzam. Menit ke-60, Ajel kembali mencatatkan namanya di papan skor setelah solo run dari sisi kanan. Tak lama kemudian, umpannya kepada Dziban berhasil diselesaikan dengan baik untuk menambah keunggulan menjadi 5-0.

Hibban, kiper Baitussalam, sempat menggagalkan tendangan keras Ajel. Namun, bola mentah dimanfaatkan Firas untuk mencetak gol keenam. Ajel kemudian melengkapi hattrick-nya di menit-menit akhir, menutup pertandingan dengan skor telak 7-0.

Pelatih Dar El Qolam, Ustadz Islah, menyebut kemenangan ini berkat persiapan matang dan komunikasi antarpemain. “Kami selalu menekankan pentingnya saling mendukung agar mental pemain tetap terjaga,” ujarnya.

Sementara itu, Dziban mengaku bersyukur bisa tampil maksimal. “Alhamdulillah, semua ini berkat doa dan kekompakan tim,” katanya selepas laga.

(Berita : Keano, Foto : Tim Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Gontor 5 Menang Sengit Atas Manahijussadat di Cabang Bulu Tangkis

Kemenagan Beruntun Bawa Gontor Pusat Kuasai Klasemen

Manahijussadat Hantam Rajapolah 8-1, Dua Pemain Cetak Hattrick

Gontor 3 Menang Sengit Atas Manahijussadat di Cabang Bulu Tangkis

0

GONTOR – Hari ketiga Olimpiade 100 Tahun Gontor tidak mengurangi semangat para peserta untuk terus berlaga dengan sportivitas tinggi. Berbagai pertandingan digelar di enam tempat berbeda, salah satunya kompetisi cabang bulu tangkis yang berlangsung di Gedung Olahraga Islamic Centre Gontor, Joresan, Kamis (25/9), pukul 08.00–10.00 WIB.

Lebih dari 20 kontingen berpartisipasi dalam ajang ini, masing-masing mewakili pondok pesantren mereka. Nilai sportivitas dan solidaritas yang dijunjung tinggi membuat pertandingan berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Pertandingan antara Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 3 dan Pondok Pesantren (PP) Manahijussadat menjadi sorotan utama. Pada set pertama, laga berlangsung ketat dengan skor yang saling kejar. Tim Gontor 3 unggul lebih dulu melalui serangkaian pukulan tajam. Kesalahan netting dari tim Manahijussadat membuat shuttlecock jatuh di bawah net, sehingga Gontor 3 menutup set pertama dengan kemenangan 21-15.

Set kedua kembali berjalan sengit. Servis pertama dari tim Manahijussadat justru gagal melewati net, memberi poin awal bagi Gontor 3. Meski kedua tim bermain tenang, tensi pertandingan tetap tinggi. Setelah pertarungan sengit, tim Gontor 3 keluar sebagai pemenang.

“Untuk persiapan sendiri saya sudah lama berlatih keras. Dengan usaha dan ibadah, in syaa Allah semua bisa berjalan baik,” kata Nafal, salah satu pemain PMDG Kampus 3, seusai pertandingan.

Pertandingan ditutup dengan suasana hangat. Para peserta saling berjabat tangan tanpa memandang siapa yang menang atau kalah. Momen ini menjadi simbol sportivitas yang dijaga sepanjang olimpiade, sekaligus mempererat persaudaraan antarpondok di ajang 100 tahun Gontor.

(Berita : Faza, Foto : Kholish, Zulfa, Reviewer : Winka, Alif, Ghazi)

Related Articles :

Kemenagan Beruntun Bawa Gontor Pusat Kuasai Klasemen

Manahijussadat Hantam Rajapolah 8-1, Dua Pemain Cetak Hattrick

Darul Qiyam Raih Kemenangan Telak atas Darunnajah di Cabang Voli