Home Blog Page 389

Meningkatkan Bacaan Dan Hafalan Al-Qur`An Melaluli HTQ & HHQ

0

             Karangbanyu– Lantunan shalawat dan salam yang merdu mengawali acara Haflatul Tilawatil Qur`an  dan Haflattul  Hifdzul Qur`an yang diadakan di Gontor  Putri Kampus 3 yang bertepatan pada hari Ahad, 16 Januari 2016. Acara ini adalah kegiatan rutin yang di selenggarakan setiap tahunnya guna mengasah kemampuan meningkatkan anak dalam hal bacaan Al-Quran dan dalam kemampuan hafalannya, serta untuk mengajak anak menjadi generasi qurani yang berakhlak mulia.

             Acara ini diikuti anggota darussalam dari kelas 1- 4, dengan melalui tahap penyeleksian hingga tahap grand final, sehingga terpilihlah  10 peserta yang layak masuk ke babak final, 5 dari mereka menjadi peserta lomba Haflatul Tilawatil Qur`an dan 5  yang lainnya menjadi peserta lomba Haflatul Hifdzu Qur`an. Dalam Haflatul Tilawatil Qur`an juara pertama diraih oleh Aufa Rofiqi 1G, juara kedua diraih oleh Ikfi Dina  1 Int B, dan juara ketiga diraih oleh Akfina Nur Fadilah 3 H, dan untuk pemenang Haflatul Hifdzu Qur`an juara pertama diraih oleh Syukriah Azzahro 1 Int C, juara kedua diraih oleh Rufida Tachta 3 Int B, dan untuk juara ketiga diraih oleh Saira Sa`diyah 1 Int F.

             Acara ini berjalan lancar dengan dukungan anggota darussalam yang secara khidmat ikut serta dalam acara ini dan ditambah lagi dengan lantunan Kalam Illahi yang merdu yang dilantunkan para peserta yang dapat menenangkan jiwa bagi para pendengarnya dan yang membuat acara ini makin meriah dengan persembahan yang istimewa dari panitia yaitu rebana. Nafisah

Satu Suara Satu Jua Di Gontor Putri Kampus 3

0

            Karangbanyu- Apa yang kita lihat , kita dengar, dan kita rasakan itu adalah pendidikan. Salah satunya adalah lomba vocal group antar rayon. Ini adalah suatu pendidikan yang sangat mahal, akan tetapi proses berlatih untuk bertampil diatas panggung adalah pendidikan yang lebih mahal. Karena didalam proses berlatih terdapat rasa tanggung jawab pada masing-masing kelompok yang mengacu pada tanggung jawab individual demi meramaikan dan berlomba pada setiap kelompok.
Tepat hari Jum’at(20/17) Acara berlangsung di Auditorium dan dibuka langsung oleh Bapak Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 3 dengan menekan tombol pintu gerbang panggung kemudian diramaikan dengan Grand Opening pekan kreativitas santriwati kelas 6. Lomba ini minimal diikuti oleh 45 peserta dari setiap rayonnya. Dengan menyanyikan lagu kebanggaan gontor yang berjudul “Kenangan Santri Baru”, dan lagu kreasi kebersamaan setiap rayon.Yang dinilai dari lomba vocal group tidak hanya dari segi suara akan tetapi juga dari kekompakan gerakan dan kostum.
Gontor laksana emas yang terpendam dalam laut, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. jika santri mampu menyelam laut dengan memperhatikan seluruh kegiatan maka dapatlah dia emas yang terpendam dalam laut yaitu mengamalkan pendidikan dengan baik dan benar sesuai dengan harapan masyarakat. Dan diadakanya lomba ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melatih kepemimpinan, kekompakan serta kebersamaan santriwati. Acara ini berlangsung baik, lancar dan semarak kesemangatan santriwati yang membara. Miftahul Hamida

FESDA Putri Rekatkan Ukhuwah Antar Mahasiswi

0
IMG_3199
Peserta lomba Nasyid dari kontingen mahasiswi UNIDA reguler

Mantingan– Untuk kali pertama, Dewan Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor Kampus Mantingan gelar acara Festival Unida (FESDA) antar kampus Unida Putri di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1. Pada tahun sebelumnya, FESDA antar kampus putri hanya meliputi olahraga dan olahdzikir, dan perlombaan olahfikir dan olahrasa dilaksanakan di Kampus Pusat-Siman, Ponorogo.

Acara yang dimulai pada hari Jum’at (3/2) pukul 08.30 WIB telah resmi dibuka oleh Penanggungjawab Kampus UNIDA Putri, Ustadz Nur Hadi Ihsan dan disambut oleh Direktur KMI, Ustadz Dr. Fairuz Subakir Ahmad yang mewakili Bapak Pengasuh kampus Putri 1. FESDA tahun ini diikuti oleh mahasiswi semester 1-8 kontingen kampus UNIDA Putri kelas reguler (non-guru), kontingen mahasiswi Gontor Putri kampus 1, 2, 3, dan 5. Terdapat sekitar 30 perlombaan dan pertandingan yang diusung dalam kategori olahfikir, olahdzikir, olahraga, dan olahrasa.

fesda2
salah satu peserta lomba melukis sedang memperindah hasil karyanya

Perlombaan Olahfikir meliputi; Debat 3 bahasa (Arab, Inggris, Indonesia), Karya Tulis Ilmiah, Resensi Buku, Opini, Cerpen, dan Pembawa Berita 2 Bahasa (Arab&Inggris). Olahdzikir meliputi; Haflah Qiroah Murottalah, Mujawwadah, Hifdzul Qur’an, Rebana, dan Ceramah Agama. Perlombaan Olah rasa diantaranya; Kaligrafi, Melukis, Karikatur, Fotografi, Desain poster, Membaca Puisi, dan Short Movie. Serta perlombaan dan pertandingan Olahraga yaitu Lari estafet, Lari marathon, Cheer Leader, Basket, Volley, Memanah, Tenis Meja, Badminton, dan Kasti.

Meskipun bertempat di Gontor Putri Kampus 1, para juri perlombaan tersebut juga didatangkan dari kampus putri 2, 3, dan 5. Kejuaraan Fesda secara umum diraih oleh Kontingen Mahasiswi Gontor Putri kampus 1, sedangkan juara favorit diraih oleh Kontingen Mahasiswi UNIDA Putri kelas reguler.

“Meskipun ini adalah pertandingan dan perlombaan, namun jangan lupakan bahwa tujuan dari acara ini adalah sebagai perekat Ukhuwah Islamiyah” jelas Ustadz Nur Hadi Ihsan pada seluruh peserta Fesda Unida Putri tahun ini. kholifah

Nukhbatul Jami’ah : Pacu Mahasiswi Guru Bermental Sitti-l-Kull

0

Mantingan – untuk terus meningkatkan bakat, potensi, dan mentalitas mahasiswi guru, Dewan Mahasiswi (DEMA) Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri 1 adakan ajang Nukhbah Jami’ah pada Jum’at (20/1) lalu. Acara berlangsung di aula Kulliyatul Banat dan dihadiri oleh seluruh mahasiswi dan para wisudawati UNIDA Putri  yang ikut menyaksikan acara tersebut.

Sepekan sebelumnya, seluruh mahasiswi semester IV mengikuti essay test tentang pengetahuan umum, universitaria, dan kepondokmodernan. Dua orang mahasiswi dengan nilai terbesar setiap prodinya maju ke babak penyisihan dengan interview test. Dari situlah, nilai tertinggi akan mewakili prodinya dan bersaing melawan 7 mahasiswi lainnya dari prodi masing-masing. Keahlian, keterampilan dan kemampuan peserta yang mencakup olahpikir, olahdzikir, olahraga, dan olahrasa terus diuji untuk mengumpulkan skor menuju babak semi final. Selain peserta, terdapat pula lomba desain banner antar prodi yang juga memeriahkan acara Nukhbatul Jami’ah bagi para senator dan suporter.

8 mahasiswi terbaik perwakilan tiap prodi yaitu Hunaida El-Abidah (Pendidikan Agama Islam) dan Tsaniya Ruchamainnisaa (Pendidikan Bahasa Arab) dari Fakultas Tarbiyah. Fakultas Ushuluddin diwakili oleh Amirah Diniati (Perbandingan Agama), Umi Nur Hasanah (Ilmu Aqidah), dan Riskyana Wahyu Laras Pertiwi (Ilmu Qur’an dan Tafsir). Dari Fakultas Syari’ah yaitu Rifka Faiza (Perbandingan Madzhab dan Hukum) dan Fidya Turohmah (Hukum Ekonomi Syariah), serta Salsabila Ayu (Ekonomi Islam) dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen yang pada akhirnya dimenangkan oleh Rifka Faiza dari Prodi Perbandingan Madzhab dan Hukum Fakultas Syariah.

2
Al-Ustadz K.H. Ahmad Suharto, M.Pd.I menyampaikan sambutan acara Nukhbatul Jami’ah

Saat pembukaan ajang Nukhbatul Jami’ah Bapak Wakil Pengasuh menjelaskan; “Acara ini diselenggarakan untuk belajar dan menambah pengalaman bagi kalian semua. Tidak wajib kita nanti harus menentukan jadi apa. Yang wajib itu sekarang kita harus belajar. Belajar apa saja yang bermanfaat, mengambil khibrah (pengalaman) dan pelajaran. Kalau kita mempunyai cukup bekal dan semakin banyak bekal kita, semakin baik akhlak kita, semakin banyak wawasan kita, semakin banyak pengalaman kita, in sya Allah semakin bermanfaat. Apapun nanti profesi kita, tetap kita menjadi orang yang berguna dan bermanfaat”. kholifah

Kiai Syamsul: Ini adalah Latihan untuk Menjadi Guru

0

GONTOR–Sabtu (4/2/2017) lalu, seluruh Siswa Kelas 5 KMI Pondok Modern Darussalam mengikuti acara Pengarahan dan Pembagian Tugas Pelajaran Sore. Acara yang digelar di Balai Pertemuan Pondok Modern ini turut dihadiri oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Kegiatan ini harus diniati untuk mulai mengajar. Karena ini adalah latihan untuk menjadi guru,” tutur Kiai Syamsul di depan seluruh Siswa Kelas 5 KMI. Selain itu, Kiai Syamsul juga menjelaskan secara detail tentang rentetan kegiatan yang akan dihadapi oleh Siswa Kelas 5 terkait program mengajar. Beliau menyampaikan, jika di Kelas 5, sebagian dilatih menjadi guru pelajara sore, maka di kelas 6 nanti, semuanya akan mengikuti program tarbiyah amaliyah yang di mana hal tersebut adalah kegiatan wajib bagi seluruh Siswa Kelas 6.

Usai wejangan Kiai Syamsul, nama-nama pengajar pelajaran sore dari Siswa Kelas 5 KMI dibacakan oleh Guru Pembimbing Pelajaran Sore. Selanjutnya, diadakan pengarahan terkait sistem pelajaran sore dan pelaksanaan latihan pidato agar prosesnya nanti berjalan dengan baik serta sesuai rencana.binhadjid

Bersama 20 Orang Guru, Dubes Nurfaizi Kunjungi Gontor untuk Studi Banding

0

GONTOR–Inilah kali kedua, Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir periode 2012-2016, Komjen Pol. (purn) Dr. Nurfaizi Suwandi berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada hari Ahad (29/1) pukul 10.00 WIB, beliau tiba di lokasi dan disambut oleh Bapak Pimpinan PMDG, K.H. Syamsul Hadi Abdan dan Ketua I Badan Wakaf PMDG, Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. Penyambutan dilakukan dalam bentuk pertemuan formal di Aula Aligarh PMDG.

Bersama 20 orang guru Pondok Pesantren Minhaj ar-Rosyidin Jakarta, kunjungan beliau ini bertujuan untuk studi banding tentang pengelolaan PMDG. Karena, di samping sebagai Ketua Yayasan, beliau ingin mengajak para guru untuk turut serta menyusun langkah konkrit demi pengembangan ponpes tersebut. Baik dari segi disiplin, bahasa, kemandirian, hingga hal-hal sensitif yang berkaitan dengan keluarga.

Dalam sambutannya, K.H. Syamsul Hadi Abdan menyampaikan bahwa di Gontor ini tidak ada istilah gaji. Semua guru di Gontor tidak menerima gaji. Sontak para peserta rombongan kaget dan hampir tidak percaya. Melihat kondisi Gontor saat ini dengan jumlah guru dan santri yang begitu banyak.

Akhirnya, Kiai Syamsul pun melanjutkan penjelasannya. Yakni, memang di Gontor tidak ada gaji, namun kebutuhan dan kesejahteraan guru terpenuhi. Termasuk perkuliahan. Para guru mendapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Begitulah Gontor mengatur kehidupan para guru dan santrinya. Hal ini diharapkan, agar mereka dapat berjuang untuk pondok dengan maksimal dan penuh keikhlasan.

Pertemuan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab seputar peraturan yang ada di Gontor. Hingga muncul pertanyaan, bagaimana Gontor mengelola kurikulumnya. Sedangkan Gontor tidak berkiblat sedikitpun kepada pemerintah, baik DPAG maupun DIKNAS.

“Gontor mengurus kurikulumnya sendiri. Menyusun jadwal juga sendiri. Termasuk buku-buku pelajarannya, Gontor mencetak sendiri” ucap Pak Kiai saat menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta saat itu.

Di akhir pertemuan, rombongan menyempatkan diri berfoto dengan Kiai Gontor di depan Balai Pertemuan dan Masjid Jami’ Gontor. Sebelum akhirnya menuju UNIDA Gontor untuk bersilaturahim dengan Rektor Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Dan pada sore harinya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Gontor Putri Kampus 1, Mantingan, Ngawi. b.Dasasta

SPL IQT Unida Putri: Membentuk generasi Qur’ani

0

Dalam langkahnya menuju universitas yang bermutu dan berarti, UNIDA Gontor Kampus Mantingan mengadakan Studi Pengayaan Lapangan (SPL), pada tanggal 22-29 Januari 2017, mahasiswi UNIDA Putri jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) berkesempatan untuk mengadakan SPL di Ibukota negara Indonesia, yaitu  kota Jakarta.

Studi Pengayaan Lapangan ini diikuti oleh 18 orang mahasiswi dan 2 Pembimbing , yaitu Al-Ustadz Asif Trisnani, Lc.M.A. dan Al-Ustadz Rochmad, M.A. (Ka. Prodi IQT UNIDA Gontor), yang mengadakan studinya di berbagai objek yang tersebar di kota Jakarta, seperti Pesantren Bayt Qur’an, Pusat Studi al-Qur’an (PSQ), Majlis Ulama Indonesia (MUI), INSIST, Lajnah Pentashihan al-Qur’an di TMII, dan juga Majalah Gontor. Studi ini bertujuan untuk mempererat silaturrahmi antar lembaga, memperluas wawasan mahasiswi dalam perkembangan pembelajaran al-Qur’an, dan juga Studi Literature terhadap kitab-kitab Tafsir Klasik.

Dalam Studi ini, mahasiswi Unida sebagai Mahasiswi santri dituntut untuk tetap meneruskan generasi umat yang Qur’ani di tengah-tengah perkembangan zaman yang sangat cepat dan tantangan pemikiran yang sangat berbahaya, sehingga bisa menjadi ummatan wasathan (penengah) dalam pemahaman al-Qur’an secara radikal.

DSC_3426
Mahasiswi UNIDA Gontor di ruang pertemuan lajnah Pentashihan al-Qur’an
DSC_3313
penyerahan cinderemata kepada INSISTS

Dari kegiatan ini, diharapkan agar para mahasiswi UNIDA dapat menggali keilmuan yang tersebar luas di seluruh penjuru tanah air, membangun intelektual berbasis Qur’ani dan guna memperbanyak pengalaman dalam problematika akademik.nisa

Kang Abik: Membaca, Menulis dan Ubah Peradaban Dunia!

0

Habiburrahman el-Shirazy atau yang lebih akrab disapa Kang Abik menyempatkan bertandang ke Gontor Putri 1 untuk mengisi seminar motivasi menjadi penulis best seller. Acara ini merupakan salah satu rentetan acara yang diadakan oleh Bagian Diskusi Ilmiah dan Penerbitan dalam rangka meningkatkan kualitas menulis para santriwati. Seminar yang diadakan pada Senin (23/1) lalu diselenggarakan secara intensif dimulai pada siang hingga sore hari. Dengan peserta berjumlah sekitar 900 orang yang terdiri dari santriwati dan dewan guru, acara ini sukses membakar semangat membaca, menulis dan prihatin pada peradaban serta kemajuan.

Wakil Pengasuh Gontor Putri 1, Ustadz Ahmad Suharto mengutip beberapa ayat mengenai membaca dan menulis dalam sambutannya. Beliau menyatakan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan. Maka ambillah spi dan spirit dari seminar ini, bukan hanya sekedar abunya.

Penulis novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta ini memulai seminar dengan membeberkan benang merah antara sebuah tulisan dan peristiwa-peristiwa hebat sepanjang sejarah. Coretan proklamasi Bung Karno yang menyatakan kemerdekaan Indonesia, surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis di Saba’ yang pada akhirnya mengubah bangsa tersebut untuk tunduk kepada Allah, serta semua kejadian dan peristiwa di dunia yang sudah tertulis di lauhil mahfudz.

“Kita mengenal peradaban kuno dan bangsa yang educated adalah bangsa yang lebih dulu mengenal tulisan. Seperti Mesopotamia dan Mesir Kuno,” terangnya.

Alumni Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar ini juga mengatakan keprihatinannya pada tingkat membaca masyarakat Indonesia yang rendah. Ia pun menceritakan bahwa negara maju bisa dilihat dari seberapa besar penduduknya membaca. Di Indiana University, katanya, bahkan perpustakaannya dalam musim apapun selama itu musim aktif, maka akan buka 24 jam. Bahkan di musim dingin. “Persaingan peradaban ini akan menjadi lebih berat… berat sekali,” lirihnya.

Kang Abik kemudian mengutip kata Imam Ghazali, “Khudzi al-fikrah qabla an ta’khudzaka al-fikrah. Ambillah (ciptakanlah) sebuah ide atau inisiatif dan sampaikan ide tersebut. kalau tidak, anda akan dipaksa untuk mengkonsumsi dan memakai ide orang lain.”

Imam Suyuti, jelasnya, memberikan perhatian khusus kepada seorang penulis. Mengenai hukum menulis yang bisa menjadi fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, manfaat menulis, maupun pantangan bagi seorang penulis. Terlebih plagiat hukumnya dalam Islam seperti hukum sariqoh. Maka bagi para penulis harus bisa menjaga adab-adab tersebut.

“Modal menjadi penulis best-seller adalah niat yang kuat. Berikanlah definisi yang menyenangkan mengenai apa itu menulis.” Ia mencontohkan, bahwa menulis itu bukan hanya merangkai kata-kata saja, tapi bisa dengan makna aku memberangkatkan orang tua dan aku sendiri umrah. Menulis adalah kuliah S1 dan S2 dengan biaya sendiri. Bapak tiga anak ini juga menceritakan bahwa awal ia menulis adalah kepepet karena tidak ada dana lagi untuk kuliah. Maka ia menulis. “Menghasilkan uang dan menambah ilmu.”

Harapan terbesar Habiburrahman untuk seluruh peserta adalah meningkatkan kualitas membaca dan memulai menulis. “Terus belajar dan jangan khawatir kalau belum tahu teorinya. Yang penting, MENULIS!” (dee)

Hingga Wafatnya, Ustadz Tarwichi telah Setengah Abad Mengajar di Gontor

0

Guru kami telah pergi. Al Ustadz H. Tarwichi, yang sehari-hari duduk di kantor guru KMI, menerima laporan persiapan mengajar dari para guru, kemudian menuju kelas dengan motor khasnya, kemudian mengajar, khususnya siswa kelas 3 KMI, kini telah tiada.

Sabtu, 28 Januari 2017 pukul 04.30 WIB di Rumah Sakit Moewardi Solo, Ustadz Tarwichi menghembuskan nafas terakhir. Beliau dirawat di RS Moewardi, setelah sebelumnya dirawat di RS Kustati karena mengalami kecelakaan di Jembatang Keang, Jetis, Ponorogo. Sempat dioperasi di RS Kustati karena mengalami patah kaki, kemudian dioperasi kedua kalinya di RS Moewardi karena mengalami pendarahan di otak, lantas tak sadarkan diri selama 3 pekan, hingga akhirnya meninggal dunia pada Sabtu pagi.

Sosok Ustadz Tarwichi sungguh tak asing bagi para santri dan para alumni Gontor. Sejak beliau mulai mengajar di KMI tahun 1965, beliau tak pernah lepas dari dunia Fotografi. Karena memang tercatat dalam data, bahwa beliau adalah Bagian Dokumentasi (Fotografi) sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Beliau meninggalkan 2 orang anak, yakni Eny Sustyowati, S.Pd.I, dan Musthofa Santoso, S.E., serta 3 orang cucu.

“Hingga tutup usia, beliau adalah guru tertua di Pondok ini, usianya 77 tahun. Setelah almarhum, yang tertua selanjutnya adalah Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi, kemudian, saya sendiri,” tutur Kiai Syamsul Hadi Abdan di depan seluruh santri menjelang dishalatkannya Jenazah, Sabtu siang di Masjid Jami’.

Ada satu hal yang membuat para santri tertegun dari sambutan Kiai Syamsul. Yakni saat beliau menjelaskan, bahwa almarhum Ustadz Tarwichi telah mengajar di KMI Gontor selama 50 tahun. Rentang waktu yang jelas-jelas tidaklah sebentar. Setengah abad. Cukup bagi seorang manusia menulis sejarah dalam hidupnya. Dan beliau, dengan sahaja dan kerendahan hati, melewati masa-masa itu dengan penuh keikhlasan. Tentunya ada puluhan, ratusan, bahkan mungkin, ribuan santri yang pernah diajar almarhum di dalam kelas. Kenangan itu, kini tinggal kisah.

Semoga Allah SWT menerima segala amalan-amalan almarhum dan mengampuni segala dosanya. Dan semoga keluarga diberikan kesabaran dan ketabahan usai ditinggalkan oleh almarhum.binhadjid

 

 

SAKA Bhayangkara, ajari Santri Tertib Berlalu Lintas

0

KAMPUS 2 – Satuan Karya (Saka) Bayangkara merupakan kursus kepramukaan di bidang pengetahuan ketertiban berlalu lintas. Kursus ini dilatih langsung serta dibimbing selama 3 hari mulai tanggal (17/1) himgga (19/1) oleh kepolisian satuan lalu lintas Ponorogo yang memberikan pengetahuan tentang rambu-rambu, tata tertib dan apa yang harus di taati oleh para pengguna jalan. Kursus ini diikuti oleh peserta yang terdiri dari kelas 3, 3 intensif dan 4.

Kursus SAKA Bhayangkara
Petugas Kepolisian sedang menerangkan materi didepan peserta kursus

Pelatihan ini berada dibawah naungan Sat. Bimas (Satuan Bimbingan Masyarakat) kepolisian yang dibagi menjadi bagian lalu lintas, satuan bagian narkoba, serta Resort Kriminal (RESKRIM) dan ITTKP. Semua petugas kepolisian yang betugas mengisi acara ini berjumlah delapan orang mulai dari satuan lalu lintas, narkoba, ITTKP, dan Reskrim.

Salah satu tujuan diadakannya acara ini agar para peserta saka bhayangkara lebih mendalami, memahami peraturan rambu lalu lintas serta menjadi pelopor dalam menjaga ketertiban dan keamanan lalu lintas.

Saka bhayangkara dipondok ini hanya bagian dari orientasi, dan pengenalan saja, karena saka bhayangkara sesungguhnya akan memakan waktu berbulan-bulan hingga satu tahun lamanya. Para petugas kepolisian sangat berharap kepada peserta bhanyangkara agar bisa menjadi pelopor keselamatan lalu lintas, serta menjadi pribadi yang kokoh dan berguna bagi masyarakat dan diri sendiri nantinya.fianmahdy