Home Blog Page 534

Pandangan K.H. Imam Zarkasyi tentang Karya

0
7. Mesir bersama KH. Imam Zarkasyi
Kunjungan K.H. Imam Zarkasyi ke Mesir

Sebelum memahami karya-karya yang dihasilkan KH. Imam Zarkasyi, barangkali layak kiranya jika terlebih dahulu memahami sedikit banyak pemikiran beliau tentang makna karya. Karya, dalam pandangan K.H. Imam Zarkasyi, secara mendasar dihubungkan dengan prinsip amal jariyah yang membawa manfaat kepada orang lain. Semakin besar manfaat karya seseorang semakin besar nilai amal jariyah dari karya itu. Sehingga, karya yang bermanfaat merupakan salah satu bentuk ibadah dan realisasi ketakwaan serta menjadi ukuran kebesaran seseorang.
Seperti yang selalu menjadi tekadnya ketika mulai merintis sistem pesantren modern, beliau mengatakan, “Apabila saya tidak berhasil mengajar memalui pesantren, maka saya akan mengajar dengan pena.” Hal ini menunjukan bahwa karya, dalam pandangan K.H. Imam Zarkasyi , merupakan amal yang bermanfaat bagi orang lain, bisa berupa keberhasilan anak didiknya atau hasil karya tulis.
Pernah terjadi dialog antara K.H. Imam Zarkasyi (Kyai) dan salah seorang mantan anak didiknya (santri):

Kyai : Kamu sudah mengajar?
Santri : Belum.
Kyai : Mati, kamu!
Lalu disambung lagi.
Kyai : Sudah menulis atau menterjemahkan buku?
Santri : Belum.
Kyai : Mati kamu!
Kemudian disambung lagi.
Kyai : Sudah kawin?
Santri : Belum!
Kyai : Mati, kamu!

K.H. Imam Zarkasyi dalam dialog tersebut mengingatkan santrinya, bahwa dalam hidup ini seorang hendaknya berkarya. Mengajar, menulis, atau menterjemahkan buku, berarti ia menyebarkan ilmu, dan itulah karya.

Karya yang bermanfaat seringkali beliau jadikan sebagai ukuran orientasi dan target seseorang ketika memilih suatu bidang kehidupan. Pernah ada salah seorang santri meminta izin untuk menjadi lurah. Pertanyaan yang pertama diajukan beliau adalah apa karya yang bermanfaat (amal jariyah) yang akan disumbangkan untuk masyarakatnya sebagai seorang lurah kelak.

Bagi beliau, Seorang santri yang mengajar mengaji satu atau dua orang dengan ikhlas di surau, di tengah hutan, adalah orang besar, karena ia telah berkarya dan bermanfaat bagi orang lain di tengah hutan, yang mungkin orang lain belum tentu mau untuk melakukannya.

Bahkan hakikat ijazah seorang santri, bagi beliau, adalah pengakuan masyarakat terhadap karyanya yang bermanfaat di tengah-tengah mereka.

Itulah pokok-pokok pikiran K.H. Imam Zarkasyi tentang karya seseorang. Atas dasar pokok-pokok tersebut, K.H. Imam Zarkasyi telah meninggalkan karya-karya besar lagi bermanfaat sampai detik ini. Beberapa diantara banyak dari kalangan pendiri dan pimpinan pondok pesantren, baik salaf atau modern, kalangan pemikir, cendikiawan, dan politisi, dari kalangan pengusaha, entrepreneur, dan manajer. Beberapa diantaranya juga adalah tokoh-tokoh yang tidak dikenal, dan barangkali tak suka dirinya ditonjol-tonjolkan, yang bekerja dengan gigih dan ikhlas, yang karyanya amat besar dan bermanfaat di tengah-tengah masyarakat, yang bisa jadi lebih besar dari karya para tokoh masyarakat lainnya.

Adapun karya beliau dalam bentuk tulisan, diantaranya adalah;

  1. Durus al-Lugah al-‘Arabiyyah I dan II, merupakan buku pelajaran bahasa Arab Dasar dengan sistem Gontor;
  2. Kamus Durus al-Lugah al-Arabiyyah I dan II;
  3. Al-Tamrinat I, II dan III, merupakan buku latihan dan pendalaman qawa’id (kaidah-kaidah tata bahasa), uslub (gaya bahasa), kalimat, dan mufradat (kosa kata);
  4. Dalil al-Tamrinat I, II dan III;
  5. Amtsilah al-Jumal I dan II, merupakan buku yang berisi contoh-contoh I’rab dari kalimat lengkap yang benar;
  6. Al-Alfazh al-Mutaradifah, buku tentang sinonim beberapa kata dasar bahasa Arab.
  7. Qawa’id al-Imla, buku tentang kaidah-kaidah penulisan bahasa Arab secara benar;
  8. Pelajaran Membaca Huruf Arab I A, I B, dan II, dalam bahasa Jawa;
  9. Pelajaran Tajwid, dalam bahasa Indonesia, buku pelajaran tentang kaidah membaca Al-Qur’an secara benar;
  10. Ilmu Tajwid, dalam bahasa Arab, lanjutan pelajaran tentang kaidah membaca Al-Qur’an secara benar;
  11. Bimbingan Keimanan, buku pelajaran aqidah untuk tingkat dasar bacaan anak-anak;
  12. Ushuluddin, buku pelajaran akidah ahlusunnah wal jama’ah untuk tingkat menengah dan tingkat lanjutan;
  13. Pelajaran Fiqih I dan II, buku pelajaran fiqh tingkat menengah dan dapat dipergunakan untuk praktik beribadah secara praktis dan sederhana bagi pemula;
  14. Senjata Pengandjoer, ditulis bersama kakak kandungnya, K.H. Zainuddin Fanani;
  15. Pendoman Pendidikan Modern;
  16. Kursus Agama Islam ditulis bersama kakaknya, K.H. Zainuddin Fanani;
  17. Beberapa makalah dan pokok pikiran, yang bisa dibaca pada bagian II: Pikiran dan Gagasan K.H. Imam Zarkasyi.

Lihat buku K.H. Imam Zarkasyi dari Gontor Merintis Pesantren Modern, 1996

Rewritten by elfah on Saturday, November 23, 2013, at Secretary Office.

Fakultas Syari’ah Adakan Study Tour Untuk Mahasiswa dan Mahasiswi Semester 5

0

 

Para peserta Study Tour berpose di depan gedung Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Para peserta Study Tour berpose di depan gedung Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

GONTOR–Dalam rangka meningkatkan pengetahuan para mahasiswa khususnya yang sudah berada di semester 5, Fakultas Syari’ah Institut Studi Islam Darussalam (ISID) mengadakan rangkaian acara study tour ke berbagai daerah. Para peserta diambil dari para mahasiswa serta mahasiswi semester 5 dari masing-masing program studi, yaitu Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH), Hukum Ekonomi Syari’ah (HES), dan Ekonomi Syari’ah (ES). Namun tempat dan tujuan study tour ini terpisah antara mahasiswa dan mahasiswi.

Daerah-daerah tujuan yang dikunjungi para mahasiswa antara lain Yogyakarta dan Malang. Sementara untuk mahasiswi, mereka mengunjungi kota Semarang untuk acara ini. Untuk program studi Ekonomi Syari’ah yang bertujuan ke Yogyakarta, study tour ini diikuti oleh mahasiswa dari kampus ISID Siman, Robithoh, dan Magelang yang berjumlah 53 orang dengan 3 orang pembimbing, yaitu Al-Ustadz Ahmad Fajaruddin, Al-Ustadz Andy Triawan, dan Al-Ustadz Himmah Azhar Latif.

Acara ini berlangsung selama empat hari terhitung mulai hari Selasa (19/11) sampai hari hari Jum’at (22/11). Para mahasiswa diberi kesempatan untuk mengungjungi berbagai objek dan tujuan, antara lain Takaful keluarga, Rumah Zakat, Bank Indonesia (BI), Bank Mu’amalat, Dinas Perpajakan, sampai usaha herbal Bina Syifa yang semuanya bertempat di Yogyakarta.

Para peserta study tour ketika mendengarkan presentasi dari staf Bank Muamalat cabang Yogyakarta
Para peserta study tour ketika mendengarkan presentasi dari staf Bank Muamalat cabang Yogyakarta

Para peserta dengan antusias yang tinggi mengikuti acara ini, terlihat dari keaktifan dan keikutsertaan mereka dalam acara ini dengan banyak menanyakan berbagai macam pertanyaan yang berkaitan dengan objek yang dikunjungi.

Dengan diadakannya acara seperti ini, diharapkan para peserta dapat mengambil manfaat dan meningkatkan kemampuan mereka dalam mengambil ilmu dan pengetahuan yang ada. Serta dapat membuka wawasan tentang macam-macam pekerjaan dan sistematika bisnis dari berbagai macam bidang.Fei

Gontor 2 Raih Juara Umum Dalam Olimpiade Muharram

0
Salah satu suasana perlombaan di Olimpiade Muharram
Salah satu suasana perlombaan di Olimpiade Muharram

MADUSARI–Dalam rangka memeriahkan acara kemahasiswaan di bulan Muharram ini, Gontor 2 terpilih menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan acara tahunan antar kampus Institut Studi Islam Darussalam (ISID), yaitu Muharram Olympiad. Acara yang berlangsung selama dua hari (Kamis–Jum’at/14–15 November) ini dibuka oleh Al-Ustadz Drs. H. Mulyono Jamal pada hari Kamis siang. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan bahwa walaupun hanya dilaksanakan selama dua hari, namun yang terpenting adalah adanya nilai-nilai yang tertanam di dalamnya, antara lain adalah tradisi keilmuan.

Perlombaan ini terdiri dari beberapa kategori; antara lain intelektual, teknologi dan informasi, keterampilan, ketangkasan, dan spiritual. Adapun peserta perlombaan ini merupakan anggota pilihan dan utusan kampus-kampus Institut Studi Islam Darussalam Gontor dari setiap wilayah. Dengan bertemakan “Membangun Muslim Yang Intelek Melalui Teknologi, Keterampilan dan Ketangkasan yang Berlandaskan Iman Dan Taqwa”, acara ini mengundang antusias yang tinggi dari para mahasiswa tiap-tiap kampus.

Dari kategori intelektual, yang dilombakan adalah lomba debat interaktif tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia), lomba resensi buku, lomba karya ilmiah, dan lomba opini. Dari kategori teknologi dan informasi yang dilombakan adalah lomba majalah dinding, lomba membuat profil ISID, lomba membuat short movie, dan lomba hunting fotografi. Dari kategori keterampilan dan seni yang dilombakan adalah beladiri, kaligrafi, dan mural.

Adapun kategori yang paling ramai diikuti oleh para mahasiswa adalah kategori ketangkasan, yang meliputi perlombaan sepak bola, basket, bola voli, sepak takraw, futsal, tenis meja, dan bulutangkis. Di samping itu ada juga kategori spiritual yang melombakan adzan dan iqomah, qira’ah mujawwadah, dan lomba nasyid.

Akhirnya kampus Gontor 2 keluar sebagai juara umum setelah berhasil mendominasi hampir seluruh perlombaan yang ada. Pemenang dimumumkan pada acara penutupan yang dilaksanakan pada hari Jum’at(15/11) malam di lapangan sintesa kampus Gontor 2 dengan perincian juara per-kategori sebagai berikut:
Bidang Spiritual
Gontor 3 (Juara 1) dan Gontor Pusat (Juara 2)
Bidang Intelektual
Gontor 2 (Juara 1) dan Gontor 3 (Juara 2)
Bidang Kesenian
Gontor 2 (Juara 1)
Bidang Kesenian
Gontor Pusat (Juara 1) dan ISID Siman (Juara 2)
Bidang Olahraga
ISID Siman (Juara 1) dan Gontor Pusat (Juara 2)
Bidang Teknologi dan Informasi
Gontor 2 (Juara 1) dan Gontor 6 (Juara 2)

Dengan hasil perlombaan di atas, maka para mahasiswa ISID kampus Gontor 2 berhak menjadi juara umum dengan total perolehan nilai sebesar 1.150, diikuti oleh ISID Siman dengan total nilai 1.015 dan kampus Gontor Pusat dengan nilai 920.

Diharapkan dengan terselenggaranya acara ini dapat menumbuhkan rasa Ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan bakat, minat, prestasi, dan semangat sportifitas Mahasiswa Guru dan Mahasiswa Santri Institut Studi Islam Darussalam dalam aspek kegiatan kemahasiswaan yang bersifat akademis dan non-akademis.Fei

Gontor Ajari Siswa Akhir Membuka Kitab Kuning

0

fathul kutubKitab Kuning yang sudah menjadi tradisi setiap pondok pesantren tidak hanya diajarkan di pondok–pondok salaf, melainkan pesantren modern seperti Gontor juga ikut mempelajari dan menelusuri ajaran–ajaran yang ada didalamnya, akan tetapi Gontor memberi istilah Fathul Kutub dalam program ini.  “Di Gontor juga diajari kitab kuning, akan tetapi cara kita mengajarkan kitab kuning tidak sama dengan pondok–pondok salaf”, tutur K.H. Syamsul Hadi Abdan dalam pembukaan Fathul Kutub pada Jum’at (15/11) di Balai Pertemuan.

Program yang dilaksanakan tiap tahun ini bertujuan untuk meningkatkan bahasa arab dan wawasan keilmuan serta wawasan tentang literatur–literatur Islam klasik maupun modern. “Seluruh siswa akhir dituntut untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam berbahasa arab selama program ini berlangsung”, tutur Saibani selaku pembimbing Fathul Kutub. Ada 4 materi yang dibahas dalam program ini, antara lain, Tafsir, Fiqih dan Usul Fiqih, Hadits, Aqidah dan Akhlaq.

Fathul Kutub yang dijalani siswa akhir berbeda dengan yang dijalani siswa kelas lima. Beberapa permasalahan yang diberikan kepada siswa akhir bersifat lebih luas, sehingga tidak terpaku pada satu buku untuk mencari permasalahan tersebut. Adapun permasalahan yang diberikan kepada siswa kelas lima bersifat terbatas dan hanya menggunakan satu buku saja untuk mencari permasalahan yang dibahas.

Untuk mempermudah jalannya acara, seluruh siswa akhir dibagi menjadi 48 kelompok, dan di setiap kelompok terdiri dari 15 sampai 17 siswa. Sistem yang digunakan dalam program ini adalah penulisan pembahasan dan diskusi. Setiap kelompok akan mendapatkan permasalahan yang berbeda–beda sesuai dengan bidangnya, setelah itu dimulai dengan pencarian buku–buku yang bersangkutan dan menulisnya sebagai persiapan diskusi. “Dalam diskusi ini mereka dituntut untuk menggunakan bahasa arab selama berbicara, meskipun sulit, mereka harus tetap terbiasa”, tutur Faqih Nizom selaku pembimbing siswa akhir.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini, ditutup dengan program diskusi umum bermaterikan “Jihad”. Dengan pembicara Abdul Karim (6B), Rivaldy (6C), dan Iqbal Maulana (6B). Setelah itu diteruskan dengan penulisan kesan–kesan selama acara berlangsung dan ditutup oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. toms

Kasyful Mu’jam, Implementasikan Penguasaan Bahasa Arab Siswa Kelas 5 KMI

0

Kasyful Mu'jam, ImplementasikanGONTOR–Selepas Ulangan Umum Awal Tahun 1435 yang berlangsung selama 5 hari, siswa Kelas 5 KMI mulai dihadapkan kembali dengan Kasyful Mu’jam. Acara berlangsung pada Senin–Rabu malam (18–20/11). Kamus yang diujikan adalah al-Munjid  fi al-Lughah wa al-‘Alam terbitan Daar al-Masyriq, Beirut Libanon dan kamus al-Mu’jam al-Mufahras li alfaadzi al-Qur’an al-Karim terbitan Daar al-Ma’arif Beirut, Libanon. Keduanya adalah kamus utama yang banyak digunakan santri-santri Gontor dalam mencari kosakata bahasa Arab dan ayat-ayat al-Qur’an.  Khususnya, kamus ini mulai familiar dikalangan siswa kelas 3 Intensif dan kelas 4 KMI ke atas.

Sebelum acara pada Senin malam, KMI telah berkoordinasi dengan Bapak Wakil Direktur KMI, al-Ustadz H. Farid Sulystio, Lc. mewajibkan seluruh siswa kelas 5 hadir dalam acara pengarahan acara Kasyful Mu’jam di Masjid Jami’ lantai 2. Al-Ustadz H. Farid Sulystio, Lc. dan al-Ustadz Mujib Abdurrahman, Lc. sebagai pemberi orientasi tentang tata cara menggunakan kedua kamus itu dengan baik, benar, dan tepat. Bapak Wakil Direktur KMI menegaskan, “dalam mencari makna kalimat, haruslah memperhatikan siyaq al-kalimah (konteks kata) . Karena setiap kosakata pada kamus Munjid memiliki banyak makna yang kompleks, maka carilah makna yang paling tepat dan benar”.

Acara diikuti 597 orang siswa Kelas 5 KMI, dengan tujuan tidak lain adalah implementasi siswa Kelas 5 KMI dalam penggunaan kedua kamus tersebut sehari-hari baik di kelas dan asrama. Mengingat mereka adalah pengurus di asrama. Penggunaan, praktek  dan memberikan suri tauladan berbahasa kepada santri-santri di asrama merupakan hal yang mutlak untuk diaplikasikan. elfah

Gontor Kirim Utusan ke German Oriental Conference

0

Kunjungan ke JermanDARUSSALAM – memenuhi undangan German Oriental Conference dari Westfalische Wilhelms – Universitat, Munster. Pondok Modern Darussalam Gontor mengirim utusan dalam The 32nd German Oriental Conference of The German for Oriental Studies, mereka adalah Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., dan Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A. Acara berlangsung dari Senin – Jum’at (23-27/9) di Universitas Munster, Jerman.

Kader-kader terbaik tersebut menyampaikan makalah dengan tema “Pondok Pesantren”. Pertama, Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. dengan judul “al-Harakah as-Salafiyah bimisra ‘ala al-Mujaddidin biindunisiya, fi Tathwiri at-Tarbiyah al-Islamiyah”. kedua, Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. dengan judul ““Pondok Pesantren”Islamic Education System in Indonesia (Maintaining Tradition and Responding Modernity)”. Makalah tersebut sebelumnya diajukan dalam bentuk proposal kepada panitia penyelenggara sampai kemudian disahkan menjadi salah satu tema pembahasan seminar.

Selain Indonesia, 32nd German Oriental Conference mengundang beberapa negara Islam di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei untuk mengirimkan utusannya. Seminar kali ini merupakan salah satu dari beberapa seminar yang harus dihadiri pada tahun ini di Benua Biru, sekaligus bukti keikutsertaan dan peran Gontor dalam kancah internasional mengusung pendidikan karakter pesantren di Indonesia. elfah

Ulangan Umum Pertengahan Tahun Telah Tiba

0
Suasana Ulangan Umum Pertengahan Tahun di Gontor
Para siswa mempersiapkan diri sebelum Ulangan Umum dimulai.

GONTOR–Mulai Sabtu (9/11) ini, Kulliyatu-l-Mu‘allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor melaksanakan al-Ikhtibar al-‘Am li Nishfi as-Sanah al-Awwal atau Ulangan Umum Pertengahan Tahun untuk Tahun Ajaran 1434-1435/2013-2014. Program evaluasi pembelajaran semisal pre-test ini diselenggarakan selama lima hari hingga Rabu (13/11) mendatang dengan format ujian tulis.

Kegiatan ini diikuti seluruh siswa KMI dari Kelas 1–5, dengan diawasi para wali kelas yang dibantu 1–2 orang guru tambahan untuk mengawas di tiap-tiap kelas. Sementara siswa akhir, Kelas 6 KMI, dijadwalkan mengikuti pelajaran di kelas masing-masing seperti hari-hari biasa.

Melalui program ini, KMI berupaya meningkatkan prestasi belajar siswa selama satu semester. Guru-guru pun dapat mengukur kemampuan setiap anak didik dalam memahami dan menguasai pelajaran selama tiga bulan ini. Merujuk hasil Ulangan Umum nanti, dewan guru akan segera mengevalusi belajar siswa sebagai persiapan menghadapi Ujian Pertengahan Tahun di bulan Desember nanti.

Demikian halnya, siswa-siswa akan menyadari kekurangan belajar mereka agar segera dibenahi sebelum waktu ujian tiba. Tentunya, persiapan yang matang akan membuahkan hasil yang memuaskan dan prestasi belajar yang membanggakan. shah wa

Bersyukurlah Hidup di Dunia Pesantren

1

Bersyukurlah Hidup di Dunia PesantrenBersyukurlah jika saat ini kita berada di tengah-tengah pesantren. Kalaulah bukan satu-satunya, maka salah satu kehidupan yang paling ideal adalah kehidupan dunia pesantren.

Bayangkanlah, betapa sulitnya menemukan keikhlasan di kantor, pasar, sawah, markas besar, hingga lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Sungguh, sulit sekali! Inilah kehidupan. Setan berkeliaran di mana-mana untuk merapuhkan keikhlasan kita. Ia memang tidak pernah pensiun untuk menggoda siapa saja, hingga seorang kiai sekalipun. Namun, di pesantren masih bisa kita temukan keikhlasan, kejujuran, hingga kebersamaan. Inilah pesantren.

Akan tetapi, tidak semua wali murid bisa memasukan anaknya ke pesantren. Banyak yang tidak tega. Banyak yang merasa berat melepas anak kesayangan mereka terpisah jauh di pesantren, jauh dari pandangan orang tua.

Pesantren sangatlah unik dengan nilai-nilai orisinal yang tidak mudah diintervensi pihak manapun juga. Pesantren berdiri untuk membentengi umat dari moral-moral penjajah. Jika terdapat pesantren yang tidak bersikap anti penjajah dan penjajahan, maka itulah pesantren palsu yang berkedok lembaga pendidikan.

Sekarang, kita berada di zaman yang penuh dengan krisis kepercayaan diri. Banyak sekolah yang tidak mengajarkan siswa-siswanya untuk percaya diri. Generasi ini memiliki kepercayaan diri yang rendah. Mereka tidak percaya dengan kemampuannya sendiri hingga harus menyontek di setiap ujian. Maka, kembangkanlah potensimu agar kepercayaan dirimu tumbuh.

Saat kamu sudah berjuang di luar dunia pesantren, pandai-pandailah membedakan antara vitamin dan formalin. Jangan mudah tertipu. Bawalah nilai-nilai pesantren yang kamu terima dan resapi selama ini. Sampai kapanpun, nilai-nilai pesantren tidak akan berubah. Nilai-nilai pesantren tidak boleh berubah dan tidak boleh ada yang berubah.

Disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal pada acara Khataman Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sabtu, 7 Juli 2012.

Pak Zar: Jangan Tutup Mata

0

Kenalilah pondokmu dengan sebaik-baiknya. Kenalilah Pondok Modern Darussalam Gontor dengan membaca buku-buku ini:

  • Pekan Perkenalan I
  • Pekan Perkenalan II
  • Brosur Penjelasan Singkat tentang Pondok Modern
  • Buku Sejarah Perumahan dan Pergedungan di Pondok Modern Gontor
  • Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Badan Wakaf
  • Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern
  • Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IKPM
  • Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga OPPM

Janganlah menjadi orang yang tidak tahu-menahu keadaan di kiri dan kananmu. Di Pondok Modern Gontor kamu harus tahu segala-galanya. Kamu haruslah memahami sebaik mungkin isi buku-buku tersebut, agar dapat menjawab segala pertanyaan dari luar dan mampu menjelaskan segala hal terkait pondokmu.

Barangkali, di kampungmu sendiri terdapat beberapa organisasi. Kamu harus mengetahui dengan pasti organisasi apa saja yang ada di tempatmu itu, hingga mengenal orang-orang yang menjadi para pengurusnya. Jangan bersikap tidak tahu-menahu. Janganlah bertingkah seperti sekelompok manusia yang tidak mau menoleh sedikit pun, tidak mau tahu, seperti yang digambarkan Al-Qur’an dalam Surat Al A‘raf ayat 179, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami. Dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat. Dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi daripada itu. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Memang, di pondok ini, kita tidak berpolitik, tapi kita tidak sampai menutup mata. Kita harus mengetahui segala hal, jangan main tutup mata dalam hal apapun juga. Kalaulah kamu terlibat aktif sebagai anggota atau pengurus suatu organisasi, maka jangan menutup mata terhadap organisasi lain.

Orang yang berpolitik tutup mata akan mudah disesatkan. Akhirnya, orang itu benar-benar tersesat. Nyatanya, memang sudah banyak yang kehilangan arah dan penunjuk jalan. Jangan sampai seorang muslim berubah halauan menjadi komunis. Atau, seorang anak kiai menjadi pastur akibat tidak mau tahu, akibat politik tutup mata. Na‘udzu billah min dzalik!

Sekali lagi, Gontor tidak berpolitik model tutup mata, tetapi kita berwawasan luas, mencermati segala hal di sekeliling kita, tidak sampai tutup mata, agar tidak sesat dan menyesatkan. Sikap kita inilah yang dibenarkan setiap tamu yang berkunjung ke pondok ini. Para tamu dari berbagai negeri, termasuk tamu-tamu dari Belanda, Jerman, Australia, dan lain-lain, mengatakan, “Itu yang benar.”

Diwasiatkan oleh K.H. Imam Zarkasyi dalam sebuah manuskrip.

Rewritten by Shah Wa on Saturday, November 9, 2013, at Madrasah Office.

Pemimpin, Bukan Sekedar Manager

0

Pemimpin, Bukan sekedar managerPak Syukri (panggilan akrab) sering menasihatkan: Pemimpin di Gontor, adalah pendidik, yang setiap saat mengarahkan, memberikan tugas , melatih, mengawal, memberikan tauladan dan mendo’akan.”sampai detik ini, walaupun beliau masih sakit, jiwa pendidik, pengawal, dan suri tauladan nampak jelas tersirat dari tatapan mata beliau. Beliau selalu menyempatkan diri untuk mengikuti perkumpulan guru-guru KMI (Kemisan) di aula gedung Rabithah. Dalam buku ”Bekal untuk Pemimpin” beliau telah banyak menjelaskan terkait hal di atas. Maka, tidaklah salah bila dikatakan, bahwa pemimpin juga merupakan manager atau administrator, yaitu yang menata seluruh totalitas kehidupan pondok, akan tetapi secara khusus, pola kemimpinan di Gontor bukanlah kepemim-pinan managerial atau administratif saja  yang hanya mengatur, menyelenggarakan dan membagi tugas rutin kemudian menunggu laporan dan berakhir memberkan keputusan-keputusan yang bisa dilakukan beberapa jam saja. Dalam kamus Gontor, model kepemimpinan seperti ini sama dengan manager. Ditinjau dari fungsinya, leader atau pemimpin memiliki fungsi yang berbeda. Dalam ilmu manajemen. Manager berfungsi mengatasi kerumitan rutinitas pragmatis, dan hanya melaksanakan unsur-unsur organisasi yaitu POACE (planning, organizing, Actuating, Controlling and Evaluating). Sementara leader atau pemimpin berfungsi mengatasi perubahan dan memahami betul atas perubahan-perubahan tersebut di masa depan (future). Di samping bahwa pemimpin juga berfungsi sebagai motivator, supervisor, evaluator, bahkan terjun langsung dan ikut campur dalam seluruh tata kehidupan di pondok.

Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian seorang kandidat doctor tentang budaya organisasi di pesantren. Hasilnya menunjukkan, bahwa kepemimpinan yang ideal dikarenakan banyak data menunjukkan adanya keseimbangan antara fungsi   manager yang kuat dengan kuatnya fungsi leader, buktinya di Gontor terlihat rapi dalam rutinitas aktivitas sehari-hari, tapi juga kuat dalam komitmen melaksanakan nilai-nilai yang disertai dengan uswatun hasanah.

Dalam pengalaman memimpin Gontor selama 25 tahun lebih ini, tugas yang paling banyak menyita waktu adalah mengkader para santri dan guru. Memanggil, mengarahkan, memberikan tugas dan mengawalnya setiap saat. Dengan demikian, pemimpin harus memiliki integritas tinggi, totalitas jiwa dan raga untuk terus mengembangkan pesantrennya. Setiap saat, yang dipikirkan dan dikerjakan adalah untuk kemajuan pondok ini. Seperti inilah karakter pemimpin Gontor yang selalu dinamis dan aktif.

Selain itu, bahwa seluruh apa yang ada di Gontor ini terjadi proses pimpin memimpin, tidak ada yang bisa bebas semaunya sendiri, semuanya ada tatanannya dan aturannya. Dan untuk itu semuanya, siapapun yang hidup di Gontor harus mengalami proses kepemimpinan. Siap memimpin dan siap dipimpin dengan segala keikhlasannya.

Di samping itu, proses kaderisasi yang sangat efektif adalah masa-masa umur  seperti di KMI, yaitu belasan tahun. Karena masa tersebut adalah masa pembentukan mental dan karakter, bila masa ini berjalan dengan baik, maka masa selanjutnya akan mudah menjadi yang lebih baik. Demikian juga di KMI, guru tidak saja menjadi pengajar, tetapi dia  menjadi pendidik, dan juga pembantu pondok untuk proses pelatihan diri menjadi pejuang, dan sekaligus menjadi mahasiswa, sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas wawasan mereka.

Itulah mengapa seluruh santri dan guru harus memahami atau mengerti kepondokmodernan, karena ini dasar atau kunci untuk menjalankan kehidupan di pondok. Pemahaman yang benar, pengertian yang tepat terhadap Pondok akan melahirkan pola fikir yang benar, sikap hidup yang positif, tingkah laku yang baik, bahkan gaya hidup yang produktif.

Pengertian dan pemahaman yang benar dan  tepat, juga akan melahirkan etos kerja yang tinggi, sedangkan etos kerja akan menumbuhkan militansi. Dengan demikian, apapun yang dikerjakan dan ditugaskan akan terasa ringan, asyik dan menyenangkan. Mengerti apa itu pondok, mau dibawa kemana, bagaimana caranya menata kehidupan, mengembangkan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat itu bagaimana. Semuanya harus dimengertikan berkali-kali bahkan seribu kali. Sekretaris Pimpinan