Hukum timbal-balik itu selalu berlaku didunia ini, barangsiapa yang ingin do’a maka do’akanlah orang lain terlebih dahulu, barangsiapa yang ingin harta maka sedekahkanlah yang kita punya, barangsiapa yang ingin ilmu maka amalkan dan ajarkanlah ilmumu, dan barangsiapa yang ingin cinta-Nya maka belajarlah untuk selalu mencintai-Nya, dan seterusnya hukum ini tidak akan pernah hilang didalam diri setiap manusia.
Di Gontor, hukum ini sudah muncul dengan sendirinya. Seorang Guru selalu mendo’akan santri-santrinya agar selalu menjalani hidupnya dengan baik, dan seorang santripun dengan sendirinya akan selalu mendo’akan gurunya tanpa harus diminta. Inilah hukum timbal-balik yang akan terus abadi di Gontor ini, keikhlasan seorang guru mengajarkan santrinya, akan selalu diiringi dengan keikhlasan seorang santri menerimanya.
Namun seharusnya bukan hanya di Gontor hukum ini berlaku, dalam setiap sisi kehidupan yang dijalani oleh manusia, hukum ini akan kekal dan tidak akan pernah hilang. Kalaupun kita tuliskan contoh dari hukum ini satu per satu, sungguh 5 jilid buku pun atau lebih tidak akan sanggup untuk menampungnya.
Ya, beginilah hukum alam, beginilah hukum Allah. Allah menciptakan alam semesta ini beserta isinya dengan perencanaan yang luar biasa, dan tidak akan pernah ada yang menandingi-Nya. Allahu Akbar! Brahma84
BOGOR—Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal beserta keluarga berkesempatan menghadiri undangan acara wisuda siswa kelas 6 Pondok Pesantren (PP) Rafah Bogor, Ahad (16/6) lalu. Beliau berharap, alumni-alumninya dapat menjadi pelopor di segala bidang kehidupan.
Sementara itu, dalam sambutannya, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengucapkan selamat kepada K.H. Muhammad Nasir Zein, M.A. atas keberhasilannya mencetak para alumni yang siap berjuang di masyarakat. Beliau menambahkan, “Jangan lupa untuk berdo’a, minta do’a, dan mendoakan….”. Selain itu, beliau juga menghadiri acara tarhib Ramadhan sekaligus peletakan batu pertama pembangunan gedung Darul Ulum 1, yang akan digunakan untuk lokal kelas dan laboratorium. Inilah saatnya para santri berkiprah untuk membangun masyarakat serta memajukan bangsa dan negara. Fei
Para santri serius belajar menjelang Upacara Pembukaan Ujian Tulis Akhir Tahun
GONTOR – Guna mengetahui kualitas belajar siswanya, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) mengadakan Ujian Tulis selama 10 hari untuk Siswa Kelas 1–5. Senin (17/6/13) pukul 06.15 WIB, kegiatan ini dibuka dengan pesan dan nasihat dari K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan PMDG, yang dilanjutkan dengan pembacaan beberapa disiplin pelaksanaan ujian yang disampaikan oleh K.H. Masyhudi Subari —Bapak Direktur Kulliyatu-l-Mu’allimina-l-Islamiyyah (KMI) PMDG— dan diakhiri dengan doa, yang dipimpin oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan, Pimpinan PMDG.
Dalam nasihatnya, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan, bahwa, ujian di PMDG yang diikuti oleh 3.404 siswa ini, tidak sama dengan ujian yang diadakan oleh lembaga lain, karena yang diujikan di Gontor bukan hanya kemampuan akademis siswa yang hanya memprioritaskan hasil/nilai saja, tetapi mencakup akhlak, batin, pikiran, dan fisik siswa, sehingga mampu mencetak Ulama yang Intelek, bukan Intelek yang tahu Agama. Baik guru ataupun siswa, bahkan Pimpinan Pondok pun, juga ikut diuji.
Sementara itu, Pondok-pondok Cabang Gontor, Putra maupun Putri, yang berlokasi di dalam Jawa, pada saat ini juga sedang melaksanakan ujian seperti halnya Gontor Pusat. Adapun Cabang Gontor yang berlokasi di luar Jawa, mereka mengikuti tahun ajaran Departemen Agama (Depag) dalam melaksanakan ujian tiap tahunnya.Sazza
GONTOR PUTRI 2– Mengikuti jumlah Calon Pelajaran (Capel) Gontor Putra 2, Capel di Gontor Putri 2 juga turut menembus angka 2000. Hingga Rabu (12/6/2013) malam, Capel di Gontor Putri 2 mencapai 2118 orang. Jumlah ini masih akan terus bertambah, mengingat banyaknya para wali calon santriwati yang masih mencari informasi pendaftaran di Gontor Putri 2, serta masih panjangnya masa kelas persiapan di Gontor Putri 2.
Sebenarnya, kapasitas ideal di Pondok Gontor Putri 2 hanyalah diperuntukkan untuk 1700 capel. Namun hingga kini, belum ada keputusan dari Pimpinan PMDG mengenai pembatasan jumlah capel di Gontor Putri 2. “Kami agak kewalahan untuk penempatan kelas. Karena banyaknya kelas yang dialihfungsikan menjadi kamar santriwati,” tutur Ustadzah Ruhlas Fatniari, Staf Pengasuhan Santriwati Gontor Putri 2. Adapun saat ini, kelas-kelas para santriwati dipindah ke beberapa tempat di depan asrama dan sekitar masjid.
Menurut rencana, ujian lisan untuk capel di Gontor Putri 2 akan dilaksanakan pada 10-15 Ramadhan 1434/18-23 Juli 2013. Berbeda dengan capel putra yang dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan (baca: http://www.gontor.ac.id/pengumuman/jadwal-ujian-masuk-kmi-gontor/). Untuk bulan Syawwal, tidak akan ada pelaksanaan ujian lisan seperti halnya di Gontor Putra 2. Adapun ujian tulis, menurut rencana akan dilaksanakan pada 15 Syawwal 1434/22 Agustus 2013.
Untuk persyaratan mendaftar, ada sedikit perbedaan antara Gontor Putri 2 dengan Gontor Putra 2. Bila di Gontor Putra 2, ijazah sebagai syarat mendaftar dapat disusulkan dan tanpa surat keterangan apapun, adapun di Gontor Putri 2, para pendaftar -bila belum mendapat ijazah- diwajibkan untuk menyertakan surat keterangan telah mengikuti ujian akhir di sekolah sebelumnya.binhadjid
Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan mendapat balasan kebaikan yang berlipat. Begitulah kesimpulan dari ayat diatas. Trimurti memulai menanam “benih” kebaikan dengan mengelola tanah warisan peninggalan orang tua. Mereka menjadikan tanah warisan itu sebagai tempat untuk mengajar anak-anak tentang Islam. “Benih” tersebut kini tumbuh sangat subur dan telah menghasilkan “biji-biji” yang berkualitas tinggi.
Allah telah melapangkan kepada kita medan untuk menanam benih-benih kebaikan. Berjuang di pondok ini, berjuang dengan harta, fikiran dan tenaga bahkan nyawa adalah benih-benih yang nantinya akan tumbuh ribuan biji-biji kebaikan. Maka, berjuanglah dengan sepenuh hati.
Benih yang baik, tentunya akan tumbuh dengan subur jika si empunya menjaga dan mengelolanya dengan penuh perhatian. Gontor, selama 87 tahun mendidik santri-santrinya dengan selalu melakukan evaluasi tiap harinya. Gontor akan terus melakukan pengembangan yang sejalan dengan nilai, jiwa dan filsafatnya. Gontor tidak pernah tidak meningkatkan kualitas. Gontor tidak pernah tidak memikirkan pendidikan santri-santri.
Gontor menjalani 10 windu umurnya dengan suka dukanya, menghadapi segala hambatan dan halangannya. Dengan segala kekurangannya, Gontor akan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dengan terus berusaha, maka Allah akan menuntun ke jalan keluar dari setiap rintangan.
Gontor dengan 20 cabangnya ini adalah amanat besar dari Allah. Amanat yang nantinya akan diminta pertanggungjawabannya. Jalankanlah amanat ini dengan sebaik mungkin, Lillah. farouq
Disampaikan oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan
Masjid Pusaka, Senin, 2 Sya’ban 1434/10 Juni 2013
GONTOR 2 – Memasuki awal Bulan Juni, calon pelajar (capel) di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) 2, Madusari, Siman, mencapai 2000 orang lebih. Hingga berita ini diturunkan, Ahad (9/6/2013) malam, pendaftar capel di Gontor 2 melebihi angka 2000, tepatnya 2297 orang capel. Jumlah ini masih akan terus bertambah, mengingat belum tibanya masa pembagian ijazah untuk sekolah-sekolah umum di luar.
Mengantisipasi lonjakan jumlah calon pelajar di Gontor 2, Panitia Ujian Masuk Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) menetapkan ujian lisan pada ujian masuk tahun ini dilaksanakan dalam dua gelombang. Ujian lisan gelombang pertama akan dilaksanakan pada 22-29 Sya’ban 1434/1-8 Juli 2013 di Gontor 2. Ujian ini diperuntukkan bagi seluruh capel yang telah mendaftarkan dirinya di Gontor 2 sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan, yakni hingga 21 Sya’ban 1434/30 Juni 2013.
Selain itu, ujian lisan gelombang kedua, rencana akan dilaksanakan mulai tanggal 4-10 Syawwal 1434/11-17 Agustus 2013, diperuntukkan bagi para capel yang baru mendaftarkan dirinya pada Bulan Syawwal. Adapun ujian tulis, hanya dilaksanakan satu gelombang, yaitu pada 11 Syawwal 1434/18 Agustus 2013. “Untuk ujian lisan gelombang kedua, dikhususkan untuk capel yang mendaftar Bulan Syawwal. Namun, untuk tempat pelaksanaan ujian lisan gelombang kedua serta ujian tulis, hingga kini masih dipertimbangkan oleh Direktur KMI,” tutur Ustadz Febrian Arif Wicaksono, Ketua Panitia Pendaftaran Calon Pelajar PMDG 2.
Menurut Ustadz Febrian, setelah diperhitungkan, kapasitas maksimal di Gontor 2 untuk menampung capel adalah 2920 orang capel. Akan tetapi, untuk pembatasan jumlah capel, Ustadz Febrian mengaku bahwa hal tersebut masih belum dapat diputuskan. “Untuk pembatasan, kami masih menunggu keputusan dari Pimpinan PMDG,” tuturnya.binhadjid
Kebersamaan, sistem inilah yang Gontor gunakan untuk mendidik 20.000-an santrinya. Sistem kebersamaan ini sudah Gontor pergunakan sejak awal berdirinya hingga sekarang dan untuk selamanya. Maka, nilai ini tidak boleh berubah sampai kapanpun dan siapapun pimpinannya nanti. Gontor Pusat dan cabang-cabangnya bergerak maju dengan kebersamaan. K.H. Imam Zarkasyi, K.H. Ahmad Sahal, dan K.H. Zainuddin Fannanie merintis pondok ini dengan kebersamaan. Segalanya dilakukan dengan bersama-sama.
Kami estafetkan nilai kebersamaan ini kepada kalian, santri-santriku. Estafet adalah hukum Allah. Estafet adalah hukum alam, ini adalah hukum kehidupan. Segala sesuatu bila tanpa estafet akan mati dan hilang. Bila kami menghentikan estafet ini, maka kami akan diadili oleh Allah, alam, dan kehidupan. Teruskan kebersamaan ini.
Mendirikan pondok harus dimulai dari kemauan. Kemauan hakiki nan kuat, yang datang dari keterpanggilan jiwa, yang sumbernya adalah hati nurani. Dan, Allah yang menjadi penggerak hati nurani suci ini. Setiap kebersamaan dalam kegiatan dan gerakan ini datang dari keterpanggilan jiwa. Bila tidak bersama, maka akan terpelanting. Bila enggan masuk dalam barisan kebersamaan, maka akan terpental. Sekali lagi, tata hatimu, luruskan niatmu!
Wahai, santri-santriku! Ke Gontor, apa yang kau cari? Selama sekian tahun kalian hidup di sini, kalian telah dianyam dengan pendidikan Gontor. Kalian dididik oleh miliu, situasi, lingkungan, gerakan, kegiatan, dan semua yang ada di sini. Segala apa yang kalian lihat, dengar, rasakan, dan yang kalian kerjakan adalah pendidikan.
Ingatlah, kalian dididik di sini bukan untuk diri kalian sendiri! Kalian dididik di Gontor untuk umat. Kalian dididik agar mampu berjuang di masyarakat kelak. Li i’laai kalimatillah. Kalian adalah manusia yang sarat akan potensi. Kalian masih muda, masa depanmu masih panjang dan indah. Kalian adalah manusia mahal. Kalian adalah manusia suci, doa kalian maqbul. Hiduplah untuk bermanfaat! Jadilah manusia yang bermanfaat, tidak hanya memanfaatkan dan jangan sampai dimanfaatkan! Memanfaatkan di sini adalah memanfaatkan potensi diri. Memanfaatkan di sini bukan berarti memanfaatkan situasi.
Anak-anakku, seindah-indah masa adalah masa di kala menuntut ilmu. Seindah-indah pengalaman adalah pengalaman menuntut ilmu. Masa-masa itu, kini sedang kalian alami, maka buatlah ia menjadi indah. Perbanyak mengingat Allah. Basahi bibirmu dengan zikir dan wirid. farouq
Disampaikan pada Pengarahan dan Pembagian Tugas Ujian Lisan di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi Auditorium Gontor Putri 3, Ahad, 23 Rajab 1434/2 Juni 2013
“Pesantren adalah blue print dari ide, cita-cita, nilai, pikiran pendirinya, karena itu ia unik”
Unik; dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti; tersendiri dalam bentuk dan jenisnya; lain daripada yang lain; tidak ada persamaan dengan yang lain. Keunikan; menjadi bermakna kekhususan. Kita memang tidak sedang akan membicarakan unik in its meaning, tetapi berkaitan dengan unik sebagai ciri umum yang dimiliki pesantren. Setiap pesantren adalah unik, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh pesantren yang lainnya, sehingga membanding-badingkan pesantren yang satu dengan yang lainnya, menjadi kurang layak untuk dilakukan.
Definisi pesantren – ala Gontor – adalah lembaga pendidikan Islam dimana kyai sebagai central figur, masjid sebagai pusat kegiatan dan asrama sebagai tempat tinggal santri. Kyai sebagai central figur berarti kyai menjadi pusat nilai pesantren tersebut, menjadi teladan yang dicontoh. Dari cara pandang kehidupan kyai tersebut, santri-santrinya kelak memandang kehidupan. Dari gaya hidupnya; para santri kelak menjalani hidupnya. Dari pandangan, cita-cita, dan harapannya seperti itulah pandangan, cita-cita, dan harapan santri-santrinya. Karena setiap pesantren memiliki kyai yang berbeda, juga memiliki sejarah kelahiran dan keberadaan yang tidak sama, maka pastilah setiap pesantren itu unik dan tidak sama atau bisa disama-samakan dengan pesantren yang lainnya.
Seringkali saat kyai dalam sebuah pesantren wafat, maka pesantren tersebut kemudian juga turut mati, sebab jiwa dan nilai yang ada dalam diri kyai juga turut mati bersama meninggalnya sang kyai. Hal demikian juga di alami Gontor pada periode Gontor lama, setelah keturunan kyai yang ke tiga meninggal dunia; Gontor lama hilang. Pengalaman sejarah itu membuat Trimurti K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fanani, K.H. Imam Zarkasy (pendiri Gontor baru) berfikir bagaimana menjaga agar Gontor tetap ada sepeninggal mereka kelak. Mereka berazam untuk menciptakan pesantren yang mampu untuk terus ada sepanjang kehidupan ada. Maka jawaban dari harapan itu adalah; bahwa ia harus memiliki kader yang bisa mewarisi dan melanjutkan ide dan cita-cita mereka. Membuat kader yang mampu menjaga dan turus menumbuhkan nilai-nilai kehidupan yang dimiliki oleh pendirinya lalu mentransformasikan hal tersebut kepada santri-santri yang datang pada tahun-tahun di depan. Begitulah seterusnya rotasi transformasi berlangsung berulang-ulang sepanjang jaman, tidak masalah gambar dan rupa manusia-nya berubah dan berbeda-beda, namun ide, cita-cita, nilai dan pikiran tetap yang semula.
Cita-cita untuk abadi; harapan untuk ada sepanjang usia kehidupan; menjadikan para pendiri meletakan dasar nilai, jiwa, atau ruh untuk keberlangsungan kehidupan Gontor itu di masa yang akan datang. Untuk tujuan itu, maka ruh dan jiwa itu haruslah sesuatu yang universal, abadi dan shalih untuk beragam jaman. Dan jiwa yang semacam itu pastilah bukan yang beraroma madiyah, material, sebab pasti yang demikian tidak mampu bertahan dalam gigitan jaman. Trimurti akhirnya merumuskan lima jiwa yang harus ada dan harus terus dijaga sepanjang kehidupan ada; jiwa keihlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa mandiri, jiwa ukhuwah islamiyah, dan jiwa kebebasan. Dengan kelima jiwa tersebut; Gontor menjelma menjadi medan perjuangan; tempat manusia-manusia menaburkan jasa bagi kehidupan; ladang tempat mengetam pahala. Menjadi pasar dimana penghuninya menjual amal shalih dan Allah membelinya dengan surga.
Karena itulah Gontor unik. Maka jika kita membaca Gontor dengan frame konsep pendidikan yang telah ada di benak kita – sebab kita adalah Doktor pendidikan misalnya – lalu menyimpulkan jenis macam apa pendidikan yang ada di Gontor; dapat dipastikan bahwa kesimpulan kita tentang Gontor tidak tepat. Apalagi kemudian ikut-ikutan mengatur dan menentukan yang seharusnya dan yang sebaiknya; maka sekali lagi hal tersebut pastilah terjadi karena kebodohan dan kesombongan kita. Gontor akan tetap seperti ia pada mulanya, baik anda suka atau tidak. Sebab pesantren adalah blue print dari ide, cita-cita dan pikiran pendirinya, karena itulah ia unik. Hanya dengan menyerap ide, cita-cita, pikiran para pendirinyalah; kita akan bisa – mungkin – tepat membaca dan memahami Gontor.
Begitulah Gontor dengan keunikannya; terbuka untuk disukai namun berlapang dada untuk dibenci; sebab kerelaan dan kebencian manusia bukan hal terpenting yang menjadi tujuannya. “qul hadzihi sabiili ad’u ilallah…” seperti itulah kebulatan tekad yang tertanam mati di jantung setiap pelaksana pendidikan di Gontor yang dahulu, sekarang atau siapapun kelak pemegang estafet kepemimpinannya di masa depan, akan tetap sama seperti itu! yang suka mari bersama, yang tidak suka; carilah jalan yang engkau rela! Wallahu a’lamu bishawab.(hasibamrullah)
Rabbii ij’alnii muqiima al-shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du’aa.
“Wahai Tuhanku jadikanlah aku dan cucuku orang-orang yang selalu mendirikan shalat dan perkenankanlah doaku” (Ibrahim:41)
Banyak di antara kita umat Islam yang selalu mendirikan shalat setiap harinya, namun tidak banyak di antara kita yang mendirikan shalat dengan hati, jiwa, dan raga kita yang sebenarnya untuk menghadap Allah SWT. Di antara kita, lalai dan lengah ketika shalat bahkan tahawun di dalam ibadah yang menjadi kewajiban bagi kita umat Islam seluruhnya. Ada beberapa akibat lalai dalam mendirikan shalat yaitu:
Allah akan mencabut keberkahan umurnya. Tidak ada kebaikan ataupun pahala dalam kesehariannya. Ia akan menjalani hidup tanpa keberkahan di dalamnya.
Allah akan menghapus tanda-tanda orang saleh di wajahnya.
Semua doanya tidak akan diangkat ke langit dan tidak akan berpahala.
Mereka tidak mendapat bagian dari doa orang-orang yang saleh.
Maka sebagai muslim haqiqy,sudah seharusnya bagi kita untuk selalu mendirikan shalat dengan jiwa dan hati kita yang sesungguhnya. Kita pasrahkan diri kita seluruhnya kepada Allah SWT dalam shalat kita. Takbir, rukuk, dan sujud, semuanya karena Allah SWT. Bukanlah perkara yang mudah bagi kita untuk mendirikan shalat dengan seluruh jiwa dan hati kita, namun seharusnya kita selalu berusaha untuk melakukan itu semua. brahma84