Suasana ujian lisan pelajaran sore pada Jumat (17/5) lalu.
GONTOR – Panitia Ujian Pelajaran Sore Akhir Tahun pada tahun ajaran ini menggelar Ikhtibar (Ulangan Umum) Pelajaran Sore yang dilaksanakan sejak Sabtu-Rabu (11-15/5/2013). Hal ini dilakukan guna memantapkan persiapan santri menghadapi ujian pelajaran sore yang baru akan dilaksanakan pada Jumat hingga Rabu (17-22/5/2013).
Adapun pelaksanaan ujian pelajaran sore ini dikontrol langsung oleh Panitia Ujian dari Asatidz yang diketuai oleh Ustadz Utep Syahrul Karim, S.Pd.I dan Ustadz Ahmad Muqorrobin, S.H.I dibantu dengan panitia dari siswa kelas 5 Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI). Adapun ketua panitia dari siswa kelas 5 KMI berjumlah 3 orang, yaitu Diaz Ahmad Syarif (5-D), Ghani Abdul Haq (5-D) dan Tanri Wicaksono (5-H).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ujian lisan kali ini dilaksanakan pada Jumat (17/5/2013) pagi untuk siswa kelas 1, 1 intensif dan siswa kelas 2 pindahan dari pondok cabang. Ujian lisan ini bermaterikan Al-Quran, Juz ‘Amma, Ibadah Qouliyah dan Ibadah Amaliyah. Penguji pada ujian lisan tahun ini dipercayakan kepada guru-guru KMI tahun pertama dan beberapa guru dari tahun kedua serta dibantu siswa kelas 5 KMI.
Adapun ujian tulis dilaksanakan selama 5 hari sejak Sabtu hingga Rabu (18-22/5/2013). Bermaterikan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan selama pelajaran sore, seperti halnya Muthola’ah, Imla’, Khot, Shorf dan Nahwu. Rentetan ujian ini diakhiri dengan ujian bahasa yang dilaksanakan pada Rabu (22/5), serta dilanjutkan ujian bahasa bagi siswa kelas 5 KMI yang dilaksanakan pada malam harinya.
Selain itu, anggaran yang diajukan panitia ujian pelajaran sore tahun ini sebesar Rp 43 juta 2 ribu 5 ratus rupiah. Anggaran ini paling banyak digunakan untuk keperluan konsumsi, perlengkapan dan pencetakan soal.binhadjid
Tampak salah satu gedung yang telah dibangun di Gontor Putri 7, Riau.
“Hari ini merupakan hari yang bersejarah.” Kata-kata ini terlontar dari K.H. Syamsul Hadi Abdan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam (PMDG) di depan guru-guru usai shalat Maghrib, Sabtu (18/5/2013) petang. Bagaimana tidak, menurut beliau, hari ini Gontor Putri 7 (Riau) yang sejak beberapa tahun lalu diwakafkan, memulai membuka pendaftaran untuk tahun ajaran 1434-1435/2013-2014.
Sebelum dibangun, tanah seluas 10 hektar ini telah resmi diserahkan sepenuhnya kepada PMDG oleh Ibu Ida yang merupakan besan dari K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi.
Usai menjelaskan hal tersebut, beliau mengingat kembali akan sejarah berdirinya Pondok Gontor. “Dulu, beberapa tahun saat baru berdiri, Gontor ini diperuntukkan bagi putra dan putri,” lanjut beliau sembari mengingat kembali masa lalu. Satu hal yang membuat beberapa guru tertegun, karena memang jarang sekali guru muda yang mengetahui tentang hal ini. Namun karena tujuan utama Trimurti, yakni melahirkan pemimpin umat, maka beberapa tahun selanjutnya Gontor hanya menerima santri putra saja.
Sejak saat itu hingga K.H. Imam Zarkasyi meninggal, belum ada wacana untuk membuka Gontor Putri. Namun pada tahun 1993, sejak ada wakaf tanah yang cukup luas di Mantingan-Ngawi, maka Gontor kembali berpikir untuk membuka Pondok Gontor yang dikhususkan untuk santriwati. Padahal sedianya, tanah tersebut diperuntukkan untuk Institut Studi Islam Darussalam bila nani telah membuka Fakultas Pertanian, karena memang saat itu, tanah yang diwakafkan berbentuk sawah yang cukup luas.
Seingat beliau, ada 6 guru yang diinstruksikan untuk merintis pondok putri di Mantingan, diantaranya Ustadz Sutaji Tajuddin (Alm), Ustadz Syuja’i, Ustadz Sunanto dan beberapa guru yang lain. Sejak dirintis hingga saat ini, Gontor Putri memiliki perkembangan yang jauh lebih pesat ketimbang Gontor Putra, setidaknya dilihat dari sisi peningkatan jumlah santrinya. Gontor Putra, sejak tahun 1926 hingga 1951, jumlah santri putra saat itu belum lebih dari 600 orang.
Bila kita menilik ke Gontor Putri, mungkin kita bisa sedikit berbesar hati, karena hal ini dapat dibilang peningkatan paling pesat yang tidak bisa dilakukan oleh Pondok Pesantren Putri manapun di Indonesia, setidaknya di era modern ini. Sejak didirikan tahun 1993, Gontor Putri saat ini telah memiliki kurang lebih 7000 santriwati yang tersebar di Gontor Putri 1 dan 2 (Mantingan, Ngawi), 3 (Karangbanyu, Ngawi), 4 (Kendari), 5 (Kandangan, Kediri) dan Gontor Putri 6 (Poso). Angka ini cukup mencengangkan, baru 20 tahun saja, Gontor Putri sudah memiliki 7000 santriwati, sedangkan Gontor Putra baru memiliki 600 santri saat Peringatan Seperempat Abad PMDG.
Di akhir wejangan, beliau sempat menyeruakkan harapan besar tentang masa depan Gontor Putri 7. “Semoga Gontor Putri 7 dapat berkembang pesat seperti halnya Gontor-Gontor Putri yang lain. Tetap menjaga kualitas di samping kuantitas yang semakin berkembang pesat,” ucap K.H. Syamsul Hadi Abdan yang diamini oleh guru-guru yang sejak tadi ‘asyik’ menyimak petuah-petuah beliau.binhadjid
Dikutip dari tau’iyyah diniyyah oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan di Masjid Pusaka, Sabtu (18/5/2013) petang.
Siswa Akhir KMI 2013 sedang menyimak sambutan K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam Pembukaan Ujian Tulis Gelombang Kedua, Rabu (15/5/2013) pagi di BPPM.
Pada tanggal 19 Juli 711 M, Thariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam utusan Khalifah al-Walid, berpidato di depan 12.000 pasukan islam di Jabar Thariq (Selat Gibraltar). Pidato ini disampaikan, usai Thariq memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh kapal yang ada, sehingga menjadi pelecut semangat bagi para pasukan Islam. “”Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya 2 pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid,” ujar Thariq.
Pidato ini dapat digambarkan sebagai awal dari puncak penaklukan terbesar yang pernah dilakukan oleh umat Islam. Di mana usai penaklukan ini, umat Islam dapat menguasai daratan Spanyol dan beberapa daerah di Eropa.
Nampaknya, pidato Thariq ini dapat disejajarkan dengan sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam Pembukaan Ujian Tulis Siswa Akhir Kulliyatu-l-Mu’alliminal Islamiyyah (KMI) pada Rabu (15/5/2013) pagi di Balai Pertemuan Pondok Modern. Bagaimana tidak, sambutan K.H. Hasan Abdullah Sahal ini menandai mulainya puncak dari Ujian Akhir siswa kelas 6, satu peristiwa yang hampir sama dengan apa yang dirasakan oleh pasukan Thariq bin Ziyad saat akan memulai puncak peperangan merebut kawasan Eropa 14 Abad yang lalu. Waktu, tempat, jumlah pendengar dan isi pidato yang berbeda, namun makna pesan, semangat serta motivasi yang disampaikan, hampir sama, yaitu tentang perjuangan dan kesabaran.
Ujian Tulis Siswa Akhir KMI dilaksanakan selama 14 hari (15-30/5/2013) yang dilaksanakan di 2 tempat, yakni BPPM dan Gedung Olahraga (GOR). Ujian dilaksanakan dalam 26 materi yang mencakup pelajaran di KMI sejak kelas 1 hingga kelas 6. Tentunya selain pelajaran yang telah diujikan pada ujian tulis siswa akhir KMI gelombang pertama serta beberapa materi yang memang ujiannya sudah didahulukan pada kelas-kelas sebelumnya.
Selain di PMDG pusat, ujian tulis gelombang kedua ini juga serentak dilaksanakan di seluruh pondok cabang, yaitu di Gontor 3,5,6,7 dan Gontor 9 untuk pondok putra, serta Gontor Putri 1,3 dan Gontor Putri 5. Meski berbeda tempat, namun materi, soal, jadwal dan waktu sengaja disetting untuk sama. Bahkan di Gontor 7 (Kendari), ujian dilaksanakan pada jam 08.00 WITA. Hal ini dilakukan guna menyamakan waktu mulai ujian pada seluruh Pondok Gontor yang terletak pada waktu Indonesia bagian Barat.
Meski ada beberapa soal kiriman dari pondok cabang pada beberapa materi tertentu, namun seluruh soal dibuat dan ditashih di PMDG Pusat. Hal ini ditujukan guna menyeragamkan bentuk soal yang kemudian akan dibagikan kepada seluruh pondok cabang beberapa hari sebelum ujian tulis dilaksanakan.binhadjid
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan darah biru sebagai keturunan bangsawan atau ningrat, yang oleh karenanya, dianggap sebagai golongan tertinggi dalam struktur masyarakat. Sementara itu Wikipedia menulis bahwa darah biru merupakan terjemahan dari frase Spanyol sangre azul, yang menggambarkan keluarga kerajaan Spanyol dan bangsawan tinggi lainnya.
Sebenarnya tidak ada hubungan antara frase itu dengan warna darah bangsawan yang sebenarnya. Namun di masyarakat kuno Eropa, hampir semua bangsawan memiliki warna kulit yang pucat kemerahan dan pembuluh balik kebiru-biruan di bawah permukaan kulitnya, sehingga nampak berbeda dengan kulit masyarakat kelas petani yang berwarna kecoklat-coklatan dan pembuluh darah baliknya tidak terlihat jelas karena banyak bekerja di bawah terik matahari. Agaknya inilah yang menyebabkan mengapa golongan bangsawan dikatakan berdarah biru.
Di zaman modern, kaum berdarah biru tidak lagi memiliki privilese resmi di hampir seluruh Negara di dunia. Namun demikian, sikap mental kaum feodal yang merupakan “saudara kandung” kaum berdarah biru, masih banyak ditemui. Mereka ingin dilayani, dihormati, dan merasa memiliki privilese yang meniscayakan perlakuan istimewa meskipun nihil prestasi. Mereka mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, dan bukan prestasi kerja. Sikap seperti ini adalah sikap yang kontra produktif, dan jika terus dipelihara, maka cita-cita menjadi bangsa yang besar hanyalah angan-angan belaka. Inilah tampaknya yang menyebabkan Trimurti pendiri Pondok Modern Gontor begitu getol memerangi feodalisme; sebuah sistem sosial yang sangat lekat dengan kaum berdarah biru.
Dari sini, kiranya kita perlu mendekonstruksi makna darah biru itu. Hal ini tidak saja karena istilah itu lahir dari ruang sejarah yang bersifat multiinterpretable, tapi juga karena ia berhadapan secara vis a vis dengan hukum Allah yang tidak melihat kemuliaan manusia kecuali berdasarkan iman dan taqwa, bukan berdasarkan garis keturunan.
Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki pemahaman lain tentang istilah darah biru. Menurut beliau, orang yang berdarah biru adalah mereka yang memiliki kehormatan, harga diri, kemuliaan, nama besar, dan bahkan privilese yang muncul karena prestasinya. Bukan karena ia anak pejabat, orang kaya, atau keturunan ningrat. Maka status darah biru itu sebenarnya tidak diturunkan oleh orang tua, melainkan diciptakan. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memiliki dan menyandang status itu. Konsep darah biru ala Kyai Syukri inilah yang selalu ditanamkan kepada seluruh santri dan asatidz dalam berbagai kesempatan.
Lantas bagaimana Gontor menciptakan kader umat yang “berdarah biru”? Segala aktivitas di Gontor harus dilaksanakan dengan disiplin tinggi. Disiplin tanpa pandang bulu inilah yang mengikis habis sikap feodalistis. Sehingga jangan heran jika anda melihat anak menteri atau pejabat tinggi lainnya yang sekolah di Gontor, mendapat perlakuan disiplin yang sama dengan anak petani. Mereka juga harus ikut menyapu halaman asrama, membersihkan kamar, atau jadi bulis malam (jaga malam) jika tiba jadwalnya.
Selain harus berdisiplin, setiap santri juga selalu dibiasakan untuk berpikir keras, bekerja keras, dan bersabar keras dalam menjalani segala kegiatan di pondok. Semua kegiatan yang dilaksanakan santri, harus memiliki perencanaan yang jelas. Perencanaan itu bahkan dilaksanakan secara berlapis mulai dari santri, ustadz, hingga bapak Kyai. Semuanya mencurahkan pikirannya untuk membuat perancanaan yang matang. Setelah terencana dengan rapi, sebuah program harus dilaksanakan dengan serius, sungguh-sungguh, dan sepenuh hati. Tidak cukup sampai di situ, semuanya juga dituntut untuk memiliki kesabaran dalam menjalankan setiap program. Bukan sabar yang pasif, melainkan sabar yang aktif tentunya.
Dari sini, seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk berekspresi, berkreasi, dan berprestasi. Prestasi duniawi dan ukhrawi yang tentu saja tidak didapat secara cuma-cuma, melainkan dengan berpikir keras, bekerja keras, bersabar keras, dan harus diikuti dengan bertawakkal kepada Allah. Sehingga pada gilirannya, status “darah biru” bisa disandang oleh siapa saja yang berprestasi, tidak lagi milik kaum ningrat. Wallahu a’lam bi al-shawab.AbuNuya
GONTOR – Dalam rangka mempererat tali silaturrahim dan temu kangen setelah 19 tahun tidak berjumpa, alumni tahun 1984 mengadakan Reuni Akbar Alumni 1984 yang bertajuk ‘Algodam’. Acara yang diikuti oleh sekitar 75 alumni PMDG tahun 1984 ini digelar selama 3 hari pada Kamis-Sabtu (9-11/5/2013) di Wisma Darussalam PMDG.
Reuni ‘Algodam’ yang berarti “Alumni Gontor Darussalam” ini diawali dengan acara keliling pondok Gontor pada hari kamis untuk melihat kegiatan kepramukaan dan kegiatan lainnya. Dilanjutkan pada malam harinya dengan temu kangen dan nostalgia antara alumni 1984. Keesokan harinya, para alumni 1984 mengadakan lari pagi bersama dengan mengikuti rute lari pagi santri PMDG, dilanjutkan dengan keliling kampus ISID dan Gontor 2, ziarah makam TRIMURTI dan silaturrahim bersama K.H. Hasan Abdullah Sahal di Aula Wisma Darussalam. Acara ini ditutup dengan silaturrahim ke Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi.
Dari 153 Alumni tahun 1984, sebagaian diantaranya Pengusaha Sukses (16 orang), Guru/Dosen (22 orang), Doktor (6 orang), Kyai/Pimpinan Pondok (10 orang), Kandidat doktor (1 orang), Doctor Honoris Causa (1 orang), Politikus (1 orang), Profesional/LSM (4 orang), dan Da’i (5 orang). arbie_84
Para Ambalan Khusus Gugus Depan 15089 tampak bersemangat dalam Ambalan Gembira tahun ini.
DARUSSALAM – Koordinator Gerakan Pramuka Gugus Depan (Gudep) 15089 Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di bawah arahan Majelis Pembimbing Koordinator Harian (Mabikori) mengadakan Musyawarah Gugus Depan (Mugus) pada Kamis (2/5/2013), tepatnya diselenggarakan di Gedung Olahraga (GOR) Pondok Modern Darussalam Gontor. Kegiatan ini merupakan media pemersatu antara siswa kelas 4 KMI dan 3 Intensif. Berawal dari Musyawarah Gugus Depan, mereka mengenal satu sama lain, belajar mengutarakan pendapat dan bermusyawarah. Musyawarah diawali dengan Sidang Paripurna pada siang harinya, Sidang Komisi pada Jum’at pagi (3/5/2013), kemudian dilanjtukan dengan Sidang Pleno pada Jum’at siang.
Pondok Modern selalu berupaya menanamkan jiwa bermusyawarah dalam diri setiap santri-santrinya, falsafah itu tertuang pada mahfudzat kelas 4 KMI, yang berbunyi“Wa aktsir min As-syuraa, fainnnahu in tushib tajid maadihan wa in tukhti’i ar-ra’ya tu’dzar ” (Dan perbanyaklah bermusyawarah, dalam bermusyawarah apabila pendapatmu benar kamu akan dipuji dan apabila salah dimaafkan). Bermusyawarah merupakan pola hidup dalam mengaplikasikan kebersamaan dan keberagaman.
Lain daripada itu, Mugus pada tahun ini melibatkan peserta sebanyak 750 orang, termasuk jumlah panitia sebanyak 52 orang dan beberapa staf Koordinator Gerakan Pramuka. Para peserta tersebut meliputi seluruh anggota Ambalan Gugus Depan (Gudep) dari siswa kelas 4 dan 3 Intensif, 15089/1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15, 17, dan 19.
Kegiatan lain dalam upaya menyatukan ukhuwah Islamiyah mereka adalah Ambalan Gembira (AG). Berlasung pada (9/5/2013) di lapangan Salelit, tepatnya di selatan gedung Satelit. Acara ini meliputi penampilan-penampilan, seperti: Dancing, Nasyid, Tari-tarian, Tari Kombinasi, Puisi Musikal, Sulap, Drama Musikal dan lain-lain.
Kegiatan ini dikomandoi oleh 3 orang ketua yakni, Andi Hakim (3 Int C), Muhammad Salisgia (4D), dan Lutfi Mahmudy (4D), dengan jumlah panitia 65 orang. Acara diawali dengan tilawah ayat suci Al-Qur’an dilanjtukan dengan sambutan-sambutan. Al-Ustadz Ibadurrahman selaku penanggung jawab acara ini, menyampaikan dalam sambutannya:
“Kegiatan ini merupakan ajang bagi kalian memadukan pikiran dan tenaga, tidak lain adalah untuk mensukseskan acara ini. Semua ini dirancang sebagai media penyalur kreativitas, seni dan motivasi naik ke kelas 5 tahun depan, iman, khuluqandan adaban”.
Dalam hal ini, panitia dibimbing langsung oleh Al-Ustadz Anshar Zulhelmi dari Majelis Pembimbing Gerakan Pramuka Harian (Mabikori). Dengan tujuan, panitia dapat berkoordinasi satu sama lain dengan baik dan berkonsultasi dalam hal apapun ke pembimbing. Hal itu merupakan pelajaran dan ilmu kehidupan di PMDG yang selalu dipegang teguh oleh para santri dan guru-guru dalam melestarikan nilai-nilai keislaman. elfah
GONTOR- “Jadilah Ulama yang intelek, bukan Intelek yang tahu agama”. Untuk meningkatkan kualitas dakwah para santri, para staf PUSDAC (Public Speaking and Discussion Advisory Council) mengadakan Seminar Da’i dan Dakwah, dengan tema “Kiat Menjadi Da’i Yang Menggugah dan Merubah”.
Acara ini juga merujuk kepada salah satu perkataan dari K.H. Hasan Abdullah Sahal, yaitu santri adalah seorang Mundzirul Qoum, yang bertugas untuk mengingatkan umat Islam secara khusus dan masyarakat luar secara umumnya.
Acara yang diagendakan pada hari Senin (6/5) lalu ini turut mengundang K.H. Yusuf Mansur dan Al-Ustadz Ahmad Suharto, S.Ag sebagai pembicara. Adapun dilaksanakannya acara ini adalah untuk meningkatkan kualitas santri dalam menyampaikan dakwah. Di seminar ini dijelaskan bagaimana cara berdakwah kepada masyarakat yang baik.
Acara ini dibagi selama 3 sesi; sesi pertama dan kedua dilaksanakan dari pukul 14.00 sampai dengan pukul 17.00 yang langsung diisi oleh Al-Ustadz Yusuf Mansur dan sesi ketiga pada pukul 20.00 hingga 22.00 yang diisi oleh Al-Ustadz Ahmad Suharto, S.Ag.
“Para pembicara-pun menjelaskan berbagai macam metode dan cara berdakwah yang baik, seperti penggunaan gerak tangan dalam berbicara, sampai bagaimana men-sukseskan dakwah kita dengan cara memulai dari diri sendiri dan perkara yang paling kecil,” tutur Al-Ustadz Aa Dzikri Ilhami selaku pembimbing pelaksanaan acara ini.
Acara ini diadakan di Aula Robithoh, dengan pengikut dari para asatidz santri kelas 1–5 yang seluruhnya berjumlah 520 orang. Adapun panitia pelaksana acara ini adalah para santri dari JMK (Jam’iyyatu-l-Khutoba’) dengan dibantu dan dibimbing oleh para staf PUSDAC. (fei)
BATU – Bapak Pimpinan K.H. Hasan Abdullah Sahal, menghadiri acara reuni alumni periode 1965 yang diadakan di Selecta, Kota Batu pada hari Ahad malam (5/5). Selain mempererat tali silaturrahim, reuni ini juga memperkuat memori mereka tentang kehidupan yang mereka jalani selama di pondok. “Reuni ini sebenarnya memang diprioritaskan untuk alumni angkatan ’65, akan tetapi ada beberapa yang kita undang juga dari alumni setelahnya ataupun sebelumnya, yang jelas acara ini ditujukan kepada alumni yang sudah berumur di atas 60 tahun” ucap Ust. Fuad selaku koordinator acara.
Berdasarkan data yang masuk, ada 60 alumni yang hadir, 23 diantaranya datang dengan pasangan mereka, sedangkan sisanya, dengan beberapa alasan, hanya datang sendiri. Di sisi lain, terlaksananya reuni ini bertepatan dengan acara walimatul ursy yang digelar K.H. Ahmad Mujayad di Malang. “Jika ada yang hendak mantu, maka sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk menghadirinya, dan jauh sebelum acara mantu ini, kami sudah berencana untuk sekaligus mengadakan acara semacam kumpul-kumpul di lokasi ini”, tuturnya.
Pada pukul tujuh malam, semua peserta menuju aula yang sudah disiapkan. Acara yang diawali dengan menyanyikan lagu “Hymne Oh Pondokku” ini, dapat berjalan dengan khidmat dan lancar. Di susul setelah itu acara sambutan-sambutan dari beberapa orang, kemudian ungkapan-ungkapan, dan tidak lupa bapak pimpinan juga diminta untuk menyampaikan beberapa informasi terkait tentang pondok. Kemudian dilanjutkan hingga Shubuh, sholat berjamaah, dan mendengarkan kuliyah shubuh yang disampaikan oleh Al Ustadz Kholil Ridwan dan Al Ustadz Saifudin Arif. Menjelang pagi, beberapa peserta yang masih tersisa melaksanakan pertemuan yang kedua kalinya di kebun dan menghasilkan beberapa kesepakatan.
Pertama, terkait dengan pertemuan selanjutnya pada tahun 2014, akan dilaksanakan di Bali. Kedua, diharapkan kepada seluruh peserta, dalam jangka satu tahun ini, agar membuat buku yang bertemakan apa saja, dan akan diterbitkan. Dan yang ketiga, kesepakatan untuk mengumpulkan dana, untuk membantu beberapa peserta yang memiliki pondok pesantren, ust. Fuad menyatakan tidak semua pondok pesantren, akan tetapi hanya beberapa pondok saja yang masih membutuhkan bantuan, khususnya pondok-pondok yang baru didirikan.toms
Gontor-Majelis Pembimbing Koordinator Harian (MABIKORI) bangkitkan kreativitas para pembina Gugus Depan (Gudep) dengan “Pembina Gembira”. Kata “Pesta Pembina” yang lebih akrab di telinga para santri tidak akan terdengar lagi. “Sejatinya, Pembina Gembira ini dulunya adalah Pesta Pembina, karena kata “pesta” terlihat identik dengan hal-hal yang tidak berpendidikan, maka dari itu, kita ganti menjadi Pembina Gembira”, ujar Maulana selaku penanggung jawab dari Ankulat saat ditemui di kelasnya, Sabtu (4/5). Berbagai perlombaan yang diadakan dapat di kategorikan fisik, skill, dan ketangkasan. Perlombaan dengan kategori fisik antara lain; membuat pioneering, tarik otot, panca lomba, dan fighting kata. Dengan kategori skill seperti; semaphore, morse, sandi-sandi, dan cerdas cermat. Terakhir dengan kategori ketangkasan; anekdot, tusuk air, joget kursi, memanah, dan fathul munjid. Selain guna membangkitkan kreativitas, kegiatan ini secara tidak langsung juga berguna untuk memupuk kebersamaan dan persatuan antarpembina yang ada di gudepnya masing-masing. Kurangnya jumlah pendamping juri dari staff koordinator menjadi salah satu hambatan terlaksananya acara ini, hal itu disebabkan sedikitnya staff koordinator dan padatnya acara pondok, yang membuat beberapa dari staf koord harus membagi waktu mereka. Kegiatan yang diadakan pada hari Kamis (3/5), melibatkan 20 orang pembina dari tiap-tiap gudep, dan koord hanya mengeluarkan dana sebesar 160 ribu rupiah untuk kesuksesan acara ini. “Mereka yang terpilih harus bisa memperjuangkan gudep mereka di setiap perlombaan” ujarnya. toms
Silaturahim guru-guru PM. Tazakka dengan Wakil Direktur KMI, Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH
GONTOR – Pondok Modern (PM) Tazakka yang merupakan salah satu pondok alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Sabtu (4/5/2013) mengadakan kunjungan singkat ke Kampus PMDG. Kunjungan ini ditujukan guna mempersiapkan tenaga pengajar yang pada bulan Juni-Juli ini mulai membuka pendaftaran calon pelajar untuk tahun ajaran 1434-1435/2013-2014.
Pada awalnya, kunjungan ini dimaksudkan guna pelaksanaan kegiatan penataran bagi guru-guru PM. Tazakka. Namun dikarenakan padatnya kesibukan Direktur Kulliyyatu-l-Mu’alliminal Islamiyyah (KMI), K.H. Masyhudi Subari, MA, maka kegiatan penataran diundur beberapa waktu mendatang.
Oleh karena itu, kunjungan kali ini diisi dengan pengarahan tentang kepondokmodernan oleh K.H. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA pada Sabtu (4/5) pagi di Gedung CIOS Institut Studi Islam Darussalam, Siman. Kemudian dilanjutkan pertemuan dengan Wakil Direktur KMI, Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH pada siang harinya. Pada pertemuan tersebut, dilaksanakan pula diskusi tentang pelaksanaan dan pengembangan kurikulum KMI.binhadjid