Home Blog Page 551

VALUE

0
"apa yang ada ini kalau dijaga dengan baik, sudah cukup! Hendaknya hati-hati dengan yang baru!" KH. Imam Zarkasy
“apa yang ada ini kalau dijaga dengan baik, sudah cukup! Hendaknya hati-hati dengan yang baru!” KH. Imam Zarkasy

KH Imam Zarkasy (salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Gontor) pernah berkata; “anak-anaku yang di lahirkan di atas ‘jogan’ berbeda dengan mereka yang lahir di atas ‘tekel…”, kalimat tersebut mengandung makna; bahwa generasi yang dilahirkan dalam kondisi prihatin (jogan; lantai rumah dari tanah) akan memiliki jiwa kuat dan kokoh! Dan tentu saja berbeda dengan mereka yang dilahirkan dalam kondisi yang sudah enak (tekel; lantai rumah dari semen), yang lahir saat segala sesuatu serba mudah. Masih adakah generasi jogan itu? Generasi yang tahan banting. Generasi yang memiliki daya dorong dan mampu bertahan dalam kondisi seburuk apapun. Generasi pejuang! masih adakah!?

Dahulu, saat tekhnologi belum semaju sekarang, setiap anak memiliki tugas mengerjakan sesuatu di rumah masing-masing. Ada yang tugasnya mengisi bak kamar mandi, menyapu halaman, membersihkan rumah, menyalakan lampu, menyiapkan kayu bakar untuk memasak dan lain-lain. Dalam aktifitas semacam itu, anak-anak tersebut terdidik untuk saling menolong, serta tanggung jawab atas amanat yang diberikan orang tua mereka. Permainan anak-anak yang ada juga memiliki konstribusi dalam menanamkan nilai di jiwa anak jaman itu meskipun permainan yanga ada masih sangat sederhana, entah itu sepak bola, voly ball, petak umpet, blaksodor atau sekedar renang bersama-sama di sungai. Dalam intraksi mereka dengan orang lain itu, mereka terbiasa untuk saling menenggang dan berlatih untuk mengontrol emosinya. Kehidupan di rumah dan masyarakat jaman itu, telah – tanpa sengaja – menjadi media terbentuknya karakter yang baik pada jiwa anak-anak itu.

Tanggung jawab, saling tolong, toleransi, memanage perasaan, menenggang teman, tidak egois, kebersamaan, adalah nilai-nilai agung kehidupan dan hal tersebut sangat mudah didapatkan anak-anak jaman itu dalam aktifitas harian mereka. Mereka, anak-anak itu mendapatkan pendidikan dasar jiwa mereka melalui penugasan dan pembiasaan yang dilakukan oleh orang tua mereka di rumah dan lingkungan mereka bergaul. Hasilnya; jiwa mereka terbentuk dengan nilai-nilai yang baik! sehingga untuk diisi dan ditambah dengan nilai-nilai yang baik – dalam rentang kehidupan mereka selanjutnya – sangat mudah, dan membentuknya untuk menjadi lebih baik; tidak sulit!

Hari ini, saat perkembangan tekhnologi begitu pesat. Sulit mendapatkan anak yang masih mudah diperintah orang tua untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Permainan mereka juga sudah berubah dari yang melibatkan interaksi dengan teman-teman mereka di ladang dan lapangan, berganti dengan permainan di dalam kotak kecil ukuran 7,9,10,12 inch. Jika dahulu mereka berinteraksi dengan pikiran orang lain, hari ini mereka berintraksi dengan pikiran sendiri, dalam game-game yang ditawarkan dunia online atau yang ada di dalam hp, leptop atau media lain yang mereka miliki. Akibatnya, mereka lebih cendrung memilih hal yang praktis-praktis saja, menghindari yang melelahkan, berat dan yang membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkanya. Fasilitas modern telah memanjakan mereka untuk mendapatkan segala hal dengan mudah. Watak dan karakter yang lahir dari jaman yang semacam ini adalah watak yang mencari gampangnya, enaknya, mudahnya.

Untuk mengembalikan nilai-nilai jaman lalu ke dalam jaman kita tentulah mustahil. Yang bisa kita lakukan adalah mencarikan tempat yang baik dimana anak-anak itu menemukan satu lingkungan yang keseluruhan sudutnya mampu menjadi alat untuk membentuk karakter baik anak-anak kita. Sekolah yang ada saat ini, masih bingung mencari bentuk bagaimana sesungguhnya pendidikan berbasis karakter itu. Sementara waktu anak-anak itu di sekolah tidak lebih panjang dari waktu mereka di luar sekolah. Demikianpun, tidak banyak sekolah yang memiliki aturan dimana mereka sanggup meminimalis pengaruh buruk lingkungan. Bisa dipastikan, bahwa lingkungan dimana anak-anak itu bergaul, jauh lebih banyak perannya dalam pembentukan karakter anak tersebut daripada sekolah dengan segala jenis program berbasis karakternya itu. Satu-satunya tempat yang kondusif, yang paling tepat; untuk pendidikan karakter adalah boarding school; sekolah yang siswanya berada 24 jam kali lama siswa itu menempuh jenjang pendidikannya; dimana tiga unsur pendidikan – rumah, lingkungan, sekolah – terintegrasi dengan nyata.

Gontor adalah salah satu lembaga penidikan yang memenuhi syarat di atas; ia telah membuktikan keunggulan sistem pendidikannya karena telah melewati puluhan tahun dan tidak pernah berubah dari misi dan visinya sejak pertama ia dicita-citakan pendirinya hingga sekarang. Yang diwariskan Trimurti (tiga pendiri Pondok Modern Gontor) kepada penerusnya adalah value (nilai). Value itulah jiwa, ruh, dimana hidup matinya Gontor adalah terjaga tidaknya value yang diwariskan oleh Trimurti pendiri Gontor tersebut. Selagi nilai (value) itu tetap sama dan tidak berubah, maka sepanjang itu Gontor tetap hidup! Pesan yang disampaikan KH. Imam Zarkasy “Apa yang ada ini kalau dijaga dengan bik, sudah cukup! Hendaknya hati hati dengan hal baru!” telah menjadi rambu yang menjaga keberlangsungan nilai-nilai Gontor itu tetap ada dan hidup hingga kini. Value inilah yang menjadi misi Gontor untuk ditransformasikan ke dalam jiwa anak didiknya agar setelah selesai dari belajarnya di Gontor menjadi jiwanya yang dengan itu ia disebut sebagai manusia yang hidup. Wallahu a’lamu bishawab. (hasibamrullah).

Self-Help

0

self-helpZaman berubah dengan sangat cepat. 20 tahun yang lalu, di Gontor listrik belum ada, santri-santri belajar menggunakan penerangan dari petromak atau ublik-ublik kecil yang mereka bawa di tempat mereka belajar, suasana terlihat seperti pasar malam dengan berbagai macam cahaya yang datang dari lampu penjual mainan atau makanan yang tersebar mengitari lapangan. Ketiadaan listrik menyebabkan seluruh pekerjaan dikerjakan secara manual. Semua dilakukan dengan sangat hati-hati dan tentu saja membutuhkan waktu yang lama; juga kesabaran yang lebih. Mereka harus mampu menyelesaikan persoalan yang ada dengan alat bantu yang sangat minim. Mereka harus mampu menolong diri sendiri untuk bisa keluar dari masalah yang dihadapi, sebab – zaman itu – tidak banyak hal yang bisa diharapkan di luar diri mereka, satu-satunya pilihan adalah; menolong diri sendiri! Menolong diri sendiri inilah yang diperdengarkan ke telinga kami – dalam banyak kesempatan – dengan istilah ‘self-help’.

Self-help menjadi satu-satunya pilihan bukan saja karena Gontor adalah lembaga  pendidikan swasta yang harus mampu menghidupi dirinya sendiri, namun lebih dari itu; ‘self-help’ adalah jiwa pesantren itu sendiri, jiwa anti penjajahan dan  intervensi. K.H. Hasan Abdullah Sahal (pimpinan dan pengasuh Pondok Modern Gontor) menyatakan; bahwa pesantren yang tidak anti penjajahan adalah pesantren palsu! Pesantren bohong! Pesantren yang tidak mampu menolong diri sendiri, sangat mudah diintervensi dan dijajah pihak luar. Self-help itulah rahim bagi lahirnya jiwa kemandirian; jiwa yang mengajarkan kepada Gontor untuk menegakan kepala memandang ke masa depan tanpa sedikitpun merasa rendah diri; jiwa yang akhirnya menjadi benih yang ditanam di hati para santrinya; bahwa menjadi santri Gontor adalah pilihan untuk berani hidup sekaligus berani mati; di atas hanya Allah di bawah hanya bumi!

Salah satu orentasi pendidikan di Gontor adalah bukan untuk menjadi pegawai, tidak bermakna bahwa Gontor anti pegawai negeri, karena terbukti banyak alumni Gontor yang juga menjadi pegawai negeri. Bukan menjadi pegawai lebih berkaitan dengan orentasi pendidikannya yang lain; yakni kembali ke masyarakat; menjadi mundzirul-qaum; mungkin saja, menjadi pegawai akan menyita waktunya untuk pekerjaan kepegawaiannya dan ditakutkan akan melupakan tugasnya di masyarakat, waktunya menjadi terikat dengan waktu orang lain dan tentu saja bertentangan dengan jiwa kemandirian. Sebaliknya; diharapkan anak didik Gontor memiliki pegawai, dimana selain ia mampu hidup dengan self-help ia juga telah menolong hidup orang lain.

K.H. Hasyim Mujadi (mantan ketua PBNU dan salah satu alumni Gontor) pernah menceritakan; bahwa setiap kali datang silaturahmi kepada gurunya K.H. Imam Zarkasy di Gontor, selalu ditanya “masih di Depag?” pertanyaan itu berulang-ulang begitu setiap kali ia mengunjungi Gontor. Akhirya beliau bertanya kepada Kyainya yang lain, tentang kenapa setiap kali ia mengunjungi Gontor kok selalu ditanya oleh gurunya “Masih menjadi pegawai Depag?” jawaban kyainya, seperti yang diceritakan beliau sendiri “Kyaimu di Gontor itu berharap kamu ke luar dari Depag” terakhir;- beliau K.H. Hasyim Mujadi – ke luar dari Depag sebagai bentuk ketaatan kepada gurunya, lalu menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada masyarakat, dan terbukti manfaat dirinya jauh lebih besar dan luas, beliau akhirnya memiliki santri, umat juga pegawai, merasakan nikmatnya menolong orang lain, mampu memperbanyak jasa bagi kehidupan, beliau telah hidup namun juga menghidupkan.

Self-help – di Gontor – bukan hanya teori yang di ceramahkan dalam ruang-ruang kelas, dipidatokan dalam pertemuan-pertemuan guru-santri, melainkan lebih dari itu; bahwa self-help adalah nafas harian santri selama ia menimba pendidikan di Gontor. Saat seseorang memutuskan untuk menuntut pendidikan di Gontor, ia telah memutuskan untuk mampu menolong dirinya sendiri. Tidak ada orang tua, kakak, saudara yang bisa mereka andalkan untuk menyelesaikan masalahnya selama ia belajar di Gontor, ia harus mampu menolong dirinya sendiri, dan belajar mengurus hidupnya agar mampu menempatkan dirinya dalam hidup orang lain. Karena tuntutan untuk mampu menolong diri sendiri itulah akhirnya ia memiliki kepercayaan diri, dengan kepercayaan kepada diri sendiri itulah ia mampu menatap masa depannya tanpa perasaan inferior, rendah diri dan mudah kagum pada budaya dan peradaban orang lain, dengan kebiasaan self-help itu, ia akan menatap dunia ini dengan tatapan optimisme, sebuah tatapan yang lahir dari jiwa yang memiliki azam untuk mampu berbuat bagi kehidupan di atas yang telah bisa orang lain perbuat. Wallahu a’lamu bishawab. (hasibamrullah).

K.H. Hasan Abdullah Sahal: Suasana Belajar Seperti Ini Adalah Suasana yang Mahal

0
Pengarahan dari K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan PMDG dalam Pembukaan Belajar Malam Keliling, Sabtu (25/5/2013)
Pengarahan dari K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan PMDG dalam Pembukaan Belajar Malam Keliling, Sabtu (25/5/2013)

GONTOR – Ujian akhir tahun sudah di ambang pintu. Para santri dan guru Gontor mulai bersiap diri untuk menghadapi ujian. Panasnya ujian ditandai dengan dibukanya belajar malam keliling. Dengan belajar keliling, para santri dilatih untuk bisa mandiri dalam belajar. Santri mampu melihat seberapa besar kemampuannya dan menemukan metode belajar yang sesuai untuk dirinya.
Al-Ustadz Syarif Abadi sebagai pembimbing belajar malam dan dibantu oleh beberapa staf guru telah membagi zona-zona belajar keliling untuk setiap guru. Zona belajar dibagi menjadi enam tempat, Zona Syiria, Zona Yaqzoh, Zona Masjid, Zona Saudi, Zona Indonesia dan Zona BPPM. Hal ini ditujukan agar para guru dapat menyebar merata di setiap tempat, sehingga pengawasan bisa berjalan efektif dan efisien.
Untuk mempermudah santri dalam memahami pelajaran, panitia menyiapkan pos-pos tempat santri bertanya. Diantaranya adalah pos Dirosah Islamiyah (pelajaran Agama Islam), pos Lughah ‘Arabiyah (Bahasa Arab), pos Dirosah Kauniyah (pelajaran umum), pos Lughah Injiliziyah (Bahasa Inggris) dan pos Taqdimu-l-hifdzi (laporan hafalan). Di setiap pos, beberapa guru duduk dengan siap menjadi sumber jawaban untuk setiap pertanyaan santri. Pos-pos ini tersebar merata di setiap zona.
Dalam pengarahannya, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan bahwa belajar bukanlah yang dikebut dalam satu malam, namun belajar dilakukan sepanjang tahun. Belajar sedikit demi sedikit sehingga ilmu yang dipelajari dapat melekat erat di fikiran masing-masing. Suasana belajar seperti ini adalah suasana yang mahal. Bersyukur dengan adanya suasana seperti ini. Indah, melihat kesadaran santri untuk belajar dan kesadaran guru untuk mengajar.
K.H. Masyhudi Subari menambahkan, bahwa ini adalah kesempatan bagi para guru untuk memantapkan ilmu mereka. Karena pada hakekatnya ilmu adalah apa yang diamalkan dan apa yang diajarkan. farouq

Totalitas Pendidikan Gontor dalam 24 Jam

0
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor

Hasil yang jauh berbeda, antara mereka yang menerima pendidikan di asrama dengan mereka yang tidak di asrama. Tidak banyak waktu kosong yang terbuang begitu saja bagi mereka yang tinggal di asrama. Waktu kosong tersebut akan diisi dengan kegiatan pendidikan. Berbeda halnya dengan mereka yang tidak berasrama. Ketika bel tanda berakhirnya jam pelajaran berdentang, seketika itu pula jam pendidikan ditutup. Jam belajar mereka tehitung dari jam tujuh pagi hingga pukul dua siang. Selebihnya adalah kekosongan, yang entah apa yang akan mereka lakukan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Sering bertemu, hal inilah yang menjadikan hubungan batin antara guru dan murid terjalin begitu eratnya. Guru bisa menjadi guru, teman, kakak, atau orang tua bagi muridnya. Guru mendoakan murid dan murid mendoakan gurunya. Bila satu hari seorang guru tidak mengajar, maka dia akan sangat merindukan muridnya. Tapi, hubungan kurang terjalin erat bila guru dan murid jarang sekali bertemu. Sulit untuk memperat hubungan batin jika kesempatan pertemuan antara guru dan murid hanya tujuh jam saja.

Dalam 24 jam kehidupan di asrama, guru bisa menjadi tauladan langsung bagi para murid. Murid bisa langsung mencontoh bagaimana gurunya berperilaku, berbicara, berolahraga, berpakaian, hingga bagaimana caranya menyapu. Namun akan sedikit yang bisa diambil oleh murid dari gurunya jika keduanya hidup bersama hanya sepertiga hari. Ditambah lagi jika dipotong dengan hari libur yang terkadang tidak menentu.

Gontor dari awal rintisannya oleh Trimurti telah disiapkan sebagai tempat untuk menempa guru yang berkualitas. Guru yang mampu mengajar ilmu apa saja dan juga mampu menjadi seorang pemimpin. Pesantren Gontor dengan 24 jam kehidupannya adalah totalitas pendidikan. Pesantren tidak hanya mendidik intelektual, tapi Pesantren juga mendidik mental dan spiritual para murid.

Mendidik murid selama 24 jam memang tidak mudah. Guru benar-benar diuji untuk bisa membagi waktu seadil mungkin. Bagaimana seorang guru membagi waktu untuk pribadinya, kuliahnya, murid-muridnya dan juga pondoknya. Namun, disinilah letak keindahan dari perjuangan, pengorbanan dan keihklasan. farouq

Disampaikan K.H. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. di Masjid Pusaka, Jum’at, 24 Mei 2013

 

 

LONG LIFE EDUCATION

0

anak_bacaMeskipun hadis ‘uthlub al-ilm minal mahdi ilal lahdi’ secara isnad jatuh dan hanya mashur indza lissani nas’ saja; namun inti ajaran dalam hadis tersebut tetap sesuai dengan al-Qur’an; “akhrajakum min buthuni ummahatikum la ta’lamuuna syaian wa ja’alakum as-sam’a wa al-abshara wa al-af’idata” (an-Nahl: 78); intinya; kita lahir dalam kondisi tidak mengerti apa-apa, namun Allah membekali kita dengan tiga potensi yang memungkinkan kita mendapatkan pengetahuan. Ketiga potensi itu adalah; telinga, mata, dan hati. Dari ketiga potensi inilah manusia memasukan pengetahuan dalam dirinya. Lalu tugas akal memproses pengetahuan itu menjadi ilmu.

Terlepas dari memperbincangkan keshahihan hadis di atas; bahwa perintah menuntut ilmu itu berlaku bagi kita mulai umur yang paling dini hingga tutup usia. Karenanya; potensi pendengaran, penglihatan, dan rasa; harus sedini mungkin dilatih dengan hal-hal yang baik, agar apa yang dicerap oleh pikiran adalah hal yang benar dan baik. Pelatihan tiga potensi itu wajib; sebab segala sesuatu jika dilatih mulai dini ia akan tumbuh menjadi kuat, kokoh dan sehat. Kuat dan sehatnya ketiga alat transformasi pengetahuan itu memungkinkan arus pengetahuan yang menuju kepada jiwa dan akal adalah pengetahuan yang sehat juga. Dan dengan pengetahuan yang sehat itulah, seseorang tumbuh menjadi manusia paripurna, kuat menghadapi segala ujian kehidupan, dan mampu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi di masa depannya.

Menyadari hal yang demikian; maka di Gontor apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan santri disengaja diciptakan untuk mendidik. Setiap santri akan sangat familiar dengan filsafat pendidikan ini “apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu rasakan, adalah pendidikan!”, kalimat ‘disengaja diciptakan’ menunjukan bahwa pendidikan di Gontor tidak hanya saat siswa atau santri masuk kelas; sebab penglihatan, pendengaran, dan perasaan santri itu tidak hanya hidup saat ia ada di kelas, melainkan sepanjang santri itu membuka mata dan telinga, sehingga 24 jam waktu santri adalah 24 jam waktu Gontor berkewajiban mentransformasikan pendidikannya melalui apa yang dilihat didengar atau dirasakan santri.

Karena itu; maka setiap kali mata santri memandang; ia harus mendapatkan sesuatu yang bernilai. Demikian juga setiap kali santri itu mendengar, suara-suara yang terdengar oleh santri haruslah mengandung nilai! karena pendengaran dan penglihatan selalu bertemu dengan segala hal yang bernilai, apa yang dirasakan santri kemudian dengan sendirinya adalah hal-hal yang bernilai. Kebiasan melihat, mendengar, merasakan yang baik-baik itu ditanamkan 24 jam kali lama santri itu belajar di Gontor; hasilnya adalah watak dan karakter, cara pandang kehidupan, pola sikap, tingkah laku, dan pola pikir santri itu akan berwarna sama, yakni warna Gontor.

Itulah kenapa kami selalu dinasehati untuk menjaga sakralitas kehidupan yang ada di Gontor ini, disamping karena ia adalah alat dalam mendidik santri, sakralisasi kehidupan itu adalah bagian dari akhlak seorang muslim. Menjadi seorang muslim artinya berani mempertanggung jawabkan atas setiap tindakan sekecil apapun yang ia lakukan di dunia ini dihadapan Allah yang tidak tidur, yang maha melihat segala hal, yang tersembunyi dan yang nampak. Karena apa yang kita lakukan dipertanggung jawabkan, lalu apa yang tidak sakral dalam hidup ini? Ya, tidak ada!

Maka di Gontor segala hal diatur, ada hal-hal yang dilarang, dan ada hal-hal yang dibolehkan, agar sesuai dengan miliu pendidikan yang diinginkan oleh Gontor. Aturan-aturan itu menciptakan kebiasaan, dan kebiasaan itu melahirkan budaya! Setiap orang yang hidup dalam naungan Gontor harus selalu belajar untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik agar terjaga budaya nilai yang sacral tadi. Kemauan untuk terus belajar dan mendidik diri sendiri Inilah kemudian yang kami kenal dengan istilah ‘long life education’ kewajiban untuk terus mendidik diri sendiri, mengembangkan kemampuan menyerap, dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik sepanjang usia diizinkan Allah untuk kita miliki, tidak ada titik untuk terus menambah ilmu selain kematian; karena itu Kyai kami selalu berpesan “arahah fil jannah’ istirahat itu di surga; selagi masih hidup; engkau harus terus berkembang dan hidup seperti ikan segar bukan gereh (ikan asin)!” wallahu a’lamu bishawab. (hasibamrullah)

‘Tau’iyyah Diniyyah’, Motivasi Santri dalam Peningkatan Ubudiyah

0
Dr. Abdul Hafiz Zaid, M.A. menyampaikan tausiyah di depan seluruh Siswa Akhir KMI 2013, Jumat (17/5/2013).
Dr. Abdul Hafiz Zaid, M.A. menyampaikan tausiyah di depan seluruh Siswa Akhir KMI 2013, Jumat (17/5/2013).

GONTOR – Di samping jadwal aktivitas pondok yang begitu padat, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) juga memfokuskan perhatiannya pada peningkatan ubudiyah, mental dan akhlak para santri. Salah satu upayanya dengan pelaksanaan kegiatan tau’iyyah diniyyah. Kegiatan ini ditujukan guna meningkatkan ubudiyah dan akhlak santri, motivasi peningkatan ‘volume’ ibadah hingga pendekatan asatidz pada santri, terutama pada kegiatan kepengasuhan (non-akademis).

Kegiatan ini dilaksanakan berselang antara satu Jumat dengan Jumat yang lain, sehingga terlaksana dua kali dalam sebulan. Guna memudahkan jalannya kegiatan ini, materi, waktu serta penempatan ustadz di seluruh rayon dikontrol oleh staf Dewan Mahasiswa.

Selain itu, seluruh guru KMI disetting untuk mendapatkan jatah menyampaikan tau’iyah. Dikarenakan jumlah guru yang begitu banyak, maka dibagi dalam beberapa gelombang. Tiap guru-guru dijadwalkan untuk mengisi satu kamar di Rayon santri, yang notabene berjumlah 20 hingga 30 santri.

Guna menyeragamkan materi yang disampaikan, maka Dewan Mahasiswa telah menentukan tema yang pada tiap kemisan disampaikan oleh Pimpinan PMDG. Beberapa tau’iyah terakhir, sempat membahas tentang cara berbicara di depan umum, bahaya Yahudi dan Zionisme hingga motivasi kepada anak-anak tentang ujian yang akan datang beberapa waktu lagi.binhadjid

 

 

ISID Gelar Festival Bahasa Antar Kampus

0
Salah seorang Mahasiswa dari Kampus ISID Siman sedang memaparkan pendapatnya dalam Lomba Debat Bahasa Inggris dalam Rangka Festival Bahasa yang diselenggarakan di Kampus ISID Siman, Jumat (17/5/2013) lalu.
Salah seorang Mahasiswa dari Kampus ISID Siman sedang memaparkan pendapatnya dalam Lomba Debat Bahasa Inggris dalam Rangka Festival Bahasa yang diselenggarakan di Kampus ISID Siman, Jumat (17/5/2013) lalu.

GONTOR – Di samping penggalakan dalam segi akademis mahasiswa, Institut Studi Islam Darussalam (ISID) juga menggalakkan kegiatan kebahasaan. Selain menjadi motor penyemangat mahasiswa untuk mengasah kemampuannya dalam bidang ilmu pendidikan, acara ini juga ditujukan untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswa dalam berbahasa, baik secara teoritis maupun prakteknya.

Acara yang bertemakan “Building Islamic Civilization Based on Language and Islamic Education” ini diadakan di Kampus ISID Siman pada Jum’at (17/5/2013) lalu. Diikuti oleh 104 mahasiswa dari Kampus ISID Siman, Gontor 1, Gontor 2, dan Gontor 3, sehingga masing-masing kampus mengirimkan 26 orang peserta.

Adapun acara yang dibuka oleh Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A. ini terdiri dari macam-macam perlombaan, antara lain; Cerdas Cermat, Debat tiga Bahasa, Essay Arab dan Inggris, Master Language, Membaca syi’r ‘Arobiy, Poetry Reading, Translation, Broadcasting, Just Word, dan masih banyak lagi.

Tampil sebagai juara umum, yaitu mahasiswa perwakilan dari Kampus Gontor 2 dan Kampus Gontor 3 keluar sebagai juara favorit.

Acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah kemudian ditutup oleh pembantu rektor, Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A.  dan Dr. H. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A, M.Phil. Dengan diadakannya acara ini, diharapkan sebagai ajang untuk mempresentasikan dan pertukaran ide di bidang kependidikan dan bahasa internasional dengan maksud sebagai tolak ukur pemahaman seputar ruang lingkup dunia pendidikan dan bahasa. Fei

 

PERTEMUAN JIWA

0

beningGontor – sering dalam beberapa kesempatan – guru-guru kami menyebut sebagai kawah condrodimuko, tempat dibentuknya Gatot Koco menjadi kasatria pilih tanding, tempat ditempanya jiwa dan raga, sehingga setelah keluar dari kawah tersebut ia menjadi digdaya. Dalam proses pembentukan itu; bertemulah jiwa yang membentuk dan jiwa yang dibentuk; jiwa guru dan jiwa murid. Pertemuan jiwa ini satu hal yang sangat mendasar dalam model pendidikan Gontor. Pertemuan yang dalam bahasa Gontor menjadi ‘guru ihlas mendidik, siswa ihlas dididik’. Jika tali jiwa ini telah tersambung, maka proses pembentukan jiwa itu baru akan berjalan efektif.

Ihlas – dalam perspektif guru – adalah ketulusan untuk memberi, pengosongan dari segala jenis kepentingan dan interes duniawi dan yang material. Rumusan seorang guru di Gontor adalah ‘live to give’ sebagaimana yang dituturkan oleh KH Hasan Abdullah Sahal (pimpinan dan pengasuh pondok Modern Gontor) ‘di Gontor yang ada adalah; “to give, to give and to give!” bukan give to take, atau take and give, give to take itu mengandung interest tertentu, filosofi politik, take and give adalah filosofi dagang!’ keduanya jauh dari makna ihlas; ihlas dalam perspektif ini adalah kosong dari kepentingan selain Allah, ‘it was between us and God’ harus menjadi satu tali yang mengikat setiap kali seorang guru Gontor melaksanakan kewajiban dan tugasnya.

Jika sang pembentuk (guru) menyimpan di dalam jiwanya potensi ihlas itu; maka yang lahir dari apa yang dikerjakan saat ia mengajar santrinya adalah ‘ungkapan cinta’; marahnya, menghukumnya, menjelaskan-menerangkanya, memerintah-menyuruhnya adalah serangkaian usaha untuk membawa siswanya menjadi qurrata a’yun wa lil muttaqina imama; dengan potensi ihlas itu; segenap usahanya dalam pembinaan santri adalah lukisan indah di jiwa santri-santrinya yang akan mereka kenang sepanjang hayat mereka.

Almarhum KH Imam Zarkasy (salah satu trimurti pendiri Pondok Modern Gontor) misalnya – setiap kali memarahi santrinya dengan kemarahan habis-habisan, melakukan sholat dan menangis; lalu mendoakan kebaikan bagi hidup siswa tersebut. Begitu juga saat beliau hendak mengusir santrinya yang melanggar; menetes air mata beliau sebelum tinta pulpen-nya menggoreskan tanda tangan di atas kertas keterangan pengusiran santri itu. Tidak ada dendam bagi kesalahan yang dilakukan santrinya, setiap tindakan hukuman dan teguran adalah demi kemaslahatan santri itu sendiri. Karena ihlas itulah, maka santri-santrinya yang pernah dimarahi, yang pernah dihukum, menerima dengan hati lapang, bahkan bersyukur atas apa yang mereka terima, sebab itulah ungkapan cinta, perhatian, dan kasih sayang seorang guru kepada mereka.

Sementara ihlas – dalam perspektif santri – adalah; kerelaan hati untuk dididik dan diajar, kepercayaan total, loyalitas tanpa tepi kepada guru yang mendidik dan mengajarinya. Hal-hal itulah yang akan membuka hatinya, telinga dan matanya untuk menyerap sebanyak mungkin kebaikan dan nilai-nilai yang diajarkan gurunya. Ihlas diajar dan dididik, dalam bahasa Ali bin Abi Thalib adalah; “man ‘allamani harfan sirtu lahu ‘abdan” kalimat ini adalah azzam dalam jiwa seorang santri untuk taat dan patuh kepada gurunya; kebulatan tekad untuk menyerap sebanyak mungkin ajaran, dididikan, dan arahan atau apa saja yang diinginkan gurunya untuk ia kerjakan tanpa tanda tanya.

KH Kholil Bangkalan – misalnya; pernah memiliki seorang santri yang saat di pesantren waktunya lebih banyak digunakan untuk membantu bekerja di ladang dan sawah demi ketaatan kepada gurunya daripada waktu yang digunakannya untuk belajar di ruang-ruang kelas. Setelah hitungan tahun berlalu; kyai Kholil memanggil santri tersebut dan mengatakan bahwa masa studinya telah usai, lalu menyuruhnya untuk pulang dan mendirikan pesantren. Meskipun pada mulanya santri ini bingung, merasa belum mendapatkan pelajaran yang cukup selama ia menimba ilmu disitu, namun ‘loyalitas tanpa tanda tanya’ itu menghendaki jawaban ‘ya’ untuk setiap perintah gurunya. Kenyataannya; ia kemudian dapat merintis sebuah pesantren, dan pesantren itu masih ada hingga sekarang dengan jumlah santri ribuan. Dan itu adalah buah dari jiwa ihlasnya.

Inilah hubungan jiwa Guru dan Murid; tali penghubungnya bernama Ihlas. Meski kelihatanya sepele, namun hubungan itulah pondasi bagi lahirnya manusia-manusia yang keberadaanya berharga seribu orang. Mungkin saja secara metodologis pendidikan dan pengajaran yang ada; tidak bagus-bagus amat, biasa saja atau bahkan ketinggalan zaman, namun jiwa yang dimiliki guru dan murid yang demikian itu; menciptakan gelombang dahsyat perubahan dalam pembentukan jiwa seorang murid. Apa yang dalam filsafat pendidikan Gontor kemudian dikenal dengan istilah ‘ruhul mudaris ahamu minal mudaris’ jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri. Wallahu a’lamu bishawab. (hasibamrullah).

Dinamika Kehidupan Pesantren

5
Kegiatan seni bela diri santri di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor
Kegiatan seni bela diri santri di Pondok Modern Darussalam Gontor

Pada dasarnya, pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dikemas dalam berbagai macam kegiatan di kampus yang membentuk sebuah dinamika kehidupan yang syarat akan nilai, jiwa, idealisme, dan falsafah kehidupan yang dipegang teguh oleh Gontor. Oleh karena itu, dalam perputaran waktu 1 x 24 jam, pesantren Gontor tidak pernah tidur, al-ma’hadu la yanamu ‘abadan, karena berbagai macam aktivitas dilaksanakan oleh seluruh elemen pesantren dalam rentang waktu tersebut. Semua minat dan bakat santri diberikan wadah yang memadai untuk mengembangkan kecerdasannya; baik itu kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, spasial, atau kecerdasan-kecerdasan lainnya.

Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang menarik adalah seni bela diri. Dalam ekskul tersebut, santri dididik untuk memiliki ketahanan fisik yang kuat, jiwa sportivitas, menghargai orang lain, berdisiplin, dan pantang menyerah. Nilai-nilai pendidikan inilah yang selalu ditanamkan dalam kegiatan tersebut.

Agar nilai-nilai itu dapat tertanamkan dengan baik, terdapat penanggung jawab khusus dari para guru/ustadz yang diberi amanah oleh Kyai untuk mengawalnya. Pola pengawalan semacam ini juga berlaku untuk puluhan kegiatan ekstrakurikuler lainnya, sehingga seluruh aktivitas santri yang dilaksanakan tidak kering akan nilai-nilai pendidikan Gontor. AbuNuya

NIAT

5
Pentingnya meluruskan niat ketika masuk pesantren
Ke Gontor apa yang kau cari?

‘Ke Gontor apa yang kau cari?’ kalimat tanya ini akan anda dapati saat memasuki kampus Gontor manapun. Satu pertanyaan sederhana, meskipun ma’na dibalik jawabannya adalah ketakterhinggaan, adalah ‘ruang’ di hati para pelajarnya; luas dan sempitnya ruang itu, bergantung dari tepat tidaknya jawaban atas pertanyaan sederhana tersebut. Ia memasuki hati, bersinggasana disana, dan tak akan berhenti untuk terus memperdengarkan pertanyaan itu berulang-ulang, baik saat santri ingat, diingatkan, atau secara tidak sengaja membaca deret kalimat itu, ya… kalimat tanya yang menempel di dinding-dinding gedung yang ada di setiap kampus Gontor itu akan terus bertanya sepanjang waktu santri ada di dalam naungan kehidupannya. Pertanyaan yang terus menuntut santri, guru, dan seluruh penghuninya; mempertanyakan niat! Kenapa mereka masih ada disana, untuk apa?

Suatu saat dalam perjalanan bersama beliau KH Abdullah Syukri Zarkasy (pimpinan dan pengasuh Pondok Modern Gontor) berkata “pondok ini adalah pondok serius, bukan pondok main-main; kami sungguh-sungguh dalam mendidik dan mengajar santri; pol-polan, habis-habisan, bondo bahu pikir lekperlu sak nyawane pisan, korban harta, korban pikiran, korban perasaan, dengan seluruh jiwa dan hati; kami berdoa keras, bekerja keras, berpikir keras untuk mencetak mereka – kader-kader umat ini – menjadi manusia yang bisa bergerak dan juga menggerakan, mampu berjuang dan memperjuangkan, hidup dan menghidupi, menjadi manusia yang banyak manfaatnya, kaya zakatnya, kaya amalnya, kaya karyanya. Pondok ini bukan pondok main-main, yang hanya sekedar menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran, asal siswa diajar, dididik lalu mereka menyelesaikan jenjang yang ada, hanya begitu saja. Pondok ini adalah pondok nilai – yang mengemban amanat untuk menyebarkan risalah kenabian – dan untuk memperjuangkan nilai-nilai besar itu; tidak akan pernah berhasil tanpa kesungguhan, kerja keras, keseriusan dan niat yang benar. Cita-cita pondok kita besar, karena itu niatmu juga harus besar, harapan kita tinggi, karena itu hatimu harus kokoh dan kuat! tinggikan cita-citamu! kuatkan niatmu!”

Hari ini; jumlah pendaftar untuk menjadi siswa Gontor sudah mencapai 1500-an, sementara waktu yang dibuka untuk pendaftaran masih panjang sampai 10 syawal di depan; entah sampai di angka berapa calon pelajar tahun ini nantinya? Namun jumlah calon pelajar bukan hal terbesar yang ada di kepala kami – penyelenggara pendidikan – yang terbesar yang menguasai hati kami sesungguhnya adalah seberapa benar niat mereka memasuki Gontor ini; sudahkah mereka mempertanyakan baik-baik niat mereka hendak belajar disini? Untuk apa? Adakah mereka kesini hanya karena Gontor terkenal, karena itu keren jika bisa sekolah ditempat yang terkenal? Atau adakah mereka kesini hanya karena mereka telah tercemar dengan bergaulan di sekolah mereka dahulu; sudah keburu rusak mentalnya dan berharap Gontor mampu memperbaikinya? Ataukah mereka adalah anak-anak yang menjadi korban pemaksaan orang tua, karena ketakutan orang tua atas lingkungan buruk pergaulan di tempat mereka, sehingga memasukan anaknya ke Gontor adalah alternative jitu, murah dan praktis untuk menyelamatkan buah hati mereka? Jika niat para calon pelajar hanya itu, kasihan Gontor, dianggap sebagai penitipan anak, bengkel akhlak, dan hanya sekedar menjadi semacam konservasium atas rusaknya lingkungan di rumah calon pelajar itu tinggal.

Sekali lagi ‘niat’, ia berkaitan dengan seberapa dalam kita mengarahkan hidup kita agar benar. Belajar di Gontor adalah masalah niat pada mulanya; jika niat dalam hatinya tepat; ia akan sangat cepat menyerap nilai-nilai pondok ini dan akhirnya menjadi darah dan jantungnya, dimana kelak ia hidup dengan itu. Gontor bukan hanya lembaga pengajaran yang mengarahkan siswanya untuk bisa menguasai beragam pengetahuan yang tersusun dalam silabus buku ajar, ia lebih dari itu; ia adalah lembaga kehidupan yang mengajarkan kehidupan, mencetak seorang muslim bagaimana ia menjalani hidupnya, membawa manusia untuk mengerti untuk apa mereka dilahirkan!(hasib amrullah)