Para Alumni tahun 1992 bersilaturahim dengan Pimpinan PMDG.
GONTOR – Guna menjalin silaturahim serta nostalgia kembali masa lalu selama mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), alumni tahun 1992 menggelar acara reuni yang bertajuk ‘Taqohnas’. Acara yang diikuti oleh sekitar 180 alumni PMDG tahun 1992 ini digelar di Wisma Darussalam pada Sabtu-Ahad (27-28/4/2013).
“Acara ini kami beri nama Taqohnas. Diambil dari Bahasa Arab yang berarti makan dan ‘ngopi’ bareng dalam taraf nasional, karena alumni kita sekarang sudah menyebar di seluruh Indonesia,” tutur Dr. H. Miftahul Ulum M.Ag, penanggung jawab acara Taqohnas yang kini aktif mengajar di Institut Studi Islam Darussalam.
Acara ini digelar selama 2 hari, diawali pada Sabtu (27/4) pagi dengan pembukaan dari kalangan internal alumni tahun 1992. Dilanjutkan dengan berjamaah di Masjid Jami dan makan bersama di dapur umum. Usai makan siang, mereka menyempatkan diri untuk thawaf qudum di sekitar kampus PMDG dan mengadakan pertandingan persahabatan melawan Persatuan Olahraga Mahasiswa Darussalam (Pormada).
Dan pada Sabtu (27/4) malam merupakan puncak dari acara Taqohnas ini, yakni silaturahim dengan Pimpinan PMDG yang pada kesempatan tersebut dihadiri oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. Syamsul Hadi Abdan. Menurut para peserta acara tersebut, tausiyah dari K.H. Hasan Abdullah Sahal me-review kembali ilmu-ilmu serta jiwa-jiwa kepondokmodernan yang sudah tak mereka dengan selama 21 tahun. Pada keesokan harinya, acara diakhiri dengan mendengarkan tausiyah kembali dari Pimpinan PMDG di depan kantor pimpinan, dilanjutkan dengan acara perpisahan yang dilaksanakan pada Ahad (28/4) siang.binhadjid
Rabu, 1 Mei 2013 Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 menyelenggarakan acara pembukaan pendaftaran calon pelajar Pondok Modern Darussalam Gontor Putri didepan gedung Beirut yang menjadi tempat proses pendaftaran berlangsung. Peresmian pembukaan dipimpin langsung oleh wakil pengasuh Pondok Cabang Gontor Putri 2 Al-Ustadz Suwarno TM, S.Ag dan dihadiri oleh seluruh Ustadzah yang juga menjadi panitia pendaftaran tersebut.
Pengangkatan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Pasca Trimurti
Berbilang tahun lalu, ketika Pak Sahal akan berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, Dr. H. Idham Cholid berkesempatan mendampingi beliau hingga Tanjung Priuk –ketika itu naik haji masih memakai kapal laut. Entah kenapa, tiba-tiba saja Idham Cholid berujar demikian, “Kalau saat ini saya disuruh kembali ke Gontor, menggantikan Pak Sahal, saya tidak sanggup. Tetapi, kalau disuruh menggantikan Pak Zar, saya sanggup.”
Sekilas, ucapan Idham Cholid itu agak merendahkan Pak Zarkasyi, karena sanggup digantikannya. Sementara, di sisi lain, dia tidak sanggup menggantikan Pak Sahal. Apa makna ucapan itu? Marahkah Pak Zar? Tidak. Sama sekali tidak. Pak Zar justru bersyukur dan bangga dengan ucapan Idham Cholid itu. Mengapa? Karena upaya kaderisasi yang dilakukan Pak Zarkasyi melalui program Kulliyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyah (KMI)-nya telah berhasil; mendidik santri hingga siap menggantikan peranan beliau yang tentu saja tidak ringan.
Berbilang tahun kemudian, tepatnya tahun 1984, terlontar ucapan dari K.H. Imam Zarkasyi di hadapan para anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor. Ketika itu, anggota Badan Wakaf merasa canggung jika sewaktu-waktu ditinggalkan Pak Zarkasyi menghadap Sang Khaliq. Siapa yang pantas menggantikan beliau, yang, menurut mereka, kekyaiannya berkaliber internasional. Pak Zar pun meluruskan, bahwa siapa saja kyai di seluruh Indonesia ini yang kalibernya nasional bahkan internasional beliau yakini tidak akan sanggup memimpin PM Darussalam Gontor. “Syarat menjadi Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor adalah tamat KMI. Titik. Apalagi jika sudah pernah mengajar.”
Jelas, peristiwa pertama dan kedua di atas ada benang merahnya. Niat Pak Zarkasyi dengan KMI-nya sangatlah simpel, sederhana, yakni mencetak kader-kader ulama, kader pemimpin, mundzirul qaum, termasuk kader pemimpin PM Darussalam Gontor, agar estafet kepemimpinan tidak terputus. Maka, peranan sebagai Direktur KMI, sejak zaman Pak Zarkasyi hingga saat ini, akan sangat mudah digantikan oleh generasi penerus, murid-murid beliau, asalkan dia tamat KMI, dan apalagi jika sudah berpengalaman mengajar pula.
Belajar 4 atau 6 tahun di KMI sudah dirancang sedemikian rupa. Ada hubungan yang sangat erat antara aktivitas belajar di dalam kelas (pagi) dengan aktivitas pendidikan santri di luar kelas, di asrama dan di tempat-tempat aktivitas mereka.
• Bahwa Pelajaran Fiqih pada tahap awal berbahasa Indonesia dan nyaris tanpa dalil, bermakna agar siswa dapat beribadah dengan baik. Jadi, kalau mau belajar beribadah tidak perlu terlalu banyak dalil; menyuruh anak shalat tidak perlu ayat atau Hadits, karena perintahnya sudah jelas dan harus dikerjakan. Dalil-dalil tentang Fiqih, ibadah baru akan diajarkan di kelas-kelas selanjutnya. Jadi, belajar Fiqih bukan untuk pengetahuan, melainkan untuk mengetahui cara beribadah dengan baik dan benar;
• Bahasa Arab dimulai dari yang paling ringan, yakni mengenal segenap benda di sekitar yang biasa dimanfaatkan santri, seperti piring, penghapus, papan tulis, penggaris, dsb., disertai contoh-contoh kalimat yang sederhana, mudah ditirukan, mudah dihafal. Setelah bekalnya cukup, contoh ucapan dan kalimat-kalimat sederhana diakuisisi anak-anak, pada kelas berikutnya, baru siswa diajari ilmu tata bahasanya, Grammar, Qawa’id (Nahwu-Sharaf), dan terakhir diajari uslub, penuturan bahasa yang bersifat sastra dalam ilmu Balaghah;
• Setelah Kelas 3 KMI, siswa diajari materi Tarbiyah, tepatnya Tarbiyah wa Ta’lim, yang isinya disesuaikan dengan perkembangan aktivitas mereka di di asrama. Materi ini terus daijarkan kepada siswa hingga Kelas 6 dan disesuaikan dengan aktivitas mereka di luar kelas;
• Begitu pula pelajaran-pelajaran yang lain.
Dengan demikian, anak-anak yang sudah tamat KMI dan sudah mengalami proses, akan mampu menjadi pimpinan pondok, juga mendirikan pondok. Lantas, mengapa Idham Cholid tidak sanggup menggantikan Pak Sahal. Ya jelas. Pak Sahal adalah pendiri, perintis berdirinya PM Darussalam Gontor. Ketokohannya jelas tak mungkin tergantikan, bahkan oleh Pak Zarkasyi.
Begitu sederhananya cara Gontor mendidik orang menjadi kader pemimpin: mudah dicerna, dan gampang ditiru, sebab para Trimurti itu telah mengatakan, bahwa dalam pesantren seperti yang dimaksud oleh Gontor, kyai adalah sentral figur yang bisa dicontoh, cara hidupnya, berpakaiannya, mengajarnya, ibadahnya, rumahnya, bicaranya, dsb. Kemudian, agar para santri itu lebih mudah lagi mencerna pendidikan, Gontor mempunyai slogan sendiri, yakni bahwa di Gontor ini, apa yang kamu lihat, kamu dengar, kamu rasakan, dan kamu alami, semua adalah pendidikan. Maka, untuk menjadi Pimpinan Pondok seperti Gontor sangat tidak sulit, karena, di Gontor, santri-santri itu sudah melihat, mendengar, merasakan, bahkan mengalami (berproses) bagaimana harus menjadi pemimpin. Yang paling penting, harus bisa menjadi contoh.
Itulah keunggulan sistem KMI berasrama. Benar-benar sebuah sistem yang integral; pendidikan karakter yang komplit. Wallahu a’lam. Nasrullah ZM Zarkasyi
GONTOR- Mabikori kembali menggelar acara yang berkenaan dengan kegiatan kepramukaan outdoor, yakni Perkajum pada hari Jum’at (26/4) lalu. Perkemahan yang kali ini berlokasikan di lapangan MIN Mlarak, desa Mlarak ini merupakan perkemahan Kamis-Jum’at yang diadakan untuk yang terakhir kalinya pada tahun ajaran ini. Hal ini dikarenakan sudah dekatnya rentetan ujian bagi para siswa KMI.
Adapun para peserta yang totalnya berjumlah 350 orang tersebut adalah para anggota kelas 1 sampai dengan 3 yang menjadi anggota gugus depan 15089-01, 05, 09, 11, 13, 15, dan 19. Adapun gugus depan 15089-03, 07, dan 17 tidak mengikuti kegiatan ini, karena sudah mengikutinya dalam acara Perkajum gelombang sebelumnya. Adapun beberapa peserta juga diambil dari anggota Konsulat Ponorogo dan Luar Negeri.
Pada acara Malam Unggun Gembira, adalah Al-Ustadz Afif Chamidi yang diamanati untuk mewakili Bapak Pimpinan dalam pemberian sambutan. Beliau menjelaskan, bahwasanya tujuan diadakannya acara Perkajum ini, salah satunya adalah untuk memperluas syiar Islam dan Gontor pada masyarakat. Dan menjelaskan, bahwasanya para santri tidak hanya mempelajari Qur’an saja, melainkan mereka juga bisa turut aktif dalam kegiatan seperti seni, kepramukaan, dan kegiatan lainnya.
Adapun kegiatan hiking pada keesokan harinya, ialah perjalanan menuju gua Sahal. Para peserta-pun turut antusias dalam mengikuti rentetan acara ini. Fei
Tampak 2 unit mobil Hiace dan Hilux yang merupakan hadiah dari Bank Muamalat.
GONTOR – Sebagai salah satu nasabah dalam jumlah besar, Pondok Modern Darussalam Gontor mendapatkan hadiah dari Tabungan Prima Muamalat. Hadiah ini merupakan bagian dari Program Promo Tabungan Prima Muamalat dan Reward Nisbah yang berlaku semejak Desember 2012 hingga April 2013. Tentunya, hadiah ini diberikan dengan beberapa syarat yang telah disepakati oleh pihak Bank Muamalat dan pihak PMDG.
Adapun bantuan ini berupa 4 unit mobil, yaitu 1 unit Toyota Hiace, 1 Unit Toyota Hilux dan 2 unit Isuzu Elf. Seluruh bantuan ini diberikan sebagai hadiah kepada PMDG dengan nominal Rp 1,1 milyar.
Selain itu, untuk serah terima hadiah, akan dilaksanakan setelah 2 unit elf diserahkan ke PMDG. “Sampai sekarang, baru Toyota Hiace dan Hilux yang di sini. Itu belum resmi diserahkan, hanya dititipkan dulu, karena keterbatasan tempat parkir di Bank Muamalat Kantor Cabang,” ujar Ustadz Deni Ramli Fauzi, S.H.I., salah satu staf Administrasi yang bertanggung jawab dalam hal tersebut. Menurut rencana, penyerahan secara resmi 4 unit mobil tersebut akan dilakukan langsung oleh Direktur Utama Bank Muamalat Pusat kepada Pimpinan PMDG pada minggu ini.
Untuk rencana ke depan, 1 unit Toyota Hiace akan digunakan untuk kepentingan transportasi dosen-dosen Institut Studi Islam Darussalam (ISID), kepentingan guru-guru senior serta transportasi tamu-tamu luar negeri. Adapun 1 unit Toyota Hilux akan digunakan untuk keperluan Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern serta 2 unit Isuzu Elf akan digunakan untuk kepentingan santri PMDG. binhadjid
Menteri Agama RI Suryadharma Ali turut menghadiri Konferensi tentang Islam, Peradaban dan Perdamaian di Jakarta (23-24/4).
JAKARTA–Di sela-sela kesibukan padat, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), K.H. Hasan Abdullah Sahal menyempatkan diri untuk menghadiri Konferensi Internasional tentang Islam, Peradaban dan Perdamaian. Acara yang diselenggarakan di Jakarta, tepatnya di hotel Borobudur, Jakarta Pusat, merupakan kerjasama Kementerian Agama RI dengan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Yordania. Acara berlangsung selama 3 hari, sejak Senin (22/4) hingga Rabu (24/4).
Konferensi tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan bersama untuk melakukan elaborasi dan sosialisasi naskah “Amman Message” yang diselenggarakan pada tahun 2005 di Amman, Yordania, dalam rangka mewujudkan kehidupan beragam secara harmonis dan damai antar umat Islam dunia.
Acara diisi dengan keynote speech, yang pertama, disampaikan oleh Mahatir Muhammad (Mantan Perdana Menteri Malaysia), kedua, oleh Prof. Abdul Salam Al-Abadi, terkait Risalah Amman (Amman Message) – Islam Rahmatan lil ‘alamin, ketiga, dilanjutkan dengan “Dialog dalam Mengembangkan Kehidupan Beragama yang Harmoni dan Damai”, disampaikan oleh Prof. Nasrudin Umar (Wakil Menteri Agama RI). Konferensi menghasilkan 9 rekomendasi yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang Islam, perdamaian dan memaksimalkan infrastruktur ekonomi Islam seperti wakaf, zakat, sedekah, perbankan dan bisnis syari’ah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat Islam, diantaranya;
1. Mengajak dunia Islam untuk terus meningkatkan pemahaman tentang Islam sebagai rahmatan lil alamin melalui pendidikan, dakwah, pelatihan, buku-buku, publikasi, dan media.
2. Mendorong semua organisasi Islam untuk memanfaatkan sumber daya mereka dan pengaruhnya untuk menyebarluaskan perdamaian yang di bangun di atas dasar keadilan, pemahaman, dan harmoni serta mendukung resolusi damai.
3. Menarik semua bangsa untuk menghargai dan menghormati agama dan keyakinan, sesuai pesan Tuhan dan Para Rasul, dan menjamin kebebasan yang bertanggung jawab mengenai hal-hal yang bisa berdampak negatif dan tidak diinginkan pada masyarakat.
Sebelumnya, acara dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono. elfah
Di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor terdapat sebuah program yang dikhususkan untuk siswa kelas 6 KMI (siswa akhir di Gontor). Program yang menjadi salah satu ujian bagi santri sebelum menamatkan pendidikan di Gontor ini disebut Attarbiyah al-‘Amaliyah (praktik mengajar). Dalam kegiatan ini, seluruh santri akhir akan mendapatkan giliran untuk mengajar. Mereka dibagi menjadi beberapa puluh kelompok. Semuanya akan mendapatkan jadwal mengajar pelajaran tertentu, di kelas tertentu pula, sesuai yang ditetapkan panitia. Ketika salah seorang anggota kelompok tampil untuk mengajar, maka teman-teman kelompoknya yang dibimbing oleh dua atau tiga ustadz pembimbing, mengamati dengan seksama jalannya proses belajar mengajar di kelas, untuk kemudian memberikan kritikan yang membangun kepada pengajar. Di sinilah mereka benar-benar diuji ketahanan mentalnya.
Yang menjadikan kegiatan ini semakin menantang adalah, pelajaran yang diajarkan merupakan pelajaran berbahasa Arab dan Inggris, sehingga pengajarannyapun menggunakan bahasa pengantar Arab dan Inggris. Namun, dengan persiapan yang matang dan bimbingan intensif dari ustadz yang lebih senior, santri-santri akhir KMI bisa melalui kegiatan ini dengan baik meskipun terkadang ada yang tidak kuat hingga pingsan di kelas. Namun ini sangat jarang sekali terjadi.
KegiatanTarbiyah Amaliyah ini juga dilaksanakan di kampus putri. Mereka juga diwajibkan untuk melewati program ini sebelum menamatkan pendidikan di Gontor.
Jika dibayangkan, kegiatan ini sepertinya berat untuk dijalani. Namun dengan usaha, kerja keras, doa, dan bimbingan para ustadz, para santri berhasil melewati kegiatan ini. Bahkan mereka terlihat begitu antusias dan sangat menikmatinya. AbuNuya
GONTOR – Sebagai pemusatan ruang lingkup belajar Siswa Akhir Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dalam rangka menghadapi ujian akhir yang sudah di depan mata, pembimbing Siswa Akhir KMI 2013 bekerja sama dengan Pengasuhan Santri melaksanakan karantina di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Program tahunan ini ditujukan guna memudahkan kontrol bagi para pembimbing dan menciptakan lingkungan belajar kondusif Siswa Akhir KMI.
Faishal Hamzah, santri kelas 4 KMI, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Layaknya kelas 4 pada umumnya, ia menjalankan kegiatan kepramukaan dengan baik. Satu hal yang membedakannya adalah, tepat pada Kamis (10/4), ia mendapat amanah untuk menjadi salah satu peserta dari 30 peserta Praktek Pengayaan Lapangan (PPL) Perdana. “saya dilatih bagaimana mencoba keberanian dalam menyampaikan kreasi di depan adika-adika, mampu berkreativitas dan dituntu agar mampu menyelesaikan tugas dengan segera”,tuturnya.
Merupakan kegiatan extrakulikuler, merujuk kepada ranah kepramukaan. PPL merupakan salah satu pendidikan kognitif di PMDG, dengan arti lain pendidikan yang memberi perhatian khusus kepada proses pemikiran seorang pelajar, seperti kemahiran berfikir secara kritis, kreatif dan memotivasi diri sendiri.
Dalam hal ini, Koordinator Gerakan Pramukalah sebagai tim penilai, bagaimana seorang peserta dikatakan lulus. Rutinias kepramukaan tahunan ini, diwajibkan bagi seluruh santri PMDG kelas 3 intensif dan kelas 4 KMI. Diselenggarakan dibeberapa sudut kampus PMDG.
Bagaimana PPL dikatakan sukses?, peserta dinyatakan sukses dalam PPL, apabila memenuhi aspek-aspek penilaian dewan juri, diantaranya; ketrampilan, kerapian, kreasi, penyampain materi, respon adika pramuka dan hasil karya. Berikut kategori penilaiannya:
Nilai 1-80 : Tidak lulus;
Nilai 85-160 : Lulus bersyarat dan;
Nilai 165-240 : Lulus
Inilah Pramuka Gontor, media pelatihan dan pendidikan kepemimpinan, kemasyarakatan, mental dan karakter. elfah
Nampak seorang siswa akhir KMI sedang melaksanakan ‘Tarbiyah Amaliyah’ Perdana yang dilaksanakan pada Selasa (6/4/2013) di Balai Pertemuan Pondok Modern Gontor.
GONTOR – Sudah menjadi sunnah Pondok Modern Darussalam Gontor bagi seluruh siswa akhir Kulliyyatu-l-Mu’alliminal-l-Islamiyyah (KMI) untuk mengikuti program Tarbiyah Amaliyah yang menjadi syarat mutlak untuk menjadi seorang pengajar. Setiap siswa diberi waktu kurang lebih 3 hari untuk membuat persiapan mengajar (I’dad) yang akan disampaikan saat mengajar. “Kami akan terus memberitahukan siapa saja yang akan mengajar setiap setelah sholat zuhur melewati bagian penerangan di Masjid” ucap al-Ustadz Zaki Mubarok selaku penanggung jawab Tarbiyah Amaliyah.
Program yang berjalan selama kurang lebih 1 bulan ini melibatkan seluruh guru tahun ke lima sampai guru senior untuk menjadi pembimbing. Setiap siswa yang akan menjalani amaliyah harus melaporkan persiapannya ke pembimbing senior untuk diperiksa. “Mereka harus mendatangi setiap pembimbingnya ditempat dan waktu yang sudah ditentukan untuk memberikan I’dad yang sudah mereka tulis untuk diperiksa” tutur staf KMI itu.
Panitia membagi seluruh siswa menjadi 46 kelompok dengan 15-16 anggota setiap kelompoknya. Setiap siswa yang sedang menjalani amaliyah akan disimak oleh teman-teman sekelompoknya guna mencari beberapa hal yang tak sesuai dengan buku pedoman selama mengajar. Hal ini mencakup beberapa hal, antara lain metode mengajar, materi yang disampaikan, keadaan guru, dan kecakapan guru.
Penguasaan materi dan bahasa yang kurang baik menjadi kendala yang biasa terjadi hal itu dikarenakan setiap pengajar harus bisa menggunakan bahasa dan istilah-istilah yang tepat untuk menyampaikan materinya. “Tidak semua kelas enam memiliki kemampuan berbahasa yang baik, sehingga kurangnya kosakata bahasa arab menjadi masalah besar buat mereka ketika mengajar, khususnya bagi mereka yang mendapat pelajaran bahasa arab” tuturnya.
Pelajaran yang digunakan untuk amaliyah ini antara lain Mutholaah, Muhadatsah, Tarjamah, Reading, Ushul Fiqh, Mahfudzot, Khot, dan Imla. Siswa harus siap untuk menerima pelajaran yang sudah ditentukan oleh panitia.
Melihat pentingnya program ini, siswa yang berhalangan harus seizin Bapak Direktur. “Kalau mereka dalam keadaan sakit yang parah, amaliyah mereka akan diakhirkan, sampai kondisinya membaik dan siap mengikuti, jadi tidak ada yang terlewat, karena ini salah satu syarat mereka untuk bisa lulus dari KMI” ucapnya dengan tegas. toms