Gedung Syiria yang berada dalam proses pembangunan, terletak di timur gedung Koperasi Dapur. Hingga saat ini pembangunan telah sampai pada lantai ke-3.
K.H. Muhammad Sholihin dalam Kenangan
Setelah ditinggalkan salah satu anggotanya hampir setahun silam, KH. Sutadji Tadjuddin Allah yarham, Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor kini kembali dirundung duka yang mendalam. Salah satu kader terbaik Pondok Modern Darussalam Gontor yang merupakan ketua Badan Wakaf, K.H. Muhammad Sholihin, dipanggil Allah SWT untuk menghadap-Nya pada Senin sore, 14 Maret 2011 lalu. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Trimurti yang bertempat di kampus Pondok Modern Darussalam Gontor setelah dishalatkan seluruh santri se-Darussalam keesokan harinya, Selasa (15/3), di Masjid Jami’.
Menurut penuturan pihak keluarga, seminggu sebelum meninggal, tepatnya sejak hari Jum’at, 4 Maret 2011, beliau mulai dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dengan keluhan sesak napas. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit beliau akhirnya mengalami kemajuan dan terlihat mulai membaik. Sehingga seluruh anggota keluarga yang merawat pun berharap beliau cepat sembuh dan bisa kembali pulang ke rumah.
Maka, melihat kondisi beliau tersebut, sehari sebelum beliau meninggal, Ahad (13/3), dokter mencoba melepas oksigen ventilator untuk memastikan bahwa beliau sudah semakin membaik dan siap dipindahkan dari ruang ICU ke ruang inap rumah sakit. Namun demikian, setelah enam jam berlalu oksigen ventilator kembali dipasang karena yang bersangkutan kembali mengalami sesak napas. Bahkan, dokter berencana menggantinya dengan pemberian bantuan oksigen melalui lubang yang dibuat di sekitar leher jika mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga. Akan tetapi, sebelum tindakan ini dilakukan, suami dari Hj. Sri Amani yang memiliki delapan orang putra dan putri ini akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah dirawat selama 10 hari di rumah sakit dengan akibat gagal jantung. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.
K.H. Muhammad Sholihin termasuk generasi awal Pondok Modern Darussalam Gontor yang berhasil menyelesaikan studinya di Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1938 silam. Beliau lahir di Ponorogo pada tanggal 9 Maret 1924 dan sempat menimba ilmu di HIS Ponorogo sebelum menjadi santri Gontor. Berbekal ilmu yang didapatkan dari Gontor, beliau berhasil meraih gelar Sarjana Muda Hukum di UII Yogyakarta.
Selain untuk kemajuan Gontor, dedikasi beliau untuk kemajuan umat Islam juga tidak perlu diragukan lagi. Beliaulah pencetus terbentuknya organisasi alumni Gontor yang dikenal dengan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM). Beliau juga sempat berkecimpung di Departemen Agama RI dan pernah menjadi peserta Konferensi Islam Asia-Afrika di Bandung dan diberi amanat sebagai anggota DPRD Kota Yogyakarta.
Di samping itu, penasihat Yayasan Tunas Melati yang pernah menjadi juri MTQ Nasional ini sangat peduli terhadap kaum tunanetra. Beliaulah yang mendirikan sekaligus menjadi ketua Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam Yogyakarta semenjak tahun 1964 hingga 2011. Tidak hanya itu, K.H. Muhammad Sholihin dikenal sebagai pencetus penerbitan Alquran Braille di Indonesia yang dikhususkan untuk para tunanetra. Dengan demikian, beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Departemen Sosial sebagai pekerja sosial. Di dunia pendidikan beliau juga aktif dengan menjabat sebagai ketua Yayasan Perguruan Tinggi Universitas Cokro Aminoto Yogyakarta. Sedangkan di dunia politik beliau merupakan ketua Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).
Gelar Konferensi Internasional, ISID Jalin Kerjasama dengan Liga Universitas Islam
DARUSSALAM — Untuk meningkatkan peran universitas Islam dalam membangun tradisi keilmuan bersama universitas se-Asia, Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Pondok Modern Darussalam Gontor berinisiatif menjalin kerjasama dengan Liga Universitas Islam menggelar sebuah konferensi internasional bertajuk “International Conference on Islamic Universities, Building Scientific Tradition with Asian Universities”. Acara yang bertempat di aula Gedung CIOS ISID tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut, Ahad — Selasa, 9 — 11 Januari 2011. Acara pembukaan berlangsung di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Ahad (9/1) pagi, dengan dihadiri seluruh peserta konferensi dan diikuti ribuan santri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dalam kesempatan itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta konferensi. Selain itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Universitas Islam, Prof. Dr. Ja’far Abdussalam, juga berkenan memberikan sambutannya. Dr. Ja’far menyatakan bahwa acara yang digagas ISID dan Liga Universitas Islam ini sangat signifikan untuk kemajuan universitas-universitas Islam di masa depan. Turut hadir dan memberikan sambutan, Prof. Dr. Muhammad Ahmad Syarif, Sekjen Islamic Da’wah Society, Libya. Sedangkan Prof. Dr. Supriadi Rustad, M.Si., Direktur Ketenagaan Dirjen Dikti Kemendiknas RI, juga sempat memberikan sambutannya mewakili Mendiknas, Prof. Dr. Muhammad Nuh, yang berhalangan hadir.
Santri Gontor Hadapi Ujian Tahriri
GONTOR — Ujian Pertengahan Tahun 1432 di Pondok Modern Darussalam Gontor telah memasuki masa ujian tahriri (ujian tulis-red). Pimpinan Pondok, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA berkenan menyampaikan sambutan pada acara pembukaan ujian tahriri tadi pagi, Senin (31/1), di depan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Seluruh santri diwajibkan menghadiri acara pembukaan ini sebelum mengikuti ujian tahriri yang tinggal menunggu waktu karena beberapa saat setelah selesainya acara mereka akan menuju ruang ujian masing-masing untuk mengikuti ujian mata pelajaran pertama.
Ujian merupakan salah satu agenda terbesar di Pondok Modern Darussalam Gontor yang tidak hanya melibatkan seluruh santri, akan tetapi juga melibatkan seluruh komponen asatidz. Maka, pelaksanaannya pun terorganisasi dengan baik melalui panitia ujian yang ditentukan Pimpinan Pondok. Selain itu, ujian di Gontor tidak hanya meliputi aspek akademis, akan tetapi juga mencakup aspek mental. Sehingga, ujian yang ada di pondok ini menuntut seluruh santri dan asatidz untuk bersungguh-sungguh dan jujur. Gontor akan menindak tegas siapapun yang berlaku curang dalam ujiannya.
Ujian yang dilaksanakan Pondok Modern Darussalam Gontor bertujuan mendidik santri-santrinya untuk mencintai ilmu pengetahuan. Menurut filsafat pendidikan Gontor, belajar itu bukanlah untuk sekedar mengikuti ujian, namun ujian merupakan sarana untuk belajar. Maka, santri-santri Gontor mengenal istilah ‘ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian’.
shah wa
Fathul Kutub Perluas Wawasan Tingkatkan Bahasa Santri
GONTOR — Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor menggelar acara Fathul Kutub untuk siswa kelas 6 KMI. Acara yang diikuti 760 orang siswa tersebut berlangsung selama enam hari berturut-turut, Jum’at—Rabu, 17—22 Desember 2010, bertempat di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Pimpinan Pondok, KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. berkesempatan memberikan pengarahan berkenaan dengan tujuan diadakannya Fathul Kutub, sekaligus membuka acara, Jum’at (17/12) malam.
Menurut Ustadz Zakky Mubarok, staf KMI yang menangani Fathul Kutub tahun ini, seperti yang disampaikan Pimpinan Pondok, manfaat Fathul Kutub tidak terlepas dari peningkatan kemampuan bahasa santri sekaligus memperluas wawasan mereka dalam kajian keislaman. Dengan ini pula, mereka dapat mengenal buku-buku karangan tokoh-tokoh muslim yang memberikan sumbangsih besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, tidak hanya di Gontor Pusat, penyelenggaraan Fathul Kutub juga diikuti seluruh pondok cabang di kampus masing-masing; Gontor Putri 1 dan 3, Gontor 3, Gontor 5 dan Gontor 6. Seluruh siswa kelas 6 yang aktif dalam kegiatan ini pastinya akan mendapatkan mustika ilmu yang begitu berharga. Di samping itu, dengan mengikuti kegiatan ini, mereka mungkin juga menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang pernah terlintas di benak, baik itu berkaitan dengan hukum-hukum fiqh ataupun masalah lainnya di bidang sosial kemasyarakatan.
Kelas 2 Sukses Juarai Vocal Group and Nasyid Among Classes
DARUSSALAM — Sebuah prestasi gemilang diraih segenap siswa kelas 2 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) pada kompetisi Vocal Group and Nasyid Among Classes, Selasa (16/11) kemarin. Mereka berhasil membawa pulang piala juara umum dengan skor tertinggi melebihi peserta lainnya, baik untuk kategori vocal group maupun nasyidnya. Pada perlombaan yang diselenggarakan di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) tersebut, peserta dari kelas 2 tampil maksimal dengan kreativitas yang tinggi dan didukung kekompakan setiap individu yang terlibat. Hasilnya, mereka mampu memukau para penonton dan dewan juri yang menyaksikan. Bahkan, Pimpinan Pondok, KH. Hasan Abdullah Sahal dan Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, yang turut hadir dalam acara tersebut nampak asyik menikmati penampilan mereka.
Sementara itu, peserta lainnya yang hanya mampu meraih juara II dan III kategori vocal group berturut-turut adalah kelompok peserta dari kelas 4 dan kelas 3. Sedangkan pemenang II dan III kategori nasyid diraih kelompok peserta dari siswa kelas 3 Intensif dan kelas 3. Adapun kriteria penilaian pemenang untuk kedua kategori ini mengacu kepada kekompakan dan keserasian setiap peserta dalam membawakan lagu yang ada. Maka, dari sinilah nilai-nilai kebersamaan dan ukhuwah akan terbentuk di antara para siswa.
Selain itu, kesuksesan setiap kelompok peserta dalam lomba ini tidak terlepas dari jerih payah para wali kelas. Merekalah yang mempunyai andil besar dalam setiap latihan. Segala hal yang dibutuhkan para peserta sebisa mungkin dipenuhi, dimulai dari mencarikan lagu dan menyediakan alat musik, membuat gerakan-gerakan sejenis koreografi, hingga menyediakan kostum untuk tampil di BPPM. Sebabnya, kompetisi antarkelas ini dapat berdampak positif pada prestasi belajar para siswa kelak jika mereka berhasil tampil dengan baik. Sebaliknya, jika asal-asalan, akan sedikit berpengaruh pada semangat belajar siswa. toms
Idul Adha di Gontor, Ratusan Kambing dan Puluhan Sapi untuk Kurban
GONTOR — Pada Idul Adha tahun ini, Pondok Modern Darussalam Gontor menyembelih hewan kurban sebanyak 470 ekor kambing dan 23 ekor sapi. Dari sekian hewan kurban tersebut, Foundation Moslems Singapore Association (FMSA) menyumbangkan 177 ekor kambing. Selain dari FMSA, sebanyak 47 ekor kambing dan dua ekor sapi merupakan hasil sumbangsih dari Pak Ghazali, salah seorang alumni Gontor yang berdomisili di Singapura. Adapun sisa hewan kurban lainnya berasal dari sumbangan pribadi sebagian santri, organisasi di pondok dan beberapa instansi pondok.
Hewan kurban yang berjumlah ratusan ekor tersebut disembelih secara bergiliran selama empat hari berturut-turut semenjak Hari Raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1431 yang jatuh pada tanggal 16 November 2010 lalu hingga hari tasyriq terakhir tanggal 13 Dzulhijjah 1431. Adapun dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar yang berhak mendapatkannya. Penyembelihan sejumlah hewan kurban di atas berlokasi di sekitar Gedung Yaqdzoh. Sebelum penyembelihan dimulai, Pimpinan Pondok, KH. Hasan Abdullah Sahal memberikan pengarahan kepada para santri dan dewan guru tentang tata cara menyembelih hewan kurban yang benar. Setelah itu, beliau berkenan menyembelih hewan kurban pertama berupa sapi hasil sumbangan Bagian Administrasi Pondok Modern.
Sapi atau kambing yang sudah disembelih ditangani bagian pengulitan yang terdiri dari para dewan guru dan siswa kelas 5 dan 6 KMI untuk dikuliti. Bukan hanya penyembelihan dan pengulitan, proses pemotongan hingga distribusi daging ke tempat-tempat yang ditentukan pun dilakukan para guru dan santri. Sementara itu, data yang kurang valid sempat menjadi kendala pada waktu penyembelihan karena setiap kambing atau sapi yang disembelih harus sesuai dengan data yang masuk, sedangkan data yang ada pada waktu itu kurang sesuai. Namun, dengan kecermatan panitia, hal dapat diatasi dengan segera. “Untunglah kami segera mengecek data dan mencocokkannya terus, dan akhirnya bisa divalidkan,” kata Luthfi, salah seorang penanggung jawab data kurban dari panitia. Pada hari terakhir, tepat setelah pelaksanaan kurban selesai, panitia menggelar acara tasyakuran di Wisma Darussalam yang dihadiri Pimpinan Pondok, dewan guru dan sejumlah santri yang telah ditentukan. toms
Pimpinan Pondok Hadiri Tajammu’ Nasional Classic ’91
MALANG — Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, berkenan menghadiri undangan komunitas alumni Gontor tahun 1991 yang mengadakan sebuah acara bertajuk “Tajammu’ Nasional Classic ‘91” di Malang. Acara reuni yang berlangsung selama dua hari tersebut, Sabtu—Ahad, 13—14 November 2010, dihadiri 80 orang alumni Gontor yang menyebut diri mereka ‘Classic ‘91’. Ternyata, peserta yang hadir bukan hanya berasal dari daerah Malang, akan tetapi berdatangan dari seluruh Indonesia dengan beragam profesi. Hal ini menandakan bahwa ikatan ukhuwwah islamiyah yang diajarkan Gontor masih tertanam kuat di dalam diri setiap alumninya.
Dalam kesempatan ini, KH. Hasan Abdullah Sahal diminta memberikan taushiyah yang selama ini mereka rindukan. Bertempat di Villa Panderman, Kota Batu, Malang, mereka mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan beliau dengan sesekali diselingi canda tawa. Beberapa dari mereka berkomentar, betapa menyenangkannya mengingat pengalaman mereka selama menjadi santri Gontor di bawah arahan dan bimbingan para asatidz yang ikhlas dan tulus.
Dengan adanya acara ini, KH. Hasan Abdullah Sahal berharap dapat memperkuat Gontor dari luar. Di samping itu, silaturrahim yang dibangun para alumni 1991 ini dapat diikuti alumni-alumni Gontor selanjutnya yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia. Sehingga, cita-cita Gontor pun dapat tercapai untuk membangun dan mewarnai peradaban dunia.
Dema ISID Gelar Acara Pelantikan Pengurus Baru
GONTOR — Dewan Mahasiswa (Dema) Institut Studi Islam Darussalam (ISID) mengadakan pergantian pengurus dan pelantikan di aula Rabithah, Jum’at (12/11) malam. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, berkenan hadir dan melantik pengurus baru Dema ISID periode 1431-1432/2010-2011 tersebut. Banyak hal yang beliau sampaikan seluruh mahasiswa ISID yang hadir dalam menjalankan sebuah organisasi kemahasiswaan di tengah-tengah krisis kepemimpinan dan mental yang melanda pemuda Indonesia saat ini. Untuk itu, dengan pendidikan kepemimpinan di Gontor, diharapkan para mahasiswa ISID kelak dapat menjadi pemimpin yang baik bagi organisasi yang dipimpinnya karena setiap pemimpin itu akan dimintai pertanggungjawabannya.
Setelah melalui proses pemilihan yang diikuti segenap mahasiswa ISID dari seluruh kampus ISID, Dema Pusat tahun ini diketuai Pamuji, mahasiswa Fakultas Tarbiyah semester IX yang berasal dari Ponorogo. Ketua Dema Pusat dibantu sekretaris terpilih, Ahmad Sidik, mahasiswa Fakultas Ushuluddin semester IX, dan seorang bendahara, Nanang Setyo Budi, yang juga mahasiswa Ushuluddin semester IX. Mereka membawahi Dema Wilayah yang tersebar di beberapa kampus ISID.
Hingga saat ini, organisasi yang berpusat di kampus Pondok Modern Darussalam Gontor ini sudah memiliki tujuh Dema Wilayah. Pertama, Dema Wilayah Gontor 1 bertempat di kampus Pondok Modern Darussalam Gontor sendiri yang anggotanya merupakan mahasiswa ISID Kampus Rabithah. Tahun ini, Dema Wilayah Gontor 1 dipimpin Syaiful Anam dan Heri Mulya. Keduanya merupakan mahasiswa Ushuluddin semester VII Jurusan Akidah Filsafat.
Selanjutnya, Dema Wilayah Gontor 2 bertempat kampus Pondok Modern Darussalam Gontor 2, Madusari, Siman, Ponorogo. Ketuanya adalah Zuli Fiyatno dari Fakultas Tarbiyah semester VII bersama Amiruddin Mahmud dari Fakultas Ushuluddin semester VII. Anggota Dema Wilayah Gontor 2 juga merupakan mahasiswa ISID Kampus Rabithah, tetapi mereka berdomisili di Gontor 2. Sedangkan mahasiswa ISID Kampus Rabithah yang menjadi anggota Dema Wilayah Gontor 1 berdomisili di kampus Gontor 1.
Kemudian Dema Wilayah Gontor 3 yang berlokasi di kampus Pondok Modern Gontor 3 “Darul Ma’rifat”, Sumbercangkring, Gurah, Kediri. Dema Wilayah yang satu ini diketuai Galih Kusuma Nugraha Priawan dan Andri Arifian. Keduanya juga mahasiswa Ushuluddin semester VII program studi (prodi) Perbandingan Agama. Adapun anggotanya merupakan mahasiswa ISID Kampus Kediri yang semuanya berasal dari Fakultas Ushuluddin karena kampus ISID yang satu ini, untuk sementara, hanya membuka Fakultas Ushuluddin dengan satu prodi Perbandingan Agama.
Dema Wilayah tahun ini bertambah dengan hadirnya Dema Wilayah Gontor 6 yang baru saja dibentuk seiring dibukanya perkuliahan ISID setahun yang lalu, sekitar tanggal 12 Oktober 2009 silam. Dema Wilayah yang beranggotakan mahasiswa Syariah prodi Mu’malat ini berada di kampus Pondok Modern Gontor 6 “Darul Qiyam”, Mangunsari, Sawangan, Magelang. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kampus yang satu ini letaknya paling jauh dari Dema Pusat dibandingkan kampus-kampus ISID lainnya. Adapun ketuanya adalah M. Yanuar Rizal dengan dibantu seorang sekretaris, M. Fadhil, dan bendahara, Abdul Wahid Nurul Fajar.
Adapun Dema Wilayah lainnya terletak di Kampus Baru ISID Siman dengan diketuai Anggoro Adi Wisesa dan Harir Saifu Yasyak. Dibandingkan Dema Wilayah lainnya, Dema Wilayah ISID Siman dikenal lebih aktif dalam mengadakan acara-acara kemahasiswaan. Hal ini didukung dengan intensitas para mahasiswa di bangku perkuliahan. Dengan kata lain, mereka adalah mahasiswa murni yang secara fokus belajar di bangku kuliah tanpa mendapatkan tugas mengajar di KMI. Sedangkan, pengurus Dema Wilayah lainnya harus membagi pikiran mereka untuk tiga hal. Selain memikirkan perkuliahan atau urusan kemahasiswaan, mereka juga mendapatkan tugas-tugas dari pondok dan mendapatkan jadwal mengajar di KMI. Namun, hal ini tidak berarti bahwa Dema Wilayah lainnya tidak mempunyai aktivitas. Hanya saja, aktivitas mereka tidak sebanyak Dema Wilayah ISID Siman.
Selain Dema Wilayah yang telah disebutkan di atas, Dema Wilayah Gontor Putri 1 Mantingan dan Dema Wilayah Gontor Putri 3 Karangbanyu merupakan Dema Wilayah yang pengurus dan anggotanya berasal dari mahasiswa Kampus ISID Mantingan. Dema Wilayah Gontor 1 Mantingan diketuai Martini Dwi Pusparini dan Niken Hendri Yuniatin. Sedangkan Dema Wilayah Gontor Putri 3 Karangbanyu diketuai Siti Fatimah dan Mariatul Qibtiyah.
Baksos Sambut Hari Raya Idul Adha
GONTOR — Dalam rangka menyambut dan meramaikan Hari Raya Idul Adha, para mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam (ISID) semester I melaksanakan program Bakti Sosial (Baksos) di desa Jenangan, Paringan, Ponorogo, selama tiga hari, Ahad-Selasa, 14-15 November 2010. Sebelum berangkat ke tempat Baksos, para peserta terlebih dahulu mengikuti acara pelepasan di depan Gedung Asia, Ahad (14/11) siang. Sebelum melepas, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. menyampaikan beberapa pesan dan nasihat kepada para mahasiswa agar menggunakan momen lebaran sebaik mungkin di tempat Baksos seperti dakwah tentang keislaman dan pemberdayaan masyarakat.
Program ini merupakan kegiatan tahunan yang senantiasa diadakan ISID dengan dikoordinir mahasiswa semester V sebagai panitia pelaksana. Dengan jumlah peserta sebanyak 92 orang mahasiswa, panitia membagi mereka ke dalam empat pos, setiap pos ditempati 23—25 mahasiswa. Walaupun setiap tahun diadakan, acara ini tidak pernah digelar di tempat yang sama, akan tetapi masih di sekitar wilayah Ponorogo. Selain sebagai program ISID, seperti pesan Pimpinan Pondok, acara semacam ini bertujuan untuk membantu masyarakat sekitar untuk mengenal agama Islam secara mendalam.
Sementara itu, beberapa kegiatan sosial yang ada dalam acara Baksos kali ini meliputi pembersihan umum, pengecatan masjid dan mengajar anak-anak TPA/TPQ membaca Alquran. “Sejujurnya, kami mengalami sedikit kesulitan dalam mengajar anak-anak karena mereka terlalu senang bermain dibandingkan belajar. Namun demikian, kami tetap sabar dan terus berusaha mengajari mereka semampunya,” tutur Fajrul Aryadi selaku ketua Baksos tahun ini kepada Gontor Online, Selasa (16/11) kemarin.
Selain kegiatan sosial, panitia juga mengadakan lomba-lomba kecil, seperti balap karung, mencari uang dalam terigu, memindahkan air ke dalam botol dan panjat pinang. Guyuran hujan dan adanya perbedaan waktu pelaksanaan Hari Raya Idul Adha menjadi kendala yang cukup berarti bagi acara yang telah menelan biaya sebesar Rp 16 juta ini. Pondok Modern Darussalam Gontor menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Selasa (16/11), sedangkan pemerintah menetapkannya pada hari Rabu (17/11). Para mahasiswa pun merayakan lebaran sesuai dengan ketetapan pondok, sedangkan masyarakat di daerah Baksos mengikuti keputusan pemerintah yang menetapkan lebaran sehari setelahnya. Dengan demikian, mahasiswa Baksos akhirnya melakukan shalat Idul Adha tanpa diikuti masyarakat. “Mereka tetap mempersilakan kita untuk merayakan Idul Adha pada hari Selasa. Masyarakat sangat menghormati ketetapan pondok,” ungkap Fajrul mengungkapkan.
Untuk memeriahkan acara penutupan Baksos, panitia menampilkan atraksi Marching Band Gema Nada Darussalam (MBGND), Persatuan Bela Diri Darussalam (Perbeda) dan Persatuan Senam Darussalam (Persada) yang berfungsi sebagai sarana untuk memperkenalkan Gontor kepada masyarakat. Selain itu, penampilan nasyid kelas 3 KMI pun ikut memeriahkan acara penutupan tersebut. Di samping itu, setiap pos juga menyumbangkan acara yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pos II, III dan IV menampilkan beberapa nyanyian, sedangkan pos I hanya menampilkan joke reading. Penampilan setiap pos tersebut merupakan hasil kreasi para mahasiswa yang berhasil menggali potensi masyarakat di sekitar mereka. “Kami hanya melatih sebisa kami dengan waktu yang sangat singkat, sehingga mungkin hasilnya belum maksimal. Meskipun demikian, kami telah berusaha menampilkan penampilan terbaik untuk menghibur masyarakat,” ujar Arif Riwikari, ketua pos IV. Tidak hanya itu, panitia juga mengundang Ustadz Mubasyir untuk mengisi pengajian di penghujung acara. toms
