Home Blog Page 572

Menteri Hal Ehwal Ugama Brunei kunjungi PMDG

0

Setelah terpilihnya menjadi Menteri Agama, dan juga sebagai salah satu program kerja diawal kursi kepemimpinan, Menteri Hal Ehwal Ugama Negeri Brunai Darussalam Pengiran Dato’ Seri Setia Dr. Haji Mohammad Bin Pangiran Haji Abd. Rahman mengadakan kunjungan ke Pondok Modern Darussalam Gontor beberapa waktu yang lalu, Sabtu (07/08).

Kunjungan yang merupakan kunjungan pertamakali itu, disambut dengan hangat oleh bapak Pimpinan Al Ustadz Abdullah Syukri Zarkasyi. Kunjungan singkat itu, dilangsungkan di Balai Pertemuan Gedung Rabithoh, beserta rombongan sekitar pukul11.30 WIB. Dalam Sambutannya Al Ustadz Abdullah Syukri Zarkasyi menyampaikan selamat datang di kampus Gontor Satu tamu rombongan. Rombongan yang juga diikuti oleh Duta Besar Brunei Darussalam untuk Indonesiatersebut dihadari oleh sekitar 600 santti kelas lima yang mukim ketika Ramadhan.

Dalam kesempata itu, Menteri Hal Ugama Brunei Darusssalam menyampaikan akan pentingnya pendidikan yang berbasis islami, ia juga menambahkan bahwa Gontor merupakan lembaga pendidikan yang sangat baik dan besar. Dalam lawatannya, menteri beserta para romobongan juga mengunjungi Pondok Modern Darussalam Putrisatu, Mantingan,serta turut menghadiri “Islamic Economic Festival dan Ekspo Halal Meeting” yang berlangsung di Jakarta.

Diharapkan hasil dari kunjungan dan lawatan kerja tersebut akan dapat dirumuskan dan dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan bagi dua negara.

Ujian Tulis

2

Tak terasa ujian tulis telah hampir selesai, mengakhiri satu bulan penuh ujian. Dimulai dari ujian lisan, selama sepuluh hari, diselingi beberapa hari libur, diteruskan ujian tulis, lengkap sudah ujian berjalan selama satu bulan di Gontor.

Suasana ujian tulis adalah suasana yang sakral: ujian ini bagi semuanya, setiap penghuni pondok memiliki ujiannya masing-masing.
Dimulai dari bangun pagi, yang menjadi lebih awal, karena waktu yang lebih banyak untuk belajar diperlukan, para santri memulai kegiatan. Setelah shalat subuh dan membaca Al-Qur’an, buku pelajaran kembali dipegang di tangan, ke mana pun, kapan pun.
Pukul tujuh kurang lima menit, bel berdentang serentak di seluruh penjuru Darussalam. Ujian dimulai. Tidak ada contek-mencontek, karena ujian di Gontor adalah suatu hal yang sakral. Dengan segala daya dan upaya, para santri menjawab soal ujian, sesuai kemampuan mereka. Bagi siapa yang telah mempersiapkan dirinya, tentu akan tenang menghadapi kertas soal yang mulai dibagikan para guru pengawas. Sebaliknya, yang kurang persiapannya, entah dia akan ketakutan melihat soalnya, kaget, kecewa, atau bahkan putus asa, menyesali kelalaiannya.
Ujian tulis memiliki warna tersendiri di Gontor. Warna yang muncul setiap enam bulan sekali, menciptakan miliu pendidikan khas Gontor bagi para santri.

Karakter Guru dan Petani

0

Guru yang baik adalah seorang petani.

Beberapa tahun yang lalu, almarhum Ustadz Ali Sarkowi, berkata bahwa agar murid tidak dianggap sebagai gelas yang kosong, yang kemudian kita isi dengan air.
Gelas yang terus menerus diisi dengan air pada akhirnya akan tumpah, dan menjadi kosong lagi.
Maka, anggaplah murid sebagai pohon. Pohon itu akan tumbuh terus menerus. Setelah tiba masa panen, ia akan berbuah. Buahnya akan bermanfaat bagi siapa yang menginginkannya. Buah itu akan jatuh ke tanah, menciptakan bibit-bibit pohon baru. Demikian seterusnya.
Kita, guru, adalah petani pohon itu. Tugas kita menyemaikan pohon itu hingga berbuah, dan tumbuh menjadi pohon yang mandiri.
Tanaman, pohon, yang tidak pernah digubris oleh petaninya akan mati. Kalaulah ia tumbuh, pertumbuhannya akan terganggu. Akan dijadikan sasaran empuk hama-hama kehidupan. Ia tidak akan berbuah, hanya akan menjadi ilalang kering yang menjadi sampah berikutnya.
Perhatian guru terhadap murid, dalam hal sekecil apapun, adalah besar pengaruhnya. Berangkat dari keinginan tulus seorang guru yang ingin menjadikan muridnya manusia sempurna, yang bisa menggunakan seluruh potensi kemanusiaannya. Itulah guru yang baik, seorang petani yang menanam pohon-pohon kehidupan.

Dephut Sumbang 500 Pohon Jati untuk Gontor

0

GONTOR — Dirjen Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan (Dephut), Dr. Ing. Ir. Hadi Dariyanto, DEA, hadir dalam acara Workshop Baitu-l-Mal wa-t-Tamwil (BMT) mewakili Menteri Kehutanan (Menhut), H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M. yang tidak bisa datang, pagi ini, Ahad (11/7). Kedatangan tamu yang menggunakan helikopter tersebut disambut Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor di Kantor Pimpinan. Dalam kesempatan ini, secara simbolis Dephut menyerahkan sumbangannya ke Gontor berupa 500 batang pohon jati, yang diterima langsung oleh Pimpinan Pondok, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA.

Sementara itu, Workshop BMT ini diselenggarakan di Aula Rabithah Pondok Modern Darussalam Gontor dengan mengangkat tema “Memberdayakan Potensi Ekonomi Alumni”. Acara berlangsung selama dua hari berturut-turut, Sabtu-Ahad, 10-11 Juli 2010. Adapun para peserta yang hadir merupakan perwakilan IKPM-IKPM Cabang di seluruh Indonesia yang berjumlah 83 cabang. Panitia juga mengundang praktisi, pemerhati ekonomi Islam dari para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor baik putra maupun putri.

Dalam acara ini, Menteri Koperasi dan UKM RI Dr. H. Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA, juga direncanakan hadir, Sabtu (10/7) kemarin, untuk membawakan tema “Memantapkan Gerakan Koperasi dalam Dinamika Perubahan Global”, namun ternyata beliau berhalangan hadir. Sedangkan Dr. Ing. Ir. Hadi Dariyanto, DEA juga bertindak selaku nara sumber menggantikan Menhut dengan tema “Alumni dan Peluang Usaha Hutan Tanaman Rakyat (HTR)”, Ahad (11/7). Selain Dirjen Bina Produksi Kehutanan Dephut tersebut, pembicara lainnya adalah H. Nuruddin Umar, S.Ag., pendiri dan pelaksana KJKS Walaba Pare Kediri, bersama H. Abdul Majid, telah membawakan tema “Sistem dan Produk Lembaga Keuangan Syariah”, sehari sebelumnya, Sabtu (10/7).

Pada hari yang sama, Sabtu (10/7) malam, tema bertajuk “Sistem dan Manajemen Pengelolaan BMT” telah disampaikan Dra. Mursyidah Rambe, pengurus BMT Beringharjo. Sedangkan “Potensi Usaha Penanaman Jati Unggul Nasional (JUN)” dibawakan oleh Ir. Hariyono Soeroso, M.S., pengurus Koperasi Wanabakti Nusantara Jakarta, Unit Bagi Hasil, Ahad (11/7) ini. Sebelum acara penutupan, panitia menggelar penandatanganan MoU dengan Koperasi Wanabakti Nusantara Jakarta dalam Usaha Penanaman Jati Unggul Nusantara. shah wa



Ujian Syafahi Masuki Gelombang II

0

GONTOR — Ujian Tahriri (ujian tulis-red) Akhir Tahun kian mendekati hari H. hal ini ditandai dengan semakin berkurangnya masa Ujian Syafahi (ujian lisan-red) Akhir Tahun. Pasalnya, Ujian Syafahi telah memasuki tahap gelombang II dimulai Ahad (11/7) ini. Maksudnya, Ujian Syafahi yang dijadwalkan berlangsung selama 10 hari tersebut telah dijalani setengahnya sejak Senin (5/7) lalu. Dengan demikian, berarti Ujian Syafahi menyisakan lima hari lagi menjelang penyelenggaraan Ujian Tahriri minggu depan, Ahad-Rabu, 18-28 Juli 2010 mendatang.

Memasuki gelombang II ini, terjadi pergantian tugas dalam penyelenggaraan Ujian Syafahi. Namun, ketentuan ini hanya berlaku untuk siswa kelas 6 KMI sebagai pembantu Panitia Ujian Akhir Tahun. Bagi mereka yang menjadi penguji bersama asatidz pada gelombang I digantikan siswa kelas 6 lainnya yang sebelumnya mendapatkan tugas lain dan sebaliknya. Sedangkan para asatidz tetap pada tugasnya masing-masing, baik sebagai penguji maupun bertugas di bagian-bagian penting mengenai urusan pondok. shah wa

 


Tumpuan Santri

0

Hubungan akrab yang tercipta antara santri dengan wali kelasnya menunjukkan betapa pentingnya peran dan fungsi seorang wali kelas di Gontor. Wali kelas yang ditentukan melalui berbagai pertimbangan mendapatkan amanat dari Pimpinan Pondok untuk menyampaikan visi dan misi serta filsafat hidup Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia berperan besar dalam membentuk sikap, pola pikir dan tingkah laku seorang santri. Untuk itulah dia harus memiliki hubungan batin yang kuat dengan santri-santrinya agar mereka dapat menerima apa yang ia sampaikan dengan penuh kesadaran.

Dalam hal ini, seorang wali akan berhadapan dengan berbagai karakter yang dimiliki setiap santri. Maklumlah, santri-santrinya tidak hanya berasal dari Jawa, akan tetapi mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kita tahu, Indonesia dari Sabang sampai Merauke mempunyai keanekaragaman adat dan budaya. Tentunya, para santri pun memiliki watak sesuai dengan adat-istiadat di daerah mereka masing-masing. Maka, seorang wali kelas dituntut memiliki kesabaran dan pengertian serta dapat bersikap bijaksana untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi setiap santrinya.

Oleh karena itu, di samping sebagai guru yang membimbing dan mengajar para santri, wali kelas kadangkala berfungsi sebagai orang tua bagi mereka. Siapa lagi yang menjadi tumpuan santri ketika ditimpa masalah dan dirundung kerinduan? Wali kelaslah tempat kembali. Ketika mereka sakit, wali kelas datang menjenguk dan memberikan hiburan dan mengatakan berbagai hal yang menenangkan hati. Suatu saat wali kelas pun berperan sebagai kakak bagi santrinya. Ia mendorong adik-adiknya untuk melangkah maju. Maka, wali kelas diharuskan mengenal santri-santrinya dengan baik dari segala segi. Sehingga ia dapat memberikan solusi yang tepat saat anak didiknya membutuhkan bantuannya. Nah, beruntunglah Anda yang telah menjadi wali kelas! Selamat…. shah wa

Pimpinan Pondok Hadiri Pembukaan Workshop BMT

0

DARUSSALAM — Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,  Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A, KH. Hasan Abdullah Sahal dan KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. menghadiri acara pembukaan Workshop Baitul Mal wa at-Tamwil (BMT), Sabtu (10/7) pagi. Dalam kesempatan ini, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. bersedia memberikan sambutan sekaligus membuka acara dengan resmi. Beliau menyatakan, BMT merupakan salah satu unit usaha berbasis syariah yang berfungsi untuk memberdayakan potensi ekonomi umat Islam. Maka, haruslah dipelihara, dilestarikan dan dikembangkan.

Workshop BMT ini diselenggarakan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Pusat yang merupakan koordinator para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Acara yang digelar di Aula Rabithah Pondok Modern Darussalam Gontor ini mengangkat tema “Memberdayakan Potensi Ekonomi Alumni”. Acara akan berlangsung selama dua hari berturut-turut, Sabtu-Ahad, 10-11 Juli 2010. Adapun para peserta yang hadir merupakan perwakilan IKPM-IKPM Cabang di seluruh Indonesia yang berjumlah 83 cabang. Panitia juga mengundang praktisi, pemerhati ekonomi Islam dari para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor baik putra maupun putri.

Selaku nara sumber dalam acara ini adalah Dr. H. Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA, Menteri Koperasi dan UKM RI, H. Zulkifli Hasan, SE, MM, Menteri Kehutanan RI, H. Abdul Majid, General Manager BMT UGT Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, H. Nuruddin Umar, S.Ag., pendiri dan pelaksana KJKS Walaba Pare Kediri, pengurus BMT Beringharjo, Yogyakarta, dan pengurus BMT La Tansa Pondok Modern Darussalam Gontor. Tema yang dibahas menyangkut “Sistem dan Produk Lembaga Keuangan Syariah” yang akan disampaikan oleh H. Abdul Majid, “Sistem dan Manajemen Pengelolaan BMT” oleh BMT Beringharjo, “Alumni dan Peluang Usaha Hutan Tanaman Rakyat (HTR)” oleh Menhut dan “Potensi Usaha Penanaman Jati Unggul Nasional (JUN)” oleh pengurus Koperasi Wanabakti Nusantara Jakarta, Unit Bagi Hasil. Rencananya, sebelum penutupan, acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU dengan Koperasi Wanabakti Nusantara Jakarta dalam Usaha Penanaman Jati Unggul Nusantara.” shah wa 2010


Berani ke Gontor Tak Takut Rindu

0

Menjadi seorang santri sangatlah berkesan. Banyak suka maupun duka yang dialami di pondok tercinta. Salah satunya adalah kerinduan kepada keluarga di rumah yang kadang-kadang terlintas di hati. Memang, tidaklah selamanya orang tua akan berkunjung ke pondok untuk menjenguk anak tersayang. Apalagi jika mereka mempunyai kesibukan yang padat. Tidak mudah meluangkan waktu untuk melihat keadaan anaknya. Apalagi jika tempat tinggal orang tua kita jauh di seberang sana. Maka, bersabar merupakan obat mujarab untuk memendam kerinduan.

Gontor memiliki ribuan santri yang datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru Indonesia. Di antara mereka, ada yang berangkat atas kemauan sendiri dan ada juga yang datang karena terpaksa menuruti keinginan orang tua, bermacam-macam. Bahkan, ada juga yang sekedar mencoba-coba. Meskipun demikian, jika sudah berada di pondok, kerinduan akan menyelimuti siapa pun juga. Mungkin, santri Gontor yang berasal dari Pulau Jawa lebih mudah mengatasi kerinduannya karena jarak yang dekat memudahkan orang tua untuk menjenguk suatu hari. Sebaliknya, santri yang berasal dari luar Jawa tidak terlalu berharap untuk dikunjungi keluarga.

Sebenarnya, setelah mengikuti aktivitas yang beraneka ragam di Gontor, para santri akan memfokuskan pikiran pada setiap kegiatan yang diikutinya. Rasa rindu lama-kelamaan akan berkurang walaupun tidak pernah dijenguk orang tua. Untuk itu, Gontor menyajikan sejuta aktivitas menarik untuk santri-santrinya. Mereka pun menikmatinya. Sehingga, tidak ada alasan untuk tidak betah karena rindu kepada orang tua. Jika ada santri yang tidak betah, berarti dia tidak mengaktifkan dirinya dalam setiap aktivitas yang ada.

Maka, ustadz-ustadz sering mengatakan, seorang santri yang belajar di Gontor bukanlah untuk dijenguk orang tua. Santri Gontor merupakan generasi mandiri yang tidak manja dan cengeng. Mereka berani hidup dan tidak takut mati karena hidup adalah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan; berkorban harta, tenaga dan pikiran bahkan perasaan. Santri Gontor selalu mengingat orang tua mereka tapi tidak manja dan cengeng sehingga minta dijenguk dan diperhatikan. Mereka mengingat keduanya dengan selalu berdoa untuk mereka dan berjanji untuk pulang dengan membawa kesuksesan.

Bersahabat dengan Waktu

0

Sebelum menjadi santri Gontor, banyak yang membayangkan betapa menderitanya nanti kalau suatu saat mereka belajar di pondok ini. Jika mendengar cerita orang-orang (yang belum tentu mengenal Gontor dengan baik), terlintaslah di benak mereka peraturan-peraturan yang begitu mengikat dan mengekang kebebasan dalam berekspresi dan berkreasi. Terbayang pula bagaimana hukumannya jika melanggar disiplin yang ada. Apalagi jika yang bersangkutan begitu alergi dengan yang namanya disiplin. Wah, rasanya berat sekali menjadi santri Gontor! Akhirnya, banyak yang menyerah sebelum berperang. Waduh, kasihan sekali! Jarrib wa laahidz takun 'aarifan, cobalah dulu barulah kita mengetahui dan mengenal Gontor dengan baik.

Mereka yang menyadari betapa pentingnya pendidikan pasti merasakan kepuasan menimba ilmu di Gontor. Ternyata, setelah menjadi santri Gontor, muncullah cerita yang berbeda. Memang, disiplin dijunjung tinggi. Tak seorang santri pun terlepas dari disiplin. Bukankah di setiap tempat itu ada disiplin? Bukan hanya di Gontor. Bedanya, disiplin di pondok ini lahir dari pengalaman yang dijalani selama puluhan tahun. Sehingga, segala peraturan yang diterapkan di Gontor terbentuk dari pengalaman. Dengan kata lain, disiplin inilah yang menjaga kita untuk tidak terperosok ke lubang yang sama. Maka, terasalah bagi seluruh santri bahwa disiplin bukan sekedar peraturan yang melarang ini dan itu. Disiplin Gontor benar-benar memiliki tujuan dan makna yang dalam untuk mendidik santri-santrinya.

Betapa menyenangkan hidup penuh disiplin. Segala sesuatu yang ingin kita lakukan tercapai. Segala program yang direncanakan terlaksana dengan baik. Dengan disiplin, kitalah yang menguasai waktu, mengaturnya dan menatanya. Santri-santri Gontor mengetahui kapan belajar, kapan mereka harus makan, kapan berangkat ke masjid, kapan berolahraga dan melakukan segala aktivitas lainnya. Mereka mengenal waktu sebaik mereka mengenal seorang sahabat.

Sabtu, 10 Juli 2010

Mahasiswa ISID Tatap UAS Semester Genap

0

GONTOR — Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Kampus Rabithah mulai menggelar Ujian Akhir Semester (UAS), Sabtu (10/7) ini. UAS direncanakan selama enam hari, Sabtu-Kamis, 10-15 Juli 2010, bertempat di Gedung Rabithah Pondok Modern Darussalam Gontor. Selain Rabithah, kampus ISID lainnya seperti Mantingan, Kediri dan Magelang juga menyelenggarakan UAS pada waktu yang hampir bersamaan. Sedangkan Kampus Baru Siman dijadwalkan akan menggelar UAS pada minggu terakhir bulan Juli nanti.

Perlu diketahui, mahasiswa ISID terbagi ke dalam tiga fakultas meliputi Fakultas Tarbiyah dengan Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Fakultas Ushuluddin dengan Prodi Akidah Filsafat (AF) dan Prodi Perbandingan Agama (PA), dan Fakultas Syariah dengan Prodi Mu'amalat dan Prodi Perbandingan Hukum dan Madzhab (PMH) . Ketiga fakultas ini terdapat di seluruh kampus ISID kecuali di Kampus Magelang. Untuk saat ini, Kampus Magelang hanya memiliki Fakultas Syariah dengan Prodi Mu'amalat saja disebabkan terbatasnya dosen yang dapat mengajar di sana.