Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Prof. Dr. Sujiat Zubaidi, M.Ag., di Masjid Jami’ PMDG pada Ahad, 19 Ramadhan 1447 H/8 Maret 2026 M.
- Bersyukur, kita dapat bersyukur dengan cara memanfaatkan atau menggunakan apa yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Kalau orang yang diberikan ilmu, maka cara mensyukurinya yakni dengan cara menerapkan dan mengajarkannya di masyarakat.
- Ada suatu cerita, B.J Habibie pada suatu pertemuan ditanya oleh seseorang, “apa bedanya matematika dan berhitung?”. Kemudian, beliau menjawab, “Matematika untuk menguasai teknologi, dan berhitung untuk kegiatan latihan”.
- Banyak orang yang pintar Matematika, namun jika diberi persoalan mengenai hitungan kehidupan dia tidak bisa. Petanyaan selanjutnya, “apa yang membuat kemampuan atau prestasi putra bapak melebihi bapak sendiri, apa rahasia bapak mendidik putra bapak?” B.J Habibie mengatakan, “saya hanya memberikan 3 prinsip yang bisa di gunakan anak saya untuk meningkatkan dirinya sendiri; membaca, membaca, dan membaca,” beliau meneladani ayat pertama Al-Qur’an yakni iqra’.
- Iqra’, juga berarti “menghimpun”, jika seseorang membaca, maka ia akan bisa menghimpun banyak hal. Oleh karena itu, ada yang mengatakan membaca yang pertama berbeda dengan membaca yang kedua, begitupun membaca yang ketiga, karena ketika membaca yang kedua dia sudah bisa menganalisis, dan membaca yang ketiga dia sudah bisa memahami orang lain dan mempraktekkannya.
- Mempraktekkan itu termasuk menulis. In syaa Allah membaca akan sangat bermanfaat, itulah sebabnya ditetapkan ayat pertama Al-Qur’an yakni “iqra’”.
- Dan yang lebih unik lagi, iqra’ bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq, dalam ayat tersebut tidak disebutkan maf’ul bihi, karena mahdzuuf (tersembunyi), karena Allah menegaskan, kita tidak mampu untuk melihat alam kosmos yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
- Setiap generasi akan ada tambahan tafsir, walaupun begitu tak semua maksud dari ayat Al-Qur’an dapat ditafsirkan di dalam suatu buku.
- Orang yang membaca akan mampu mengeksplorasi apa yang ada di bumi dan apapun yang ada di sekitarnya, namun tak cukup hanya itu. Oleh karena itu, iqra’ dilanjutkan dengan bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq. Pada zaman sekarang, chip yang kecil mampu menyimpan file yang besar didalamnya, dan semua penemuan itu tak akan luput dari “membaca”.
- Kalau iqra’ tidak dikaitkan dengan “bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq” akan muncul lebih banyak bahaya dari pada kebaikannya.
- Berbudi tinggi, bebadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Itu berarti adab yang tinggi lebih penting daripada ilmu itu sendiri.
- Al-Qur’an adalah sumber peradaban, kalau tidak ada Al-Qur’an, maka peradaban tersebut tidak akan teratur.
- Orang yang tidak mengaitkan “iqra’’” dengan “bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq” layaknya orang yang membawa obor namun buta.
- Al-Qur’an menjadikan seseorang dapat meningkatkan potensi dirinya dengan baik.
- Allah itu menciptakan manusia. Ketika kita melihat alam ini diciptakan dengan teratur, tertib, dan luas, Allah menunjukkan kepada manusia apa itu ayat-ayat Allah di alam ini dan di dalam diri kita sendiri.
- Setiap hari, sel-sel yang ada di tubuh kita akan ada yang rusak. Namun, di balik itu, harus ada sel-sel yang diperbaiki kembali. Itu berarti, sesuatu yang rusak harus diperbaiki kembali dengan selisih yang lebih besar.
- Di dalam ayat “iqra bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq” dan diakhiri dengan “usjud wa iqtarib”, terdapat konkrit mengenai beberapa rahasia. Oleh karena itu, suatu pekerjaan harus imbang antara ilmu dan tauhid.
- Gontor mangajarkan apa gunanya ilmu yang tidak bermanfaat bagi orang lain? Dan apa itu beribadah?.
- Al-munasabah, yang dimaksud adalah keserasian makna dan redaksi.
- Tiga hal yang kita dapatkan dari membaca:
Ilmu, suatu hal yang besar diciptakan dengan ilmu yang dipelajari, dan cara mempelajarinya dengan cara membaca.
Tauhid, landaskan segala hal yang kamu kerjakan lillah. Segala hal yang kamu kerjakan itu atas ridha Allah Swt.
Literasi, ketika kita sudah mengambil suatu ilmu, selayaknya kita untuk menerapkan apa yang dipelajari.
- Untuk mendapatkan sesuatu yang mulia dan besar, maka harus dilandasi dengan sesuatu yang tidak biasa-biasa saja, di antaranya:
Sabar. Bersabar dalam menghadapi berbagai masalah dalam menuntut ilmu dan perjuangan. Orang yang mendapat suatu masalah dan dia sabar atas masalahnya, ia akan meningkat dan bangkit. Orang yang tidak akan bisa bangkit kecuali dia bersabar atas berbagai tantangan-tantangan yang dihadapinya.
- Suatu musibah jika dihadapi dengan musibah lain akan lebih besar masalahnya, namun jika kita hadapi dengan hikmah, in syaa Allah akan menemukan hikmah yang dimaksudnya.
- Nelson Mandela, tidak melewati kehidupan yang enak sebelum dia sukses. Seseorang yang sukses pasti melewati suatu hal yang susah, ada pasang dan surutnya.
- Hidup ini tak akan pernah lepas dari tantangan.
- Tawakkal. Setelah kita bersabar harus dilanjutkan dengan do’a atau tawakkal.
- Kita harus mampu berinteraksi dengan orang lain. Allah-lah yang mengatur, kitalah yang merencanakan.
- Di dalam Al-Qur’an ada 5 prinsip sukses, yakni:
Idzhab, kita harus mampu untuk meninggalkan sesuatu yang buruk di dalam diri kita.
Anta wa akhuuka, bukan hanya “anta”, atau “ana”, namun “wa akhuuka”. Kita harus bisa berinteraksi dengan orang lain, mampu bekerja sama.
Bi aayaatihi, ilmu dan pengetahuan. Wa laa taniya, jangan bermalas-malasan dalam berbagai hal.
Bi dzikrillah, dengan berdzikir kepada Allah. Ketika kita mendapatkan sesuatu namun tidak bersyukur, kita bisa menjadi sombong.
Ikhlas. Tarku-r-riya’ fi-l-‘amal, tidak melakukan sesuatu yang riya’ atau Melakukan sesuatu untuk dilihat oleh orang lain.
- Inti dari sumber peradaban ini adalah ikhlas. Gontor bisa maju seperti sekarang ini karena keikhlasan para pendiri pondok dalam berjuang.
- 1968, KH Ahmad Sahal mengumpulkan seluruh guru KMI. Setelah salam beliau berbicara, “saya berfokus kepada Masjid. Namun, KMI terlihat mundur, saya berikan tanggung jawab kepada Imam Zarkasyi selaku Direktur KMI”. Mulai saat itu, semua guru-guru menulis i’dad dan melaporkannya kepada beliau, dan saat itu pula dimulailah Kamisan guru ketika hari kamis.
- Kalau para pendahulu kita bisa melakukan keikhlasan sebesar itu, mengapa kita tidak bisa meneladani dan melebihi mereka?
- Orang yang ikhlas ada 2;
- Mukhlish. Orang yang membersihkan dirinya ketika dikotori.
- Mukhlash, lebih tinggi daripada “Mukhlish”, karena dia disucikan oleh Allah. Kewajiban bagi kitalah untuk berusaha mencapai tingkatan seperti itu.
Notulen: Cheviq
Related Articles:
Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.
Kuliah Shubuh 16 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd.
Kuliah Shubuh 17 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi, M.Ag.