Date:

Share:

Kuliah Shubuh 17 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi, M.Ag.

Related Articles

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi, M.Ag., pada Jumat 17 Ramadhan 1447 H/6 Maret 2026 M

  • Diantara keimanan dan ketakwaan mempunyai tingkatan yang berbeda.
  • Takwa selalu menjadi perbincangan karena takwa melindungi kita dari adzab Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan, takwa berarti perasaan yang ada selamanya untuk mendekatkan diri kepada Allah baik di kala sepi maupun ramai.
  • Sabar Dalam Al-Qur’an selalu diulang sebanyak 9 kali, yang artinya sabar adalah separuh dari iman. Sabar diantara dua, maqam dan haal. Maqam adalah upaya seseorang untuk meningkat dalam beribadah kepada Allah. Dan haal adalah sesuatu yang tidak ia sadari saat meningkatkan diri dalam beribadah kepada Allah.
  • Syakawtu ilaa waqii’in. Bukan berarti melapor, namun artinya mengadu. Menahan lisan untuk tidak mengadu atau mengeluh, menjaga dan menahan anggota tubuh untuk melakukan sesuatu yang tidak layak.
  • Bahasa Arab itu unik, berbeda satu huruf ataupun satu harakat saja berbeda maknanya.
  • Maka, sabar ada 3 tingkatan;
  • Ash-Shabru ‘an alma’sshiyyah, sabar dalam suatu yang diperintah dan dilarang oleh Allah SWT. Jika seseorang masih muda, memiliki uang dan kesempatan, itulah ujian sebenarnya. Apakah ia dapat menahan dan sabar dalam menahan maksiat? Jangan mengira sesuatu yang tidak enak tidak baik untuk kita, dan jangan mengira sesuatu yang enak itu baik untuk kita.
  • Ash-Shabru ‘an ath-thaa’ah, kita berkhidmat dalam beribadah kepada Allah dengan cara dawaaman atau Istiqamah. Yakni Menjaga ikhlas dan ketulusann-Nya dalam melakukan perintahnya, tidak berlandaskan disiplin tapi atas kesadaran diri.
  • Ash-Shabru ‘an al-balaa’, kita tidak ingin memilih suatu musibah, tapi tuhan telah menentukan takdir suatu hal, maka kewajiban kita hanyalah bersabar. Posisi sabar dalam keimanan itu bagaikan kepala pada jasad manusia. Iman seseorang tidak sempurna jika tidak memiliki kesabaran. Jangan sampai kita menyerah dan lengah ketika menghadapi musibah dan beristiqamah dalam beribadah, oleh karena itu bersabarlah. Sabarlah layaknya cahaya hidup kita dan penuntun jalan kita.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

Kuliah Shubuh 16 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles