Home Blog Page 14

PMDG Bina Calon Guru Melalui Penugasan

0

Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-islamiyah (KMI) 2026 turut berpartisipasi sebagai pembantu panitia ujian semester kedua tahun ajaran 1446-1447/2025-2026. Tujuannya untuk mengisi waktu luang juga mempermudah jalannya ujian siswa kelas 1 – 5. Langkah tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepemimpinan yang telah menjadi ciri khas sistem pendidikan PMDG.

Wakil Direktur KMI, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I., menegaskan bahwa secara teori siswa kelas akhir sudah matang untuk menjadi guru. Karena telah melewati berbagai macam kegiatan seperti Tarbiyah Amaliyah, pengajar pelajaran sore dan pengawas latihan pidato. Oleh karena itu mereka sudah diberi kesempatan untuk membantu pondok di sektor-sektor tertentu.

’’Kelas 6 juga secara teori sudah, belajar ilmu tarbiyah dari kelas 3, terlebih kemarin sudah tarbiyah amaliyah dan bermacam kegiatan lainnya dengan demikian, ini adalah persiapan mereka untuk betul-betul menjadi guru, Meskipun tanpa kelas 6 pun akan lebih lancar ujiannya, Itulah harga pendidikan.’’ Ujar beliau.

Fahreza Abdan, salah satu Siswa Kelas Akhir KMI 2026, menyampaikan bahwa keterlibatan ini memberikan pengalaman baru yang berbeda dari rutinitas belajar di kelas. Ia mengaku mulai memahami bagaimana sistem ujian yang dijalankan pondok ini dan unit usahanya.

“Dengan dilibatkannya kelas enam sebagai pembantu panitia ujian dengan begitu saya dapat memahami sistem ujian yang telah saya rasakan dari kelas 1 int. Dari bagaimana sistem koordinasi unit usaha pondok yang mencangkup skala nasional” ujarnya.

Di sisi lain, kegiatan ini juga bertujuan menghindari santri dari kekosongan aktivitas yang berpotensi menurunkan kedisiplinan. Oleh sebab itu, masa pasca ujian akhir tidak dipahami sebagai waktu bebas tanpa aturan, melainkan sebagai fase pembinaan akhir sebelum kembali ke masyarakat.

Dengan demikian, keterlibatan santri kelas enam sebagai pembantu panitia ujian merupakan pendidikan PMDG terhadapat santri-nya di luar kelas. Melalui pengalaman tersebut, pondok berharap santri mampu membawa nilai tanggung jawab dan kepemimpinan ke dalam kehidupan mereka di masa mendatang.

Kontributor: Faza
Editor: Winka, Alif

New BPPM, Wajah Baru Perfotoan OPPM LX dan KGP

0

Jumat pagi (16/1), pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) ke-55 dan Koordinator Gerakan Pramuka (KGP) Gugus Depan 15.089, melaksanakan kegiatan perfotoan bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Direktur Kuliyatul Mualimin Al-islamiyah (KMI), Ketua-ketua Lembaga, serta seluruh staff pengasuhan santri dan Majelis Pembimbing Koordinator Harian (MABIKORI).

Kegiatan tahunan ini berlangsung di depan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) sebagai titik utama pengambilan gambar. Sejak pukul 05.00 WIB, para pengurus telah memadati lokasi dengan mengenakan seragam serta atribut organisasi masing-masing. Momentum ini sangat penting bagi pengurus OPPM dan KGP, karena ini merupakan penanda berakhirnya masa khidmah mereka.

Proses persiapan berjalan tertib dan terkoordinasi, yang sejak beberapa hari sebelumnya telah menyusun konsep tata letak, dan alur kegiatan. Periode ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu membuat koreografi barisan bertuliskan “OPPM LX”. Proses pembangunan New BPPM yang hampir rampung menyebabkan perubahan sudut pengambilan gambar dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, perubahan tersebut justru menghadirkan perspektif baru yang lebih luas dan representatif, sehingga menambah kesan megah pada dokumentasi organisasi.

Suasana perfotoan semakin hangat ketika Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal, hadir di dalam sesi perfotoan ini, serasa momentum ini paling berharga. Menciptakan suasana akrab tanpa mengurangi kekhidmatan acara. Sesi perfotoan kemudian dimulai dengan formasi utama, dilanjutkan dengan koreografi untuk pengurus OPPM. Kemudian perfotoan di depan Majid Jami’ untuk KGP, hingga ditutup dengan perfotoan per-bagian kepengurusan.

Usai sesi utama, Pimpinan PMDG dan para jajarannya pun menuju Balai pertemuan Aligarh guna coffee break, kesempatan ini menjadi momen silaturahmi antara pimpinan PMDG dan para ketua lembaga. Melalui kegiatan ini, OPPM dan KGP berharap dokumentasi yang dihasilkan dapat menjadi arsip berharga yang merekam perjalanan kepemimpinan, tanggung jawab, serta kebersamaan selama menjalankan amanah organisasi di PMDG.

Kontributor: Faza
Editor: Winka, Alif

Ujian Tulis Dimulai, Santri Ditempa Mental dan Kejujuran

0

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) membuka ujian tulis semester kedua pada Sabtu pagi (24/1) serentak di seluruh kampus. Tahun ini, pembukaan mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya dilaksanakan di depan gedung New BPPM yang akan segera rampung. Sejak pagi, ribuan santri memadati area tersebut dengan tertib, menghadirkan suasana khidmat sekaligus penuh antusiasme. Gedung New BPPM yang megah memberi nuansa berbeda sehingga pembukaan ujian tulis terasa lebih berkesan.

Dalam sambutannya, Bapak Pimpinan KH.Hasan Abdullah Sahal menekankan pentingnya meningkatkan prestasi lahiriah dan batiniah selama mengenyam pendidikan di Gontor. “Kami bersyukur antum secara batiniyah sudah naik kelas: iman, Islam, dan ihsan,” ujar beliau di hadapan para santri. Beliau juga menegaskan bahwa suasana seperti ini merupakan nikmat yang mahal dan sulit ditemukan di luar lingkungan pendidikan.

Sementara itu, Direktur Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), KH. Masyhudi Subari, M.A. menekankan pentingnya kesungguhan, kesiapan mental, kejujuran, dan amanah dalam menghadapi ujian tulis. Menurut beliau, kejujuran merupakan inti dan tidak akan terwujud tanpa niat yang baik. Ujian tulis diikuti santri kelas 1 hingga 5 KMI dan berlangsung tertib serta lancar. Usai pembukaan, santri diarahkan menuju ruang masing-masing dengan penuh disiplin.

Selama lebih dari dua belas hari, para santri akan mengikuti rangkaian ujian akademik sesuai tingkatan masing-masing. Proses ini menjadi tolok ukur hasil belajar santri selama satu semester penuh. Di Gontor, santri tidak hanya diuji penguasaan materi, tetapi juga kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab. Aspek-aspek tersebut berperan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian santri, sesuai tujuan pendidikan Gontor. Seluruh rangkaian ini mencerminkan pendidikan Gontor yang holistik, terarah, dan berlangsung 24 jam.

Kontributor: Faza, Kevin, Raja, Dzaky
Editor: Winka, Alif

Related Articles :

PMDG Adakan Pengarahan Ujian Lisan, Bentuk Totalitas Pengawalan dan Pendidikan

Jaga Stabilitas Kegiatan, Santri Fokus Persiapkan Ujian

Ujian Tulis Siswa Akhir KMI: Babak Final Menuju Fase Kehidupan Baru

Haflatu-l-Wada’: Momen Perpisahan Siswa Akhir KMI 2025

Intelligence Universe Mencetak Alumni yang Siap Berkontribusi bagi Masyarakat

0

Bertepatan pada tanggal (12/1) hingga (18/1), The Brilliant Generation menyelenggarakan pelatihan kursus yang mencakup berbagai aspek kompetensi personal. Program ini ditujukan khusus bagi Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026, sebagai persiapan menghadapi jenjang kehidupan mereka setelah menyelesaikan masa-masa akhir sebagai santri di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).

Pelatihan ini menghadirkan beragam kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pendidikan formal di dalam kelas, tetapi juga pembelajaran nonformal yang relevan dengan kehidupan nyata. Peserta diberikan pembekalan mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan pengendara saat berlalu lintas hingga cara menjaga keselamatan di jalan raya. Kegiatan ini menekankan pentingnya disiplin, kesadaran diri, dan tanggung jawab sebagai individu, terutama ketika menghadapi dinamika kehidupan di luar pondok.

Selain itu, peserta juga menelusuri sejarah berdirinya PMDG serta memahami sanad keilmuan Trimurti, yang menjadi fondasi penting bagi pendidikan dan tradisi keilmuan di pesantren tersebut. Topik-topik tersebut dibawakan oleh pembicara yang berkompeten di bidangnya, antara lain AIPDA M.Nasrullah Fuad, S.H., M.H, yang menjabat sebagai Kanit Kamsel Satuan Lalu Lintas Polres Ponorogo,  Al-Ustadz Ahmad Ghazaly, Al-Ustadz Khairul Fata Lc., M.Pd., sebagai Dosen Universitas Darussalam (UNIDA), Al-Ustadz Wildan Ali Fikri, dan Al-Ustadz Fariz Wisamul Khair sebagai guru aktif KMI. Kehadiran para pemateri ini memberikan perspektif yang luas, sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga wawasan praktik kehidupan yang aplikatif.

Acara ini berlangsung secara intensif setiap 2 hari sekali, mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, dengan metode interaktif yang memadukan ceramah, diskusi, dan simulasi. Pendekatan seperti ini memastikan peserta aktif terlibat, sehingga proses pembelajaran tidak hanya bersifat teori semata. Program ini menjadi bukti bahwa PMDG senantiasa berkomitmen mencetak para pemimpin bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga terlatih dalam kompetensi personal dan sosial melalui pendidikan nonformal.

Kegiatan ini diharapkan mampu menyiapkan generasi KMI 2026 menghadapi berbagai tantangan masa depan, baik di tingkat akademik maupun kehidupan sosial, serta menegaskan kembali peran PMDG dalam membentuk karakter santri yang berintegritas dan siap berkontribusi bagi masyarakat.

Kontributor: Faza
Editor: Winka, Alif

Hakikat Identitas Santri di Tengah Perubahan Zaman

0

 Dikutip dari Podcast bersama Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, dipenuhi teknologi, kecerdasan buatan, dan ombak informasi, kata identitas semakin kehilangan maknanya. Dalam podcast bertajuk “Hakikat Identitas Santri”, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH. Hasan Abdullah Sahal, mengajak masyarakat, khususnya santri dan alumni Gontor, untuk bermuhasabah diri.

Bagi Kiai Hasan, identitas adalah inti kemanusiaan, bukan sekadar aksesoris sosial. “Identitas itu mutlak. Manusia yang tidak punya identitas, bukan manusia,” tegas beliau. Dalam dunia pesantren, identitas santri tidak hanya merujuk pada status “pernah mondok” atau “alumni”. Identitas santri adalah nilai, terutama dalam belajar. Santri datang kepada kiai untuk menuntut ilmu. Dari situlah lahir etika dasar al-adabu qobla al-fahmi, beradab sebelum paham.

“Kiai itu tuan rumah, santri adalah tamu,” kata Kiai Hasan. Dalam diri seorang santri, prinsip memuliakan ilmu dan ulama, ikraamu-l-’ilmi wa-l-’ulama, harus tertanam kuat. Meski santri berbeda pendapat dengan kiai, bukan berarti adabnya hilang. “Boleh beda, tapi ikraamu-l-’ilmi-nya tetap,” tambah beliau.

Mengikuti kiai, atau orang yang berilmu, bukan berarti mematikan nalar. Kiai Hasan mengingatkan bahwa santri memang mengikuti dan patuh, tapi bukan taqliidu-l-a’ma (mengikuti tanpa tahu arah). Identitas santri justru menuntut kecerdasan, pikiran kritis, dan nurani bersih.

“Kebenaran itu bukan milik siapa-siapa, hanya milik Allah semata,” ujar Kiai Hasan. Menurut beliau, kiai ataupun seorang pemimpin tidak boleh anti kritik, selama disampaikan dengan baik dan bertanggung jawab.

Dalam pandangan Kiai Hasan, kekuatan pesantren terletak pada keteladanan. Kiai tidak hanya mengajar di papan tulis, tapi kehidupannya adalah keteladanan bagi para santri. Dari sanalah didapatkan barokah, bukan dari kiai, melainkan dari amal shaleh sang kiai. “Kalau ada santri minta barokah ke kiai, itu benar-benar salah. Barokah itu dari Allah, melalui amal shalehnya kiai.”

Dalam menyoroti perkembangan zaman, Gontor tidak pernah menutup mata. Teknologi, media, bahkan kecerdasan buatan (artificial intellegence) diakui memang membawa peluang, namun juga resiko. “Perkembangan itu ada yang positif, ada yang negatif, ada yang di antara keduanya,” jelas Kiai Hasan. Karena itu, kunci bagi santri untuk menyambut kondisi tersebut adalah cerdas dalam bersikap.

“Perubahan tidak bisa di-stop. Tapi, ada yang tidak boleh berubah, ada yang boleh berubah, dan ada yang harus berubah.” Di sinilah nurani berperan. Kiai Hasan menjelaskan bahwa nurani adalah kecerdasan hati. Menurut beliau, banyak orang justru meninggalkan nurani kemanusiaan dan mendukung kepalsuan di dunia modern. Santri pun dituntut untuk selektif, tidak silau oleh tren ataupun minder karena dianggap ketinggalan zaman.

“Kalau zamannya jelek, jangan diikuti,” tegas Kiai Hasan, singkat dan jelas. Krisis adab, jatuhnya akhlak, hingga kekacauan sosial, menurut beliau, disebabkan manusia jauh dari Al-Qur’an, ilmu, dan ulama. “Sekarang ada laki-laki malu menjadi laki-laki, ada perempuan malu menjadi perempuan. Padahal al-Islamu diinu-l-fitrah (Islam adalah agama fitrah).”

Di tengah situasi seperti itu, pesantren hadir sebagai benteng. Ia menjaga fitrah, menanamkan makna kehidupan, dan membentuk karakter seorang manusia sejati. Kiai Hasan membandingkan jalan hidup pesantren dan sekolah konvensional, tanpa merendahkan satu pihak. “Betapa orang yang mau masuk surga, tidak perlu ijazah,” menekankan bahwa tujuan akhir pendidikan adalah untuk hidup penuh arti, bukan hanya formalitas mendapatkan pengakuan orang lain.

Santri, menurut Kiai Hasan, sejatinya sudah dibekali semua yang dibutuhkan: kecerdasan intelektual, hati nurani, dan berbagai potensi lainnya. Mereka hanya perlu menentukan bagaimana hal-hal tersebut digunakan.

Podcast tersebut ditutup dengan pesan yang sangat dalam, meski terdengar sederhana, tentang menjadi orang yang terhormat. “Jati diri, bina diri, harga diri, tahu diri, jaga diri, tahan diri,” ujar Kiai Hasan. “Bukan kita melebihi orang lain, tapi berusaha menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya.”

Kontributor: Ghazi, Editor: Winka, Alif

Ujian Lisan: Pendidikan Akademik dan Mental di Gontor

0

Hasil dari wawancara dengan Wakil Direktur KMI, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.

Ujian di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pembentukan karakter santri. Sejak berdirinya Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI), ujian tidak hanya diposisikan sebagai alat ukur hasil belajar, tetapi sebagai proses pendidikan itu sendiri. Salah satu bentuk evaluasi yang menjadi ciri khas dan identitas KMI adalah ujian lisan.

Ujian lisan merupakan metode evaluasi akademik langsung yang berbasis interaksi antara penguji (guru) dan yang diuji (santri). Melalui dialog dua arah, penguji dapat mengukur secara langsung penguasaan materi, kerapian cara berpikir, kemampuan berbahasa, hingga keberanian santri dalam menyampaikan gagasan. Santri yang memiliki pemahaman yang baik akan mampu menjawab pertanyaan secara runtut, sistematis, dan argumentatif.

Berbeda dengan ujian tulis yang lebih menekankan aspek konseptual dan analitis, ujian lisan menguji dimensi keilmuan sekaligus mental. Ujian lisan menjadi sarana pendidikan intelektual dan pembentukan mental secara bersamaan.

Strategi penyelenggaraan ujian lisan dan ujian tulis di KMI memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Ujian tulis lebih tepat digunakan untuk materi-materi yang membutuhkan analisis mendalam, penjabaran konsep, dan pemikiran tertulis. Sementara itu, ujian lisan difokuskan pada kompetensi inti santri KMI, yakni Al-Qur’an dan praktik ibadah, serta penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Sebagai santri, menguasai Al-Qur’an merupakan fondasi utama. Tidak hanya kemampuan membaca, tetapi juga tajwid, serta pemahaman dan praktik ibadah. Oleh karena itu, ujian Al-Qur’an dilaksanakan di seluruh jenjang pendidikan KMI, dari awal santri masuk hingga kelas akhir. Di samping itu, bahasa Arab dan Inggris menjadi identitas sekaligus kekuatan strategis Gontor. Dengan bahasa Arab yang baik, santri akan lebih mudah memahami Al-Qur’an, hadis, dan disiplin ilmu keislaman lainnya. Sementara penguasaan bahasa Inggris membuka wawasan, akses referensi, dan cakrawala berpikir yang lebih luas.

Pelaksanaan ujian lisan yang didahulukan sebelum ujian tulis bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan strategi pendidikan untuk membentuk malakah, yaitu penguasaan materi secara matang. Melalui ujian lisan, santri dipacu untuk benar-benar memahami dan menguasai pelajaran, kemudian mengekspresikannya secara lisan. Proses ini menjadi bekal penting sebelum menghadapi ujian tulis, yang pada dasarnya merupakan penguatan dan pengulangan dari materi yang telah dikuasai sebelumnya. Dengan demikian, santri dilatih agar cakap berbicara sekaligus terampil menulis.

Dalam ujian lisan, yang dinilai bukan semata-mata benar atau salahnya jawaban, tetapi keseluruhan proses berpikir santri. Mereka dituntut untuk menjawab sesuai pertanyaan, menyampaikan alasan, dan berargumentasi dengan baik. Bahkan, tanpa disadari, santri dilatih melalui berbagai tingkatan berpikir, dari yang sederhana hingga analitis dan kompleks. Pertanyaan-pertanyaan seperti limaadza (mengapa), maa ra’yuka fii hadza (apa pendapatmu), atau maa hujjatuka (apa alasanmu) mendorong santri untuk berpikir kritis dan reflektif.

Lebih dari itu, ujian lisan juga berfungsi sebagai ujian mental. Santri dilatih keberanian, kemandirian, dan kesiapan menghadapi tekanan. Model ujian satu santri diuji oleh beberapa penguji adalah bagian dari pendidikan mental agar santri terbiasa menghadapi tantangan, bersikap tenang, dan mampu menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.

Keterlibatan Siswa Akhir KMI sebagai penguji merupakan bagian penting dari proses kaderisasi. Gontor sebagai lembaga pendidikan calon pemimpin menempatkan kaderisasi sebagai fungsi utama pendidikan. Melalui keterlibatan ini, siswa akhir belajar mengajar, menilai, dan bertanggung jawab, sebagai bekal mereka menjadi pendidik dan pemimpin di masa depan. Secara teori dan praktik, mereka telah dipersiapkan melalui pelajaran tarbiyah dan ujian praktik mengajar.

Pada akhirnya, ujian lisan di KMI merupakan proses pendidikan yang utuh. Ia menjadi sarana al-imtihaanu li-t-ta’allum wa li-t-tarbiyah, ujian untuk belajar dan mendidik. Melalui ujian, santri menyadari kemampuan dirinya, terdorong untuk belajar lebih giat, mencintai ilmu, menghargai waktu, dan memperbaiki kualitas diri.

Dengan demikian, ujian lisan di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah wadah pendidikan yang membentuk keilmuan, melatih kecakapan berpikir, dan menumbuhkan mentalitas santri secara seimbang. Inilah ujian yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi membangun proses dan karakter.

Kontributor: Ghazi, Faza, Editor: Winka

Related Articles:

PMDG Adakan Pengarahan Ujian Lisan, Bentuk Totalitas Pengawalan dan Pendidikan

Kegigihan Mewarnai Ujian Lisan Siswa Akhir KMI di PMDG

Pesan dan Nasihat Ujian Lisan, Para Penguji Diarahkan

The Brilliant Generation Abadikan Kebersamaan dalam Perfotoan Bersama

0

Pada Jumat pagi (16/1), seluruh Siswa Kelas Akhir Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) 2026, The Brilliant Generation melaksanakan kegiatan perfotoan bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, wali kelas, serta guru-guru pembimbing. Kegiatan ini berlangsung di pelataran antara Gedung Aligarh dan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), yang telah dipersiapkan hampir satu bulan lamanya sebagai titik utama pengambilan gambar.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu penanda penting menjelang berakhirnya masa studi pendidikan formal yang telah ditempuh para santri selama beberapa tahun. Sejak pukul 05.00 WIB, para santri tampak telah memadati lokasi dengan mengenakan kemeja dan almamater resmi angkatan. Barisan yang tersusun rapi serta suasana pagi yang masih tenang menciptakan kesan harmonis. 

Proses persiapan perfotoan berlangsung tertib dengan pengaturan koreografi yang telah ditetapkan oleh tim penanggung jawab acara beberapa hari sebelumnya. Panduan berupa kertas instruksi yang telah dibagikan kepada para siswa turut membantu pengomandoan secara sistematis, sehingga memudahkan sesi perubahan formasi tulisan dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Suasana semakin cair dengan hadirnya senyum serta percakapan singkat antara para santri dengan K.H. Hasan Abdullah Sahal, yang turut memberikan beberapa wejangan serta pantun. Sesi perfotoan berjalan lancar, dimulai dengan formasi tulisan “Bright, Bold, Brilliant” dan 12 formasi lainnya. Kegiatan ditutup dengan menyanyikan mars angkatan dan perfotoan perkelas.

Perfotoan tahun ini memiliki keunikan tersendiri. Proses pembangunan New BPPM yang hampir  selesai mengubah sudut pengambilan gambar, menghadirkan sudut pandang baru pada bidikan kamera tahun ini. Kehadiran maskot The Brilliant Generation turut memperkuat kesan megah perfotoan kala itu, nuansa unik dalam perfotoan angkatan tahun ini juga menambah semangat para santri.

Usai sesi bersama, kegiatan dilanjutkan dengan perfotoan individual bapak Pimpinan PMDG dan guru pembimbing yang dilaksanakan di Gedung Aligarh. Agenda kemudian dilanjut dengan coffee break, menjadi ruang jeda yang hangat untuk silaturahmi dan perbincangan ringan. 

Foto-foto yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi arsip kenangan, bukan hanya merekam wajah dan barisan, tetapi juga menyimpan cerita tentang waktu, proses, serta perjalanan kebersamaan yang telah dilalui.

Kontributor: Faza
Editor: Winka, Alif

Sampai Berjumpa Lagi, Ayah

0

Sabtu (3/1) di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) terasa berbeda dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Gerimis di sore hari seakan membasuh wajah termenung para penghuninya. Lazuardi senja di atap langit mengiringi matahari terbenam. Bulan malu-malu mengintip di balik awan, menerangi Kampung Damai yang sunyi, atau memilih berdiam diri.

Kala itu, “ibu” sedang berduka karena kehilangan salah satu putra terbaiknya. Hari itu, pukul 12.14 WIB , Pimpinan PMDG, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., seorang ulama pembaharuan pendidikan, dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa. 

RS Moewardi, Solo, Jawa Tengah, menjadi saksi perjuangan beliau melawan sakit selama berbulan-bulan. Pasang-surut kondisi kesehatan beliau selalu diiringi oleh doa anak-anaknya di pondok. Harapan dan dukungan dalam segala bentuk terus dipanjatkan demi kesembuhan ayah. Seluruh kegiatan santri dan guru tetap berjalan sebagaimana biasa, meski hati bergetar menanti kabar.

Kiai Amal adalah putra keempat salah satu Trimurti pendiri Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang lahir pada 4 Nopember 1949. Sebagaimana ayahnya, beliau adalah orang yang aktif bergelut di dunia pendidikan pesantren. Hidupnya beliau jalani dengan memperjuangkan sistem mu’allimin agar diakui oleh mata negara, bahkan dunia.

Banyaknya alumnus PMDG yang kini menimba ilmu di Mesir merupakan salah satu bukti perjuangan beliau untuk Gontor. Dengan penuh kesungguhan, Kiai Amal mengusahakan agar ijazah KMI dan sarjana muda UNIDA (IPD pada saat itu) mendapat kesetaraan oleh perguruan tinggi di Tanah Para Nabi tersebut.

Selepas menyelesaikan studi magister di Darul Ulum Cairo University pada tahun 1987, beliau pulang ke tanah air melanjutkan khidmah untuk pondok tercinta. Pengabdian yang diwarnai suka-duka dijalaninya dengan tabah dan teguh. Berbagai amanah Kiai Amal ampu demi menjaga roda pendidikan Gontor; Wakil Rektor UNIDA III dan IV, Rektor UNIDA, hingga diangkat menjadi Pimpinan Pondok pada 2020 bersama Drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Ribuan kepala santri dan guru menunduk mendengar kabar kepergian beliau. Tak terhitung alumni di luar sana yang mengirimkan belasungkawa, menitikkan air mata melepas kepulangan ayah mereka. Segala kenangan dan warisan yang Kiai Amal ukir tetap abadi, meski jasadnya tak lagi menemani anak-anaknya.

“Kita ketemu nanti di akhirat,” ujar KH. Hasan Abdullah Sahal di hadapan mereka yang ikut menshalatkan jenazah Kiai Amal. Ungkapan sederhana yang mengguncang batin siapa saja yang mendengarnya. Kini, beliau telah tenang beristirahat bersama para pejuang pondok yang telah lebih dulu berpulang.

Terima kasih ayah, engkau telah mengajarkan anak-anakmu arti perjuangan. Ceritamu telah ditutup dengan iringan doa dan hormat kami. Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., seorang pendidik, pejuang, dan maestro yang akan selalu terkenang. Gontor menjadi saksi perjalanan beliau yang terhias tinta emas.

Atas semua jasamu, semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Kini, giliran kami meneruskan nilai-nilai khidmah yang telah ayah wariskan.

Sampai berjumpa lagi, ayah.

Kontributor: Ghazi, Dejuan, Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Ribuan Pelayat Antar Pemakaman Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi

Siaran Pers: Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Prof Dr KH Amal Fathullah Wafat

Rangkaian Ujian Siswa Akhir KMI 2026 Tuntas, Pimpinan Pondok Tekankan Keteguhan Nilai

0

GONTOR — Seluruh rangkaian ujian Siswa Akhir KMI 2026 Pondok Modern Darussalam Gontor resmi berakhir pada Rabu (7/1), ditandai dengan selesainya ujian tulis sebagai tahapan terakhir, setelah sebelumnya para siswa menjalani tarbiyah amaliyah dan ujian lisan. 

Usai jam ujian terakhir, seluruh keluarga besar The Brilliant Generation bergerak menuju Masjid Jami’ untuk mengikuti tasyakuran bersama Pimpinan Pondok dan Direktur KMI.

Rangkaian ujian akhir tersebut merupakan bagian dari sistem pendidikan KMI yang menekankan keseimbangan antara kemampuan akademik, kematangan mental, serta pembentukan karakter.

Tarbiyah Amaliyah menguji kesiapan siswa dalam praktik mengajar dan pengabdian, ujian lisan mengukur penguasaan ilmu agama dan bahasa, sementara ujian tulis menjadi evaluasi akhir aspek akademik. Seluruh tahapan itu dirancang untuk memastikan para siswa siap menyandang status alumni Gontor.

Dalam kesempatan tasyakuran, Pimpinan Pondok, KH. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan nasihat kepada para Siswa Akhir KMI 2026. Beliau menegaskan bahwa pondok harus terus berjalan dalam kondisi apa pun. 

“Mau bagaimanapun juga pondok ini harus berjalan, seperti kereta api harus berjalan siapa pun masinisnya. Siapa pimpinannya, berapa pimpinannya, pondok harus tetap berjalan, tetap pada relnya, tidak keluar dari nilai-nilai yang ada,” ujar beliau seraya mengingatkan pentingnya husnudzon kepada Allah serta keyakinan bahwa setiap ketentuan-Nya adalah yang terbaik.

Sementara itu, Direktur KMI, KH. Masyudi Subari, M.A., menekankan bahwa ujian sejatinya tidak berhenti pada ujian akademik semata. Menurut beliau, ujian akan terus ada dalam berbagai bentuk di kehidupan selanjutnya. 

“Ujian tidak akan terputus, akan tetapi ujian akan terus ada. Kesyukuran harus lebih kita tingkatkan karena akan mengalami sesuatu yang lebih banyak lagi ke depannya,” tutur beliau.

Dengan berakhirnya seluruh rangkaian ujian ini, Siswa Akhir KMI 2026 kini bersiap menapaki fase baru sebagai calon alumni Gontor, membawa nilai, disiplin, dan pelajaran hidup yang telah ditempa selama masa pendidikan mereka.

Kontributor: Ghazi, Dejuan, Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Ujian Tulis Siswa Akhir KMI: Babak Final Menuju Fase Kehidupan Baru

Haflatu-l-Wada’: Momen Perpisahan Siswa Akhir KMI 2025

Pembekalan Intensif, Persiapan Siswa Akhir Menjelang Alumni

Ribuan Pelayat Antar Pemakaman Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi

0

GONTOR — Ribuan santri, guru, alumni, serta masyarakat mengiringi prosesi sholat jenazah dan pemakaman salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, Ahad (4/1/2026). Almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga PMDG setelah dishalatkan di Masjid Jami’ PMDG.

Sejak pagi hari, pelayat memadati lingkungan pondok untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pimpinan PMDG periode 2020–2026 tersebut. Suasana khidmat menyelimuti prosesi sholat jenazah yang dipimpin langsung oleh KH. Hasan Abdullah Sahal. Usai dishalatkan, jenazah diusung menuju liang lahat dengan iringan doa dan isak tangis para pelayat.

Dalam sambutannya, Kiai Hasan mengenang almarhum sebagai sosok mujahid pendidikan. “Saya orang yang paling tahu tentang Pak Amal. Perjuangannya amat panjang dan tidak semuanya bisa disampaikan. Mari kita ikhlaskan beliau agar dilancarkan perjalanannya,” ujar beliau. Kiai Hasan juga menegaskan bahwa almarhum berperan besar hingga berdirinya Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor secara resmi.

Kiai Amal merupakan putra keempat salah satu Trimurti pendiri PMDG, KH Imam Zarkasyi. Beliau menamatkan pendidikan KMI pada 1969 dan melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor dari Universiti Malaya pada 2006. Pada 2014, Beliau dikukuhkan sebagai guru besar Ilmu Kalam. Sepanjang hidupnya, almarhum mengabdikan diri sebagai pendidik dan akademisi, termasuk menjabat Rektor UNIDA Gontor serta aktif di berbagai organisasi pendidikan nasional dan internasional.

Almarhum wafat di Rumah Sakit Moewardi, Solo, Sabtu (3/1/2026) pukul 12.14 WIB setelah menjalani perawatan intensif akibat komplikasi kesehatan. Beliau meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.

Sebagai bentuk penghormatan, seluruh kegiatan santri diliburkan, sementara santri di cabang-cabang PMDG melaksanakan sholat ghaib. Pondok kehilangan salah satu pendidik terbaiknya, namun nilai perjuangan dan keteladanan Kiai Amal akan terus hidup dalam sejarah Gontor.

Kontributor: Ghazi, Dejuan, Naufal, Raghib, Editor: Winka, Alif, Johansyah

Related Articles:

Siaran Pers: Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Prof Dr KH Amal Fathullah Wafat

KH. Sutadji Tajuddin, MA Meninggal Dunia

Al-Ustadz H. Edi Kusnanto Meninggal Dunia