Home Blog Page 256

Kuliah Umum Babak 1 dan 2 Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy (PKA)

0

Mantingan-Kuliah Umum Babak 1 dan 2 dilaksanakan pada hari Ahad, 28 Juli 2019 bertempat di Auditorium Gontor Putri Kampus 1, acara ini dihadiri oleh segenap Asatidz dan Ustadzat, serta Bapak Pimpinan yang turut hadir mengisi acara ini. Seluruh santriwati Gontor Putri Kampus 1 – 2  dan seluruh Mahasiswi reluger Universitas Darussalam Kampus Mantingan.

            Kuliah Umum adalah acara rentetan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy yang dilaksanakan setiap tahunnya di Gontor Pusat maupun Cabang. Acara ini rutin dilaksanakan agar semua paham bagaimana sejarah-sejarah Pondok Modern Darussalam ini berdiri dan bagaimana perjuangan para Kyai untuk santrinya dimasa lampau.

            Di Kuliah Umum Babak 1 Al- Ustad K.H Hasan Abdullah Sahal mengumumkan juara baris-berbaris antar konsulat, kemudian disusul dengan pemberian hadih kepada para pemenang. Sejarah demi sejarah dijelaskan, bagaimana awal mula Pendirian PMDG, dan segala perjalan PMDG hingga menuju 1 abad gontor.Rahma

PKA – Pekan Perkenalan Khutbatu-L-‘Arsy

0

Mantingan – Sinar mentari kala pagi, menyambut hari, hembusan angin menerpa kampung nan damai ini. Dan tepatnya pada hari Ahad, 28/7 – Gontor Putri Kampus 1 dan 2 mengadakan agenda wajib tahunan yakni, Pekan Perkenalan Khutbatu-L-‘Arsy ( PKA ). Yang diadakan tepat dilapangan Gontor Putri Kampus 1 – Depan Auditorium Gontor Putri Kampus 1. Dan Pukul 07.00 WIB agenda tahunan ini resmi dimulai.

Kehadiran dan wejangan Bapak Pimpinan adalah sebuah momentum yang sangat dinanti-nanti, oleh segenap warga kampung nan damai – suatu kesyukuran. Dan untuk kesekian kalinya, beliau beserta sang istri turut hadir, pun tidak pernah absen dalam menghadiri agenda tahunan nan sakral ini. Dan segenap asatidz dan ustadzaat, ikut memeriahkan acara ini.

Penampilan Tari Massal

Pasukan pengibar bendera, Gema Nada Darussalam, Tanjidor, Pasukan baris – berbaris, Tari Massal, Gymbas, Atraksi Koord, Tembang 90 tahun Gontor, dan Parade Barisan. Turut menghiasi suasana kota santri pagi ini. Semarak suasana PKA, mampu membangkitkan semangat jihad para penghuni kampung nan damai ini.

Dan tema PKA kali ini adalah “GONTOR GARDA TERDEPAN MEMBINA BANGSA, MEMPERTAHANKAN PERADABAN”. Dengan membawa harapan agar Gontor mampu mempertahankan eksistensinya, tentunya di bidang lembaga pendidikan. WANDA

Gladi Resik Ke-5 Panggung Gembira Prominent Generation

0

Gontor – Panggung Gembira (PG) Kelas 6 merupakan acara puncak pada Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy (PPKA) di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, tahun ini Prominent Generation Kelas 6 berkesempatan mempersembahkan kreativitas seni ini. Nama “Prominent Generation” sendiri membawa misi sebagai Generasi yang mampu berjuang pada garda terdepan dalam menjunjung tinggi nilai, ideologi, sistem dan program-program Pondok Modern Darussalam Gontor.

Penampilan Panggung Gembira ini sangat beragam konten seni yang ditampilkan mulai drama berbahasa Inggris, choir, seni musik, hadrah, tari-tarian daerah hingga modern dance yang di kemas oleh tim koreografi yang dibimbing langsung oleh para guru-guru, hingga wayang orang dengan dua bahasa khas Gontor baik Bahasa Arab maupun Inggris yang sangat kental intonasi khas jawa dengan tokoh-tokoh pewayangan. Semua penampilan kreativitas kelas 6 terasa penuh dengan nilai-nilai khas Pondok pesantren karena semua itu cerminan dari apa yang mereka dapatkan selama menjadi santri.

Sementara dalam gladi malam ini seperti biasa dihadiri oleh seluruh pembimbing Kelas 6 yang terlibat langsung dalam progres perkembangan latihan santri-santri kelas 6 selama ini, tampak dalam barisan depan meja yang disediakan pada tenda ada tim juri yang diduduki oleh ustadz. Taufiq Affandi dan juga Ustadz Bambang pada sisi barat adapun pada sisi tengah turut hadir pula ustadz Farid Sulistiyo, Lc wakil Direktur Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor yang juga menjadi salah satu Tim Juri. Selain tim juri hadir pula guru-guru senior yang ingin melihat penampilan gladi Panggung Gembira kelas 6 malam ini seperti ustadz Agus Budiman yang duduk di meja tengah tenda tampak serius pula mengamati progres perkembangan penampilan PG.

Malam ini juga terlihat spesial karena banyak pula para tamu yang turut berpartisipasi dalam meramaikan gladi resik ke 5 ini, tampak pula tim-tim Lomba Pramuka Penggalang dan Penegak (LP3) yang tidak ingin ketinggalan menikmati sajian pentas seni kelas 6 malam ini.

Gladi resik ke-5 pada malam hari inipun terlihat lebih rapi, dari segi tatanan panggung, penggunaan lostum peserta dalam penampilan lebih mendekati nyata sebagaimana mereka akan tampil dipanggung nanti, penggunaan mic yang cukup taktis, kualitas sound sistem yang baik hingga penggunaan lighting yang dikemas apik dalam tiap penampilan acara semakin menambah kesan hidup suasana panggung. Yang perlu dijaga dalam 1 minggu ke depan adalah konsistensi kelas 6 dalam setiap penampilannya, menjaga stamina agar tetap vit karena mereka masih menyisakan 1 kali lagi Gladi Resik yang akan mereka namai sebagai GLADI SUCI pada hari kamis (01/8) nanti sebab saat itulah gladi terakhir sebelum tiba saatnya mereka akan tampil pada 3 Agustus 2019.

Beginilah suasana PKA di Kampus Putri 1

0

Mantingan – Ahad 27 Juli 2019  lalu,  telah diadakan upacara Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy (PKA) Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1 dan 2. PKA merupakan kegiatan yang hukumnya wajib di Gontor, maka dari itu setiap tahun acara ini dilaksanakan disetiap kampus Gontor pusat maupun cabang. Pekan Perkenalan ini dimeriahkan dengan rentetan acara-acara sebelum dan sesudahnya, seperti Pekan Olaharaga Darussalam (POD), haflah wuddiyah, LPG/TPi (Lomba Perkemahan Galang/Tegak Putri), Pelangi Antar Nusa (PAN), Drama Arena maupun Panggung Gembira. Meskipun PKA rutin diadakan setiap tahun, namun PKA bukan sekedar rutinitas. PKA mengandung arti dan manfaat yang luar biasa bagi segenap penduduk Pondok Modern Darussalam Gontor, karena PKA memahamkan segenap santri dan guru-guru tentang bagaimana Pondoknya, apa tujuannya, bagaimana dinamikanya, apa prinsipnya, siapa saja yang ada didalamnya, bahkan bagaimana sejarahnya.

Apel tahunan PKA diadakan di lapangan depan audiatorium Pondok Modern Darussalam Gontor Putri kampus 1, diikuti oleh seluruh santriwati PMDG Putri kampus 1 dan 2 serta segenap guru dan tamu undangan. Acara berangsung dengan khidmat dengan dukungan cuaca yang cerah dan penampilan para petugas upacara yang optimal, tentunya setalah persiapan yang matang. Begitupun pada akhir-akhir acara ini lebih meriah lagi dengan penampilan atraksi-atraksi oleh para santri, mulai dari penampilan MBGND (Mercing Band Gema Nada Darussalam, atraksi pramuka, senam kreasi, dan yang terakhir yaitu tari masal. Penampilan-penampilan tersebut disajikan dengan berbagai inovasi baru yang sarat akan kreativitas, mulai dari kostum, gerakan, musik hingga formasinya.

Khutbatu-l-‘Arsy tahun ini berbeda karena pada tahun ini kita semua menyongsong 1 abad Pondok Modern Darussalam Gontor. KH. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan agar momen ini dapat kita jadikan sebagai momen untuk memperdalam pemahaman kita terhadap pondok, meningkatkan perhatian kita terhadap dinamika pondok yang dahulu dan sekarang serta inovasi apa yang akan kita adakan untuk pondok dimasa akan datang. Dalam hal ini beliau mengatakan bahwa perjalan Gontor –meskipun telah mengalami dinamika yang panjang- sebenarnya masih sangat panjang; masih belum ada apa-apanya dengan yang dicita-citakan Trimurti pendiri Pondok. Rakafadel

Pramuka Menumbukan Pola Kerjasama Group Atau Tim Bukan Individu

0

Lomba Perkemahan Penggalang dan Penegak atau LP3 adalah kegiatan kepramukaan Tahunan yang diadakan di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Kegiatan ini tentu saja meyajikan berbagai macam lomba, diantaranya adalah snippershoot, sandi-sandi, step, hasta karya, dan masih banyak lagi. Pada malam hari ini, (Jum’at 27/07/2019), para peserta LP3 dengan serentak mengikuri lomba step. Lomba ini dilaksanakan di sekitar gedung Aligarh dan sekitar gedung BPPM, dengan dibagi menjadi beberapa tempat untuk menilai perlombaan.
Para peserta terlihat sangat bersemangat dalam setiap hentakan kakinya. Tidak hanya kelincahan kaki, kekompakan dan improvisasi dalam perlombaan juga dibutuhkan untuk membuahkan hasil yang maksimal di dalam perlombaan. Contohnuya, peserta LP3 dapat memberikan improvisasi dengan menyanyi, menggunakan alat tambahan seperti tongkat, drum. background bahkan ada yang menampilkan asap berwarna khas dengan warna salah satu POT tersebut. Tentu saja hal tersebut dapat memberikan tambahan nilai atas kerjasama yang mereka berikan.
“Dalam setiap perlombaan, peserta dilatih kekompakan, ketangkasan, ketangguhan, dan kebersamaan. Maka, harus memiliki kerjasama yang kuat untuk mencapai hasil yang diinginkan”, Ujar Kak Abdul Chalim, salah seorang mabigus POT 23 di Gontor. Ciri khas dalam dalam Kepramukaan adalah kerjasama yang kuat dalam setiap kegiatannya karena pola kerja yang ditumbuhkan adalah Workgroup (Kerja Group) bukan individu. Oleh karena itu, Para santri dilatih untuk memupuk kerjasama dari pramuka, salah satunya dari kegiatan LP3 ini.
Para juri juga terlihat sangat serius saat menilai penampilan peserta lomba step pada malam hari ini. Para penonton pun dengan antusiasmenya memberikan tepuk tangan yang meriah karena semua peserta menyajikan penampilan yang maksimal dan all out agar dapat mengharumkan nama POT atau pondoknya dengan mendapatkan gelar juara pada lomba ini. #Talijiwa

OSPEK 2019: Pengenalan Kampus UNIDA Gontor Untuk Mahasiswa Baru

0

GONTOR—Seluruh kegiatan di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) selalu diawali dengan pengarahan, begitu pula pada Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK) UNIDA yang diperuntukkan bagi para mahasiswa guru baru Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) Kampus Rabithah. Kegiatan ini diadakan tepat setelah Penataran Guru di PMDG Kampus 2, Madusari pada 5 Syawwal kemarin. Tujuan dari diadakannya OSPEK ini tidak lain adalah untuk mengenalkan Kampus UNIDA dengan berbagai aktivitas dan disiplin perkuliahannya kepada para mahasiswa baru.

Kegiatan tahunan tersebut resmi dibuka pada hari Selasa malam (18/7) pukul 20.15 WIB oleh Al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil. yang bertempat di Aula Rabithah dengan jumlah peserta sebanyak 140 mahasiswa guru. Dalam kesempatan tersebut, beliau menjelaskan tentang visi misi UNIDA Gontor dan pentingnya perkuliahan bagi generasi muda.

Kegiatan OSPEK ini berjalan selama 11 hari. Diisi dengan berbagai season dan materi yang disampaikan oleh Para Dosen UNIDA, serta beberapa pengarahan tentang pendaftaran kuliah, interview prodi, mekanisme perkuliahan, kegiatan belajar mengajar, yang dijelaskan oleh panitia.

Pada OSPEK 2019 kali ini, Panitia sepakat untuk mengangkat tema “Mateen” yang bertujuan agar para Mahasiswa Guru memiliki pribadi yang cekatan, tangguh, dan berkarakter.

Adapun penutupan acara ini dilaksanakan di Aula Rabithah pada hari Selasa malam (25/7) pukul 20.00 WIB oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal. Dalam sambutannya beliau menyampaikan kepada para mahasiswa agar menjauhi sifat tamalluk, tashonnu‘, dan takalluf (mencari perhatian, mengada-ada, dan berlagak). (Faruq)

HARMONY PENTAS SENI 2019

0

Mantingan-Pada hari Rabu, 24 Juli 2019 PENTAS SENI DARUSSALAM resmi diselenggarakan di Mini Hall Gontor Putri 2. Sorak ria para santriwati pada Pentas Seni malam itu sebagai tanda meriahnya Pentas Seni (PENSI) tahun ini.

Pentas Seni (PENSI) yang diadakan para ustadzah setiap tahun tersebut sebagai wadah untuk menyalurkan kreatifitas para ustadzah dihadapan para santriwati. Hal ini dibuktikan oleh penampilan para ustadzah pembimbing yang memukau. Kegiatan ini bertujuan untuk mengekspresikan diri sebagai santriwati yang berkualitas dan multitalent.

Dengan tema Harmony Pentas Seni 2019 dibuka dengan penampilan merdu marawis. Selain itu dilanjutkan dengan acara favorit lainnya seperti, Poetri, painting, modern dance, musical drama, doll control, pop singer, glowing in the dark, wattage, tron dance, pencak silat, dll.

Sebagai ciri khas PENTAS SENI DARUSSALAM adalah dengan menampilkan acara yang identik tentang dunia perkulian, acara ini memcerminkan bagaimana Gontor menyeimbangkan antara akademis dan kesenian.itsnaisyat

Pendidikan Nasionalisme Dalam Demonstrasi Bahasa

0

GONTOR – Jikalau ada yang ingin mengetahui apa itu nasionalisme, maka datanglah ke Gontor. Begitulah perkataan K.H. Hasan Abdullah Sahal yang terngiang-ngiang di benak santri. Perkataan ini bukanlah main-main, tapi inilah realita yang ada. Kenyataan bahwa di dalam kehidupan pondok pesantren sarat akan pendidikan dan penanaman nilai-nilai nasionalisme. “Suli dicari, mahal harganya”, ungkap ayahanda tercinta.
Salah satu bukti pendidikan nasionalisme yang diajarkan kepada para santrinya adalah kerukunan antar suku bangsa. Bayangkan, ada kurang lebih empat ribu santri yang hidup berdampingan di dalam lahan seluas 14 hektar, dan mereka semuanya berasal dari berbagai macam suku bangsa yang ada di seluruh penjuru Indonesia, bahkan luar negeri. Lebih sulit lagi, sebagian besar santri itu sedang memasuki masa-masa remaja, atau masa pencarian jati diri, yang identik dengan perasaan ingin menang sendiri, merasa kuat, dan bahkan merasa dirinya atau kelompoknyalah yang paling baik.
Tetapi hal itu tidak terjadi di pondok ini. Karena para santri semenjak menjadi santri baru sudah dibekali berbagai pendidikan nasionalisme, yang bertujuan untuk meminimalisir hal-hal negatif tersebut. Maka timbullah rasa saling menghargai dan tenggang rasa antar suku bangsa. Sehingga hubungan antara santri yang berbeda suku, ras atau kelompok tetap harmonis. Bahkan perbedaan tersebut menjadi sebuah keindahan tersendiri yang menghiasi persahabatan antar santri.
Dan sebagai wadah bagi para santri dalam mengekspresikan keberagaman suku bangsa tersebut, dibuatlah acara demonstrasi bahasa, yang merupakan salah satu dari rentetan acara Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy. Acara ini terdiri dari beberapa drama dan pidato yang dibawakan oleh perwakilan santri dari setiap konsulat dengan bahasa daerahnya masing-masing. Pada acara demonstrasi bahasa tahun ini, ada tujuh konsulat yang tampil, yaitu Surakarta dan Jogjakarta (Bahasa Jawa), Priangan (Bahasa Sunda), Bali dan Nusa Tenggara (Bahasa Bali), Luar Negeri (Bahasa Thailand), Madura (Bahasa Madura), Medan (Bahasa Medan), dan Sulawesi, Maluku, dan Irian (Bahasa Bugis).
Acara demonstrasi bahasa tersebut dihadiri oleh seluruh santri baru, sebagai pengganti kegiatan belajar malam yang biasa mereka lakukan setelah shalat Isya’. Lebih istimewanya lagi, acara yang diselenggarakan pada hari Kamis, 25 Juli 2019 ini dihadiri langsung oleh ayahanda tercinta K.H. Hasan Abdullah Sahal. Seluruh panitia dari kelas 3 intensif dan kelas 4 pun terlihat sungguh-sungguh dalam mempersiapkan acara ini. Suasana ukhuwah islamiyah antar suku bangsa pun tercipta dalam atmosfir ruangan BPPM yang meriah. “Benar-benar berbagai bahasa yang ditampilkan dalam acara ini mencerminkan ukhuwah islamiyah”, sebagaimana diungkapkan oleh Al-Ustadz Rahmatullah Furqan, M.Pd, dalam sambutan pembukaannya.
Pada akhirnya, acara ini ditutup dengan penampilan rebana. Meskipun ada beberapa evaluasi di sana-sini, tapi secara umum acara berjalan lancar dan seluruh penonton merasa bangga akan keragaman budaya bangsa Indonesia yang bersatu di bawah naungan surga satu menara, dalam Pondok Modern Darussalam Gontor. #FachriR

Gladi Terakhir Mahadasa Show 2019

0

Gontor – Disamping berlangsungnya acara Demonstrasi Bahasa yang bertempat di Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam Gontor (BPPM) yang di panitiai oleh santri dan untuk santri, berlangsung pula gladi terakhir untuk acara Mahadasa Show 2019 yang di panitiai oleh para guru pondok modern, khususnya guru tahun ketiga. Acara ini berlangsung di depan gedung rayon Syiria atau di depan dapur umum lama. Dan di gladi terakhir ini acara-acaranya semakin meriah dan spektakuler melebihi dari gladi-gladi sebelumnya. Karena guru bukan hanya yang bisa mengajar santri di kelas, tetapi guru itu harus bisa mengajar dan memberi uswatun hasanah bagi para santri-santrinya didalam maupun diluar kelas. Maka dari itu dengan Mahadasa Show ini kita tunjukan bahwasannya guru bukan hanya bisa megajar ,tapi juga bisa berkreasi dan berinovasi di dalam suatu seni. Yang menandakan bahwasannya podok itu tak pernah berhenti dengan segala kegiatan-kegiatannya المعهد لا ينام أبدا. Ujar Al-Ustadz Nawwirul Huda sebagai ketua dari Dewan Mahasiswa ( DEMA ) pada sambutanya ketika acara gladi terakhir ini. Dan penampilan-penampilan pada acara Mahadasa Show ini diantaranya :

  1. Penampilan dari guru tahun pertama

  2. Penampilan dari guru tahun kedua

  3. Penampilan dari guru tahun keempat

  4. Penampilan dari guru tahun kelima

  5. Penampilan dari La-Tansa Departement Store

Dan sisanya adalah penampilan dari panitia, dan penampilan gabungan dari seluruh guru KMI Pondok Modern. Pada acara gladi terakhir ini dihadiri oleh Al-Ustadz Noor Syahid, Al-Ustadz Hasan Muttaqien sebagai juri, serta Al-Ustadz Mashudi Syubari juga turut hadir dalam acara tersebut. Acara gladi ini berlangsung mulai pukul 20.20 WIB sampai dengan pukul 22.35 WIB, yang di tutup dengan Grand Clossing yang meriah dan spektakuler.

Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe

0

Gontor – “Tidak mengharap imbalan, namun bersungguh – sungguh dalam bekerja.” Begitulah kiranya terjemahan bebas dari falsafah Jawa di atas. Apa maksud dari falsafah itu? Dari falsafah tersebut, kita diajarkan untuk bekerja maksimal tanpa terlalu mengharap imbalan dari pekerjaan itu. Intinya adalah rasa ikhlas dalam segala hal.

Gontor kiranya sudah lama mengajarkan hal itu. Bila kita tengok ke belakang, di awal bendirinya pondok ini pada tahun 1926, aura keikhlasan sudah mulai muncul. Dengan fasilitas yang seadanya, Pak Sahal rutin mengajar santri – santrinya di Tarbiyatul Athfal (sebelum KMI berdiri) setiap pagi dan petang.

Menurut riwayat yang ada, santri saat itu tidak dipungut biaya. Bahkan, sampai hari ini pun, para pengajar yang ada di Pondok Gontor itu tidak dibayar. Tujuannya agar ikhlas dalam bekerja, tanpa mengharap imbalan. Semua diniatkan karena Allah saja.

Mungkin miliu keikhlasan tersebut memang sengaja dibentuk oleh para pendiri Pondok Gontor. Sebab, dalam arah dan tujuan pondok modern disebutkan bahwa tujuan pokoknya adalah ibadah tholabul ilmi. Tidak mengharap materi, tapi murni ikhlas beribadah kepada Allah saja.

Segala aspek kehidupan di Pondok Gontor berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam. Kyai ikhlas mengajar santri, santri ikhlas dalam belajar, bahkan lurah pondok (asisten) juga ikhlas dalam membantu. Sehingga akan muncul suasana yang harmonis antara kyai yang disegani, dan santri yang taat dan penuh cinta serta rasa hormat.

Dengan demikian, pembaca yang budiman, diharapkan seorang santri itu mengerti betul dan sadar akan arti lillah, arti beramal, arti taqwa, dan juga arti ikhlas. Mengapa? Karena mereka lah yang memang dipersiapkan untuk berdakwah ke segala penjuru alam. Tidaklah dakwah itu berhasil tanpa rasa ikhlas yang menyertainya.

Akhir kata, besar harapan agar jiwa keikhlasan ini dapat memancar ke segala penjuru alam. Itu semua berawal dari Pondok Pesantren. Maka, akan mudah dikatakan bahwa Pondok Pesantren ialah obor yang akan membawa cahaya penerangan Islam di dunia. Ghozi Nafi