Home Blog Page 299

Menghidupkan Ilmu Mawarits Dengan PSP (Penentuan Sebelum Pembagian)

0

 

Mantingan- Penentuan sebelum pembagian atau yang biasa di singkat PSP sudah tidak asing di telinga kita. Bagaimana tidak, pembekalan tentang pembelajaran faroidh atau pembagian warisan yang dibawakan oleh pendiri dan pengasuh Majelis Al-Mawarits Mhd. Jabal Alamsyah selalu diadakan di Gontor setiap tahunnya. Khususnya untuk pembekalan terhadap santriwati kelas 6 KMI yang akan menghadapi ujian awal tahun. Maka pada hari Senin-Selasa (8-9/10) telah diadakan ta’hil untuk pelajaran faroidh oleh Ustadz Mhd. Jabal Alamsyah yang diikuti oleh perwakilan guru-guru pengajar pelajaran faroidh kelas 3 dan kelas 3 Intensif KMI dari Gontor Putri kampus 1, 2 dan 3. Acara ini berlangsung di Auditorium Aisyah Gontor Putri Kampus 1. Di mulai pukul 08:00 WIB, kemudian dilanjutkan setelah shalat Zuhur pukul 14:00 WIB.

Dalam acara ini Ustadz Jabal mengajarkan tentang lima kaidah ilmu mawarits yang harus dikuasai guru faroidh, yaitu Ashabul Irtsi, Ashabul Furudh, Ashabul Ashabah, Ashabul Hajbi dan terakhir Hisabul Mirats. Sangat penting untuk mengetahui dan mempelajari ilmu faroidh atau mawarits ini, apalagi bagi para santri dan guru KMI. “Ilmu mawarits itu sama dengan PSP. Dan itu penting karena mawarits atau PSP adalah perintah Allah dan Rasul-Nya, hukumnya fardhu kifayah, dapat mengharmoniskan dan memakmurkan keluarga,” Ujar ustadz Jabal. Selain itu beliau juga mengajarkan cara mudah menghafal ashabul irtsi dengan gerakan tangan ke atas, ke bawah, ke kanan dan ke kiri.

Harapan beliau setelah diadakannya acara ini adalah mengadakan program Mawarits Camp pada 2019 dengan mengundang perwakilan mahasiswi Fakultas Ekonomi dan  Fakultas Syariah seluruh Indonesia dan menjadikan persatuan guru-guru KMI pengajar faroidh sebagai panitianya. Fikra91

Kiai Hasan Gelar Walimah Akikah Cucunya

0

GONTOR—Kamis siang (4/10) Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) K.H. Hasan Abdullah Sahal beserta keluarga menggelar Walimah ‘Akikah untuk cucu putrinya, Razan Ahidah Fahda, di kediaman Kiai Hasan, selatan Masjid Jami’ PMDG. Razan merupakan putri pertama dari pasangan Al-Ustadz Faturachman dan Al-Ustadzah Alfi Radhia Lilla. Razan lahir dengan berat 3 kg, pada Ahad Legi, 13 Muharram 1440/23 September 2018, pukul 14.45 WIB, di Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) PMDG.

Keluarga Besar Kiai Hasan sangat berbahagia dengan lahirnya Razan, terlebih bagi pasangan Ustadz Fathur dan istri yang baru saja dikaruniai seorang putri di bulan ke-9 setelah pernikahannya (12/11/2017) lalu. Ustadz Fathur mengatakan, Ia sangat bersyukur kepada Allah SWT atas kelancaran dari kelahiran putrinya ini.

Razan Ahidah Fahda merupakan nama pilihan yang diberikan oleh Kiai Hasan kepada cucunya. Adapun “Razan” ini diambil dari nama  seorang perawat/paramedis Palestina yang dibunuh oleh Pasukan Pertahanan Israel saat bertugas di perbatasan Gaza, Razan Ashraf Abdul Qadir al-Najjar. Begitupun “Ahidah” yang diambil dari seorang gadis—Ahed  Tamimi—yang  menjadi ikon perlawanan terhadap Israel dengan melakukan perlawanan keras kepada salah satu tentara Israel. Sedangkan “Fahda”  merupakan nama gabungan dari kedua orang tuanya, Faturachman dan Dilla.

Al-Ustadz Yusron, pembawa acara di walimah ini menjelaskan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, setiap anak tergadai dengan ‘akikahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama. “Alhamdulillah dengan lahirnya Razan, kita mampu melangsungkan salah satu sunah Rasulullah SAW, yaitu Walimah Akikah ini.” Jelas menantu Kiai Hasan ini.

Acara berlangsung khidmat, setelah penjelasan dari Ayahnya, Ustadz Fathur, acara dilanjutkan dengan pemotongan rambut, serta pemberian madu dan air zam zam di bibir Razan. Semua keluarga dan para asatidz senior yang hadir turut berbahagia dengan kelahiran Razan, setiap dari mereka memanjatkan doa terbaik baginya, besar harapan agar Razan bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara, “semoga menjadi putri yang ‘aalimah, shaalihah, haafidzah, dzaakirah, naafi’ah, fiddin wa dunya wal aakhirah, Aamiin yaa Raab Al-‘Aalamiin” tambah Ustadz Fathur. Rakafadel

Exact Club Adakan LSE

0

Gontor–Exact, Salah satu club di Pondok Modern Darussalam Gontor, mengadakan acara LSE (Laboratory Science Expo) untuk pertama kalinya, acara ini dibuka oleh Direktur KMI, K.H. Masyhudi Subari M.A., di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) pada Juma’t pagi (5/10) Pukul 09.30 WIB.

Acara ini diadakan oleh staf Exact yang berjumlah 9 orang diketuai oleh Fadhlan (3-B) dan dibimbing oleh Ala’ Annajib dan Hardiyan Saputra (staf KMI), acara yang diadakan untuk pertama kalinya ini cukup meriah karena para santri dapat belajar dan menambah wawasan mereka tentang rangkaian organ tubuh manusia dan binatang, serta dapat melakukan penelitian dan percobaan kimia sederhana.

Harapan dari acara ini adalah santri dapat mengetahui Biologi, Fisika, Kimia, Elektro, dan sebagainya secara menyeluruh, serta menambah wawasan mereka tentang kebesaran Allah melalui penciptaan-Nya dan segala keindahan di dalamnya, AbuFariz.

K.H. Syamsul Hadi Abdan: Keikhlasan Adalah Jiwa Gontor

0

Mari kita syukuri bahwa keikhlasan para kyai dan guru masih cukup tinggi, dibandingkan dengan para guru di lembaga-lembaga pendidikan atau pondok pesantren di luar Gontor. Para santri ikhlas diarahkan, diawasi, diajari, dievaluasi, dikritik, dan dihukum. Para guru ikhlas mengarahkan, ikhlas mengawasi, ikhlas mengajar, mengevaluasi, mengkritik, dan menghukum. Guru-guru di Gontor tidak dibayar. Inilah cara Gontor untuk menanamkan jiwa keikhlasan. Trimurti mengikhlaskan tanah warisan kepada umat, dikala miskin. Santri dan guru hidup berdampingan dalam satu komplek pesantren. Saling membantu, bekerja sama. Begitulah Gontor hidup selama Sembilan puluh tahun. SPP tidak digunakan untuk membayar guru. SPP digunakan untuk membiayai listrik, membeli meja dan bangku, membangun ruang kelas. Tidak sepeserpun untuk membayar para guru.

Pada masa kepemimpinan Trimurti, seorang santri yang mendapat tugas mengajar oleh kyianya atau mendapat lowongan mengajar di suatu madrasah, mereka amat sangat senang walaupun tanpa imbalan. Guru-guru yang sangat ikhlas mengajar di Gontor, seperti: K.H. Shoiman Lukmanul Hakim, K.H. Imam Badri, K.H. Ibrahim Thoyyib, Ust. Hasuna, Ust. Sirman Nur Salim dan lain sebagainya, telah mengajar di Gontor selama bertahun-tahun bersama Trimurti dengan istiqomah tanpa mengharap imbalan apapun. Selain di Gontor, mereka juga membina dan mengajar di madrasah-madrasah sore (sekolah arab) di daerah masing-masing juga tidak mengharap imbalan apapun.

K.H. Shoiman Lukmanul Hakim, K.H. Imam Badri, K.H. Ibrahim Thoyyib, Ust. Imam Subani sebelum mengajar di Gontor, adalah alumni PP. Tegal Sari. Walaupun tak mendapat ihsan yang banyak, mereka tetap ikhlas mengajar sampai akhir hayat. Tetapi Gontor tidak pernah membiarkan guru-gurunya tanpa kesejahteraan, oleh karena itu pada tahun 1960 telah dibangun Perdos (Perumahan Dosen) di belakang gedung Saudi. Ada empat buah rumah, sehingga dapat tinggal dan membantu Trimurti dalam membina santri dan guru selama 24 jam. Namun, kesejahteraan mereka tetap terbatas, dengan penuh keyakinan, kehidupan mereka tetap dijamin oleh Allah. Keikhlasan yang menjiwai para guru tersebut membuat kemajuan Gontor hingga saat ini.

Pada guru dengan segala keterbatasannya tetap dalam suasana keakraban dan keikhlasan. Dengan buku-buku dan munjid yang hargannya mahal, mereka tetap mengajar dengan penuh kesungguhan, tak pernah putus asa. Istilah malaikatan menjadi jiwa perjuangan mendidik para santri yang akan datang dari segala penjuru dunia, yaitu ikhlas tanpa mengharap imbalan sedikit pun. Kalaupun ada imbalan/ihsan, itu menjadi hal yang tabu bagi nilai perjuangan pendidikan mereka.

Semua keikhlasan terjalin karena kesederhanaan dalam hidup. Semua guru terbiasa dengan hidup yang sederhana yaitu hidup secara wajar. Apa yang dimiliki, semuannya disyukuri dan digunakan semaksimal mungkin.

Sekarang, seberapa besar keikhlasan kita, selama berjuang di pondok ini? Perlu dipertanyakan. Apakah sebanding dengan keikhlasan para Trimurti dan para pendahulu yang lain. Di tengah segala keterbatasan, mereka begitu ikhlas mengajar dan bertugas. Mewakafkan pondok di dalam keadaan yang kekurangan, adalah contoh keikhlasan yang sangat luar biasa. Sebagai generasi penerus, kita harus mengikuti keikhlasan Trimurti dalam membangun pondok ini.

Begitulah keikhlasan yang dicontohkan oleh para Trimurti dan Guru-guru Gontor Lainnya. Kita harus tahu dan ingat untuk selalu mewarisi jiwa keikhlasan, kemandirian serta kesederhanaan Trimurti dalam membangun dan membantu pondok dalam setiap aspek kegiatan dan kehidupannya.*aff

 

Dikutip dari buku Embun Keikhlasan, Hal. 1-3

Seminar Kesehatan Sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Santriwati

0

Gontor Putri Kampus 1– Kesehatan merupakan hal yang penting dalam kehidupan setiap manusia. Tanpa adanya kesehatan yang baik, tentu aktifitas seseorang dapat terganggu. Sebagaimana hal tersebut, Gontor amat memperhatikan kualitas kesehatan santrinya. Meskipun memiliki santri ribuan orang, segala kebutuhan yang berhubungan dengan kesehatan mereka tetaplah difasilitasi dengan baik. Salah satunya pengadaan seminar kesehatan guna meningkatkan pengetahuan santriwati.

Seminar kesehatan yang bertemakan “Hygiene Organ Kewanitaan” ini diadakan pada hari Senin, 1 Oktober 2018 di Aula Kulliyatu-l-Banat Gontor Putri Kampus 1.  Acara ini diisi oleh dr. Nadia Alaydrus, S. Ked dan Al-Ustadzah Rafiah Rusyda, S. H. dengan peserta dari seluruh kelas 5 dan 6 serta beberapa dari ustadzah. Dokter Nadia menjelaskan secara jelas dan singkat mengenai penyakit-penyakit yang biasa menyerang organ kewanitaan beserta sebab-sebabnya. Tak lupa pula, dokter Nadia menambahkan mengenai kiat-kiat dalam menjaga organ kewanitaan agar selalu dalam keadaan yang baik. Lalu, pembicara dilanjutkan oleh Al-Ustadzah Rafiah Rusyda, S. H. Ustadzah Rafiah, begitu beliau disapa, merupakan founder sekaligus owner dari CV. Yuspin yang merupakan perusahaan yang bergerak dalam pembalut kain wanita. Alumni Gontor Putri ini menjelaskan asal-usul adanya perusahaan ini, serta menjelaskan akan pentingnya penggunaan pembalut kain dibandingkan pembalut sekali pakai yang tersebar di pasaran. Sebagaimana yang diketahui oleh masyarakat, bahwa pembalut sekali pakai mengandung bahan yang berbahaya serta dapat mengganggu kesehatan wanita.

Selama acara ini berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka tampak memperhatikan penjelasan, baik dari dokter Nadia maupun Ustadzah Rafiah, dengan sangat baik. Sebagai tambahan di akhir acara, MC mengadakan games yang berhadiah paket pembalut kain Yuspin. Acara pun berakhir dengan sangat baik. Besar harapan melalui acara ini, para santriwati dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan mereka, terutama organ dalam, dengan baik. Fayra

Sujud Syukur 30 Tahun Pesantren Darul Muttaqien Bersama KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Gontor

0

PARUNG, BOGOR – Pada hari Senin (1/10) siang, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), K.H. Hasan Abdullah Sahal bertolak dari Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 Cidokom menuju Pondok Pesantren Darul Muttaqien (PPDM) Parung guna menghadiri acara Sujud Syukur Milad ke-30 Tahun Pesantren tersebut. Acara yang dihadiri oleh seluruh dewan guru, santri, dan santriwati PPDM itu diselenggarakan di Masjid Putri Ponpes Darul Muttaqien.

Tepat pukul 14.05 WIB siang, Kiai Hasan tiba di Darul Muttaqien, kedatangan beliau pun disambut hangat oleh santri-santri PPDM yang sembari melantunkan nasyid indah “thala’al badru ‘alaina” secara bersama-sama.

“Saya tadi malam baru pulang dari Moskow Rusia, di sana semua ada, tapi orang masih sangat menghargai disiplin, tahun kemaren saya di Inggris, Eropa. Di sana ketemu Mesut Oezil (pesepak bola muslim Jerman) di restoran halal. Orang-orang di sana cara hidup, cara makan, bergaul yang islami yang halal laku. Di Indonesia banyak orang, tokoh, pemimpin menganjurkan umat Islam meninggalkan agama. Pergaulan ga usah (diatur) agama, makan ga usah (diatur) agama, memilih (pemilu) ga usah (diatur) agama…..Ya Allah. Kalau tidak diatur agama, kita tidak akan ke surga. Sebaik-baik hidup ya, yang diatur agama, maka….”Wahai jiwa yang tenang, kembali ke jalan Allah dengan hati yang ridho, maka, masukklah ke dalam golongan hamba-hamba-Nya dan masuklah ke dalam surga-Nya’ (QS. Al-Fajr 27-30). Jadi, otakmu, pikiranmu, hanya untuk Allah semata” pesan Kiai Hasan dalam tausyiahnya.
“Subhanallah, subhanallah…ini saja, maka kehidupan ini nikmat sekali, kamu nikmati pondok pesantren (Darul Muttaqien yang 16 ha), makanya saya senang sekali kalau yang putra dengan putri ini dipisah, yang wanitia dididik nilai-nilai yang maksimal, yang laki-laki juga maksimal; kepemimpinan, ketangguhan, tanggung jawab, tangkas. Wanita dengan keterampilan, ketulusan, kelembutan dan rasa malu yang tinggi. Saat ini kepemimpinan laki-laki tipis sekali dan rasa malu perempuan juga sangat tipis, makanya bersyukur kalian dididik di pondok pesantren”, lanjut Kiai Hasan.

“Masya Allah, 30 tahun Darul Muttaqien, saya untuk pertama kali kemari, senang sekali saya menyaksikan ini. Doakan saya selalu sehat, bisa mendidik, mengawal dan mengawasi anak-anak semuanya”.
Deem15Nilai-nilai yang disampaikan Kiai Hasan yang disisipkan dalam humor ala santri, benar-benar menginspirasi dewan guru, anak-anak juga pengurus Yayasan Darul Muttaqien yang hadir, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc (alumni Gontor, Pimpinan Darunnajah 2 Cipining Bogor) H. Noor Badri, BA (alumni Gontor, Pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta) dan beberapa alumni Gontor (IKPM) yang hadir. Di akhir acara, Kiiai Hasan memimpin doa dan diaminkan oleh seluruh jamaah yang hadir.
“Ya Allah….RahmatMu lebih luas dari dosa-dosa kami, karunia-Mu lebih luas dari maksimat kami, Ya Allah janganlah dosa-dosa kami, maksiat-maksiat kami, menjadi penghalang terkabulnya doa-doa kami untuk mendapatkan rahmat dan ridho-Mu”

Seusai acara, Kiai Hasan didampingi oleh Pimpinan Ponpes Darul Muttaqien, Drs. KH. Madroja Sukarta, juga berkesempatan untuk meresmikan Gedung Olahraga (GOR) Terpadu Santri Putra yang juga berlokasi di dalam komplek Pondok tersebut. habibur_hmz

Akselerasi Pelatihan Jurnalistik, 2 Hari Cetak Wartawan

0

Ponorogo, Gontornews –  “Pelatihan ini berhasil membuat program akselerasi dalam pelatihan jurnalistik, dulu saya pelatihan jurnalistik dua bulan dengan target dan berbagai beban tugas yang harus diselesaikan. Dari sisi biaya juga sangat mahal, hampir menghabiskan puluhan juta. Sedangkan sekarang sangat luar biasa, hanya pelatihan 2 hari para peserta sudah bisa memperlihatkan hasil yang cukup baik dalam hal reportase dan penulisan berita,” papar Redaktur Majalah Gontor Dedi Junaedi saat penutupan Pelatihan Jurnalistik dan Evaluasi Pendataan bagi santri Gontor di Aula Gedung Rabithah, Sabtu (22/9).

Pemimpin Redaksi Gontornews.com Rusdiono Mukri mengatakan para santri Gontor semuanya memiliki bakat untuk menjadi wartawan dan didukung oleh banyaknya acara di Pondok Gontor yang bisa dijadikan bahan berita.

“Pondok Gontor dengan semua aktivitas dan keunikannya, sangat disayangkan kalau tidak ada yang mengabadikannya dalam bentuk beritau,” ujar Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Gontor itu.

Pelatihan Jurnalistik dan Evaluasi Pendataan ini menghadirkan narasumber Pemimpin Redaksi Gontornews.com Rusdiono Mukri, Redaktur Majalah Gontor Dedi Junaedi, Bagian Distribusi dan Sirkulasi Bambang Suherman, dan Sekretaris Redaksi Al Hafidh.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu dihadiri pesarta utusan dari Pondok Modern Gontor pusat dan cabang yang berjumlah 50 orang Putra dan Putri. Mereka adalah: Gontor Pusat, Gontor 2 Ponorogo, Gontor 5 Banyuwangi, Gontor Putri 1 Ngawi, Gontor Putri 2 Ngawi dan Gontor Putri 3 Ngawi.

Berbeda dengan pelatihan tahun sebelumnya, kali ini diadakan lomba reportasi dan penulisan berita. Terpilihlah lima terbaik putra-putri sebagai pemenang. Meraka adalah:

Putra:

  1. Muhammad Fahrur Rozi/Gordapos https://gontornews.com/2018/09/26/kopontren-perkulakan-usaha-memenuhi-berbagai-kebutuhan-pangan-santri/
  2. Fatah Mubin/Gontor 5 Banyuwangi https://gontornews.com/2018/09/23/240-komputer-untuk-santri-agar-melek-teknologi/
  3. Syam/Gontor Pusat

Putri:

  1. Khadijah Srikandi/GP3 https://gontornews.com/2018/09/24/ukk-menyejahterakan-guru/
  2. Dzakiyah Fikra/GP3 https://gontornews.com/2018/09/24/sekpim-tugas-kami-melayani-pimpinan-pmdg/

“Pelatihan ini bertujuan membentuk para pendakwah di era milenial dan menciptakan wartawan yang Islami, walaupun ada beberapa pondok cabang yang tidak bisa hadir karena alasan tertentu,” papar Ketua Panitia Ustadz Nuris Fakhmi Zakky kepada Gontornews.com.

Kepanitiaan pelatihan ini diketuai Ustadz Nuris Fakhmi Zakky  dengan krunya Ustadz Taufiq Ridho Maghriza, Azhar Haliwungan dan Firman Nugraha.  [Sumber dari Al Hafidh]

Kiai Syamsul: Fathul Kutub adalah Ujian

0

Darussalam- Rabu (26/9) K.H. Syamsul Hadi Abdan hadir dalam penutupan Fathul Kutub Siswa Akhir 2019. Beliau hadir bersama Direktur KMI, K.H. Masyhudi Subari, M.A. dan kedua wakilnya. Acara penutupan ini dibagi menjadi dua sesi: sesi penulisan kesan-kesan (al-Inthiba‘at) dan sesi penutupan Fathul Kutub. Pada sesi pertama, seluruh siswa mendapat dua kertas folio, lalu mereka menuliskan kesan mereka menggunakan bahasa Arab dengan harakat sempurna. Pada 30 menit terakhir, Bapak Direktur menguji beberapa siswa untuk maju dan membacakan kesan-kesannya. Beberapa mendapat pujian dan berberapa perlu perbaikan lagi, namun secara keseluruhan Bapak Direktur bangga dengan kemampuan Kelas 6 tahun ini.

Tepat pukul 09.30 WIB tibalah waktu untuk sesi kedua. Kiai Syamsul langsung menaiki podium dan memberi nasihat. Dalam nasihatnya, beliau menjelaskan setidaknya ada 4 kriteria alumni Gontor. Pertama, Alumni Gontor harus mampu menjadi guru yang baik, baik dalam mengajar ilmu umum maupun ilmu agama. Kedua, mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Ketiga, mampu membaca dan memahami kitab-kitab berbahasa Arab. Keempat, harus siap menjadi kiai. Fathul Kutub ini berkaitan dengan kriteria yang ketiga.

“Inilah di antaranya untuk menguji kalian sampai dimana kemampuan kalian dalam membaca kitab-kitab Arab.” Jelas Kiai Syamsul. Untuk menyelesaikan masalah, santri dituntut untuk menggunakan seluruh kemampuan bahasanya, baik nahwu-sharf-nya, fathul mu‘jam-nya, dan juga perbendaharaan mufradat.

Acara yang berlangsung selama 7 hari ini melibatkan 748 orang siswa dan 66 orang pembimbing. Dimulai dengan pengarahan materi oleh asatidz senior pada Rabu–Kamis (19–20/9) dan bahtsul masail dari Sabtu–Rabu (22–26/9). AaRum

P3Dema Pusat Berjalan Lancar

0

Gontor–Pergantian Pengurus Pusat Dewan Mahasiswa (P3Dema) merupakan bagian dari agenda mahasiswa dan mahasiswi UNIDA Gontor untuk memilih ketua baru Dema Pusat Universitas Darussalam Gontor, sebelum Dema Pusat dipilih, terlebih dahulu diadakan pemilihan Dema wilayah, maka ketua Dema Pusat ini bertugas mengontrol semua Dema wilayah yang ada di setiap kampus cabang.

Acara yang bertajuk “Kaderisasi mengestafetkan nilai kepemimpinan untuk menciptakan generasi pejuang” ini dilaksanakan pada Jum’at (28/9) dan dihadiri langsung oleh Pimpinan Pondok, K.H. Syamsul Hadi Abdan. Inti dari agenda ini yaitu pemilihan ketua baru serta pembacaan laporan pertanggung jawaban, diakhiri dengan serah terima amanat pengurus lama kepada pengurus baru Dema Pusat.

Dengan dilantiknya 3 nama terpilih (M. Hanif Al-Farisi, M. Maulana Malik, dan Indra Setyawan) oleh Pimpinan Pondok, maka mereka secara defacto telah resmi disahkan sebagai ketua baru Dema Pusat Universitas Darussalam Gontor. AbuFariz

 

Gontor Adakan Seminar Photography

0

GONTOR–Bagian Fotografi Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) selenggarakan Seminar Photography di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Jum’at (28/9) pagi. Al-Ustadz Khoirul Atqiya yang menjadi pembicara pertama dalam seminar menjelaskan bahwa penyelenggaraan acara ini benar-benar dibutuhkan oleh para santri, karena dengan ini minimal mereka dapat mengetahui anatomi kamera dan teknik pengambilan gambar yang baik.

Acara ini berlangsung selama satu minggu, dari Jum’at (28/9) hingga Jum’at (5/10) mendatang. Pada sesi pertama Pembimbing Fotografi, Al Ustadz Khoirul Atqiya memaparkan berbagai materi dasar dalam fotografi, dimulai dari sejarah fotografi, anatomi kamera, aksesoris kamera. Sedangkan pada sesi kedua, Al-Ustadz Maulana dan Al-Ustadz Masau Dito berturut-turut menjelaskan tentang editing foto dan sinematografi.

Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta dari kelas 1-6 KMI. Setelah seminar selesai, kegiatan ini berlanjut ke tahapan berikutnya yaitu praktek pengambilan gambar. Setiap peserta mendapatkan giliran untuk mengambil gambar dengan materi praktek yang berbeda, dimulai dari foto studio, foto outdoor, foto kreasi outdoor, praktek foto indoor, dsb.

Dalam setiap tahapan, terlihat para peserta sangat antusias dalam mengikuti seminar dan pelatihan ini, terlihat dari banyaknya jumlah peserta yang hendak bertanya ketika sesi pertanyaan seminar, serta keaktifan mereka ketika melakukan praktek pengambilan gambar bersama para pembimbing fotografi. Dengan diadakannya seminar dan pelatihan fotografi ini diharapkan, para santri mampu meningkatkan pemahaman mengenai kamera, serta dapat memperluas wawasan tentang dunia fotografi. Rakafadel