Home Blog Page 431

HES 5 Unida Gontor Sambangi Negeri Jiran

0
DSC_5978
Ustadz Eko memberikan cendera mata kepada pihak INCEIF

GOMBAK- Sebagai tindak lanjut MoU antara UNIDA dan IIUM, Program Studi HES (Hukum Ekonomi Syari’ah) dari fakultas Syari’ah sambangi Malaysia. Tepatnya mereka berkunjung ke IIUM (International Islamic University of Malaysia). Ini adalah kali kedua Prodi HES mengadakan kunjungan ke IIUM dalam program untuk semester 5 yaitu Studi Pengayaan Lapangan (SPL). Untuk membekali wawasan mahasiswa/i dalam dunia hukum dan ekonomi islam, yang nantinya berguna pada Praktek Pengayaan Lapangan (PPL) di semester 6.

Rombongan mahasiswa Unida berangkat dari kampus Siman pada hari Selasa (27/10) tepat 08.00 WIB. Diawali dengan pelepasan oleh Dekan Fakultas Syari’ah, Al-Ustadz Imam Kamaluddin, M.A. beliau, dalam nasehatnya berpesan untuk selalu menjaga ketaqwaan dimanapun, karena taqwa adalah bekal terbaik bagi ummat islam.  “تزودوا فإن خير الزاد التقوى” jelas beliau.

Rombongan ini berjumlah 37 orang, terdiri dari 19 mahasiswa dan 18 mahasiswi. 2 dosen pembimbing, mereka adalah Kepala Prodi HES, Al-Ustadz Eko Nur Cahyo, M.A. dan dosen HES, Al-Ustadz Ahmad Fannani, M.A., untuk menuju ke Malaysia rombongan berangkat dari Bandara Yogyakarta, Adisutjipto, penerbangan pukul 17.15 WIB. Sampai di Malaysia pukul 09.30 waktu setempat.

Malaysia adalah salah satu negara yang berkomitmen untuk menjadi imam dalam Ekonomi Islam. Dan sekarang negara ini sudah menjadi nomor 1 di dunia untuk Ekonomi Islam. Salah satu faktor besar dalam tercapainya prestasi negara ini adalah berdirinya IIUM. Universitas yang biasa disebut UIA (Univesiti Islam Malaysia) ini berdiri tahun 1983 atas ide dari konferensi Makkah tahun 1977. Dan tahun ini genap berusia 32 tahun.

Agenda ini sudah direncanakan jauh-jauh hari. Mulai dari pembuatan proposal acara, pembuatan paspor, sampai tahap terakhir yaitu mengajukan izin ke Pimpinan PMDG. Semua proses itu membutuhkan waktu sekitar 3 bulan.

Dalam SPL selama 6 hari ini rombongan mengunjungi banyak tempat yang menarik. Mulai dari KEMNS (Kulliyah Economy and Management Sience), CELPAD (Centre for Languages and Pre-University Academic Development), INHART (International Institute for Halal Research and Training), IIBF (Institute of Islamic Banking and Finance), Al-Hikmah IIUM Library, INCEIF (International Centre for Education in Islamic  Finance), Bank Negara Malaysia, dan juga ISTAC (kampus Ustadz Hamid dulu) yang sekarang sudah menjadi CRESCENT (Centre for Strategic Continuing Education and Training).

Seperti INCEIF, satu-satunya institusi yang fokus pada Ekonomi Islam dan cabang ilmunya. Baru berdiri 10 tahun namun sudah menelurkan 1.078 sarjana. Ia juga menyumbang 11% makalah tentang ekonomi Islam di dunia. “dari 10 paper ekonomi Islam yang terbit di dunia, 1 diantaranya ditulis di sini.” Terang dosen yang menyambut kami.

Hari Jum’at (30/10), rombongan Gontor mengunjungi INHART, institut yang expert dalam membina praktisi penjaga nilai halal dalam makanan, produk, dan pelayanan. Khususnya dalam dunia industri. Walaupun mereka hanya bergerak dalam pendidikan, namun memberikan kontribusi besar. JAKIM sebagai badan negara yang memiliki tugas melegalkan label halal banyak merekrut alumni instansi ini. “I’m amuzed by this Campus,” terang salah satu mahasiswi peserta SPL ini. Bagaimana tidak, negara yang tidak sepenuhnya muslim ini dapat memberikan perhatian besar terhadap produk halal. Bahkan non muslim pun ikut andil mensuksekannya. Luar biasa.

Sehari sebelum pulang ke Indonesia, Ahad (1/11), rombongan Unida Gontor diundang untuk menghadiri Family Day of IKPM, pertemuan tahunan IKPM, semua alumni Gontor bertemu di sana, tepatnya di lapangan layang-layang. Senin (2/11), rombongan bersiap kembali ke Indonesia. penerbangan pukul 15.15 waktu setempat dari KLIC menuju Yogyakarta, Adi Sutjipto. Penerbangan ini menghabiskan 2 setengah jam, lalu mereka melanjutkan perjalan ke Ponorogo, dan sampai Gontor sekitar jam 11 malam. Aa Rum

Menuju 90 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

0

Usia Pondok Modern Darussalam Gontor, kini sudah menginjak angka 89. Angka yang tak lagi terbilang minim bagi usia seorang manusia. Berbicara tentang Gontor, kita akan memasuki sebuah dunia proses yang begitu panjang dan melelahkan. Gontor dapat berdiri tegak dan maju hingga kini, tentunya melalui sebuah perjuangan, pengorbanan, dan kebersamaan para pendiri, guru-guru, hingga santri.

Sejak berdiri tahun 1926, Gontor tak langsung begitu saja diminati dan tenar di kalangan masyarakat. Di awal berdirinya, Gontor memulainya dengan fase Tarbiyatul Athfal. Sepuluh tahun berjalan, Gontor mulai mampu untuk mendirikan tingkatan sekolah yang sederajat dengan sekolah menengah. Padahal masa itu, orang pribumi mampu lulus sekolah rakyat saja sudah hebat. Nama lembaga itu adalah Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah.

Perjuangan dan keikhlasan para pendiri Gontor, mencapai puncaknya saat penyerahan piagam wakaf kepada umat Islam. Ini merupakan bentuk keikhlasan yang memuncak dan tak terbantahkan. Padahal, pada tahun 1958, tahun di mana Gontor diwakafkan, pondok ini sudah memiliki ratusan santri, aset bergerak dan tak bergerak yang tidaklah sedikit. Inilah yang menjadi titik balik Gontor, dari yang sebelumnya merupakan lembaga milik keluarga pendiri, menjadi milik umat Islam seluruh dunia.

Lambat laun, Gontor mulai dikenal. Para alumninya mulai dipandang. Sistem, kurikulum, disiplin, hingga tata cara berpakaian para santrinya pun diikuti. Gontor mulai diperhitungkan. Terutama sejak lembaga-lembaga pendidikan formal yang digalakkan pemerintah, menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Mereka mulai melirik kepada sistem pendidikan pesantren, terutama Gontor. Apalagi, saat para alumni Gontor dapat mendirikan pondok-pondok pesantren lain, yang kemudian dengan cepat dikenal dan diterima baik oleh masyarakat.

Kini, Gontor menatap usianya yang ke-90 tahun. Di usianya yang tak lagi muda, Gontor terus maju dengan tetap menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak didirikan. Jujur, memegang teguh nilai, visi, dan misi yang sama, selama 90 tahun itu tidak mudah. Perbedaan zaman, keadaan, situasi politik, hingga kondisi perekonomian, memaksa sebuah institusi untuk mengubah cara pandangnya agar dapat diterima oleh zaman. Namun hal tersebut tak berlaku bagi Gontor, ia tetap teguh pada prinsipnya, berdiri di atas kakinya sendiri, di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah. binhadjid

 

 

Fathul Kutub Kelas 6 Tambah Wawasan Siswa Akhir

0

Gontor 2– “Berwawasan luas” merupakan salah salah satu motto Pondok Modern Darussalam Gontor. Oleh karena, itu diadakanlah beragam kegiatan yang dapat menunjang santrinya untuk selalu menambah pengetahuan. Salah satunya adalah kegiatan “Usbuu’u Ad-Dirasah Fii Kutubi At-Turaast Al-Islaamiyyi”.

Salah seorang pembimbing memberikan penjelasan
Salah seorang pembimbing memberikan penjelasan

Kegiatan yang dulunya disebut “Fathul Kutub” tersebut berlangsung selama satu pekan. Para siswa kelas 6 Gontor kampus 2 mengikuti pembukaan dan pengarahan materi di Gontor, mulai hari Jum’at (30/10)malam hingga Sabtu (31/10) pagi. Selanjutnya, sejumlah 169 santri dibagi menjadi 7 kelompok. Masing-masing kelompok kemudian dibagi lagi menjadi 4 sub kelompok. Secara bergiliran mereka diberi tema masalah yang harus dibahas dari 4 materi yang ada, yaitu Tauhid, Tafsir, Fiqh, dan Hadist. Bukan hanya mencari pembahasan dari buku-buku yang ada, namun mereka juga mendiskusikan masalah-masalah tersebut di setiap kelompok, dengan dikawal oleh para guru pembimbing.

Selain menambah wawasan pengetahuan santri, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berbahasa arab. Mulai dari pembahasan masalah, hingga diskusi yang diadakan perkelompok yang keseluruhannya menggunakan bahasa Arab.

Diskusi pembahasan masalah
Diskusi pembahasan masalah

Seminar Bahasa: Tingkatkan Kualitas Siswa Kelas 5 KMI

0
H. Farid Sulistyo menyampaikan materi Bahasa Arab
H. Farid Sulistyo, Lc sedang menyampaikan materi bahasa arab

Darussalam-Bahasa adalah Mahkota Pondok, istilah ini tidak asing lagi ditelinga para santri, karena hampir semua kegiatan tidak terlepas dari unsur pendidikan linguistik (bahasa), mulai dari lingkup yang sempit seperti dalam kamar hingga tempat-tempat umum. Demi meningkatkan kualitas santri khususnya siswa kelas 5 KMI, yang mayoritasnya adalah pengurus secara umum, Pondok Modern Darussalam Gontor mengadakan Seminar Bahasa atau Multaqa’ Tsaqafi fi-Al-Lughah Al-Arabiyyah Wal-Injliziyyah pada Jum’at(16/10) yang lalu.

Acara ini dibuka langsung oleh K.H. Syamsul Hadi Abdan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Acara yang berlangsung di BPPM ini  diadakan dalam 2 sesi dengan 2 materi yaitu “Tsarwatul Lughah (Keistimewaan Bahasa)” yang disampaikan secara langsung oleh Al-Ustadz H. Farid Sulistyo dalam Bahasa Arab dan “English is International Language” oleh Al-Ustadz M. Taufiq Affandi, M.Sc dalam Bahasa Inggris.

“Menjaga bahasa itu hukumnya fardlu sebagaimana fardlunya Shalat”, salah satu poin yang disampaikan oleh Al-Ustadz Farid Sulistyo, Lc. Diharapkan dari acara ini kualitas bahasa siswa kelas 5 KMI dapat menjadi contoh bagi seluruh anggota di Darussalam.Sand88

Fathul Kutub Siswa Akhir KMI, Mantapkan Identitas Sebagai Seorang ‘Mujtahid’

0

GONTOR – Guna memperluas wawasan dan pengetahuan, Pondok Modern Darussalam Gontor, melalui KMI, menggelar kegiatan Fathul Kutub bagi Siswa Akhir KMI. Kegiatan ini dilaksanakan sejak Jumat (30/10) hingga Rabu (4/11) di Aula Balai Pendidikan Pondok Modern. Acara diawali dengan Pengarahan dari Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal pada Jumat malam, dilanjutkan keesokan harinya dengan Taujih dalam materi Tauhid dengan mentor Ustadz Rif’at Husnul Ma’afi, Hadits oleh Ustadz Aris Hilmi Hulaimy, Tafsir oleh Ustadz Badrun Syahir, dan Fiqh oleh Ustadz Imam Iskarom.

Kegiatan yang diikuti oleh 794 orang Siswa Akhir KMI ini berlangsung dalam 6 pembahasan. Untuk mempermudah pelaksanaan, seluruh peserta dibagi dalam 2 unit. Apabila unit 1 melaksanakan pembahasan dan penulisan masalah, maka unit 2 melaksanakan diskusi di luar aula.

Dengan kegiatan ini, seluruh peserta diharapkan dapat memperluas wawasan keilmuannya, terutama dalam Kutub at-Turats. Sehingga saat menghadapi problematika furu’iyah dalam kehidupan sehari-hari nantinya tidak fanatik terhadap satu madzhab aliran, namun mampu menjadi seorang mujtahid yang meneliti keabsahan madzhab sesuai dengan petunjuk dalam Qur’an dan Hadits.binhadjid

KMI Kembali Adakan Praktik Manasik Haji

0

KAMPUNG DAMAI–Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kembali mengadakan praktIk manasik haji. Pelaksanaan praktik manasik haji tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya kegiatan ini diadakan sekali pada akhir tahun pelajaran, dan pada tahun ini, kegiatan ini diadakan dua kali, yaitu pada awal dan akhir tahun pelajaran nanti. Sebelum acara ini dimulai, terlebih dahulu diadakan bimbingan dan praktik bagi para guru yang terlibat dalam mensukseskan kegiatan ini. Mereka dibimbing dan dipandu oleh Al-Ustadz Muhammad Nur, Lc. Pada hari Jum‘at (30/10) lalu.

Praktik manasik haji awal tahun ini diikuti oleh seluruh siswa KMI kelas 1 Intensif, dan siswa KMI pindahan yang berasal dari kampus cabang PMDG, yang jumlahnya mencapai 450 orang dan melibatkan 15 orang guru pengajar. Kegiatan di luar kelas ini, dilangsungkan selama tiga hari, dimulai pada hari Sabtu (31/10) dan berakhir pada hari Senin (2/11) lalu.

“Praktik manasik haji selalu diadakan pada setiap tahun, tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa KMI terhadap pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan pelajaran yang telah diajarkan di kelas. Dengan demikian, diharapkan kepada mereka nantinya mampu melaksanakan dan menjelaskan rukun Islam kelima ini dengan benar.” ujar Al-Ustadz Yazid Mubarak, staf KMI yang bertanggungjawab atas pelaksanaan acara ini. ikami86

PMDG Kampus 14 Adakan Tasyakuran atas Terselenggaranya Khutbatu-l ‘Arsy dan Ibadah Kurban

0
DSC_0977
Suasana Tasyakuran di PMDG Kampus 14

Tidak seperti biasanya, sore itu seluruh santri dan guru dengan mengenakan pakaian shalat lengkap dengan membawa Al-Qur’an bergegas menuju ruang makan yang telah disulap menjadi aula perkumpulan. Pada hari Sabtu, 4 Muharram 1437 H lalu, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 14 mengadakan acara Tasyakuran atas  Terselenggaranya Rentetan Acara Pekan Perkenalan Khutbatu-l ‘Arsy dan Ibadah Kurban.

Acara dimulai dengan membaca al-Qu’an bersama kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan langsung oleh bapak wakil pengasuh, Al-ustadz Himmah Azhar Lathif S.Th I. Pada kesempatan ini, beliau memberikan nasihat tentang bagaimana cara bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan Allah SWT. “Kita harus bersyukur secara aktif bukan dengan pasif, la in syakartum laaziidannakum, walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid. kutip beliau dari surat Ibrahim Ayat 07.

Setelah sambutan dari beliau, acara berlanjut dengan shalat maghrib berjama‘ah. Usai shalat maghrib acara ramah tamahpun berlangsung dengan tertib, seluruh santri berbaris rapi mengantri untuk mengambil hidangan yang telah disediakan oleh bagian dapur. Uniknya selepas acara, ruang makan yang tadinya disulap menjadi aula itu kembali tertib layaknya ruang makan semula, dan seperti itulah nilai-nilai yang selalu diajarkan oleh pondok. sekpengG14

Pondok Al Mukmin Ngruki Sambangi Gontor 2

0

Kampus 2 – Panas terik siang itu tidak menghalangi teman-teman dari Pondok Pesantren Al Mukmin Ngurki Sukoharjo untuk berkeliling sekitar Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2. Mereka terlihat begitu antusias dalam bertanya kepada staf Bapenta yang bertugas mengawal mereka ketika itu.

Dalam acara yang bertajuk “Study Banding Keorganisasian” pada Kamis dan Jum’at (29/10), Pondok Pesatren Al Mukmin Ngruki mengirimkan setidaknya 90 orang peserta yang terdiri dari 75 santri kelas 5 dan 15 ustadz pembimbing. Para santri kelas 5 ini yang akan mengemban amanat sebagai pengurus IST (Imarotu Suuni Tholabah), organisasi pelajar di pondok Al Mukmin Ngruki.

Kunjungan peserta disalah satu bagian OPPM
Kunjungan peserta disalah satu bagian OPPM

Acara dimulai dengan berkeliling pondok pada hari kamis siang, mengamati kegiatan kepramukaan dan tata letak PMDG Kampus 2. Setelah selesai berkeliling siang di sekitar kampus 2, sore harinya dilanjutkan dengan berkunjung ke Kampus Pusat Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) di Siman. Malam harinya dilanjutkan pertemuan dengan bapak Pengasuh PMDG Kampus 2, yang diwakilkan oleh Al Ustadz Nurul Tsalis Al Amin, M.Pd. Pada kesempatan itu, beliau menjelaskan tentang keorganisasian yang berjalan di Gontor. Pada malam itu juga, mereka berdiskusi langsung dengan para pengurus OPPM di bagiannya masing-masing.

Kunjungan ini diakhiri dengan pertandingan persahabatan antara santri Pondok Ngruki dengan siswa akhir KMI pada Jum’at pagi. Tepat pukul 10.00 pagi, para peserta kunjungan berpamitan untuk meninggalkan PMDG Kampus 2.

Penyerahan Kenang-kenangan Oleh Al Ustadz Nurul Tsalis Al Amin, M.Pd
Penyerahan Kenang-kenangan Oleh Al Ustadz Nurul Tsalis Al Amin, M.Pd
Pertandingan persahabatan antara peserta kunjungan melwan kelas 6
Pertandingan persahabatan antara peserta kunjungan melawan kelas 6

Kiai Hasan Turut Menjadi Narasumber dalam Seminar Nasional di Gedung DPR

0

JAKARTA – Meski awalnya hanya diundang untuk menghadiri, namun karena permintaan panitia yang cukup mendadak, K.H. Hasan Abdullah Sahal menjadi narasumber dalam Seminar Nasional yang bertemakan “Aktualisasi Sumpah Pemuda di Kalangan Santri” di Ruangan Eks Badan Anggaran Gedung Nusantara I Komplek MPR DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2015).

Dalam seminar tersebut, sebagai narasumber, Kiai Hasan ditemani oleh K.H. Ma’ruf Amin (MUI), Dr. K.H. Hidayat Nur Wahid (DPR RI), Dr. H. Amung Ma’mun, M.Pd. (Kemenpora), dan Kartika Nur Rahman (KAMMI). Sebelum narasumber menyampaikan gagasannya, seminar diawali dengan speech dari H. Jazuli Juwaini, Lc., M.A. (Ketua Fraksi PKS DPR RI) yang merupakan keynote speaker dalam seminar tersebut.

Suasana seminar di Ruang Eks Badan Anggaran Gedung Nusantara I Kompleks MPR DPR RI.
Suasana seminar di Ruang Eks Badan Anggaran Gedung Nusantara I Kompleks MPR DPR RI.

K.H. Ma’ruf Amin mengawali seminar dengan pembahasan mengenai asal mula munculnya santri dan pesantren, hingga peran dan eksistensinya dalam kancah nasional kekinian. Pembicaraan tersebut disambung oleh Kiai Hasan sebagai narasumber berikutnya. Dalam pembicaraanya, Kiai Hasan mengatakan bahwasanya sumpah pemuda ini tidaklah tepat jika akan diaktualisasikan di kalangan santri. Menurut beliau, santri sudah ada sejak lebih dari 200 tahun yang lalu, maka seharusnya sumpah santri (Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin-red) itulah yang diaktualisasikan di dalam sumpah pemuda.

“Semua rakyat Indonesia ini adalah santri. Hanya saja ada yang ‘nyempal’ ke bidang-bidang lainnya. Termasuk KAMMI ini, juga merupakan santri. Karena komitmennya terhadap nilai-nilai kesantrian, yaitu mengawal empat pilar negara,” tegas Kiai Hasan di sela-sela sambutan.

Turut hadir dalam rombongan Gontor pada acara tersebut, K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, H. Imam Iskarom, H. Zaini Hasan, dan beberapa orang staf. Acara yang diawali pukul 13.30 WIB tersebut berakhir pada pukul 16.30 WIB.binhadjid

Lantik Badan Wakaf, Kiai Hasan Gelar Kunjungan ke PM Nurussalam Belitang

0

BELITANG – Dalam rangka memenuhi undangan, K.H. Hasan Abdullah Sahal, Sabtu dan Ahad (24-25/10) lalu, mengunjugi Pondok Modern Nurussalam Belitang Sumsel guna menyaksikan penyerahan wakaf sekaligus melantik Anggota Badan Wakaf Pondok tersebut. Kunjungan yang berlangsung dua hari itu, beliau didampingi istri, Ustadz Zaini Hasan beserta istri, dan salah seorang staf.

Rombongan Kiai Hasan tiba di PM Nurussalam pada Sabtu (24/10) pukul 22.30 WIB, setelah sebelumnya melakukan perjalanan darat dari Bandara Radin Inten Lampung selama 6 jam. Dalam perjalanan tersebut, rombongan menyempatkan untuk mengunjungi PP Darul Quran Lampung yang juga dipimpin oleh alumni Gontor.

Setibanya di PM Nurussalam, Kiai Hasan mendapatkan sambutan luar biasa dari segenap santri, guru, dan keluarga Pondok tersebut. Ahad (25/10) setelah shalat Subuh, beliau memberikan nasihat dan pesan di hadapan seluruh santri PM Nurussalam yang hampir berjumlah 1000 orang santri. Beliau melanjutkan nasihatnya pada pukul 10.00 WIB kepada 14 orang calon anggota Badan Wakaf PM Nurussalam dalam pertemuan tertutup.

Kiai Hasan berbicara Anggota Badan Wakaf PM Nurussalam Belitang.
Kiai Hasan berbicara Anggota Badan Wakaf PM Nurussalam Belitang.

Adapun acara puncak, adalah Peringatan 20 tahun dan Penyerahan Wakaf PM Nurussalam Belitang yang digelar pukul 13.30 WIB. Usai prosesi pelantikan, penandatanganan, dan penyerahan Wakaf, Kiai Hasan memberikan sambutan di hadapan seluruh hadirin yang ditaksir mencapai 3 ribu orang tersebut.

Dalam sambutan tersebut, Kiai Hasan mengatakan bahwasanya negeri inilah yang membutuhkan santri, bukan sebaliknya. Beliau menambahkan, bahwa saat ini banyak terjadi penyimpangan proses dan tujuan pendidikan yang mengakibatkan kepada rusaknya akhlak para pemimpin bangsa.

Usai mengikuti acara tersebut, Kiai Hasan dan rombongan segera bertolak menuju Lampung guna menginap dan bertolak ke Jakarta keesokan harinya dari Bandara Radin Inten Lampung.binhadjid