Para tamu menyimak wejangan K.H. Hasan Abdullah Sahal di Aula Gedung Rabithah.
DARUSSALAM–Ahad (23/3) pagi, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kedatangan tamu dari rombongan Lembaga Kursus Al-Qur’an Yayasan Masjid Al-Falah, Surabaya, dengan jumlah peserta 479 Orang. Selain untuk mengaji bersama dan membangun silaturahim antarlembaga dan antarsantri Al-Falah sendiri, lawatan yang diketui oleh Drs. H. Ikhya Umuddin, S.H., M.Pd. ini juga bertujuan untuk membangun semangat para santri Al-Falah agar berkenan mencetak generasi penerus mereka menjadi generasi yang rabbani.
“Kunjungan ini merupakan yang pertama kali kami lakukan, dan semoga dengan diadakannya acara ini, kami dapat mengambil pelajaran yang sebanyak-banyaknya. Harapan kami, semoga kegiatan seperti ini dapat kami lakukan pada tahun-tahun yang akan datang,” ujar Ibu Izzah, selaku panitia pelaksana pada saat mengadakan survei ke PMDG, Selasa (18/3).
Sebelum tiba di PMDG, rombongan berkeliling di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) sekaligus melaksanakan shalat Zuhur berjama’ah di Masjid Jami’ ISID. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Aula Rabithah di PMDG.
Dalam sambutannya, K.H. Hasan Abdullah Sahal berpesan, “Dalam hal apapun, kita harus selalu berusaha memberi, ‘to give, to give, and to give’, karena dengan ikhlas memberi kita pasti akan mendapatkan apa yang kita butuhkan dari Allah, tidak terkecuali dalam mengajarkan Al-Qur’an.” ikami86
Pembukaan UTS Genap di halaman Gedung Rabithah bersama Ustadz H. Mulyono Jamal, M.A.
DARUSSALAM – Sepekan yang lalu, siswa-siswa Kulliyatu-l-Mua’allimin Al-Islamiyah (KMI) diuji dengan al-Ikhtibar al-‘Aam (‘Ulangan Umum’) yang selesai pada hari Kamis (20/3). Saat ini adalah waktunya bagi mahasiswa-mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Kampus Rabithah untuk diuji dengan Ujian Tengah Semester (UTS) Genap. Ujian ini berlangsung selama lima hari, Sabtu–Kamis, 22–27 Maret 2014.
Upacara pembukaan UTS Genap ISID Kampus Rabithah ini dilangsungkan di halaman Gedung Rabithah. Ustadz H. Mulyono Jamal, M.A., selaku Pembantu Rektor (Purek) II ISID, berkesempatan hadir pada Upacara Pembukaan UTS Genap ISID Kampus Rabithah sekaligus memberikan sambutan.
Dalam sambutannya, beliau berpesan kepada segenap mahasiswa yang juga merangkap sebagai guru-guru KMI tersebut agar dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. “Ini adalah kesempatan berharga untuk kalian, maka manfaatkanlah sebaik mungkin,” pesan Ustadz Mulyono Jamal.
Selain itu, beliau juga menghimbau segenap mahasiswa ISID Kampus Rabithah agar serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalani UTS Genap ini. “Ujian ini akan menjadikan kalian mulia atau terhina. Saya yakin kalian semua ingin termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mulia dan tidak menginginkan kebalikannya. Maka dari itu, bersungguh-sungguhlah kalian dalam menghadapi ujian ini,” tegas beliau.
Kemudian beliau juga mengingatkan segenap mahasiswa yang berbaris rapi di halaman Gedung Rabithah tersebut mengenai salah satu syarat yang wajib dipenuhi untuk memperoleh ilmu, yaitu al-hirsh atau tamak terhadap ilmu. “Kalian harus memiliki sifat al-hirsh atau tamak terhadap ilmu. Untuk memperoleh al-hirsh dibutuhkan kesungguhan dan kerja keras. Dan, satu hal lainnya yang tidak boleh ditinggalkan adalah doa,” demikian wejangan beliau yang diakhiri dengan dengan untaian doa demi kemudahan dan keberhasilan segenap mahasiswanya. irba
Gontor3 – Sabtu 922/32014) pukul 7.00 wib pagi tadi kampus pondok modern gontor 3 darul ma’rifat mengadakanpembukaan fathul kutub kelas lima, yang di buka langsung oleh bapak direktur KMI pondok modern gontor 3 al-ustadz H. Abdurrohim sholeh. Pembukaan fathul kutub kali ini sangat beda karena pada tahun tahun sebelumnya acara pembukaan fathul kutub selalu di hadiri oleh salah satu bapak pimpinan pondok modern darussalam gontor. setelah pembukaan acara langsung dilanjutkan dengan pemberian materi aqidah oleh bapak wakil pengasuh al-ustadz H. Husni Kamil Djaelany S.Ag. ” Acara seperti ini bukan hanya rutinitas belaka namun inilah sebuah pendidikan yang ada di gontor, agar para santri bisa membaca kitab, dan bisa mengamalkannya, karena di gontor itu laisal ilmu lil ilmi tetapi ilmu lilamal”.
Untuk kesekian kalinya, Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi lawatan penduduk negeri Jiran. Adalah Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) yang kali ini mempelajari dinamika Gontor. Salah satu departemen terbesar di Jiran ini telah mendelegasikan 15 orang untuk mempelajari dan memperhatikan semua yang ada di Gontor, tidak terkecuali Gontor Putri. Rasa penasaran yang besar terhadap Gontor mendorong kemauan mereka untuk segera berkunjung dalam waktu singkat. Hasilnya, dalam waktu singkat timming kunjungan segera dibuat dan langsung dikirimkan kepada staff Sekretaris Pimpinan agar secepat mungkin dapat diajukan dan disetujui oleh Bapak Pimpinan. “Kunjungan ini termasuk yang mendadak, karena biasanya Malaysia itu paling cepat dalam waktu satu bulan sebelum kunjungan, sudah mengirimkan surat permohonan, tapi untuk kali ini, mereka mempersiapkannya dalam waktu satu minggu”, tutur Ustadz Tommy Alvanso selaku staff Sekretaris Pimpinan.
Mendarat di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta pada hari Rabu (12/3), rombongan yang berjumlah 15 orang ini dijemput menggunakan bis Gontor dan langsung menuju Gontor Putri 1 Mantingan untuk tujuan pertama. “Kedatangan kami disambut hangat oleh para ustadz dan ustadzah di Wisma Gontor Putri dan tidak lupa kami langsung dibawa ke Guest House untuk makan malam”, tutur Ustadz Dede Febrian selaku ketua rombongan JAIS. Acara kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama Wakil Direktur KMI Ustadz Suharto. Dalam pertemuannya, beliau banyak menyampaikan tentang sejarah berdirinya Gontor Putri dan nilai–nilai yang ada di Gontor. Tidak lupa juga beliau membahas tentang keikhlasan guru–guru dalam membantu pondok secara ringkas.
Setelah mengupas banyak tentang Gontor Putri, rombongan meneruskan perjalanan ke Gontor Pusat untuk lebih mendalami lagi seluk beluk pendidikan Gontor. Pertemuan dengan Bapak Pimpinan KH. Syamsul Hadi Abdan menjadi pemicu semangat dan motivasi yang cukup besar untuk membangun lembaga pendidikan seperti Gontor di negara mereka. Dengan dialog santai, beliau menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pendidikan di Gontor dengan gamblang. Salah satu ungkapan beliau yang diingat terus adalah “Gontor bisa maju seperti ini karena pengalaman”.
Selain berdialog, para rombongan diberikan kesempatan untuk berkeliling kampus Gontor. Bangunan-bangunan yang besar dan kegiatan–kegiatan para santri menjadi kekaguman tersendiri, ditambah mereka dapat berdialog dengan bahasa Arab dan Inggris. Hal itu dapat dilihat ketika para santri menjalani program “Muhadharah”.
Ketika malam hari, acara dilanjutkan dengan pertemuan bersama beberapa fungsionaris ISID yaitu, Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi (Rektor ISID), Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi (Purek I), dan Dr. Dihyatun Maskon (Purek III). Pertemuan yang bertempat di aula hotel ISID ini membahas tentang kepondokmodernan dengan memasukan beberapa poin–poin tentang ISID. “Kami tetap membahas kepondokmodernan dengan sedikit memasukan hal–hal yang berkaitan dengan universitas”, ucap Dr. Dihyatun Maskon.
Memasuki hari Jum’at, para rombongan mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan ke bandara Adi Sucipto, Yogyakarta dan kembali ke negara asal mereka.toms
K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pesan dan nasihat pada Peringatan Persemar 1967 di BPPM.
DARUSSALAM – Rabu (19/3) pagi, seluruh warga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memperingati Peristiwa Sembilan Belas Maret (Persemar) 1967 di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Kejadian bersejarah yang amat memilukan tersebut dialami Gontor menjelang perayaan Idul Adha, yaitu bertepatan dengan tanggal 7 Dzulhijjah 1386. Peristiwa yang pada akhirnya menjadi titik tolak kemajuan PMDG ini berawal dari upaya pihak-pihak tertentu di kalangan guru-guru dan santri-santri senior untuk mengubah status, posisi, dan orientasi pondok dari rel-rel yang telah ditetapkan Trimurti semenjak berdirinya.
Dengan alasan yang diada-ada dan tidak masuk akal, mereka mengadakan kekacauan di dalam pondok dan mengaku tidak puas terhadap segala kebijakan Pimpinan Pondok yang saat itu masih dipegang Trimurti, yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi, hingga menebar fitnah dan berusaha mengambil alih kepemimpinan pondok dari Trimurti. Makar terkutuk yang dihiasi ide gila untuk membunuh Trimurti ini memuncak pada tanggal 19 Maret 1967. Kejadian pahit yang sangat memukul umat Islam ini berujung pada pemulangan seluruh santri, yang saat itu jumlahnya mencapai 1.500 orang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Setelah diliburkan selama tiga bulan lebih, hanya sepertiganya yang dipanggil kembali oleh Trimurti setelah dinyatakan bersih dan tidak terlibat pada peristiwa tersebut.
Menyadari betapa pentingnya memperingati Persemar 1967, agar kejadian yang menyayat hati ini tidak terulang untuk kedua kalinya, maka mulai tahun lalu acara ini diadakan kembali secara resmi pada setiap tanggal 19 Maret, setelah hampir 20 tahun tidak pernah diperingati lagi. Sebabnya, setelah Peringatan Persemar 1967 yang terakhir sebelum diperingati kembali, tanggal 19 Maret jatuh bertepatan dengan liburan panjang akhir tahun. Di samping itu, diperingatinya kembali Persemar 1967 dalam dua tahun terakhir ini menjadi lebih penting lagi karena orang-orang yang pernah menjadi saksi mata dan mengalami langsung Persemar 1967 tinggal segelintir, sudah bisa dihitung dengan jari. Penjelasan dan keterangan lengkap mengenai Persemar 1967 dari orang-orang yang kini menjadi guru-guru senior di Gontor tersebut sangat dibutuhkan oleh segenap guru dan santri yang akan meneruskan perjuangan Trimurti di masa mendatang.
Selain Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. dan K.H. Hasan Abdullah Sahal bersama H. Tarwichi yang sudah menjadi guru Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) pada saat terjadinya Persemar 1967, saksi mata lainnya yang mengalami peristiwa tersebut hanya tersisa beberapa orang dari guru-guru senior, termasuk K.H. Syamsul Hadi Abdan yang saat itu duduk di Kelas 5 KMI. Guru senior lainnya yang saat ini masih bisa menceritakan kejadian Persemar 1967 dengan sangat jelas adalah Drs. K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. Pada saat terjadinya Persemar 1967, Ketua Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Pusat ini tercatat sebagai siswa Kelas 6 KMI. Sementara Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. yang kini menjabat sebagai Rektor Institut Studi Islam Darussalam (ISID) mengalami peristiwa ini saat masih duduk di Kelas 3 Intensif KMI. Selain beliau, masih ada H. Muhammad Sutikno, B.A. dan H. Syarif Abadi yang mengalami kejadian ini saat keduanya duduk di Kelas 2 KMI. Satu lagi, yaitu H. Abdullah Rofi’i, S.Ag. yang telah mengalami Persemar 1967 di saat beliau baru menjadi siswa KMI yang duduk di Kelas 1. Pada peringatan tahun ini dan setahun yang lalu, guru-guru senior yang menjadi saksi mata Persemar 1967 tersebut diminta Pimpinan Pondok untuk menyampaikan detail kejadian yang dialami saat itu di hadapan santri-santri dan segenap guru, dengan membacakan Dokumen Persemar 1967.
“Sebagai seorang muslim, jangan sampai kita masuk ke lubang yang sama dua kali,” pesan Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal, yang disimak dengan penuh perhatian oleh segenap santri dan guru. Beliau menegaskan, siapapun yang akan memimpin PMDG menggantikan beliau beserta Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. dan K.H. Syamsul Hadi Abdan, ia harus berjalan di atas rel yang telah ditetapkan Trimurti sesuai amanat yang tertulis di Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern. Ibarat kereta api, siapapun masinisnya, kereta harus tetap berjalan di atas rel yang sama, tidak boleh berubah. Nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri pondok ini harus terus dipertahankan, tidak boleh berubah sedikit pun, termasuk struktur dan kultur yang telah ada sejak berdirinya Gontor. “Pahamilah pondok secara utuh agar kalian tahu dan mengerti ‘ke Gontor apa yang kau cari?’ sehingga tidak kecewa atau mengecewakan, dan jangan sampai mengajak orang lain kecewa,” demikian nasihat K.H. Hasan Abdullah Sahal. irba
Gontor 3 – Peringatan persemar untuk mengenang kejadian terkutuk 1967 kini juga dilakukan di pondok modern gontor 3, sebenarnya ini adalah peringatan, bahwa sebenarnya tidak mudah gontor menjadi pondok yang besar, penuh dengan tantangan dari pihak luar maupun dalam, peringatan persemar pada hari rabu (19/3/2014) kali ini berlangsung khidmat.
Pimpinan PMDG bersama Dr. Mashitah Binti Ibrahim di depan Kantor Pimpinan, Jumat (14/3) lalu
GONTOR – Jumat (14/3/2014) lalu, Senator Dato’ Dr. Mashitah Binti Ibrahim, Penasehat Kehormatan Yayasan Pembangunan Pondok Malaysia berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ponorogo. Dalam lawatan singkatnya ini, Dr. Mashitah disambut oleh Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. Syamsul Hadi Abdan, di Kantor Pimpinan.
Selain bersama suami dan pengarah dari yayasan tersebut, Dr. Mashitah juga didampingi oleh 10 orang kru dari Rumah Produksi Side FX yang sudah berada di Gontor sejak Senin (10/13) lalu.
Sesuai rencana, sebelum silaturahim dengan Pimpinan Pondok, Dr. Mashitah juga menyempatkan diri untuk mengadakan interview dengan Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Interview singkat tersebut berkenaan dengan sejarah singkat Gontor hingga pergerakan melawan arus masa kini.
Kunjungan dan interview ini merupakan bagian dari program Yayasan Pembangunan Pondok Malaysia bekerjasama dengan Rumah Produksi Side FX dalam pembuatan program televisi “Bicara Pondok”, yang akan disiarkan di Saluran Televisi berbayar Astro Oasis. binhadjid
DARUSSALAM–Mendekati ujian akhir siswa Kelas 6 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Pengasuhan Santri mengadakan prakarantina atau karantina gelombang pertama bagi seluruh siswa Kelas 6 di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Program yang berlangsung selama enam hari ini, terhitung dari Kamis (13/3) hingga Selasa (18/3), merupakan awal konsentrasi penuh siswa Kelas 6 untuk menghadapi ujian akhir yang mereka tunggu-tunggu dalam jangka waktu kurang dari dua minggu lagi.
Disamping bertujuan untuk mengontrol aktivitas belajar dan ibadah siswa Kelas 6 KMI, prakarantina yang akan disusul karantina penuh selama sebulan nanti juga bertujan untuk mempererat ukhuwah dan kebersamaan antarsiswa. “Kebanyakan dari mereka belum mengenal satu sama lainnya karena adanya siswa pindahan dari Pondok Cabang, maka dari itu, program ini sangatlah penting bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain,” ucap Ustadz Tommy Alvanso, salah satu pembimbing siswa Kelas 6 KMI tahun ini.
Pada tahun ini, peserta prakarantina yang jumlahnya mencapai 739 orang siswa ini dibagi menjadi 20 kelompok. Masing-masing kelompok diberi nama dari tokoh-tokoh Islam terkenal, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, dan lain sebagainya. Setiap kelompok diwajibkan menempati area-area berpetak yang telah ditentukan panitia di dalam BPPM. Area yang mereka tempati itu berfungsi sepenuhnya sebagai kamar baru pengganti kamar mereka di asrama, sehingga segala pakaian yang dibutuhkan dan juga peralatan lainnya, termasuk buku-buku pelajaran wajib dibawa ke tempat prakarantina. Aktivitas mereka terpusat di BPPM, maka tak seorang pun diperkenankan tidur di asrama, baik pada waktu siang maupun malam.
“Karantina gelombang pertama ini merupakan uji coba bagi siswa Kelas 6 khususnya dan para pembimbing Kelas 6 pada umumnya dalam mengawal dan membimbing mereka. Dengan diadakannya prakarantina ini, diharapkan seluruh siswa Kelas 6 dan pembimbing dapat mengambil pelajaran dan mengevaluasi seluruh kekurangan yang ada, baik dari segi belajar, ibadah, dan disiplin. Sehingga pada karantina penuh gelombang selanjutnya kekurangan tersebut dapat ditutupi dan dihindari,” ujar Ustadz Azhar Amir Zaen, pembimbing umum siswa Kelas 6 2014. ikami86
Gontor 2-Guna meningkatkan minat menulis mahasiswa Gontor 2, Dewan Mahasiswa (DEMA) wilayah Gontor 2 memberikan wadah bagi para mahasiswanya dengan memuat karya tulis mereka pada buletin yang diterbitkan seminggu sekali. Baik tulisan yang berbentuk opini, karya ilmiyah, cerita berhikmah, ataupun berita – berita lainnya.
Dari tiga fakultas yang ada, yaitu Fakultas Ushuluddin, Tarbiyah, dan Syariah, masing – masing memiki buletin yang berbeda. buletin Fakultas Ushuluddin bernamakan FOKUS, Fakultas Tarbiyah dengan buletin TARBAWY, dan Fakultas Syariah dengan MAHSYAR. Adapun koordinator penerbitan buletin tersebut adalah masing – masing Sekretaris Fakultas di bawah naungan DEMA wilayah Gontor 2. Buletin – buletin tersebut dibagikan setiap hari kamis siang setelah perkumpulan mingguan dewan guru di Gedung Riyadh.
Penerbitan buletin tiap – tiap fakultas tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan wawasan antar mahasiswa lintas fakultas. Sehingga mahasiswa Fakultas Ushuluddin juga memiliki pengetahuan tentang pendidikan dan syariah. Begitu juga sebaliknya, para mahasiswa Fakultas Syariah juga memiliki pengetahuan tentang pendidikan, keagamaan dan filsafat.