Home Blog Page 587

‘Diplomatic Tour’ Tuntun Dubes Sejumlah Negara Sahabat ke Gontor

0
PEACE COUNTRY—Kedatangan sejumlah Duta Besar (Dubes) negara-negara sahabat ke Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan sebuah kehormatan yang tak terduga. Kedatangan mereka ke Gontor, Sabtu-Ahad, 17-18 Oktober lalu bertajuk “Diplomatic Tour” yang bertujuan untuk mengenal budaya pesantren di Indonesia khususnya di Pondok Modern Darussalam Gontor. Sebelum tiba di Gontor, rombongan sempat menyaksikan Festival Karapan Sapi di Surabaya, Sabtu (17/10) pagi.

Rombongan “Diplomatic Tour” di atas berasal dari delapan Kedutaan Besar (Kedubes) negara asing di Indonesia. Mereka berjumlah 10 orang yang terdiri dari lima Dubes dan dua councellor (penasihat kedutaan-red). Kelima Dubes tersebut adalah HE. Mr. Ibrahim A. Hajiyev dari Kedubes Azerbaijan, H.E. Mr. Abdulrahman Mohammed Amin A. ALKHAYYAT dari Kedubes Arab Saudi, H.E. Alice Megza dari Kedubes Zimbabwe, H.E. Mr. Carlos Manuel Leitao FROTA yang didampingi sang istri, Mrs. Arlinda FROTA dari Kedubes Portugal dan H.E. Mr. Ibrahim BABA MAI-SULE dari Kedubes Nigeria. Adapun kedua councellor yang hadir dalam kesempatan ini adalah Ms. Zabantu Ngcobo dari Kedubes Afrika Selatan dan Mr. Hua Ning dari Kedubes Cina. Selain itu, rombongan juga diikuti seorang pejabat Kedubes Pakistan, Mr. Mirza Salman.

Setiba di Gontor, rombongan Kedubes yang disertai dua orang staf dari Departemen Luar Negeri (Deplu) tersebut disambut langsung dengan suka cita oleh Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. dan K.H. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, di Kantor Pimpinan, Sabtu (17/10) sore. Dalam kesempatan tersebut, para Dubes menanyakan berbagai macam hal tentang Gontor. Mereka terlihat begitu berminat ketika mendengarkan penjelasan berkenaan dengan segala aktivitas yang terdapat di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan pertemuan bersama seluruh asatidz dan santri di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Dalam acara ini, setiap Dubes dipersilakan Pimpinan Pondok untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di hadapan seluruh peserta yang hadir. Dengan sambutan singkat tersebut diharapkan dapat memotivasi para santri dan asatidz untuk meningkatkan diri dan menggali potensi mereka.

Kepada Gontor Online, H. E. Mr. Abdulrahman Mohammed Amin A. ALKHAYYAT mengatakan, dengan adanya kunjungan ini, mereka bisa menciptakan hubungan yang baik antara Kedubes dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Di samping itu, Dubes Arab Saudi tersebut mengaku, dengan adanya acara ini ia dapat mengetahui kebutuhan santri Gontor. Ia menjelaskan bahwa yang sangat diharapkan dari acara ini adalah “Ta’zizu Atta’awun” (saling tolong-menolong-red) yang diantaranya dapat diwujudkan dengan memberikan beasiswa atau bantuan lainnya untuk para santri.

Senada dengan Dubes Arab Saudi, HE. Mr. Ibrahim A. Hajiyev, Dubes Nigeria, menyatakan, dengan adanya acara ini, diharapkan terciptanya suatu hubungan yang baik antara negara-negara di Amerika, Afrika, Eropa termasuk Indonesia sendiri. Menurutnya, kunjungan seperti ini sangatlah penting untuk menunjukkan bahwa Islam itu bukanlah agama yang mengajarkan kekerasan apalagi melahirkan para teroris yang misinya jauh sekali dari konsep kasih sayang dalam ajaran Islam.

H.E. Ms. Alice Megza juga memberikan komentar. Menurutnya, ini merupakan sebuah acara yang sangat menarik, terlebih lagi ini adalah kunjungan perdananya ke sebuah lembaga pendidikan Islam. Ia menambahkan, pondok dengan santri yang ada di dalamnya dilengkapi disiplin yang luar biasa akan membentuk kader-kader berkualitas untuk menjadi ‘leader of the future’ atau pemimpin hebat di masa depan kelak. H.E. Mr. Ibrahim BABA MAI-SULE juga berpesan kepada para santri agar selalu berusaha menjadi pemimpin generasi masa depan.

Sebelum kembali ke Jakarta, rombongan yang sempat menginap di Wisma Darussalam Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut, sarapan pagi bersama Pimpinan Pondok, Ahad (18/10), di aula Aligarh. Selain itu, rombongan juga sempat singgah di Gontor Putri 3 dan bercakap-cakap dengan santriwati yang ada di sana. Setelah itu, mereka bertolak ke Solo untuk bertemu Bupati Solo sekaligus mengunjungi Desa Kauman, pusat batik Solo.
 

Book Show Tingkatkan Wawasan Santri

0
DARUSSALAM—Dengan tujuan meningkatkan wawasan santri, Perpustakaan Darussalam mengadakan acara Book Show, Jum’at (9/10) lalu. Fahman Mumtazi, ketua Perpustakaan Darussalam, menyatakan, acara ini murni untuk menambah wawasan santri sehingga pengunjung yang hadir tidak dipungut biaya sepeser pun. Menurutnya, acara ini juga bertujuan untuk meningkatkan minat baca para santri di samping mengisi kekosongan mereka dengan hal-hal yang positif. “Kami sengaja mengadakan acara ini dengan tujuan agar kekosongan waktu yang dimiliki santri dapat terisi dengan kegiatan yang positif, salah satunya adalah membaca.”

Untuk itu, Perpustakaan Darussalam mengeluarkan buku-buku terbaiknya bagi seluruh santri se-Darussalam. Adapun di antara buku-buku tersebut adalah 100 Orang Paling Berpengaruh karya Michael Heart. Di dalam buku ini, Nabi Muhammad SAW menempati urutan teratas sebagai orang paling berpengaruh. Selain buku itu, ada pula 100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa. Buku ini berisi teguran kepada manusia agar lebih memperhatikan keseimbangan alam semesta. “Buku-buku ini kami pilih secara acak,” terang Fahman.

Acara yang digelar di sebelah selatan gedung Sholihin 1 tersebut berlangsung dari pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore. “Acara ini dimulai dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB,” kata Fahman. Dia menambahkan, rencananya acara ini akan dilaksanakan secara berkesinambungan setiap sebulan sekali. “Namun, apabila minat para santri meningkat, acara ini bisa dilangsungkan dua minggu sekali.”

Di akhir wawancara, asisten Perpustakaan Darussalam ini berpesan kepada seluruh santri se-Darussalam, segala sesuatu yang diinginkan itu bisa kita temukan dari membaca karena buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Maka, siapa yang ingin menjelajahi dunia yang luas ini, cukuplah ia pergi ke perpustakaan dan carilah jendela dunia yang dikehendakinya. “Mulailah membaca selagi kita bisa!” Fahman berpesan dengan penuh semangat.
 

Grand Mufti Suriah Dukung Perjuangan Gontor

0
DARUSSALAM—Untuk kedua kalinya, Grand Mufti Suriah, Sheikh Dr. Ahmad Badruddin Hassoun, berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor dalam rangka mempererat tali silaturrahim yang sudah terjalin sejak dua tahun lalu. Pada kunjungannya kali ini, Ahad (11/10) siang, selain bersama istri dan seorang putra, beliau juga didampingi Duta Desar (Dubes) Indonesia untuk Suriah, H. M. Muzammil Basyuni, yang juga merupakan salah satu alumni Gontor.

Di hadapan ketiga Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag., beliau menyatakan dalam sambutannya bahwa putra-putri Gontor sungguh mempunyai dedikasi yang tinggi dalam pengabdiannya untuk umat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya alumni Gontor yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan dengan segala prestasi mereka. “Ya, lihatlah alangkah hebatnya perjuangan dan pengabdian santri-santrimu, wahai saudaraku!” ungkap beliau dalam bahasa Arab yang fasih ditujukan kepada Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Setelah mengadakan acara pertemuan dengan seluruh asatidz dan santri se-Darussalam di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), rombongan yang juga terdiri dari Prof. Dr. Atho Mudzhar, kepala Balitbang dan Diklat Depag Pusat, dan beberapa staf Departemen Luar Negeri (Deplu) tersebut bertolak ke Gontor Putri. Sebelum berangkat, rombongan terlebih dahulu dipersilakan Pimpinan Pondok Modern untuk menikmati jamuan makan siang yang disediakan panitia di aula gedung Aligarh. Saat itu, nampak sekali keakraban yang terjalin antara kedua belah pihak. Dengan pembawaannya yang hangat, Sheikh Ahmad Badruddin Hassoun bergandengan tangan dengan Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. sembil berbincang-bincang ringan menuju tempat jamuan yang telah ditentukan.

Kemudian berangkatlah rombongan menuju Gontor Putri yang berlokasi di Karangbanyu dan Mantingan. Selain ingin bersua dengan para santriwati, Sheikh Dr. Ahmad Badruddin Hassoun juga berniat meninjau Masjid Khadijah yang terletak di Gontor Putri 3. Masjid yang baru berdiri tersebut merupakan hasil sumbangsih beliau untuk Gontor Putri 3 yang sebelumnya belum memiliki masjid pada kunjungan pertama beliau ke sana dua tahun silam.

Esoknya, Senin (12/10) pagi, setelah mengadakan kunjungan ke Gontor, rombongan berangkat ke Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga sekaligus ke Universitas Gajah Mada (UGM) untuk bertemu rektor sekaligus menggelar orasi ilmiah di depan seluruh mahasiswa di sana. Setelah itu, barulah rombongan mengadakan kunjungan ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebelum berangkat ke Bandara Adi Sucipto sorenya.
 

Gelar Pengajian Konstitusi, Ketua Mahkamah Konstitusi Berkunjung ke Gontor

0
GONTOR—Dalam kunjungannya ke beberapa tempat di Jawa Timur, ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Mahfud MD, beserta rombongan menyempatkan diri berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (10/10) siang. Di samping mengadakan silaturrahim dengan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor, kunjungan ketua MK ke Gontor juga bertujuan menggelar pengajian konstitusi untuk para santri, kaum ulama dan beberapa tokoh masyarakat se-Ponorogo. Turut serta dalam rombongan tersebut Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H., salah seorang hakim konstitusi dalam jajaran kehakiman di MK. Acara yang bertempat di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) tersebut juga dihadiri Bapak Bupati Ponorogo, Muhadi Suyono.

Dalam sambutannya, Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor menyampaikan, kunjungan MK ini merupakan suatu kehormatan bagi Pondok Modern Darussalam Gontor karena Pak Mahfud sendiri merupakan santri di salah satu pondok kecil di Madura. Ini menandakan bahwa tidaklah mustahil seorang santri dapat berkiprah di level tertinggi pemerintahan. Buktinya, beliau menambahkan, alumni Gontor sendiri mampu menjadi ketua MPR, wakil ketua DPR, Menteri Agama dan berbagai profesi lainnya di segala lini kehidupan.

Walaupun demikian, beliau menegaskan, Pondok Modern Darussalam Gontor tidaklah berpolitik praktis. Adapun politik tertinggi menurut Gontor adalah pendidikan. Medan inilah yang dipilih Gontor untuk menanamkan jiwa dan filsafat kehidupannya demi mewujudkan sebuah peradaban yang akan terus diperjuangkan sampai kapan pun. Dengan itu pulalah Gontor akan tetap eksis dan maju.

Sementara itu, Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H., di sela-sela pemaparannya tentang konstitusi di Indonesia, mengungkapkan, budaya Islam sudah mulai masuk ke dalam birokrasi pemerintahan. Misalnya, setiap kali ada acara atau pertemuan senantiasa dimulai dengan salam yang tak asing lagi di telinga umat Islam. Beliau juga sangat mengagumi K.H. Imam Zarkasyi, Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor yang merupakan salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia (UII). Di akhir ceramah singkatnya tentang perundang-undangan di Indonesia, mantan Menteri Kehakiman dan HAM ini menyatakan, umat Islam saat ini telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan masuknya berbagai budaya Islam di berbagai aspek kehidupan.

Perpustakaan ISID Beralih ke Robithah

0
KAMPUNG DAMAI—Setelah hampir tiga tahun pembangunan gedung Robitoh berjalan, kini pembangunan lantai empat pun hampir rampung. Di lantai teratas itulah sejak Senin, (5/10), perpustakaan mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam (ISID) menempati tempat baru. Sebelumnya, perpustakaan yang menggunakan sistem komputerisasi ini menempati gedung Asia lantai dua. “Walaupun belum selesai sepenuhnya, tempat baru ini sudah dapat dipakai dan ditinggali. Hingga kini, pembangunannya sudah mencapai 85-95%, sedikit lagi,” ujar Ustadz Khairul Anwar, salah satu penanggung jawab perpustakaan ISID, saat ditemui Gontor Online di tempatnya beberapa waktu lalu, Senin (12/10).

Pemindahan buku-buku dari gedung Asia ke gedung Robithah hanya menyisakan beberapa kamus ensiklopedia Islam saja. Menurut Ustadz Khairul, hampir semua buku sudah dipindahkan ke tempat yang baru. Pemindahan buku-buku yang umumnya berukuran besar dibantu siswa kelas 6. Saat ini, buku-buku tersebut sudah ditertibkan sesuai dengan klasifikasi tempat yang ada di perpustakaan sebelumnya. Hanya saja, tempat baru ini lebih luas daripada tempat sebelumnya.

Sementara itu, ustadz yang berasal dari Jakarta ini mengungkapkan, relokasi perpustakaan ISID ini berdasarkan instruksi langsung dari Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Selain dekat dengan tempat perkuliahan, hal ini juga bertujuan untuk menjadikan gedung Robithah sebagai pusat aktivitas keilmuan dan kemahasiswaan ISID sebagaimana rencana awal pembangunan gedung tersebut. Sehingga para mahasiswa ISID di kampus Robithah dapat langsung merasakan manfaat adanya perpustakaan di kampus mereka. Dengan demikian, para mahasiswa yang ingin menyelesaikan tugas kuliahnya tidak perlu jauh-jauh lagi ke gedung Asia.
 
Saat ini, buku-buku yang berada di perpustakaan ISID sudah mencapai 1000-2000 eksemplar. Semuanya sudah diklasifikasi sesuai dengan fakultas masing-masing; Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin. Selain itu, klasifikasi buku-buku tersebut juga disesuaikan menurut bahasa pengantarnya; Indonesia, Inggris dan Arab. Dengan adanya perpustakaan ini diharapkan mahasiswa ISID akan mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya masing-masing sehingga ISID benar-benar menjadi tempat berkembangnya budaya keilmuan dan keislaman di segala bidang.
 

Penuhi Kebutuhan Konsumen, Bagian Kesehatan Tambah Kulkas Baru

0
PEACE COUNTRY—Demi memenuhi kebutuhan konsumen, Bagian Kesehatan (Bakes) Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) mendatangkan sebuah kulkas baru. Slamat Herman Cipto, staf Bakes, menegaskan, kulkas tersebut bukanlah kulkas baru, akan tetapi merupakan pinjaman dari La Tansa Darussalam Distributor Center (DDC). Oleh karena itu, kepemilikannya pun hanya bersifat sementara. “Ini sebenarnya hanyalah pinjaman dari La Tansa DDC,” tukasnya ketika ditemui Gontor Online di tempatnya, Ahad (11/10) lalu.

Herman mengakui, kulkas terebut sangatlah membantu, khususnya dalam menjaga keawetan minuman kemasan dan membuatnya tetap segar saat dikonsumsi. Sebelumnya,  Bakes telah menggunakan kulkas berukuran kecil untuk menyimpan berbagai jenis minuman. Kebutuhan kulkas ini dirasa perlu karena banyaknya santri yang menghajatkan minuman dingin dan segar untuk keperluan berbuka puasa. Sedangkan ukuran kulkas yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan santri dari kelas 1-6. Bukan hanya untuk berbuka, para santri juga membelinya di siang hari atau setelah latihan-latihan untuk berbagai acara pondok yang banyak menguras tenaga mereka.

Melihat kebutuhan di atas, salah satu staf Bakes, Muhammad Amar, menyarankan untuk mengajukan pinjaman ke La Tansa DDC. Adapun mengenai batas waktu peminjaman, Herman belum dapat memastikan. “Menurut kesepakatan yang ada, kulkas itu akan diambil kalau kegiatan di pondok teratur dengan berakhirnya acara-acara Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy,” katanya.
 

Usbu’ Ta’aruf Jami’iy Bina Mahasiswa Baru ISID

1
DARUSSALAM—Untuk membina mental dan kepribadian mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Pondok Modern Darussalam Gontor, Dewan Mahasiswa (DEMA) ISID Wilayah Gontor 1 atau sekarang dikenal dengan Wilayah Robithah senantiasa menyelenggarakan kegiatan Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus (OPSPEK) di setiap awal tahun ajaran baru. Dengan adanya program ini, para mahasiswa baru diharapkan akan lebih memahami segala aktivitas yang berkaitan dengan kemahasiswaan yang berbasis pondok pesantren dimana mereka juga harus mengajar dan membantu pondok di samping mengikuti perkuliahan. Sehingga, mereka dapat melakukan tugas-tugas yang ada secara bijak, baik sebagai mahasiswa ataupun sebagai guru di Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI).

Acara yang diketuai Ustadz Fuad Muhammad Zein dan Ustadz Ibadurrahman ini berlangsung selama seminggu, Senin-Sabtu, 5-10 Oktober 2009. “Manfaat OPSPEK sendiri terhadap mahasiswa baru adalah untuk mempraktekkan motto dan filsafat pondok di ISID, dan juga untuk memaknai arti dari mahasiswa guru sendiri, karena mahasiswa yang bertempat di kampus Gontor 1 tidak hanya belajar, tetapi mereka juga diberi tanggung jawab untuk mengajar. Sedangkan para mahasiswa yang bertempat di kampus Siman lebih fokus terhadap akademik perkuliahan tanpa dibebani tugas mengajar,” terang mahasiswa semester 5 Fakultas Ushuluddin jurusan Akidah Filsafat dan Pemikiran Islam ini kepada Gontor Online, Kamis (22/10) lalu.

Jadi, ungkap Ustadz Fuad, bukan hanya para mahasiswa ISID yang berada di kampus Siman saja yang harus mengadakan kegiatan ini, di kampus Gontor pun demikian juga meskipun mereka disibukkan dengan kewajiban mengajar dan tugas-tugas pondok yang padat. ISID sendiri sampai saat ini sudah memiliki 5 kampus yang terpisah dengan jarak yang lumayan jauh satu sama lain. Kampus I terdapat di Gontor yang kini dikenal dengan Kampus Robithah. Adapun kampus II terletak di Siman (Kampus Siman), kampus III berlokasi di Mantingan yang dihuni oleh para mahasiswi yang berstatus sebagai ustadzah atau guru KMI di Gontor Putri. Sedangkan kampus IV berada di Kediri, tepatnya di Gontor 3. Kampus ini dikenal dengan kampus Kediri. Adapun kampus yang kelima bertempat di Magelang, yang terakhir ini baru dibuka tahun ini.

Adapun peserta OPSPEK di kampus Robithah tahun ini berjumlah 148 mahasiswa, yang terdiri dari 94 mahasiswa dari Gontor 1 dan 54 mahasiswa dari Gontor 2. Sedangkan panitianya sendiri berjumlah 46 orang dari mahasiswa ISID semester 5. Untuk mempermudah pengawasan dan pengaturan, para peserta yang terdiri dari mahasiswa baru tersebut dibagi ke dalam sembilan kelompok, setiap kelompok mempunyai pembimbing 2-4 orang dari panitia.

Kegiatan yang ada dalam acara ini antara lain pemberian orientasi tentang ISID, sejarah ISID, tau’iyah diniyah di rayon santri, lari pagi, motivasi guru, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Selain itu, para peserta harus memperhatikan peraturan yang berlaku selama OPSPEK berlangsung, di antaranya adalah harus mengucapkan salam kepada sesama mahasiswa, tidak boleh menggunakan motor, shalat berjama’ah lima waktu di masjid dan memakai pakaian yang ditetapkan pada waktu-waktu tertentu. Peraturan ini berlaku selama seminggu sesuai dengan jangka waktu OPSPEK itu sendiri.

Ketika disinggung masalah dana, Ustadz Fuad memaparkan, dana yang dianggarkan untuk acara ini sebesar Rp 10 juta yang digunakan sehemat mungkin. Selain itu, para mahasiswa peserta OPSPEK juga harus membayar sebesar Rp 30 ribu setiap orang. “Biaya pendaftaran kita gunakan untuk membuat kaos OPSPEK yang mereka pakai di waktu-waktu tertentu. Bukan hanya itu, mereka juga mendapatkan ko-card tanda peserta dari panitia,” jelasnya.
 

Air Minum Latansa Ganti Botol Kemasan

0
PEACE COUNTRY—Menyambut tahun ajaran baru ini, unit usaha Air Minum La-Tansa (Armila) ikut meramaikannya. Mulai tahun ini, Armila mengganti botol kemasan yang sebelumnya berwarna putih bening diganti dengan botol kemasan berwarna biru. “Usul ini berasal dari Ust. Suyanto, pembimbing Armila ini, beberapa waktu lalu. Tujuannya adalah untuk meningkatkan visualisasi air produksi Armila dengan TDS nol yang akan terlihat lebih segar, apabila diletakkan pada botol kemasan berwarna biru tersebut. Dengan begitu, kami berharap dapat meningkatkan jumlah peminat Armila,” terang Ust. Riyan, salah satu staf Armila, Ahad (18/10) sore. Usulan tersebut, akhirnya disetujui oleh Ust. Suraji, selaku ketua umum unit usaha se-Darussalam, hal ini didukung pula dengan sedikitnya selisih harga antara botol putih bening dan biru yaitu Rp 50 lebih mahal.

Ketika disinggung mengenai harga jual Armila saat ini, ustadz yang berasal dari daerah Yogyakarta tersebut menuturkan, sampai saat ini, untuk botol kemasan berukuran sedang berkisar sekitar Rp 28 ribu sampai dengan Rp 29 ribu per karton di pasaran. Sedangkan untuk botol kemasan berukuruan besar harganya berkisar antara Rp 31 ribu sampai dengan Rp 32 ribu per karton di pasaran.

Adapun mengenai kandungan TDS Nol yang kini melekat erat dengan ciri khas Armila saat ini, ia menjelaskan, itu adalah kandungan air dimana kandungan zat padat atau mineral yang tidak terurai di dalamnya bernilai 0%. Dengan kata lain, minus zat mineral, sedangkan zat-zat tersebutlah yang nantinya akan mengendap dan menjadi sumber penyakit dalam tubuh. Air yang disediakan Armila ini pun bisa digunakan  sebagai terapi penghancur batu ginjal, kencing batu, dan sebagai terapi penyakit-penyakit lainnya. Seperti rematik, maag, kanker, dan penyakit lainnya.

“Adapun terapi tersebut adalah dengan cara meminum minimal 1,5 liter air kemasan Armila sebelum perut terisi dan sebelum menggosok gigi. Adapun cara lain yang bisa dilakukan, yaitu satu jam sesudah dan sebelum meminumnya tidak diperbolehkan memasukkan sesuatu ke dalam perut, baik makanan maupun minuman. Terapi tersebut dapat dilakukan sesering mungkin hingga penyakit yang diderita sembuh,” ungkapnya menjelaskan.
 

Kotak Baru Penuhi Kebutuhan Santri Baru

0
DARUSSALAM—Seiring berakhirnya waktu liburan akhir tahun, bagian Keamanan Pusat Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) menyediakan kotak-kotak untuk dijual ke seluruh santri se-Darussalam khususnya bagi para santri baru kelas satu. “Penjualan kotak baru ini adalah salah satu progam kerja bagian Keamanan Pusat pada setiap tahunnya, prioritasnya adalah untuk seluruh santri baru atau kelas satu yang yang baru lulus dari ujian gelombang pertama ataupun gelombang kedua,” jelas Taufa, salah satu staf bagian Keamanan Pusat, Ahad(18/10) pagi.


Mengenai jenis kotak yang dijual, paparnya, ada dua macam, yaitu kotak kecil dan besar. “Penjualan kotak kecil sengaja diadakan untuk memenuhi kebutuhan para santri lama, baik shigor maupun kibar. Adapun bahan kotak yang dijual tidak semuanya dari kayu baru, sebagian bahan masih dari kayu bekas kotak lama yang hanya direnovasi.”

Untuk kotak baru, Ust. Cecep Muhammad Faisol, staf Pengasuhan Santri, memesannya di Jombang sebanyak 600 buah .Namun, karena kurangnya tenaga kerja, pesanannya tersebut tidak dapat diselesaikan sesuai dengan batas waktu yang diinginkan, akhirnya sampai pertengahan Syawwal kemarin masih ada santri baru yang belum mempunyai kotak. Sedangkan kotak lama yang masih bisa direnovasi, diperbaiki para pekerja yang tersebar di sekitar pondok, yaitu di Jetis, di belakang Al-Azhar dan dua tempat lagi di sekitar Wisma Darussalam (Wisda). Selain itu, bagian Keamanan Pusat juga berusaha untuk merenovasinya sendiri. “Kami mencoba merenovasi kotak-kotak tersebut di depan Gedung Aligarh pada bulan Ramadhan lalu. Ada sekitar 300 kotak yang bisa direnovasi, baik oleh para pekerja ataupun bagian Keamanan Pusat sendiri,” ungkap Taufa.

Taufa memaparkan, harga kotak lama dengan kotak baru tidaklah sama. Selisih harga antara keduanya cukup jauh. “Untuk membedakan kotak lama dan baru, kami membedakan penempatannya. Kotak lama disimpan di gedung Indonesia 2/2, sedangkan kotak baru kami letakkan di depan gedung Indonesia 1/1. Perbedaan harga antara kotak lama dan kotak baru sekitar Rp 160 ribu, kotak baru seharga Rp 270 ribu, sedangkan kotak lama berharga Rp 110 ribu. Setelah mengadakan transaksi penjualan, pembeli akan diberikan kwitansi tanda pembelian kotak dan juga diberi tanda KMN A untuk kotak lama dan KMN B untuk kotak lama di bagian atas kotak dengan menggunakan cat permanen.”

Walaupun harga keduanya berbeda, ujar santri yang masih duduk di kelas 6 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah ini, bentuk kotak lama dan kotak baru tetap disamakan. Alasannya, untuk mengantisipasi penggunaan kotak yang tidak sesuai dengan alam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Sementara itu, setelah pemindahan kotak anggota beberapa minggu yang lalu, Kamis (1/10), ternyata di depan gedung Indonesia 3 masih terdapat kotak-kotak yang tidak ada pemiliknya, Ust. Zainuri, salah satu staf Pengasuhan Santri, memberikan tenggat waktu, kotak-kotak tersebut akan dibiarkan terlebih dahulu dalam jangka waktu dua minggu untuk menunggu pemiliknya datang. Setelah itu, jika pemiliknya belum datang juga, kotak tersebut akan segera dikirim kepada tukang untuk direnovasi dan dijual kembali pada semester kedua nanti.
 

Lampu Malam Percantik Darussalam

0
DARUSSALAM—Untuk menyambut para santri yang kembali ke pondok setelah liburan akhir tahun lalu, staf Diesel memasang beberapa lampu hias pada tempat-tempat tertentu di Darussalam. Selain itu, tujuan pemasangan lampu hias adalah untuk memperindah pondok, di samping perintah langsung dari Pimpinan Pondok. “Lampu yang digunakan adalah lampu cabe berdaya lima watt,” kata Dwi Cahyono, salah satu staf Diesel. Lampu hias tersebut dipasang di kubah masjid dan atap gedung Aligarh. Selain itu, di atap gedung Indonesia 1 juga terdapat lampu hias bertuliskan “Gontor Peace Country” dan di beberapa tempat lainnya seperti di menara masjid, Gedung Al-Azhar, Gedung Saudi serta pintu-pintu gerbang pondok.


Adapun kendala yang dihadapi ketika memasang lampu hias tersebut, menurut Dwi, seringnya terjadi korsleting, apabila satu lampu mengalami arus pendek, maka akan merambat ke semua lampu dan harus diulangi dari awal pemasangannya. “Untuk mengatasinya, kami memasang gabus yang dicairkan menggunakan air bensin di setiap ujung lampu,” tambahnya.

Dwi mengungkapkan, lampu-lampu tersebut dibeli di Surabaya, karena sangat sulit menemukannya di Ponorogo di samping harganya yang mahal. Sedangkan di Surabaya harga lebih murah dibandingkan di Ponorogo sendiri. Adapun dana yang dianggarkan untuk pembelian lampu-lampu hias tersebut adalah sebesar Rp 13,5 juta.

Karena pemasangan lampu hias tersebut sangatlah berdampak pada naiknya tagihan listrik pondok sekitar 25% dari bulan-bulan biasanya, lampu-lampu itu hanya dipasang ketika bulan Syawwal, Lomba Perkemahan Penggalang dan Penegak (LP3), dan Drama Arena (DA) ataupun Panggung Gembira (PG). Demi menghemat pengeluaran, Dwi Cahyono sempat berpesan kepada seluruh santri, agar mematikan dan menyalakan lampu tepat pada waktunya.