Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc., di Masjid Jami’ PMDG pada Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H/28 Februari 2026.
- Hari ini, sudah 10 hari ibadah puasa bulan Ramadhan berlangsung. Maka, kita harus lebih menguatkan iman kita.
- Bulan Rajab dinamakan syahru-z-zar’i (bulan menanam), bulan Sya’ban syahru-s-sakhyi (bulan memupuk), bulan Ramadhan syahru-l-hasdi (bulan menuai).
- Rajab, bulan masa-masa menanam, lantas apa yang kita tanam? Kita menanam kebiasaan- kebiasaan yang baik. Seperti membaca Al-Qur’an, sedakah, tahajjud, dan ibadah-ibadah lainnya.
- Sya’ban, ketika sudah menanam, tinggal memupuk. Ketika sudah dipupuk, akan semakin tumbuh dan meningkat.
- Ramadhan, mulailah masa memanen, yakni memanen kebiasaan baik yang sudah dibiasakan dari 2 bulan sebelumnya, bukan malah baru memulai dari awal di bulan ini, tetapi sudah dipersiapkan dari lama.
- Dan di Bulan Ramadhan ini, ada pertempuran besar. Perang besar di dalam diri kita masing-masing. Antara diri kita melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada di dalam diri kita melawan takwa keimanan, karena barang siapa yang bertakwa maka menjadi orang yang mulia.
- Karena orang yang mengikuti hawa nafsu, tidak akan terkendali dan cenderung mengikuti keinginan tanpa pengawas wahyu dan nasehat.
- Contohnya adalah orang yang mengajak kepada kesenangan cepat atau sesaat walaupun tau akan berdampak buruk. Cenderung menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan keinginannya, lebih mengikuti selera tanpa memikirkan yang lain atau ingin menang sendiri, tidak ingin mendengarkan nasihat. Sehingga, semangat yang dimiliki bukan semangat ibadah, melainkan semangat dalam ber-syahwat.
- Takwa, diambil dari kata “وقى ” yang berarti melindungi, menghindari dari hal-hal yang tidak baik, membuat benteng perlindungan. Secara istilah; melindungi diri dari syahwat dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Ketika seseorang yang bertakwa berhasil mengalahkan hawa nafsunya, maka dirinya akan merasa menang.
- Puasa adalah perisai/tameng, diumpamakan bahwa puasa adalah perisai yang digunakan untuk melindungi diri dari syahwat.
- “ اختَّق ” dan “ خرق ” yang berarti melubangi, yang berarti perisai akan tetap utuh jika tidak berlubang, perisai tersebut dapat berlobang dengan berbohong dan berghibah. Perisai yang berlubang tak akan berguna lagi, karena sudah tidak dapat melindungi dirinya sendiri lagi. Orang yang bertakwa itu yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak baik, maka tidak mungkin kita menjadi orang yang bertakwa kalau masih mengikuti hawa nafsu terus-menerus.
- Bagaikan arena yang digunakan untuk bertanding, tempat orang-orang berlomba, berjuang, dan pasti akan ada yang menjadi pemenang diantara yang lain.
- Begitupun puasa, Bulan Ramadhan adalah arena kita semua berkompetisi, berlomba dalam kebaikan untuk menjadi pemenang. Siapa yang menjadi pemenangnya jika ada pertempuran antara hawa nafsu dengan takwa? Maka takwalah yang akan menjadi pemenang.
- Orang-orang yang akan mengikuti kompetisi pasti akan berlatih dengan rajin, mempersiapan diri dengan matang agar menjadi pemenang serta menguatkan mental. Orang yang akan memenangkan pertandingan adalah mereka yang telah menanam dan melakukan persiapan sebelum pertandingan.
- Sekarang sudah sepertiga bulan Ramadhan, masih ada banyak kesempatan yang kita miliki untuk meningkatkan diri di bulan Ramadhan. Dengan perisai yang kita miliki, kita dapat menahan hawa nafsu.
- Seorang hamba tidak akan menjadi hamba yang bertakwa kalau dia tidak khawatir dengan sesuatu yang dapat membawanya kepada hal-hal tidak patut.
- Buka ponsel itu hal biasa. Namun, bagi orang-orang yang bertakwa, jika membuka ponsel, takut akan membawanya kepada hal-hal yang tidak baik.
Notulen: Hilmi, Cheviq
Related Articles:
Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.
Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.
Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.







