Home Blog Page 11

Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc., di Masjid Jami’ PMDG pada Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H/28 Februari 2026.

  • Hari ini, sudah 10 hari ibadah puasa bulan Ramadhan berlangsung. Maka, kita harus lebih menguatkan iman kita.
  • Bulan Rajab dinamakan syahru-z-zar’i (bulan menanam), bulan Sya’ban syahru-s-sakhyi (bulan memupuk), bulan Ramadhan syahru-l-hasdi (bulan menuai).
  • Rajab, bulan masa-masa menanam, lantas apa yang kita tanam? Kita menanam kebiasaan- kebiasaan yang baik. Seperti membaca Al-Qur’an, sedakah, tahajjud, dan ibadah-ibadah lainnya.
  • Sya’ban, ketika sudah menanam, tinggal memupuk. Ketika sudah dipupuk, akan semakin tumbuh dan meningkat.
  • Ramadhan, mulailah masa memanen, yakni memanen kebiasaan baik yang sudah dibiasakan dari 2 bulan sebelumnya, bukan malah baru memulai dari awal di bulan ini, tetapi sudah dipersiapkan dari lama.
  • Dan di Bulan Ramadhan ini, ada pertempuran besar. Perang besar di dalam diri kita masing-masing. Antara diri kita melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada di dalam diri kita melawan takwa keimanan, karena barang siapa yang bertakwa maka menjadi orang yang mulia.
  • Karena orang yang mengikuti hawa nafsu, tidak akan terkendali dan cenderung mengikuti keinginan tanpa pengawas wahyu dan nasehat.
  • Contohnya adalah orang yang mengajak kepada kesenangan cepat atau sesaat walaupun tau akan berdampak buruk. Cenderung menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan keinginannya, lebih mengikuti selera tanpa memikirkan yang lain atau ingin menang sendiri, tidak ingin mendengarkan nasihat. Sehingga, semangat yang dimiliki bukan semangat ibadah, melainkan semangat dalam ber-syahwat.
  • Takwa, diambil dari kata “وقى ” yang berarti melindungi, menghindari dari hal-hal yang tidak baik, membuat benteng perlindungan. Secara istilah; melindungi diri dari syahwat dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Ketika seseorang yang bertakwa berhasil mengalahkan hawa nafsunya, maka dirinya akan merasa menang.
  • Puasa adalah perisai/tameng, diumpamakan bahwa puasa adalah perisai yang digunakan untuk melindungi diri dari syahwat.
  • “ اختَّق ” dan “ خرق ” yang berarti melubangi, yang berarti perisai akan tetap utuh jika tidak berlubang, perisai tersebut dapat berlobang dengan berbohong dan berghibah. Perisai yang berlubang tak akan berguna lagi, karena sudah tidak dapat melindungi dirinya sendiri lagi. Orang yang bertakwa itu yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak baik, maka tidak mungkin kita menjadi orang yang bertakwa kalau masih mengikuti hawa nafsu terus-menerus.
  • Bagaikan arena yang digunakan untuk bertanding, tempat orang-orang berlomba, berjuang, dan pasti akan ada yang menjadi pemenang diantara yang lain.
  • Begitupun puasa, Bulan Ramadhan adalah arena kita semua berkompetisi, berlomba dalam kebaikan untuk menjadi pemenang. Siapa yang menjadi pemenangnya jika ada pertempuran antara hawa nafsu dengan takwa? Maka takwalah yang akan menjadi pemenang.
  • Orang-orang yang akan mengikuti kompetisi pasti akan berlatih dengan rajin, mempersiapan diri dengan matang agar menjadi pemenang serta menguatkan mental. Orang yang akan memenangkan pertandingan adalah mereka yang telah menanam dan melakukan persiapan sebelum pertandingan.
  • Sekarang sudah sepertiga bulan Ramadhan, masih ada banyak kesempatan yang kita miliki untuk meningkatkan diri di bulan Ramadhan. Dengan perisai yang kita miliki, kita dapat menahan hawa nafsu.
  • Seorang hamba tidak akan menjadi hamba yang bertakwa kalau dia tidak khawatir dengan sesuatu yang dapat membawanya kepada hal-hal tidak patut.
  • Buka ponsel itu hal biasa. Namun, bagi orang-orang yang bertakwa, jika membuka ponsel, takut akan membawanya kepada hal-hal yang tidak baik.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed., di Masjid Jami’ PMDG pada Jumat, 10 Ramadhan 1447 H/27 Februari 2026 M.

  • Ajaran Islam itu terbagi menjadi 3 hal yaitu, akidah, syariah, dan akhlak.
  • Kenapa kita diwajibkan untuk berpuasa? Why and what for?
  • Karena, kita adalah orang-orang yang beriman. Dengan tujuan agar menjadi orang yang bertakwa.
  • Ketakwaan yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda, karena memiliki kurikulum yang berbeda-beda. Output dari puasa setiap orang berdasarkan madrasah puasa yang dilakukan.
  • Imam Ghazali menuliskan pada bukunya yang berjudul “Tasawwuf”. Di halaman 238, dalam bab “Fii atsari-s-shaumi wa syuruthihi al baathil“, bahwasannya alumni orang yang berpuasa terbagi menjadi 3 : shaumul ‘umum, wa shaumul khusus, wa shaumu khususil khusus.
  • Yang pertama, adalah puasa yang sekedar menjaga perut dan kemaluan dari syahwat, tidak makan dan minum, juga tidak menggauli istrinya. Inilah yang dinamakan shaumul ‘umum.
  • Yang kedua, shaumul khusus merupakan puasanya orang-orang sholeh yang menjaga seluruh anggota badannya dari keburukan, terdapat 6 perkara agar bisa menjadi alumni tingkatan ini diantaranya :
    1) Menjaga pandangan dari hal-hal yang dapat melupakan dzikir kepada Allah.
    2) Menjaga perkataan dari omong kosong, dusta, mengadu domba, kata-kata kotor, kata-kata kasar, pertikaian, dan perdebatan.
    3) Menjaga pendengaran dari hal-hal yang tidak baik.
    4) Menjaga anggota badan lainnya seperti tangan dan kaki dari hal-hal yang tidak terpuji.
    5) Tidak memperbanyak makanan saat waktu berbuka puasa, sehingga merasa kenyang. Karena Nabi saat berbuka puasa, tidak makan sampai kenyang.
    6) Yang terakhir adalah supaya hatinya setelah berbuka puasa merasa cemas dan berharap puasa yang dilakukannya dapat diterima oleh Allah.
  • Yang ketiga, shaumu khususil khusus merupakan puasa hati atau puasa yang dilakukan hanya untuk Allah SWT, orang yang merasa jika berfikir selain Allah akan membatalkan puasa.
  • Paling tidak kita berpuasa kali ini kurikulumnya tidak hanya pada tingkatan yang pertama atau S1 (shaumul ‘umum), tetapi juga S2 (shaumul khusus) yaitu tingkatan kedua, lebih baik lagi jika mencapai S3 (shaumu khususil khusus) atau tingkatan terakhir yang paling tinggi.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H., di Masjid Jami’ PMDG pada Kamis, 9 Ramadhan 1447 H/ 26 Februari 2026 M.

  • Setiap detik dan menit tidak terpisahkan dari nikmat Allah. Allah memilih kita dari sekian banyak orang untuk merasakan nikmatnya Ramadhan.
  • Bersyukurlah atas proses yang telah kita lalui semenjak sebelum menjadi santri hingga menjadi alumni pesantren.
  • Berapa banyak orang-orang disekitar kita tidak bisa merasakan bulan Ramadhan.
  • Maka haruslah bagi kita untuk bisa memanfaatkan nikmatnya bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya salah satu cara-nya ialah dengan berberpuasa. 
  • Bersyukurlah jika kita tidak bersyukur maka kita akan menjadi orang yang kufur.
  • Bukan hanya ritual tahunan tapi ini merupakan bulan Pendidikan dan penggemblengan. Diawal-awal ini kita digembleng untuk menentukan pondasi, karena segala sesuatu bergantung pada pondasinya. Jika pondasinya kuat maka sebuah bangunan juga akan ikut kuat.
  • Hayatilah bulan Ramadhan ini, karena itu merupakan madrasah roohaniyyah yang sangat sistematis dan berangsur.
  • Bulan Ramadhan ini sebagai pembersih dan penumbuh jiwa kita. Maka haruslah kita menggunakan itu dengan baik.
  • Suatu ibadah seperti shalat dan puasa jika kita menganggapnya sebuah kebutuhan dan kesyukuran, maka tidak akan berat untuk melakukannya. 
  • Madrasah Ramadhan ini akan mendidik hati, apabila sesuatu dianggap beban akan terasa berat. Apabila sesuatu dianggap kesyukuran akan terasa ringan.
  • Kita menganggap bahwa orang-orang berpuasa adalah orang yang sehat lahir dan batin sehingga kita mengungkapkan rasa kesyukuran.
  • Ucapan rasa syukur dan hal paling pertama yang dapat kita lakukan di pondok ini adalah kepada orang tua. Karena orang tua banyak mengharapkan kepada anaknya saat masuk pesantren.
  • Ketika kita bersyukur agar jangan lupa dengan wasa’il, atau wasilah yang menyampaikan semua itu kepada kesuksesan.
  • Seluruh kegiatan dan Pendidikan di pondok  ini bukan hanya menyampaikan ilmu atau iishaalul ma’lumaat, tapi juga penerapannya.
  • Seorang guru yang mengajari muridnya tentang man jadda wajada jika disampaikan lewat mulut saja dua detik saja cukup, tetapi yang sulit adalah menjadikan seorang murid itu jiddiyyah, karena membutuhkan dua sampai tiga tahun. Bukan hanya menyampaikan ilmu, namun juga mendidik pribadi.
  • Kesyukuran itu bukanlah akhir dalam suatu hal, tapi merupakan awal yang baik.  
  • “Jikalau kalian bersyukur dalam hal kecil atau sedikit, maka akan ku berikan suatu kenikmatan dalam hal yang besar dan Panjang”.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd., di Masjid Jami’ PMDG pada Rabu, 8 Ramadhan 1447 H/ 25 Februari 2026.

  • Terdapat tiga karakter Muslim ketika Ramadhan datang.
  • Yang pertama adalah orang yang menyambut Ramadhan dengan jiwa yang sempit, merasa bahwa Ramadhan menutup pintu rizkinya. Benci dengan adanya Ramadhan.
  • Yang kedua adalah orang yang memiliki semangat hanya pada sepuluh hari pertama, hanya ingin merasakan hura-huranya saja.
  • Yang ketiga adalah orang yang memiliki semangat sepuluh hari pertama dan mulai lengah pada hari berikutnya, tetapi kembali semangat ketika dia merasakan masa-masa Lailatul Qadar. Dia percaya bahwasannya Lailatul Qadar ada di antara tanggal 29 hingga 30 Ramadhan.
  • Padahal, malam Lailatul Qadar itu di antara 1 sampai 30 Ramadhan, karena jika malam itu sudah ditentukan tanggalnya, maka semua orang Muslim hanya akan antusias pada malam itu saja. Padahal, Allah menginginkan hambanya selalu semangat dari awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan.
  • Pada 10 hari pertama, tanda-tanda diterimanya semua amalan positif kita adalah Allah akan menambahkan semangat pada 10 hari kedua.
  • Sesungguhnya melakukan sesuatu itu terletak pada putaran terakhirnya, bukan pada rintangan awalnya.
  • Sabar tanpa letih, syukur tanpa syarat, dan ridho tanpa batas. Tanpa ketiga itu, kita tidak akan menuju jiwa yang tenang dalam menjalankan ibadah. Yang paling ringan adalah bersabar, kemudian bersyukur, karena keduanya harus kita lakukan dari awal kita hidup sampai akhir.
  • Allah tidak menjanjikan bahwa hidup itu mudah, tetapi Allah akan memudahkan bagi siapapun yang bersyukur kepadanya.
  • Lantas, kita bahagia terlebih dahulu baru bersyukur, atau bersyukur terlebih dahulu baru bahagia?
  • Jawabannya adalah bersyukur terlebih dahulu kemudian bahagia. Harus Bersyukur ketika pemuda bisa rajin ke masjid, menjaga shalat 5 waktu, melakukan ibadah dangan khusyuk.
  • فاقد الشيئ لا يعطي, orang yang tidak mempunyai kebahagiaan maka tidak dapat membahagiakan orang lain. Itulah pentingnya bersyukur karena itu merupakan kunci dari kebahagiaan.
  • Apakah tidur bisa membuahkan pahala saat berpuasa? Jawabannya adalah bisa. Jika terdapat suatu hal yang berpotensi membatalkan puasa, maka untuk mengantisipasinya adalah dengan tidur, karena tidurmu bisa menghindari maksiat.
  • Kedua, ketika tidur karena ingin menjaga kesehatan dengan tujuan melaksanakan qiyamul lail, tilawah Qur’an, atau i’tikaf.
  • Tetapi, tidur yang tidak akan membuahkan apa-apa adalah saat kita tidur sampai lalai dengan berbagai hal, bahkan sampai berlebihan hingga lupa dengan ibadah.
  • Allah itu menciptakan manusia agar hidup mereka untuk beribadah, dengan tujuan akhirat.
  • Kita harus cekatan dalam segala pekerjaan, namun meninggalkannya saat datang waktu ibadah. Karena, urusan dunia dibayar secara langsung, sedangkan ibadah dibayar oleh Allah saat di akhirat nanti sesuai dengan amal perbuatan yang kita lakukan, apakah dosa atau pahala yang akan didapatkan.
  • Hal ini yang membuat orang-orang ragu untuk melakukan urusan akhirat, karena mengejar dunia akan mendapatkan hasilnya secara langsung, namun jika akhirat belum terlihat hasilnya secara langsung.
  • Ketika mereka di akhirat nanti, mereka meminta dikembalikan ke dunia walaupun hanya sesaat guna memperbaiki amalan mereka yang telah dilakukan.
  • Maka, Allah menjawab mereka, kami sudah memerintahkanmu agar beriman dan bertakwa, namun kamu tidak menghiraukannya.
  • Kita harus melaksanakan perbuatan baik yang dicontohkan oleh Rasulullah, sesuai dengan iman dan mengahrapkan imbalan dari Allah.
  • Terdapat orang yang berdoa kepada Allah agar pahalanya di akhirat diganti dengan uang di dunia. Apa kata orang yang beriman, “jika Allah melakukan hal semacam itu, maka apa gunanya orang bekerja keras sedangkan shalat saja menghasilkan uang, dengan begitu dunia akan rusak”.
  • “ .الدنيا دار العمل وليس فيها الجزا ء ” Dunia itu tempat kita beramal dan menyiapkan bekal untuk di akhirat kelak.
  • Maka, mari disadari bahwasannya kita patut bersyukur karena betapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita, berupa nafas untuk kita hidup, dan nikmat-nikmat lainnya sehingga kita bisa hidup sampai detik ini.
  • Ada suatu cerita, terdapat seorang pemuda yang tidak bersyukur dan menginginkan kekayaan lebih. Ketika datang seseorang dan bertanya kepadanya “berapa harga dengkulmu?”, dia menjawab sepuluh miliar dan akan membelinya. Orang itu pun terkejut dan mengatakan, “kalau kamu membeli dengkul saya, maka saya tidak akan bisa jalan dan bekerja.” Orang itu berkata, “itu berarti harga dengkulmu lebih dari 10 miliar, tandanya kamu sudah kaya.”
  • Maka, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki, karena jika kita kehilangannya, akan sulit untuk mendapatkannya kembali.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

Pentingnya Literasi Keuangan Pada Era Modern

0

Sesi ke-16 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 berlangsung pada Senin malam (23/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Bapak Eko Listiyanto, MSE. Selaku Ekonom dan Direktur pengambangan Big Data Instituate For Development of Economic and Finance (INDEF). Kehadiran beliau menjadi sebuah momentum penting bagi Siswa Kelas Akhir KMI 2026 akan pentingnya literasi keuangan bagi kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Eko menekankan pentingnya manajemen keuangan pribadi yang sehat, khususnya di kalangan generasi muda. Beliau menyoroti fenomena maraknya praktik judi online dan pinjaman daring (online lending) yang tidak bertanggung jawab. Kejadian ini kerap menjerat anak muda dalam permasalahan finansial. Menurutnya, perilaku tersebut tidak hanya membahayakan stabilitas keuangan individu. Juga berpotensi menghambat pembangunan ekonomi bangsa secara keseluruhan.

“Generasi muda adalah aset terbesar bangsa. Oleh karena itu, pemahaman terhadap literasi keuangan menjadi salah satu langkah penting dalam membangun dan memajukan negara,” ujarnya.     

Dalam pemaparannya, Bapak Eko tidak hanya mengulas risiko serta dampak negatif pinjaman online dan judi daring. Juga menyampaikan strategi praktis dalam mengelola keuangan secara bijak. Beliau turut menjelaskan pentingnya kesadaran finansial sejak dini agar generasi muda mampu mengambil keputusan yang tepat serta terhindar dari permasalahan ekonomi di masa mendatang.

Siswa Kelas Akhir 2026 diajak memahami risiko dan sistem bunga dalam pinjaman online agar tidak terjebak dalam beban utang yang merugikan. beliau turut mendorong kebiasaan menabung dan berinvestasi secara aman serta terencana sebagai upaya membangun stabilitas finansial.

Melalui peningkatan literasi keuangan, generasi muda diharapkan mampu merencanakan masa depan secara lebih terarah serta mendukung pencapaian tujuan pendidikan dan karier dengan penuh tanggung jawab.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel, Abhiraj

 Editor: Winka, AlifGhazi

Memahami Lebih Dalam Makna Panca Jiwa Dan Motto PMDG

0

Sesi terakhir Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026, The Brilliant Generation. Dilaksanakan di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Selasa malam (24/2). Sesi puncak ini diisi dengan pesan dan nasehat dari Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Mengusung tema “Kepondokmodernan”, sesi ini menjadi momentum penting bagi Siswa Kelas Akhir KMI 2026 untuk memperdalam pemahaman mengenai hakikat dan nilai-nilai Pondok Modern. Materi yang disampaikan tidak hanya mengulas aspek historis.

Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., pada sesi kala itu menekankan pentingnya memahami secara mendalam motto dan Panca Jiwa PMDG. Menurut beliau, pembekalan ini merupakan salah satu bentuk “imunisasi” bagi Siswa Kelas Akhir 2026 sebelum terjun ke medan pengabdian. Zaman yang dihadapi merupakan zaman yang penuh tantangan dan kezaliman, di mana tidak sedikit orang menghalalkan segala cara demi kepentingan dan ego pribadi.

Beliau juga menegaskan bahwa segala aspek kehidupan harus senantiasa berjalan selaras dengan nilai-nilai agama, termasuk dalam bidang politik. Tanpa landasan agama, kehidupan bermasyarakat dan bernegara dapat kehilangan arah.

“Setelah keluar dari Gontor, Panca Jiwa itu harus kamu hayati dan maknai dengan benar. Zaman sekarang adalah zaman yang zalim. Jika politik tidak dilandasi Islam dan nilai agama, maka ia akan berjalan tanpa arah dan tidak karuan,” ujar beliau.

Dalam kesempatan lain, K.H. Hasan Abdullah Sahal selalu mengingatkan pentingnya memahami identitas kita sebagai santri PMDG. Sebagai santri, kita harus mampu memahami dan membedakan batasan-batasan syariat Islam. Tidak hanya itu, kita juga dituntut untuk dapat menarik garis pemisah yang jelas antara kebaikan dan keburukan.

“Jangan lupa identitas kita sebagai santri PMDG dan kita harus pandai untuk menaruh garis dermakasi guna bisa membedakan antara hal yang baik dan buruk” ujarnya.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel, Abhiraj

 Editor: Winka, AlifGhazi

Meneguhkan Ikhlas dalam Mengabdi: Bekal Alumni Menuju Kehidup Nyata

0

The Brilliant Generation melanjutkan pembekalan intensif dengan tema “Ikhlas dalam Mengabdi” dan “Orientasi Pengabdian”. Berlangsung di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dan dihadiri oleh Al-Ustadz H. Saepul Anwar, M.Pd, beserta jajaran Staf Sekretaris Pimpinan PMDG.

Dalam sesi pertama, Al-Ustadz Saepul Anwar menekankan pentingnya pengabdian sebagai penyempurna ilmu yang diperoleh selama masa studi di PMDG. Beliau menjelaskan bahwa kurikulum pondok dirancang untuk mencetak santri menjadi guru sekaligus pemimpin, dengan pendidikan yang bersifat menyeluruh. Mulai dari bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, merupakan bagian dari kurikulum yang sengaja disusun untuk membentuk karakter kepemimpinan, tanggung jawab, dan disiplin.

Sesi berikutnya dipandu oleh beberapa staf pimpinan pondok, yaitu Al-Ustadz Furqon Habiburrahman, Al-Ustadz Richo Fahriza, dan Al-Ustadz Adha Nur Lintang. Membahas lebih rinci tentang orientasi pengabdian. Materi ini menjadi landasan penting bagi para alumni dalam menghadapi tugas dan penugasan yang diberikan pondok. Sekaligus mempersiapkan mereka untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Pembekalan diakhiri dengan diskusi interaktif antara narasumber dan Siswa Kelas Akhir KMI 2026. Beragam pertanyaan yang diajukan mencerminkan keseriusan dan antusiasme para calon alumni. Dalam menghadapi tantangan pasca-kelulusan, terutama terkait pengabdian dan tanggung jawab sosial.

Meski kegiatan berlangsung lebih dari lima jam, semangat para santri tidak surut. Mereka tetap aktif menyimak, berdiskusi, dan berpartisipasi, menunjukkan komitmen tinggi untuk menerapkan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama masa studi.

Kegiatan ini menegaskan komitmen PMDG dalam mencetak generasi yang berilmu, bertanggung jawab, dan siap mengabdi, sehingga nilai-nilai kepemimpinan dan pengabdian dapat diaplikasikan secara nyata demi kemajuan masyarakat dan bangsa.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel Editor: Winka, AlifGhazi

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag., di Masjid Jami’ PMDG pada Selasa, 7 Ramadhan 1447 H/24 Februari 2026 M.

  • Kalau kita berpikir dengan pikiran yang jernih, sulit untuk tidak bersyukur. Di bulan ini, Allah mengobral pahala, apa yang kita lakukan di bulan ini semuanya berpahala.
  • Hal ini sulit dicari, jarang terdapat, mahal harganya. Bersyukur.
  • Sebuah kesyukuran, bapak dan ibumu dapat menyekolahkan anak-anaknya di Gontor. Karena, betapa banyaknya orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Dan, ada juga yang orang tuanya mampu, namun anaknya tidak mau.
  • Alhamdulillah, kalian semua adalah orang-orang yang beruntung, karena mau bersekolah di Gontor.
  • Bersekolah di pesantren merupakan kesyukuran yang luar biasa. Di pesantren inilah dibentuk kader-kader pemimpin umat.
  • Man lam yadzuq dzulla-t-ta’allumi saa’atan, tajarra’a dzulla-l-jahli thuula hayaatihi (siapa yang belum merasakan pahitnya belajar sesaat, akan merasakan pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya). Inilah yang dinamakan proses. Ibarat pedang yang tajam, melalui sebuah proses, dengan ditempa, dipukul, dipanaskan, diproses agar pedang itu tajam.
  • Banyak orang yang pintar, terampil. Namun, yang penting adalah prosesnya.
  • Di pesantren, ilmu agama kalian ditempa.
  • Terdapat banyak teknologi dari yang paling kecil hingga besar yang bertujuan untuk agama. Di pondok ini, teknologi itu penting, tergantung dengan cara penggunaannya.
  • Kalau kalian terus membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, maka in syaa Allah kita dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
  • Maka, beruntunglah kalian karena masuk pesantren, diajarkan ilmu-ilmu agama berdasarkan Al-Qur’an. Dari situ kita dapat menggunakan teknologi dengan sebaik-baiknya.
  • Pemuda-pemuda di luar sana, banyak yang mementingkan kebahagiaan mereka dengan maksiat, sedangkan kita di pesantren membahagiakan diri kita dengan ajaran-ajaran agama.
  • Di pondok ini, ada disiplin, karena disiplin merupakan kunci kesuksesan. Disiplin itu bukan berarti mengekang pergerakan kita, tetapi mengarahkan tujuan kita supaya terus berjalan, sehingga kita dapat mengatur waktu dan kegiatan kita.
  • Disiplin itu mudah, hanya menempatkan segala sesuatu sesuai dengan waktunya, bukan berarti mengekangnya. Sebagai contoh, seorang atlet yang berdisiplin dengan kegiatannya untuk menggapai tujuannya.
  • Di dalam masa pendidikan di pondok, kita dituntut untuk berdisiplin demi masa depan. Belajar pidato seminggu 3 kali adalah contoh dari proses yang kita lakukan di pondok ini.
  • Disiplin yang ada di pondok ini, patut dilaksanakan dengan hati yang ikhlas. Karena, segala sesuatu yang kita lakukan di pondok ini untuk latihan.
  • Oleh karena itu, ada istilah “Kalau tidak betah silahkan coba 1 tahun, kalau belum juga 2 tahun, kalau belum juga 3 tahun”, itu semua untuk proses demi masa depan. Dengan proses kita akan memahami sesuatu yang belum kita pahami.
  • Dalam pergerakan memang ada gesekan, kalau tidak ada gerakan maka tidak ada gesekan. Adanya gesekan untuk menguatkan mental-mental yang akan menimbulkan dinamika yang baik.
  • Dinamika yang baik akan menimbulkan etos kerja yang baik, cekatan, dan tanggap. Edukasi yang baik akan membentuk idealisme.
  • Di Gontor ini diajarkan bagaimana kita hidup, dan mencari hidup yang baik.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 4 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A.

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.