Home Blog Page 12

Era Digital Bukan Alasan Untuk Tidak Berdakwah

0

Sesi ke-12 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 berlangsung pada Sabtu (21/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Al-Ustadz Bachtiar Nasir, Lc., M.M.. Beliau merupakan Da’i juga tokoh Muslim Indonesia yang dikenal luas melalui aktivitas dakwah dan pendidikan. Kehadiran beliau menjadi momen penting bagi para santri untuk menyerap pengalaman akademik, spiritual, dan profesional yang luas.

Di hadapan ratusan siswa kelas akhir KMI, beliau menguraikan bahwa tantangan umat ke depan menuntut generasi muda yang tidak hanya kuat secara akademik. Kematangan secara mental untuk menghadapi kondisi-kondisi yang kita tidak dapat prediksi. 

Peperangan dalam teknologi sedang terjadi, berapa banyak orang yang tumbang akibat sebuah mesin. Ungkapan yang beliau tekankan. Menurutnya, kecerdasan buatan telah bertransformasi menjadi infrastruktur kehidupan. Karena itu, generasi muda tidak boleh larut sebagai konsumen pasif. “Jangan menjadi korban AI. Kalianlah yang harus memperalat AI,” tuturnya. Beliau mengaitkan tantangan teknologi dengan problem kesehatan mental generasi muda, serta pentingnya bisa mengendalikan diri kita yang salah satunya ditempa melalui ibadah puasa.

Mengutip QS.Al-Anfal : 60 tentang pentingnya mempersiapkan kekuatan (quwwah), Bachtiar merumuskan empat pilar kekuatan 2026. Kedaulatan teknologi, infrastruktur data, penguasaan narasi, dan ketahanan ekonomi. Belajar coding dan sains data katanya bukan semata jalur karier melainkan ikhtiar menjaga agama islam.

Beliau juga menyoroti pergeseran ekonomi menuju sistem berbasis blockchain. Tanpa pondasi akhlak, tegasnya, teknologi hanya melahirkan sesuatu tanpa arah.

Di penghujung sesi, beliau mengingatkan para santri agar tak terjebak juga berlebihan ketika kembali ke masyarakat. Tantangan terbesar, katanya, adalah menaklukkan diri sendiri. Sebab di tengah gelombang algoritma dan big data, karakter tetap menjadi kompas utama.

Kehadiran Al-Ustadz Bachtiar Nasir memberikan motivasi agar para santri mampu melangkah dengan visi yang jelas, kesiapan mental, dan totalitas pengabdian yang kuat.

Kontributor: Faza, Kholis, Afgan Editor: Winka, AlifGhazi

Memaknai Perjalanan Panjang Gontor dalam Pembekalan 2026

0

Sesi ke-13 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 dilanjutkan pada Ahad (22/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Kegiatan ini merupakan dari rangkaian pembekalan strategis bagi para Siswa Kelas Akhir KMI 2026 sebelum terjun ke medan pengabdian.

Pada sesi tersebut menghadirkan Al-Ustadz Khairul Fata, Lc., M.Pd., Dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, sebagai narasumber. Di hadapan Siswa Kelas Akhir KMI 2026, beliau menyampaikan materi yang menekankan pentingnya memahami silsilah dan perjalanan historis Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai fondasi identitas dan arah perjuangan.

Menurut Al-Ustadz Khairul Fata, berdirinya PMDG bukanlah proses yang singkat dan instan. Pondok ini lahir melalui rentang sejarah panjang, melewati berbagai fase perkembangan, tantangan, serta transformasi nilai. 

Beliau menjelaskan tentang silsilah dan perjalanan PMDG mulai bagaimana trimurti pada masa kecil hingga kiprah dakwah para trimurti pendiri. Dalam suasana yang khidmat, para Santri diajak menelusuri jejak perjuangan pendiri dan nilai-nilai yang diwariskanya. Mulai dari kemandirian, kesederhanaan, hingga semangat pengabdian. Materi tersebut diharapkan memperkuat kesadaran bahwa setiap lulusan adalah mata rantai dari perjalanan panjang pondok.

Melalui pembekalan ini diharap para siswa kelas akhir tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman historis dan loyalitas nilai. Sebab, menjaga kesinambungan perjuangan, menurut Khairul Fata, adalah bagian dari tanggung jawab alumni Gontor di setiap zaman.

Forum pembekalan ini dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan visi bagi siswa kelas akhir 2026. Melalui dialog interaktif dan pemaparan materi, para santri diharapkan mampu memetakan langkah pengabdian secara lebih sistematis dan bertanggung jawab.

Rangkaian kegiatan pembekalan KMI 2026 akan terus berlanjut dengan menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi. Pondok berharap, para lulusan tidak hanya siap melanjutkan studi atau mengabdi di masyarakat, tetapi juga tampil sebagai pribadi yang berintegritas dan membawa nilai-nilai pesantren dalam setiap peran yang dijalankan.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel Editor: Winka, AlifGhazi

Berbagi Tanpa Batas, Pesan Ayahman Luqmanulhakim untuk Siswa Kelas Akhir KMI 2026

0

Sesi ke-14 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 berlangsung pada Ahad Malam (22/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Al-Ustadz H. Luqmanulhakim. S.E.I, M.A,.

Perjalanan beliau dimulai pada tahun 2012, setelah kepulangannya dari Malaysia. Dalam kisahnya beliau menjelaskan bahwasanya pada awal beliau merintis hidupnya, beliau hanya bermodalkan Rp.75.000,00. Prinsip keras untuk selalu memberi dan memberi tanpa takut untuk menjadi kurang, menjadikanya tegar selalu menghadapi kehidupan.

Al-Ustadz Luqmanulhakim mengingatkan bahwasanya orang tidak akan pernah melihat bagaimana proses kita. Jika kita salah maka orang akan memandang kita salah kecuali bagaimana perlakuan kita setelahnya. “Orang tidak akan pernah melihat kita masa lalu dan dimasa kini akan tetapi tentang bagaimana kita berbuat baik setelah berbuat salah” Ujarnya.

Berpuluh-puluh kali beliau jatuh hingga pada tahun 2022 titik puncak kebehasilan cita-cita beliau untuk bisa berbagi ke seluruh indonesia dan menjadi konstributor dana donatur untuk orang yang lebih membutuhkan. Komunitas Kapal Munzalan adalah salah satu komunitas yang beliau gerakkan. Lebih dari 1000 orang anak yatim, piatu dan dhuafa beliau kumpulkan untuk disedehkan. Lebih dari 10 Miliar setiap bulan beliau kumpulkan guna didonaturkan kepada yang berhak.

Tidak hanya kisah perjalan yang inspiratif saja yang beliau paparkan, bagaimana cara kita untuk mencari ilmu pun menjadi materi penting. Masa studinya di KMI mengajarinya bahwa keberkahan dan keridhoan kyai lebih penting dari ilmu itu sendiri. “Ilmu itu tidak hanya sekedar hafal tapi yang lebih penting itu keberkahan dari ilmu itu sendiri” ujarnya. 2 hal yang harus di gapai seorang santri katanya : yaitu Ridho orang tua dan ridhonya para kyai.

Kehadiran Al-Ustadz Luqmanulhakim memberikan motivasi agar para santri selalu berbagi tanpa takut untuk merasa kekurangan. Bahwasanya Allah selalu ada di antara kita.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel Editor: Winka, AlifGhazi

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag., di Masjid Jami’ pada Senin, 6 Ramadhan 1447 H/23 Februari 2026 M.

  • Sebagai seorang muslim, memiliki jati diri itu penting, karena hal itu yang menunjukkan identitas kita sebagai muslim.
  • Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an; orang-orang yang beriman itu kalau mendengar seruan dari Allah atau rasul-Nya mengenai hukum dalam agama, maka mereka mengatakan sami’naa wa atha’naa, “saya mendengar dan saya taat”.
  • Maka, jika diperintahkan dalam Al-Qur’an, كتب عليكم الصيام (diwajibkan atas kamu berpuasa), maka orang-orang mukmin mengatakan sami’naa wa atha’naa.
  • Iman berarti iqraar bi-l-qalbi wa tasdiiq bi-l-lisaani (pengakuan dengan hati, dan pembenaran dengan lisan).
  • Iman itu ada 6, iman kepada Allah, iman kepada malaikat, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-Nya, kepada Hari Akhir, dan iman kepada taqdir Allah dalam baik dan buruknya. Itulah yang disebutkan dalam hadist mengenai arti dari Iman.
  • Percaya kepada Allah itu membutuhkan ilmu, ilmu tentang mengenal Allah. Bagaimana kita dapat percaya kepada-Nya kalau kita tidak menegenal-Nya?
  • Lantas bagaimana kita dapat mengenal Allah?. Lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang didalamnya banyak menjelaskan tentang Allah.
  • Selain mengenal Allah, melalui ayat-ayat Al-Qur’an, kita dapat mengetahui keesaan Allah SWT.
  • Kalau orang itu sudah benar-benar percaya kepada Allah SWT, maka dia akan mudah mengimani apa saja yang diperintahkan Allah.
  • Setelah kita mengenal dan percaya Allah maka kita akan mengimani-Nya dengan sebenar-benarnya Iman. Dengan demikian kita akan selalu mengatakan Sam’naa wa atho’naa dan bukan Sami’naa wa ‘ashoinaa.
  • Iman yang kedua yakni iman kepada malaikat, lantas apa itu malaikat?
  • Malaikat juga merupakan makhluk Allah yang selalu taat dengan tugas-tugas yang diberikan Allah.
  • Iman ketiga adalah iman kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan melewati rasul-rasul-Nya.
  • Iman kepada rasul berarti percaya dan taat atas apa yang disampaikan mereka tentang syariat.
  • Iman yang keempat merupakan iman dan percaya bahwa suatu hari nanti terdapat Hari Kiamat yang pasti datangnya.
  • Yang terakhir, yakni terdapat iman kepada qadha’ dan qadar. Mengenai iman yang keenam ini, penting untuk betul-betul mempercayai Allah SWT.
  • Banyak orang yang mempertanyakan tentang qadha’ dan qadr karena manusia banyak yang tidak menerimanya, di mana orang yang sudah berusaha untuk suatu hal tetapi tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
  • Ilmunya Allah itu tidak seperti ilmu manusia yang hanya terbatas. Ilmu Allah itu tidak akan habis dan tidak ada batasnya. Segala sesuatu itu tidak akan luput dari ilmu Allah.
  • Jangan sampai kita tidak mempercayai ilmu Allah, dan hanya menganggap ilmu Allah itu terbatas.
  • Allah mempunyai kemahatahuan tentang apa saja yang akan terjadi terhadap manusia dan seluruh makhluknya, karena itu semua sudah tertulis di Lauh Mahfudz.
  • Segala sesuatu yang terjadi itu karena masyiatullah, atas kehendak Allah.
  • Tidak semua yang diimpikan pasti akan terjadi, cita-cita yang ditulis disana tidak akan terjadi tanpa kehendak dan sepengetahuan Allah.
  • Maka, keimanan itu yang menjadi identitas kita masing-masing. Kalau ada seruan dari Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, maka kita dapat menjawab dengan lantang sami’naa wa atha’naa.
  • Begitu mulianya bulan Ramadhan, pada bulan Rajab dan juga Sya’ban kita sudah diingatkan perihal datangnya Ramadhan dengan doa yang diucapkan Rasulullah اللهّم بارك لنا في راجب وشعبان وبلغّنا رمضان .
  • Sekarang tugas kita adalah bagaimana kita dapat mengisi bulan Ramadhan ini dengan berkah dan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 3 Ramadhan 1447 H, Ust. Assoc. Prof. Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A.

Kuliah Shubuh 4 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A.

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I., di Masjid Jami’ pada Ahad, 5 Ramadhan 1447 H/22 Februari 2026 M

  • Allah SWT memerintahkan dalam Al-Qur’an untuk berpuasa. “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183)
  • Dalam ayat tersebut, sudah jelas adanya perintah untuk berpuasa sejak masa orang-orang terdahulu, sedangkan orang yang tidak mau berpuasa maka merekalah orang-orang yang kafir. Karena, orang-orang yang berpuasa adalah orang -orang yang mukmin.
  • Diciptakannya Nabi Adam dengan puasa 3 hari, hari pertama beliau diciptakan belum sempurna, hari kedua diciptakan hampir sempurna, hingga hari ketiga menjadi manusia sepenuhnya. Kemudian diturunkan ke bumi pada hari Jum’at.
  • Puasa adalah sarana untuk meningkatkan diri dan mendekat kepada Allah. Bulan Ramadhan itu wajib diisi dengan hal-hal positif.
  • Ketika Ramadhan, jangan hanya tidur, bangun, kemudian tidur. Berpuasa tidak hanya menahan lapar, melainkan sarana untuk bertakwa.
  • Bagaimana bertakwa itu? Salah satunya adalah mengisi bulan Ramadhan dengan hal yang baik.
  • Kalau puasa tanpa niat, maka kita hanya akan merasakan lelah.
  • Berpuasa agar kita menjauhi apa yang dilarang Allah SWT.
  • Mumpung masih muda gunakan masa mudamu dengan baik.
  • Makan terlalu berlebihan bisa membuat kita sakit, maka jangan sampai mbruwah saat berbuka puasa.
  • Memilih makanan bukan menjadi tolak ukur kita berpuasa. Ketika puasa, bukan hanya kesehatan yang terjaga, tetapi juga ketakwaan kita yang meningkat.
  • Rumah itu kalau sering dihiasi dengan bacaan Al-Qur’an akan terasa dingin dan sejuk layaknya dinginnya AC.
  • Al-Qur’an tidak hanya sebagai obat tetapi juga pentunjuk untuk orang-orang yang bertakwa, huda lil muttaqiin.
  • Barang siapa yang ingin menghargai dirinya, maka bacalah Al-Qur’an.
  • Tanpa orang tua kita, tidak bisa sampai seperti ini.
  • Perjuangan orang tua itu sangatlah berjasa, maka kita harus menghormati jasa mereka dengan cara berdoa.
  • Berdoa itu untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain.
  • Kalau kita berdoa maka ilmu kita akan melekat dan bermanfaat.
  • Sering-seringlah berkumpul bersama dengan keluarga, jangan sampai terlena dengan bermain-main diluar hingga musibah yang mengingatkan kita.
  • Tidak ada masa depan yang suram, tetapi adanya masa depan yang yang cerah.
  • Berbagilah dengan orang yang kurang beruntung, jika kita mempunyai rezeki atau sesuatu yang lebih maka dianjurkan untuk berbagi dengan sesama kita. Orang yang bisa memberi sesuatu kepada orang lain itu nikmatnya luar biasa.
  • Jika seseorang memiliki dan mensyukuri nikmat, maka dia akan bisa memberikan lebih.
  • Harus meluangkan waktu untuk menghadiri ceramah-ceramah yang ada. Itu semua agar mengisi waktu libur bulan Ramadhan dengan hal yang positif.
  • Tujuannya untuk meningkatkan ketakwaan dan spiritualitas kita.
  • Meningkatkan muamalah kita kepada Allah, al-mu’amallah ma’allah.
  • Semua pekerjaan akan selesai jika sabar, ash-shabru yu’iinu ‘ala kulli ‘amalin.
  • Kalau kita menerima segala sesuatu harus kita terima dengan bersyukur, Alhamdulillah. Bersyukur harus diikuti dengan amalan-amalan yang baik.
  • Bersyukur itu mudah. Tetapi, yang susah adalah implementasi hal tersebut.
  • Dengan berpuasa, kita akan mendapatkan pahala dan pengampunan dosa. Sepertiga bulan puasa adalah pengampunan. Manfaatnya adalah meningkatkan kualitas hidup dan ketakwaan.
  • Hidup kita akan menjadi lebih baik jika kita melakukan hal yang positif, perbuatan baik sekecil apapun pasti ada manfaat dan akibatnya.
  • Laksanakan puasamu sebaik mungkin.
  • Dari kita mengisi dan mengetahui manfaat positif bulan puasa, akan dapat mampu membentuk karakter positif kita. dan membentuk kepribadian kita.
  • Karakter positif yang ada adalah karakter takwa, karakter kemanusiaan, karakter kejujuran.
  • Kejujuran adalah modal utama, kalau kamu jujur maka kamu akan berhasil.
  • Yang terakhir adalah karakter yang membuat kita untuk disiplin.
  • Barang siapa yang melaksanakan puasa dengan tulus dan Ikhlas maka akan mendapatkan berkah.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 2 Ramadhan 1447 H, Ust. H. Imam Shobari

Kuliah Shubuh 3 Ramadhan 1447 H, Ust. Assoc. Prof. Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A.

Kuliah Shubuh 4 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A.

Kisah Inspiratif dr. Iqbal Musyaffa, Dari Santri Jadi Dokter

0

Bertepatan pada Jum’at (20/2) sesi ke-10 Pembekalan intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-islamiyah (KMI) dilanjutkan. Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Sesi ini menghadirkan dr. Iqbal Musyaffa, MARS sebagai narasumber yang kompeten dalam bidang kedokteran.

Pada kesempatan yang berharga beliau menyampaikan kisah perjalanan hidupnya. Kisahnya sangat inspiratif bagi generasi muda yang ingin memadukan pendidikan, kesehatan, dan spiritualitas. Pendidikan awal beliau ditempuh di SDIT Darul Muttaqin, Parung, Bogor. Lalu melanjutkan studinya ke PMDG. Selama menempuh pendidikan di PMDG, beliau sempat mengalami sedikit hambatan. Pengalaman yang menurutnya pahit baginya tidak menjadi alasan untuk putus asa. Hingga lulus dari PMDG pada 2014.

Selepas menempun pendidikan di PMDG beliau melanjutkan studinya di Universitas (Yayasan Rumah Sakit Islam) YARSI Jakarta, jurusan kedokteran. Dedikasinya membuahkan hasil manis,beliau kini berprofesi sebagai dokter dan menjalani pengabdian di sejumlah puskesmas. Tidak berhenti di situ saja,beliau juga menempuh studi Magister Administrasi Rumah Sakit di Universitas Respati Jakarta.

Pada sesinya beliau menekankan pentingnya menjaga tubuh di era modern dengan kebiasaan sederhana namun konsisten. Beberapa tips yang beliau bagikan untuk kita yang hidup di era modern ini. Dengan rutin bergerak setiap jam untuk menjaga sirkulasi darah. Selalu mengendalikan pola makan dan kalori. Memperhatikan dan menjaga fungsi organ vital seperti ginjal dengan cukup minum. Untuk mengelola stres dan menjaga kesehatan mental.

Menurutnya juga, kesehatan fisik dan mental saling terkait. Beliau percaya bahwa pola hidup sehat yang diterapkan secara konsisten akan lebih berdampak. Al-ustadz Iqbal merupakan Dokter yang menggabungkan antara agama dan kesehatan. Dengan pengalaman beliau menjadi seorang sanrti.

Perjalanan hidup Al-ustadz Dr. Iqbal Musyaffa, MARS,  menunjukkan bahwa keterbatasan awal bukan penghalang untuk meraih prestasi. Dari santri yang menghadapi kesulitan akademik hingga menjadi dokter sekaligus motivator kesehatan.

Kontributor: Faza, Edsel, Fayadh, Omar Editor: Winka, AlifGhazi

PMDG Bekali Generasi Muda Berwawasan Luas melalui Materi Literasi

0

Sesi ke-9 pembekalan intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 yang mengangkat tema “Urgensi Literasi Bagi Diri Sendiri dan Kemajuan Bangsa”. Kegiatan ini menghadirkan Al-Ustadz Ahmad Rifai Rif’an, S.T., M.Pd., sebagai pembicara yang menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi berpikir kritis, serta memperluas wawasan. Sehingga harapannya para santri mampu menjadikan budaya membaca dan menulis sebagai bekal utama dalam menghadapi tantangan zaman.

Beliau dikenal luas sebagai penulis best seller Indonesia yang karyanya banyak menjadi rujukan bagi generasi muda. Riwayat pendidikan beliau terbilang unik. Lulusan Sarjana Teknik Mesin dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Beliau kemudian menempuh jenjang Strata 2 di bidang Bahasa dan Sastra. Kombinasi latar belakang teknik ini memberikan warna tersendiri dalam cara beliau menyampaikan materi. Sekaligus menghadirkan inspirasi bagi para siswa.

Dalam pemaparanya beliau menjelaskan urgensi literasi bagi diri sendiri dan kemajuan bangsa. Kualitas suatu bangsa dapat kita tentukan dengan populitas peminat literasi. Di era globalisasi ini literasi tidak hanya dimaknai membaca dan menulis akan tetapi lebih dari pada itu. Literasi adalah memahami, menganalisi juga bijak dalam menelaah informasi.

Pada sesi tersebut, beliau juga menekankan literasi sebagai sarana pembentukan karakter. Siswa yang terbiasa membaca, menganalisis, dan menulis, akan memiliki wawasan luas sekaligus sikap yang beretika dalam menyikapi permasalahan sehari-hari. Hal ini menjadi modal penting bagi kemajuan bangsa, karena generasi yang literat secara intelektual dan moral akan mampu memimpin perubahan positif di masa depan.

Acara yang berlangsung interaktif ini juga memberi kesempatan bagi para siswa untuk bertanya dan berdiskusi langsung dengannya. Gaya komunikatif dan bahasa yang ringan namun kaya makna, materi yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kontributor: Faza, Kholis, Afgan, Abhiraj
Editor: Winka, Alif, Ghazi

Ketekunan Membuka Jalan: Pesan Inspiratif untuk Siswa Kelas Akhir KMI 2026

0

Sesi ke-11 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 berlangsung pada Sabtu (21/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Al-Ustadz Prof. Dr. K.H. Husnan Bey Fananie, M.A.,. Selaku anggota Badan Wakaf PMDG, cendekiawan Muslim, akademisi, diplomat, dan mantan Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan. Kehadiran beliau menjadi momen penting bagi para santri untuk menyerap pengalaman akademik, spiritual, dan profesional yang luas.

Berbeda dengan lainya, pada awal kedatangan Siswa Kelas Akhir KMI 2026 dikejutkan dengan alat musik yang tersedia di atas panggung. Pemaparan yang begitu memberi motivasi besar untuk menghadapi kehidupan di luar sana. Mulai bagaimana sejarah berdirinya PMDG hingga kisah perjalanan yang sangat inspiratif.

Perjalanan akademik beliau diawali pada tahun ketiga masa pengabdian di PMDG. Dedikasi dan ketekunan membuka kesempatan bagi beliau untuk menempuh studi Strata 1 di Universitas Punjab, Lahore, Pakistan. Tidak berhenti di sana, beliau melanjutkan studi di Universiteit Leiden, Belanda. Hingga meraih gelar doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Seluruh proses pendidikan ini ditempuh dengan komitmen tinggi dan sikap pantang menyerah terhadap segala rintangan.

Dalam sesi pembekalan, beliau menekankan bahwa prinsip konsistensi dan ketekunan adalah kunci untuk meraih keberhasilan. Semua rintangan akademik maupun tantangan hidup dapat diatasi dengan ketekunan, kesabaran, dan fokus pada tujuan. Pesan ini menjadi uswah yang layak diteladani oleh seluruh Siswa Kelas Akhir KMI 2026. Agar mampu menghadapi masa depan dengan keyakinan dan semangat yang tinggi.

Kehadirannya menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa pendidikan, spiritualitas, dan ketekunan adalah fondasi penting dalam meraih prestasi. Dari pengalaman beliau, santri belajar bahwa kesulitan awal bukan penghalang untuk sukses. Sikap pantang menyerah akan selalu membuka jalan bagi pencapaian yang lebih besar.

Kontributor: Faza,Edsel,Fayadh,Omar
Editor: Winka, Alif, Ghazi

Penguatan Fikih Praktis Melalui Materi Pengurusan Jenazah, Khitan, dan Nikah

0

Rabu (18/2) menjadi momentum berharga bagi Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) 2026, The Brilliant Generation. Pada sesi ke-6 pembekalan intensif, mereka kembali menambah khazanah keilmuan melalui tema yang sangat aplikatif dalam kehidupan umat, yaitu “Pengurusan Jenazah, Khitan, dan Nikah.”

Kegiatan ini menghadirkan Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A., dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, sebagai narasumber utama. Diikuti oleh seluruh santri kelas akhir dari berbagai kampus, sesi ini bertujuan memperkokoh pemahaman syariah, khususnya dalam aspek fikih kehidupan yang kelak akan mereka hadapi saat terjun di tengah masyarakat.

Dalam Presentasinya Al‑Ustadz Mulyono Jamal memaparkan bahwa pengurusan jenazah merupakan salah satu bentuk fardhu kifayah. Secara umum, tata cara tersebut meliputi memandikan jenazah, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkannya. Proses memandikan jenazah dianjurkan dilakukan oleh orang Muslim yang berakal dan baligh. Berbagai ilmu yang beliau merupakan pengalaman yang beliau dapatkan selama masa studi yang cukup lama.

Selanjutnya, beliau membahas khitan bagi anak laki-laki, khitan merupakan sunnah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW. Khitan telah menjadi tradisi penting umat Islam sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Menurut sejarah, Nabi Ibrahim AS melaksanakan khitan atas perintah Allah sebagai simbol kesucian dan ketaatan. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW sejak kecil sebagai sunnah fitrah bagi umat Islam. Pelaksanaan khitan dianggap sebagai tanda kepatuhan dan menjaga kebersihan diri sesuai syariat. Hingga kini, khitan tetap menjadi praktik umum bagi umat Muslim di seluruh dunia. Pelaksanaanya harus memperhatikan kesehatan, keselamatan, dan dilakukan tenaga kompeten.

Beliau menjelaskan bahwasanya hakikat hukum nikah dalam Islam yang merupakan ikatan ibadah. Pernikahan harus dilaksanakan dengan memenuhi rukun dan syarat sahnya yakni adanya ijab dan qabul di hadapan saksi. Dicacat resmi dalam lembaga kenegaraan. Walau berbagai campuran adat yang ada di Indonesia tidak menghalangi esensitas nikah menurut syariat Islam.

Kontributor: Faza, Kholis, Afgan Editor: Winka, AlifGhazi

Tantangan Pemikiran Barat Jadi Fokus pada Sesi Ketujuh Pembekalan KMI 2026

0

Pembekalan intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 sesi ke-7 menghadirkan tema “Liberisasi dan tantangan pemikiran barat terhadap Islam”. Berlangsung pada Kamis (19/2), di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Materi disampaikan oleh Al-Ustadz Prof. Dr. K.H Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. selaku Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Dalam paparannya, beliau menjelaskan tentang pengaruh liberalisasi juga pemahaman barat yang memerangi pandangan Islam. Selain itu Pluralisme, Sekularisme, Feminisme dan berbagai pemahaman yang melenceng turut menjadi pembahasan dalam materi tersebut.

Pada awal pembicaraan beliau langsung menyinggung  peristiwa 9/11. Beliau turut menjelaskan teori konspirasi yang menyatakan runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) akibat pengeboman terkontrol, bukan benturan pesawat. Narasi tersebut, ujarnya, digunakan untuk menuduh Islam sebagai agama teroris dan membuka penorobosan terhadap negara-negara Islam dengan dalih perang melawan terorisme.

Beliau juga menyinggung bagaimana dunia melawan terorisme. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga melalui pendekatan non-fisik berupa regulasi dan perubahan pola pikir. Dalam pemaparannya, liberalisme dijelaskan sebagai paham kebebasan yang mendorong penyingkiran agama dari politik dan kehidupan publik. Beliau merinci sejumlah cabang pemikiran liberal, seperti pluralisme agama, sekularisme, feminisme dan kesetaraan gender, humanisme, serta demokratisasi.

Pluralisme agama, menurutnya, berbahaya karena menempatkan semua agama sama benarnya sehingga dapat menggoyahkan keyakinan seorang Muslim. Sementara sekularisme dinilai membuang agama dari ranah ilmu dan politik. Adapun feminisme radikal disebutnya berpotensi merombak struktur keluarga dan mendukung gerakan LGBT. Beliau juga mengingatkan agar para santri berhati-hati dalam berdakwah, karena tantangan pemikiran sering kali muncul.

Menutup sesi, beliau menegaskan bahwa kebebasan dalam Panca Jiwa Gontor bukanlah kebebasan beragama, melainkan kebebasan sosial dan kebebasan menentukan masa depan dengan tetap berlandaskan budi pekerti luhur dan pengetahuan luas.

Kontributor: Faza, Kholis, Afghan, Abhiraj

Editor: Winka, AlifGhazi