Home Blog Page 467

KML Siapkan Pembina Pramuka Mumpuni di Gontor Putri

0
Suasana KML di Gontor Putri 1
Suasana KML di Gontor Putri 1

SAMBIREJO–Diikuti sekitar 618 peserta, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 melaksanakan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML). Acara yang berlangsung selama seminggu itu dimulai pada hari Ahad (18/1) hingga Sabtu (24/1) kemarin, berlokasi di bumi perkemahan kampus Gontor Putri 1. Sebagian besar peserta terdiri dari santriwati yang duduk di kelas 6 Kulliyatu-l-Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI), walaupun ada beberapa peserta dari kalangan alumni. Sedangkan para pelatih berasal dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Ngawi dan beberapa guru Gontor yang telah bersertifikat pelatih.

Kursus Pembina Pramuka ini diperuntukkan bagi mereka yang akan membina peserta didik secara langsung, yaitu para Pembina Pramuka dan Pembantu Pembina Pramuka. Namun, untuk pengkaderan, Pramuka Penegak dan Pandega pun bisa mengikuti kursus pembina, terutama Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD). Di Gontor, kelas 5 dan kelas 6 sudah bertindak sebagai Pembantu Pembina dan Pembina Pramuka. Biasanya, kelas 5 diwajibkan mengikuti KMD, sedangkan KML hanya diikuti kelas 6 yang berminat saja, dengan syarat memiliki sertifikat atau ijazah KMD.

Kedua tingkat kursus pembina tersebut merupakan satu kesatuan utuh, meskipun pelaksanaannya bertahap. Ada kegiatan yang disebut masa pengembangan di antara pelaksanaan keduanya, yaitu kesempatan bagi peserta untuk mencoba melaksanakan apa yang diterimanya selama mengikuti KMD. Minimal, masa ini dijalani selama enam bulan sebelum mengikuti KML.

Tujuan utama kedua kursus itu adalah mengarahkan para Pembina Pramuka agar dapat membina peserta didik sesuai dengan hakikat Gerakan Pramuka disertai penggunaan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan. Sedangkan tujuan KML secara khusus adalah untuk memberi bekal pengetahuan lanjutan dan pengalaman praktis membina Pramuka melalui kepramukaan dalam satuan Pramuka, meliputi perindukan siaga, pasukan penggalang, ambalan penegak dan racana pandega. Selain itu, KML juga bertujuan agar para Pembina Pramuka mampu menerapkan nilai-nilai kepramukaan secara efektif dalam membina Pramuka sesuai dengan golongannya. Setelah mengikuti KML, mereka juga diharapkan dapat menjelaskan secara luas dan mendalam prinsip dasar kepramukaan, metode kepramukaan, kode kehormatan pramuka, kiasan dasar kepramukaan, dan motto kepramukaan.

Materi KML sendiri disajikan dengan pendekatan andragogi. Maksudnya, pelaksanaan KML berfokus pada pembelajaran diri interaktif progresif, dengan melibatkan peserta secara langsung dalam proses pembelajaran. Lebih jelasnya, metode yang digunakan dalam pembelajaran tersebut meliputi dinamika kelompok, diskusi kelompok, curah gagasan, metaplan (kegiatan diskusi untuk menggali ide atau pendapat masyarakat tentang suatu masalah secara individu, dan membangun komitmen pendapat atas hasil individu sebagai keputusan kelompok secara bertahap), studi kasus, kerja kelompok, demonstrasi, bermain peran, dan melakukan berbagai kegiatan praktik (kesiagaan, kepenggalangan, kepenegakan, kepandegaan, scouting skill, dan permainan).

Kepramukaan memang pendidikan nonformal yang sistematis dan lengkap. Keempat “soko guru” pendidikan terdapat di dalamnya, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar berbuat (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together) dan belajar menjadi seseorang (learning to be). Karena itulah, kepramukaan menjadi bagian tak terpisahkan dari totalitas pendidikan pondok dengan dilengkapi nilai-nilai keislaman. Sesuai mottonya di Gontor, we are scout but we are Moslem.*elk

LATIH KEMAMPUAN SANTRI DALAM BERBAHASA DAN MENTAL PERCAYA DIRI

0

Mantingan- Ahad (18/01) aktivitas extrakulikuler latihan pidato di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 telah dimulai kembali. Berkat kerja keras bagian Pengajaran OPPM, kelompok pidato yang baru akhirnya berhasil disusun.

Latihan pidato yang diadakan setiap hari ahad dengan bahasa Inggris, kamis dengan bahasa Arab pada siang hari, dan bahasa Indonesia pada malamnya bertujuan untuk melatih kemampuan santriwati dalam berbahasa serta mental, keberanian, dan kepercayaan diri yang akan menjadi bekal mereka dalam menapaki kehidupan di luar pondok setelah resmi menjadi alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2, karena merekalah tunas-tunas bangsa, wanita-wanita solihah, serta qudwah hasanah bagi masyarakat sekitar dan Tanah Air Indonesia.LA

AWALI PELAJARAN SORE DENGAN PENUH SEMANGAT

0

Mantingan-Derap langkah penuh semangat para santriwati mengawali pelajaran sore akhir tahun yang telah dimulai pada Sabtu (17/01). Berhias wajah ceria ingin menyambut serunya pelajaran sore mereka yang baru pada semester 2 akhir tahun ini.

Pelajaran Sore merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti oleh santriwati kelas satu sampai dengan kelas empat KMI kerena merupakan salah satu kegiatan sunnah Pondok Modern Gontor. Tujuan diadakannya pelajaran sore adalah untuk meningkatkan wawasan santriwati dibidang akademik yaitu sebagai pelajaran tambahan atas pelajaran pokok yang dipelajari pada pagi hari, selain itu bisa dikatakan bahwa kegiatan ini merupakan wadah pelatihan bagi santriwati kelas enam dalam belajar mengajar sebagai persiapan ujian amaliyatu-at-tadris (ujian praktek mengajar) yang akan mereka hadapi sebagai ujian akhir. Merupakan salah satu tujuan Pondok Modern Gontor sebagai persemaian guru-guru muslim yang bermutu lagi berkualitas dengan mengeluarkan alumni-alumni yang mampu mengajarkan kebaikan dan menyebarkan keberkahan bagi dunia seperti sabda Rasullah SAW “ إنما بعثت معلما      ….sesungguhnya aku diutus untuk mengajar” maka, sungguh sebuah keistimewaan bagi kita jika dapat mengamalkan salah satu sunnah Rasulullah SAW yaitu mengajar.

PRINCESS AND QUEEN SELECTION

0

Rabu (14/1) Selepas shalat dzuhur tepat pukul 13.45 wib, santriwati menempati kelas masing-masing yang sudah disediakan oleh pengurus OPPM bagian bahasa Bel berdering menandakan dimulainya waktu ujian. Santriwati mengerjakan soal ujian seleksi dalam kompetisi princess of language dan queen of language gelombang pertama dengan khidmat. Seleksi yang diikuti oleh santriwati kelas 1 sampai kelas 4 ini diawasi oleh beberapa panitia dari kelas 6.

Kompetisi ini dibagi menjadi dua kelompok, Princess of Language untuk kelas 1, 1 intensive dan kelas 2 (sighar), dan Queen of Language untuk kelas 3, 3 intensive dan kelas 4 (kibar). Seleksi bertujuan untuk melihat kemampuan bahasa santriwati dari penerapan nahwu, sharaf, grammar, dan penguasaan kosa-kata oleh santriwati, hingga layak mengikuti gelombang selanjutnya dalam kompetisi ini.

Diharapkan dengan kompetisis ini, terpiculah semangat santriwati untuk meningkatkan pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari, seperti motto Gontor ”Language is our Crown”. Vie

suasana ujian seleksi
suasana ujian seleksi
suasana ujian seleksi
suasana ujian seleksi
suasana ujian seleksi
suasana ujian seleksi

Santriwati Multitalenta Nan Solehah Demi Peradaban Dunia

0

Mantingan-Alunan lembut musik mengiringi langkah-langkah para finalis duta keputrian pada Jum’at 23/1 menuju panggung kehormatan. Bak putri sehari, para finalis yang merupakan 2 perwakilan dari setiap rayon diharuskan mengenakan kostum yang bertemakan wedding gown dan the princess of fairy tale. Dengan penuh keyakinan serta bakat dalam diri, melangkahlah putri-putri siti-l-kulli ini menuju kompetisi sesungguhnya di panggung final Duta Keputrian 2015, setelah melalui proses seleksi ketat selama 2 gelombang di rayonnya masing-masing.

Acara Duta Keputrian 2015 diawali dengan perkenalan masing-masing finalis yang dibagi menjadi 2 kriteria yaitu shigor (junior) dan kibar (senior).Kemudian, acara dilanjutkan dengan kompetisi yang terdiri dari 6 babak, babak pertama merupakan pertanyaan tertulis bagi masing-masing peserta, babak kedua sesi pertanyaan rebutan, babak ketiga presentasi hasil karya peserta yang telah ditentukan panitia, babak keempat pembuatan hasta karya secara singkat, babak kelima showing talent masing-masing peserta, dan terakhir showing gown masing-masing peserta.

Acara yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini berjalan dengan lancar disertai dengan antusiasme yang tinggi dari masing-masing pendukung, bakat- bakat pun ditampilkan secara menarik oleh masing-masing peserta. Akhirnya, setelah penghitungan nilai dan musyawarah oleh dewan juri keluarlah Duta Keputrian Gontor Putri 2 2015 kategori kibar (senior) yaitu Istiqomah/3 Int B perwakilan rayon Madinah, disusul oleh Putri Awalia Dhea Ananda Ulfiani/4C perwakilan rayon Iskandaria B dan Siti Nur Aini/4 C perwakilan rayon Yerussalem sedangkan untuk kategori sighor (junior) adalah Pricilya/3 B perwakilan rayon Iskandaria A lalu Cava Billah/3 B perwakilan rayon Yerussalem dan Amalia Nur Afasa/3 B perwakilan rayon Iskandaria B. Para Duta Keputrian berpesan “Galilah ilmu sebanyak-banyaknya, kembangkanlah bakatmu dan giatkan ibadahmu untuk mewujudkan alumni-alumni Gontor Putri yang siti-l-kull nan solehah”Amiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.amee

Sehat Jasmani Berasas Gontori

0

Jum’at 16/1-pagi yang cerah mengiringi barisan rapi santriwati Gontor Putri 2 di lapangan hijau Gontor Putri 2 dalam acara pembukaan Gontor Cup 2015. Acara yang merupakan acara tahunan ini dihadiri segenap dewan guru dan seluruh santriwati dengan penuh suka cita. Acara dibuka dengan pemotongan pita dan pemukulan gong sebagai tanda resmi dibukanya acara tersebut. Sebagai lomba pembuka diadakan lomba tarik tambang antar asatidz yang disambut antusiasme luar biasa oleh para santriwati.

Gontor Cup merupakan acara perlombaan bertemakan olahraga yang terdiri dari berbagai macam perlombaan seperti pertandingan Basket, Voli, Badminton, Pencak Silat, Senam, Mading Olahraga, Cheerleaders dan Miss Sport. Dengan tiga kriteria perlombaan yaitu antar rayon, angkatan, serta klub olahraga. Diadakan setiap sore selama 1 minggu dimulai tanggal 16/1 hingga 23/1. Kegiatan ini dipanitiai seluruh santriwati kelas 6 yang diketuai oleh Ikrima Sazkia Gemanty/6C , Lidya Nur Eka Safitri/6C dan Aisyah Rahman/6 D.

“Maha suci Allah yang telah menciptakan sebuah gerakan menjadi energi. Melalui olahraga yang merupakan sistematika kerja otak, otot dan hati raih kesehatan jasmani yang berasaskan Gontori” merupakan salah satu kalimat dalam pidato ketua Gontor Cup Ikrima Sazkia Gemanty/6C. Dalam pidatonya ia berharap bahwa kegiatan ini dapat memberikan banyak manfaat khususnya kesehatan dan kebugaran jasmani para santriwati serta menambah kesemangatan dalam menjalani kehidupan di Gontor Putri 2. Karena jiwa yang sehat terletak pada jasmani yang sehat atau seperti yang sering diucapkan banyak kalangan Men Sano In Corpore Sano.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah pada Jum’at pagi 23/1 selepas senam bersama di depan gedung Beirut. Sebuah medali serta hadiah sederhana diberikan pada para pemenang sebagai penghargaan atas kemenangannya dalam perlombaan. Bukanlah kemenangan atas suatu kompetisi yang terpenting, akan tetapi partisipasi serta proses seseorang dalam suatu kompetisilah yang terpenting, karena di dalamnya seseorang akan berusaha dengan giat untuk mencapai keinginannya serta belajar bersyukur atas kemenangannya dan belajar untuk ikhlas jika menemui kekalahannya.amee

Gontor dan Kreativitas

0
Penampilan Pentas Seni "Drama Arena"
Penampilan Pentas Seni “Drama Arena”

Rasa heran dan kagum akan menyelimuti orang yang pertama kali menyaksikan pentas seni santri pada puncak acara pekan perkenalan pondok. Tidak terkecuali santri-santri baru. Mereka juga akan terpukau melihat pertunjukan seni kolaboratif kakak kelas mereka, yang dikenal dengan istilah “Drama Arena” atau “Panggung Gembira” itu.

Tentu saja mereka bertanya-tanya sekaligus takjub dengan kemampuan santri menampilkan hasil kreativitas berkelas di atas panggung megah dan meriah. Orang-orang yang baru pertama kali melihat pagelaran seni ini seakan tidak percaya kalau santri-santri bisa menampilkan kreasi memukau dengan cita rasa seni yang tinggi, bahkan mengusung misi Islami. Jika mereka tahu prosesnya, maka keheranan itu tidak akan menghampiri. Hanya kekaguman dan kesyukuran di hati melihat generasi muda yang kreatif terlahir dari dunia pesantren.

Melalui pentas seni terbesar di awal tahun itu, Gontor memperlihatkan kepada dunia bakat dan potensi santri. Mereka tidak hanya pandai mengaji dan rajin ke masjid. Mereka juga tidak hanya pandai berpidato atau ceramah di depan jamaah. Akan tetapi, mereka adalah generasi muda kreatif yang memiliki segala potensi dan keterampilan. Sehingga, bisa berdakwah di jalan masing-masing sesuai keahlian dan keterampilan yang dimiliki.

Gontor telah mempersiapkan mereka sejak dini dengan menggali potensi dan bakat masing-masing. Tidak bisa dipungkiri, setiap santri memiliki minat dan bakat yang beragam. Jika tersalurkan dan dikelola dengan baik, maka lahirlah manusia-manusia kreatif dan inovatif. Beberapa santri telah menyadari minat dan bakatnya sejak awal masuk pondok, tapi tidak sedikit yang bakatnya masih terpendam, minatnya pun masih belum jelas. Di sinilah Gontor berperan mengembangkan bakat dan minat santri-santrinya, sekaligus menggali potensi terpendam yang tak pernah disadari oleh mereka.

Gontor dan Kreativitas 3Untuk itu, Gontor berupaya menyediakan segala sarana yang menunjang kreativitas santri-santri. Mereka yang memiliki minat di bidang seni kaligrafi bisa mengikuti kursus bersama Asosiasi Kaligrafer Darussalam (Aklam). Berbagai hiasan kaligrafi yang bisa dilihat di berbagai tempat di Gontor merupakan kreasi anak-anak Aklam. Sebenarnya, seni kaligrafi yang dibina Aklam adalah pengembangan dari pelajaran khat di kelas. Sedangkan santri yang suka menggambar dan melukis atau membuat ornamen-ornamen indah dan berbagai kerajinan tangan bisa bergabung dengan Lintas Imajinasi Santri (Limit) atau Gabungan Santri Terampil Darussalam (Gastrada). Biasanya, hasil kesenian dan keterampilan mereka tersimpan rapi di dalam ruangan khusus yang disebut Art Gallery.

Sementara untuk menggali potensi santri di bidang musik, Gontor membentuk Darussalam Musicians (DAMS) Family dan Seni Hadrah Darussalam (Senhada). Melalui kedua kursus seni musik ini, santri-santri dapat mengembangkan bakat mereka dalam olah vokal atau memainkan berbagai alat musik. Lebih dari itu, mereka mampu membuat lagu sendiri hingga terbentuk album. Gontor juga memiliki grup nasyid yang dikenal dengan “Ansyada”. Grup nasyid ini telah meluncurkan beberapa album yang dikenal luas oleh masyarakat.

Penampilan MBGND
Penampilan MBGND

Selain grup nasyid, Gontor juga membentuk grup marching band yang dinamakan MBGND atau Marching Band Gema Nada Darussalam. Selama perjalanannya, MBGND berhasil membangun reputasi dan telah memiliki prestasi yang membanggakan. Di antaranya, Marching band milik Gontor ini pernah menjuarai Hamengku Buwono (HB) Cup pada tahun 1999 dan 2001. Pada tahun 2003, saat kembali mengikuti HB Cup di lapangan Mandala Krida Yogyakarta, MBGND meraih Juara I Lomba Parade, Juara I Colour Guard, dan Juara II Divisi A. Kemudian MBGND berhasil meraih Juara II kategori Colour Guard di Senayan saat mengikuti Grand Prix Marching Band (GPMB) 2005. Lebih dari itu, MBGND pernah mendapat undangan dari Presiden RI untuk tampil dalam Parade Senja di Istana Merdeka pada tahun 2002.

Ada juga seni bela diri yang dikembangkan Persatuan Bela Diri Darussalam (Perbeda). Jenis bela diri yang diajarkan di Gontor menyerupai pencak silat, sesuai dengan budaya asli Indonesia.

Kejuaraan Perbeda di Gontor
Kejuaraan Perbeda di Gontor

Akan tetapi, gerakannya lebih variatif. Santri-santri terlihat gagah dengan baju resmi Perbeda berwarna merah itu. Mereka berlatih setiap sore untuk menguasai berbagai jurus dan variasi gerakan.

Untuk seni teater, santri-santri bisa mengikuti kursus yang diadakan Association of Reanimation Moslem Artist Darussalam (ARMADA). Di sini mereka bisa mengasah bakat di bidang seni peran. Ada latihan menjadi lakon dalam sebuah drama, seperti drama komedi dan pantomim. Selain itu, di Armada juga diajarkan membuat puisi sekaligus membaca atau mendeklamasikannya. Melalui kursus ini, santri bisa berekspresi semaksimal mungkin, tapi tetap dengan nafas keislaman.

Masih banyak ragam kreativitas santri dalam berbagai bidang seni dan keterampilan di Gontor. Jadi, bisa dikatakan, apapun bakat dan minat santri dapat tersalurkan dan terasah dengan baik di Gontor. Dengan syarat, mereka bersungguh-sungguh dan terlibat aktif mengikuti setiap program pondok.

Dalam menggali dan mengasah bakat santri, Gontor memberi keleluasaan untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki. Seorang santri boleh saja mencoba satu per satu kursus yang ada di Gontor, hingga menemukan keahliannya yang belum tergali. Selain itu, santri-santri juga bisa berinovasi mengembangkan kreativitas mereka. Apalagi, jika ada di antara mereka yang telah memiliki kreativitas mumpuni sebelum masuk Gontor, maka ia akan mengajari santri-santri yang lain, membuat kesenian dan keterampilan di Gontor makin berkembang.

Gontor dan Kreativitas 4Terbinanya kreativitas santri di Gontor dengan inovasi tiada hentinya membuat pondok ini seperti lahan berkreasi. Muncullah santri yang pandai di berbagai bidang seni dan keterampilan. Jangan heran lagi jika terdapat santri Gontor yang mampu menghasilkan kaligrafi indah seperti terukir di bangunan-bangunan megah Timur Tengah. Jangan pula kaget jika menemukan santri Gontor yang bisa membuat lukisan sekelas Pablo Picasso. Atau, bisa jadi Anda akan menemukan seorang musikus dari Gontor yang setara dengan musisi legendaris Johann Sebastian Bach, atau setidaknya sekelas Iwan Fals dan Rhoma Irama.

Namun, yang paling penting, melalui berbagai kreasi itu santri bisa berdakwah menyebarkan Islam. Memasukkan nilai-nilai Islam di dalam berkreasi akan memudahkan proses Islamisasi karena seni bisa menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Di Gontor, seni bukan untuk seni, tapi seni untuk Islamisasi.*elk

 

Gontor Tampilkan Kreasi Santri dalam Sebuah Pameran

0
Stan Pameran Klub Olahraga
Stan Pameran Klub Olahraga

GONTOR–Hari ini, Jum’at (23/1), Pondok Modern Darussalam Gontor menggelar pameran seni dan keterampilan, serta olahraga. Acara yang dilaksanakan Bagian Kesenian dan Olahraga Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) ini dikenal dengan istilah “Art, Handicraft, and Sport Show”. Peserta pameran terdiri dari berbagai kursus seni dan keterampilan serta klub-klub olahraga yang ada di Gontor.

Pameran berlokasi di dua tempat. Untuk bidang seni dan keterampilan, pameran berlangsung di dalam aula pondok atau Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Sedangkan pameran klub-klub olahraga santri mengambil tempat di depan BPPM, tepatnya di halaman Gedung Aligarh, salah satu asrama santri baru yang berlantai dua. Halamannya memang luas, bahkan dijadikan lapangan futsal, bola voli, dan sepak takraw.

Di sela-sela pameran, para pengunjung yang melihat-lihat hasil kreativitas santri di dalam aula disuguhi pertunjukan seni dan keterampilan. Salah satunya adalah penampilan musikal dari kursus seni musik dan pertunjukan teatrikal dari kursus seni teater. Selain itu, ada juga lomba kaligrafi yang boleh diikuti siapa saja, namun terbatas. Lomba ini diadakan kursus seni kaligrafi di tengah-tengah aula tempat pameran. Tak mau ketinggalan, Persatuan Bela Diri Darussalam (Perbeda) juga menampilkan seni bela diri di atas panggung BPPM.

Pameran itu sungguh ramai dipadati pengunjung. Dari pagi hingga sore, santri-santri berdatangan menyaksikan hasil karya teman-teman mereka, atau bisa juga melihat-lihat karya mereka sendiri. Ada juga yang sengaja datang untuk mendaftarkan diri menjadi peserta kursus seni dan keterampilan, atau menjadi anggota salah satu klub olahraga. Memang, selain memperkenalkan kursus-kursus bidang kesenian dan keterampilan serta klub-klub olahraga, pameran ini juga menyelenggarakan pendaftaran bagi santri yang berminat mengikuti kursus seni, kursus keterampilan, atau klub olahraga.

Sesuai bakat dan minatnya, santri bisa mengikuti apa saja. Ia boleh mengikuti kursus seni kaligrafi sekaligus menjadi anggota klub olahraga cabang tenis meja. Ia bisa menjadi peserta kursus seni musik sekaligus terdaftar sebagai peserta kursus keterampilan membuat janur mahakam atau keterampilan membuat akuarium. Bahkan, seorang santri boleh saja mengikuti semua jenis kursus itu asalkan ia pandai mengatur waktu. Gontor selalu membuka peluang bagi mereka untuk menggali potensi dan berkreasi.*elk

Ust. H. Muhammad Hudaya, Lc. M.Ag: Gontor Mendidik Kita Untuk Selalu Dinamis

0

Peace Country- Gontor selalu mengajarkan para santrinya untuk selalu bergerak secara dinamis. Setelah berbagai upaya stabilisasi kegiatan akademis usai liburan awal tahun terlaksana, kali ini disusul dengan upaya-upaya untuk menciptakan stabilitas kegiatan non akademis. Karena tidak dipungkiri bahwa pendidikan di Gontor tidak hanya terbatas di kelas, namun juga berbentuk kegiatan-kegiatan di luar kelas.

Penampilan pecah belah PERBEDA
Penampilan pecah belah PERBEDA

Salah satu upayanya adalah dengan mengadakan acara “Art, Handycraft, & Sport Show”, di mana kursus-kursus  kesenian dan club olahraga membuka stand pendaftaran bagi para santri yang belum sempat mengikuti beragam ekstrakulikuler yang ada pada awal tahun. Acara tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at (16/01), dan dibuka oleh Ust. H. Muhammad Hudaya, Lc. M.Ag.

Dalam sambutannya beliau menuturkan bahwa Gontor mendidik kita untuk selalu dinamis, yang berarti selalu melakukan gerakan terus menerus. Pergerakan tersebut tidaklah di tempat, gerakan ke depan, bukan ke belakang”, yang berarti kita sebagai manusia jangan sampai berhenti bergerak dan berbuat.

Gorda Band ikut memeriahkan Art Show
Gorda Band ikut memeriahkan Art Show

Pameran yang dilaksanakan selama setengah hari tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan dari PERSADA, PERBEDA, dan STIRDA. Dengan demikian, diharapkan para santri mampu mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki.

 

Gontor dan Bahasa

0

Gontor dan BahasaBahasa adalah mahkota pondok, demikian kata-kata yang sering disampaikan penggerak bahasa di Gontor. Dalam istilah lain, language is our crown atau al-lughatu taaju-l-ma’hadi. Ibarat mahkota, bahasa menjadi simbol kehormatan dan kebanggaan Pondok Modern Darussalam Gontor. Maklum, Gontor memang dikenal sebagai pondok yang mengembangkan bahasa Arab dan bahasa Inggris secara konsisten. Sehingga, Gontor sering mendapat julukan laboratorium hidup untuk kedua bahasa asing tersebut.

Penerapan bahasa Arab dan Inggris di pondok ini tidak terlepas dari sejarah lahirnya Gontor. Saat itu Trimurti bercita-cita mencetak generasi yang tidak hanya pandai di bidang agama, tapi juga pandai di bidang keilmuan lainnya. Mereka bertiga menyadari kelemahan umat Islam pada waktu itu. Saat Indonesia diundang menghadiri Muktamar Islam Sedunia yang akan diselenggarakan di Makkah pada tahun 1926, tidak ada satu pun tokoh Islam negeri ini yang menguasai dua bahasa asing sekaligus dengan sama baiknya. Padahal, syarat keikutsertaan dalam agenda besar tersebut minimal pandai berbahasa Arab dan Inggris. Akhirnya, terpilihlah K.H. Mas Mansur yang pandai berbahasa Arab bersama H.O.S. Cokroaminoto yang menguasai bahasa Inggris untuk mewakili umat Islam Indonesia.

Dari sinilah, Trimurti bertekad membuat lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan tokoh-tokoh dengan kedua kriteria itu. Bahasa Arab sebagai kunci untuk menguasai ilmu-ilmu keislaman dan bahasa Inggris menjadi sarana untuk memahami ilmu-ilmu umum atau sains. Dengan penguasaan kedua bahasa ini, Trimurti berharap alumni Gontor tidak hanya menjadi ulama yang tahu ilmu agama, tapi juga menguasai sains dan ilmu-ilmu lainnya. Dalam istilah lain, Gontor mampu mencetak ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama.

Sejak berdirinya, Gontor sudah mengajarkan kedua bahasa asing tersebut. Secara bertahap, bahasa Arab dan Inggris berkembang. Untuk menunjang perkembangannya, pengajaran di kelas menggunakan bahasa Arab dan Inggris, sesuai pelajarannya. Buku-buku materi berbahasa Arab tidak boleh diterjemahkan ke bahasa Indonesia, demikian pula buku-buku pelajaran bahasa Inggris. Kedua jenis pelajaran ini harus disampaikan menggunakan bahasa aslinya. Inilah yang disebut Gontor dengan thariqah mubasyirah.

Metode ini diterapkan sepenuhnya mulai kelas 2 KMI. Di kelas satu, beberapa pelajaran keislaman masih menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, khusus untuk pelajaran bahasa Arab yang menggunakan buku “Durusu al-Lughah al-‘Arabiyah” karya K.H. Imam Zarkasyi dan H. Imam Syubani wajib disampaikan dengan bahasa Arab. Pelajaran bahasa Inggris juga demikian.

Di asrama, santri-santri harus menggunakan bahasa Arab atau Inggris dalam setiap percakapannya. Demikian pula dalam pergaulan mereka dengan santri-santri lain di luar asrama. Ada istilah minggu bahasa Arab dan minggu bahasa Inggris di Gontor, atau diistilahkan juga dalam bahasa Inggris dengan Arabic fortnight and English fortnight. Sedangkan dalam bahasa Arab diberi istilah al-usbu’ al-‘Araby wa al-usbu’ al-Injilizy.

Maksudnya, untuk penerapan kedua bahasa asing tersebut dalam percakapan santri-santri, Gontor menjadwalkannya secara teratur dalam dua mingguan, dua minggu khusus untuk bahasa Arab, dan kemudian berganti bahasa Inggris untuk dua minggu selanjutnya. Biasanya, pergantian bahasa itu berlangsung di hari Jum’at, tepat setelah Maghrib, saat pengumuman harian terkait kegiatan pondok atau santri dibacakan Bagian Penerangan Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Jika pengumuman itu berbahasa Arab, berarti mulai saat itu hingga dua minggu ke depan santri-santri wajib berbahasa Arab. Sebaliknya, jika pengumumannya berbahasa Inggris, berarti mereka telah memasuki minggu bahasa Inggris.

Peraturan ini berjalan dengan disiplin tinggi. Di asrama, santri-santri diawasi para pengurus dari kelas 5. Sedangkan kelas 6 selaku pengurus OPPM, khususnya Bagian Penggerak Bahasa Pusat atau lebih dikenal dengan istilah The Centre for Language Improvement (CLI) dalam bahasa Inggris dan Qismu Ihyȃi al-Lughah al-Markazy dalam istilah Arab-nya, mengawasi jalannya disiplin bahasa di asrama-asrama dan di kawasan pondok secara menyeluruh.

Mereka bertanggung jawab kepada Bagian Pembimbing Bahasa atau Qismu Haiati Isyrȃfi al-Lughah yang dipegang guru-guru pembimbing bahasa. Bagian Pembimbing Bahasa yang dikenal juga dengan istilah Language Advisory Council (LAC) ini mengawasi dan membimbing langsung jalannya disiplin bahasa kelas 6 secara khusus. Seluruh santri tidak diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari mereka, apalagi bahasa daerah, termasuk santri-santri dari kelas 6.

Khusus santri baru, mereka diberi waktu tiga bulan masa percobaan untuk membiasakan diri berbahasa resmi pondok, sebelum benar-benar diwajibkan. Dalam tiga bulan pertama, santri baru masih ditoleransi menggunakan sedikit bahasa Indonesia dalam percakapannya sambil perlahan mempraktikkan bahasa Arab. Biasanya, secara bertahap dalam jangka waktu itu santri baru akan mampu bercakap-cakap ringan dengan bahasa Arab yang sering didengar dan dicontohkan guru di kelas atau kakak kelas 5 di asrama. Tiga bulan selanjutnya, ia sudah harus berhati-hati agar tidak sampai berbicara bahasa Indonesia sepatah kata pun juga. Disiplin bahasa sudah sepenuhnya harus dipatuhi memasuki bulan keempat mereka menjadi santri Gontor.

Pada enam bulan pertama itu, santri baru hanya mempraktikkan percakapan berbahasa Arab. Mereka belum terikat peraturan dua minggu bahasa Inggris. Selama setengah tahun, mereka dibiasakan berbahasa Arab dulu di asrama dan dalam pergaulan sesama santri baru. Barulah pada semester kedua, santri-santri baru mulai mengikuti peraturan berbahasa dwi-mingguan, bahasa Arab dan Inggris secara bergantian.

Setiap pagi, tepat setelah shalat Subuh dan membaca Al-Qur’an, bahasa santri akan diperkaya dengan kosakata baru. Pada waktu itu, setiap asrama diramaikan dengan suara-suara lantang para santri yang menirukan pengurus asrama melafalkan kosakata baru untuk mereka. Kosakata yang diberikan per hari itu seragam berasal dari Bagian Penggerak Bahasa Pusat. Tiap hari santri menerima tiga kosakata baru sesuai tingkatan kelas masing-masing. Santri dari kelas 1 tidak mendapatkan kosakata yang sama dengan santri dari kelas 2. Kosakata untuk kelas 3 juga berbeda dengan kosakata yang diberikan ke kelas 4. Hal yang sama juga berlaku untuk tingkatan kelas lainnya. Pemberian kosakata baru ini disesuaikan dengan minggu bahasanya. Jika hari itu termasuk ke dalam minggu bahasa Arab, maka kosakata yang diberikan kosakata bahasa Arab. Demikian pula sebaliknya.

Agar kosakata-kosakata tersebut melekat kuat dalam ingatan santri-santri, maka mereka diwajibkan menggunakan setiap kosakata untuk membuat tiga kalimat berbeda. Sehingga, minimal mereka mampu membuat sembilan kalimat dari ketiga kosakata baru. Kalimat-kalimat yang tertulis di buku khusus itu diserahkan kepada pengurus asrama dan dikoreksi setiap hari. Inilah yang menunjang perkembangan kemampuan mengarang santri menggunakan bahasa Arab atau Inggris, biasa disebut dengan istilah insya’ atau composition. Selain ditulis, kosakata baru tersebut juga dihapal santri-santri untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Gontor juga menyelenggarakan berbagai macam kompetisi berbasis bahasa sebagai bagian dari program peningkatan bahasa Arab dan Inggris. Lomba drama berbahasa Arab dan Inggris antarasrama adalah salah satu contohnya. Drama bahasa Arab diadakan di awal tahun, sedangkan yang berbahasa Inggris dilaksanakan pada akhir tahun. Ada juga lomba pidato tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Lomba ini bisa diikuti seluruh santri dari kelas 1 hingga kelas 5. Kelas 6 sudah bertindak sebagai panitia penyelenggara dan tidak terlibat lagi sebagai peserta. Setelah mengurus OPPM, mereka sudah harus fokus menghadapi ujian akhir.

Demikianlah pentingnya bahasa di Gontor, laksana mahkota bagi seorang raja. Ia akan menjadi kunci utama untuk memperdalam ilmu pengetahuan, baik selama di pondok ini maupun setelah berada di tempat lain. Selain itu, ada pepatah mengatakan bahwa orang yang mengetahui bahasa suatu kaum atau masyarakat suatu bangsa akan selamat dari tipu daya mereka. Man ‘arafa lughata qaumin, salima min makrihim.*elk