Home Blog Page 25

Laga Basket Hari Pertama: Kediri Tak Beri Celah Untuk Borneo Raya

0

GONTOR — Cabang olahraga (cabor) Basket dalam Turnamen Olahraga Antar PC IKPM se-Dunia mulai berlangsung Kamis (23/10). Laga perdana mempertemukan dua tim kuat, IKPM Kediri dan IKPM Borneo di Gedung Olahraga PMDG, yang berakhir dengan kemenangan telak untuk tim Kediri 39–6.

Pertandingan dimulai pukul 15.00 WIB dengan atmosfer meriah. Kedua tim tampil agresif sejak awal, saling menekan dan mengejar poin. Kuarter pertama ditutup dengan keunggulan tipis Borneo, 4–2. Namun, memasuki kuarter kedua, Kediri bangkit dengan kerja sama tim yang solid, sehingga mampu membalikkan keadaan dan terus memperlebar jarak skor.

Memasuki kuarter terakhir, tensi pertandingan meningkat. Sorak-sorai suporter Borneo Raya tak henti memberi semangat, tetapi Kediri tampil lebih efektif. Tembakan tiga angka dari Yono Nugroho di menit-menit akhir memastikan kemenangan meyakinkan Kediri sekaligus menutup laga pembuka dengan skor telak.

“Saya sangat senang. Ini lomba basket dengan antusiasme paling tinggi selama saya nyantri,” ujar Yono selepas pertandingan.

Sebelum duel tersebut, pertandingan antara IKPM Jakarta 1 melawan IKPM Sumatera Utara juga menjadi sorotan. Jakarta 2 menang telak setelah tampil dominan sejak awal. “Kami rutin bermain setiap minggu. Kalau ada waktu kosong, langsung ke lapangan,” kata Parlaula Harahap, pemain tim Jakarta 1. “Semoga Gontor bisa mengadakan kompetisi seperti ini setiap tahun,” tambahnya

Cabor basket kompetisi ini diikuti 16 tim dari berbagai daerah dan akan berlangsung selama empat hari, 23–26 Oktober 2025. Ajang ini menjadi bagian dari peringatan 100 Tahun Gontor yang dimaksudkan untuk memperart tali silaturrahim antaralumni lintas zaman.

(Berita : Abrar, Ghazi, Foto : Bag. Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor, Reviewer : Winka, Alif)

Related Articles :

Turnamen Olahraga Antar PC IKPM se-Dunia Satukan Alumni PMDG, Bangun Generasi Emas Indonesia

Turnamen Olahraga Antar PC IKPM se-Dunia Satukan Alumni PMDG, Bangun Generasi Emas Indonesia

0

GONTOR – Dalam seremoni pembukaan Turnamen Olahraga Antar PC IKPM se-Dunia pada Kamis (23/10), Kajasdam V Brawijaya, Kolonenl Agus Sulistyo, menyampaikan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) harus menjadi pencetak generasi emas Indonesia.

“Setelah 100 tahun, Gontor telah melahirkan kader umat yang berkiprah di masyarakat. Olahraga di sini bukan sekadar olahraga, melainkan media pendidikan dan perekat umat,” ujar beliau. Kolonel Agus Sulistyo sangat berharap turnamen ini dapat menyatukan hubungan antaralumni di seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Turnamen Olahraga Antar PC IKPM se-Dunia ini sendiri merupakan kompetisi yang mempertemukan ribuan alumnus PMDG yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) dari berbagai penjuru dunia. Puluhan tim siap berlaga dalam beragam cabang olahraga, mulai dari sepak bola, basket hingga futsal.

Riuh sorak peserta dan santri yang memadati area pembukaan di depan Laboratorium Sains PMDG menambah semarak suasana, menandai dimulainya perhelatan akbar yang menjadi bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor.

Selain Kajasdam V Brawijaya, pembukaan turut dihadiri oleh Pimpinan PMDG, Ketua Panitita Peringatan 100 Tahun Gontor, seluruh peserta, serta bapak guru dan santri. Dalam sambutannya, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, selaku Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor menegaskan bahwa turnamen ini bukan sekadar kompetisi olahraga, melainkan wadah mempererat tali silaturrahim antaralumnus.

“Walaupun tidak semua olahragawan, kita bisa berolahraga. Kalau kemarin kita belum bisa masuk Piala Dunia, maka Gontor telah membuat Piala Dunia versinya sendiri,” jelas Ustadz Umam, mengingat bahwa peserta perlombaan ini berasal dari berbagai cabang IKPM di seluruh dunia.

Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal, menutup sambutan dengan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan berpartisipasi. “Selamat datang dan terima kasih (untuk) seluruh (alumnus dan pihak) yang hadir disini,” ucap beliau.

Turnamen Olahraga Antar PC IKPM se-Dunia merupakan simbol nyata kekompakan alumni PMDG. Kompetisi ini diharapkan mampu memperkuat silaturrahim lintas generasi dan menghidupkan semangat kebersamaan dalam bingkai olahraga dan pengabdian.

Berita : Bag. Humas dan Publikasi Peringatan 100 Tahun Gontor
Foto : Bag. Dokumentasi Peringatan 100 Tahun Gontor
Reviewer : Bag. Humas dan Publikasi Peringatan 100 Tahun Gontor

Related Articles :

Gontor Gelar Language Championship, Dorong Santri Kuasai Bahasa Internasional

Wali Band di Malam Anugerah Festival Musik Santri: Gontor Adalah Hadiah untuk Indonesia

Vino G. Bastian: Festival Film Santri 2025 Luar Biasa, Film Buatan Santri Bisa Jadi Tuntunan bagi Masyarakat

Syria Lantai 3 Pulang Sebagai Juara Gontor Olympiad 2025

0

GONTOR – Setelah 6 hari penuh aksi mendebarkan dan semangat sportivitas, Gontor Olympiad 2025 resmi ditutup pada Rabu (22/10) sore dalam sebuah upacara yang berjalan dengan khidmat dan lancar di lapangan Gedung Aligarh.

Upacara penutupan dimulai pada pukul 15.30 WIB setelah shalat ashar. Berbagai macam piala yang tersusun gagah ditampilkan di hadapan seluruh hadirin. Lapangan Gedung Aligarh dipenuhi oleh gemuruh sorakan anggota dan pengurus asrama, klub, gugus depan, dan juga panitia dari bapak guru dan Siswa Kelas Akhir Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) 2026 The Brilliant Generation.

Pimpinan PMDG, Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., meyampaikan bahwa para santri harus bersyukur atas segala hasil yang diraih. “Kalau hari ini belum berhasil jangan berputus asa, kalau hari ini berhasil jangan berbangga,” ujar beliau dalam seremoni penutupan.

Upacara yang digelar megah sukses menggebrak suasana ribuan santri yang tadinya tegang memikirkan siapa yang akan menjadi juara Gontor Olympiad 2025. Kesunyian itu lalu pecah setelah mendegar juara-juara dari setiap divisi, juga pembacaan keseluruhan poin yang telah diraih oleh asrama dan klub maupun sektor selama 6 hari yang penuh perjuangan.

Asrama Syria Lantai 3 berhasil menutup Gontor Olympiad 2025 dengan prestasi membanggakan; menjadi juara umum dengan mengemas 1783 poin. Disusul asrama Syria Lantai 4 sebagai juara favorit.

Gontor Olympiad menjadi bukti bahwa Gontor memiliki visi yang cerah dan misi yang tegas untuk membentuk karakter santri-santrinya. Sehingga mereka dapat menjadi munzirul qoum (pembina masyarakat) dan munqizul ummah (penyelamat umat) di masa yang akan datang. 

(Berita : Faza, Daniel, Foto : Ataya, Kevin Rahmat, Bintang, Reviewer : Winka, Alif)

Related Articles :

Gontor Olympiad 2025 Tanamkan Nilai Kehidupan Lewat Semangat Sportivitas

Khazanah Pendidikan dalam Gontor Olympiad

Tingkatkan Sportivitas Santri Dengan Gontor Olympiad

Ikraamu-l-‘Ilmi wa-l-‘Ulama, Memuliakan Ilmu dan Ulama

0

Ilmu merupakan cahaya yang menerangi kehidupan manusia untuk sampai kepada rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah sangat memuliakan ilmu dan para ulama. Dalam Islam, ilmu menempati derajat yang agung, begitu pula ulama yang menjadi pewaris para nabi. Karena itu, umat Islam mesti memuliakan ilmu dan para ulama karena hal itu merupakan bagian dari adab Islami yang utama dan merupakan bentuk penjagaan terhadap warisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبَابِ (الزمر: 9)

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar ayat 9)

إِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ (فاطر: 28)

Artinya: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun”  (Fathir ayat 28)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ. (رواه أبو داود)

Artinya; “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak. (HR. Abu Dawud)

Dua ayat Alquran dan sebuah hadis di atas adalah sebagian dari sekian banyak dalil mengenai kemuliaan ilmu dan ulama. Hal ini menunjukkan ketinggian derajat ilmu dan ulama di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan hal ini, penting bagi setiap muslim menerapkan Ikraamu-l-‘Ilmi wa al-‘Ulama dalam kehidupan sehari-hari.

Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Drs. KH. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. menegaskan urgensi mengggaungkan penerapan Ikraamu-l-‘Ilmi wa al-‘Ulama (memuliakan ilmu dan para ulama) sebagai dasar kehidupan santri dan seluruh umat Islam. Kemuliaan santri dan umat Islam terletak pada adabnya terhadap ilmu dan ulama.

Akan tetapi, bentuk memuliakan ilmu dan para ulama harus senantiasa ditempatkan dalam bingkai keilmuan yang benar karena banyak umat Islam yang keliru dalam memaknai penghormatan kepada para ulama. Banyak umat Islam yang tidak menghormati ulama sama sekali dan banyak pula yang terlalu memuliakan hingga berubah menjadi pengkultusan.

Karena itu, umat muslim harus menghormati dan mengamalkan ilmu dengan Ikhlas serta memuliakan ulama karena ilmu yang dimilikinya. Konsep Ikraamu-l-‘Ilmi wa al-‘Ulama dapat menjadi ruh yang memberikan semangat keikhlasan kepada santri, wali santri, guru, hingga kiai dalam menjalankan pendidikan dan pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dalam pidatonya, Drs. KH. M Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. menyampaikan:

“Kita perlu menyebarkan Ikraamu-l-‘Ilmi wa al-‘Ulama karena banyak yang belum melakukannya. Ada yang tidak menghormati ulama, ada juga yang malah memuja secara berlebihan. Padahal yang benar, ilmu itu harus dihormati dengan mencari, mempelajari, dan menjadikan ilmu tersebut dasar dalam bertindak. Begitu pula ulama, kita harus menghormatinya karena mereka pembawa ilmu agama. Itulah makna dari Ikraamu-l-‘Ilmi wa al-‘Ulama.”

(Penulis : Akmal, Nashrul Haq | Foto : Dejuan | Penyunting : Taufiq, Winka)

Related Articles :

“Semua Adalah Mujahid”: Amanat Pimpinan PMDG dalam Apel Tahunan Khutbatu-l-‘Arsy

Pentingnya Literasi dalam Bingkai Pendidikan PMDG

Pesantren Bersinergi Menciptakan Pendidikan Islam Demi Terwujudnya Cita-Cita Indonesia Emas 

Gontor Menempa Mental Calon Pemimpin Lewat Public Speaking Contest

0

Pondok Modern Darussalam Gontor sejak lama memegang peran penting dalam mencetak kader pemimpin umat. Salah satu bekal utama seorang pemimpin adalah keberanian berbicara di depan umum dengan gagasan yang matang. Karena itu, Gontor menghadirkan Public Speaking Contest sebagai wadah pendidikan mental, bahasa, sekaligus arena pembuktian diri santri. Perlombaan ini selain mengasah kefasihan santri, juga menanamkan mental berani berdiri tegak di hadapan ribuan pasang mata.

Perlombaan ini hadir dalam tiga bahasa, Indonesia, Arab, dan Inggris. Dalam Public Speaking Contest, para penonton pun ikut terdidik. Mereka terdorong untuk memperdalam kemampuan bahasa setelah menyaksikan teman mereka menyampaikan ide dengan lantang dan penuh keyakinan. Dengan demikian, bukan hanya peserta yang terasah kemampuannya, tetapi seluruh hadirin turut terdidik untuk mendengarkan dengan seksama.

Seleksi peserta dimulai sejak semester pertama. Prosesnya panjang dan melelahkan, namun sarat akan nilai pendidikan. Para finalis ditempa melalui berbagai tahap, hingga berdiri sebagai wakil terbaik dari seluruh santri PMDG. Perjalanan itu melahirkan ketangguhan mental yang tak terbentuk dalam ruang kelas. Dan tak jarang, semangat mereka menjadi inspirasi diam-diam bagi santri lain yang menyaksikan dari kejauhan.

Tahun ini, babak final terasa berbeda. Biasanya berlangsung di aula atau gedung olahraga, kini panggung megah itu dipindahkan ke lapangan Gedung Aligarh. Ribuan santri memenuhi lapangan, menjadikan malam itu terasa hangat dengan sorak sorai dukungan kepada kawan seperjuangannya. Sorotan lampu, udara malam, dan gemuruh tepuk tangan menciptakan atmosfer yang menggigilkan nyali para peserta. Namun di situlah keberanian diuji: siapa yang tetap kokoh ketika suaranya mulai bergetar.

Menariknya, terdapat perubahan format peserta. Biasanya kelas 5 mengikuti kompetisi terpisah. Namun kali ini, mereka disatukan dengan adik-adik kelas mereka. Tujuannya agar mental santri junior ikut terasah ketika berhadapan langsung dengan yang lebih senior.

Pada akhirnya, Public Speaking Contest lebih dari sekadar lomba pidato. Ia menghadirkan medan latihan keberanian, kesanggupan menghadapi keraguan, dan kesiapan berkata benar meski disaksikan banyak orang. Perlombaan ini juga mendorong santri untuk lebih bersungguh-sungguh dalam latihan pidato wajib yang diadakan tiga kali sepekan.

Daftar Pemenang Public Speaking Contest:

Bahasa Arab

PrestasiNamaKelas
Juara 1Habib Fuad Hidayat5-J
Juara 2Abdul Aziz Jaelani3 Int D
Juara 3Muhammad Hakim5-D
Juara Harapan 1Nurwira Wahyu Dwi Arrahman5-K
Juara Harapan 2Firas Saifullah Rahman4-F

Bahasa Inggris

PrestasiNamaKelas
Juara 1Muhammad Rendy Hamzano4-B
Juara 2Muhammad Jalaludin Abdurahman5-R
Juara 3Mohandist Rifal Radani3-C
Juara Harapan 1Muh Aidil A Lamakkulawuzar4-I

Bahasa Indonesia

PrestasiNamaKelas
Juara 1Fadhli Dzil Ikram As Syafii2-B
Juara 2Muhammad Akhdan Al Adibi3-B

(Berita: Alif, Naufal | Foto: Azhar, Ataya, Kevin | Review: Winka)

Related Articles:

Awali Pembentukan Mental dan Karakter Pendidik dalam Pengarahan Pengajar dan Pembimbing Latihan Pidato

Perlombaan Pidato Akbar Kelas 5; Membuktikan Keberanian dan Kemahiran Kelas 5 dalam hal kecakapan

Gontor Tingkatkan Kualitas Pidato Santriyah melalui Speech Camp

Haflah Tilawatil Qur’an ke-24: Menghidupkan Semangat Qur’ani Melalui Kompetisi

0

DARUSSALAM – Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) kembali menggelar Haflah Tilawatil Qur’an (HTQ) ke-24 sebagai wujud komitmen dalam membina generasi Qur’ani. Haflah Tilawatil Qur’an hadir sebagai sarana menumbuhkan kecintaan para santri terhadap Al-Qur’an dalam balutan kompetisi. Melalui berbagai cabang lomba seperti Murottalah, Mujawwadah, Adzan, Khat, Syarhil Qur’an, Fahmil Qur’an, hingga Tahfidzul Qur’an, santri diajak untuk mendalami bacaan dan makna Al-Qur’an secara lebih serius.

Kegiatan ini dipanitiai oleh para santri yang tergabung dalam Jam’iyyatul Qurra’ (JMQ) dan Jam’iyyatul Huffadz (JMH), dibimbing langsung oleh para guru pembimbing. Rangkaian HTQ berlangsung dengan penuh antusiasme. Setiap peserta berusaha menampilkan kemampuan terbaik, sekaligus menunjukkan kepiawaian mereka dalam menghafal, melantunkan, serta menjelaskan kandungan kalam Ilahi.

Setelah melalui serangakaian penyisihan, beberapa peserta pilihan berhak melaju ke babak final. Final cabang Fahmil dan Syarhil Qur’an dilaksanakan pada Senin (13/10) di Aula gedung Rabithah. Sementara itu, final Mujawwadah dan Murottalah beserta pembagian hadiah dilaksanakan pada Sabtu (18/10) di halaman gedung Aligarh. Pada malam puncak, Pimpinan PMDG turut hadir menyaksikan penampilan para finalis yang diuji secara langsung oleh dewan juri. Dari sinilah akan ditentukan para juara yang dianggap mampu menguasai bacaan dan pemahaman Al-Qur’an dengan baik.

Tujuan utama penyelenggaraan HTQ adalah meningkatkan kualitas bacaan santri. Melalui kompetisi ini, santri terdorong untuk memperbaiki tajwid, makhraj huruf, serta memperindah lantunan ayat suci. Selain itu, HTQ menjadi media pembinaan agar Al-Qur’an tidak hanya dibaca dalam perlombaan, tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tausiyahnya, Al Ustadz Hanif Indra Kusuma, S.Ag., M.Si. menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga budaya Qur’ani.
“Bi’ah Qur’an jangan hanya ketika perlombaan saja, tapi harus sampai seterusnya, menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari agar nilai-nilai Al-Qur’an senantiasa menuntun langkah kita.”

Dengan terselenggaranya HTQ ke-24 ini, Gontor kembali meneguhkan peran sebagai lembaga pendidikan yang menanamkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Harapannya, para santri tidak hanya fasih melantunkan ayat-ayat suci, tetapi juga menjadikannya penerang dalam setiap langkah kehidupan.

Daftar Pemenang Haflah Tilawatil Qur’an ke-24:

Mujawwadah

JuaraNamaKelasAsrama
1Afla Ubaidillah3 Int DSyanggit
2Aji Fransisco4-ISolihin
3Nazril Irham3 Int ESaudi 1 Lantai 3

Murottalah

JuaraNamaKelasAsrama
1Rifhan Hijazi3-BIndonesia 3
2Malik Ibrahim3-IIndonesia 4
3Manendia Deniardi Alvit3 Int EYaman

Hifdzu-l-Quran

JuaraNamaKelasAsrama
1Hammad Abdul Wahhab3 Int GAligarh Lantai 1
2Bravian Putera2-KAligarh Lantai 1
3Muhammad Ahsin3-DIndonesia 3

Adzan

JuaraNamaKelasAsrama
1M. Panji Wicaksono3 Int FAligarh Lantai 1
2M. Rizki Pratama4-MSolihin
3Keanu Al Ayyubi3-ISyanggit

Khat Riq’ah

JuaraNamaKelasAsrama
1Daffa Nurraizqi Sofyan5-NSaudi 3 Lantai 2
2Davianlie Rahmatulloh6-GFotokopi OPPM

Khat I’tiyadiyah

JuaraNamaKelasAsrama
1Ilham Bintang Purnomo3-CIndonesia 4
2Abdurrahman Nusalim3-CIndonesia 3

Syarhu-l-Qur’an wa Fahmu-l-Qur’an

JuaraSyarhu-l-Qur’anFahmu-l-Qur’an
1Aligarh Lantai 1Aligarh Lantai 2
2PalestinaIndonesia 4
3Saudi 3 Lantai 3Yaman

(Berita: Alif, Aqil. Fotografer: Dejuan. Penyunting: Winka)

Related Articles:

Malam Pencerahan Seminar Qur’ani, “Istiqamah Berprestasi dengan Al-Qur’an” HTQ & HHQ Putri Nasional 2025 di Gontor Putri Kampus 3

Final Tadabbur Al-Qur’an HTQ & HHQ Putri Nasional Uji Kualitas Peserta

Semangat Qur’ani Hiasi Hari Kedua HTQ & HHQ Putri Nasional 2025

KML di Gontor Putri Kampus 3: Menjadi Pembina Tangguh, Berkarakter, dan Islami

0

Karangbanyu – Kamis malam, 2 Oktober 2025, Auditorium Gontor Putri Kampus 3 dipenuhi semangat dan antusiasme yang jarang terlihat dalam suasana formal. Ratusan peserta berseragam Pramuka duduk tertib, wajah-wajah mereka memancarkan rasa penasaran dan kebanggaan. Malam itu, Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) resmi dibuka, menandai awal dari perjalanan pendidikan yang bukan hanya teknis, melainkan juga spiritual.

Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 3, Dr. Nurul Salis Alamin, M.Pd.I., dalam sambutannya menekankan makna mendalam dari kegiatan ini. “Kegiatan ini bukan hanya menambah ilmu kepramukaan, tetapi juga membentuk mentalitas yang positif, pola pikir sehat, sikap yang baik, dan perilaku yang Islami,” ujarnya di hadapan para peserta KML.

Dr. Nurul Salis Alamin juga menegaskan bahwa KML merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan kapasitas para pembina. “Kegiatan ini merupakan kesempatan emas bagi para pembina untuk dididik, ditingkatkan kemampuannya, serta di-upgrade profesionalismenya,” ungkapnya penuh penekanan.

“Dengan Kegiatan Kepramukaan yang Islami Kita Lahirkan Pembina yang Tangguh dan Berakhlakul Karimah.” Tema KML kali ini memperkuat arah tersebut. Sementara mottonya, sederhana tetapi penuh makna, “Ikhlas Bhakti Bina Bangsa Berbudi Bawa Laksana.”

314 Peserta, Satu Semangat

Jumlah peserta KML tahun ini mencapai 314 orang, terdiri dari 277 santriwati kelas akhir KMI dan 37 ustadzah-mahasiswi. Mereka terbagi menjadi tiga golongan: Siaga 97 orang, Penggalang 121 orang, dan Penegak 96 orang. Jumlah yang besar ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa kepramukaan di Gontor tetap relevan dan diminati, bahkan ketika para santriwati tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir. Pramuka bagi mereka bukan beban tambahan, melainkan ruang penyegaran, tempat menata hati di tengah padatnya ritme pendidikan pondok.

Panitia dan Pelatih: Punggawa yang Bekerja dalam Senyap

Di balik antusiasme itu, ada 92 panitia yang bekerja tanpa lelah, terdiri dari 37 ustadzah dan 55 panitia kelas 5. Mereka merancang, menyiapkan, dan memastikan setiap detail berjalan rapi. KML juga didukung oleh 40 pelatih, gabungan dari Kwarcab Ngawi, guru, dan dosen UNIDA Gontor. Mereka terbagi sesuai golongan: 10 pelatih Siaga, 18 pelatih Penggalang, dan 12 pelatih Penegak, memastikan setiap peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbimbing secara praktis dan aplikatif.

Rangkaian Kegiatan yang Hidup

KML bukan sekadar kursus formal. Jadwal padat dari siang hingga malam pukul 22.00 disusun untuk menempa para peserta. Selain materi di auditorium, tersedia delapan ruang khusus di Gedung Ghaza yang difungsikan untuk panitia, konsumsi, hingga prasmana. Tersedia pula kegiatan widya wisata yang akan digelar pada Senin, 6 Oktober 2025 di Kemuning. Di sanalah para peserta belajar melalui pengalaman nyata, menguji keterampilan dalam suasana yang lebih cair dan alamiah.

Visi Besar Pramuka dan Indonesia Emas

Ketua Kwarcab Ngawi, Drs. M. Shodiq Prewidianto, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa KML sejalan dengan visi Gerakan Pramuka menuju Indonesia Emas 2045. “KML adalah ikhtiar nyata menyiapkan pembina andal yang kelak melahirkan generasi tangguh, berkarakter, dan siap memimpin bangsa,” ungkapnya sebelum meresmikan pembukaan dengan lantang.

Harmoni Pendidikan Gontor dan Pramuka

Bagi Gontor, pendidikan tidak pernah berhenti di ruang kelas. Dr. Nurul Salis Alamin menekankan bahwa pendidikan kepramukaan adalah totalitas hidup yang menyeimbangkan antara kognitif, afektif, dan psikomotorik, intelektualitas, spiritualitas, dan moralitas. Pramuka menjadi wadah penting untuk melatih hal-hal itu secara nyata, membentuk manusia Muslim seutuhnya, bukan hanya pintar, tetapi juga berkarakter, bukan hanya berilmu, tetapi juga berakhlak.

Refleksi 100 Tahun Gontor: Pendidikan sebagai Perjalanan

Tahun 2025 adalah tahun istimewa, 100 Tahun Gontor. KML di Gontor Putri Kampus 3 hanyalah satu fragmen dari mozaik besar perjalanan pondok. Namun, fragmen kecil ini memantulkan cahaya yang sama: keyakinan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer ilmu, melainkan perjalanan membentuk manusia yang utuh. Malam itu di Auditorium, ketika tepuk pramuka menggema dan semangat peserta menyala, seakan terpatri satu pesan filosofis: menjadi pembina bukan hanya membina barisan atau mengajarkan sandi morse. Menjadi pembina adalah melatih diri untuk setia pada nilai, berani memimpin dengan hati, dan ikhlas mengabdi untuk umat serta bangsa.

Di sanalah salah satu rahasia mengapa Gontor bertahan lebih dari 100 tahun, karena ia terus mendidik dengan cara yang hidup, menyatukan akal, jiwa, dan raga hingga lahir generasi yang siap membawa obor peradaban ke masa depan.

(Penulis: Al-Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. Fotografer: Majda Hadziqa)

Related Articles:
KML 2025: Di Bawah Langit Gontor Putri Kampus 3, Jiwa Pembina Ditempa

Pelantikan Panitia KML Perdana Gontor Putri Kampus 2

Asah Jiwa Kepramukaan Lewat Kursus Mahir Tingkat Lanjutan (KML)

Haflah Qur’an 100 Tahun Gontor: Dari Syukur ke Peradaban

0

Karangbanyu – Senja di langit Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 3 diliputi cahaya lembut, ketika lantunan ayat-ayat suci menggema, menembus dada siapa pun yang mendengarnya. Ini bukan sekadar lomba, bukan pula pesta seremonial biasa, melainkan Haflah Tilawatil Qur’an (HTQ) dan Haflah Hifzhil Qur’an (HHQ) Nasional sebuah perayaan syukur yang menandai satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dengan melibatkan 16 pesantren putri se-Indonesia dan menghadirkan 115 peserta terbaik, haflah ini menyatukan suara merdu para qari’ah dan hafizhah sekaligus menyatukan cita-cita besar: membumikan al-Qur’an sebagai ruh peradaban Islam.

Sambutan Ketua Panitia: Syukur yang Menyala, Warisan yang Menyebar

Ketua Panitia 100 Tahun PMDG, Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, M.Ec., dalam sambutannya mengajak para hadirin untuk melihat acara ini lebih dari sekadar ajang kompetisi.

“Membaca al-Qur’an dengan indah itu mulia, menghafalnya itu agung. Tetapi yang paling tinggi adalah mentadabburi, menghayati, dan mengamalkannya. Itulah makna hakiki haflah: syukur yang mewujud dalam amal,” ujarnya penuh penekanan.

Lebih dari itu, beliau menekankan bahwa keistimewaan acara ini bukan hanya pada banyaknya peserta atau variasi lomba, tetapi pada kreativitas santriwati Gontor sendiri.

“Panggung megah yang kita lihat malam ini bukan karya profesional luar, melainkan hasil kerja keras santriwati sendiri. Inilah Gontor: bukan hanya mendidik pembaca al-Qur’an, tetapi juga melahirkan pencipta peradaban,” ungkapnya.

Dr. Khoirul juga membuka wacana masa depan Gontor: sebuah Mushaf al-Qur’an karya Gontor yang kini sudah mencapai 24 juz, dan akan dilanjutkan dengan terjemah bahkan tafsir. Sebuah legacy monumental yang akan mengikat perjalanan Gontor dengan khidmat Qur’ani yang abadi.

Nasihat Filosofis K.H. Hasan Abdullah Sahal: Jangan Puas, Jadilah Cahaya Masa Depan

Puncak spiritual haflah ini hadir saat K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, memberikan nasihat penuh getaran ruhani sekaligus ketegasan.

“Syukur itu bukan sekadar ucapan alhamdulillah. Syukur adalah kesadaran bahwa nikmat adalah amanah, dan amanah menuntut tanggung jawab. Trimurti mendirikan Gontor dalam kesulitan, tapi dari kesulitan itu lahir keberanian dan visi besar. Itulah syukur sejati.”

Beliau menatap generasi muda dengan sorot tajam, seolah menyalakan api tanggung jawab dalam dada mereka.

“Hari ini kalian menikmati 100 tahun perjuangan. Pertanyaannya: apa yang kalian lakukan untuk 100 tahun berikutnya? Jangan berhenti pada nostalgia. Kalau kalian tidak bisa melampaui kami, lebih baik kalian tidak pernah lahir dan kami tidak usah mati. Sebab itu berarti kalian tidak layak meneruskan estafet perjuangan ini.”

Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa setiap aktivitas santri harus berorientasi pada ibadah dan peradaban.

“Di Gontor pusat sedang berlangsung festival musik, film, dan olahraga. Di sini ada haflah Qur’an. Semuanya harus bernilai ibadah. Bukan sekadar gaya atau seremonial, tapi menghadirkan surga kehidupan: nilai Qur’ani yang mewarnai budaya, seni, dan ilmu pengetahuan.”

Suasana Haflah: Harmoni Suara, Harmoni Jiwa

Acara berlangsung penuh khidmat. Lantunan tilawah menghidupkan kembali suasana turunnya wahyu, sementara hafalan demi hafalan—dari 5 juz hingga 30 juz—mengukuhkan betapa al-Qur’an telah bersemayam dalam dada para santriwati.

Di sela-sela lomba, gema rebana dan syarh al-Qur’an menambah warna, menegaskan bahwa al-Qur’an bukan hanya teks untuk dibaca, tetapi juga sumber inspirasi seni, budaya, dan ekspresi spiritual.

Rekapitulasi Prestasi: Cahaya yang Tersebar

Distribusi prestasi ini menunjukkan bahwa semangat Qur’ani tidak terpusat pada satu tempat, melainkan menyala merata di berbagai pesantren. Dalam cabang Tadabbur Qur’an, Gontor Putri 3 menorehkan Juara 1, disusul Gontor Putri 1 dan Darussalam Rajapolah. Pada Syarh Al-Qur’an, Gontor Putri 2 meraih puncak, sementara Gontor Putri 1 dan Rajapolah kembali menunjukkan konsistensinya. Qishash al-Qur’an menampilkan ragam kekuatan: Darussalam Garut memimpin, diikuti Gontor Putri 3 dan Gontor Putri 2.

Hadrah Al-Habsyi dikuasai oleh Daru Hasbi sebagai Juara 1, dengan Gontor Putri 2 dan Putri 1 menyusul. Pada HHQ berbagai majlis hafalan, yaitu 5, 10, 15 hingga 30 juz, nama-nama seperti Darussalam Rajapolah, Walisongo Ngabar, Darunnajah 2 Cipining, Al-Furqon Tulis, Gontor Putri 1 dan 3, serta Daru Hasbi silih berganti mengisi podium, menandakan luasnya persebaran penjaga Kalamullah. Di cabang Murattalah dan Mujawwadah, Gontor Putri, Daru Hasbi, Riyadul Ulum, hingga Al-Furqon Tulis saling menguatkan, menambah warna pada peta prestasi Qur’ani.

Setiap juara bukan sekadar peraih angka, tetapi pembawa cahaya—membangun keyakinan bahwa generasi Qur’ani tengah tumbuh kokoh di berbagai penjuru pesantren.

Haflah Sebagai Tonggak Peradaban

Lebih dari sebuah perayaan, haflah ini adalah tonggak sejarah peradaban santri. Ia menyalakan syukur, menumbuhkan keberanian, dan membentuk generasi Qur’ani yang kreatif, inovatif, dan inspiratif.

Selama 100 tahun, Gontor telah menjadi mercusuar ilmu, iman, dan amal. Kini, tongkat estafet berpindah ke tangan generasi muda: melanjutkan perjuangan, memperluas cakrawala, dan menyalakan cahaya al-Qur’an hingga ke seluruh penjuru negeri.

Sebagaimana pesan KH. Hasan Abdullah Sahal:

“Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masalahnya, setiap masalah harus ada solusinya.”

Trimurti adalah tokoh di masanya, menghadapi keterbatasan, penjajahan, dan keterasingan umat dari ilmu, lalu menjawabnya dengan mendirikan Gontor. Kini, giliran santri untuk menjawab masalah zamannya dengan nilai Qur’ani yang ia bawa.

Haflah ini bukan penutup, melainkan awal sebuah kesadaran: bahwa al-Qur’an harus menjadi cahaya dalam setiap lini kehidupan—pendidikan, budaya, politik, ekonomi, hingga peradaban global.

Maka benar adanya, syukur bukanlah nostalgia, tetapi keberanian untuk melangkah. Generasi Qur’ani Gontor tidak hanya ditakdirkan untuk mewarisi masa lalu, tetapi juga untuk mencipta masa depan—yang lebih cerah, lebih beradab, dan lebih Qur’ani.

(Penulis: Al-Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. Fotografer: Nuriyah Azizah, Nur Istiqomah)

Related Articles:

Malam Pencerahan Seminar Qur’ani, “Istiqamah Berprestasi dengan Al-Qur’an” HTQ & HHQ Putri Nasional 2025 di Gontor Putri Kampus 3

Final Tadabbur Al-Qur’an HTQ & HHQ Putri Nasional Uji Kualitas Peserta

Semangat Qur’ani Hiasi Hari Kedua HTQ & HHQ Putri Nasional 2025

MAHLIGAI QUR’ANI: Simfoni Cahaya dan Kehormatan (Refleksi atas Dekorasi Panggung HTQ & HHQ 2025 di Gontor Putri Kampus 3)

0

Inilah panggung yang bukan sekadar hiasan, melainkan cermin kemuliaan Kalamullah. Setiap lengkung ukiran, setiap pancaran cahaya, dan setiap garis arsitektur memancarkan pesan: bahwa al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi dimuliakan, dihidupkan, dan dihayati dalam kehidupan.

Ornamen arabesque yang menghiasi dinding panggung berdiri bak saksi peradaban Islam, menghadirkan gema sejarah masjid agung dan madrasah klasik yang melahirkan para ulama dan huffazh. Warna emas dan krem berpadu indah, melambangkan kesucian, keagungan, dan kedekatan dengan cahaya Ilahi.

Lampu-lampu yang menyorot lembut ke arah ukiran dan kaligrafi, seakan menari bersama lantunan ayat-ayat yang akan dikumandangkan, menebarkan nuansa surgawi di tengah hadirin. Tangga berkarpet merah di sisi depan tengah laksana jalan menuju kemuliaan, sebuah simbol bahwa siapa pun yang naik di atas panggung ini sedang menaiki tangga kehormatan al-Qur’an.

Di bagian depan, ornamen emas yang elegan berpadu dengan bunga dan tanaman hijau, menghadirkan keseimbangan antara ketegasan spiritual dan kelembutan alami. Sementara itu, tulisan HTQ 2025 dan HHQ 2025 terpampang anggun di kanan dan kiri panggung, bukan sekadar penanda kegiatan, melainkan monumen simbolis atas lahirnya generasi Qur’ani yang menyalakan cahaya peradaban.

Panggung ini adalah ruang tempat seni bertemu dengan spiritualitas,  arsitektur berbicara bahasa keindahan Ilahi, dan ayat-ayat suci menemukan rumah dalam kemegahan yang penuh makna. Ia bukan hanya latar sebuah acara, melainkan panggung kehidupan yang mengingatkan kita:

bahwa siapa pun yang hidup bersama al-Qur’an, akan ditinggikan derajatnya, dimuliakan jalannya, dan dipenuhi cahayanya.

Secara keseluruhan, dekorasi panggung ini bukan sekadar hiasan, tetapi mencerminkan perpaduan nilai spiritual, estetika Islami, dan semangat kebersamaan. Ia menjadi latar yang layak bagi sebuah perhelatan agung dalam memuliakan Al-Qur’an, menghadirkan suasana yang khidmat sekaligus penuh keindahan, sehingga para hadirin merasakan atmosfer kebesaran kalamullah dalam balutan seni arsitektur yang mempesona.

(Penulis: Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. Fotografer: Multimedia Crew)

Related Articles:

Malam Pencerahan Seminar Qur’ani, “Istiqamah Berprestasi dengan Al-Qur’an” HTQ & HHQ Putri Nasional 2025 di Gontor Putri Kampus 3

Final Tadabbur Al-Qur’an HTQ & HHQ Putri Nasional Uji Kualitas Peserta

Semangat Qur’ani Hiasi Hari Kedua HTQ & HHQ Putri Nasional 2025

Santri Gontor Belajar Pendidikan Demokrasi Melalui Pemilihan Utusan Konsulat dan Gugus Depan

0

GONTOR – Sabtu (18/10) sejak pagi pukul 09.00, seluruh santri Pondok Modern Darussalam Gontor mengikuti proses Pemilihan Utusan Konsulat, sebuah tahapan penting dalam regenerasi kepemimpinan Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Pemilihan ini mengajarkan para santri cara memilih pemimpin melalui nilai demokrasi yang berlandaskan musyawarah dan tanggung jawab.

Dalam pidatonya, Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal, menjelaskan bahwa demokrasi di pondok bukan demokrasi bebas tanpa arah, melainkan demokrasi yang berjiwa pendidikan. Demokrasi ini menempatkan musyawarah sebagai jalan utama dalam mencari kebenaran. “Yang kita anut adalah musyawarah, kita ini lembaga pendidikan. Keputusan yang diambil adalah yang baik dan benar, sesuai kriteria. Kamu diajari demokrasi dalam pendidikan, supaya kamu bisa memilih mana yang layak, dan mana yang tidak.”

Setiap konsulat kemudian bermusyawarah memilih santri kelas 5 KMI yang dianggap amanah dan cakap untuk diajukan sebagai calon Ketua OPPM. Penilaian tidak didasarkan pada popularitas, tetapi pada kedewasaan, akhlak, dan kesiapan memimpin.

Pada siang hari, pendidikan kepemimpinan berlanjut dengan Pemilihan Utusan Gugus Depan untuk menentukan calon Ketua Koordinator Gerakan Pramuka Gudep 15089. Santri kembali belajar menimbang dan memutuskan dengan bijak.

Melalui proses ini, Gontor menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah. Memilih seorang pemimpin yang amanah bukan perkara suka atau tidak suka, tetapi perkara menempatkan yang tepat pada tempatnya. Inilah pendidikan demokrasi ala Pondok Modern Darussalam Gontor.

(Berita : Alif, Foto : Dejuan, Reviewer : Winka)

Related Articles :

OPPM Resmi Terima Amanah dan Adakan Reshuffle Pengurus

Musyawarah Kerja OPPM dan KGP Membangun Kepemimpinan dan Keselarasan Organisasi

PMDG Lantik 200 Orang Pengurus OPPM dan 46 Pengurus Koordinator yang Baru