Home Blog Page 453

Pra Amaliyah, Matangkan Persiapan Siswa Akhir KMI Sejak Dini

0

Gontor 2- Tarbiyah Amaliyah atau praktek mengajar merupakan salah satu agenda besar yang akan dihadapi oleh para siswa akhir KMI. Guna mempersiapkan para siswa kelas 6, staf KMI mengadakan agenda pra amaliyah. Sejumlah 111 santri dibagi menjadi dua kelompok, kemudian salah satu santri dari tiap kelompok ditunjuk untuk mengajar dan disebut mudarris. Beberapa siswa kelas 6 ditunjuk menjadi murid dalam kelas tersebut. Para guru pembimbing yang juga dibagi menjadi dua kelompok besar beserta para siswa kelas 6 lainnya bertindak sebagai evaluator atau yang disebut muntaqid.

Para pembimbing mengawal kegiatan review buku Tarbiyah Amaliyah
Para pembimbing mengawal kegiatan review buku Tarbiyah Amaliyah

Kegiatan yang juga disebut micro teaching tersebut dilaksanakan 3 kali. Yaitu pada hari Senin (09/03/2015), hari Selasa (17/03/2015), dan yang terakhir adalah pada hari Rabu (18/03/2015). 2 kelompok besar tersebut bertempat di pendopo masjid Jami’ dan Aula Riyadh. Dalam waktu itu juga, evaluasi mengajar dipimpin langsung oleh Ust. H. Zaini Hasan, Ust. H. Agus Budiman, Ust. Nurul Tsalist Alamin, M.Pd, dan Ust. Taufiq Affandi, M.Sc.

Selain itu, para siswa kelas  6 juga melaksanakan agenda review buku Tarbiyah Amaliyah, terutama pada bab-bab yang berhubungan lansung dengan praktek mengajar. Bertempat di masjid Jami’ Gontor 2, beberapa guru pembimbing mengawal pembelajaran santri yang telah dipecah menjadi beberapa kelompok kecil. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Selasa (17/03/2015). Dengan demikian diharapkan para siswa akhir KMI memiliki persiapan yang lebih matang menghadapi agenda Tarbiyah Amaliyah.

Penulisan Naqdu Tadris dalam agenda micro teaching
Penulisan Naqdu Tadris dalam agenda micro teaching

LAC Gelar Nobar Tiap Usai Muhadharah

0

Peace Country- “Al-Lughatu Taaju-l-Ma’had” merupakan salah satu motto bagian penggerak bahasa yang artinya bahasa adalah mahkota pondok. Hal tersebut menandakan betapa pentingnya  bahasa di Gontor, utamanya adalah bahasa Arab dan Inggris.

Screen berukuran 3 X 4 m yang digunakan untuk nobar
Screen berukuran 3 X 4 m yang digunakan untuk nobar

Hal tersebutlah  yang mendorong bagian pembimbing bahasa atau yang disebut Language Advisory Council (LAC) untuk selalu mengupayakan berbagai kegiatan guna menunjuang kemampuan berbahasa santri. Salah satunya adalah dengan sarana multimedia.

Mulai hari Ahad (15/03/2015) malam, tepat usai latihan pidato para santri dapat menyaksikan film berbahasa Arab dan Inggris di lapangan Sintesa yang berdurasikan kurang lebih 40 menit. Dengan demikian, para santri dapat mengisi waktu kosong mereka sebelum istirahat dengan hal-hal positif. Selain itu para santri juga dapat mengasah kemampuan berbahasa mereka, khususnya dalam hal listening.

Gunakan Metode Learning by Doing, KMI Adakan Praktik Manasik Ibadah Haji bagi Siswa Baru

0
Gunakan Metode Learning by Doing, KMI Adakan Praktik Manasik Ibadah Haji bagi Siswa Baru
Suasana latihan kegiatan Manasik Haji

DARUSSALAM–Guna meningkatkan interpretasi santri dalam materi Fiqh, khususnya mengenai pelajaran ibadah haji, Kulliyyatu-l-Mu’allimin-al-Islamiyyah (KMI) gunakan metode ‘Learning by doing’, yaitu belajar sambil melaksanakan. Praktik manasik haji ini, diprogramkan khusus untuk seluruh siswa baru KMI Gontor Pusat dari kelas 1–3 yang jumlahnya mencapai 1024 orang dan melibatkan 30 orang guru pengajar materi.

Untuk menyamakan persepsi, para pengajar pelajaran Fiqh kelas satu dan satu intensif mengadakan rapat koordinasi dan praktik terlebih dahulu sebelum kegiatan ini dimulai. “Salah satu cara terbaik dalam belajar adalah praktik, sehingga pengetahuan dan wawasan siswa bukan sekadar tulisan teoritis di otak yang berasal dari buku saja, tetapi paham dan betul-betul mengerti cara melaksanakannya,” ucap Ahmad Fauzi Hidayatullah, seorang guru senior PMDG yang bertugas membimbing kegiatan ini.

Kegiatan ini berlangsung selama delapan hari, dimulai pada Kamis (12/3) dan berakhir pada Ahad (22/3) lalu, “Demi ketertiban jalannya kegiatan ini, kami staf KMI telah mengatur jadwal bagi tiap-tiap kelas. Kelas satu melaksanakan praktik ini pada jam pelajaran pertama sampai kekedua dan  kelas satu intensif pada jam pelajaran ketiga sampai keempat.” ujar Miftah Alfaruqi, seorang Staf KMI. ikami86

Laporan dari Australia: Melihat Gontor dari Balcombe Grammar School

0

Melbourne- Salah satu agenda peserta Muslim Exchange Program (MEP) pada tanggal 18 Maret 2015 yang lalu adalah mengunjungi Balcombe Grammar School, sebuah sekolah swasta favorit di daerah Mount Martha, dekat dengan Mornington Paninsula yang indah. Untuk menuju sekolah itu, kami menggunakan kereta api dari pusat kota Melbourne.

Salah satu kegiatan di luar kelas
Salah satu kegiatan di luar kelas

Jam 07.45 (waktu Melbourne) kami segera bergegas menuju Flinders Street Station yang terletak persis sebelum Princess Bridge, jembatan yang menghubungkan daerah utara Yara River dan selatannya. Stasiun tersebut termasuk yang terbesar di Melbourne. Dari situ, kami naik kereta menuju Frankston, stasiun kereta api terdekat dengan Mount Martha. Kereta menuju Frankston pada pagi hari biasanya tidak dipadati penumpang karena kereta tersebut menuju arah ke luar kota. Sementara itu sebaliknya, kereta yang datang dari Frankston menuju Flinders Street penuh sesak oleh penumpang. Sebagian besar mereka adalah pekerja dan mahasiswa yang harus beraktivitas di pusat kota Melbourne.

Kamipun segera bergegas masuk kereta begitu ia berhenti dengan sempurna. Jika tidak cepat, bisa saja tertinggal karena kereta di sini tidak berhenti lama dan selalu tepat waktu. Tidak ada penjaga pintu karena semuanya serba otomatis.

Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, kami tiba di stasiun Frankston. Dari stasiun, kami mengendarai mobil menelusuri wilayah countryside yang indah. Ada kebun anggur, tempat pelatihan kuda, perumahan yang asri, padang rumput, dan pemandangan laut yang aduhai ketika melintasi jalan di pinggir Mornington Peninsula. Keelokan wilayah itu persis seperti yang diceritakan dalam buku Reading KMI Gontor ketika membahas wilayah contryside di Inggris.

Tidak sampai satu jam, akhirnya kami tiba di Balcombe Grammar School. Ibu Chris, koordinator MEP Melbourne, berpesan bahwa kami dilarang mengambil gambar para murid tanpa seizin dari orang tua. Karena aturan di sekolah ini (dan sekolah lain di Australia pada umumnya) melarang pengunjung untuk memfoto para murid. Mereka khawatir jika foto itu disalahgunakan untuk hal-hal negatif.

Saya jadi ingat kebiasaan murid-murid di Indonesia yang suka selfie kemudian mengunggahnya di media sosial seperti facebook, twitter, dan semacamnya. Mereka tidak sadar ketika mengunggahnya di internet dan bisa dilihat oleh siapa saja, kehidupan pribadi mereka sudah terbuka secara nyata di ruang publik. Foto selfie plus status selfie itu sebenarnya wilayah private yang hendaknya dijaga kerahasiaannnya. Hal itu mudah sekali dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan mereka. Maka terjadilah kasus kejahatan-kejahatan karena penyalahgunaan media sosial sebagaimana yang belakangan ini banyak kita lihat.

Hal ini tentu tidak terjadi di Gontor yang membatasi dengan ketat hal-hal seperti itu. seluruh santri dilarang membawa handphone dan alat-alat elektronika lainnya. Mereka diperbolehkan menggunakan internet tapi dijadwal pada jam-jam tertentu. Mereka boleh menelpon tapi di tempat-tempat tertentu dengan bimbingan ustadz. Mereka hanya perlu fokus belajar, mengembangkan potensi yang dimiliki melalui berbagai macam kegiatan yang sudah diatur oleh pondok. Kegiatan yang terstruktur, tersistem, dan menyeluruh. Kegiatan-kegiatan akademik bersinergi dengan kegiatan-kegiatan non akademik dengan baik. Yang suka seni disediakan media untuk menyalurkan bakatnya, yang suka kaligrafi, olahraga, pramuka, menulis, dan lain sebagainya, semuanya mendapatkan tempat dan media untuk berekspresi. Semua kegiatan itu pada akhirnya akan membentuk sebuah dinamika kehidupan pesantren. Dan itulah sebenarnya yang mewarnai dan membentuk kepribadian santri yang kuat. Di situlah terdapat kurikulum tersembunyi di Gontor yang menurut beberapa penelitian, sangat efektif digunakan untuk mendidik santri.

Setelah mendaftar di bagian penerimaan tamu, kami langsung disambut oleh kepala sekolah Mr. Matthew Dodd, kemudian diantar oleh dua anak kecil yang masih duduk di kelas 4 SD untuk bertemu dengan teman-temannya di dalam kelas. Di sana kami sudah ditunggu duapuluhan murid dan dua orang guru. Setelah memperkenalkan diri, kami langsung diberondong banyak pertanyaan oleh anak-anak kecil itu. “Why do you wear veil? Is it to protect your hair from sunlight?”, tanya salah satu murid dengan cerdas. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dari mereka seputar Islam. Kami sangat senang karena inilah kesempatan untuk menyampaikan kepada mereka tentang Islam yang sebenarnya. Bukan Islam yang dicitrakan oleh media-media barat sebagai agama teroris, anti perdamaian, dan sederet image negatif lainnya.

Setelah puas menjelaskan ajaran Islam kepada murid-murid SD di sekolah itu, kami kemudian dibawa ke kelas anak-anak SMU. Di situ sudah ada puluhan anak yang menyambut. Tidak jauh beda dengan kelas sebelumnya, anak-anak sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan tentang Islam kepada kami. Kamipun memanfaatkannya untuk menjelaskan bagaimana Islam sesungguhnya dengan panjang lebar. Ada perasaan puas pada diri kami karena salah satu misi kami dalam kegiatan ini telah tercapai.

Setelah bertemu dengan banyak murid di beberapa kelas, kami kemudian ke kantor kepala sekolah. Di situ kami berdiskusi dengan kepala sekolah dan dua wakilnya tentang kurikulum, metode, sistem, dan berbagai aktivitas di sekolah tersebut.

Salah satu kelebihan dari Balcombe Grammar School adalah metode pendidikannya yang modern dan ditambah dengan berbagai aktivitas menarik untuk membantu murid mengenali potensi yang dimiliki dan untuk mengembangkan semua yang dipunyai secara seimbang. Kegiatan akademik dan non akademik berpadu menjadi satu untuk membentuk kepribadian murid. Persis seperti apa yang ada di Gontor di mana tolok ukur keberhasilan santri adalah track recordnya dalam bidang akademik, non akademik, dan kepribadiannya. Bedanya, di Balcombe siswa-siswa tidak tinggal di asrama. Mereka belajar di sekolah dari pukul 08.45 s.d. 16.00.

Lebih dari itu, disiplin juga sangat dijunjung tinggi di sekolah ini. Anak yang melanggar disiplin berat, akan mendapat peringatan. Jika tidak membaik, orang tuanya akan dipanggil. Dan jika tetap tidak ada perubahan, mereka dipersilahkan untuk meninggalkan sekolah dan mencari lembaga pendidikan yang lain. Saya menjadi ingat petuah Kyai Hasan, “Tidak ada kemajuan tanpa kedisiplinan, tidak ada kedisiplinan tanpa ketauladanan”. Disiplin memang salah satu hal penting yang menjadikan Balcombe dan juga Gontor, sebagai lembaga pendidikan yang terus berkembang.

Beberapa jam saya dan peserta MEP lainnya mengunjungi sekolah itu, saya melihat banyak hal yang itu biasa saya jumpai di Gontor. Dan di tempat itu, saya seperti melihat Gontor dari kaca mata yang lain. AbuNuya

Kunjungan Rektor UNIDA ke International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia

0

UNIDA – Setelah melakukan lawatan ke Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia rombongan UNIDA Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA. (Rektor UNIDA Gontor), Dr. Dihyatun Masqon, MA. (Wakil Rektor UNIDA Gontor),  Muhammad Masruh Ahmad, MA., MBA. (Anggota Badan Wakaf PMDG), Dr. Muhammad Kholid Muslih, MA. (Ketua Program Studi Ilmu Akidah Pasca Sarjana UNIDA Gontor), Syahruddin Sumardi, M.Sc.Fin. (Ketua Program Studi Manajemen Bisnis UNIDA Gontor) melanjutkan lawatannya ke International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia. Sesampainya di ISTAC, rombongan disambut oleh Prof. Dr. Torla Haji Hasan (Dekan ISTAC) danTan Sri Prof. Dr. Muhammad Kamal Hasan (Chairman, CENTRIS IIUM).

ISTAC_okDan dalam kunjungan ke ISTAC ini UNIDA ingin bekerja sama dalam menjaga akidah umat melalui gerakan pendidikan dan juga bekerjasama dalam penyusunan kurikulum dan pengembangan SDM guna mendirikan program S-3 di UNIDA yang sedang dipersiapkan proposal pengajuannya. Dan dalam pembahasannya UNIDA bersama ISTAC ingin mengembangkan Pusat Kajian Islamisasi Ilmu.

Referensi: UNIDA Gontor

Silaturahim Rektor UNIDA Gontor dengan Mufti Wilayah Persekutuan di Malaysia

0

UNIDA – Pada hari Kamis, 19 Maret 2015 rombongan Universitas Darusalam (UNIDA) Gontor melakukan lawatan ke Malaysia dan kali ini tujuannya adalah melakukan silaturahim dengan Mufti wilayah persekutuan.Rombongan UNIDA yang hadir saat itu adalah Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, MA. (Rektor UNIDA Gontor), Dr. Dihyatun Masqon, MA. (Wakil Rektor UNIDA Gontor),  Muhammad Masruh Ahmad, MA., MBA. (Anggota Badan Wakaf PMDG), Dr. Muhammad Kholid Muslih, MA. (Ketua Program Studi Ilmu Akidah Pasca Sarjana UNIDA Gontor), Syahruddin Sumardi, M.Sc.Fin. (Ketua Program Studi Manajemen Bisnis UNIDA Gontor).
Mufti_2Dalam acara silaturahim yang berada di ruang rapat mufti MAIWP tersebut juga dihadiri oleh jajaran petinggi Mufti wilayah persekutuan diantaranya Datuk Dr. Muhammad Zulkifli Al-Bakri (Mufti Wilayah Persekutuan, Malaysia), Dato’ Mohamad bin S. Ahmad (Ahli MAIWP), Datuk Haji Zainal Abidin bin Jaffar (Ketua Pegawai Eksekutif MAIWP), Tuan Haji Muhammad Rushdan bin Abdul Hamid (Pengurus Bahagian Pembangunan Insan memangku Timbalan Ketua Pegawai Eksekutif MAIWP), Segenap pengurus MAIWP.

Acara silaturahim ini merupakan kunjungan balasan dari pihak PMDG yang diwakili oleh Rektor UNIDA Gontor guna meningkatkan pemahaman tentang nilai dan sistem pendidikan PMDG. Pihak MAIWP menilai, setelah lama mendengar dan datang langsung ke PMDG, bahwa sistem pendidikan di PMDG telah berhasil membuat pelajarnya memiliki kemandirian dan berwawasan luas. Karenanya mereka ingin belajar banyak tentang bagaimana menciptakan suasana pendidikan berasrama yang kondusif dengan disiplin yang ditaati. PMDG dipandang berhasil mengembangkan dan menjalankan nilai-nilai Islam yang futuristik dengan kemauan dan kerja keras.

Rektor UNIDA Gontor mempresentasikan pengalaman PMDG mendidik pelajarnya selama 90 tahun. Jenjang pendidikan yang dimulai dari KMI sampai Perguruan Tinggi dengan program S-1 sampai pasca sarjana terbukti mampu bertahan dan terus berkembang. Perkembangan ini tentu didukung oleh semua pihak sebagai lembaga yang diwakafkan.

Terakhir dari pihak MAIWP ingin kemudian mengadopsi nilai dan sistem pendidikan ini tentu dengan kerja dan kemauan keras. Mereka akan terus menjaga hubungan dua arah ini dan berencana akan datang kembali ke PMDG bahkan menugaskan beberapa stafnya untuk menetap dalam beberapa waktu di Gontor. #mymind

Referensi: UNIDA Gontor

Seluruh Kampus Gontor dalam Jawa Serentak Peringati Persemar 1967

0

DARUSSALAM – Guna memperingati Peristiwa Sembilan Belas Maret (Persemar) 1967 di Pondok Modern Darussalam Gontor, Pimpinan Pondok menginstruksikan kepada seluruh Kampus Gontor di dalam Jawa, untuk memperingati Peristiwa tersebut pada tanggal 14 Maret 2015. Guna menekankan nilai-nilai dan falsafah pondok yang harus dipelajari pasca peristiwa tersebut, Pimpinan Pondok dan beberapa guru senior yang turut mengalami langsung Peristiwa tersebut, menyampaikan pesan dan nasehat di Kampus-kampus Gontor dalam Jawa.

K.H. Hasan Abdullah Sahal berbicara di depan Santriwati Gontor Putri 1 dan 2.
K.H. Hasan Abdullah Sahal berbicara di depan Santriwati Gontor Putri 1 dan 2.

Pembagian tersebut adalah sebagai berikut: K.H. Hasan Abdullah Sahal dan Ustadz Imam Shobari (Gontor Putri 1 dan 2); K.H. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. dan Ustadz Noor Syahid (Gontor Putri 3); Ustadz Abdullah Rofi’i dan Ustadz Syamsul Hadi Untung, M.A. (Gontor Putri 5); Ustadz Syarif Abadi dan Dr. H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A. (Gontor 3); K.H. Syamsul Hadi Abdan dan Ustadz Mulyono Jamal (Gontor 5); Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. dan Ustadz Suyoto Arif (Gontor 6).

Pimpinan dan Guru Senior yang mewakili tersebut membacakan Maklumat Persemar 1967 yang berisikan kronologi peristiwa, pengumuman dan Keputusan IKPM. Usai maklumat, beliau juga membacakan Bahan Pidato terkait Persemar 1967 yang disusun oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal. Bahan Pidato tersebut berisikan situasi dan sebab, solusi dan konsolidasi usai Persemar 1967.binhadjid

Laporan Dari Australia: Harmoni dalam Perbedaan

0
Silaturahmi dengan Prof. Abdullah Saeed
Silaturahmi dengan Prof. Abdullah Saeed

Melbourne- Setelah terlibat dalam dialog hangat dengan Australian Broadcasting Corporation (ABC) International, peserta Muslim Exchange Program (MEP) lalu menuju National Centre of Excellence in Islamic Studies, University of Melbourne untuk bertemu dengan direkturnya, Prof. Abdullah Saeed. Perjalanan relatif lancar karena kami menggunakan Trem, salah satu moda transportasi massal di Melbourne yang murah. Jam 14.00 waktu Melbourne, kami bertemu Prof. Saeed di kantornya yang berlokasi di Sidney Myer Asia Centre, the University of Melbourne. Setelah saling memperkenalkan diri, kami terlibat dalam perbincangan hangat tentang kehidupan muslim di Australia.

Prof. Saeed mengatakan, “Australian muslims have no difficulty in performing their prayer. They’re also involved in many social activities with other Australian citizen”. Beliau juga menyatakan bahwa negara Australia yang multikultural merupakan salah satu tempat ternyaman bagi umat Islam untuk menjalankan agamanya. Karena masyarakat pada umumnya memahami bahwa perbedaan itu merupakan sebuah realitas sosial yang genuine. “Something that we have to do is to respect the diversity, not to eliminate it”, demikian beliau menambahkan. Karena meskipun berbeda, umat manusia sebenarnya memiliki posisi yang sama sebagai manusia yang secara jelas dimulyakan oleh Allah; “wa laqad karramnaa banii aadam”.

Jika dilihat dari perspektif al-Qurán, perbedaan-perbedaan yang ada pada umat manusia memang sebuah ketentuan Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Arrum ayat 22 bahwa di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah penciptaan langit dan bumi, serta adanya perbedaan bahasa dan warna kulit. Ini semua bukan terjadi by accident akan tetapi by design yang di baliknya tentu terdapat banyak hikmah yang bisa diambil. Salah satunya adalah agar manusia itu saling mengenal, saling mempelajari kehasan yang dimiliki, dan saling menghormati sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 13.

Keberagaman di atas juga berlaku pada keyakinan sebagaimana kita melihat banyak agama yang dianut oleh manusia. Meskipun sebenarnya, jika Allah menghendaki, bisa saja Dia menciptakan satu umat pemeluk satu agama sebagaimana dijelaskan dalam al-Qurán. Jadi, menyikapi diversity dalam berbagai aspek kehidupan itu menurut hemat saya adalah melalui pendekatan sosial. Sebagaimana Islam mengajarkan bahwa seorang muslim harus bisa hidup dengan siapa saja secara damai meskipun berbeda-beda. Dari situlah akan muncul harmoni, keselarasan.

Setelah terlibat diskusi panjang dengan Prof. Saeed, peserta MEP kembali ke penginapan untuk bersiap-siap menuju daerah Glen Huntly Road, Culfield South yang lumayan jauh dari pusat kota Melbourne. Di sana kami akan makan malam dan bersilaturahmi dengan anggota Shira, an inclusive Orthodox Jewish Community. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit menggunakan taxi, kami sampai juga di restoran yang sudah ditentukan.

Sembari makan, kami terlibat dalam perbincangan yang santai. Komunitas yahudi yang minoritas di daerah itu banyak menanyakan tentang ajaran-ajaran Islam, tentang perbedaan-perbedaan yang sering muncul di tengah-tengah umat Islam, serta bagaimana perbedaan itu disepakati. Mereka juga banyak bercerita tentang agamanya. Dengan jujur mereka mengakui bahwa dalam umat yahudi juga terdapat berbagai macam perbedaan. Namun mereka –begitu juga kami– sepakat bahwa sebagai umat manusia, kita harus saling menghormati dan menghargai. Biarkan perbedaan itu nyata adanya, karena darinya akan muncul sebuah keselarasan, dan itulah harmoni. AbuNuya

Laporan Dari Australia: The Power of Media

0
Diskusi hangat di ABC International
Diskusi hangat di ABC International

Melbourne- Hari kedua di Melbourne (17 Maret 2015), peserta MEP disuguhi dengan rentetan program yang sangat menantang sekaligus menarik. Jam 9.45 (local time), saya beserta empat orang peserta lainnya sudah siap untuk menuju Australian Broadcasting Corporation (ABC) International dengan berjalan kaki karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari Darling Towers, tempat kami menginap. Setelah menyeberangi Flinders Street yang berlokasi satu block arah selatan dari Darling Towers, kami terus bergegas menuju Alexandra Gardens dengan menyeberangi Princess Bridge, sebuah jembatan yang membentang di atas Yarra River yang indah. Ibu Christina, koordinator MEP di Melbourne, sengaja membawa kami ke taman itu sebelum mengikuti dialog dengan awak media di ABC International. Hujan gerimis yang mengguyur pusat kota Melbourne menjadikan udara pagi itu sangat segar dengan suhu yang tidak terlalu dingin.

Setelah menikmati segarnya udara di Alexandra Gardens, kami

di depan alexandra garden
Peserta MEP di depan Flower Clock, part of Alexandra Garden

menyempatkan diri untuk melihat Nationnal Gallery of Victoria yang berlokasi di seberang jalan St Kilda. Gallery ini menyimpan banyak cerita. Secara rutin diadakan eksebisi-eksebisi dengan tema yang berbeda-beda di dalamnya. Di situ terlihat bahwa masyarakat Australia cukup memberikan apresiasi tinggi terhadap seni.

Setelah puas berkeliling dan mengambil gambar, kami segera bergegas menuju ABC International.

Tepat jam 12.00 (local time), kami tiba di ABC International, salah satu perusahaan media “berplat merah” yang ada di Australia. Media tersebut, menurut keterangan Ibu Christina dan beberapa penduduk setempat, “lumayan” independen meskipun dana operasionalnya banyak dicukupi oleh pemerintah. Artinya, media itu tidak dijadikan “corong” dari kebijakan-kebijakan pemerintah Australia. Hal ini berbeda dengan media Australia lain yang dimiliki oleh individu atau golongan yang cenderung tidak netral dalam menyajikan informasi. Keadaan seperti itu setali tiga uang dengan apa yang terjadi di Indonesia. Media-media mainstream yang dimiliki oleh suatu kelompok tertentu, cenderung membawa kepentingan kelompoknya. Meskipun tidak semuanya seperti itu. Hal ini bisa dimaklumi karena memang media memiliki peran yang signifikan dalam membangun sebuah opini. Ia menjadi salah satu alat yang penting untuk mendapatkan pegaruh dan kekuasaan di dunia. “Siapa saja yang ingin berkuasa, kuasailah dulu media”, demikian para ahli ilmu komunikasi berpendapat.

Berikutnya, setelah melewati prosedur registrasi tamu di front desk, kami menuju ruang rapat dan disambut oleh awak media ABC International, di antaranya: Clement Paligaru (Head, Radio & Multiplatform Asia), Margaret Coffey (jurnalis senior Radio National), L. Sastra Wijaya (Senior Producer), Dian Islamiati Fatwa (Head Business Development SE Asia), dan Erwin Surahman (Director for Indonesia Program). Setelah masing-masing memperkenalkan diri, kami terlibat dalam sebuh dialog yang menarik seputar kehidupan umat Islam di Australia, peran yang bisa mereka mainkan untuk ikut berpartisipasi membangun negara, dan kehidupan di Australia yang sangat multikultural. Coffey menjelaskan bahwa seluruh warga negara Australia memiliki hak yang sama, mereka tidak dibeda-bedakan berdasarkan agamanya, sukunya, dan strata sosialnya. Tidak ada dominasi mayoritas terhadap minoritas dalam berbagai kebijakan pemerintah. Sementara itu, Dian menceritakan bahwa masyarakat muslim di Australia tidak memiliki masalah dalam kehidupan sosialnya. Memang kadang terdapat kelompok kecil masyarakat Australia yang masih mengidap sindrom Islamophobia namun jumlahnya tidak signifikan. Karena pada umumnya, masyarakat Australia tidak melihat agama seseorang ketika melakukan interaksi sosial.

Diskusi berlanjut hingga jam 13.00 dan makin hangat ketika kami membahas masalah toleransi antar umat beragama, radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme yang masih banyak dijumpai di berbagai belahan dunia.

Setelah melewati perbincangan panjang dengan awak media ABC International, kami kemudian dibawa keliling untuk melihat proses produksi di perusahaan media ini. Di luar dugaan, perusahaan ini telah memiliki berbagai macam lini produksi; mulai dari radio, televisi, hingga portal berita online. Mereka juga memiliki kerjasama dengan berbagai media besar di tanah air, dan secara rutin menyumbangkan artikel untuk media-media tersebut.

Silaturahmi kami dengan ABC International memberikan spirit baru kepada kami untuk terus berdakwah (di Australia) dengan menampilkan Islam yang sebenarnya. Islam tanpa embel-embel apapun. Bukan Islam yang berwajah bengis sebagaimana dicitrakan oleh banyak media selama ini. Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena diperlukan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk media yang tidak bisa dipungkiri memiliki kekuatan untuk membangun sebuah image, opini. AbuNuya

Usai Pelantikan, Gontor Putri 3 Gelar Kursus Manajemen dan Keorganisasian

0

KARANGBANYU – Sabtu-Senin, tanggal 28 Februari 2015 – 2 Maret 2015, Gontor Putri 3 mengadakan Kursus Manajemen Keorganisasian atau Training Organization yang bertempat di Aula Mini Gontor Putri 3. Acara ini dibuka oleh Ustadz Sabar, S.Ag. dan ditutup langsung oleh Bapak Wakil Pengasuh Gontor Putri 3, Al-Ustadz Saepul Anwar, S.Ag.

Acara ini diikuti oleh seluruh pengurus OPPM dan Koordinator baru yang bertujuan untuk mengenalkan kepada mereka maksud dan tujuan daripada organisasi tersebut. Selain itu, mereka juga dijelaskan tentang Standar Operasional Pelaksanaan tiap-tiap bagian agar mereka tidak salah paham dan tidak salah mengerti dalam kepengurusan ini.

Kegiatan ini selalu dilakukan tiap tahunnya setelah pelantikan dan pergantian pengurus OPPM dan Koordinator baru. Dan berdiri sebagai tutor orientasi tahun ini adalah Ustadzah Nu’tih Kamalia, S.Pd.I yang menerangkan mengenai organisasi OPPM secara keseluruhan, dilanjutkan oleh Ustadzah Vina Qurrata A’yun, S.Pd.I mengenai masalah kebendaharaan, dan Ustadzah Desy Riana Maharani mengenai masalah Kesekretariatan.sekpenggp3