Home Blog Page 11

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd., di Masjid Jami’ PMDG pada Rabu, 8 Ramadhan 1447 H/ 25 Februari 2026.

  • Terdapat tiga karakter Muslim ketika Ramadhan datang.
  • Yang pertama adalah orang yang menyambut Ramadhan dengan jiwa yang sempit, merasa bahwa Ramadhan menutup pintu rizkinya. Benci dengan adanya Ramadhan.
  • Yang kedua adalah orang yang memiliki semangat hanya pada sepuluh hari pertama, hanya ingin merasakan hura-huranya saja.
  • Yang ketiga adalah orang yang memiliki semangat sepuluh hari pertama dan mulai lengah pada hari berikutnya, tetapi kembali semangat ketika dia merasakan masa-masa Lailatul Qadar. Dia percaya bahwasannya Lailatul Qadar ada di antara tanggal 29 hingga 30 Ramadhan.
  • Padahal, malam Lailatul Qadar itu di antara 1 sampai 30 Ramadhan, karena jika malam itu sudah ditentukan tanggalnya, maka semua orang Muslim hanya akan antusias pada malam itu saja. Padahal, Allah menginginkan hambanya selalu semangat dari awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan.
  • Pada 10 hari pertama, tanda-tanda diterimanya semua amalan positif kita adalah Allah akan menambahkan semangat pada 10 hari kedua.
  • Sesungguhnya melakukan sesuatu itu terletak pada putaran terakhirnya, bukan pada rintangan awalnya.
  • Sabar tanpa letih, syukur tanpa syarat, dan ridho tanpa batas. Tanpa ketiga itu, kita tidak akan menuju jiwa yang tenang dalam menjalankan ibadah. Yang paling ringan adalah bersabar, kemudian bersyukur, karena keduanya harus kita lakukan dari awal kita hidup sampai akhir.
  • Allah tidak menjanjikan bahwa hidup itu mudah, tetapi Allah akan memudahkan bagi siapapun yang bersyukur kepadanya.
  • Lantas, kita bahagia terlebih dahulu baru bersyukur, atau bersyukur terlebih dahulu baru bahagia?
  • Jawabannya adalah bersyukur terlebih dahulu kemudian bahagia. Harus Bersyukur ketika pemuda bisa rajin ke masjid, menjaga shalat 5 waktu, melakukan ibadah dangan khusyuk.
  • فاقد الشيئ لا يعطي, orang yang tidak mempunyai kebahagiaan maka tidak dapat membahagiakan orang lain. Itulah pentingnya bersyukur karena itu merupakan kunci dari kebahagiaan.
  • Apakah tidur bisa membuahkan pahala saat berpuasa? Jawabannya adalah bisa. Jika terdapat suatu hal yang berpotensi membatalkan puasa, maka untuk mengantisipasinya adalah dengan tidur, karena tidurmu bisa menghindari maksiat.
  • Kedua, ketika tidur karena ingin menjaga kesehatan dengan tujuan melaksanakan qiyamul lail, tilawah Qur’an, atau i’tikaf.
  • Tetapi, tidur yang tidak akan membuahkan apa-apa adalah saat kita tidur sampai lalai dengan berbagai hal, bahkan sampai berlebihan hingga lupa dengan ibadah.
  • Allah itu menciptakan manusia agar hidup mereka untuk beribadah, dengan tujuan akhirat.
  • Kita harus cekatan dalam segala pekerjaan, namun meninggalkannya saat datang waktu ibadah. Karena, urusan dunia dibayar secara langsung, sedangkan ibadah dibayar oleh Allah saat di akhirat nanti sesuai dengan amal perbuatan yang kita lakukan, apakah dosa atau pahala yang akan didapatkan.
  • Hal ini yang membuat orang-orang ragu untuk melakukan urusan akhirat, karena mengejar dunia akan mendapatkan hasilnya secara langsung, namun jika akhirat belum terlihat hasilnya secara langsung.
  • Ketika mereka di akhirat nanti, mereka meminta dikembalikan ke dunia walaupun hanya sesaat guna memperbaiki amalan mereka yang telah dilakukan.
  • Maka, Allah menjawab mereka, kami sudah memerintahkanmu agar beriman dan bertakwa, namun kamu tidak menghiraukannya.
  • Kita harus melaksanakan perbuatan baik yang dicontohkan oleh Rasulullah, sesuai dengan iman dan mengahrapkan imbalan dari Allah.
  • Terdapat orang yang berdoa kepada Allah agar pahalanya di akhirat diganti dengan uang di dunia. Apa kata orang yang beriman, “jika Allah melakukan hal semacam itu, maka apa gunanya orang bekerja keras sedangkan shalat saja menghasilkan uang, dengan begitu dunia akan rusak”.
  • “ .الدنيا دار العمل وليس فيها الجزا ء ” Dunia itu tempat kita beramal dan menyiapkan bekal untuk di akhirat kelak.
  • Maka, mari disadari bahwasannya kita patut bersyukur karena betapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita, berupa nafas untuk kita hidup, dan nikmat-nikmat lainnya sehingga kita bisa hidup sampai detik ini.
  • Ada suatu cerita, terdapat seorang pemuda yang tidak bersyukur dan menginginkan kekayaan lebih. Ketika datang seseorang dan bertanya kepadanya “berapa harga dengkulmu?”, dia menjawab sepuluh miliar dan akan membelinya. Orang itu pun terkejut dan mengatakan, “kalau kamu membeli dengkul saya, maka saya tidak akan bisa jalan dan bekerja.” Orang itu berkata, “itu berarti harga dengkulmu lebih dari 10 miliar, tandanya kamu sudah kaya.”
  • Maka, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki, karena jika kita kehilangannya, akan sulit untuk mendapatkannya kembali.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

Pentingnya Literasi Keuangan Pada Era Modern

0

Sesi ke-16 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 berlangsung pada Senin malam (23/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Bapak Eko Listiyanto, MSE. Selaku Ekonom dan Direktur pengambangan Big Data Instituate For Development of Economic and Finance (INDEF). Kehadiran beliau menjadi sebuah momentum penting bagi Siswa Kelas Akhir KMI 2026 akan pentingnya literasi keuangan bagi kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Eko menekankan pentingnya manajemen keuangan pribadi yang sehat, khususnya di kalangan generasi muda. Beliau menyoroti fenomena maraknya praktik judi online dan pinjaman daring (online lending) yang tidak bertanggung jawab. Kejadian ini kerap menjerat anak muda dalam permasalahan finansial. Menurutnya, perilaku tersebut tidak hanya membahayakan stabilitas keuangan individu. Juga berpotensi menghambat pembangunan ekonomi bangsa secara keseluruhan.

“Generasi muda adalah aset terbesar bangsa. Oleh karena itu, pemahaman terhadap literasi keuangan menjadi salah satu langkah penting dalam membangun dan memajukan negara,” ujarnya.     

Dalam pemaparannya, Bapak Eko tidak hanya mengulas risiko serta dampak negatif pinjaman online dan judi daring. Juga menyampaikan strategi praktis dalam mengelola keuangan secara bijak. Beliau turut menjelaskan pentingnya kesadaran finansial sejak dini agar generasi muda mampu mengambil keputusan yang tepat serta terhindar dari permasalahan ekonomi di masa mendatang.

Siswa Kelas Akhir 2026 diajak memahami risiko dan sistem bunga dalam pinjaman online agar tidak terjebak dalam beban utang yang merugikan. beliau turut mendorong kebiasaan menabung dan berinvestasi secara aman serta terencana sebagai upaya membangun stabilitas finansial.

Melalui peningkatan literasi keuangan, generasi muda diharapkan mampu merencanakan masa depan secara lebih terarah serta mendukung pencapaian tujuan pendidikan dan karier dengan penuh tanggung jawab.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel, Abhiraj

 Editor: Winka, AlifGhazi

Memahami Lebih Dalam Makna Panca Jiwa Dan Motto PMDG

0

Sesi terakhir Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026, The Brilliant Generation. Dilaksanakan di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Selasa malam (24/2). Sesi puncak ini diisi dengan pesan dan nasehat dari Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.

Mengusung tema “Kepondokmodernan”, sesi ini menjadi momentum penting bagi Siswa Kelas Akhir KMI 2026 untuk memperdalam pemahaman mengenai hakikat dan nilai-nilai Pondok Modern. Materi yang disampaikan tidak hanya mengulas aspek historis.

Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed., pada sesi kala itu menekankan pentingnya memahami secara mendalam motto dan Panca Jiwa PMDG. Menurut beliau, pembekalan ini merupakan salah satu bentuk “imunisasi” bagi Siswa Kelas Akhir 2026 sebelum terjun ke medan pengabdian. Zaman yang dihadapi merupakan zaman yang penuh tantangan dan kezaliman, di mana tidak sedikit orang menghalalkan segala cara demi kepentingan dan ego pribadi.

Beliau juga menegaskan bahwa segala aspek kehidupan harus senantiasa berjalan selaras dengan nilai-nilai agama, termasuk dalam bidang politik. Tanpa landasan agama, kehidupan bermasyarakat dan bernegara dapat kehilangan arah.

“Setelah keluar dari Gontor, Panca Jiwa itu harus kamu hayati dan maknai dengan benar. Zaman sekarang adalah zaman yang zalim. Jika politik tidak dilandasi Islam dan nilai agama, maka ia akan berjalan tanpa arah dan tidak karuan,” ujar beliau.

Dalam kesempatan lain, K.H. Hasan Abdullah Sahal selalu mengingatkan pentingnya memahami identitas kita sebagai santri PMDG. Sebagai santri, kita harus mampu memahami dan membedakan batasan-batasan syariat Islam. Tidak hanya itu, kita juga dituntut untuk dapat menarik garis pemisah yang jelas antara kebaikan dan keburukan.

“Jangan lupa identitas kita sebagai santri PMDG dan kita harus pandai untuk menaruh garis dermakasi guna bisa membedakan antara hal yang baik dan buruk” ujarnya.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel, Abhiraj

 Editor: Winka, AlifGhazi

Meneguhkan Ikhlas dalam Mengabdi: Bekal Alumni Menuju Kehidup Nyata

0

The Brilliant Generation melanjutkan pembekalan intensif dengan tema “Ikhlas dalam Mengabdi” dan “Orientasi Pengabdian”. Berlangsung di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dan dihadiri oleh Al-Ustadz H. Saepul Anwar, M.Pd, beserta jajaran Staf Sekretaris Pimpinan PMDG.

Dalam sesi pertama, Al-Ustadz Saepul Anwar menekankan pentingnya pengabdian sebagai penyempurna ilmu yang diperoleh selama masa studi di PMDG. Beliau menjelaskan bahwa kurikulum pondok dirancang untuk mencetak santri menjadi guru sekaligus pemimpin, dengan pendidikan yang bersifat menyeluruh. Mulai dari bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, merupakan bagian dari kurikulum yang sengaja disusun untuk membentuk karakter kepemimpinan, tanggung jawab, dan disiplin.

Sesi berikutnya dipandu oleh beberapa staf pimpinan pondok, yaitu Al-Ustadz Furqon Habiburrahman, Al-Ustadz Richo Fahriza, dan Al-Ustadz Adha Nur Lintang. Membahas lebih rinci tentang orientasi pengabdian. Materi ini menjadi landasan penting bagi para alumni dalam menghadapi tugas dan penugasan yang diberikan pondok. Sekaligus mempersiapkan mereka untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Pembekalan diakhiri dengan diskusi interaktif antara narasumber dan Siswa Kelas Akhir KMI 2026. Beragam pertanyaan yang diajukan mencerminkan keseriusan dan antusiasme para calon alumni. Dalam menghadapi tantangan pasca-kelulusan, terutama terkait pengabdian dan tanggung jawab sosial.

Meski kegiatan berlangsung lebih dari lima jam, semangat para santri tidak surut. Mereka tetap aktif menyimak, berdiskusi, dan berpartisipasi, menunjukkan komitmen tinggi untuk menerapkan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama masa studi.

Kegiatan ini menegaskan komitmen PMDG dalam mencetak generasi yang berilmu, bertanggung jawab, dan siap mengabdi, sehingga nilai-nilai kepemimpinan dan pengabdian dapat diaplikasikan secara nyata demi kemajuan masyarakat dan bangsa.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel Editor: Winka, AlifGhazi

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag., di Masjid Jami’ PMDG pada Selasa, 7 Ramadhan 1447 H/24 Februari 2026 M.

  • Kalau kita berpikir dengan pikiran yang jernih, sulit untuk tidak bersyukur. Di bulan ini, Allah mengobral pahala, apa yang kita lakukan di bulan ini semuanya berpahala.
  • Hal ini sulit dicari, jarang terdapat, mahal harganya. Bersyukur.
  • Sebuah kesyukuran, bapak dan ibumu dapat menyekolahkan anak-anaknya di Gontor. Karena, betapa banyaknya orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Dan, ada juga yang orang tuanya mampu, namun anaknya tidak mau.
  • Alhamdulillah, kalian semua adalah orang-orang yang beruntung, karena mau bersekolah di Gontor.
  • Bersekolah di pesantren merupakan kesyukuran yang luar biasa. Di pesantren inilah dibentuk kader-kader pemimpin umat.
  • Man lam yadzuq dzulla-t-ta’allumi saa’atan, tajarra’a dzulla-l-jahli thuula hayaatihi (siapa yang belum merasakan pahitnya belajar sesaat, akan merasakan pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya). Inilah yang dinamakan proses. Ibarat pedang yang tajam, melalui sebuah proses, dengan ditempa, dipukul, dipanaskan, diproses agar pedang itu tajam.
  • Banyak orang yang pintar, terampil. Namun, yang penting adalah prosesnya.
  • Di pesantren, ilmu agama kalian ditempa.
  • Terdapat banyak teknologi dari yang paling kecil hingga besar yang bertujuan untuk agama. Di pondok ini, teknologi itu penting, tergantung dengan cara penggunaannya.
  • Kalau kalian terus membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, maka in syaa Allah kita dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
  • Maka, beruntunglah kalian karena masuk pesantren, diajarkan ilmu-ilmu agama berdasarkan Al-Qur’an. Dari situ kita dapat menggunakan teknologi dengan sebaik-baiknya.
  • Pemuda-pemuda di luar sana, banyak yang mementingkan kebahagiaan mereka dengan maksiat, sedangkan kita di pesantren membahagiakan diri kita dengan ajaran-ajaran agama.
  • Di pondok ini, ada disiplin, karena disiplin merupakan kunci kesuksesan. Disiplin itu bukan berarti mengekang pergerakan kita, tetapi mengarahkan tujuan kita supaya terus berjalan, sehingga kita dapat mengatur waktu dan kegiatan kita.
  • Disiplin itu mudah, hanya menempatkan segala sesuatu sesuai dengan waktunya, bukan berarti mengekangnya. Sebagai contoh, seorang atlet yang berdisiplin dengan kegiatannya untuk menggapai tujuannya.
  • Di dalam masa pendidikan di pondok, kita dituntut untuk berdisiplin demi masa depan. Belajar pidato seminggu 3 kali adalah contoh dari proses yang kita lakukan di pondok ini.
  • Disiplin yang ada di pondok ini, patut dilaksanakan dengan hati yang ikhlas. Karena, segala sesuatu yang kita lakukan di pondok ini untuk latihan.
  • Oleh karena itu, ada istilah “Kalau tidak betah silahkan coba 1 tahun, kalau belum juga 2 tahun, kalau belum juga 3 tahun”, itu semua untuk proses demi masa depan. Dengan proses kita akan memahami sesuatu yang belum kita pahami.
  • Dalam pergerakan memang ada gesekan, kalau tidak ada gerakan maka tidak ada gesekan. Adanya gesekan untuk menguatkan mental-mental yang akan menimbulkan dinamika yang baik.
  • Dinamika yang baik akan menimbulkan etos kerja yang baik, cekatan, dan tanggap. Edukasi yang baik akan membentuk idealisme.
  • Di Gontor ini diajarkan bagaimana kita hidup, dan mencari hidup yang baik.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 4 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A.

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

Era Digital Bukan Alasan Untuk Tidak Berdakwah

0

Sesi ke-12 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 berlangsung pada Sabtu (21/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Al-Ustadz Bachtiar Nasir, Lc., M.M.. Beliau merupakan Da’i juga tokoh Muslim Indonesia yang dikenal luas melalui aktivitas dakwah dan pendidikan. Kehadiran beliau menjadi momen penting bagi para santri untuk menyerap pengalaman akademik, spiritual, dan profesional yang luas.

Di hadapan ratusan siswa kelas akhir KMI, beliau menguraikan bahwa tantangan umat ke depan menuntut generasi muda yang tidak hanya kuat secara akademik. Kematangan secara mental untuk menghadapi kondisi-kondisi yang kita tidak dapat prediksi. 

Peperangan dalam teknologi sedang terjadi, berapa banyak orang yang tumbang akibat sebuah mesin. Ungkapan yang beliau tekankan. Menurutnya, kecerdasan buatan telah bertransformasi menjadi infrastruktur kehidupan. Karena itu, generasi muda tidak boleh larut sebagai konsumen pasif. “Jangan menjadi korban AI. Kalianlah yang harus memperalat AI,” tuturnya. Beliau mengaitkan tantangan teknologi dengan problem kesehatan mental generasi muda, serta pentingnya bisa mengendalikan diri kita yang salah satunya ditempa melalui ibadah puasa.

Mengutip QS.Al-Anfal : 60 tentang pentingnya mempersiapkan kekuatan (quwwah), Bachtiar merumuskan empat pilar kekuatan 2026. Kedaulatan teknologi, infrastruktur data, penguasaan narasi, dan ketahanan ekonomi. Belajar coding dan sains data katanya bukan semata jalur karier melainkan ikhtiar menjaga agama islam.

Beliau juga menyoroti pergeseran ekonomi menuju sistem berbasis blockchain. Tanpa pondasi akhlak, tegasnya, teknologi hanya melahirkan sesuatu tanpa arah.

Di penghujung sesi, beliau mengingatkan para santri agar tak terjebak juga berlebihan ketika kembali ke masyarakat. Tantangan terbesar, katanya, adalah menaklukkan diri sendiri. Sebab di tengah gelombang algoritma dan big data, karakter tetap menjadi kompas utama.

Kehadiran Al-Ustadz Bachtiar Nasir memberikan motivasi agar para santri mampu melangkah dengan visi yang jelas, kesiapan mental, dan totalitas pengabdian yang kuat.

Kontributor: Faza, Kholis, Afgan Editor: Winka, AlifGhazi

Memaknai Perjalanan Panjang Gontor dalam Pembekalan 2026

0

Sesi ke-13 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 dilanjutkan pada Ahad (22/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Kegiatan ini merupakan dari rangkaian pembekalan strategis bagi para Siswa Kelas Akhir KMI 2026 sebelum terjun ke medan pengabdian.

Pada sesi tersebut menghadirkan Al-Ustadz Khairul Fata, Lc., M.Pd., Dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, sebagai narasumber. Di hadapan Siswa Kelas Akhir KMI 2026, beliau menyampaikan materi yang menekankan pentingnya memahami silsilah dan perjalanan historis Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai fondasi identitas dan arah perjuangan.

Menurut Al-Ustadz Khairul Fata, berdirinya PMDG bukanlah proses yang singkat dan instan. Pondok ini lahir melalui rentang sejarah panjang, melewati berbagai fase perkembangan, tantangan, serta transformasi nilai. 

Beliau menjelaskan tentang silsilah dan perjalanan PMDG mulai bagaimana trimurti pada masa kecil hingga kiprah dakwah para trimurti pendiri. Dalam suasana yang khidmat, para Santri diajak menelusuri jejak perjuangan pendiri dan nilai-nilai yang diwariskanya. Mulai dari kemandirian, kesederhanaan, hingga semangat pengabdian. Materi tersebut diharapkan memperkuat kesadaran bahwa setiap lulusan adalah mata rantai dari perjalanan panjang pondok.

Melalui pembekalan ini diharap para siswa kelas akhir tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman historis dan loyalitas nilai. Sebab, menjaga kesinambungan perjuangan, menurut Khairul Fata, adalah bagian dari tanggung jawab alumni Gontor di setiap zaman.

Forum pembekalan ini dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan visi bagi siswa kelas akhir 2026. Melalui dialog interaktif dan pemaparan materi, para santri diharapkan mampu memetakan langkah pengabdian secara lebih sistematis dan bertanggung jawab.

Rangkaian kegiatan pembekalan KMI 2026 akan terus berlanjut dengan menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi. Pondok berharap, para lulusan tidak hanya siap melanjutkan studi atau mengabdi di masyarakat, tetapi juga tampil sebagai pribadi yang berintegritas dan membawa nilai-nilai pesantren dalam setiap peran yang dijalankan.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel Editor: Winka, AlifGhazi

Berbagi Tanpa Batas, Pesan Ayahman Luqmanulhakim untuk Siswa Kelas Akhir KMI 2026

0

Sesi ke-14 Pembekalan Intensif Siswa Kelas Akhir Kuliyatul Mualimin Al-Islamiyah (KMI) 2026 berlangsung pada Ahad Malam (22/2). Bertempat di Gedung Olahraga Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Al-Ustadz H. Luqmanulhakim. S.E.I, M.A,.

Perjalanan beliau dimulai pada tahun 2012, setelah kepulangannya dari Malaysia. Dalam kisahnya beliau menjelaskan bahwasanya pada awal beliau merintis hidupnya, beliau hanya bermodalkan Rp.75.000,00. Prinsip keras untuk selalu memberi dan memberi tanpa takut untuk menjadi kurang, menjadikanya tegar selalu menghadapi kehidupan.

Al-Ustadz Luqmanulhakim mengingatkan bahwasanya orang tidak akan pernah melihat bagaimana proses kita. Jika kita salah maka orang akan memandang kita salah kecuali bagaimana perlakuan kita setelahnya. “Orang tidak akan pernah melihat kita masa lalu dan dimasa kini akan tetapi tentang bagaimana kita berbuat baik setelah berbuat salah” Ujarnya.

Berpuluh-puluh kali beliau jatuh hingga pada tahun 2022 titik puncak kebehasilan cita-cita beliau untuk bisa berbagi ke seluruh indonesia dan menjadi konstributor dana donatur untuk orang yang lebih membutuhkan. Komunitas Kapal Munzalan adalah salah satu komunitas yang beliau gerakkan. Lebih dari 1000 orang anak yatim, piatu dan dhuafa beliau kumpulkan untuk disedehkan. Lebih dari 10 Miliar setiap bulan beliau kumpulkan guna didonaturkan kepada yang berhak.

Tidak hanya kisah perjalan yang inspiratif saja yang beliau paparkan, bagaimana cara kita untuk mencari ilmu pun menjadi materi penting. Masa studinya di KMI mengajarinya bahwa keberkahan dan keridhoan kyai lebih penting dari ilmu itu sendiri. “Ilmu itu tidak hanya sekedar hafal tapi yang lebih penting itu keberkahan dari ilmu itu sendiri” ujarnya. 2 hal yang harus di gapai seorang santri katanya : yaitu Ridho orang tua dan ridhonya para kyai.

Kehadiran Al-Ustadz Luqmanulhakim memberikan motivasi agar para santri selalu berbagi tanpa takut untuk merasa kekurangan. Bahwasanya Allah selalu ada di antara kita.

Kontributor: Faza, Fayadh, Omar, Edsel Editor: Winka, AlifGhazi

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag., di Masjid Jami’ pada Senin, 6 Ramadhan 1447 H/23 Februari 2026 M.

  • Sebagai seorang muslim, memiliki jati diri itu penting, karena hal itu yang menunjukkan identitas kita sebagai muslim.
  • Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an; orang-orang yang beriman itu kalau mendengar seruan dari Allah atau rasul-Nya mengenai hukum dalam agama, maka mereka mengatakan sami’naa wa atha’naa, “saya mendengar dan saya taat”.
  • Maka, jika diperintahkan dalam Al-Qur’an, كتب عليكم الصيام (diwajibkan atas kamu berpuasa), maka orang-orang mukmin mengatakan sami’naa wa atha’naa.
  • Iman berarti iqraar bi-l-qalbi wa tasdiiq bi-l-lisaani (pengakuan dengan hati, dan pembenaran dengan lisan).
  • Iman itu ada 6, iman kepada Allah, iman kepada malaikat, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-Nya, kepada Hari Akhir, dan iman kepada taqdir Allah dalam baik dan buruknya. Itulah yang disebutkan dalam hadist mengenai arti dari Iman.
  • Percaya kepada Allah itu membutuhkan ilmu, ilmu tentang mengenal Allah. Bagaimana kita dapat percaya kepada-Nya kalau kita tidak menegenal-Nya?
  • Lantas bagaimana kita dapat mengenal Allah?. Lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang didalamnya banyak menjelaskan tentang Allah.
  • Selain mengenal Allah, melalui ayat-ayat Al-Qur’an, kita dapat mengetahui keesaan Allah SWT.
  • Kalau orang itu sudah benar-benar percaya kepada Allah SWT, maka dia akan mudah mengimani apa saja yang diperintahkan Allah.
  • Setelah kita mengenal dan percaya Allah maka kita akan mengimani-Nya dengan sebenar-benarnya Iman. Dengan demikian kita akan selalu mengatakan Sam’naa wa atho’naa dan bukan Sami’naa wa ‘ashoinaa.
  • Iman yang kedua yakni iman kepada malaikat, lantas apa itu malaikat?
  • Malaikat juga merupakan makhluk Allah yang selalu taat dengan tugas-tugas yang diberikan Allah.
  • Iman ketiga adalah iman kepada kitab-kitab Allah yang telah diturunkan melewati rasul-rasul-Nya.
  • Iman kepada rasul berarti percaya dan taat atas apa yang disampaikan mereka tentang syariat.
  • Iman yang keempat merupakan iman dan percaya bahwa suatu hari nanti terdapat Hari Kiamat yang pasti datangnya.
  • Yang terakhir, yakni terdapat iman kepada qadha’ dan qadar. Mengenai iman yang keenam ini, penting untuk betul-betul mempercayai Allah SWT.
  • Banyak orang yang mempertanyakan tentang qadha’ dan qadr karena manusia banyak yang tidak menerimanya, di mana orang yang sudah berusaha untuk suatu hal tetapi tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
  • Ilmunya Allah itu tidak seperti ilmu manusia yang hanya terbatas. Ilmu Allah itu tidak akan habis dan tidak ada batasnya. Segala sesuatu itu tidak akan luput dari ilmu Allah.
  • Jangan sampai kita tidak mempercayai ilmu Allah, dan hanya menganggap ilmu Allah itu terbatas.
  • Allah mempunyai kemahatahuan tentang apa saja yang akan terjadi terhadap manusia dan seluruh makhluknya, karena itu semua sudah tertulis di Lauh Mahfudz.
  • Segala sesuatu yang terjadi itu karena masyiatullah, atas kehendak Allah.
  • Tidak semua yang diimpikan pasti akan terjadi, cita-cita yang ditulis disana tidak akan terjadi tanpa kehendak dan sepengetahuan Allah.
  • Maka, keimanan itu yang menjadi identitas kita masing-masing. Kalau ada seruan dari Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, maka kita dapat menjawab dengan lantang sami’naa wa atha’naa.
  • Begitu mulianya bulan Ramadhan, pada bulan Rajab dan juga Sya’ban kita sudah diingatkan perihal datangnya Ramadhan dengan doa yang diucapkan Rasulullah اللهّم بارك لنا في راجب وشعبان وبلغّنا رمضان .
  • Sekarang tugas kita adalah bagaimana kita dapat mengisi bulan Ramadhan ini dengan berkah dan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 3 Ramadhan 1447 H, Ust. Assoc. Prof. Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A.

Kuliah Shubuh 4 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A.

Kuliah Shubuh 5 Ramadhan 1447 H, Al Ustadz Assoc. Prof. Dr. Y. Suyoto Arief, M.S.I.