Home Blog Page 10

Kuliah Shubuh 16 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd., di Masjid Jami’ PMDG pada Kamis, 16 Ramadhan 1447 H/5 Maret 2026 M.

  • Kita semua di dunia ini menginginkan kesuksesan, banyak perspektif orang dalam memaknai arti kesuksesan. Ada orang yang mengartikan kesuksesan sebagai orang yang kaya dan memiliki barang mahal.
  • Kesuksesan itu bukan masalah harta, orang sakit yang sudah berbulan-bulan akan mengartikan kesuksesan sebagai kesembuhan. Bahkan ada orang yang merasa sukses itu dengan hal biasa, cukup dengan mengeluarkan zakat dari hartanya maka mereka akan merasa sukses.
  • Kesukesan bukan hanya diukur dalam hal duniawi saja, namun dapat diukur dengan hal lain termasuk akhirat. Semua hal harus ada porsinya.
  • Allah memerintahkan kita untuk mempersiapkan bekal di dunia untuk akhirat kelak, karena inti kesuksesan ada di akhirat.
  • Kalau kita bisa berbuat banyak di dunia ini, maka itu semua untuk persiapan di akhirat kelak. Dalam perspektif Islam, kalau sesuatu tidak untuk ibadah, maka hal tersebut tidak ada gunanya.
  • Dalam bukunya, seorang ulama meriwayatkan bahwasannya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menggapai sukses.
  • Yang pertama adalah mu’ahadah, setiap dari kita pasti sudah melakukan perjanjian dengan Allah sebelum lahir, perjanjian untuk bertauhid.
  • Kullu mauludin yuuladu ‘ala-l-fitrah”, setiap anak yang lahir itu dalam keadaan fitrah, tetapi ibu-bapaknyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi atau Nasrani.
  • Asy-Syahaadah di pondok ini adalah janji kita bahwasannya kita akan melakukan hal yang baik-baik di pondok ini.
  • Kita disini untuk memperbaiki diri kita sendiri. Orang yang tidak mengingat janji akan merasa sembrono.
  • Yang kedua adalah mujahadah, setelah kita melakukan perjanjian maka kita harus bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh itu harus setiap hari, karena belum tentu besok kita akan lebih baik.
  • Dalam menuju kesucian diri, mujahadah akan sangat diperlukan. Contoh mujahadah di pondok kita ini adalah melawan kemalasan. Maka jangan sampai kita merasa bosan dalam beribadah dan belajar, karena itu semua adalah godaan dari setan.
  • Jika kita belajar dengan sungguh-sungguh, maka akan muncul jalan keluar yang diberikan Allah SWT. Hanya orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan menggapai kesuksesan.
  • Yang ketiga adalah muraqabah. Kesadaran diri bahwasannya dalam setiap kegiatan, kita diawasi oleh malaikat-malaikat Allah SWT.
  • Kita harus takut bahwasannya perbuatan yang kita lakukan masih kurang. Oleh karena itu, kita harus merasa salalu bersama Allah dimanapun dan kapanpun.
  • Ada negara yang maju seperti Singapura, karena mereka merasa diawasi dan terancam oleh negara sekitarnya.
  • Ada orang yang berdisiplin karena merasa diawasi oleh Allah, merasalah kalau kita diawasi oleh Allah Swt, jikalau kita tidak merasa diawasi, maka patut diketahui bahwasannya Allah akan mengawasi kita.
  • Semua ibadah yang kita lakukan harus selalu meningkat setiap harinya, jangan sampai kendur sedikitpun.
  • Yang keempat adalah muhasabah. Harus ada perhitungan setelah melakukan perbuatan baik, jangan sampai kita sudah melakukan hal baik namun tidak terhitung di akhirat kelak hanya karena niat yang salah. Maka, perbaiki niat kita masing-masing dalam melakukan segala sesuatu.
  • Rasulullah SAW selalu ber-muhasabah diri disaat sebelum tidur akan perbuatan yang telah ia lakukan sebelumnya.
  • Niatkan segala sesuatu lillahi ta’ala, jika sesuatu dikerjakan karena Allah, maka akan membuahkan pahala. Segala sesuatu yang maju pasti akan ada evaluasi dalam setiap pekerjaannya, maka penting untuk ber-muhasabah diri.
  • Orang yang tidak tahu posisi dirinya berarti tidak pernah ber-muhasabah, santri yang korupsi itu tidak merasa bahwa dirinya seorang muslim.
  • Yang kelima adalah mu’aqqabah, banyak santri yang melakukan suatu pelanggaran karena belum dihukum. Maka, pentingnya mu’aqqabah sebagai koreksi diri atau pendisplinan diri sendiri sebelum dihukum oleh orang lain. Karena, segala sesuatu itu dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
  • Mu’ahadah sebagai komitmen, mujahadah sebagai perjuangan, muraqabah sebagai pengawasan, dan mu’aqqabah sebagai evaluasi.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A., di Masjid Jami’ PMDG pada Rabu, 15 Ramadhan 1447 H/4 Maret 2026 M.

  • Ketika kita sudah masuk masjid, dianjurkan untuk tenang dan berhenti bercanda. Karena, candaan dan percakapan kita satu sama lain akan merusak kekhusyukan orang yang sedang beribadah.
  • Dan ketika imam sudah takbir dan sudah membaca Al-Fatihah, maka kita harus berdiri dan mengikuti imam dengan segera, bukannya duduk diam dan menunggu waktu ruku’.
  • Al’abdu yudhrabu bi-l-’ashaa, wa-l-hurru yakfiihi bi-l’-isyaarati. seorang hamba itu dipukul dahulu baru melakukan apa yang diperintahkan, namun orang yang merdeka cukup hanya dengan isyarat dan tidak memerlukan kekerasan.
  • Pondok mengajarkan lembaga yang bersistem pesantren. Kiai sebagai sentral figurnya, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.
  • Masjid adalah baitullah (rumah Allah), maka kewajiban bagi kita untuk menghormati masjid dalam berbagai hal.
  • Kita berangkat ke masjid dari kamar-kamar kita, dengan membaca do’a; bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa hawla wa laa quwwata illa billah. Dan ketika memasuki masjid membaca:; allahumma ighfir lana dzunuubana wa iftah lanaa abwaaba rahmatik.
  • Kita diikatkan dan disatukan dengan cahaya. Semua kegiatan harus diupayakan, melakukan kebaikan harus diupayakan dan menjauhi keburukan juga harus diupayakan.
  • As-shaumu junnah, puasa adalah perisai, perisai adalah benda yangdigunakan dan dipeganng ketika perang untuk melindungi diri. Yang diartikan sebagai perisai yang akan kita gunakan untuk melindungi diri kita dari perbuatan buruk.
  • Kita mengupayakan segala hal yang terbaik.
  • Jadilah manusia yang beradab.
  • Pendidikan di Pondok ini bertujuan agar para santri terbiasa dengan kegiatan dan pakaian yang baik dan bersih.
  • Pakailah parfum dan pakaian bersih ketika beribadah kepada Allah SWT, jangan hanya ketika akan bertemu seseorang.
  • Membersihkan segala hal termasuk badan ketika ingin beribadah kepada Allah SWT.
  • Diriwayatkan dalam haditsnya, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk ber-shiwak, agar bau mulut kita tidak mengganggu orang lain di sekitar kita.
  • Dalam Riwayat hadist lain, Rasulullah bersabda, barangsiapa memakan makanan yang memiliki aroma yang kemungkinan mengganggu orang lain, agar sekiranya menjauhi masjid terlebih dahulu. Karena aroma tersebut akan mengganggu orang lain dan juga malaikat yang sedang beribadah juga.
  • Langkah-langkah kita ketika pergi ke masjid untuk meluruskan niat beribadah kepada Allah SWT.
  • Wudhu adalah hal terpenting dalam beribadah, bukan sekedar membasahi dan menggerakkan badan, tetapi memiliki makna di setiap gerakannya.
  • Sebaik-baik shaf dalam shalat bagi laki-laki adalah shaf terdepan. Karena yang memilih mshaf terbelakang adalah perempuan.
  • Jika kita sudah mendengar iqamah, disunnahkan untuk bersegera merapat kedalam shaf dan agar tidak tergesa-gesa dalam memasuki shaf.
  • Rashulullah tidak menganjurkan kita tergesa-gesa ketika mendengar iqamah, namun bersegera dan mempercepat tanpa tergesa-gesa, karena tergesa-gesa akan membuat kalian tidak khusyu’ dalam beribadah kepada Allah SWT.
  • Oleh karena itu, ketika imam sudah memulai takbir, maka kita harus bersegera dan tidak berleha-leha, bukannya diam dalam duduk dan mengakali shalat berupa “apakah Shalat ini akan lama atau tidak?”, cukup mengikuti apa yang dilakukan imam. Karena itu adalah ego dan godaan setan yang membuatmu tidak melakukan apa yang harus dilakukan sebagai seorang muslim.
  • Masjid adalah pusat kegiatan yang menjiwai, maka tidak patut bagi kita mengotori dan merusak lingkungan yang tenang untuk beribadah, karena itu termasuk perbuatan dosa dan mengganggu orang shalat.
  • Ketika seseorang ditanya apa itu Al-Qur’an, maka jawabannya yang paling cukup adalah kalaamullah (perkataan Allah).
  • Banyak yang mengatakan Al-Qur’an adalah kitaabullah, sehingga banyak orang yang merumpakan hanya sebagai tulisan saja dan mengaitkan dengan tulisan lain sehingga menjadi karangan.
  • Padahal, Al-Qur’an adalah kalaamullah yang di tulis didalam suatu kertas, dan mushaf sebagai lanjutan dari kalaamullah yang ditulis agar semua kaum muslimin dapat membacanya.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I., di Masjid Jami’ PMDG pada Selasa 14 Ramadhan 1447 H/3 Maret 2026 M.

  • Lain syakartum laaziidannakum wa lain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid (Sungguh, jika kamu bersyukur, maka pasti kutambah nikmatku. Dan sungguh, jika kamu kufur, sesungguhnya adzabku sangatlah pedih).
  • Alhamdulillah atas nikmat Allah, dan jangan sampai dihitung secara nominal, karena, jika kalian bersyukur, maka akan ditambahkan oleh Allah segala nikmatnya.
  • Karena umur kita pendek, maka kita harus mengharapkan banyak kepada Allah, bersyukur bisa hidup sehat wal afiat.
  • Lailatul qadr adalah malam yang kebaikannya lebih besar dari seribu bulan, diisi dengan banyak-banyak ibadah.
  • Jika kita mendapatkan malam lailatul qadr, maka kita akan mendapat keberkahan melebihi masa hidup kita. Maka, jangan sampai kita menyianyiakan bulan Ramadhan ini.
  • Rasulullah SAW ketika datangnya bulan ini, beliau berkhutbah di hadapan umatnya, bahwasannya bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan keistimewaan.
  • Kita, sebagai seorang muslim, hal yang harus dilakukan ketika datangnya bulan suci ini adalah mentadabburinya, mensyukurinya, dan memujinya.
  • Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan tetapi menyia-nyiakan ibadah lainnya, sampai Al-Qur’an tidak dikhatamkan, tarawih masih ngantuk dan lain-lainnya, maka dia termasuk orang yang rugi.
  • Mumpung, masih ada Ramadhan, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
  • Apa arti dari kata Ramadhan? Dari kata Ramdhan yang artinya padang pasir, panas yang akan membakar dosa-dosa kita.
  • Wa saari’uu, dan bersegeralah, ila maghfirotin, menuju pengampunan, yang artinya fastabiqul khoirot, atau berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
  • Laa taqrobuu maala-l-yatiim wa la taqrobuu-z-zina, jangan dekat-dekat dengan harta anak yatim dan zina karena itu semua akan menjerumuskan kepada dosa. Itulah islam melarang kita untuk mendekati hal-hal yang buruk.
  • Sesungguhnya manusia itu berdosa dan sebaik-baiknya dosa adalah yang bertaubat setelah melakukannya.
  • Kalau setelah melakukan dosa kemudian mengingat nama Allah dan memohon pengampunan kepadanya maka itulah sebaik-baiknya manusia.
  • Surga itu darajaat memilki makna ke atas, kalau neraka itu darakah artinya ke bawah. Betapa indahnya agama islam ini yang memberikan hidayahnya kepada manusia dengan sebaiknya.
  • Jangan mengira dosa itu hanya di balas di akhirat saja, tetapi di dunia juga terdapat pengaruh-pengaruh dosa atau akibat dari dosa-dosa yang kita lakukan.
  • Ketika kita berada di akhirat kelak, kita akan meronta dan meminta kepada Allah karena perbuatan-perbuatan kita yang kurang baik, dan meminta untuk kembali ke dunia dan memperbaikinya. “Seandainya saya dihidupkan kembali maka saya tidak akan berbuat dosa dan maksiat”.
  • Jangan putus asa untuk berdoa dalam meminta pertolongan kepada Allah, karena pertolongan Allah pasti akan datang kepada hambanya yang bertakwa.
  • Kalau titik-titik hitam (dosa) terus menerus berkumpul di hati seseorang, maka akan menjadi noda hitam yang banyak.
  • Dahulu, bapak kita tidak bekerja tetapi sering berbagi dan bersedekah untuk kelancaran nikmat yang diberikan kepada keturunan mereka nanti.
  • Sesungguhnya maksiat itu membawa sial.
  • Jika kalian beribadah kepada Allah pasti Dia akan menampakkan cahaya di wajahnya pada hari kiamat nanti.
  • Cahaya anak sholeh akan sampai kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa.
  • Kalau sudah diingatkan dengan kesalahan maka harus menjadi yang lebih baik, melakukan perbaikan dalam diri tersebut.
  • Buktikan kebaikan di bulan Ramadhan. Yang masih bermalas-malasan, suka berbohong, dan suka bermaksiat maka di bulan Ramdhan ini adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan dan memperbaiki itu semua.
  • Rasulullah jika berkumpul di suatu majlis beliau beristighfar selama tiga puluh tiga kali untuk melebur dosa.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag., di Masjid Jami’ PMDG pada Senin, 13 Ramadhan 1447 H/2 Ramadhan 2026 M.

  • Supaya menjadi pemuda yang diharapkan, harus menjadi pemuda-pemuda yang berjiwa pejuang dan berdisiplin.
  • Maju mundurnya pondokmu tergantung kepada prestasi, dedikasi, loyalitas tanpa cacat (PDLT).
  • Peganglah erat-erat amanat kiai-kiaimu, guru-gurumu.
  • In ahsantum, ahsantum li anfusikum (jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri), kamu harus berkorban dan berjuang.
  • Tentenglah dengan hatimu, dengan jiwa perjuangan dan jiwa pengorbananmu untuk beribadah kepada Allah.
  • Jangan mengambil enaknya saja, jangan memuaskan diri dalam memperjuangkan nilai di pondok ini dan kehidupan ini.
  • Khairunnaasi anfa’uhum li-n-naasi¸ sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
  • Lihatlah perjuangan Bapak-Bapak Pimpinan, guru-guru, jadilah orang yang meneruskan perjuangan mereka.
  • Meraih kesuksesan adalah wujud perjuangan dan butuh perjuangan.
  • Bergeraklah tanpa batas.
  • Laksanakanlah puasa Ramadhan ini untuk ibadah, bukan untuk hal-hal yang lain, karena di Pondok ini kita sedang menjalani proses atau sedang dibentuk.
  • Kalian dibentuk di Pondok ini berupa diberi amanat ini dan itu sebagai wujud proses.
  • Udkhuluu fii Gontor kaaffah, masuklah kedalam Gontor dengan totalitas.
  • Jangan menjadi manusia ala kadarnya dan minimalis, jadilah manusia yang maksimalis, all out, menjadi manusia yang serba bisa.
  • Kuncinya adalah sabar, tawakkal, ikhlas, ridha.
  • Kita harus optimis di Gontor ini, all out, berbuat dan bekerja sebanyak banyaknya.
  • Kalian akan menjadi orang yang memiliki potensi, oleh karena itu harus maksimal dalam berbagai hal.
  • Nilai-nilai yang diambil di Gontor ini di antaranya adalah Panca Jiwa, motto, dan tujuan.
  • Supaya kalian menjadi manusia yang berkembang, meningkat dalam segala hal kalian harus berjuang dalam mencapai puncak di pondok ini.
  • Untuk apa kita berprestasi? Jawabnya adalah agar kita dapat bersyukur dan sadar kepada Allah SWT.
  • Dan identitas kita diukur melewati segala dinamika perjuangan, pergerakan, dan produktifitas kita.
  • Hidup ini diumpamakan dengan tetesan air dan makanan dari hasil buah perjuangan.
  • Perbanyaklah dalam melakukan amalan-amalan yang baik agar membuat sejarah yang baik, Karena masa depan ada di tangan pemuda.
  • Inna akramakum ‘indaallahi atqaakum, sesunguhnya orang yang paling mulia diantara kalian menurut Allah adalah yang bertakwa.
  • Jangan ugal-ugalan karena kalian masih diproses, sayangilah adik-adikmu maka adik-adikmu akan sayang kepadamu, dengan begitu adik-adikmu akan mencontoh perbuatanmu.
  • Kalau perbuatanmu baik, maka akan menjadi ‘amal jariyah. Karena, kunci pondok ini adalah perilaku dan akhlak santri-santrinya. Kalau perbuatanmu baik, in syaa Allah pondoknya juga akan baik atau bahkan lebih.
  • Perbuatan-perbuatanmu semuanya bermakna, berkualitas, maka kita harus menumbuhkan jiwa-jiwa harokiy.
  • Taharrak! (Bergeraklah!) Fa inna fi-l-harakati barakah (Maka, sesungguhnya di dalam pergerakan, ada keberkahan).
  • Yang dinilai di Pondok ini adalah prestasi, dedikasi, loyalitasmu.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

Yudisium Siswa Akhir KMI 2026: Babak Baru Kehidupan Santri

0

GONTOR – Sebanyak 2.070 siswa akhir Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) 2026 The Brilliant Generation mengikuti yudisium kelulusan pada Ahad (3/1) pagi di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Prosesi tersebut menjadi penanda kelulusan sekaligus awal pengabdian mereka sebagai alumni.

Direktur KMI, KH. Masyhudi Subari, M.A., menyampaikan bahwa seluruh siswa dinyatakan lulus setelah melalui rangkaian ujian akhir. Beliau mengingatkan kalau pencapaian tersebut harus disyukuri dengan sungguh-sungguh.

“Anak-anakku sekalian dalam ujian kemarin dinyatakan lulus. Jangan kurang bersyukur,” ujar beliau. Ustadz Masyhudi menjelaskan bahwa untuk menyempurnakan hasil pendidikan yang telah didapatkan, mereka akan diamanahi untuk mengabdi.

Seluruh siswa akhir kemudian disebar ke empat kategori pengabdian; sebagai guru di kmapus-kampus PMDG, guru di pondok binaan alumni PMDG, mahasiswa Universitas Darussalam (UNIDA), serta pengabdian mandiri di berbagai daerah. Satu per satu nama mereka dipanggil sesuai penempatan masing-masing, disaksikan jajaran Pimpinan dan guru PMDG, serta wali santri.

Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa Gontor adalah gerakan pendidikan yang lebih dari sekadar formalitas. “Ini namanya gerakan pendidikan, bukan hanya pergerakan, bukan hanya pendidikan yang makan, tidur, shalat,” tutur beliau.

Menurut Kiai Hasan, PMDG juga mendidik santrinya untuk berorganisasi, membangun cita-cita, dan membentuk karakter. Beliau juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan dan keteladanan. “Tidak ada kemajuan tanpa kedisiplinan, dan tidak ada kedisiplinan tanpa keteladanan,” ucap beliau.

Sebagai penutup, Kiai Hasan berpesan agar prestasi yang telah mereka raih tidak disia-siakan. Ibadah, prestasi, dan prestise harus berjalan seiring. “Pandai-pandailah bersyukur. Jangan sampai lengah, jangan beri celah pada godaan.”

Yudisium ini dihadiri jajaran keluarga besar PMDG, mulai dari Pimpinan, Direktur KMI, wakil pengasuh, para guru, hingga wali santri. Dengan seremoni tersebut, siswa akhir KMI 2026 The Brilliant Generation resmi memasuki babak pengabdian mereka.

Kontributor: Ghazi, Dejuan, Editor: Winka, Alif

Related Articles:

Haflatul Wada’: Langkah Terakhir, Sekaligus Awal Perjalanan Baru Alumni 2026

Memahami Lebih Dalam Makna Panca Jiwa Dan Motto PMDG

Meneguhkan Ikhlas dalam Mengabdi: Bekal Alumni Menuju Kehidup Nyata

Haflatul Wada’: Langkah Terakhir, Sekaligus Awal Perjalanan Baru Alumni 2026

0

Bertepatan pada Sabtu (28/2), Siswa Kelas Akhir Kulliyyatul-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) 2026 The Brilliant Generation menyelenggarakan resepsi Haflatul Wada‘. Momen ini mencatat sejarah baru dalam perjalanan pondok, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, resepsi khataman kali ini diselenggarakan di New BPPM.

Membekali para calon alumni KMI 2026 agar siap menghadapi tantangan kehidupan bermasyarakat. Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Badan Wakaf, para guru KMI, dan seluruh siswa kelas Akhir 2026.

Haflatul Wada’ adalah pertemuan terakhir para siswa kelas akhir dengan Bapak Pimpinan, sekaligus menjadi perpisahan resmi sebelum mereka menjadi alumni dan menyebar ke berbagai penjuru dunia.Wakil Bupati Siak Bapak Syamsurizal Budi turut hadir mengisi sambutan perwakilan wali santri.


Dalam sambutannya, Direktur KMI, Al-Ustadz K.H. Masyhudi Subari, M.A., menekankan betapa pentingnya peran alumni dalam mengamalkan nilai-nilai yang telah diajarkan di pondok. Menurut beliau, pengabdian yang terbaik adalah pengabdian yang dilakukan dengan keikhlasan, dedikasi, serta pengorbanan lillahi Ta’ala.

Beliau menegaskan, “Jangan pernah merasa kecil ketika kamu turun ke masyarakat. Seorang alumni tidak dinilai dari penampilannya, tetapi dari keikhlasan, dedikasi, dan pengorbanannya saat mengabdi.”

Pada kesempatan lain, Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan bahwa kondisi dunia saat ini tidaklah stabil. Banyak konflik dan peperangan yang terjadi, sehingga keberadaan pesantren menjadi sangat penting dalam menjaga moral dan akhlak umat.

Beliau juga mengingatkan para santri agar tidak mudah berharap kepada orang lain secara berlebihan sehingga terjatuh pada syirik, dan agar tidak gampang memberi harapan tanpa pertimbangan.

Beliau menegaskan, “Jangan mudah-mudah mengharapkan, juga jangan mudah-mudah memberi harapan.” Pesan ini menjadi bekal penting bagi para alumni untuk menapaki kehidupan baru dengan bijaksana dan berakhlak mulia.

Kontributor: Faza, Abhiraj, Panitia Khataman

 Editor: Winka, AlifGhazi

Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc., di Masjid Jami’ PMDG pada Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H/28 Februari 2026.

  • Hari ini, sudah 10 hari ibadah puasa bulan Ramadhan berlangsung. Maka, kita harus lebih menguatkan iman kita.
  • Bulan Rajab dinamakan syahru-z-zar’i (bulan menanam), bulan Sya’ban syahru-s-sakhyi (bulan memupuk), bulan Ramadhan syahru-l-hasdi (bulan menuai).
  • Rajab, bulan masa-masa menanam, lantas apa yang kita tanam? Kita menanam kebiasaan- kebiasaan yang baik. Seperti membaca Al-Qur’an, sedakah, tahajjud, dan ibadah-ibadah lainnya.
  • Sya’ban, ketika sudah menanam, tinggal memupuk. Ketika sudah dipupuk, akan semakin tumbuh dan meningkat.
  • Ramadhan, mulailah masa memanen, yakni memanen kebiasaan baik yang sudah dibiasakan dari 2 bulan sebelumnya, bukan malah baru memulai dari awal di bulan ini, tetapi sudah dipersiapkan dari lama.
  • Dan di Bulan Ramadhan ini, ada pertempuran besar. Perang besar di dalam diri kita masing-masing. Antara diri kita melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada di dalam diri kita melawan takwa keimanan, karena barang siapa yang bertakwa maka menjadi orang yang mulia.
  • Karena orang yang mengikuti hawa nafsu, tidak akan terkendali dan cenderung mengikuti keinginan tanpa pengawas wahyu dan nasehat.
  • Contohnya adalah orang yang mengajak kepada kesenangan cepat atau sesaat walaupun tau akan berdampak buruk. Cenderung menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan keinginannya, lebih mengikuti selera tanpa memikirkan yang lain atau ingin menang sendiri, tidak ingin mendengarkan nasihat. Sehingga, semangat yang dimiliki bukan semangat ibadah, melainkan semangat dalam ber-syahwat.
  • Takwa, diambil dari kata “وقى ” yang berarti melindungi, menghindari dari hal-hal yang tidak baik, membuat benteng perlindungan. Secara istilah; melindungi diri dari syahwat dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Ketika seseorang yang bertakwa berhasil mengalahkan hawa nafsunya, maka dirinya akan merasa menang.
  • Puasa adalah perisai/tameng, diumpamakan bahwa puasa adalah perisai yang digunakan untuk melindungi diri dari syahwat.
  • “ اختَّق ” dan “ خرق ” yang berarti melubangi, yang berarti perisai akan tetap utuh jika tidak berlubang, perisai tersebut dapat berlobang dengan berbohong dan berghibah. Perisai yang berlubang tak akan berguna lagi, karena sudah tidak dapat melindungi dirinya sendiri lagi. Orang yang bertakwa itu yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak baik, maka tidak mungkin kita menjadi orang yang bertakwa kalau masih mengikuti hawa nafsu terus-menerus.
  • Bagaikan arena yang digunakan untuk bertanding, tempat orang-orang berlomba, berjuang, dan pasti akan ada yang menjadi pemenang diantara yang lain.
  • Begitupun puasa, Bulan Ramadhan adalah arena kita semua berkompetisi, berlomba dalam kebaikan untuk menjadi pemenang. Siapa yang menjadi pemenangnya jika ada pertempuran antara hawa nafsu dengan takwa? Maka takwalah yang akan menjadi pemenang.
  • Orang-orang yang akan mengikuti kompetisi pasti akan berlatih dengan rajin, mempersiapan diri dengan matang agar menjadi pemenang serta menguatkan mental. Orang yang akan memenangkan pertandingan adalah mereka yang telah menanam dan melakukan persiapan sebelum pertandingan.
  • Sekarang sudah sepertiga bulan Ramadhan, masih ada banyak kesempatan yang kita miliki untuk meningkatkan diri di bulan Ramadhan. Dengan perisai yang kita miliki, kita dapat menahan hawa nafsu.
  • Seorang hamba tidak akan menjadi hamba yang bertakwa kalau dia tidak khawatir dengan sesuatu yang dapat membawanya kepada hal-hal tidak patut.
  • Buka ponsel itu hal biasa. Namun, bagi orang-orang yang bertakwa, jika membuka ponsel, takut akan membawanya kepada hal-hal yang tidak baik.

Notulen: Hilmi, Cheviq

Related Articles:

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed., di Masjid Jami’ PMDG pada Jumat, 10 Ramadhan 1447 H/27 Februari 2026 M.

  • Ajaran Islam itu terbagi menjadi 3 hal yaitu, akidah, syariah, dan akhlak.
  • Kenapa kita diwajibkan untuk berpuasa? Why and what for?
  • Karena, kita adalah orang-orang yang beriman. Dengan tujuan agar menjadi orang yang bertakwa.
  • Ketakwaan yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda, karena memiliki kurikulum yang berbeda-beda. Output dari puasa setiap orang berdasarkan madrasah puasa yang dilakukan.
  • Imam Ghazali menuliskan pada bukunya yang berjudul “Tasawwuf”. Di halaman 238, dalam bab “Fii atsari-s-shaumi wa syuruthihi al baathil“, bahwasannya alumni orang yang berpuasa terbagi menjadi 3 : shaumul ‘umum, wa shaumul khusus, wa shaumu khususil khusus.
  • Yang pertama, adalah puasa yang sekedar menjaga perut dan kemaluan dari syahwat, tidak makan dan minum, juga tidak menggauli istrinya. Inilah yang dinamakan shaumul ‘umum.
  • Yang kedua, shaumul khusus merupakan puasanya orang-orang sholeh yang menjaga seluruh anggota badannya dari keburukan, terdapat 6 perkara agar bisa menjadi alumni tingkatan ini diantaranya :
    1) Menjaga pandangan dari hal-hal yang dapat melupakan dzikir kepada Allah.
    2) Menjaga perkataan dari omong kosong, dusta, mengadu domba, kata-kata kotor, kata-kata kasar, pertikaian, dan perdebatan.
    3) Menjaga pendengaran dari hal-hal yang tidak baik.
    4) Menjaga anggota badan lainnya seperti tangan dan kaki dari hal-hal yang tidak terpuji.
    5) Tidak memperbanyak makanan saat waktu berbuka puasa, sehingga merasa kenyang. Karena Nabi saat berbuka puasa, tidak makan sampai kenyang.
    6) Yang terakhir adalah supaya hatinya setelah berbuka puasa merasa cemas dan berharap puasa yang dilakukannya dapat diterima oleh Allah.
  • Yang ketiga, shaumu khususil khusus merupakan puasa hati atau puasa yang dilakukan hanya untuk Allah SWT, orang yang merasa jika berfikir selain Allah akan membatalkan puasa.
  • Paling tidak kita berpuasa kali ini kurikulumnya tidak hanya pada tingkatan yang pertama atau S1 (shaumul ‘umum), tetapi juga S2 (shaumul khusus) yaitu tingkatan kedua, lebih baik lagi jika mencapai S3 (shaumu khususil khusus) atau tingkatan terakhir yang paling tinggi.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.

Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H., di Masjid Jami’ PMDG pada Kamis, 9 Ramadhan 1447 H/ 26 Februari 2026 M.

  • Setiap detik dan menit tidak terpisahkan dari nikmat Allah. Allah memilih kita dari sekian banyak orang untuk merasakan nikmatnya Ramadhan.
  • Bersyukurlah atas proses yang telah kita lalui semenjak sebelum menjadi santri hingga menjadi alumni pesantren.
  • Berapa banyak orang-orang disekitar kita tidak bisa merasakan bulan Ramadhan.
  • Maka haruslah bagi kita untuk bisa memanfaatkan nikmatnya bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya salah satu cara-nya ialah dengan berberpuasa. 
  • Bersyukurlah jika kita tidak bersyukur maka kita akan menjadi orang yang kufur.
  • Bukan hanya ritual tahunan tapi ini merupakan bulan Pendidikan dan penggemblengan. Diawal-awal ini kita digembleng untuk menentukan pondasi, karena segala sesuatu bergantung pada pondasinya. Jika pondasinya kuat maka sebuah bangunan juga akan ikut kuat.
  • Hayatilah bulan Ramadhan ini, karena itu merupakan madrasah roohaniyyah yang sangat sistematis dan berangsur.
  • Bulan Ramadhan ini sebagai pembersih dan penumbuh jiwa kita. Maka haruslah kita menggunakan itu dengan baik.
  • Suatu ibadah seperti shalat dan puasa jika kita menganggapnya sebuah kebutuhan dan kesyukuran, maka tidak akan berat untuk melakukannya. 
  • Madrasah Ramadhan ini akan mendidik hati, apabila sesuatu dianggap beban akan terasa berat. Apabila sesuatu dianggap kesyukuran akan terasa ringan.
  • Kita menganggap bahwa orang-orang berpuasa adalah orang yang sehat lahir dan batin sehingga kita mengungkapkan rasa kesyukuran.
  • Ucapan rasa syukur dan hal paling pertama yang dapat kita lakukan di pondok ini adalah kepada orang tua. Karena orang tua banyak mengharapkan kepada anaknya saat masuk pesantren.
  • Ketika kita bersyukur agar jangan lupa dengan wasa’il, atau wasilah yang menyampaikan semua itu kepada kesuksesan.
  • Seluruh kegiatan dan Pendidikan di pondok  ini bukan hanya menyampaikan ilmu atau iishaalul ma’lumaat, tapi juga penerapannya.
  • Seorang guru yang mengajari muridnya tentang man jadda wajada jika disampaikan lewat mulut saja dua detik saja cukup, tetapi yang sulit adalah menjadikan seorang murid itu jiddiyyah, karena membutuhkan dua sampai tiga tahun. Bukan hanya menyampaikan ilmu, namun juga mendidik pribadi.
  • Kesyukuran itu bukanlah akhir dalam suatu hal, tapi merupakan awal yang baik.  
  • “Jikalau kalian bersyukur dalam hal kecil atau sedikit, maka akan ku berikan suatu kenikmatan dalam hal yang besar dan Panjang”.

Notulen: Hilmi

Related Articles:

Kuliah Shubuh 6 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Ismail Abdullah Budi Prasetyo, S.Ag.

Kuliah Shubuh 7 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Suwarno TM, S.Ag.

Kuliah Shubuh 8 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Masykur Hasan, S.H.I., M.Pd.