Home Blog Page 10

Kuliah Shubuh 19 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Prof. Dr. Sujiat Zubaidi, M.Ag.

0

Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Prof. Dr. Sujiat Zubaidi, M.Ag., di Masjid Jami’ PMDG pada Ahad, 19 Ramadhan 1447 H/8 Maret 2026 M.

  • Bersyukur, kita dapat bersyukur dengan cara memanfaatkan atau menggunakan apa yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Kalau orang yang diberikan ilmu, maka cara mensyukurinya yakni dengan cara menerapkan dan mengajarkannya di masyarakat.
  • Ada suatu cerita, B.J Habibie pada suatu pertemuan ditanya oleh seseorang, “apa bedanya matematika dan berhitung?”. Kemudian, beliau menjawab, “Matematika untuk menguasai teknologi, dan berhitung untuk kegiatan latihan”.
  • Banyak orang yang pintar Matematika, namun jika diberi persoalan mengenai hitungan kehidupan dia tidak bisa. Petanyaan selanjutnya, “apa yang membuat kemampuan atau prestasi putra bapak melebihi bapak sendiri, apa rahasia bapak mendidik putra bapak?” B.J Habibie mengatakan, “saya hanya memberikan 3 prinsip yang bisa di gunakan anak saya untuk meningkatkan dirinya sendiri; membaca, membaca, dan membaca,” beliau meneladani ayat pertama Al-Qur’an yakni iqra’.
  • Iqra’, juga berarti “menghimpun”, jika seseorang membaca, maka ia akan bisa menghimpun banyak hal. Oleh karena itu, ada yang mengatakan membaca yang pertama berbeda dengan membaca yang kedua, begitupun membaca yang ketiga, karena ketika membaca yang kedua dia sudah bisa menganalisis, dan membaca yang ketiga dia sudah bisa memahami orang lain dan mempraktekkannya.
  • Mempraktekkan itu termasuk menulis. In syaa Allah membaca akan sangat bermanfaat, itulah sebabnya ditetapkan ayat pertama Al-Qur’an yakni “iqra’”.
  • Dan yang lebih unik lagi, iqra’ bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq, dalam ayat tersebut tidak disebutkan maf’ul bihi, karena mahdzuuf (tersembunyi), karena Allah menegaskan, kita tidak mampu untuk melihat alam kosmos yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
  • Setiap generasi akan ada tambahan tafsir, walaupun begitu tak semua maksud dari ayat Al-Qur’an dapat ditafsirkan di dalam suatu buku.
  • Orang yang membaca akan mampu mengeksplorasi apa yang ada di bumi dan apapun yang ada di sekitarnya, namun tak cukup hanya itu. Oleh karena itu, iqra’ dilanjutkan dengan bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq. Pada zaman sekarang, chip yang kecil mampu menyimpan file yang besar didalamnya, dan semua penemuan itu tak akan luput dari “membaca”.
  • Kalau iqra’ tidak dikaitkan dengan “bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq” akan muncul lebih banyak bahaya dari pada kebaikannya.
  • Berbudi tinggi, bebadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Itu berarti adab yang tinggi lebih penting daripada ilmu itu sendiri.
  • Al-Qur’an adalah sumber peradaban, kalau tidak ada Al-Qur’an, maka peradaban tersebut tidak akan teratur.
  • Orang yang tidak mengaitkan “iqra’’” dengan “bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq” layaknya orang yang membawa obor namun buta.
  • Al-Qur’an menjadikan seseorang dapat meningkatkan potensi dirinya dengan baik.
  • Allah itu menciptakan manusia. Ketika kita melihat alam ini diciptakan dengan teratur, tertib, dan luas, Allah menunjukkan kepada manusia apa itu ayat-ayat Allah di alam ini dan di dalam diri kita sendiri.
  • Setiap hari, sel-sel yang ada di tubuh kita akan ada yang rusak. Namun, di balik itu, harus ada sel-sel yang diperbaiki kembali. Itu berarti, sesuatu yang rusak harus diperbaiki kembali dengan selisih yang lebih besar.
  • Di dalam ayat “iqra bi ismi rabbika-l-ladzi khalaq” dan diakhiri dengan “usjud wa iqtarib”, terdapat konkrit mengenai beberapa rahasia. Oleh karena itu, suatu pekerjaan harus imbang antara ilmu dan tauhid.
  • Gontor mangajarkan apa gunanya ilmu yang tidak bermanfaat bagi orang lain? Dan apa itu beribadah?.
  • Al-munasabah, yang dimaksud adalah keserasian makna dan redaksi.
  • Tiga hal yang kita dapatkan dari membaca:

Ilmu, suatu hal yang besar diciptakan dengan ilmu yang dipelajari, dan cara mempelajarinya dengan cara membaca.

Tauhid, landaskan segala hal yang kamu kerjakan lillah. Segala hal yang kamu kerjakan itu atas ridha Allah Swt.

Literasi, ketika kita sudah mengambil suatu ilmu, selayaknya kita untuk menerapkan apa yang dipelajari.

    • Untuk mendapatkan sesuatu yang mulia dan besar, maka harus dilandasi dengan sesuatu yang tidak biasa-biasa saja, di antaranya:

    Sabar. Bersabar dalam menghadapi berbagai masalah dalam menuntut ilmu dan perjuangan. Orang yang mendapat suatu masalah dan dia sabar atas masalahnya, ia akan meningkat dan bangkit. Orang yang tidak akan bisa bangkit kecuali dia bersabar atas berbagai tantangan-tantangan yang dihadapinya.

      • Suatu musibah jika dihadapi dengan musibah lain akan lebih besar masalahnya, namun jika kita hadapi dengan hikmah, in syaa Allah akan menemukan hikmah yang dimaksudnya.
      • Nelson Mandela, tidak melewati kehidupan yang enak sebelum dia sukses. Seseorang yang sukses pasti melewati suatu hal yang susah, ada pasang dan surutnya.
      • Hidup ini tak akan pernah lepas dari tantangan.
      • Tawakkal. Setelah kita bersabar harus dilanjutkan dengan do’a atau tawakkal.
      • Kita harus mampu berinteraksi dengan orang lain. Allah-lah yang mengatur, kitalah yang merencanakan.
      • Di dalam Al-Qur’an ada 5 prinsip sukses, yakni:

      Idzhab, kita harus mampu untuk meninggalkan sesuatu yang buruk di dalam diri kita.

      Anta wa akhuuka, bukan hanya “anta”, atau “ana”, namun “wa akhuuka”. Kita harus bisa berinteraksi dengan orang lain, mampu bekerja sama.

      Bi aayaatihi, ilmu dan pengetahuan. Wa laa taniya, jangan bermalas-malasan dalam berbagai hal.

      Bi dzikrillah, dengan berdzikir kepada Allah. Ketika kita mendapatkan sesuatu namun tidak bersyukur, kita bisa menjadi sombong.

        Ikhlas. Tarku-r-riya’ fi-l-‘amal, tidak melakukan sesuatu yang riya’ atau Melakukan sesuatu untuk dilihat oleh orang lain.

        • Inti dari sumber peradaban ini adalah ikhlas. Gontor bisa maju seperti sekarang ini karena keikhlasan para pendiri pondok dalam berjuang.
        • 1968, KH Ahmad Sahal mengumpulkan seluruh guru KMI. Setelah salam beliau berbicara, “saya berfokus kepada Masjid. Namun, KMI terlihat mundur, saya berikan tanggung jawab kepada Imam Zarkasyi selaku Direktur KMI”. Mulai saat itu, semua guru-guru menulis i’dad dan melaporkannya kepada beliau, dan saat itu pula dimulailah Kamisan guru ketika hari kamis.
        • Kalau para pendahulu kita bisa melakukan keikhlasan sebesar itu, mengapa kita tidak bisa meneladani dan melebihi mereka?
        • Orang yang ikhlas ada 2;
        • Mukhlish. Orang yang membersihkan dirinya ketika dikotori.
        • Mukhlash, lebih tinggi daripada “Mukhlish”, karena dia disucikan oleh Allah. Kewajiban bagi kitalah untuk berusaha mencapai tingkatan seperti itu.

        Notulen: Cheviq

        Related Articles:

        Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

        Kuliah Shubuh 16 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd.

        Kuliah Shubuh 17 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi, M.Ag.

          Kuliah Shubuh 17 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi, M.Ag.

          0

          Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Drs. H. Rif’at Husnul Ma’afi, M.Ag., pada Jumat 17 Ramadhan 1447 H/6 Maret 2026 M

          • Diantara keimanan dan ketakwaan mempunyai tingkatan yang berbeda.
          • Takwa selalu menjadi perbincangan karena takwa melindungi kita dari adzab Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan, takwa berarti perasaan yang ada selamanya untuk mendekatkan diri kepada Allah baik di kala sepi maupun ramai.
          • Sabar Dalam Al-Qur’an selalu diulang sebanyak 9 kali, yang artinya sabar adalah separuh dari iman. Sabar diantara dua, maqam dan haal. Maqam adalah upaya seseorang untuk meningkat dalam beribadah kepada Allah. Dan haal adalah sesuatu yang tidak ia sadari saat meningkatkan diri dalam beribadah kepada Allah.
          • Syakawtu ilaa waqii’in. Bukan berarti melapor, namun artinya mengadu. Menahan lisan untuk tidak mengadu atau mengeluh, menjaga dan menahan anggota tubuh untuk melakukan sesuatu yang tidak layak.
          • Bahasa Arab itu unik, berbeda satu huruf ataupun satu harakat saja berbeda maknanya.
          • Maka, sabar ada 3 tingkatan;
          • Ash-Shabru ‘an alma’sshiyyah, sabar dalam suatu yang diperintah dan dilarang oleh Allah SWT. Jika seseorang masih muda, memiliki uang dan kesempatan, itulah ujian sebenarnya. Apakah ia dapat menahan dan sabar dalam menahan maksiat? Jangan mengira sesuatu yang tidak enak tidak baik untuk kita, dan jangan mengira sesuatu yang enak itu baik untuk kita.
          • Ash-Shabru ‘an ath-thaa’ah, kita berkhidmat dalam beribadah kepada Allah dengan cara dawaaman atau Istiqamah. Yakni Menjaga ikhlas dan ketulusann-Nya dalam melakukan perintahnya, tidak berlandaskan disiplin tapi atas kesadaran diri.
          • Ash-Shabru ‘an al-balaa’, kita tidak ingin memilih suatu musibah, tapi tuhan telah menentukan takdir suatu hal, maka kewajiban kita hanyalah bersabar. Posisi sabar dalam keimanan itu bagaikan kepala pada jasad manusia. Iman seseorang tidak sempurna jika tidak memiliki kesabaran. Jangan sampai kita menyerah dan lengah ketika menghadapi musibah dan beristiqamah dalam beribadah, oleh karena itu bersabarlah. Sabarlah layaknya cahaya hidup kita dan penuntun jalan kita.

          Notulen: Hilmi, Cheviq

          Related Articles:

          Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

          Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

          Kuliah Shubuh 16 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd.

          Buka Puasa Bersama Keluarga Besar PMDG Putri Kampus 4 Dan Masyarakat

          0

          KANDANGAN – Kamis (5/3), yang bertepatan dengan 16 Ramadhan 1447 H, telah dilaksanakan kegiatan Buka Puasa Bersama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang bertempat di PMDG Putri Kampus 4, Kediri, Jawa Timur.

          Kegiatan ini diselenggarakan oleh keluarga besar PMDG Putri Kampus 4 sebagai bentuk ikhtiar mempererat ukhuwwah Islamiyyah, meningkatkan keimanan dan ketakwaan di bulan suci Ramadhan, serta memperkuat hubungan antara pondok pesantren dengan masyarakat sekitar.

          Acara ini dihadiri oleh berbagai tamu undangan, antara lain; Direktur Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI), KH. Masyhudi Subari, M.A., Ketua II PP IKPM, Al-Ustadz H. Saepul Anwar, panitia kegiatan sebanyak 150 orang, santri kelas 5 sebanyak 393 orang, serta tamu undangan umum sebanyak 476 orang. Dengan demikian, total peserta yang hadir berjumlah 1.112 orang.

          Para tamu menuju lokasi acara dan disambut dengan lantunan hadrah yang menambah suasana religius dan penuh kekhidmatan. Alunan shalawat yang dikumandangkan oleh tim hadrah turut menghadirkan nuansa kebersamaan dan kegembiraan dalam menyambut para hadirin. Setelah seluruh tamu menempati tempat yang telah disediakan, acara resmi dimulai oleh pembawa acara. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an sebagai pembuka.

          Memasuki acara inti, disampaikan sambutan oleh Wakil Pengasuh PMDG Putri Kampus 4 yang menekankan pentingnya menjalin ukhuwah Islamiyah serta mempererat hubungan antara pondok, masyarakat, dan para tamu undangan. Selanjutnya sambutan disampaikan oleh Direktur KMI yang memberikan nasihat serta arahan kepada seluruh hadirin sembari menunggu datangnya waktu berbuka puasa.

          Menjelang waktu Maghrib, seluruh hadirin menantikan waktu berbuka hingga adzan Maghrib dikumandangkan. Setelah itu, para tamu undangan, pimpinan pondok, serta seluruh peserta yang hadir melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dengan penuh kekhusyukan.

          Usai pelaksanaan shalat berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama yang diikuti oleh seluruh tamu undangan dan keluarga besar PMDG Putri Kampus 4.

          Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah yang menjadi kesempatan bagi Pimpinan PMDG, tamu undangan, unsur pemerintah, serta masyarakat untuk saling bersilaturahmi, berbincang, dan mempererat ukhuwah Islamiyah dalam suasana hangat dan penuh keakraban.

          Kontributor: Panitia Pelaksana Buka Puasa Bersama PMDG Putri Kampus 4
          Editor: Johansyah, Ghazi

          Related Articles:

          Menumbuhkan Generasi Qur’ani; Gontor Putri Kampus 2 Adakan Seminar Al-Qur’an

          Perdana Kunjungi Gontor Putri 1, Jusuf Kalla Tegaskan Gontor sebagai Lentera Peradaban

          Syekh Belaid Hamidi Sahkan Delapan Ijazah Khat di Gontor Putri Kampus 3

          Yudisium Kenaikan: Siswa Kelas 5 KMI Siap Tapaki Perjalanan Baru

          0

          GONTOR – Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menggelar yudisium kenaikan bagi siswa kelas 5 Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) pada Sabtu (7/2) pagi. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 – 14.00 WIB itu digelar di New Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) dan diikuti oleh seluruh siswa kelas 5 dari semua kampus PMDG.

          Para siswa dipanggil satu per satu menuju aula utama New BPPM. Pemanggilan dilakukan dalam tiga gelombang; siswa yang dinyatakan naik ke kelas akhir di PMDG Kampus Pusat, siswa yang belum dinyatakan naik kelas, dan mereka yang akan melanjutkan studi sebagai siswa kelas akhir di kampus-kampus cabang PMDG.

          Di dalam aula, para siswa menerima pengarahan dari Pimpinan PMDG dan Direktur KMI. Momen ini menjadi ajang peneguhan niat mereka sebagai seorang calon siswa kelas akhir.

          Direktur KMI, KH. Masyhudi Subari, M.A., menegaskan bahwa kesempatan duduk di kelas paling senior adalah amanah yang diberikan oleh Pimpinan PMDG.

          “Bapak Kiai memberikan kesempatan kepada kalian untuk duduk di kelas 6 (kelas akhir). Kalian semua dinyatakan naik ke kelas 6,” ujar beliau. Ustadz Masyhudi mengingatkan agar keberhasilan tersebut tidak menumbuhkan kesombongan. Menurutnya, semangat santri harus tetap sama seperti saat pertama kali datang ke pondok.

          “Sebagaimana kalian memulai menjadi santri, seperti itulah kalian menyelesaikannya,” kata beliau.

          Dalam arahannya, Pimpinan PMDG, KH. Hasan Abdullah Sahal, menekankan pentingnya jati diri seorang santri. Beliau mengingatkan bahwa kelas akhir merupakan momentum penting yang menuntuk kedewasaan dalam bersikap. “Kita punya jati diri, harga diri, maka kita akan tahu diri,” ujarnya.

          Kiai Hasan juga mengingatkan agar santri tidak terjebak dalam sikap pamer atau mencari muka. Menurut beliau, perjuangan santri adalah menegakkan kebenaran, bukan sekadar memenangkan persaingan. “Kita menegakkan kebenaran, bukan memaksakan kemenangan.”

          Setelah pengarahan, para santri bersama-sama melakukan tradisi cukur jundi (menyisakan sebagian kecil rambut di depan kepala) sebagai simbol rasa syukur atas kenaikan mereka ke kelas akhir. Rentetan kegiatan tersebut akhirnya ditutup dengan sujud syukur di Masjid Jami’ PMDG yang menandai dimulainya perjalanan mereka; menjadi pasukan inti dalam dinamika kehidupan pondok.

          Kontributor: Dejuan, Ghazi, Editor: Winka, Alif, Johansyah

          Related Articles:

          Peringatan Nuzulul Quran: Momentum Tadabbur Hikmah Al-Qur’an

          Muntada Lughah Resmi Ditutup, Santri Kelas 5 Perkuat Komitmen Berbahasa

          Peringatan Nuzulul Quran: Momentum Tadabbur Hikmah Al-Qur’an

          0

          GONTOR – Peringatan Malam Nuzulul Qur’an di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menjadi momentum refleksi tentang peran Al-Qur’an dalam mengubah peradaban dunia. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (5/3) malam, bertepatan dengan 17 Ramadhan, di Gedung Olahraga (GOR) PMDG tersebut diikuti oleh siswa kelas 5 Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) lintas kampus.

          Dalam kegiatan tersebut, para guru PMDG menyampaikan pesan tentang makna turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Peringatan ini tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa Al-Qur’an memiliki peran besar dalam membentuk peradaban manusia.

          Salah satu guru, Al-Ustadz Muhammad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap mengandung berbagai hikmah yang mendalam. Menurut beliau, metode penurunan tersebut berfungsi untuk meneguhkan hati Rasulullah SAW, menyesuaikan dengan kebutuhan umat, memudahkan proses penghafalan dan pemahaman, serta menyempurnakan ajaran Islam. Ia menambahkan bahwa kegagalan umat Islam dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dapat menyebabkan hilangnya kemampuan membedakan kebenaran dan kebatilan dalam kehidupan.

          “Turunnya Al-Qur’an telah mengubah peradaban dunia dan menjadi pembeda antara yang haq dan yang batil,” ujar beliau di hadapan para santri.

          Selain itu, para santri juga diingatkan tentang tradisi Nabi Muhammad SAW dalam memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan tadarus Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril pada setiap bulan Ramadhan.

          “Ahli Al-Qur’an akan selalu mencintai Al-Qur’an hingga usia lanjut dan tidak melupakan hafalannya,” tambah Ustadz Wahyudi.

          Wakil Direktur KMI, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I. juga mengingatkan para santri agar memperbanyak doa dan ibadah selama bulan yang penuh keberkahan tersebut. “Jangan malas berdoa. Kuncinya adalah tidak bosan menjalankan perintah Allah SWT,” ujar beliau.

          Melalui peringatan Nuzulul Qur’an ini, diharapkan para santri dapat memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an, serta mampu memahami perannya dalam membentuk peradaban serta menjadikannya sebagai pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.

          Kontributor: Zulfahmi, Dejuan, Editor: Winka, Johansyah, Ghazi.

          Related Articles:

          Tegaskan Kualitas Hafalan Quran Santri, Gontor Adakan Haflatul Khotmil Qur’an

          Menilik Mushaf Al-Quran Gontor: Ada Tiga Hal yang Istimewa

          Alquran, Mutiara Termahal

          Muntada Lughah Resmi Ditutup, Santri Kelas 5 Perkuat Komitmen Berbahasa

          0

          GONTOR – Penutupan Forum Peningkatan Bahasa Santri Kelas 5 KMI (Muntada Lughah) dalam rangka masa mukim Ramadhan digelar di Gedung Olahraga (GOR) Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Rabu (4/3) pagi. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Direktur Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI), Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I., beserta para guru.

          Penutupan Muntada Lughah menekankan pentingnya integritas dalam penggunaan bahasa resmi di pondok, yaitu bahasa Inggris dan Arab. Tak hanya itu, esensi dalam belajar bahasa resmi juga dipaparkan secara detail guna menumbuhkan kesadaran dan kemauan belajar dari hati para santri.

          Dalam sambutannya, Ustadz Suharto menjelaskan bahwa belajar bahasa Arab akan meningkatkan kemahiran santri dalam membaca Al-Qur’an. Santri tidak hanya mengerti kaidah ilmu tajwid dalam Al-Qur’an, namun juga dapat memahami makna serta penafsiran ayat-ayatnya.

          “Tujuan belajar bahasa Arab adalah mengetahui apa yang terkandung dalam Al-Qur’an, mulai dari syariat-syariat Islam hingga hikmah yang terkandung di dalamnya,” ujar beliau dalam pidatonya.

          Pembimbing Sektor Bahasa, Al-Ustadz Farid Sulistyo, Lc., juga menegaskan urgensi menciptakan lingkungan berbahasa yang kondusif. Pada kesempatan tersebut, beliau mengikrarkan perjanjian bersama setiap siswa KMI kelas 5 untuk tetap patuh dan teguh dalam menjalankan aturan berbahasa resmi selama masa studi di Gontor.

          Perjanjian ini memuat beberapa poin, antara lain: menjaga aturan berbahasa, menerapkan dua bahasa resmi dalam kehidupan sehari-hari, serta menerima segala konsekuensi ketika melanggar tata tertib disiplin yang berlaku. Ikrar ini diharapkan mampu memperkuat komitmen dan tanggung jawab, khususnya bagi siswa KMI kelas 5 sebagai teladan dalam berbahasa bagi adik-adiknya.

          Melalui penutupan Muntada Lughah ini, pondok kembali meneguhkan cita-citanya sebagaimana tertuang dalam Piagam Wakaf, yakni menjadi pusat pembelajaran bahasa Arab dan Inggris.

          Kontributor: Fadhil, Zulfahmi, Editor: Winka, Ghazi.

          Related Articles:

          Diskusi Umum Siswa Kelas 5 Bahas Manajemen Waktu

          Drama Arena 598: Puncak Kreativitas Siswa Kelas 5 KMI di PMDG

          Gontor Language Institute for Development and Excellence Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Bahasa Santri

          Kuliah Shubuh 16 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd.

          0

          Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Dr. H. Umar Sa’id Wijaya, M.Pd., di Masjid Jami’ PMDG pada Kamis, 16 Ramadhan 1447 H/5 Maret 2026 M.

          • Kita semua di dunia ini menginginkan kesuksesan, banyak perspektif orang dalam memaknai arti kesuksesan. Ada orang yang mengartikan kesuksesan sebagai orang yang kaya dan memiliki barang mahal.
          • Kesuksesan itu bukan masalah harta, orang sakit yang sudah berbulan-bulan akan mengartikan kesuksesan sebagai kesembuhan. Bahkan ada orang yang merasa sukses itu dengan hal biasa, cukup dengan mengeluarkan zakat dari hartanya maka mereka akan merasa sukses.
          • Kesukesan bukan hanya diukur dalam hal duniawi saja, namun dapat diukur dengan hal lain termasuk akhirat. Semua hal harus ada porsinya.
          • Allah memerintahkan kita untuk mempersiapkan bekal di dunia untuk akhirat kelak, karena inti kesuksesan ada di akhirat.
          • Kalau kita bisa berbuat banyak di dunia ini, maka itu semua untuk persiapan di akhirat kelak. Dalam perspektif Islam, kalau sesuatu tidak untuk ibadah, maka hal tersebut tidak ada gunanya.
          • Dalam bukunya, seorang ulama meriwayatkan bahwasannya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menggapai sukses.
          • Yang pertama adalah mu’ahadah, setiap dari kita pasti sudah melakukan perjanjian dengan Allah sebelum lahir, perjanjian untuk bertauhid.
          • Kullu mauludin yuuladu ‘ala-l-fitrah”, setiap anak yang lahir itu dalam keadaan fitrah, tetapi ibu-bapaknyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi atau Nasrani.
          • Asy-Syahaadah di pondok ini adalah janji kita bahwasannya kita akan melakukan hal yang baik-baik di pondok ini.
          • Kita disini untuk memperbaiki diri kita sendiri. Orang yang tidak mengingat janji akan merasa sembrono.
          • Yang kedua adalah mujahadah, setelah kita melakukan perjanjian maka kita harus bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh itu harus setiap hari, karena belum tentu besok kita akan lebih baik.
          • Dalam menuju kesucian diri, mujahadah akan sangat diperlukan. Contoh mujahadah di pondok kita ini adalah melawan kemalasan. Maka jangan sampai kita merasa bosan dalam beribadah dan belajar, karena itu semua adalah godaan dari setan.
          • Jika kita belajar dengan sungguh-sungguh, maka akan muncul jalan keluar yang diberikan Allah SWT. Hanya orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan menggapai kesuksesan.
          • Yang ketiga adalah muraqabah. Kesadaran diri bahwasannya dalam setiap kegiatan, kita diawasi oleh malaikat-malaikat Allah SWT.
          • Kita harus takut bahwasannya perbuatan yang kita lakukan masih kurang. Oleh karena itu, kita harus merasa salalu bersama Allah dimanapun dan kapanpun.
          • Ada negara yang maju seperti Singapura, karena mereka merasa diawasi dan terancam oleh negara sekitarnya.
          • Ada orang yang berdisiplin karena merasa diawasi oleh Allah, merasalah kalau kita diawasi oleh Allah Swt, jikalau kita tidak merasa diawasi, maka patut diketahui bahwasannya Allah akan mengawasi kita.
          • Semua ibadah yang kita lakukan harus selalu meningkat setiap harinya, jangan sampai kendur sedikitpun.
          • Yang keempat adalah muhasabah. Harus ada perhitungan setelah melakukan perbuatan baik, jangan sampai kita sudah melakukan hal baik namun tidak terhitung di akhirat kelak hanya karena niat yang salah. Maka, perbaiki niat kita masing-masing dalam melakukan segala sesuatu.
          • Rasulullah SAW selalu ber-muhasabah diri disaat sebelum tidur akan perbuatan yang telah ia lakukan sebelumnya.
          • Niatkan segala sesuatu lillahi ta’ala, jika sesuatu dikerjakan karena Allah, maka akan membuahkan pahala. Segala sesuatu yang maju pasti akan ada evaluasi dalam setiap pekerjaannya, maka penting untuk ber-muhasabah diri.
          • Orang yang tidak tahu posisi dirinya berarti tidak pernah ber-muhasabah, santri yang korupsi itu tidak merasa bahwa dirinya seorang muslim.
          • Yang kelima adalah mu’aqqabah, banyak santri yang melakukan suatu pelanggaran karena belum dihukum. Maka, pentingnya mu’aqqabah sebagai koreksi diri atau pendisplinan diri sendiri sebelum dihukum oleh orang lain. Karena, segala sesuatu itu dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
          • Mu’ahadah sebagai komitmen, mujahadah sebagai perjuangan, muraqabah sebagai pengawasan, dan mu’aqqabah sebagai evaluasi.

          Notulen: Hilmi, Cheviq

          Related Articles:

          Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

          Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

          Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

          Kuliah Shubuh 15 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.

          0

          Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A., di Masjid Jami’ PMDG pada Rabu, 15 Ramadhan 1447 H/4 Maret 2026 M.

          • Ketika kita sudah masuk masjid, dianjurkan untuk tenang dan berhenti bercanda. Karena, candaan dan percakapan kita satu sama lain akan merusak kekhusyukan orang yang sedang beribadah.
          • Dan ketika imam sudah takbir dan sudah membaca Al-Fatihah, maka kita harus berdiri dan mengikuti imam dengan segera, bukannya duduk diam dan menunggu waktu ruku’.
          • Al’abdu yudhrabu bi-l-’ashaa, wa-l-hurru yakfiihi bi-l’-isyaarati. seorang hamba itu dipukul dahulu baru melakukan apa yang diperintahkan, namun orang yang merdeka cukup hanya dengan isyarat dan tidak memerlukan kekerasan.
          • Pondok mengajarkan lembaga yang bersistem pesantren. Kiai sebagai sentral figurnya, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.
          • Masjid adalah baitullah (rumah Allah), maka kewajiban bagi kita untuk menghormati masjid dalam berbagai hal.
          • Kita berangkat ke masjid dari kamar-kamar kita, dengan membaca do’a; bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa hawla wa laa quwwata illa billah. Dan ketika memasuki masjid membaca:; allahumma ighfir lana dzunuubana wa iftah lanaa abwaaba rahmatik.
          • Kita diikatkan dan disatukan dengan cahaya. Semua kegiatan harus diupayakan, melakukan kebaikan harus diupayakan dan menjauhi keburukan juga harus diupayakan.
          • As-shaumu junnah, puasa adalah perisai, perisai adalah benda yangdigunakan dan dipeganng ketika perang untuk melindungi diri. Yang diartikan sebagai perisai yang akan kita gunakan untuk melindungi diri kita dari perbuatan buruk.
          • Kita mengupayakan segala hal yang terbaik.
          • Jadilah manusia yang beradab.
          • Pendidikan di Pondok ini bertujuan agar para santri terbiasa dengan kegiatan dan pakaian yang baik dan bersih.
          • Pakailah parfum dan pakaian bersih ketika beribadah kepada Allah SWT, jangan hanya ketika akan bertemu seseorang.
          • Membersihkan segala hal termasuk badan ketika ingin beribadah kepada Allah SWT.
          • Diriwayatkan dalam haditsnya, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk ber-shiwak, agar bau mulut kita tidak mengganggu orang lain di sekitar kita.
          • Dalam Riwayat hadist lain, Rasulullah bersabda, barangsiapa memakan makanan yang memiliki aroma yang kemungkinan mengganggu orang lain, agar sekiranya menjauhi masjid terlebih dahulu. Karena aroma tersebut akan mengganggu orang lain dan juga malaikat yang sedang beribadah juga.
          • Langkah-langkah kita ketika pergi ke masjid untuk meluruskan niat beribadah kepada Allah SWT.
          • Wudhu adalah hal terpenting dalam beribadah, bukan sekedar membasahi dan menggerakkan badan, tetapi memiliki makna di setiap gerakannya.
          • Sebaik-baik shaf dalam shalat bagi laki-laki adalah shaf terdepan. Karena yang memilih mshaf terbelakang adalah perempuan.
          • Jika kita sudah mendengar iqamah, disunnahkan untuk bersegera merapat kedalam shaf dan agar tidak tergesa-gesa dalam memasuki shaf.
          • Rashulullah tidak menganjurkan kita tergesa-gesa ketika mendengar iqamah, namun bersegera dan mempercepat tanpa tergesa-gesa, karena tergesa-gesa akan membuat kalian tidak khusyu’ dalam beribadah kepada Allah SWT.
          • Oleh karena itu, ketika imam sudah memulai takbir, maka kita harus bersegera dan tidak berleha-leha, bukannya diam dalam duduk dan mengakali shalat berupa “apakah Shalat ini akan lama atau tidak?”, cukup mengikuti apa yang dilakukan imam. Karena itu adalah ego dan godaan setan yang membuatmu tidak melakukan apa yang harus dilakukan sebagai seorang muslim.
          • Masjid adalah pusat kegiatan yang menjiwai, maka tidak patut bagi kita mengotori dan merusak lingkungan yang tenang untuk beribadah, karena itu termasuk perbuatan dosa dan mengganggu orang shalat.
          • Ketika seseorang ditanya apa itu Al-Qur’an, maka jawabannya yang paling cukup adalah kalaamullah (perkataan Allah).
          • Banyak yang mengatakan Al-Qur’an adalah kitaabullah, sehingga banyak orang yang merumpakan hanya sebagai tulisan saja dan mengaitkan dengan tulisan lain sehingga menjadi karangan.
          • Padahal, Al-Qur’an adalah kalaamullah yang di tulis didalam suatu kertas, dan mushaf sebagai lanjutan dari kalaamullah yang ditulis agar semua kaum muslimin dapat membacanya.

          Notulen: Hilmi, Cheviq

          Related Articles:

          Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

          Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

          Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

          Kuliah Shubuh 14 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I.

          0

          Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd.I., di Masjid Jami’ PMDG pada Selasa 14 Ramadhan 1447 H/3 Maret 2026 M.

          • Lain syakartum laaziidannakum wa lain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid (Sungguh, jika kamu bersyukur, maka pasti kutambah nikmatku. Dan sungguh, jika kamu kufur, sesungguhnya adzabku sangatlah pedih).
          • Alhamdulillah atas nikmat Allah, dan jangan sampai dihitung secara nominal, karena, jika kalian bersyukur, maka akan ditambahkan oleh Allah segala nikmatnya.
          • Karena umur kita pendek, maka kita harus mengharapkan banyak kepada Allah, bersyukur bisa hidup sehat wal afiat.
          • Lailatul qadr adalah malam yang kebaikannya lebih besar dari seribu bulan, diisi dengan banyak-banyak ibadah.
          • Jika kita mendapatkan malam lailatul qadr, maka kita akan mendapat keberkahan melebihi masa hidup kita. Maka, jangan sampai kita menyianyiakan bulan Ramadhan ini.
          • Rasulullah SAW ketika datangnya bulan ini, beliau berkhutbah di hadapan umatnya, bahwasannya bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan keistimewaan.
          • Kita, sebagai seorang muslim, hal yang harus dilakukan ketika datangnya bulan suci ini adalah mentadabburinya, mensyukurinya, dan memujinya.
          • Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan tetapi menyia-nyiakan ibadah lainnya, sampai Al-Qur’an tidak dikhatamkan, tarawih masih ngantuk dan lain-lainnya, maka dia termasuk orang yang rugi.
          • Mumpung, masih ada Ramadhan, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
          • Apa arti dari kata Ramadhan? Dari kata Ramdhan yang artinya padang pasir, panas yang akan membakar dosa-dosa kita.
          • Wa saari’uu, dan bersegeralah, ila maghfirotin, menuju pengampunan, yang artinya fastabiqul khoirot, atau berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
          • Laa taqrobuu maala-l-yatiim wa la taqrobuu-z-zina, jangan dekat-dekat dengan harta anak yatim dan zina karena itu semua akan menjerumuskan kepada dosa. Itulah islam melarang kita untuk mendekati hal-hal yang buruk.
          • Sesungguhnya manusia itu berdosa dan sebaik-baiknya dosa adalah yang bertaubat setelah melakukannya.
          • Kalau setelah melakukan dosa kemudian mengingat nama Allah dan memohon pengampunan kepadanya maka itulah sebaik-baiknya manusia.
          • Surga itu darajaat memilki makna ke atas, kalau neraka itu darakah artinya ke bawah. Betapa indahnya agama islam ini yang memberikan hidayahnya kepada manusia dengan sebaiknya.
          • Jangan mengira dosa itu hanya di balas di akhirat saja, tetapi di dunia juga terdapat pengaruh-pengaruh dosa atau akibat dari dosa-dosa yang kita lakukan.
          • Ketika kita berada di akhirat kelak, kita akan meronta dan meminta kepada Allah karena perbuatan-perbuatan kita yang kurang baik, dan meminta untuk kembali ke dunia dan memperbaikinya. “Seandainya saya dihidupkan kembali maka saya tidak akan berbuat dosa dan maksiat”.
          • Jangan putus asa untuk berdoa dalam meminta pertolongan kepada Allah, karena pertolongan Allah pasti akan datang kepada hambanya yang bertakwa.
          • Kalau titik-titik hitam (dosa) terus menerus berkumpul di hati seseorang, maka akan menjadi noda hitam yang banyak.
          • Dahulu, bapak kita tidak bekerja tetapi sering berbagi dan bersedekah untuk kelancaran nikmat yang diberikan kepada keturunan mereka nanti.
          • Sesungguhnya maksiat itu membawa sial.
          • Jika kalian beribadah kepada Allah pasti Dia akan menampakkan cahaya di wajahnya pada hari kiamat nanti.
          • Cahaya anak sholeh akan sampai kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa.
          • Kalau sudah diingatkan dengan kesalahan maka harus menjadi yang lebih baik, melakukan perbaikan dalam diri tersebut.
          • Buktikan kebaikan di bulan Ramadhan. Yang masih bermalas-malasan, suka berbohong, dan suka bermaksiat maka di bulan Ramdhan ini adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan dan memperbaiki itu semua.
          • Rasulullah jika berkumpul di suatu majlis beliau beristighfar selama tiga puluh tiga kali untuk melebur dosa.

          Notulen: Hilmi, Cheviq

          Related Articles:

          Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

          Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.

          Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

          Kuliah Shubuh 13 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag.

          0

          Disampaikan oleh guru Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Al-Ustadz H. Muhammad Syuja’i, S.Ag., di Masjid Jami’ PMDG pada Senin, 13 Ramadhan 1447 H/2 Ramadhan 2026 M.

          • Supaya menjadi pemuda yang diharapkan, harus menjadi pemuda-pemuda yang berjiwa pejuang dan berdisiplin.
          • Maju mundurnya pondokmu tergantung kepada prestasi, dedikasi, loyalitas tanpa cacat (PDLT).
          • Peganglah erat-erat amanat kiai-kiaimu, guru-gurumu.
          • In ahsantum, ahsantum li anfusikum (jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri), kamu harus berkorban dan berjuang.
          • Tentenglah dengan hatimu, dengan jiwa perjuangan dan jiwa pengorbananmu untuk beribadah kepada Allah.
          • Jangan mengambil enaknya saja, jangan memuaskan diri dalam memperjuangkan nilai di pondok ini dan kehidupan ini.
          • Khairunnaasi anfa’uhum li-n-naasi¸ sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
          • Lihatlah perjuangan Bapak-Bapak Pimpinan, guru-guru, jadilah orang yang meneruskan perjuangan mereka.
          • Meraih kesuksesan adalah wujud perjuangan dan butuh perjuangan.
          • Bergeraklah tanpa batas.
          • Laksanakanlah puasa Ramadhan ini untuk ibadah, bukan untuk hal-hal yang lain, karena di Pondok ini kita sedang menjalani proses atau sedang dibentuk.
          • Kalian dibentuk di Pondok ini berupa diberi amanat ini dan itu sebagai wujud proses.
          • Udkhuluu fii Gontor kaaffah, masuklah kedalam Gontor dengan totalitas.
          • Jangan menjadi manusia ala kadarnya dan minimalis, jadilah manusia yang maksimalis, all out, menjadi manusia yang serba bisa.
          • Kuncinya adalah sabar, tawakkal, ikhlas, ridha.
          • Kita harus optimis di Gontor ini, all out, berbuat dan bekerja sebanyak banyaknya.
          • Kalian akan menjadi orang yang memiliki potensi, oleh karena itu harus maksimal dalam berbagai hal.
          • Nilai-nilai yang diambil di Gontor ini di antaranya adalah Panca Jiwa, motto, dan tujuan.
          • Supaya kalian menjadi manusia yang berkembang, meningkat dalam segala hal kalian harus berjuang dalam mencapai puncak di pondok ini.
          • Untuk apa kita berprestasi? Jawabnya adalah agar kita dapat bersyukur dan sadar kepada Allah SWT.
          • Dan identitas kita diukur melewati segala dinamika perjuangan, pergerakan, dan produktifitas kita.
          • Hidup ini diumpamakan dengan tetesan air dan makanan dari hasil buah perjuangan.
          • Perbanyaklah dalam melakukan amalan-amalan yang baik agar membuat sejarah yang baik, Karena masa depan ada di tangan pemuda.
          • Inna akramakum ‘indaallahi atqaakum, sesunguhnya orang yang paling mulia diantara kalian menurut Allah adalah yang bertakwa.
          • Jangan ugal-ugalan karena kalian masih diproses, sayangilah adik-adikmu maka adik-adikmu akan sayang kepadamu, dengan begitu adik-adikmu akan mencontoh perbuatanmu.
          • Kalau perbuatanmu baik, maka akan menjadi ‘amal jariyah. Karena, kunci pondok ini adalah perilaku dan akhlak santri-santrinya. Kalau perbuatanmu baik, in syaa Allah pondoknya juga akan baik atau bahkan lebih.
          • Perbuatan-perbuatanmu semuanya bermakna, berkualitas, maka kita harus menumbuhkan jiwa-jiwa harokiy.
          • Taharrak! (Bergeraklah!) Fa inna fi-l-harakati barakah (Maka, sesungguhnya di dalam pergerakan, ada keberkahan).
          • Yang dinilai di Pondok ini adalah prestasi, dedikasi, loyalitasmu.

          Notulen: Hilmi, Cheviq

          Related Articles:

          Kuliah Shubuh 9 Ramadhan 1447 Al Ustadz Sabar, S.Ag., M.H.

          Kuliah Shubuh 10 Ramadhan 1447 H, Al- Ustadz Drs. H. Sutrisno Ahmad, Dipl.A.Ed.

          Kuliah Shubuh 11 Ramadhan 1447 H, Al-Ustadz H. Farid Sulistyo, Lc.